Amazon SearchBox

Sayang Sama Cucu

Sayang Sama Cucu
Saya sama Cucu-cucu: Ian dan Kaila

INDONESIA PUSAKA TANAH AIR KITA

Indonesia Tanah Air Beta, Pusaka Abadi nan Jaya, Indonesia tempatku mengabdikan ilmuku, tempat berlindung di hari Tua, Sampai akhir menutup mata

This is default featured post 2 title

My Family, keluargaku bersama mengarungi samudra kehidupan

This is default featured post 3 title

Bersama cucu di Bogor, santai dulu refreshing mind

This is default featured post 4 title

Olah raga Yoga baik untuk mind body and soul

This is default featured post 5 title

Tanah Air Kita Bangsa Indonesia yang hidup di khatulistiwa ini adalah karunia Tuhan Yang Maha Esa yang harus senantiasa kita lestarikan

This is default featured post 3 title

Cucu-cucuku, menantu-menantu dan anakku yang ragil

This is default featured post 3 title

Jenis tanaman apa saja bisa membuat mata, hati dan pikiran kita sejuk

Sabtu, 28 Januari 2012

TERNYATA SEBAGIAN NEGARA-NEGARA EUROPA BARAT BANGKRUT -BUKAN DARI PETANINYA YANG PUSO DISERANG HAMA

Saya seorang Agronomist, pengertian saya mengenai ekonomi, apalagi ekonomi finance global relatif terbatas. Akan tetapi berhubung seluruh dunia geger, sampai sampai CEO yang menguasai uang yang ada seluruh dunia ini diwawancara oleh CNN, apa yang akan mereka lakukan di Club mereka saat ketemu di Davos Switzerland kini?
Soal pertemuan kota Davos di Swiss dengan Obama, saya tidak tahu, wong CNN saja ya belum menyiarkannya.
Tapi yang jelas kata “bangkrut” yang bahasa kerennya “bankruptcy”, kami tahu sekali, bahasa petaninya “puso”, artinya seluruh modal milik petani dipergunakan untuk ongkos tanam dan pemeliharaan. E…e… ternyata panennya habis diserang hama atau penyakit tanaman dan utang ndak terbayar.
Yang ini terjadi di Europa dimulai dari Greece (Yunani), kemudian Italia kemudian Perancis mulai kesulitan pancairan dana besar, sebelumnya Inggris berjaga jaga agar duitnya di Bank awet liquid segala pos pengeluaran diketati, termasuk dana pendidikan.
Di berita TV sedunia rakyat pada demo, karena mau atau tidak obatnya hanya satu yaitu “austerity measure” bahasa petaninya hidup sangat hemat, makan sekali-sehari.
Ndak percaya ?
Tahun 1975-an dan tiga tahun berikutnya ada hama padi wereng coklat (Nilaparva lugens L) yang sekaligus menjadi vector virus kerdil rumput (grassy stunt) dan wereng lainnya, menghancurkan panen habis-habisn, petani kelaparan, hanya mampu makan sangat sederhana, bahkan bonggol/umbut pisang direbus sekedar menangsal perut, bahasa kerennya “super autere measures”

Tapi ini aneh, Negara Europa, seperti Greece, Italia, bukan negara berkembang, termasuk negara maju, sudah bebas buta huruf, kematian ibu dan anak sangat kecil, harapan hidup tinggi.
Kok Bank Sentralnya bangkrut, anak pinak bank-bank di bawahnya sudah tidak bisa mengembalikan uang orang.
Pantasnya Negara yang sudah maju ini (wong negara Turki saja tidak diterima masuk kok) seperti negara negara Europa yang tergabung dalam Uni Europa, bank-bank sudah ratusan tahun beroperasi, punya batasan batasan hukum supaya bank itu tidak sampai terkuras habis oleh resiko apa saja termasuk KKN. E..e.. kok malah bangkrut.

Bila analisa dilakukan menurut ilmu dan istilah perbankan orang akan pusing tujuh keliling, sebab yang dinamakan harta bank itu ya “activa” bank semuanya, adalah semua activa itu yang bentuknya macam-macam termasuk piutang yang nagihnya mudah dan activa dengan kesulitan menagih sendiri-sendiri yang telah diperhitungkan.
Semenjak Perang Dunia II seluruh Europa telah berubah, “demokrasi” nya telah menyentuh rakyat bawah yang ternyata telah mati matian dengan gagah beani dan pengorbanan yang besar, ikut mengusir Nazi Jerman jadi Maquis. Partizans, Resistance, bekerja sama dengn Sekutu.
Kaum menengah dan menengah atas sesudah itu mulai peduli dengan kesejahteraan golongan bawah, buruh berkerah biru dan buruh tani- timbul aturan pemerintah yang melahirkan welfare country.
Lha memang dua negara yang Bank Sentralnya bangkrut ini termasuk negara yang tertua dalam segala hal, termasuk susunan hunian, jalan-jalan di kota kotanya dan sistem sanitasinya, bayangkan bila harus dimodernisasi.
Jadi setiap politisi harus mengikuti zaman, pemilihan Presiden pemilihan Gubernur dan Walikota pemilihan anggauta Parlemen dan patai-partai, para politisi calon-calon ini selalu berkampaye tentang kesejahteraan rakyat, lha akhirnya kan ditagih, dan umumnya mereka sudah mengenal penyelenggaraan “welfare societies/welfare countries” semenjak Perang Dunia II, artinya memberi kesempatan rakyat untuk hidup layak, dengan upaya negara.

Jadi bila Politisi hutang pada bank dengan jaminan bangunan Kantor Municipalities, gedung Kementerian untuk bikin betul WC di rumah sakit, got pematusan seluruh hunian se-negara, bikin rumah sakit buat orang tua-tua itu ya memang dari hatinya nuraninya, didukung secara aklamasi olewh Parlemen-nya, wong DPR RI saja bikin betul WC di gedung DPR nya dengan onkos 300.000 Euro, bikin jalan dan jembatan di desa-desa mereka yang habis kebanjiran sekolahan desa yang tidak mudah roboh, sangat mahal, memang budaya mereka sudah tinggi.
Lha kemudian kini duitnya orang-orang kaya yang sejak dulu dititip di bank terambil oleh keperluan mendesak itu.

Kebetulan mendadak saja ada prospect baru, meniru tuan Sachs dari US membeli logam mulia besar- besaran, menanaman modal di lain tempat dan para marquis-marquis dan baron dan baroness, para mister Onasis dan para Papapuolos, Duke Paganinni dan Signor Ferrari menarik uangnya dari bank-bank itu - lha uangnya sudah tipis dipakai untuk membeayai infra structures kota dan desa, (tentu saja tidak seperti desa di Mesuji) tidak cukup, sdangkan kiriman devisa US dollar dari TKI (I -artinya Italia ) dan TKG (G- artinya Greece) susut banyak karena USA juga lagi krisis juga, maka bankrutlah bank -bank di sana.

Seperti biasanya IMF menganjurkan “super austere measures” kayak petani kita, makan umbut pisang, tidak diterima rakyat, mereka bilang kami bekerja, products kami laku keras (lihat tas Gucci dan cosmetic dan minyak wangi dibeli dimana-mana, sepatu Bally kami selalu dipakai anggauta Dewan Perwakilan Rakyat RI) kok kami yang harus “puso” artinya puasa juga seperti petani Jawa Bali dan Sulawesi ?
Begitulah pengertian seorang Agronomist, sangat sederhana.

Pengertian mayoritas kaum menengah dan menengah atas di Europa, menyangkut pengaturan pendapatan Negara sudah bisa menjejelaskan pengertian idelogi kapitalis di bawah ini :

IDIOLOGI KAPITALIS

Para Ideologist Kapitalisme selalu dengan bangga menggaris bawahi bahwa kemajuan yang dicapai umat manusia setaraf sekarang ini adalah berkat berlakunya hukum pokok yang disakralkan oleh Ideologist Kapitalisme :
“Hak milik pribadi atas modal dan alat produksi tidal boleh dibatasi oleh apapun kecuali oleh kemampuan manusia itu sendiri untuk menguasainya.”
Memang masyarakat yang berbudaya harus bisa “melindungi” hak milik pribadi setiap anggautanya, mengenai hal ini masyarakat Dunia sudah sepakat bahkan oleh mereka yang masih hidup sangat sederhana.

Mungkin hukum ini didapat dari pengalaman manusia jutaan tahun, bagaimana mereka harus mempertahankan hidup, bukan dalam hubungannya dengan species lain, tapi dalam hal “hak milik pribadi” ini khususnya nenyangkut hubungan dengan speciesnya sendiri.
“Homo homini Lupus” adalah ungkapan sarkastik dari cirinya yang berbunyi :
“ The might is right” bagaimana pahitnya pengalaman masyarkat manusia sepanjang sejarahnya menghadapi prilaku sesama speciesnya yang merampas makanan, anak istri/suami, perangkat pakaian pelindung badan/tubuh dari cuaca dan menghancurkan tempat berlindung keluarganya, juga kebebasannya seumur hidup dan hidup anak cucunya di bawah perbudakan.
Dengan demikian bahkan membela hak milik pribadi diasosiasikan dengan “hak membela diri” untuk “mempertahankan hidup”. La iya lah, sampai disitu seluruh kemanusiaan setuju.

