Sayang Sama Cucu

Sayang Sama Cucu
Saya sama Cucu-cucu: Ian dan Kaila

Jumat, 23 Maret 2012

PISANG KITA ( Musa spp )

Di Nusantara Pisang sudah dibudidayakan sejak lama sekali, ada sumber yang menyatakan sudah 7000 tahun. Begitu pula di sabuk tropic seantero Dunia, sepertinya rumpun Pisang sudah dianggap jadi satu dengan hunian manusia sejak zaman purba seperti kucing dan anjing. Malah ada sumber setengah dugaan oleh pengarang fiksi ilmiah  Eric Von Daniken, kalau tanaman Pisang, Jagung dan Kentang merupakan mutasi tumbuhan liar hasil rekayasa genetic yang sengaja dibuat oleh Alien yang berkunjung ke Bumi ribuan tahun yang lalu, sebagai hadiah kepada Homo habilis untuk mempercepat  evolusinya. 
Argumentasi Von Daniken adalah; "Mosok ada tanaman kok ndak ada bijinya, kandungan gizinya dan rasanya kok begitu pas dengan kebutuhan manusia tidak pandang umur, mulai bayi sampai tua renta, manusia  sehat atau sakit,".
 Pisang yang merupakan varietas asli  yang masih ada bijinya  merupakan ‘protototype’ dari mutant yang tanpa biji,  seperti Pisang ‘kluthuk’ atau Pisang ‘batu’, atau pisang ‘serat’ (abaca), pisang berbiji raksasa, sebesar biji kopi  di situs makamnya Sunan Bonang di Tuban – bijinya untuk tasbih,  yang kayak gini semua masih ada gunanya bagi manusia.
Orang Perancis yang di negerinya tidak tumbuh Pisang, membagi species Pisang jadi dua golongan besar, yaitu Musa paradisiaca yang dimakan segar atau golongan M paradisiaca varietas sapientum dan M.paradisiaca varietas ‘plantain’ yang dimasak digodog atau dipanggang.
Ya biarin saja, di tulisan ini saya tidak bedakan cara makannya bagaimana, sebab semua pisang asal tua dan masak ya enak, bisa dimakan segar bisa dikukus atau dipanggang, boleh coba bikin kolak dari pisang ‘ijo’ atau pisang ‘ambon’ atau pisang ‘susu’ yang biasa dimakan segar tapi sudah terlalu matang, kulitnya sudah bernoktah coklat kehitaman penampilannya  sudah ndak selera untuk dimakan segar, yang  begini dikupas trus di “kolak” kan ya enak juga.
Sebagai bukti bahwa kita ini perkara cultivar pisang kita, sudah lama mengenalnya, seperti  dalam bahasa Jawa ada nama untuk setiap warna dan corak bulu kuda, anjing, kucing dan sapi, kita juga  punya nama untuk motif dan warna tikar, warna dan motif kain batik, kain tenun, agar orang mengerti dan tidak menyepelekan nenek moyang kita, mengaku-ngaku kayak bangsa serumpun negara tetangga, cultivar pisang sudah dinyanyikan dalam bait-bait syair bahasa Jawa, untuk mengingat berbagai nama cultivar Pisang :
Rojo sewu nagri                    =  Pisang Raja, Pisang Seribu
Moro sebho ring Betawi,       =  Pisang Sabha, Pisang Betawi
Ambon , kusto lan becici       =  Pisang Ambon, Pisang kusto, Pisang becici
Mas, sriwulan, raja wlingi       = Pisang emas, Pisang sriwulan, Pisang raja wlingi
Ada terusnya tapi saya lupa,  masih ditambah nama cultivar dalam bahasa Daerah Nusantara, nama cultivar untuk pisang  yang unique ada cuma di lokasi itu.
Tidak aneh bahwa di lokasi yang di jaman Penjajahan namanya Meester Cornelis atau sekarang Jatinegara ada tempat yang namanya “Pisangan” dulunya kebon pisang koleksi semua cultivar dan varietas pisang asli Nusantara, sekarang semoga ada gantinya, wong sudah merdeka 67 tahun, malah Kebun Raya Bogor saja arealnya sudah dikurangi untuk helipad raksasa Tuan Presiden Bush, saking kepingin bikin seneng beliau, supaya diberi hutang,…dasar.
Penduduk di Nusantara dari zaman purba sampai sekarang sudah menyatu dengan Pisang dari lahir sampai mati, misalnya daun pisang untuk canang “sesaji” wadah makanan, dasar nasi tumpeng, sepasang pohon pisang dengan tandan tandan buah pisang raja  yang ranum dan beberapa daunnya untuk tanda upacara perkawinan, ‘batang’nya (batang palsu – sebenarnya pelepah daun yang menyatu saling memeluk) untuk bhuminya wayang kulit, dan akhirnya potongan batang pisang juga untuk alas memandikan jenazah.
Di semua daerah makin beraneka ragam, dari akar  sampai kuncup bunga, di Bali semua bagian dari pisang berguna untuk alam kale dan niskale, di pulau Sabu NTT air tetesan dari akarnya dkumpulkan untuk minum dipuncak musim kemarau.  Di Klakah untuk “pompa” pengairan micro, bibit pepohonan. (silahkan baca di blog ini dengan judul “Penghijauan”). 
Di kampung-kampung yang dilanda banjir gara-gara hutan di atasnya  digunduli malah pohon Pisang untuk rakit darurat, ceritanya tidak akan selesai.
Rumpun Pisang telah digunakan sebagai indikasi dan “warning” di Pulau Jawa.
Bahwa betapa sudah terlalu beratnya beban kegiatan manusia terhadap ekosistem di pulau ini, bahwa 90% buah pisang di pasar pasar yang dihasilkan di desa-desa di pulau ini sudah tidak normal, ukurannya makin mengecil, jenis cultivarnya makin sedikit  (pisang kayu dan pisang sabha saja 95%).  Lha yang dikonsumsi penghuni pulau Jawa ini, 75 persen import, didatangkan  dari Kalimantan Timur dan Lampung.
Hamparan kebanyakan tanah di pulau Jawa sudah demikian kritis sehingga tidak bisa untuk mempertahankan vigor, daya tahan terhadap penyakit, yang gampang menyerang  rumpun tanaman pisang, terbukti dengan serangan massal dan meluas di seluruh pulau Jawa, dari  bakteri Pseudomonas /penyakit merah, bila berbuah di dalamnya berwarna hitam dan beracun, daun daunya layu.
Cendawan Fusarium, bonggolnya kering daun daunya menguning.

