Sayang Sama Cucu

Sayang Sama Cucu
Saya sama Cucu-cucu: Ian dan Kaila

INDONESIA PUSAKA TANAH AIR KITA

Indonesia Tanah Air Beta, Pusaka Abadi nan Jaya, Indonesia tempatku mengabdikan ilmuku, tempat berlindung di hari Tua, Sampai akhir menutup mata

This is default featured post 2 title

My Family, keluargaku bersama mengarungi samudra kehidupan

This is default featured post 3 title

Bersama cucu di Bogor, santai dulu refreshing mind

This is default featured post 4 title

Olah raga Yoga baik untuk mind body and soul

This is default featured post 5 title

Tanah Air Kita Bangsa Indonesia yang hidup di khatulistiwa ini adalah karunia Tuhan Yang Maha Esa yang harus senantiasa kita lestarikan

This is default featured post 3 title

Cucu-cucuku, menantu-menantu dan anakku yang ragil

This is default featured post 3 title

Jenis tanaman apa saja bisa membuat mata, hati dan pikiran kita sejuk

Rabu, 20 April 2016

PERKEMBANGAN TERLANJUR EKONOMI DILUAR SISTIM

PERKEMBANGAN EKONOMI DILUAR SYSTIM.

Tidak pernah direnungkan secara sungguh sungguh, betapa keadaan ekonomi telah berkembang dan menguasai negeri ini – justru sangat ditentukan oleh kondisi diluar system, yang dicetak oleh para Pemimpinnya. 

Sudah dibawah kekuasaan para pencari keuntungan dengan nalurinya yang sangat kuat,  ini tidak bicara parkara stereotypes  tidak bicara perkara sara, tapi perkara naluri manusia harus menang.

Berpuluh tahun,  lebih dari tiga perempat  kurun waktu, dari 70 tahun merdeka ini,  eknomi masyarakat telah berkembang diluar pola dan sistim, tanpa mendapat perhatian yang serius dari para pemuka masyarakat, yang telah mencaplok segalanya potensi bangsa yang ada. Sehingga sistim yang dianut sangat berantakan tanpa bentuk dan arah,  disadari  dan dirasakan sebagian besar rakyatnya, tapi nyaris tidak disadari oleh para pemimpinnya.

Bisa diandaikan dengan pertumbuhan fisik anak. Yang sarat digandoli tumor yang tumbuh diluar sistim dengan cepat, sehingga membuat pertumbuhan jaringan anak tidak sesuai sistim yang NORMAL itu semuanya menjadi tidak berpola manusia, dan menuju ke kematiannya.

AKalau Berabad abad bangsa yang terjajah ini  tesetelah merdeka, trus bangsa ini menunjukkan kemauan merdeka untuk seluruh rakyatnya, mau atau tidak mau para Founding Fathers Negeri ini mmenggunakan  SISTEM.  Atau DIDALAM SSATU RANGKA SISTIM. Maksudnya supaya tifdak banyak energy yang terbuang.

sebaliknya berabad abad Penjajah tidak mempedulikan apa bintil yang  tumbuh diluar sistim, yaitu naluri dari sebagian kawula pendatang yang sangat mengutamakan self preservasi diluar sistim, seperti bakal jaringan sel cancer. Malah dengan senang hati penjajah melarutkan mereka kedalam sistimnya, terbukti dengan diterimanya Oei Tiong Ham Companies dalam industry Gula, menguasai beberapa Pabrik dan area persawahan menggunakan HGU dan sistim pengairan dan "koeli gogol" dari Pemerintah Hindia Belanda, bersama dengan Raja Raja Pulau Jawa.

Saking banyaknya mayoritas penduduk bekas jajahan yang tertindas, para Founding fathers kita memlilih UUD 1945 yang nyaris sosialistik. Demi segera mengangkat derajad ekonomi rakyat banyak. Menurut naluri kemanusiaan mereka.

Maksud ini disabotase dan akhirnya ditorpedo hancur berkeping keping oleh "Policy maker" dari seberang benua: Amerika Serikat dengan John Foster Dulles dan CIA, yang menyatakan golongan Negara non blok di Asia Afrika Amerika Latin itu amoral, Saking takutnya pada “domino penciple”

Diciptakan Orde Baru oleh dukungan seluruh kekuatan Ekonomi Amerika Serikat, yang juga didukung oleh Ekonomi Uni Europa. Yang DIPIMPIN OLEH Diktator Militer Jendral Suharto dan kroninya, selama 35 tahun.

