Sayang Sama Cucu

Sayang Sama Cucu
Saya sama Cucu-cucu: Ian dan Kaila

INDONESIA PUSAKA TANAH AIR KITA

Indonesia Tanah Air Beta, Pusaka Abadi nan Jaya, Indonesia tempatku mengabdikan ilmuku, tempat berlindung di hari Tua, Sampai akhir menutup mata

This is default featured post 2 title

My Family, keluargaku bersama mengarungi samudra kehidupan

This is default featured post 3 title

Bersama cucu di Bogor, santai dulu refreshing mind

This is default featured post 4 title

Olah raga Yoga baik untuk mind body and soul

This is default featured post 5 title

Tanah Air Kita Bangsa Indonesia yang hidup di khatulistiwa ini adalah karunia Tuhan Yang Maha Esa yang harus senantiasa kita lestarikan

This is default featured post 3 title

Cucu-cucuku, menantu-menantu dan anakku yang ragil

This is default featured post 3 title

Jenis tanaman apa saja bisa membuat mata, hati dan pikiran kita sejuk

Jumat, 30 Oktober 2015

SEBAGIAN LURAH TERJANGKIT TUMOR GANAS KEBERADAAN LURAH TERJANGKIT DI NEGARA KITA, MENUTUPI WAJAH APARAT PENYELENGGARA NEGARA

TUMOR GANAS  MENJANGKITI SEBAGIAN  LURAH DI PULAU JAWA DAN SELAIN PULAU JAWA  BISA JADI MEWAKILI  RAUT  MUKA  APARAT PENYELENGGARA NEGARA.SEMUANYA.
Lurah adalah kata dalam bahasa Jawa, kata ini sudah sangat tua yang arti sempitnya Kepala Desa. Suku suku lain di pulau pulau diluar Jawa punya nama sendiri terhadap sosok ini, Wali Nagari di Sumatra Barat, Pembekat di Kalimantan Selatan, Hukm Tua di Sulawasi Utara, Bebekel di Bali, Kuwu di Cirebon , Indramayu dan  umumnya pantai Utara Jawa, Lurah di Jawa Tengah dan Jawa Timur, Petinggi di Jawa Timur,  Talibun di Madura. Pada umumnya sebutan kepala Desa semua orang di Indonesia   tahu artinya.
Institusi  Lurah ini sebenarnya menurut sejarahnya sudah sangat tua,  setua  perpindahan  suku suku dari banua Asia, Lalu dam arti yang luas  bukan   hanya meliputi pemerintahan Desa dalam arti administrasi,  yaitu meneruskan kewajiban penduduk desa kepada penguasanya, tapi juga secara sosiologis adalah tetua komunitas desa, adalah tetua kekerabatan desa, adalah tempat mencari perlidungan dikala kesusahan,dan tempat mencari keadilan dan bantuan, tempat  mengadu dari seluruh penduduk desa.
 Bahkan tokoh ini diselipkan dalam  legenda pedalangan wayang kulit Jawa yang dicangkok dari legenda Hindu Mahabharata dan Ramayana sebagai tokoh  yang sangat dihormati oleh para Ksatria  yang dikenal sebagai pelindng rakyat. konon sejajar dengan para Dewa, sama sama anak Sang Hyang Wenang, jadi saudara  Bathara Guru  merajai Pantheon Wayang, menurut Pewayangan dia  puncak  Pantheon  Dewa yang betahta di Gunung Himawat - Junggring Salaka.  Ditokohkan sebagai  Ki Lurah Semar dari desa Karang Tumaritis atau  Karang Kadempel, dengan tiga anaknya .mewakili sosok teladan kepada rakyat  sehigga rakyat bercita cita tinggi (Petruk), mewakili sosok teladan ajaran amal makruf nahi mungkar ( Gareng) dan teladan ajaran kesederhanaan sifat  apa adanya ( Mbilung/  Bagong). Di Pergaulan wayang Korawa  Hastina Pura,  dunia gelegasi  bhuta dari  Alengka , atau para mereka yang berjiwa yaksa dan Kurawa dikenal tokoh  Togog yang berfungsi sebagi Semar dengan watak yang berlawanan, jahil,  penjilat,  ABS , egois dan kaya raya,  mengasuh para ksatrya sejenis Satrya Novanto, dalam pedalangan Jawa maupun Sunda..Untung ada dia yang sebagai relik tokoh Orde  Baru dari Golkar , sehingga rakyat tahu betapa tengiknya nereka.
Selama era Orde Baru para Togog ini berbaju Jendral,( istilah Bung Karno)  andalannya  ilmu Ghaib - menjual nyawa petani miskin untuk sesaji/tumbal  kepada Dewanya  US Dollar.