Dalam satu cerita dari sosok tokoh fiktif yang melegenda dari Masyarakat Dunia Baru duaratus limapuluh tahun yang lalu di Amerika Serikat digambarkan dengan indahnya bagaimana Pengacara Daniel Webster membela seorang Petani yang bangkrut yang terpaksa menggadaikan jiwanya kapada sosok Syaitan, saat jatuh tempo, di Pengadilan sistim Anglo Saxon ini Si Syaitan dengan Dewan Juri yang terdiri dari roh-roh Penjahat dan Pembunuh kelas kakap yang pernah hidup di Amerika Serikat, didatangkan langsung dari Neraka ........dan Juri-juri itu pada akhir pembelaan Daniel Webster yang menggambarkan bagaimana si Petani malang itu harus mempertahankan hidupnya dan keluarganya dengan mengerjakan tanah yang berkali kali puso, sehingga terpaksa menggadaikan jiwanya kepada sang Syaitan, Dewan Juri yang terdiri dari roh-roh orang Amerika yang nenek moyangnya hijrah ke sana untuk memperbaiki nasib, para Juri ini telah tergelincir jadi manusia yang sudah dianggap sekutu oleh Syaitan sendiri, malah pada mengeloyor pergi tampa keputusan sambil menundukkan kepala, keburu kemerahan di ufuk timur, sudh pagi, si Petani itu harus dibebaskan demi Hukum, karena dia terpaksa menggadaikan Jiwanya untuk mempertahankan hidupnya dan keluarganya.
Begitu hebatnya hak mempertahankan hidup itu dimaklumi, bahkan oleh mereka yang dalam hidupnya hampir tidak berhati nurani seperti para Juri yang langsung datang dari Neraka itupun tahu.
Karena bagaimanapun mereka dulu juga Manusia.

Yang dilupakan atau sengaja ditutup-tutupi oleh Para Ideologist Kapitalisme itu, sekarang ini “hak milik pribadi” sudah menjadi hak atas tumpukan segala kebutuhan hidup manusia yang di hak-i oleh beberapa gelintir manusia dan diperoleh dengan segala cara, “hak milik pribadi” macam ini tidak ada sangkut paut dengan “hak mempertahankan hidup” seseoang tapi bahkan mengancam seluruh bentuk kehidupan sangking srakahnya, itu namanya ya CAPITAL dengan huruf besar yang daya hidupnya dilahirkan dari pemikiran Kapitalisme, dengan hukumnya yang mutlak tidak bisa di amandemen oleh DPR manapun apalagi oleh DPR RI yang sering tidur dalam sidang sambil meRoyan dan tidak lupa mengucap Al Amiiiin, sesudah terima gratifikasi.
Hukum Hak Milik Pribadi itulah azas dasar Kapitalisme ini dibela mati-matian oleh kampanye yang gencar dan terencana, didukung oleh semua cabang ilmu, bahkan dicoba juga lewat agama-agama di seantero Dunia Kapitalis.
Faktanya Allah menciptakan Manusia tidak sama.
Sudah ribuan tahun yang lalu fakta ini digunakan oleh ras Arya mendapatkan pembenaran dari “dominasinya terhadap ras Dravida sebagai kasta Brahmin yang Aria diatas kasta Sudra yang Dravida , di Anak Benua India.
Kini siapa yang nggak tahu akal akalan ini bahkan di India sendiri.

Ada segolongan Ideologist Kapitalis yang menggali hukum-hukum Biology, mengemukakan bahwa persaingan untuk mendapat makan dalam satu Species akan lunak bila alam sedang memberikannya secara melimpah, akan tetapi akan menjadi ganas – saling membunuh bila sumber makanan menyusut dan menjadi langka. Ini juga berlaku pada hubungan antar Bangsa bahkan antar Negara, karena ini adalah hukum Alam jadi ya wajar saja. Apalah nasib rakyat di negara yang kaya sumber minyak mentah dikala sumber yang tak tergantikan ini sudah terasa menyusut ?
(“The lesson of History” oleh Will and Ariel Durant risalah dari the best seller sebelas jilid dari “The Story of Civilization” oleh Pengarang yang sama , terjual tiga juta set th 1969)
Sepintas nampaknya memang benar demikian akan tetapi Ideologists ini lupa apa “pura2” lupa bahwa Manusia itu meskipun masih satu golongan dengan makhluk Hidup jenis Binatang Mammalia, tapi bukan golongan Carinvora –pemakan daging - hidupnya sebagai Predator yang bisa berbuat kanibal karena tdak mungkin makan selain daging, dan juga bukan Herbivora murni yang tidak mampu mencerna daging tidak mungkin jadi kanibal, tapi Omnivora yang bisa makan dan mencerna segala organisme dan mineral, jadi watak kanibal adalah watak “tempelan” kayak Sumanto dari Banyumas itu saja, bukan seperti gerombolan serigala yang kelaparan yang dibenarkan saling memangsa.
Bahkan sebagai hamba Allah, Islam mengharuskan umatnya ber-ikrar untuk mengawali segala perbuatannya “Dengan nama Allah yang Maha Pemurah dan Maha Pengasih”
Bukan bersaing untuk makan satu sama lain.
Boleh menimbun makanan, energi minyak tapi untuk distribusi dan konservasi, bukan untuk mencari untung, haram hukumnya.

Selanjutnya, Ideologists Kapitalis menandai bahwa sebenarnya tuntutan masyarakat manusia Moderen akan “pemerataan” kesempatan untuk mendapatkan jaminan kesehatan dan kebutuhan esensial hidup - adalah prakarsa anggauta Masyarakat kelas bawah yang memang inferior dalam produktivitasnya, akan menyeret ke arah degradasi-.
Golongan masyarakat yang superior menuntut Masyarakat memberikan “kebebasan” untuk berkarya mendorong kearah eskalasi derajad Kemanusiaan.
Tapi dengan hukum besi ”the survivial of the fittest” secara individual, lupa bahwa survival “manusia” di alam ini justru separoh disebabkan oleh sifat specdies ini sebagai makhluk social.

Bagaimana sebenarnya mengukur produktivitas anggauta masyarakat manusia ? Mengukur hasil akhir dari satu sistim penuh tipu daya, seperti Gayus si pegawai pajak yang duitnya ratusan miliar atau Cyrus si Jaksa bengkok. Bagaimana mengukur produktivitas seorang Sufi Ahli Falsafah Seorang Guru, Seorang Ibu yang memelihara bayinya?

Memang Manusia sebagai individu tidak akan sama satu sama lain, tapi dichotomi dengan kriteria inferior dan superior akan diuji apabila ada pandemi virus flu burung H5N1 apa si Superior akan lebih tahan dari si Inferior? - Jadi apalah arti pemerataan yang diminta - akan merugikan siapa dan apalah arti kebebasan bagi si Superior bila sama-sama bernafas dari udara yang sudah penuh dengan virus H5N1 ?
Si Superior akan membangun Dunia mereka sendiri yang bebas dari virus H5N1 tapi kapan ? masih butuh modal yang super kolosal, sementara WHO sudah membunyikan alarm itu H5N1 sudah didepan pintu.
Ternyata lebih mngkin memberikan pemerataan sanitasi, isolasi medis dan mengerahkan dana seluruh umat manusia menghalangi sebisa mungkin penyebaran H5N1, daripada mempertahankan dichotomi inferioitas dan suprioritas a’la Kapitalisme.
Alhamdulillahi Robbil Alamin.(*)

Rabu, 18 Januari 2012

APAKAH RAKYAT PETANI AKAN MENJADI TUMBAL YANG KETIGA KALI ?

Belakangan ini banyak terekspose berita-berita yang saling susul menyusul, betapa rakyat kecil, yang artinya tentu petani kecil dikhianati, dalam hal yang mendasar bagi mereka yaitu dalam persoalan agararia.

Siapakah yang sebenarnya sepanjang waktu Kolonialisme Belanda,  dijajah oleh sistem penjajahan Belanda?
Sesudah periode pendek perdagangan rempah-rempah dari pulau-pulau bagian Timur, disusul dengan cultuur stelsel atau tanam paksa yang panjang, siapa yang dipaksa menanam indigo, tembakau dan tebu ? Jawabannya adalah : Petani Pulau Jawa.

Seratus tahun disusul dengan revolusi industri di Europa dan tanam paksa diganti dengan etische politiek, pembukaan lahan Tebu lebih dari satu setengah juta hectare dengan pengairan teknis bendung dan bendungan waduk-waduk besar-besar untuk mengairinya, buruhnya adalah jutaan  petani gogol,  petani yang boleh menanam padi dua tahun sekali, ini hanya terjadi di pulau Jawa, dari lahan tebu milik Kanjeng Gubermen, yang disewakan pada pabrik-pabrik gula  pemiliknya hanya warga Belanda/ Nederlandche Burgers, termasuk Oei Tiong Ham, dan Raja Raja Surakarta.