Seluruh administrator semua tingkat Pemerintahan adalah dwifungsi dari ABRI  Termasuk Lurah dan  Camat.

Dari sinilah mereka yang hanya mempunyai naluri dagang, (Jawa: bakul) sangat terdukung karena mulai dari perkreditan bank, ( ingat Eddy Tansil (6,7 trilliun rupiah - 1 dollar = 1500 rupiah)  Samadikun Hartono (6.5 trilliun rupiah)  yang ditilep duit bank dari rekomendasi pak Domo) Lantas Maria Pauline dengan Jendral lain, menilep 1,7 trilliun rupiah lari ke Negeri Belanda,  kekuasaan atas lahan Lanud Kemayoran oleh Hartati Murdaya Poo dengan dukungan Gupernur Jendral Jakarta Raya yang lain,  penguasaan upah buruh atas pengorbanan harga local komoditas petanian oleh BULOG sudrun, karena input  pertanian rakyat sangat tergantung  dari subsidi berat pemerintah, makanya harga jualnya bisa ditekan.  Didukung oleh kekuasaan yang bisa dibeli oleh para mereka yang punya naluri pencari keuntungan, pencari keuntungan dari kekuasaan, meraja lela. Karena dari berdirinya Republik ini mereka diluar sistim, bahwa sekolahpun mereka tidak memerlukan, yang artinya menguasai teknologi, mereka tidak memerlukan. Wong Diktatornya saja hanya SD. Kini, dengan pengamatan dan keyakinan, mengelak pajak, dengan timbunan kekayaan haram yang besar mereka sudah mulai bikin kondominium yang cicilannya 11 Juta rupiah per bulan diantara mereka, laku kayak kacang goreng, sementara pensiunan PNS golongan 3D ( pendidikan sarjana strata 1 , masa kerja 20 tahun)  kurang dari 2 juta rupiah/ bulan. Membangun pulau dimana saja dengan gampang dan murah dengan hak ex territorial-nya. Mereka melakukan encroachment/penggerogotan kesana dengan me-lobby undang undang, analisa lingkungan biota, analisa dampak pada nelayan, terlewati dengan selamat. Begitu percayanya mereka akan kekuatan yang telah dimenangkannya, tumbuh diluar sistim sudah membeli seluruh sistim Negara ini, dengan nalurinya kejayaan marga yang dilindungi dunia, karena hasil jarahannya, begitulah harapan mereka. 

Sebaliknya bagi mereka yang seluruhnya, secara total menggantungkan diri pada naluri  manusia yang berbuat dengan nama Allah yang  Maha Pemurah dan Maha Pengasih dalam sistim ini, mendapat kesulitan dipolitisasi, dikriminalisasi oleh Penjabat Negara, wakil Rakyat sekelas M. Sanusi dkk ( sudah tetangkap tangan terima suap 2 milliar) . Sekelas Fadli Zon ( golongannya anti penyadapan oleh KPK), yang dari pertai sistim ini, tanpa malu malu, menjajakan lapak Orde Baru. ´LEBIH ENAK  ZAMAN SAYA TO ? *)

 


 

Rabu, 13 April 2016

ANTARA STEREOTYPE DAN NALURI

ANTARA STEREOTYPES DAN NALURI.

JADI PEMIMPIN, PAKAILAH INDIKASI UNTUK MENYARING INDIVIDU YANG DEKAT DENGAN ANDA.

Dalam kehidupan moderen, tidak bisa lain dari menjalin komunikasi dengan manusia lain, day in day aut.

Pembentukan pribadi manusia, sebagian besar untuk mengatasi persoalan ini. Pembentukan pribadi umumnya diberikan oleh pendidikan formal, mengenai disiplin masuk kelas dan mengakui dengan ihlas salah dan benar. Kemudian  pendidikan di rumahtangga diajari mengenai tugas dan kuwajiban  pribadi terhadap keluarga, kehidupn pribadi kepada masyarakat.