Semar  dan anak anaknya dijadikan tokoh punakawan – yaitu pelayan sekaligus pengasuh Ksatria ksatria yang bermoral baik “ trahing kusuma  rembesing madhu, tedhake handana warih,  trahing  wong  tapa  “brahmana”. artinya- keturunan para dewa yang mengucurkan kebajikan  ke desa  desa ( membangun sistim pengairan) dan brahmana penguasa ilmu.
Itu stereotype Lurah di Tanah Jawa, yang di idealisasikan, selalu berpihak kepada  rakyat dan menjadi perantara mengasuh para ksatria dan mendidik para ksatria supaya dekat dengan rakyat.
Seperti yang sudah diketahui, mitologi Bharatayudha dan Ramayana telah dijadikan alat mnyiarkan Agama Islam oleh para Wali Islam Kerajaan Islam di Jawa , Demak Bintoro,  kekuasaan de facto dan de jure secara pasti bertahap jatuh ketangan penjajah sampai pada akhir Perang Jawa (perang Diponegro)  pada tahun 1830.  Fungsi Lurah masih tetap, tapi ditekankan kepada keselamatan rakyat desa dijamin oleh kekuasaan Kanjeng Tuan Belanda, dengan para Bupatinya yang BB amtenaar ( Binenlands Bestuur). Begitu kuatnya sifat moral yang tercetak dalam sosok Semar sebagai Lurah, sehingga Penjajah Belanda percaya kepada stereotype sosok ini akan tetap ada pada Lurah di desa desa.
Semuanya masih  sama dengan jaman sebelum penjajahan, umpama Lurah dipilih oleh penduduk desa, untuk selama hidup, semula oleh para pemilik tanah sendiri atau penggarap tanah penguasa, yang laki laki dewasa atau sudah kawin, kemudian sejak zaman Jepang sampai zaman merdeka Luah dipilih oleh penduduk dewasa laki atau permpuan,  penggarap atau pemilik tanah desa untuk selamanya, sedikit demi sedikit berganti dengan jangka waktu jabatannya. Dalam hal ini penulis mengalami jadi penduduk desa Cembor Kacamatan  Pacet kabupaten Mojokekerto, karena tidak nggarap sawah tidak diikutkan  pemilihan lurah.  Umumnya lurah tidak digaji Negara, melainkan dipinjami tanah Negara  ( tanah ganjaran, tanah bengkok sawah berpengairan atau tidak yang luasnya bervariasi, mencapai puluhan hectare, meciut dibanyak desa sampai hanya bebeapa hectare sementara  jadi Lurah.)

Di era kapitalistik ini jangka jabatan Kurah menurun, dan sawah ganjaran digadaikan melewati batas waktu jabatannya, sehingga jadi sengketa dengan penggantinya. Akhirnya Pemerintah  zaman Orde Baru memutuskan menjual tanah ganjaran ini dan menggantinya dengan gaji pegawai golongan 2. Tentu saja sangat minim. Sebagai gantinya para Lurah yang sudah menghabiskan dana kampanye ratusan juta rupiah memilih nenukangi peta kepemilikan tanah desanya yang tercantum di buku besar petok D untuk kepentingan pribadinya, ternyata hasilnya sangat menggiurkan. Sebab sebidang tanah seperti dompet tebal, bila tidak segera diurus hak kepemilikannya ke BPN, maka lurah pegang dompet itu, terserah ditukangi gimana untuk menganulir kepemilikan lama dan mengganti kepemilikan baru dan "disyahkan"  oleh BPN, dengan demikian selalu menang berperkara dengan " pemilik" yang tentu saja tidak mengetahui tanahnya sudah diganti namanya di BPN oleh Lurah sacara  "syah", bagiamana menukangi ini bila TIDAK BEKERJA SAMA DENGAN PETUGAS atau PENSIUNANAN PETUGAS BPN, bahkan  turut nimbrung anngauta DPRD, ikut menjadi  burung nazar mencari dompet dompet tebal  dan pemindahan hak ini,  itu saja.
Tugas Lurah yang penting  dari zaman dulu sampai sekarang adalah menjadi saksi syah batas pemilikan tanah, dan penentuan pembayaran pajak  oleh petani, jangan sampai keliru menagih pajak pada orang  duafa.
Bahwa Lurah dari segi sosiologis,  selalu menyantuni peduduk tua dan miskin, disaat habis persediaan pangan, biasanya sampai dua bulan sesudah  tanam padi saja. Ditandai dengan rumah Lurah yang memakai pendapa ( ruang terbuka persegi dan besar tanpa dinding, tanpa pagar, dengan pintu  halaman tetap terbuka.  Sedang di bagian belakang adalah tampat tinggal Lurah juga tanpa  pagar dan pintu halaman, bisa dicapai dari mana saja, terutama dapur Lurah merupakan rumah tersendiri, yang  bisa dicapai dari mana saja. Perlunya orang yang kekurangan persediaan makanan  selama dua bulan sesudah tanam padi bisa membawa rumput untuk pakan ternak, kayu ranting  ranting mati untuk dapur, ditukar dengan makanan yang sudah dimasak dan sekedar minuman panas, teh  atau kopi secangkir besar dan manis, sudah sangat membantu si duafa, dalam masa paseklik sesudah tanam padi sementara  umbi umbian  belum siap panen,  artinya bisa dicari dihutan, ditegalan merambat di pagar pagar
Sekarang mulaih  zaman kapitalistik kantor Kelurahan masih Pendapa, tapi  bubar kantor puntu halaman dikunci dijaga satpam, sedang  Pak/Bu Lurah bertempat tinggal dirumah  lain sama sama terkunci psgarnya dipinggir jalan besar beraspal,  mungkin membuka toko, tidak mempunyai hubungan sosial dengan masyarakat belakang jalan besar, dibawah pagar rumpun bambu ori dekat kandang kandang ternak.
Dia menjadi Lurah dengan menebar pesona uang, untuk mnjabat Lurah dengan jangka waktu enam tahun.  Tanah ganjaran desa yang mencapai puluhan hectare tanah berpengairan diganti dengan uang gaji, lha lantas apa harapan pemasukan untuk mngganti ongkos kampanye pilihan Lurah yang mencapai ratusan juta?
Bila tidak ada peluang mencaplok tanah Negara atau tanah terlantar ( NDAK SEGERA DIURUS SERTIFIKATNYA KE BPN yang artinya tidak tecatat dalam arsip BPN ?. LHO WONG lURAH bisa menggerahkan kroninya untut mengeroyok sampai mati si vokal, membakar gambut suruhan boss besar tanpa ketahuan, bila untuk mencari saksi palsu sertifikasi dompet pompet tebal yang berceceran  itu adalah mudah sekali..