Perang Pacific pecah 1942 petani pulau Jawa mengira Bala Tentara Dai Nippon membebaskan mereka untuk berhenti jadi kuli Gogol, bertanam padi sepanjang tahun, memang iya kurang lebih begitu, tapi panen pertama saja sudah dibeli paksa oleh Dai Nippon untuk bekal perang, elit desa mengikutkan untung revaksi timbangannya, panen kedua hanya dirampas saja ditambah dengan penjaringan jutaan mereka, petani di pulau Jawa untuk Romusha, pekerja paksa, mati di sana di wilayah Asia Timur Raya, Rabaul, Saipan, Halmahera, di rahasia gua-gua, diumpankan malaria, untuk bikin benteng Nippon Cahaya Asia.
Ini tumbal pertama.

Kaum menengah pribumi Hindia Belanda jelas berpihak pada Saudara Tua , Malah ada yang menjadi Peta, Heiho, makanya kaum ini jarang yang dibantai Kenpeitai, kecuali Supriadi dari Blitar,  Pemain ludruk (sandiwara rakyat) bernama Cak Durassim  dari  pedesaan Jombang disiksa dan dibunuh Kenpeitai gara gara mendendangkan  pantun “Pegupon omahe doro, melu Nippon tanbah sengsoro”

Indonesia memproklamasikan kemerdekaan tanggal 17 Agustus 1945, disusul segera dengan perang kemerdekaan selama lima tahun.
Petani dibela oleh Presiden Sukarno, penyambung lidah   Pak Marhaen, sahabat Pak Kromo,  petani gurem di pulau Jawa.
Kemudian, UU Land Reform yang dikenal sebagai UUPA (Undang-undang Pokok Agraria) No 5 tahun 1960 diundangkan, bagi petani gogol, iya itulah artinya Merdeka, bertani di lahan milik sediri, meski hanya setengah bahu ½ dari 0,76 Ha. lahan berpengairan kelas satu tanah gogol milik Kanjeng Gubermen, jadi, de jure milik Republik, de facto sebagian milik elit desa, sejak penjajahan kaum militeris Dai Nippon, perampasan panen oleh Balatentara Dai Nippon, elit desa lah yang mempunyai kecerdikannya bisa setor ke Paduka Gunseikanbu dan ngentit (secara sembunyi-sembunyi) dapat untung untuk diri sendiri dari pasar gelap beras.
Perang kemerdekaan 5 tahun menyusul, tidak ada yang leluasa menjual  beras, elit desa bahu-membahu dengan kuli gogol, karena  sistem pengairan tebu masih ada dan lahannya ada, petani gogol ada, elit desa sama-sama melarat, pasar untuk beras ada di kota-kota, perlu tukang pikul, tukang gendong, tukang gerobag, ongkos tinggi hampir tidak ada untung. Desa menyatu sebagai unit sosial membantu tentara gerilya, karena ada kesamaan dalam cita-citanya, yang satu ingin menggarap sawahnya sendiri, yang satu ingin berdiri di kaki sendiri tidak dibatasi oleh predikat inlander, sebaliknya ada kesenjangan besar dari KNIL dan massa petani, yang sedang ber-euphoria menggarap sawah gogol tanpa campur tangan pabrik gula, sedang markas KNIL ya di pabrik gula yang lagi nganggur, malah menghujani desa desa dengan meriam howitzer  dari sana.
Waktu itu ada pantun bahasa Jawa  di desa-desa yang berbunyi:  “Apa tumon ana Londo kalung kanon kok kalah karo cah angon?”. Mungkin karena mata-mata di pesawat capung yang dikirim ke sana  ngawur, rombongan pemikul beras dari desa ke kota dikira gerilyawan sembarangan menunjukkan gerakan consentrasi gerilyawan, lagi-lagi banyak yang mati, tentu saja tanpa berita
Supplier makanan yang paling handal bagi tentara gerilya adalah para elit desa, karena rumah mereka rata-rata besar memang bisa untuk menyimpan hasil bumi.
Lha setelah penyerahan kedaulatan th 1949- 1950  semua lahan pabrik gula maunya ya kembali ke Pabrik Gula. Lahan berpengairan teknis yang lebih dari satu setengah  juta hektar. Sementara pabrik gula banyak yang rusak berat karena terbengkalai selama 8 tahun - perang Pacific 3 tahun  dan dilanjutkan dengan perang kemerdekaan 5 tahun.
Elit desa banyak menguasai tanah gogol semenjak jaman Jepang, merasa punya harapan besar bisa ikut memiliki tanah gogol, wong ikut laskar rakyat pro Kemerdekaan sudah, ikut partai pada zaman kemerdekaan sudah,  lha mereka kok ndak dapat itu redistribusi  tanah yang sebenarnya de jure punya Negara, yang dikuasainya secara de facto, kenyataannya pabrik gula banyak yang hancur,  sementara tidak memerlukan tanah mereka. E, e, ternyata tidak, tanah gogol dibagikan kepada kuli gogol, yang namanya terdaftar di Rooster van de koelie gogol, petani penggarap tanah gogolan tercatat di leger Pabrik. Kebanyakan Elit Desa adalah para Kiai yang banyak santrinya, pensiunan Pegawai Kecil di tingkat Desa dan Kecamatan yang memang mengerti nilai tanah, mereka masih mendambakan ikut memiliki tanah tanah pabrik di mana dia mengabdi.
Tanah yang sudah de facto dikerjakan sekian lama ternyata telah dibagikan pada petani penggarapnya yaitu kuli gogol. Tentu saja para elit Desa penasaran, kok berani-beraninya menerima itu tanah redestribusian UU Land Reform ini.
Bagi petani gogol, pembagian tanah redistribusi tanah gogol ke mereka oleh UU land reform ya sangat membesarkan hati, apabila sebagian sudah dijual  di bawah tangan (hanya pakai kwitansi ) ini tidak syah, apalagi pembelinya tinggal di luar Kecamatan lokasi tanah itu  (menurut UU land reform),  digadaikan sebelum UU Land Reform pun tidak syah, sebab penggadainya sebenarnya bukan pemilik tanah gogol, masih tanah milik Republik secara de jure.
Yang lebih menyakitkan hati, petani-petani gogol ini cenderung menyambut penggembira yang paling  getol, yaitu mereka yang meneriakkan slogan tanah untuk tani, BTI/PKI maksudnya, tanah negara untuk tani gogol,  sedang elit desa rata-rata dari NU Masjumi dan PNI Osa Usep, sebagai orang luar yang bukan kuli gogol walau sangat berkepentingan mengukuhkan haknya atas tanah yang sudah sekian lama  mereka kelola ternyata menurut UU Land Reform kok jatuh pada petani gogol, yang pada zaman pemerintahan militerist Jepang tidak punya beaya buat tanam padi bila hanya untuk dirampas Balatentara Dai Nippon, mereka jadi penggarap saja. Sedangkan para elit desa yang aktif dalam pemerintahan, dipaksa Dai Nippon untuk bertanggung jawab setor gabah/beras, bila tidak mau, maka bisa dianggap penghianat oleh Kenpeitai, sama dengan dihukum mati, atau dijadikan Romusha.
Dasar pintar, bisa saja sebagian panen lari ke pasar gelap di kota-kota.
Jaman Perang kemerdekaan, rumah petani gogol terlalu kecil untuk berteduh para gerilyawan, jadi makan tidur di rumah elit desa,  oleh  karea itu mereka para elit Desa merasa mendukung  Mas-Mas Gerilyawan yang ndak ngerti apa-apa perkara tanah pabrik
PKI karena ulahnya sendiri jatuh jadi umpan  dokumen Gilchrist oleh CIA, sayap militer mereka membunuhi Jendral-Jendral yang dia anggap mau me coup de’etat Presiden Soekarno, dengan kekuatan yang setengah- setengah akhirnya harus menanggung dosa disapu bersih, dengan target 4 juta orang.
Petani gogol penerima tanah pabrik gula. Tanah yang juga diidam-idamkan oleh para pemodal elit desa   mendadak ditinggal President Soekarno dan para pengikutnya yang kena schock berat, sangat terkejut atas terbunuhnya para Jendral, setengah lumpuh dan ikut dilenyapkan oleh  dendam horizontal di tingkat desa, jutaan mereka dibantai. Tahun 1965
- Terjadi petani kecil  di pulau Jawa jadi tumbal yang kedua kali.
Sekarang 57 tahun setelah itu, Seluruh exponen orde baru, orde reformasi, Kiai dan pemimpin umat beragama lain, pada membuat sarasehan besar, guna mejatuhkan pamor pemerintahan, membongkar keberpihakan aparat Negara  kepada Pemodal hingga terjadi pembunuhan-pembunuhan para petani plasma kebun kelapa sawit, di seluruh lahan plasma sengketa kebun kelapa sawit di Sumatra, konflik petani dan Usaha pertambangan di Bima, Kalimantan dan Papua Barat.
Aneh, ada jeruk kok makan jeruk, wong yang di Partai Demokrat juga exponen Orde Baru, Sarasehan Anak Bangsa juga penuh dengan exponent Orde Baru, menggugat keberpihakkan Pimpinan Partai Demokrat  kok cuma jadi pilot pura-pura, malah negara ini dianggap mereka hanya dipiloti oleh autopilot saja.
Apa  berpihak pada rakyat atau pada pada pemodal ?
Apa mareka lupa bahwa sekian kali pemilu sesudah di Orde Reformasi, yang jadi Golput artinya tidak ikut memilih lebih dari 40% dari yang terdaftar, lha ini siapa ?
Yang  Golput lebih dari 40 %  ini  tidak muncul di  Sarasehan Anak Bangsa, karena tahu bahwa mereka toh selalu diakali dan tidak bakal terwakili, tidak ada Elit Politik yang berhasil menjadi calon  presiden dan wakilnya, calon angota DPR dan DPRD, calon Gubernur dan Bupati yang akan membela meraka, kalau artist dan actress banyak, wong organisasi tani , kontak tani, tani andalan, tani maju, himpunan tani, semua  masih tunjukan  Orde Baru yang dulu, atau clone pertama dan kedua.
Tidak ada yang mewakili berbicara di DPR  seperti mengenai tanah  kebun plasma kelapa sawit yang diberikan kembali pada kebun inti yang dikuasai oleh  Pemodal dan Pemerintah Daerah.
Sekarang lain lagi, bila petani plasma tahun-tahun  yang lalu telah menjual atau menggadaikan lahannya kepada pihak ketiga, karena hasilnya tidak cukup untuk makan. Hukum akan perpihak pada pembeli. 
Harga kelapa sawit berfluktuasi, karena panen kecil, karena mulai bibit sampai sarana pertanian banyak ditilep atau infra structure yang tidak mendukung (jalan dan jembatan) sehingga ongkosnya tinggi akan jadi tanggungan penghasil kelapa sawit alias petani kecil plasma , sebab dibeli ditempat lokasi kebun inti.              Hukum akan perpihak pada pembeli. 
Tanah ulayat dan tanah Negara yang diexploitasi oleh Pemodal dengan merugikan rakyat, juga oleh dukungan langsung Menteri Menteri exponen Orde Baru atau clone  generasi kedua yang memenuhi blantika Politik Negeri ini sekarang?
Saya khawatir demi merebut kursi empuk Penguasa Pepublik ini yang sekarang, para exponen Orde Baru ini memperalat cita-cita petani kecil  untuk keluar dari jerat kemiskinan yang sistemik, sampai sampai mau mnggarap pertanian plasma kelapa sawit jauh jauh hari, puluhan tahun yang lalu, jauh di pedalaman berjam-jam naik truk ke pusat perdagangan, yang ternyata harga sawitnya jatuh bangun, harganya tidak menentu.
Sekarang harga sawit bagus, malah diusir dari plasmanya seperti di Mesuji  yang  dimunculkan di mass media dan sangat banyak tempat yang lain tidak terdeteksi. 
Bila Pemerintahan Autopilot Presiden SBY (menurut pendapat Sarasehan Anak Bangsa)  benar-benar jatuh, yang akan mengganti siapa ? dengan cara apa – Pemilu yang dipercepat, wong Persiden dan Wakilnya  DPR nya yang dipilih sesuai schedule saja ada yang meleset. KPU nya para profesor, ternyata jadi  koruptor?
Atau Junta Militer, opsi yang logis dan murah secara ekonomis (tanya pada akhlinya kayak di Laos), tapi sangat mahal dari sudut pandang demokrasi.
Semoga bangsa ini dituntun ke jalan yang benar, yaitu jalannya mereka yang telah Engkau beri petunjuk bukan jalannya mereka yang sesat dan mendapat murka-Mu
Demi rust en orde, siapa saja bisa ber Junta ria, dan tumbalnya adalah petani kecil bukan lagi di lahan tebu, tapi di lahan Plasma Kelapa Sawit di Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, bila bersikukuh  bakal dibantai seperti petani dilahan tebu tahun 1965, atau jadi buruh bukan saja kontrakan, tapi juga di outsourcing dari kebun Inti milik Pemodal, kayak pemanen jeruk di California, selesai panen ya embuh.
Maka memang perjuangan sangat berat bagi petani kecil tak bertanah untuk menggarap lahannya sendiri untuk sekedar mencukupi hipup keluarganya.
Apalagi di system ekonomi yang jadi pilihan kini neo liberalisme.
Cita-cita itu mulia, tapi Negara dan segenap aparatnya harus kompak tulus membantunya dengan kesadaran supaya Pak Marhaen berhasil jadi produsen pangan di lahannya sendiri, dan industri terkatrol jadi Tuan juga di negerinya sendiri. Jangan sampai menjadi tumbal yang ketiga kali di tahun-tahun susah yang akan datang ini. (*)



