Sayang Sama Cucu

Sayang Sama Cucu
Saya sama Cucu-cucu: Ian dan Kaila

Minggu, 24 Juli 2011

Memahami Kapitalisme Amerika Serikat dan Resesinya yang Mendunia

Diantara Masyarakat Kapitalistik, Amerika Serikat mempunyai riwayat Kapitalistik yang unik.
Umumnya Kapitalisme dimana mana bertumpu pada infra struktur ekonomis dari sistim masyarakat sebelumnya – yaitu sistim masyarakat Feodal yang telah menciptakan sedikit banyak infra strrktur ekonomi baik perangkat keras maupun perangkat lunak.
Sedangkan Amerika Serikat adalah lahan “perawan” yang dihuni oleh suku-suku pemburu dan  peladang  berpindah pindah mengikuti kelompok bison. Belum ada infra struktur ekonomi apa-apa kecuali hasil alami dan tambang2 yang masih belum ditemukan.
Kapitalis dari Dunia Lama datang ke Dunia Baru yaitu  Amerika Utara memulai dengan bertani komoditas industri seperti kapas,  tembakau, dengan memakai tenaga budak dari Afrika di Selatan, dan industri  pertambangan /peleburan logam dan pengolahan kayu   kulit dan textile di Utara.
Negara diperlukan untuk menyatukan visi dan misi  Dunia Baru yaitu Amerika Serikat pengetrapan pengukuhan soft ware kapitalistik kepada kaum Pribumi yaitu hak milik atas tanah, membuka pasar hasil industri manufaktur keseluruh pelosok Dunia dan menciptkan infra struktur yang membutuhkan beaya kolosal dan keuntungan yang sangat tidak menarik bagi kaum Kaptalis  juga saking lamanya pengembalian modal  yang juga sangat besar itu, meskipun amat sangat diperlukan.
Dengan segala cara selain pajak, Negara mengumpulkan dana yang kemudian dipakai untuk membangun infra struktur yang raksasa seperti bendung bendung raksasa untuk menciptakan tenaga listrik murah, jalan dan jembatan antar Negara Bagian, expedisi militer dan intelligence, jalur kereta api yang kurus tapi strategis secara keseluruhan dsb, dsb.
 Secara berkala, apapun infa struktur yang diciptakan oleh Negara dengan duit rakyat akan menjadi sesak dan pengap dipenuhi oleh para Kapitalis untuk menciptakan keuntungan yang besar, sampai serasa tercekik dan mandeg – terjadilah resesi. Seperti ular yang harus   mandeg sebentar lemas untuk ganti kulit. Begitulah ini terjadi secara  periodik yang menurut penelitian Dr. Ravi Batra seorang Ekonomist.