Fungsi  Mengurus kepemdudukan, memasukkan dalam daftar penduduk, atau mengeluarkan seseorang warga negara dari buku penduduk, diserahkana kepada staffnya, yang amit amit  daya pikirnya. Adanya cuma prosedure yang dia sendiri tidak jelas dari DISPENDUK, satu jawatan yang baru lima sampai sepuluh tahun adanya termasuk peyediaan akta kelahiran dan e-KTP membantu Kecamatan.
Mengingat sumber daya pelayanan public ini mewakili Bupati,  Walikota Gupernur, Menteri Dalam Negeri dan Presiden. Kecakapannya diluar prosedur yang baku ( yang baku itu yang mana ?) sama sekali tidak ada.   Mereka lebih suka bermain pongpong, atau sepak bola, antara dia dan Kecamatan  dimana saja, dimana bolanya adalah rakyat yang membutuhkan. Siapapun rakyat itu dimata hukum kependudukan adalah sama sama bola pingpong bagi staff kelurahan, maka  sikap Kelurahan jauh lebih jelek dari zaman Penjajahan Belanda. Sebab Lurah dan staffnya dalam bidang kependudukan yang jarang diperlukan oleh orang yang hidup normal merupakan despot yang kekuasaannya mutlak procedural yang si  staff sediri tidak tahu. Saya harap Bupati dan Walikota dan  diujung sana Presiden,  mengerti bahwa gerombolan despot yang jumlahnya jutaan ini merupakan tabir  mendung, menutupi keberadaan  semua  Aparat Penyelenggara Negara dimata rakyat, mereka  seperti tumor ganas menutupi wajah Negara  dimata rakyat, apapun usahanya memperbaiki nasib rakyat, siapapun mereka *)

                                                                                                           