 




        


Jumat, 13 Januari 2012

BAKUL, DALAM MASYARAKAT JAWA


Dari zaman dulu sebelum ada Penjajahan, zaman Kerajaan Kerajaan besar maupun kecil kata “bakul” dalam bahasa Jawa sudah dipakai untuk predikat suatu profesi yaitu Pedagang, spesialis barang kebutuhan sehari- hari,  setara dengan Juru Tani dan Abdi Dhalem atau petani dan pegawai keraton.  Jadi agak lain artinya dari bakul dalam Bahasa Indonesia yang artinya tempat semacam keranjang dari anyaman bamboo halus dan rapat dapat mewadahi apa saja dari berat kira kira 10 kg sampai bakul besar kira kira mampu mewadahi beras 25 kg.
Ada istilah poetis yang menyertai predikat profesi bakul yaitu  “Ana tembang rawat rawate mbok bakul sinambi wara”(bahasa Jawa)  artinya ada tembang  terdengar entah benar entah tidak dari wanita pedagang yang membawa dagangannya dari rumah ke rumah, biasanya rumah priyayi atau dari  pasar ke pasar setiap hari pasaran yang selalu membawa khabar dan gossip yang terjadi di masyarakat waktu itu.
Dari zaman ke zaman, bakul bukan saja menjadi predikat profesi, tapi telah mebawa suatu konotasi yang agak miring, meski salah pun tidak, dalam masyarakat Jawa, yaitu orang yang hanya mencari keuntungan dalam bicara apapun, dengan siapapun,  sudah jadi kebiasaannya yang mendarah daging, pelit memberikan informasi bila tidak langsung nenguntungkan mereka.
Misalnya, ada orang keliru bertanya pada pemilik toko pracangan (jual macam macam kacang, kacang ijo, kacang cina, kacang merah, kacang tunggak,  kebutuhan rumah tangga bumbu kering dan makanan kecil dalam kemasan, bahan bakar dan minyak goreng) apakah dia jual payung, selalu jawabannya bisa ditebak……. “Habis”, seolah-olah dia telah jual berkodi-kodi payung, padahal tidak pernah terlintas di pikiran dia akan menanam modal buat beli payung, untuk dijual lagi di tokonya.
Apabila harga yang ditawar oleh calon pembeli, kurang memadai keuntungannya, dia akan menjawab  tawaran harga itu dengan kata yang klise “Harga pengambilannya saja masih lebih tinggi”, harapannya supaya penawaran si calon pembeli ditambah. Atau bila kebetulan calon pembeli itu berhadapan dengan bakul salak dari Sleman dulu, akan dijawab “Pundut sedaya napa ?” maksudnya apakah sekeranjang penuh salak (yang meragukan kualitasnya) itu akan dibeli semua ? Yaa, itulah  bila berhadapan dengan bakul.
Lha celakanya sekarang watak “bakul” itu bisa menghinggapi manusia masa kini, dari segala profesi yang berinteraksi dengan kita, naudzubilah mindzalik, kayak menghadapi sahabat yang mencoba menjual dagangan multi level marketing.
Sangat menjengkelkan bila sifat “bakul” ini menghinggapi pembicara public dari kalangan politisi, business dan ilmu pengetahuan dan bisa terbaca dengan mudah oleh sebagian kita, misalnya dalam tulisan di blog-blog yang sudah dibaca orang banyak dari seluruh dunia, kok malah menutupi hal yang penting dalam keterangannya, dibelokkan ke jurusan lain ujung-ujungnya  keterangan yang malah tidak terang di bagian yang penting.
Saya kira hubungan antar manusia sedunia yang relatif murah dan tanpa kendala lewat dunia maya, dapat memajukan jalan pikiran orang, wong tidak rugi apapun bila dibuat sejujurnya, demi menyongsong manusia cerdas di zaman yang akan datang.
Berdagang tentu saja, tapi lewat dunia maya ini bisa lebih elegant dan sejujurnya.

Jujur itu benar, tapi di zaman ini benar itu belum tentu jujur, sedangkan yang semestinya jujur itu benar dan benar itu juga jujur. Zaman itu yang kita upayakan sepaya terwujud pada generasi manusia yang akan datang.