Mengenai sifat orang perorang atau kelompok pada jaman gelap, bisa dihubungkan dan di-generalisasi-kan dengan pertanda semua hal, temasuk hari kelahiran, letak tahi lalat bahkan termasuk pembawaan fisik. Sekarang di jaman yang terang benderang ini menandai sifat orang dengan Stereotypenya nyaris didakwa kejahatan terhadap masyarakat, sebab sama sekali tidak mencerminkan kebenaran. Jadi bagi orang Jawa jangan lagi mengetrapkan gambaran, terutama wajah  peraga pada wayang kulit, sebagai stereotype sifat manusia pada  kehidupan modern ini.

Lain halnya dengan NALURI.

Watak satu kelompok, bisa berasal dari kebiasaan berfikir kelompok itu. yang kita kenal dengan NALURI. Naluri adalah pengalaman mengamati pemikiran yang nantinya mengarahkan perbuatan kelompok atau individu berdasarkan kebiasaan menelad sikap prilaku masyarakat kecil disekitarnya. Yang jelas contoh yang menggelikan adalah naluri watak "bakul" pedagang kecil dari desa desa Jawa,  orang Jawa. Anda selalu mendapat jawaban yang sama dari "bakul'' apa saja, apabila kesalahan menanya satu barang yang kebetulan bukan barang dagangan "pegangan"nya yaitu..... o anda nanya ada payung ? wah habis ! Padahal seumur umur dia tidak pernah mempunyai payung sebagai dagangan. Naluri bakul selalu memelintir dan pelit informasi.

Ada satu suku bangsa kita yang nalurinya sangat kuat untuk berkomplot secara compact dalam hal yang buruk dalam  menyangkutkan hubungan internal  marga marganya, Kebanyakan mereka mangambil profesi sebagai  pengacara yang berhasil ( swasta) juga sebagai PNS,  mereka menggerombol tanpa malu malu secara nepotisme, di Badan Pengawasan Keuangan ( BPK) di  Pusat  maupun BPK Propinsi,  yang setiap Kabag Keuangan Kantor Pemerintah  dan staffnya dimana saja, sejak dominasi Orde Baru sampai sekarang pasti tahu tingkah lakunya. Ada satu suku bangsa kita yang mengkhususkan diri menjadi “squatter” pengguna liar lahan kosong dikota kota besar terutama lahan pinggir sungai pinggir jalan raya dan milik Negara. Ada satu suku pelaut yang membuat desa ditepi pantai dimana mana, di pulau pulau dan beralih menjadi petani yang rajin serta berhasil dan memagari lahannya supaya tidak diserang babi hutan dan ternak tetangga.  Ini hanya bisa terjadi bila mereka itu punya naluri kesana.

Lain dari stereotypes yang beraneka ragam dan tidak  ada signifikansi untuk menganalisa apapun, NALURI INI ADA TINGKAT TINGKATANNYA.

1.     Naluri egois, naluri kebinatangan yang masih tersisa pada manusia, sangat tipis pengaruhnya pada kehidupan sopan santun di level perorangan, tapi sampai kini merebak le level antar Bangsa dan antar Negara.   

2   Naluri melindungi filial dan yang menurunkan/parental, Naluri melindungi kepentingan keluaga, kelompok, sangat logis dimiliki dengan teguh pada suku suku minoritas pendatang, yang pasti punya “tong”, dengan segala komplotan jahatnya, makin menipis karena kebudayaan moderen seperti menipisnya Mafia dari orang Sicilia, apa kejahatannya ? Omerta ! Merata diantara mereka. Sekarang tidak lagi.

3   Naluri untuk melindungi bangsa dimana dia dilahirkan, karena kecenderungan mempunyai nasib yang sama. Sering tersesat ke Nazi-isme yang chauvinistic, merasa sebagai das herrensvolk. Jangan kuwatir ini tidak dimiliki oleh mayotitas wakil rakyat pusat dan daerah, mereka simpan hartanya di Panama, dan Singapore. Wong naluri mereka masih di level puak dan kampung, paling seputar "sara" yang nyaman.

4   Naluri sebagai “ manusia”  amanah Allah, yang dimiliki oleh orang yang “eling” – semoga dia dilindungi Allah. inilah yang dikehendaki dari sorang pemimpin.                           