Rabu, 28 Oktober 2015

TERINSPIRASI PUISI ADHI MASSARDI :PENGUASA TANAH TERNYATA HANYA LURAH

Terinspirasi oleh puisi  Adhi Massardi:
DINEGERI PARA BEDEBAH,  PENGUASA TANAH,
TERNYATA  HANYA  LURAH.
Pada artikel yang telah lalu, di blog ini, berjudul   “Persoalan  Agraria di Negara kita di era Reformasi” dimuat dalam Koran elektronik  Pewarta Indonesis tg 20 Oktober 3015 di lampiran <opini> rubrik <kopi>. lebih mudah  dicari di google dengan kata kunci: Persoalan Agraria di Negeri kita….” Sampai sekarang masih di artikel paling atas dari  tulisan sejenis.
Kenapa setelah 65 tahun merdeka, Agraria masih jadi persoalan ramai ?
Karena hak milik tanah oleh warga Negara Indonesia, hanya ditentukan oleh undang undang Penjajahan,  dan undang undang  Negara yang baru, macet karena kesulitan pemetaan  sertifikasi  tanah dengan pengukuran oleh BPN ( Badan Pertanahan Nasional) hanya baru mengukuhkan dengan setifikat yang mengandung ketetapan Hukum, disetiap wilayah kerja Badan Pertanahan Nasional, berkisar  antara 15 %- 40 % saja  dari seluruh tanah yang ada disitu   Menurut  Manurut ROL ( Republik On  Line) tg 25 Oktober 2015, BPN menandai  hanya ada 45 juta bidang tanah saja di Negeri ini yang bersertifikat.  Berita dari ROL tg 16 September 2014, mengatan penyelesaian sertifikasi tanah kita oleh BPN hanya 2 juta bidang hak milik per tahun.
Tentu saja program “Laseta” ( Layanan Sertifikat Tanah) ini makan tenaga dan waktu karena  salah satu alasan adalah pemetaannya, harus dengan data geodesi.( ongkos ya mesti ada yang bayar - sedangkan ndak membuat ya ndak ada yang protes - paling yang membutuhkan cuma nanya dan mendesak- yang diperlukan adalah pelicin langkah kerja, contohnya Hambalang )
Kenapa peranan Lurah sangat menentuka disini ? Karena warisan Kolonial masih dipakai, bahwa pemilikan tanah pribumi dacatat datanya dan disahkan hanya  oleh Lurah dan disimpan di buku besar  petok leter D di kantor Desa. Benar Camat adalah Penjabat Akta Tanah, tapi camat ini hanya mengesyahkan apa kata Lurah, tanpa itu camat tidak bisa apa apa meskipun lulusan Jatinangor - yang konon tak segan membunuh rekannya dalam pendidikan).
Lazimnya lahan penduduk desanya  dikelilingi tahah milik Negara berupa tanah terbuka atau hutan industri atau hutan lindung, dengan batas yang tidak dipetakan menurut azas geodesi.  Jadi  encroachment (pencaplokan) oleh Lurah sangatlah mudah,  dengan jalannya waktu, karena perkembangan ekonomi nilai tanah tanah tersebut sangan menggiurkan. Tanah Negara itu termasuk tanah terlantar  oleh pemiliknya dari zaman prakemerdekaan atau bekas gudang  barang berbahaya milik Belanda,  atau tuan tanah zaman itu. Kemudian  merembet ke sembarang bidang lahan yang tidak bersertifikat dan pemiliknya di di wilayah lain  malah jarang ditengok.  Dalam hal lain bisa juga merembet ke tanah endapan lumpur di pantai pantai, seperti di Pantai Timur kota Surabaya,  dan desa desa  Pantai Utara pulau Jawa atau pantai desa Watu awar awar di Lumajang yang jadi alasan  petambangan pasir liar,  pengroyokan petani oleh Lurah dan pasukan kroninya,  adanya pembiaran oleh Polsek dan aparat pemrintahan tingkat kabupaten,  juga di  Pulau Rupat yang diubah jadi perkebunan sawit.  Dijual kepada investor asing dengan mudahnya atau reklamasi pantai di Sulawesi  ( Makasar dan Manado)  lainnya pasti tergiur oleh dana apapun namanya dari pengguna ke pejabat Negara) untuk petokoan  dan tingkat atasnya untuk tinggal) membelakangi pantai yang nantinya jadi tempat jalan jalan para turis, tanpa bisa melihat laut,  pencaplokan ini tidak  diprakarsai  oleh lurah, sebab terlalu masif. Tapi di Sumatra selatan antara tanah Negara dan konsesi kebun sawit atau tebu oleh investor besar,  berlaku saling desak terhadap tanah milik masyarakat atau milik  Negara yang menggunakan intimidasi hard power yang menetap disana dengan dalih latihan perang.
Malihat bahwa Pemerintahan Presiden Jokowi serius terhadap persoalan  penyalahgunaan kekuasaan terutama oleh Lurah ini,  telah tertulis di blog ini bagaimana dengan mudah  cepat dan murah memetakan batas kepemilikan tanah dan pemberian sertifikat, menggunakan teknologi  non konvensional, yaitu pemetaan udara, oleh drone.
Tentu saja ini hanya ide yang sangat rudimenter, pasti bisa di asembling oleh laboratoium penelitian, menggunakan  produksi masal  mainan anak anak.  Atau alat yang lain yang pasti murah meriah.

Pemetaan ini mengunakan drone ( pesawat terbang sayap seperti baling baling mini ndak menggunakan sayap tetap dikenendalikan dari darat) dengan terbang rendah kurang dari  300 meter, alat foto mini, dan transponder radar micro disetiap pojok kepemilikan tanah, atau titik titik lengkungan, dipasang transponder,  transponder mini ini menyiarkan  gelombang radar sengat kecil dan lemah seperti mainan anak anak yang menggunakan sinar laser,  tapi yang ini gelombang radar,  yang mengembang melewati apapun rintangan, kecuali logam, bisa  tertangkap oleh layar foto yang ada di drone ini, hasilnya pasti foto udara wilayah desa desa dan sekitarnya, sekalian dengan titik titik batas antar kepemilikan.
Kalau mainan anak anak saja bisa dijual murah, kenapa bukan transponder micro untuk keperluan ini??
Tentu saja bukan maksudnya  menyerahkan ide ini pada profiteer, pencari keuntungan besar dari  proyek seperti Pak Dahlan Iskan, yang akhirnya sangat mahal dan menjadi  terbengkalai alias mangkrak dengan dalih apapun, seperti mobil listriknya.
Bila ini bisa dihindari, pasti di era Kepresidenan kedua dari Pak  jokowi ( semoga Allah melindunginya) sertifikasi tanah diseluruh wilayah Indonesia jadi jelas, dan tepat, dan mempunya kekuatan hukum, sehigga Lurah gak bisa main caplok tanah Negara, atau tanah terlantar.
Sebab Sebagai Lurah jauh lebih besar hasilnya dengan mencaplok tanah, dibanding dengan dari dana hibah kucuran dana Pak Jokowi untuk pembangunan desa.  Karean khawatir hibah ini pasti menjadi bancakan penjabat penjabat diatasnya, dan pertanggungan jawabnya hanya pada Lurah. Maka Lurah enggan menerima hibah ini, lebih senang menjaga jabatannya sebagai Lurah yang hasilnya selama enam tahun pasti jauh lebih banyak,  lebih aman karena dia yang membagi jarahan ini dan bagiannya pasti dia sendiri yang menentukan.  Pasti Negara tidak akan tahu tingkah polah badebah ini, karena atasannya sudah jadi kroninya. Makanya penduduknya yang vocal dimassa beramai ramai secara terbuka, dasar Negara bedebah*)

Minggu, 25 Oktober 2015

SAPAAN ALLAH KEPADA PEMBACA AL QUR'AN:, "WAHAI MANUSIA"

