Amazon SearchBox

Sayang Sama Cucu

Sayang Sama Cucu
Saya sama Cucu-cucu: Ian dan Kaila

Kamis, 29 November 2012

UPAH MINIMUM REGIONAL (UMR)


Buruh diupah rendah oleh Majikan, itu hal yang sudah lumrah selama ribuan tahun. Apa pembaca blog ini tidak menyadari ? Kalau saya pribadi sih sudah lama menyadarinya. Jadi tidak lagi mengherankan, apalagi jadi ,"headline news".

Seberapa rendah sih ?
Dari jaman Romawi dulu yang dinamakan buruh itu belum ada, yang ada kaum budak (slaves). Budak-budak ini tidak punya apa apa selain hidupnya. Oleh karena itu kebutuhan hidup harus ada. Seperti makhluk Allah yang lain, kebutuhan pokoknya adalah makan, beristirahat, dan reproduksi yang artinya tentu saja sex.
Majikan atau Tuan Budak -untuk kelestarian sistem inilah- yang harus memenuhi kebutuhan mereka yang pokok ini.  Toh anak pinaknya juga berstatus budak dari tuannya yang sama dengan Tuan dari Ayah Ibunya.
Siapa diantara Tuan budak yang mau bila budaknya kurus-kurus kurang makan, berpenyakitan, dan tidak berkembang biak ? Itu sebodoh-bodohnya Majikan /Tuan Budak jaman dulu. Sebab budak tidak memiliki dirinya sendiri, artinya dapat diperjual belikan seperti barang milik yang lain.
Seperti ternak kerja (sapi, kuda, kerbau) Budak juga dipekerjakan tentu saja dengan perhitungan jangan sampai rusak, (overworks lantas mati, itu kerugian besar, sebab dia miliknya).
Ini bisa dilihat di peninggalan-peninggalan  kuno yang berupa fresco di tembok-tembok, patung dan lukisan, hampir semua ada gambar budak yang dapat dihitung tulang iganya karena kurus.
 
Perkembangan sejarah umat manusia, diganti dengan zaman kemerdekaan budak-budak, mereka kaum budak ini kemudian bertransformasi menjadi Petani penggarap tanah seorang pemilik tanah (peasant), zaman Feodal yang tanahnya para Tuan tanah seluas negara, mereka tinggal minta haknya sebagai pemilik tanah, hidup di benteng-benteng bertembok tebal. Petaninya hidup di desa- desa dibawah perlidungan Tuannya sang Bangsawan.
Di dalam tembok, petugas service tukang kuda, juru taman kota ada orang kebanyakan adalah  “canailles”, dari lahir sampai mati di cennel-cennel  arti sebenarnya kandang anjing  bahasa  Inggris.

 Raja Perancis zaman Louis XVI  mengundang para wakil dari rakyat untuk hadir di National Assembly, yang duduk di sebelah kanan dari kursi kursi hadirin sebelah  kanan koridor adalah kaum Bangsawan atau Nobility, dan para Biarawan yang mewakili Gereja Katolik. Selanjutnya karena salah kaprah disebut kaum Kanan -ejekan.
Sedang yang duduk di barisan kursi sebelah kiri koridor adalah kaum “canailles” orang biasa (dan Borjuis), karana tinggalnya di kennel seumur umur, kecuali sebagian kecil kaum Borjuis Pedagang dan Industrialis yang menguasai The East Indian Companies dari Barbados dan Antilen.  Selanjutnya, salah kaprah sampai sekarang disebut kaum Kiri –ejekan. 
Ini saya baca dari buku “Scaramouche” si ahli duel anggar karangan Raphael Sabatini.  (Sebenarnya tokoh Scaramouche adalah salah satu tokoh  Commedia dell’Arte zaman dulu- sandiwara keliling, antawicana nya/ percakapannya tanpa script jadi improvisasi kayak ludruk nya orang Jawa Timur).

Sekarang wakil dari canailles ini tidak ada. Borjuis sudah mengganti kaum Bangsawan. Kaum canailles dibiarkan bergentayangan di bawah pengawasan Hukum Pidana, dan Alat-alatnya.  Tidak seperti kaum Budak dulu yang dipiara Tuannya.
 
Maaf, sepertinya tidak beda dengan sekarang rumah petak dan jamban/WC umum. Di Kota Surabaya contohnya dari sekian banyak tempat kos, saya tahu ada kos-kosan model ini di wilayah Gubeng -timur rel KA harga sewanya liama ratus ribu rupiah sebulan plus penerangan listrik, untuk keperluan lain (TV, pemanas Teko air,  Computer, Kipas angin, bayar lagi, tentunya).
Gaji yang diberikan pada pegawai baru  delapan ratus ribu rupiah per-bulan (clean wage). Pokoke like it or leave it, jadi untuk kebutuhan hidup sebulan hanya sisa  tiga ratus ribu rupiah per bulan.   Bapaknya yang anggota Apindo (Asosiasi Pengusaha Industri Indonesia) membayar uang kosnya. Bapaknya bukan Pengusaha tapi Anggauta Parpol yang dahulu berkuasa- yang sangat setia.
Tanggal ini 28 November 2012, di Surabaya lagi macet di mana-mana karena ada demonstrasi besar besaran dari kaum buruh menuntut UMR dinaikkan hingga dua juta rupiah per bulan.

Bila dicermati benar, gaji yang diberikan pada buruh  itu sebagai kepala keluarga atau sebagai bujangan ?
 
Saya baca  jawaban dari Dewan Pengupahan yang tripartite artinya dari unsur Pengusaha, dari unsur Buruh dan dari unsur Pemerintah ( Departemen Perburuhan).
Semua buruh dianggap Bujangan artinya muda dan belum kawin.

Bila mereka sudah setengah umur, sudah kawin, ya resiko kebutuhannya, harus ditanggung sendiri. Lha ini membuat saya berpikir, apa ini  tidak lebih kejam dari 'perbudakan' untuk jangka panjang ? Pemerintah menanggung beaya kesehatan seluruh peduduk Indonesia, bravo. Mudah dikatakan, karena tidak disebut dengan kualitas apa ?
Sehari ngantri untuk tiga pil ya bisa terjadi.
Lusa ngantri lagi.
Saya kira anggapan yang  tidak alami ini buta tuli terhadap Hukum Allah.
Di seluruh Indonesia ini anak-anak dari sepasang buruh tidak dianggap ada.
Ayah dan Ibu tidak ada dari kalangan buruh, termasuk hak menyusui anak.

Uang beranak berbunga-bunga hingga 10 % -12% pertahun, di Indonesia.(mayoritas dimiliki  siapa?, ini  tanpa tunjuk jari ke “sara” lho), jangan kita sampai "sara".
 Sebagai kensekuensi ngeklopkan keuntungan Pengusaha, maka buruh di Indonesia  apakah harus selamanya tidak kawin secara syah menurut Hukum Negara ? ( toh tidak dianggap, kawin siri syah menurut Hukum Agama) dan tidak  beranak, aneh ini menurut saya. 

Walhasil, saudara pembaca inilah artikel  yang paling jelek menurut saya dari sekian banyak atikel yang  saya buat sendiri di blog saya, ndak ada maksud dan tujuannya nulis ini, hanya asal nulis saja menurut ide saya, ini artikel pandangan mata dan pendengaran telinga saya, menurut apa adanya, lebih baik jangan dibaca. (*)    





0 comments:

Poskan Komentar

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More