.  Tentu saja yang paling mempunyai nilai tinggi adalah naluri sebagai manusia, yang dalam agama kristiani diabadikan sebagai “the good Samaritan” dalam Agama Islam diexpresikan sebagai credo perjuangan “ bismillahirakhmanirrakhim”.  Perbuatan manusia dengan selalu mengingat satu satunya tugas khalifah Allah di dunia adalah baramal baik dengan rakhman dan rakhim. Artinya memperjuangkan dengan sekuat tenaga kepentingan manusia, orang banyak, masyarakat. Meskipun tanpa pendukung dari lingkungannya yang chronis, endemis rata rata para koruptors. Istilah RMP Sosrokatono "Nglurug tanpa bolo" masuk kancah "musuh" -koruptor manipulator, sendiri tanpa dukungan, melainkan Allah.

Anda sekarang lagi menyaksikan naluri anak manusia, yang satu memperjuangkan naluri filial dan kebaktian kepada orang tuanya yang mempunyai naluri preservasi keluarga yang sangat kuat dan berhasil – Yang satu  ini, berupaya mencegah dengan sekuat tenaga “kerugian” orang tuanya, dalam arti modal raksasanya yang ditanam orang tuanya dalam meciptakan pulau,  akan terancam bakal tidak akan kembali dalam lima tahun plus keuntungan 10% per tahun (ini sudah sangat kecil bila bibanding keuntungan dalam kerja dagang yang lain). Dia telah berhasil menjadi ”fixer” antara wakil dari berbagai fraksi partai berjumlah ratusan orang wakil rakyat di DPRDnya, DPDnya membuat aturan kontribusi kepada Exekutive Daerah, kebetulan seorang Gupernur demi bertanggung jawab atas kesejahteraan semua rakyatnya dengan nyata,  kontribusi si pengembang hanya 5% dari nilai pulau, bahkan dihapus sama sekali. Sehingga sang papa tidak "rugi", artinya balik pokok plus keuntungan dalam 5 tahun pasti kembali plus sisa lahan milik keluarga yang pasti nilainya semakin tinggi ( ini upaya menuruti naluri sedikit diatas derajad naluri egoistis hewani). Menurut Wakil Rakyat Daerah, Doktor Lulung, tidak ada dasar lukumnya minta retribusi 5% kok malah  Gupernur ini minta nambah 15% buat rumah nelayannya dan pasar ikannya. Bisa makan shushi disana sekalian. Dasar lukumnya apa ?


Melawan ketentuan Kepala Daerah Tingkat Satu – sang Gupernur,  yang bertanggung jawab pada Nelayan dan pencari kehidupan di pantai laut, nambah sebesar 15% lagi- muncul dari naluri kemnusiaan sang Gupernur saja – derajad naluri yang tertinggi yang bisa dimiliki oleh manusia modern.  Saya salut pada yang berani betanggung jawab berani melawan seluruh wakil DPRD, DPD, dan ahli  ligkungan uang, yang sudah jinak sama sang fixer,  Sunny boy. Gupernur ini malah  mengesampingkan hasil perjuangan mati matian si fixer yang sudah berkorban banyak lewat M Sanusi, malah minta kontribusi tambahan diatas 5% masih ditambah 15% . Apa pencetak pulau rugi ? Tidak juga, sebab di pulau D ada laut yang dibawahnya ada kabel tegangan tinggi dari PLN Muara Karang, pipa gas untuk generator, yang mestinya tidak ditimbun jadi pulau, jadi kanal,  lelebar 300 meter sepanjang pulau D harus tetap jadi kanal,  demi kelestarian PLN Muara Karang dan sanak familinya  engkong Ridwan Saidi, (yang  benci pada dia). Ikut ditimbun jadi tambahan tanah dagangan. Ini pelanggaran yang disengaja. Tidak menurut bestek. Nah siapa yang dikorbankan oleh Pengembang busuk ini, bila ketahuan seperti ini ? ( menurut facebook Rizal Ramli)

Ini ndak bisa dibikin alasan demi memberi tempat bagi orang Betawi yang nelayan, demi nalurinya sebagai manusia, Salut, semoga Allah member ijabah niat anda yang baik *)

Minggu, 10 April 2016

ISLAM JAUH DARI FEODALISME

MENGAPA HARKAT SEMULA AGAMA ISLAM MENJAUHI FEODALISME

Mengapa harkat islam yang hakiki menjauhi feodalisme ?