SAPAAN ALLAH KEPADA PEMBACA  AL QUR’AN,   DITUJUKAN KEPADA MANUSIA
SESUDAH BASMALLAH SEBAGAI AYAT PEMBUKAAN, SURAH DI DALAM AL  QUR’AN DIMULAI DENGAN SAPAAN ALLAH  KEPADA PEMBACANYA: “WAHAI KAUM  YANG BERIMAN , KEMUDIAN  DIUBAH DALAM SURAH SURAH BERIKUTNYA ( YANG TURUN SETELAH KEMBALI KE MAKAH)  DIGANTI DENGAN SAPAAN WAHAI MANUSIA”

Limapuluh taun yang lalu, saya sering mengikuti ceramah guru kami Kiai Qudratullah da’i Banten, yang kemudian jadi anggauta MPR pada era permulaan Orde Baru. Beliau mengatakan hal ini.
Baru saya ingat sekarang, waktu kaum muslimin diseluruh dunia saling bertempur, dengan segala alasan. Saya tandai pada akhir akhir ini pertempuran mati matian ini menggunakan hard power dengan senjata super moderen yang hebat sekali  dengan daya rusaknya  yang sangat hebat, dan senjata asenjata ini  malah diawaki oleh kaum   kaum muslimin saling membunuh dimana mana.  Sama sama jeleknya, kok teganya.
Setelah merasakan kehancuran dan kehilangan warga mereka, kehilangan pimpinan masyarakat mereka dan  orang yang terikut dengan pemimpin pmimpn itu  sangat banyak, terikut juga orang yang tidak bersalah,  kaum muslimin mulai menggunakan soft power.
Saya peduli dengan ini, karena penggunaan  hard power dan soft power ini  juga  telah ada di Negara saya, Indonesia yang sangat saya cintai ini sekarang.
Penggunaan hard power sudah kita sama sama saksikan, dengan bom terror , malah bom bunuh diri,  dimana mana dengan warga asing seperti Dr. Ashari dan Nurdin Moh Top,  dan bom bunuh diri dari warga lokal  Masih kita perlakukan dengan baik jasadnya kami kembalikan ke Negara asalnya dan ke keluarganya.
Saya tidak menentang soft power, karena ini artinya lembut dan menebarkan kasih sayang, dipimpin oleh para habaib dari Yaman, dalam Majlis Majlis dakwah.  Saya tidak menentang  dakwah yang mengajak para pengikutnya mengikuti sunnah Rasulullah dan mencintai beliau dengan do’a dan hadrah masal dan terbuka di Monas dihadiri oleh Presiden  emeritus kita SBY, atau dimana saja. Sebenarnya, yang tersirat dalam sapaan Allah kepada pembaca Al Qur'an, secara tersirat Allah tidak mengajarkan exclusivisme, tapi universalisme dalam penyebaran kebaikan rakhmatan lil alamin, Bahkan dari Hadist yang sahih, Rasulullah menunjukkan pemberian air minum kepada anjing yang sangat kehausan itu juga kebaikan yang membuka pintu sorga.

Tapi  saya khawatir sekali, karena Pempinan  penyebaran soft power ini bukan warga Negara Indonesia,  dari Negara yang tidak dalam pembelajaran the Nation - building, malah sedang berperang mati matian sesama warga muslimin, dengan sejarah perselisihan yang sangat panjang,  sedangkan muslimin kita masih sederhana pemikirannya malah jadi gampang terhanyut dalam exclusivisme, dan lupa bahwa negeri ini bisa berdiri kerena kehendak rakyat Indonesia yang plural, dari  Sabang sampai Maerauke. Sampai sekarang masih berdampingan secara damai. Berkat upaya tak henti hentinya para pendahulu kita founding fathers Bangsa ini. Dan semoga Allah memberi ijabah bangsa ini untuk menjadi satu model pluralisme yang indah.
Apa lagi pemilihan Guperenur Jabotadebek ada calon yang sampai hati menggunakan issue Agama, seperti Adyaksa Dauld, Ridwan Saidi, Haji Nunung, terutama  Majlis soft power yang ditebarkan oleh orang asing yang banyak duit  ini dalam mencari pendukung.  Padahal soft power yang disebut dalam Al Qur’an sebagai sapaan sayang Allah  kepada umatnya adalah Wahai manusia.   Qul ya ayyu ha nas. Tidak membedakan ras dan agama. Semoga Majlis Rasulullah menyadari hal ini dan membantu muslimin kita melaksanakan credonya bismillahirakhanirrakhim dalam berbuat, sehingga bisa melaksanakan tugasnya sebagai rakhmatan lil alamin, menjaga perdamaian diantara manusia, demi kebaikan bersama.
Jadi mohon pada majlis dakwah yang mendatangkan soft power dari Yaman,  dan cagub  yang getol bersemangat menyaingi Ahok, agar pilihan Guernur Jabodetabek tidak menggunakan issue agama,  gunakanlah issue yang lebih bisa diterima oleh seluruh warga bangsa ini,  yaitu ketulusan bekerja, anti korupsi dan mengayomi rakyat banyak, lebih baik dari dia  Ikutilah petunjuk Kalam Illahi, kasihaniah rakyat kami yang masih miskin ini, supaya bisa aman dalam berupaya meningkatkan kesejahteraan jasmaniah dan rohaniyah seperti  yang diteladani oleh Rasulullah yang sama sama kita  cintai, dalam rangka  jiwa bangsa kita ialah pluralisme damai. *)
Ini  artikel di blog saya yang ke tiga ratus. Saya sudah berhak mengatakan umur saya sudah 78 tahun, Semoga dibaca oleh  kerabat muda dan sahabat saya.