Islam mengajarkan bahwa merugilah  mereka yang tidak mengingatkan sesamanya mengenai perbuatan yang baik artinya sesuai dengan  kehendak Allah, hal-hal yang benar dan mengenai kesabaran  terhadap sesama umat Allah yang  masih keliru
Jadi para bakul sebaiknya ndak usah merasa rugi apabila menyandarkan pergaulan pada kebaikan, berbicara apa yang sebenarnya (Allah itu Maha Pemurah dan Maha Pengasih) dan bersabar sementara bakul yang lain masih belum sadar.
Berdagang, tetap digeluti sebagai profesi.
Kasihanlah mereka yang  malah sampai mati tetap berkelakuan sebagai bakul, tanpa ketulusan hati, satu cara hidup kuno, yang hanya memperlakukan manusia lain sebagai object, menghadapi orang dengan cara bakul.(*)


Senin, 09 Januari 2012

Alumni Sutaryo Berangkat ke Syurga

Innalillahi wa Inna Ilaihi Rojiun,  telah berangkat ke Syurganya Alloh, Kawan kita Sutaryo. Almarhum Sutaryo adalah alumnus Universitas Druzhba Narodov- Imeni Patricia Lumumba Moskow, Russia, Fakultas Pertanian angkatan 1965. Semasa kuliah di Patricia Lumumba Moskow, Almarhum  Sutaryo tinggal di asrama Pavloskaya Ulitsa, kampus di wilayah Donskoi Proyest.
Mari kita mengenang kebaikan almarhum, seraya menghidupkan kenangan kita lagi semasa muda saat  kita semua mahasiswa Indonesia  bersama-sama menempuh ilmu di kampus Univ Druzhba Narodov. Kita belajar di fakultas apa saja, ada kawan yang studi di Fakultas Teknik, Fakultas Sastra, fakultas Pertanian dan Kedokteran bahkan Ilmu Kedirgantaraan dan Ilmu Kelautan. Kita juga bangga bahwa ilmu kita tidak sia-sia. Semoga Alloh mencatat ilmu Alm. Sutaryo sebagai ladang amal almarhum.
  Kita layak bersyukur bahwa para alumnus Russia asal Indonesia memiliki ilmu masing-masing yang teguh, karena memang saat itu kita dipersiapkan untuk membangun bangsa dan negara oleh Ir Sukarno. Kita semua dikirim oleh Negara, untuk kelak membangun Negara. 
   Romantisme semangat kepemudaan kita awal kemerdekaan itu rasanya masih terngiang. Bahkan Bung Karno sendiri pernah berpesan pada kami para mahasiswa Pertanian yang muda usia di Moskow, "Hei pemuda mahasiswa, kalau kalian kembali ke Tanah Air, janganlah langsung kerja di kota besar, tapi segeralah ke  daerah-daerah yang tertinggal  pertaniannya, bangunlah pertaniannya dan ajarkan pada rakyat ilmu kalian,". Alhamdulillah, saya telah memenuhi pesan Bung Karno, dan membuktikan bahwa negara tidak rugi membiayai kita semua jauh-jauh menempuh ilmu di negri orang, saya sudah keliling sebagian besar Indonesia dan mengamalkan ilmu pertanian saya pada warga Desa yang saya singgahi.
  Dan saya yakin demikian pula dengan almarhum Sutaryo, akhirul kata ; Semoga Alloh Subhana  Hu Wa Ta'Ala menerima segala amal baik almarhum Sutaryo. Amin. (*)

SALAK PONDOH, CERITA YANG MENYENANGKAN


Ini saya tetap tidak janji nulis yang baik-baik saja di  blog ini,  meskipun  sebenarnya cerita ini menyenangkan.
    Buah Salak (Salacca zalaca atau Salacca edulis…)  memang sejak dulu sekali ada di Nusantara, penggemarnya yang ikut melestarikan budidaya ini ya kita-kita, dengan segala susah senangnya. Soalnya beli rasanya enak, beli lagi e... e lha kok rasanya ndak enak mencekik leher.
Senangnya apa, buah Salak cocok untuk menjamu tamu dalam perhelatan besar kecil, karena tidak mengotori tangan dan pakaian kebesaran, rasanya bila dapat Salak yang benar, manis segar, kurang berair, mudah dikupas, sayangnya sudah sejak tanaman ini dibudidayakan,dan dijual  di pasar-pasar bila lagi musim, penjual buah ini paling penuh dengan tipu daya sewaktu  penjaja buah Salak menjajakan Salaknya ke calon pembeli, dagangan Salak diatur yang besar dan mesti di atas, kurang dari 10 biji, yang di bawah ya seadanya, senampan penuh.
    Bila ditawar dengan harga yang kurang berkenan, mereka selalu bilang: “Pundut sedaya napa? ( bahasa Jawa : Mau dibeli semua?)
Harganya tidak pernah naik exorbitant karena tidak pernah dicari untuk sesaji di klenteng-klenteng.
Rupanya nama lain dari buah ini “snake fruit” tidak disenangi dewa-dewa.
Itu dulu sebelum ada anugerah cara perkembang biakan yang baru kira kira th 1980 an.(Wikipedia)

   Khusus di Bali sebaliknya, Salak cultivar Salak “Bali” ,  memang Salak kelas satu, rasanja enak bijinya kecil, daging buahnya tebal, sejak dulu masyarakat Bali seluruh hidupnya adalah ibadah kepada para Dewa, jadi memetik dan memperdagangkan buah Salaknya pun bila sudah tua benar.
Sekarang  masyarakat Bali sudah terpolusi berat, umpama di jalan masuk ke Pura Besakih yang sacral, tidak ketahuan Bali yang mana, mereka penjual Salak, mereka sama dengan penjual buah yang lain,  menimbang yang sudah dipilih oleh pembeli, membungkus dalan kantung plastic khusus hitam, menghitung harga dan kembaliannya, e... e sampai di rumah Salaknya berubah jadi Salak muda dan kecil-kecil tidak enak dimakan, itu sekarang, sementara turis domestic sesudah dirumah setelah menyeberang Selat Bali, ratusan kilometer dari segala Pura segala tempat wisata, pada menggerutu.
    Penjual Salak di tempat tempat yang dikunjungi turis terutama turis domestik, si penjual Salak memposisikan dirinya dan timbangannya satu hingga satu setengah meter lebih tinggi dari dagangannya yang diatur dengan bakul-bakul  berundag ke atas, menutupi pandangan dari depan apa yang terjadi dibalik itu, dari samping juga tertutup oleh dinding kiosk,  wajar makin ke atas makin tinggi kualitasnya. Tapi diatas sana dekat dia duduk sudah siap kantung kantung plastic hitam dengan isi Salak khusus  kualitas rendah dengan berat 1 kg, 2 kg, 3 kg  tersembunyi dari pandangan calon pembeli tentu saja, khusus untuk penukar bungkusan Salak yang sudah dipilih oleh pembeli untuk ditimbang, pintar kan ?
   Makanya hati-hati jangan pernah beli buah dari  pedagang buah apa saja yang ningkring duduk di atas, di belakang dagangannya, belilah di pasar-pasar, daripada kecewa nanti, sesampai di rumah.
Melapor Polisi ? ah jangan guyon, karena hal 'lumrah' yang demikian sudah terjadi puluhan tahun, bergenerasi-generasi, mungkin mereka kerabat penegak hukum, atau direstui Pengusa atau Preman secara langsung atau tidak langsung karena setoran penjual penjual Salak ini istimewa.