Dengan tanda-tanda yang diberikan oleh rumpun Pisang ini, yang selalu mendampingi hunian manusia, orang harus sadar, upaya harus dilakukan untuk mengembalikan fungsi tanah sebagai media dari ekosistem yang sehat bagi tumbuhan dan segenap penghuninya, dengan mengembalikan bahan organic, serasah dedaunan yang dikomposkan dan diupayakan lebih cepat dan lebih terarah keserasian haranya menggunakan teknologi  tentunya, agar tanah yang sudah payah, cepat pulih dan bertambah daya dukungnya, coba upayakan, nanti semua tanaman jadi lebih bagus dan memberi hasil jauh lebih menyenangkan, Insya Allah.
Ini amal khusus terhadap tanah yang sudah payah, dan terlalu tidak seimbang dengan beban yang dipikulnya.

Sebenarnya bila disimak, rumpun Pisang sudah memberi isyarat mengenai kebutuhan bahan kompos organic ini. Satu rumpun Pisang selalu membentuk anakan dua macam, satu macam berbentuk kerucut yang berdasar kuat, meruncing ke atas dengan daun-daun yang sempit dan kekar, ini anakan yang bakal berbuah atau jadi bibit.
Jenis anakan yang lain lebih lebih langsing, berdaun lebar supple  melengkung ke bawah, bisa setinggi semeter dua meter tapi tidak bakal berbuah, lha untuk apa?
Kalau tidak untuk menjadi serasah dan dikomposkan alami ? Untuk memupuk diri sendiri.
Tapi upaya rumpun Pisang ini alami, sedangkan ekosistem pulau Jawa sudah parah, jadi yang alami alami tidak bakalan cukup lagi untuk sementara ini, butuh bantuan manusia, memberikan pupuk organic,  e..e manusianya cuek saja, dasar tidak mau beramal.

Terakhir sikap positif ditunjukkan oleh Dinas Proteksi Tanaman Pangan Propinsi Jawa Timur. Menurut Ir Widagdo, -seorang ahli pertanian yang saya tahu benar bahwa beliau matang dalam ilmu pertanian- di Dinas Proteksi Tanaman Pangan Jatim, menurut beliau  pemberian pupuk organic (pupuk ini bisa mengembalikan fungsi tanah sebagai media yang sehat bagi perakaran, di samping mengembalikan kesuburan hara tanah bersama sama pupuk buatan pabrik,  memulihkan micro - ekosistem tanah).
Yang paling penting,  bahwa tersedianya musuh alami jasad-jasad pathogen seperti Pseudomonas dan Fusarium yaitu cendawan Trichoderma, dari strain yang terjaga keunggulannya, yang bisa didapat di laboratorium laboratoriun Dinas di Pasuruan, Mojokerto, Caruban dan Wonorejo-jalan Surabaya-Malang). Alhamdulillah, sebab harga fungisida, strerilisasi tanah sangat mahal dan perlu upaya khusus, dan waktu panjang, jauh lebih murah menebarkan Trichoderma dan memberinya media yang pas.(*)

Salam hangat saya untuk sahabat saya Ir Widagdo, M.Sc ahli pertanian lulusan Indonesia yang masih berdinas di Dinas Proteksi Tanaman Pangan Propinsi Jawa Timur.

1 comments:

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More