Sabtu, 17 Oktober 2015

BAGAIMANA ALLAH DAN MUHAMMAD RASULULLAH MEMBUAT MANUSIA BERFIKIR

BAGAIMANA ALLAH DAN RASULULLAH MEMBUAT ORANG BERFIKIR. SAMPAI SUDAH TIBA WAKTUNYA  SETELAH DUA BELAS ABAD ?

Saya sangat penasaran,  bagamana wahyu Illahi yang didalamnya memuat segalanya untuk bekal kehidupan hingga nazaknya  (waktu tubuh wadag harus berpisah dengan rokhnya) manusia sepanjang  zaman, bisa masih   membuat  umatnya berbeda pendapat ?

Meski sesudah dua  belas abad, pembacaan ayat yang menjadi azas terpenting, menjadi bahan perdebatan di kalangan jamhur-jamhur  agama Islam : kalimah basmallah. ( google  pembacaan  basmallah sebelum membaca surah Al Fatihah  waktu mengimami sholat berjama’ah).

Bahkan sejak selama khalifaur rasyiddin, setelah Rasulullah wafat, perbedaan pendapat ini sudah ada dan mereka maupun kita sekarang  bersepakat sama sama benarnya menurut sunnah Nabi, yang telah dirawikan secara sahih oleh para perawi yang tidak diragukan. Sama-sama  benarnya, nyaris dalam bathin saja ya boleh, baik dibaca dengan keras maupun dengan lirih menyuarakan kalimah sepenting  basmallah ini ya boleh.

Saya baru berani menulis ini, sesudah dua belas abad kemudian, setelah ada  bukti penguat yang nyata, yang sama sama kita  penghuni Bhumi ini mengalaminya.

Mungkin sejak zaman khalifaur rasyiddun,  kapan Islam berkembang dengan jalan penyerbuan sarang kaum musyrikin  yang sangat enggan  kompromi, ke segenap penjuru, tentu saja tidak bisa dengan diplomasi meskipun sudah dicoba, tapi dengan penyerbuan kilat menggunakan  kuda arab (tentu saja kurang kuat untuk penunggang dengan baju zirah lempengan besi) kavaleri  kuda gurun pasir yang lebih kecil tapi gesit dan bisa berlari sangat cepat,  dengan bekal yang sangat sedikit.

  Benar menurut doktrin perang “The soundest defense is to attack” karena hunian  muslimin di padang pasir orang tidak  mungkin  bisa dengan leluasa membuat "benteng”,  jadi musuh harus diupayakan sejauh mungkin dari perbatasan.

Lha gimana bisa menyerbu dengan aktip dan efektip apabila pasukan berkuda harus masih tertambat pada doktrin yang bisa menimbulkan stigma dalam keharusan penyerbuan kilat tanpa ampun dalam pergulatan maut,  yang tersirat  pada kalimah  bismillahirakhmanirrahim ?

Tidak terbantahkan lagi dalam perang, ketakutan dihati musuh  yang diserbu mendadak, sangat terkejut, karena 'element of surprise' adalah senjata yang jauh lebih efektip  untuk menang dalam waktu yang singkat. 

Cara ini lebih menimbulkan "schock" secara hebat daripada hanya menimbulkan "terror".  Pertunjukan terror telah dipakai untuk menimbulkan terror oleh para penakluk sebelumnya dari Mesir, Romawi maupun Persia, namun cara teror ini tidak digunakan oleh pasukan Islam, bukan saya membela yang sudah jadi sejarah, tapi kenyataannya pada waktu itu taklukan masih diberi kesempataan hidup sebagai sudara sesama muslim atau diusir, dari wilayahnya, bukan dibunuh.  Pasukan Islam haram membunuh musuh yang sudah menyerah kalah. Terbukti kemudian setelah balatentara islam sangat kuat dipimin oleh Salahuddi Al Ayyubi, sangat dihormati pasukannya dan lawannya dari semangat moral yang tiggi dalam perang melawan tentara Perang Salib.

Tapi maksud Rasulullah memang benar strategy shock saja, 'element of surprise' terbukti dengan tindakan para penakluk Islam pada awal perkembangannya, yang tidak merampok dan menjual sebagai budak orang orang yang tidak berperang, ada pilihan untuk masuk Islam.

Baru sekarang sesudah Perang Dunia ke II,  kenyataan mengajarkan,  manusia sudah tidak bisa mengatasi  pertentangannya satu sama lain dengan perang konvensional, maupun perang kilat, sudah dicoba berkali kali, hanya berhasil dengan kompromi. Alternatipnya hanya perang  pemusnahan massal, yang masih dihindari oleh hati nurani masing masing yang berlawanan.
Diantara banyak peperangan moderen sesudah Perang Dunia ke II, hanya satu perang diantara muslimin yang ada, ialah  perang  antara Iraknya Presiden  Saddam Husain dan Irannya Imam Khomeini, yang menimbulkan sangat banyak korban,  menghasilkan hanya kompromi diantara keduanya dan anehnya kaum muslimin yang lain  didunia ini tidak bisa berusaha mencegah.