  Salak Pondoh yang ditanam dan diperdagangkan seputar Kabupaten Sleman, Jogjakarta lain lagi, jalan raya dari  Jogja ke Borobudur sepanjang tepi jalan ada tempat bejualan Salak Pondoh di banyak lokasi, dengan cara berdagang yang sangat menyenangkan.
   Semua dagangan Salak Pondoh sudah dipilih dengan tiga kategori  kualitas super, kualitas nomer satu dan kualitas normal, dengaan price tags harga masing masing setiap kilogram, semua timbangan OK dari Dinas Metrologi. Lereng Merapi boleh dilanda bencana abu vulkanik yang tebal kebun kebun Salak Pondoh musnah, tapi Salak Pondoh ada dari Purworejo, Banjarnegara bahkan dari Wonosalam Jombang, dari semua pejuru, semua hasil fotocopy tanaman yang baik.
   Dijajakan dengan terbuka, diletakkan di bale-bale di bawah atap seperti saung atau gardu  keranjang demi keranjang, semua terbuka dari empat sisi penjuru angin, disediakan contoh untuk dicicipi kemudian, tinggal timbang, cepat dan ramah, beda sekali dengan simbok-simbok (ibu ibu setengah baya khas dengan kain batik lusuh dibawah lutut diikat dengan kain setagen (kain pengikat pinggang panjang selebar telapak tangan) sekenanya, dan kebaya yang sama lusuhnya sambil mulutnya disumpal susur - sebutir besar tembakau,  menjajakan segendongan Salak “Sleman” (yang sekarang mungkin sudah punah) sambil membawa kesana kamari sekeranjang kecil Salak yang sudah diatur, dua tiga buah yang besar di atas kemudian yang bawah dipasang Salak kecil-kecil diatur sedemikian untuk menipu pandangan, bila ditawar menjawab dengan sinis, apa mau dibeli semua ?
Bila diladeni jawaban akan panjang pernyataan pernyataan sinis  dan sarcastic, itu dulu sebelum th 1990 an. Kini berubah, apakah karena pengaruh para agamawan, dan alim ulama di wilayah itu yang tak henti-hentinya memberi ceramah rokhani, sehingga para bakul Salak di Sleman menyadari kekhilafannya, sehingga merubah cara menjual Salaknya dengan cara yang lebih elegant ?
  Yang jelas entah siapa yang memulai langkah jenius yaitu membuat fotocopy Salak Pondoh persis seperti beberapa batang Salak Pondoh yang mereka punya.  Kejeniusannya punya ide mencangkok anakan/cabang Salak Pondoh, lho kok ternyata berberhasil.
  Ada apa dengan si Pondoh kok orang begitu memutar “ketrampilan” men-cangkok Salak cultivar ini ?
Saya tidak mengatakan memutar otak, karena menurut teori sekolahan, men-cangkok golongan tanaman Monocotyledone – golongan  Palmae in tidak terlintas pada pikiran sekolahan, karena biasanya golongan  ini tidak ber-ruas-ruas, apalagi mempunyai “lapisan” sel yang meristematis yang mananya cambium, pada Monocotyledone cambiumnya bercampur dengan jaringan jaringan pembuluh, jadi bila tidak beruas ruas, yang dari situ bisa tumbuh tunas cabang dan tunas akar, jaringan meristematis ada disela sela jaringan pembuluh, kerjanya cepat selesai, makanya bangsa rerumputan diameternya tertentu saja.
   Tapi jelas batang Salak yang masih muda bisa mengeluarkan beberapa tunas cabang.
 Apa ada orang mencangkok kelapa ?. Men-cangkok Kurma ?
Lha Salaca zalaca ini kok punya tunas tunas di batangnya tapi tidak mengeluarkan akar, khusus pada tanaman yang umurnya kurang dari katakan 6-7 tahun, bila sudah terlalu tua konon kemauan membuat tunas di bantangnya berhenti.
     Saya tahu nama Mukibat, nama Mujair, nama Jagus adalah memang sedikit nama petani yang genius yang dikenal orang, seperti juga yang menemukan pen-cakok-an Salak ini.
Memang semoga jasa rakyat selalu dicatat oleh Allah, dan beliau beliau nanti ditempatkan di Syurga, paling tidak syurganya tidak dicampur dengan para Doktor Pertanian tapi yang yang ndak ada karyanya dan ndak pernah ngomong nyumbang perkara pertanian, ada lhoh yang Doktor Pertanian tapi sayangnya sekedar gelar abal-abal saja untuk mendongkak citra, ehm.. kalau tak mau dibilang abal-abal yah paling tidak yang ilmunya belum matang benar, tapi sudah lulus.
   Mengapa rakyat yang berkarya memulai mencangkok Salak Pondoh ini sangat berjasa ? Karena beliau telah membebaskan rakyat Sleman, Jogja terutama Stasiun Tugu dari dosa, karena selama menjajakan Salak selalu penuh tipu daya bergenerasi-generasi. Sekarang semoga tinggal sejarah.
Entah bagaimana nasib penjual Salak di Bali penjual mangga di kota Probolinggo, pinggir jalan yang satu jurusan menuju ke timur, teknik mereka sama.

Cara mencangkok Salak
Oke deh, kini cara mencangkok Salak. Pohon Salak yang sudah brumur 4 -5 -6 tahun, pelepah daunnya yang terbawah sudah sejengkal dari tanah, diatasnya daun daunya menua dan tumbuh tunas, lha tunas ini dibersihkan dan dicakup dalan dinding botol atau gelas pastik yang sudah digunting memanjang dari atas kebawah sekira 15 cm. Nampak tunas di pisahkan dari batang induknya oleh dinding botol plasti atau gelas plastic yang sudah disatukan kembali dengan diberi lubang bulat secukup agak sesak untuk tunas bisa melukai sedikit, penggir guntingan ke atas tunas disatukan kembali dengan diikat  solah olah pot untuk media. 
   Trus potongan botol plastic atau gelas pastik yang transparan itu diisi dengan tanah atau media yang bisa menahan kelembaban, seperti mencangkok pada umumnya, yang ini harus digantungkan, permukaan atasnya terbuka seperti pot.
  Bedanya selama tunas ini belum berakar, makanan disupply dari batang di bawahnya yang masih berhubungan dengan bagian pohon induk dengan kayu atau xylem pada pencangkokan biasa, sedangkan pada penccangkokan Salak dari samping tempat tunas batang ini menempel, luka kecil yang ditimbulkan oleh bibir potongan botol plastik, atau gelas pastik, kelembaban media cangkok dan suasana gelap (tertutup oleh media cangkok ) bisa merangsang tumbuhnya perakaran baru di bagian tunas menempel di induknya. Dialah bakal tumbuhan baru fotocopy dari pohon induknya

   Ini yang paling penting, meskipun fotocopy atau bibit baru ini relatip hanya bisa dihasikan sedikit konon hanya 5-6  cangkokan, toh sudah lumayan, katimbang tanam dari biji seperti sebelumnya, apalagi Salak kan berumah dua (tepung sari dihasilkan oleh bunga jantan di satu pohon jantan sedang bakal buah di bunga betina dilain pohon betina) jadi selalu terjadi persilangan, dan bijinya akan tumbuh jadi individu bastar, sulit untuk menndapatkan Salak satu kebun yang seragam.

  Sesederhana apapun mencangkok Salak, praktek ini dilakukan oleh petani kita, tidak sempat dicatat namanya, dihadiahi rasa terima kasih oleh “Muri”, atau diwawancara di acara TV Kick Andy  sebagai pengentas calon pelaku dosa kecil, yakni para bakul Salak yang bibitnya didapat dari biakan biji (senyum).

  Saya pribadi tidak sempat mencari siapakah gerangan yang memulai mencangkok Salak Pondoh ini. Dengan ini saya ucapkan terima kasih kepada para pahlawan warga desa yang mencangkok Salak semoga Allah melipat gandakan amal ibadah anda

  Tidak lupa saya juga mengucapkan terima kasih dan penghormatan setinggi tingginya kepada petani kita yang sampai saat ini mempertahankan existensi “ ultivar”  Salak di mana-mana, meskipun bila dtitinjau dari alam tanaman berumah dua yang pasti disilangkan agar mendapat biji, kok masih bisa mengumpulkan berbagai cultivar Salak yang kurang lebih seragam, yang saya tahu misalnya Salak Bali, Salak Tlisik (Parusuan), Salak Suwaru (Malang), Salak Bangkalan, Salak Wedi (Bojonegoro), Salak Sleman, Salak Bogor, Salak Rantepao di Sulawasi selatan Salak Condet dari Betawi (apa masih ada?) dan lain lain cultivar Salak yang dengan susah payah dilestarikan oleh kita semua, semoga buah import tidak membuat petani kita malas.
  Saya mengharapkan dengan sangat semoga selain Salak Pondoh yang memang mengangkat derajad penjual Salak jadi gentlemen dan gentlewomen untuk kesenangan kita dan sampai ke anak cucu kita semua. Juga Salak Bali, Salak Tlisik (Pasuruan) juga Salak Wedi (Bojonegoro) dikembang biakkan dengan cangkok dari pohon induk yang baik, dengan teknik cngkok ini, Allah menyertai kalian. Dan mari kita mohonkan ampun kepada sebagian penjaja Salak kita yang telah salah langkah, serta tidak menginsyafi telah menjual Salaknya dengan cara curang. Pintu taubat masih selalu terbuka, anda akan disupply Salak terbaik, tidak usah menipu.

   Saya juga dengan senang hati menawarkan kepada tetangga kita, jiran kita, untuk ikut menikmati kemurahan Allah ini kepada tetangga jiran yang saya kasihani ini, untuk tidak usah meneruskan kebiasaan jelek, mengaku aku kebudayaan tetangganya, Salak Pondoh ditanam di sana lha nanti di patent-kan sebagai Salak ”Tengku Fakri ( bekas suami artis Manohara)” (senyum lagi).    
  Tanamlah Salak cultivar kami dari cangkokan kami sudah itu kalian cangkok sendiri, kembangkan sendiri, perbaiki sifat sifatnya yang kurang berkenan, tapi jangan mengaku aku, malu pada anak cucu, malu pada benderamu yang dihormati manusia sedunia.