Doktor didikan Amerika dari latar belakang Budaya India ini menandai periodisitas resesi.  Sedangkan pengamatan Penulis, menandai setiap Investor dari  sono Minta: ROI – 20%      Return on  Investment minimum 20% , ndak ada infra structure yang ROI nya  segitu. Jadi Kapital ya mandeg.
Belakangan diakali dengan membangun Real Estates perumahan secara   besar-besaran, dengan harapan cicilan per bulan ajeg, ternyata  Sang Rahwana malah ngambeg, Pabrik ndak dibangun, di bilang menyusahkan.    Penuh aturan berwawasan  hunian Penduduk, lha mau dibangun   dimana?
Bank Penjamin Perumahan Tuan Tuan Yankee gagal dan sistemik,  sebagian besar nasabah ndak mampu bayar cicilan, maka harus ressesi.
Ekonomists -  think tanks dari azas Kapitalisme Professor Keynes dan  murid muridnya  memberi resep obat
mujarab untuk resesi di Amerika Serikat adalah gerojog-kan dana  Pemerintah yang super besar untuk membangun infra struktur yang  semakin aneka ragam, soft wares dan hard wares  termasuk perang
penaklukan dengan soft power  dan hard power.
Sampai pada akhir abad 20 kebutuhan pembangunan infra struktur yang sangat aneka ragam hard ware dan soft ware yang semuanya memerlukan beaya super kolosal, hanya untuk memberikan ruang baru bagi Kapitalis disana (seperti kulit ular yang harus diganti baru) untuk berlomba menanam modal yang menjanjikan keuntungan besar dan pengembalian yang cepat.
Juga deketemukannya resep baru, yaitu mengaitkan nilai uang Dollar Amerika Serikan dengan uang Negera taklukan, globalisasi, artinya  di “pasar” global  uang lokal ditera dengan tolok ukur US Dollar:
Di Negara tersebut satu US Dollar yang ditanam bisa memberi keuntungan berapa, semakin tinggi keuntungan yang diberikan, maka uang lokal semakin di-maui oleh US Dollar, jadi nilai tukarnya lebih tinggi, katanya.
Ini berlaku, asal si Taklukan harus bisa mengatur ekonominya dengan aturan uang ketat, yaitu mencetak uangnya setara barang dan jasa yang dihasilkan,  yang menurut sang Tuan Guru agar tidak inflasi, tapi US Dollar secara sistimatis dibuat inflasi saat saat ekonomi AS mandeg gara gara  sesak dan pengap seperti ular yang harus ganti kulit, yaitu tetap mencetak green back meskipun barang dan jasa jumlahnya mandeg atau bahkan menyusut ( ditidurkan  bebeapa waktu saja, berjaga jaga untuk beli Perusahaan atau Negara yang bangkrut ).
Ekonomi Negara Negara binaan kader kader Neoliberalisme,  sangat membutuhkan komponen vital roda ekonominya yang sudah dirasncang harus dibeli dengan US Dollar, bingung cari Dollar, karena langka di “pasar” walhasil harganya naik terhadap uang lokal. 
Akibatmya tabungan ratusan juta Warga Negara taklukan nilainya mengerut  nyaris habis – mau apa ?  Bila nilai rupiah naik terhadap US Dollar dan  pengimport utama mata dagangan Negara taklukan adalah Tuan Amerika Serikat,  beliau akan mati matian keberatan  segera  menghentikan  import,  ini aturan “pasar” ( tapi ini tidak termasuk hasil Pertambangan yang sudah dikantongi ndak perlu di import lagi), meskipun percikan bagi hasilnya (bila saja tidak diplintir) jadi Dollar yang sangat dicari dan meskipun sudah terinflasi nnilainya terhadap uang lokal malah tinggi ditangan Pemerintah/Executive - pssst (bisa bagi bagi sama Legislative lho) dan kegagalan export Negara taklukan yang  struktur ekonominya di rancang oleh kaum Neo Lib ini,  akan   berdampak luas terhadap penghasilan seluruh penduduknya yang ratusan juta seperti di Indonesia, terutama Kapitalisnya yang beberapa ratus gelintir tapi rengekannya memenuhi angkasa, sehingga kegagalan Bank- Bank nya karena di embat sendiri, biar mereka tidak panic harus ditombokin dengan uang rakyat, karena rakyat akan panic juga
(ah mosok…….. kayaknya Rakyat masih makan nasi plus tiwul sambal  monosodium glutamate teman lalapan dan ikan asin berformalin sangat awet, tempe dari kedele import hasil seleksi transgenic yang Penelitinya tidak berani mengembangkan di Negerinya sendiri , mandi pake sabun klerak, cuci cukup pake sedikit sabun (di air kali sudah mengandung detergen hard alkylate nya sudah buaanyak, tidak bio degradated sedikit digoyang sudah berbusa, bajunya polyester 80% penutup aurat mudah dicuci rapi tanpa diseterika, malah banyak dari mereka sudah tidak berkeringat lagi – ini  semua sudah tersedia di “Pasar” murah meriah lantas mau panic apa lagi ?)
Ini resep  kaum Neo Lib  yang sangat pragmatis dan elitis yaitu  kaum Jongos  berdasi dan Babu  netjes ber hairdo a’la Vadal  Sasoon dengan blaser dan rok mini, pinternya setengah mati, di banyak Negeri mereka  bisa Perdana Menteri, Menteri, CEO Perwakilan Corporation, Presdir Bank Central,-kek atau apa saja yang Elit dan  sangat dihormati konon mereka adalah murid murid Avatar dari  sang Rahwana  dan Sarpakenaka atau Calon Arang sendiri (*)

0 comments:

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More