Apa pelajaran  berharga yang bisa ditarik dari pengalaman manusia yang jadi sia sia ini: ?
Manusia sudah harus sadar bahwa dunia ini hanya bisa ditinggali manusia  dan makhluk hidup yang lain di darat di air di dan udara dari sekarang sampai kiamat nanti, harus  hidup bersama setjara arif.
KATA KUNCINYA ADALAH BISMILLAHIRAKHMANIRAKHIM.

Bagi siapapun yang mampu dan mau berfikir. Islam atau bukan islam
Sebab sudah tidak ada batas yang tidak  bisa dilanggar diantara batas antar  negara, diantara manusia antar individu, dan manusia dan alam,  Sedangkan semua  makhluk hidup berhak hidup menurut caranya, bercampur baur dimana mana, bahkan seharusnya saling memberi manfaat.

INI KENYATAAN  SEKARANG  DAN SETERUSNYA.  SAMPAI KIAMAT, karena waktu tidak akan perputar balik, jadi si berfikir harus  memeloporinya dengan sikap  rakhman dan rakhim untuk menjalani  kehidupan yang harmonis dan aman,  *)


Kamis, 15 Oktober 2015

TANAH AIR MEMANGGIL BELA NEGARA

TANAH AIR MEMANGGIL,  MEMPERTEGUH TEKAD BELANEGARA.
BANGSA INI MELEWATI COBAAN BERAT.
Bagaimana bukan cobaan yang sudah berat, di Papua, terjadi pembakaran masjid, di Aceh terjadi Pembakaran Gereja. Mereka pada lupa bahwa perilaku mereka yang tidak toleran itu  pasti  menimbulkan keretakan yang akan menghancurkan bangsa ini, bila kita tidak waspada. Kok  tega teganya.
.Panggilan yang dicanangkan untuk memperteguh tekad  BELA NEGARA tepat, karena, sekarang ini  apa yang kita lihat adalah pumcak kecil dari bunung es,  SIKAP TEGA DAN TIDAK BETANGGUNG JAWAB, DIAM DIAM DITIUP TIUPKAN OLEH FIHAK ASING, BAHKAN MENANGANI SENDIRI  PENGGALANGAN TERORRISME KAYAK DR ASHARI ALM,  NURDIN MOH. TOP.  Ini telah secara sistimatis dilakukan oleh para Pemimpinnya  sekelas Lutfi Hasan Ishak, sekelas R J Lino, Sekelas Suryadharma Ali, sekelas  Andi Malarangeng,  setingkat Bupati Buol amran batalipu, Gubernur Sumatra Utara  yang ndlahom  ngakunya tidak bersalah  untuk memarakkan bara api  yang membakar jiwa dan merusak mental  di kalangan rakyat.
Kita sudah sama sama tahu, bahwa 32 tahun kekuasaan tirani Orda Baru, telah menimbulkan trauma yang sangat dalam di   tubuh masyarakat, yang sayangnya arus bawah dibiarkan mengalir sengat  deras, misalnya  fanatisme agama,  pembodohan publik dbawah rezim yang sangat korup,  menggunakan terror kekuatan organisasi militer territorial  yang hanya dengan satu tujuan saja, memberantas komunisme secindil abangnya,, sedangkan efek dari kemiskinan dan pembodohan yang lain malah dengan giat dilakukan, oleh tokohnya sebangsa Harmoko, sebangsa Laksamana Sudomo alm. sebagsa Doktor Nugroho Notosusanto alm.
Kali ini  Kekuasaan Negara bertindak benar, rakyat dipanggil untuk sadar kembali,  karena dengan kepedulian rakyat terhadap upaya yang tidak bertanggung jawab dari beberapa gelintir orang yang menebar uang, membeli pendukung dari hasil korupsi maupun dari luar negeri yang kaya minyak untuk menebar pengaruh jahat, mereka mengajarkan intoleransi,  kebodohan, dengan kedok agama, dari sisi yang paling lemah dari bangsa ini, yang memang derajad pendidikannya secara nasional masih rendah, ekonominya masih subsisten dikangkangi para boss,  kesadaran ikut memiliki kekayaan alamnya dilakukan dengan cara yang sangat primitip dengan mengeruk dan dijual jadi duit a’la polisi Labora.  dengan membabat hutan sekenanya,  seperti  gosong cosong pasir di Lumajang yang dikeruk semena mena oleh lurahnya sepengatuan DPRDnya,  Pulau pulau pasir dekat Singapore yang sudah lenyap puluhan tahun yang lalu, malah pulau Rupat yang jadi pulau paling luar tanahnya dijual ke warga asing oleh sang Lurah, hutan gambut yang malah dibakar tanpa tanggung jawab. Terumbu karang yang di bom dan dikeruk dengan kapal trawler asing diawaki nelayan kita. Nah bukan dengan cara brandal begal macam praktek Orde Baru itu praktek memiliki Negara, tapi keteraturan bernegara, yang sudah sangat kritis  dlupakan oleh rakyat mulai dari Direktur BUMN sanpai Lurah Desa – lawan dari ketidak sadaran mereka bernegara  dengan BELA NEGARA . Dengan ini  rakyat yang sadar dan active, berani  vokal melawan mereka- MARILAH SADAR BERBELA NEGARA – TANAH AIR MEMANGGIL. *)