   Rasanya kok kurang afdol bila dalam tulisan ini Salak Pondoh tidak di diskripsikan disini, Salak Pondoh lain dari kultivar Salak yang ada,  memang dari pentil tidak berasa “sepet” apalagi sampai tua. Daging buahnya kecuali manis segar juga tidak pernah “masir”terlalu kentara.
   Agrotenik: Salak tolerant terhadap kekurangan penyinaran matahari, harus selalu cukup air, tanah lebih disukai yang geluh berpasir dan tidak pernah ada air menggenang. menghindari penutupan dedaunan satu sama lain untuk bersaing, tanah gembur selalu basah, menjaga drainage untuk mrnghindari air menggenang, siap menyiram bila dibutuhkan.
   Dipupuk dengan pupuk kompos yang ditanam di got buntu dan pupuk NPK menurut kesuburan tanah asalnya. Tanaman muda dari cangkokan diberi tanaman pelindung, masih dalam potongan botol plastic  dipindah ke kantong kantong plastic hitam untuk bibit berat kira kira 2-3 kg, untuk waktu adaptasi tanaman pindahan ke kantong kantong plastic dengan perawatan intensive, bila perlu diberi tiang bilah bamboo untuk mengikat batang (sebab berat diatas) sementara perakaran belum banyak. Setelah beberapa bulan di kantong plastic bisa dipindah di lapangan.
   Harus ada masa adaptasi selama beberapa bulan sebelum di taman di lapangan, ini yang biasa diabaikan, karena  menyingkat waktu bagi penjual bibit, dan menjadi penyebab kegagalan, bagi pembeli bibit.
Sebaiknya dilapangan disiapkan terlebih dahulu naungan sementara, dari Glerisidia/Gamal/Secang, atau Turi (Sesbania spp) naungan dihilangkan setelah tanaman Salak teradaptasi di lapangan.(*)




Rabu, 04 Januari 2012

BUDIDAYA MANGGA DI SEBAGIAN INDONESIA SEPERTI APA YANG SAYA LIHAT

Mangga  (Mangifera indica L) dan kerabat dekatnya Embacang (Manggifera fuetica Loar). Gandaria (Bouea macrophilla Griff), Jambu Monyet atau Cashew (Anacardium occidetale L) Mangga Kweni  (Mangifera odorata Griff) temasuk Familia Anacadiaceae.(Tropical and Subtropical Agriculutre  J.J. Ochse. At al. )

  Apa yang saya perhatikan, di Nusantara ini Pulau-pulau yang baik untuk Mangga adalah Nusa Tenggara, Barat, Bali Utara, Pinrang-Sulawesi Selatan, Jawa Timur dan Jawa Tengah. Jawa Barat.  Sebagian varietas Mangga cuma ada di Jawa Timur, sebagian cuma ada di Jawa Barat. Dari Jawa Barat terus ke Barat ke Pulau Sumatera makin sedikit  mempunya cultivar sendiri yang makin sedikit keaneka-ragamannya, tapi makin banyak Embacang ( Mangifera fuetica. Loar),  rupanya species ini kerabat Mangga yang  cocok dengan iklim yang makin kebarat makin basah.
  Bila makin ketimur makin kering, artinya beda drastic antara musin penghujan dan musim kering,  cocok dengan Jambu monyet (cashew), maka makin ke barat cocok dengan Embacang (Mangifera fuetics Loar) dan Gandaria  (Bouea odorata. Griff) dimana hujan makin merata.

  Meskipun menurut pengamatan saya, entah karena iklim makin berubah, entah sebab lain, kok sekarang di Jawa Tengah dan sebagian Jawa Barat makin banyak populasi Mangga cultivar yang aslinya di Jawa Timur dan nampak setiap tahun berhasil panen, seperti cultivar “Gadung” dan “Arumanis” padahal biasanya yang terbanyak adalah Mangga “Gedong”  dan “Dermayu”, mungkin maksudnya Indramayu dan “sengir”(serupa Mangga madu tapi lebih berasa terpentin ).
   Kalau memang demikian, menentukan lokasi penanaman Mangga,  adalah soal yang tidak gampang, apalagi Mangga adalah budidaya yang sering berprilaku biennial, setahun berbuah “sedikit” dan setahun lagi berbuah “lebat” (Tropical and Subtropical Agriculture J.J. Ochse. At. al.)
         Bila  orang membuat kebun Mangga masih dihantui dengan persoalan ini kan repot.
Saya ingat, ada kenalan saya punya “hubungan” baik dengan Bank Pemerintah, ingin membuat perkebunan Mangga di pulau Madura, pulau perbukitan kapur, yang air tanahnya cepat kering seperti diatas saringan.  Pada satu waktu saya berkeliling di pulau itu, memang hampir semua pohon Mangga berbuah lebat, meskipun Mangga yang ndak ada namanya, tapi ya itu, Mangga di pulau Madura berbuah lebat hanya tiga tahun sampai empat tahun sekali. Aku teringat temanku itu, bagaimana menjelaskan kepada Bank yang dia hubungi ya ?
       
Meskipun selama situasi budidaya Mangga masih seperti sekarang, sebagai tanaman rakyat, tanaman hiasan,  tanaman  pekarangan dan tegalan sekaligus diharapkan buahnya,   berbuah  lebat ya syukur, berbuah sedikit ya tak apa,  persoalan sifat  pembuahan yang begini ya apa boleh  buat.
   
Kebanyakan pemilik pohon Mangga, meskipun dari cultivar yang baik, memperlalukan tanaman Mangga apa adanya, sering muncul cabang air yang kuat, dan tentu saja dibiarkan, dan menggangu percabangan tua yang mestinya dipelihara, dengan perhitungan beban sesuai dengan kapasitas pembuahan-nya, artinya cabang yang lemah atau terlalu banyak cabang ya dikurangi.
   Cabang air yang kuat ini mempunyai pola pembuahan sendiri, misalnya seluruh pohon berbunga, hanya si cabang air yang kuat ini tidak, nanti tahun depan, atau nurut cuaca yang cocok dia berbunga, dan tetap mempunyai pola sendiri lain dari pohon induknya, aneh.

  Lain halnya petani sekitar Jabodetabek, dulu dekitar Pasar Minggu, meskipun memelihara tanaman Rambutan (Nephelium spp) seperti apa adanya, sifat kultivar Rambutan masih alami, berbunga pada musim labuhan (permulaan musim hujan)  hanya angin besar  dan kekurangan hara [P] saja yang menganggu produksinya, atau malah macet, berhenti berbuah.
  
Melihat sifat pohon Mangga, yang mengakhiri pertumbuhan vegetatif dengan dipucuk  pucuknya “bundhel” (Bahasa Jawa)  artinya siap dilanjutkan dengan pembentukan tandan bunga ( pertumbuhan generatip), setelah mendapat isyarat alam, yaitu “bedhiding”( Bahasa Jawa)  atau cuaca dingin pada pertengahan dan akhir musim kemarau beberapa hari sampai bebarapa minggu.
  Di Jawa biasanya bulan Juni-Agustus, orang tua tua sering menandai bila ’bedhiding”nya dingin dan kering bunganya akan menyeluruh semua cultivar Mangga, bila bedhiding nya basah dan hanya sebentar, hanya sebagian cultivar Mangga saja yang mau berbunga banyak.

  Lho kok sesuai dengan berita dari India ( Google wikipedia ), cultivar “baramasi” bila ditanam di India lebih ke utara dimana mungkin bedhiding nya lebih mengigit dari pada musim bedhiding di selatan, cultivar ini bisa berbunga sekali, dua kali bahkan tiga kali setahun. 

 Mungkin ada Mangga di sini  yang tidak perlu bedhiding  kuat, (mesti saja tandanya tahun demi tahun kok varietas ini stabil saja musimnya dipasar pasar – misalnya Mangga madu), atau Mangga Gedong, Mangga Dermayu, cultivar ini yang dipakai sebagai batang bawah/ root stock- dalam hybridisasi vegetative, atau sekalian embacang atau gandaria yang cocok dengan cuaca lembab (lebih lembab, bedhidingnya lebih lemah)  di daerah lebih ke barat, di wilayah ini pasti bedidhing nya tidak sekuat di Singaraja misalnya.

Apa culivar-cultivar ini yang dijadikan bahan untuk crossing antar cultivar dan varietas untuk mendapatkan tanaman Mangga unggul yang setiap tahun siap berbunga.?

Jangan-jangan “batang bawah”  Mangga Gedong atau Mangga Dermayu sudah dipakai mengembangkan cultivar dari Jawa Timur, Mangga Gadung dan Arumanis dengan scara dijadikan batang bawah dihabitat aslinya ( Hibridisasi vegetative dengan root stock yang tidak membutuhkan bedhiding yang mengigit)  karena jumlahnya cultivar ini selalu banyak dari tahun  ke tahun –  Mangga-Mangga yang dipakai sebagai root stock ini memang tidak memerlukan “bedhiding” yang terlalu menggigit cuaca ini langka  di Jawa Barat – sedangkan di Jawa Timur sendiri cv. Madu dan Lalijiwa sudah sangat menipis untuk dijadikan root stock dibandingkan cv.gedong dan cv. dermayu dari Jawa Barat itu.Satu kebetulan yang perlu di check kebenarannya.

Ada peristiwa:
Gandum musim dingin (Triticum durum L) harus ditanam di musim gugur (menghadapi mim dingin), karena perlu mendapatkan temperature tanah yang dingin  misalnya 0 - 3  derajad C dibawah  salju supaya musim semi kemudian titik tuumbuhnya mau berubah dari pertumbuhan vegetative ke pertumbuhan generative, artinya selama musim semi berikutnya sudah siap berbunga. Bila tidak, selama musim  semi titik tumbuhnya tidak bakal berubah dari pertumuhan vegetative ke perumbuhan generative- artinya tidak membentuk malai. Jadi rendahnya temperature  menjadi syarat perubahan pertumbuhan vegerative ke petumbuhan generative pada saat dini mamang ada, (stadium pertumbuhan “temperature”- stadium tertumbuhan berikutnya stadium “kwalitas penyinaran” yaitu panjang hari dan jenis spektrum)

Kecuali itu  perlu sekali menghilangkan cabang cabang air yang merampas hara dan tumbuh menang sediri, pada saat awal, artinya sesudah panen,  sehingga semua pucuk percabangan,  dedaunannya mendapat sinar matahari, dan  dibatasi jumlahnya menurut kekuatan pohonnya.
Misalnya seperti yang saya amati, Mangga “Manalagi Probolinggo” yang biasa buahnya banyak dalam satu tandan, bentuknya bulat telur sebesar kepalan orang dewasa, kulit buahnya hijau pucat seperti ada tepungnya bertitik titik seperti pori pori, daging buahnya putih kekuningan dengan noktah-noktah coklat muda didekat  bijinya, ya itulah yang saya maksud sebagai  cultivar  “Manalagi Probolinggo”
Dilokasi yang cocok, di sekitar Singaraja, Seririt, Tejakule, posture pohonnya seperti pohon turi ( Sesbania grandiflora L) percabangannya sedikit lebih supel dan tembus sinar matahari – e e buahnya banyak.
 Sebaliknya disekitar Malang, Surabaya,  Bogor apalagi, cultivar yang sama menjadi bercabang amat banyak, dan pendek pendek sehingga nampak gelap, dan pohonnya cepat menjadi besar, akan tetapi berbuah cuma sedikit di ujung ujung saja, atau tidak sama sekali.
 Saya kira Mangga pada umumnya suka sinar Matahari, sebetulnya Mangga cultivar Manalagi Probolinggo harus dicarikan batang bawah (root stock) yang mampu membatasi pertumbuhan vegetatip, persis seperti Apel (Malus domestica L)  di Batu Malang yang setelah disambungkan dengan di root stock Apel kerdil dari China, jadi apel Batu yang kerdil, dan mau berbunga setelah digunduli daunnya, dan cabang cabangnya dirundukkan.

Atau- seperti berita dari India  (Wikipedia ) sejak dulu sudah dikerjakan pemangkasan Mangga, tidak usah kuatir mengenai taknik memangkas Mangga, tidak mungkin keliru, batang sebesar apapun  tetap mau bertunas kembali. Malah bila iklim habitatnya pas malah tidak perlu pemangkasan, ya berbunga saja saban musim.

Jadi Mangga pun demikian bila ditanam ditempat yang lebih lembab, dimana bedhidingnya kurang terasa, dicarikan root stock yang biasa hidup dihabitat itu dengan pembungaan yang setiap tahun lebat, bukan sekedar batang bawah entah Mangga apa seperti sekarang ini.   
(Masih untung sambungan beneran, banyak sambungan yang palsu, cuma digurat dengan pisau saja serupa “jendela” bekas okulasi !)
Kecuali itu di wilayah yang lebih banyak hujan, sangat membutuhkan batuan manusia untuk mengurangi percabangannya yang lebih merupakan parasite sebab daun daunya  sangat tumpang tindih. Ini kan praktek yang sangat lazim dalam ilmu budidaya tanaman pohon buah-buahan.

Lha anjuran pemeliharaan yang bagaimana, pencarian batang bawah yang cocok untuk kebutuhan tertentu, pemupukan, belum dikemas dalam anjuran agroteknik, sudah  diperintahkan oleh Gubernur Jawa Timur jaman Orde Baru, Jendral Basofi Sudirman, untuk  “Mangganisasi” Jawa Timur.  (Ya maklum dwifungsi ABRI)
Mesti saja perintah itu dilaksanakan orang, terutama yan mempunyai lahan agak luas,  kepingin cari muka kepada Pejabat Propinsi yang lebih “wah”, misalnya  Pak  Carik, Pak Jagabaya (Pejabat paling kecil di Kelurahan).
   Mereka pada berlomba menanam Mangga ditanah tegalan dari puluhan sampai ratusan pohon setiap orang.
Lantas mencari bibit dari Dinas Pertanian ( tentu saja beli) dianjurkan cultivar “Gadung” atau “Arumanis”.

Persoalan pertama mulai muncul, Dinas Pertanian Kabupaten dan Propinsi dapat bibit dari mana? Mestinya dari Orang  Dinas “turned to be Breeders” pada waktu senggangnya, bibit sambungan  ratusan ribu batang harus disediakan pada saat yang sama, ya  untung masih sambungan, tapi batang bawahnya apa ?
Peneliti dizaman Penjajahan Belanda mendapatkan, batang bawah yang terbaik adalah ‘pelok” atau biji dari Mangga “Madu” atau Mangga “Lalijiwa” alias Mangga “tai kuda”, akan tetapi Mangga  varietas ini sudah jarang ada di pasar pasar, mungkin harganya terlalu murah bagi si empunya pohon, setelah lima  puluh tahun berlalu pada zaman Jendral Basofi Sudirman jadi Gubernur Jatim, hampir lima puluh tahun sesudah zaman penjajahan, pokok pohon  pohon Mangga verietas Madu dan Lalijiwa malah sudah ditebangi untuk kayu bangunan, padahal kebutuhan untuk batang bawah besar sekali.
           
Akibatnya, sebagai batang bawah (root stock) dipakai asal biji varietas Mangga yang murah dan dipasar cukup banyak, seperti varietas “bapang”, varietas “podang”- setiap musim buahnya banyak di pasar, atau apapun asal Mangga murah yang bisa diambil bijinya, untuk disemaikan  kemudian disambung atau diokulasi, seperti umumnya penjual bibit yang jujur. 

Sebab, umumnya bila beli bibit okulasi maupun sambungan, semahal apapun, memang tidak pernah dipertanyakan batang bawahnya apa, yang menurut penelitian cocok untuk tujuan tertentu, jangan jangan tuntunan dari hasil penelitiannya yang tidak ada, semua sibuk cari duit dengan tergesa-gesa, atau memang tidak mengerti.

Dari Phillipine (Google) mereka dengan bangganya berhasil mend-kerdil-kan Mangga  C ultivar andalan mereka, sekaligus menstabikan pembungaan setiap tahun, untuk mempersiapkan perkebunan Mangga, supaya pemangkasan dan penyemprotan hama maupun  penyakit  atau membungkus buah ( banyak pengggorok buah pada musim tertentu) dapat dikerjakan dengan lebih mudah. Sayangnya si kerdil ini umur produktifnya hanya 8 – 10 tahun, yang mestinya sambungan culitivars andalan mereka yang disambungkan dengan batang bawah tradisional bisa 40 -50 tahun,(mesti saja tidak deberitakan kombinasi antara rootstock dan cultivars andalannya- malah mungkin bila ketahuan di Malaysia segera dipatent-kan di Lembaga Patent International  itu haknya)

Cultivar Gadung dan Arumanis memang asli buah meja, dessert fruit ?, ciri pokoknya rasa terpentin nya nyaris hilang, manis segar dan hampir tidak berserat, kulitnya tipis,harus dipetik cukup tua, supaya rasa manisnya tidak bercampur dengan rasa asam Mangga muda. Sayangnya sesudah dipetik (mengkal ) Mangga cultivar ini cepat sekali masak dalam transportasi yang cukup jauh, sehingga usia pasarnya sangat pendek, apalagi kurun waktu untuk dipajang (shelf live )nya jadi sebentar sekali, bisa  agak tertolong bila di ruangan yang dingin. Akibatnya Mangga ini membanjiri pasar, sebentar lagi membusuk  harganya jadi anjlog, bukan karena orang bosan, tapi kualitasnya cepat menurun, pola perdagangan buah segar memang begitu. 
Setelah lima hingga sepuluh tahun, tanaman Mangga project Mangganisasi Gubernur Jawa Timur Dwifungsi  Jendral Basofi Sudirman ini banyak ditebangi, atau merana sendiri, disamping itu Mangga mereka ternyata saban tahun buahnya masih teka-teki, harga jual di tempat - terlalu murah, tidak bisa di olah secara sederhana, misalnya dibuat manisan, sebab daging buah cultivar ini  meskipun masih mentah (Gadung dan Arumanis)  mudah hancur bila direbus, iya saja wong hampir ndak ada seratnya buat pegangan. 
 Untuk diolah jadi manisan ini mestinya perlu  cultivar  Mangga lain, malah yang berserat banyak, aroma Mangganya menyengat, tapi dipetik muda, trus direbus dalam sirup gula, dia tidak hancur, mungkin Mangga varietas “Santog” dari Magetan, malah mungkin sudah punah, atau Mangga varietas “Krasak” dari pantai Utara  pulau Jawa dari Lasem hingga Tuban, mungkin juga sudah punah.   
Yang saya amati, Mangga Gadung maupun Mangga Arumanis yang disambungkan ke Mangga varietas “Podang”  sebagai batang bawah, Mangga Podang habitatnya di ketinggian 500 m – 700 m  di lereng Timur Gunung Wilis. Sambungan Mangga Gadung atau Arumanis dengan batang bawah Mangga Podang,  -merana dan mati setelah umur 7 – 10 tahun di dataran rendah dimana air tanahnya dangkal.
Semoga penelitian buah-buahan terutama Mangga ( kalau saja dana penelitiannya ada ), bisa mengangkat derajad petani, dari petani proyek asal jadi ke petani pekebun buah-buahan terutama Mangga yang mengerti, misalnya mendapatkan cara untuk men-stabil-kan pembuahan cultiar-cultivar Mangga yang sudah unggul yang mereka usahakan.(*) 



Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More