Jumat, 02 Oktober 2015

MAKNA ANJURAN PRESIDEN; SALURAN AIR DI LAHAN GAMDUT

MAKNA SALURAN AIR DI LAHAN GAMBUT. BILA PERLU WADUK YANG KEDAP AIR.
DARI PEMIMPIN DIPERLUKAN  KEBERPIHAKKAN PADA RAKYAT, DARI SARJANA DIPERLUKAN KEMAUAN BAIK, TIMBAL BALIKNYA DARI KITA SEMUA RAKYAT INDONESIA SANGAT DIPERLUKAN OPTIMISME YANG TAK KUNJUNG PADAM.
Yang  belun saya sebut dari PERS DAN MEDIA. Kenapa ?
Saya baca di media on ine bahwa  dari Universitas  di Palangka raya  salah satu Pakar Ilmu yang terkait berkomentar kepada media itu, bahwa membuat sumur bor dengan kedalaman sedang lk 20- 30 meter dengan pipa permanen yang dapat disambung dengan jet pump lebih murah dari membuat saluran saluran yang dianjurkan oleh Presiden di lahan gambut. Berita media ini sudah memenuhi 5W+ 1H (Kompas Regonal Nusantara e news oleh Megandika Wicaksono 1 Okt 2015 15..43)
Pembuatan sumur bor ini sudah dirintis oleh pakarnnya lahan gambut,   Suwinda Hester Nimen.
 Tapi bagi saya sebagai rakyat masih mengganjal di pikiran saya, berita ini yang tidak pas dimana ?
Untuk seorang Presiden – saran itu memang diberikan  dalam arti yang luas, artinya dilahan gambut, air harus ada disana, dikedalaman  sedikit dibawah zona akar. Ini yang dilakukan sejak nenek moyang kita bertani padi dirawa rawa meniru praktek dari Mesopotamia, artinya air harus ada sepanjang tahun, bisa diatur tetap di zona akar tamanan budi daya. Hal ini bisa terjadi bila ada saluran saluran air, dengan pintu pintu air ganda, artinya pada saat banjir surut,  akibatnya  air bisa segera keluar dari lahan sehingga  tidak berlama lama ngendon di zona akar, bila perlu dikeluarkan dengan pompa,  artinya saluran jadi berfungsi pematusan air banjir/ pasang. Kemudian di saat musim kering air dapat dimasukkan ke lahan sedalam dan sebanyak asal bisa   bisa membasahi zona akar sejenak, secara periodik.. Ini bisa dilakukan karena lahan ini nampaknya hampir rata.  Segera usulkan pada  Gupernur anda, jemput bola bikin sumur pompa kedalaman sedang, bukan komentar saja. Para Gupernur, Bupati,  ya demikian, jangan sibuk dagang sapi saja memainkan anggaran, mosok Presidennya sampai ketiyulan ke lahan daerah anda yang terbakar, malah setelah beliau pergi para penjabat dan awak pemadaman pada bubar, menyertai Presiden hanya show saja,  Nggak malu to pada rakyat anda sendiri ?



Ketahanan lahan gambut  dari kebakaran sampai dikedalamannya, kebakaran bisa tidak terjadi bila ada saluran saluran air, artinya pada saat banjir surut.  Akibatnya  bisa keluar dari lahan sehingga  tidak berlama lama ngendon di zona akar, artinya saluran jadi berfungsi pematusan air banjir/ pasang. Kemudian di saat musim kering air dapat dimasukkan ke lahan sedalam  untuk secaa periodik bisa membasahi zona akar. Jadi sebenarnya saran Presiden itu bukan saja mengenai saluran,  tapi sistim saluran yang bisa melaksanakan tugas itu. Kalau belum jelas tanya Sunan Kalijaga pada abad ke 13 betahun tahun mengukur permukaan tanah di rawa besar di Demak Bintoro  hanya demi menentukan kedalaman saluran dan arah kemiringan saluran  saluran supaya  bisa memenuhi tugasnya,  jadi untuk jelasnya anjuran yang dimaksud Prtesiden itu berarti beri saluran yang bisa memenuhi syarat untuk tanah gambut jadi lahan pertanian,  gitu. Jangan angop dan mlincur saja.
Jadi  si penulis warta ya harus bisa menterjemahkan  komentar dari pakar  Pertanian dari  Palagka raya ini sehingga cocok dengan kemauan yang tersirat di saran Presiden. Meskipun sudah tepat memenuhi 5W+1K.
Dua fihak ini antara wartawan dan pakar dari  Palangka raya , sama sama benar, tapi mbok ya  dipikir, ngapain susah susah bikin saluran air yang bila keliru design malah bisa mengeringkan lahan gambut ini sampai kedalaman jauh dibawah zona akar sehingga   malah mudah terbakar. Mgapain ngebor sumur dengan kedalaman sedang  menggunakan  pipa permanen dan pompanya yang bisa dipindah pindah dengan mesinnya, atau sisitim saluran yang berdwifungsi, kalau lahan ini tetap tidak dimanfaatkan untuk menanam komoditas pangan yang kita perlukan,  hanya demi memadamkan api bila terbakar? Pak Joko wi, dengan ini semoga saran anda dimengerti dengan benar, dan rakyat tetep optimis meyertai semangat anda *)

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More