Karena feodalisme merupakan aliran jalan pikiran manusia untuk mengatur masyarakatnya yang paling tua dan paling lama kurun waktu  keberadaannya, KEADILANNYA SUDAH DIRAGUKAN.

Bila feodalisme bisa bertahan menguasai pemikiran masyarakat manusia nyaris beberapa ribuan tahun, diseluruh masyarakat benua benua dunia ini, mengapa?

1.     Feodal tumbuh dari dominasi kekuatan fisik satu kelompok masyarakat.

2.     Karena luas  wilayah jangkauan  himpunan aturan yang menyangkut kehidupan masyarakat manusia. Kaum feodal  memegang kendali kekuatan fisik  demi kebaikan maupun kesengsaraan masyarakat.   Sudah direkayasa dipercaya masyarakat sebagai wakil kehendak adhikodrati, diatas manusia.

3        Semua aturan masyarakat yang  diciptakan oleh feodalisme, sangat logis pada zamannya, menguntungkan si feodal, dan diperkuat oleh akal si pemikir yang dalam perjalanan waktu kebanyakan diwakili oleh cerdik pandai dan berpengalaman, ( biasanya kaum pendeta) yang merupakan kekuatan tersendiri dalam masyarakat, mengusai kekuatan non fisik.

4       Kaum feodal dan kaum pendampingya, cendekiawan/ pendeta tidak pernah  ragu ragu menghukum seberat beratnya  kepada siapapun anggauta masyarakat yang melanggar ketentuan yang dibuat, membuat efek jera.

Sebaliknya ajaran Islam talah menjungkir balikkan keempat pilar feodalisme dalam masyarakat manusia, untuk selama lamanya.

Betapa tidak ?

1.     Islam mengajarkan semua perbuatan harus dimulai dengan credo “Bismillahirakhmanirakhm”, artinya sangat mempertimbangkan watak pengasih dan penyayang untuk segala perilaku. Tentu saja sangat tidak cocok dengan kekuasaan yang melulu mengandalkan kekuatan fisik. Kayak kaum despot, diktatator.

2.     Aturan feodal terhadap masyarakatnya, demi mempertahankan kenikmatan hegemoninya,  disamarkan demi kepentingan umat manusia malah alam yang susun tiga, telah dihapus habis. Oleh ajaran Islam. Diganti dengan  Wahyu Illahi  dalam Al Qur’anul Karim dan Sunah Rasulnya yang terkhir, yang seluas lautan, semua demi kebaikan masyarakat manusia.

3.     Islam menganjurkan balajar ilmu pengetahuan, walaupun sampai ke negeri China. Galilah apa yang ada di alam raya ini di Al Qur’an, semua muslim dianjurkan membacanya dan memahaminya, menurut qadar masing masing. Tdak ada  monopoli Pengatahuan oleh para pendeta saja.

4.     Effect jera hanya diberlakukan pada yang melanggar dengan sengaja hukum Allah, dengan hukun qisas, sedang manusia harus mengetengahkan watak rakhman dan rakhim yang merupakan harkat keberadannya di alam raya ini  sekuat tenaganya pada sesamanya, dan seluruh alam raya, jadi rakhmatan lil alamin.  Mengingat kalimah basmallah dalam segala perbuatannya.          

 

Lho, kaum muslimin di kita ini kok sangat mengandalkan kekuatan fisik. Seperti razia, membakar dan merusak beramai ramai tempat ibadah yang tidak mereka setujui. Bukankah pemujaan kekuatan fisik itu  cikal bakal dari feodalisme ? Tidakkah ajaran Islam selalu melindungi  kebebasan beragama, azas dari kehidupan demokrasi sekarang ? Buktinya disemua mesjid di Turki kaum agama lain boleh masuk diruang tertentu di masjid masjid dan mendengarkan khotbah ulama Islam. ? Sedangkan masih banyak agama yang lain berazaskan feodalisme di dunia ini, masih ada pemeluknya, islam menyatakan semua itu keliru, tapi menghormati pemeluknya, asal mereka tidak menyerang Islam.

Feodalisme,begitu lamanya berkembang dalam masyarakat manusia, sehingga peraturan yang dihimpunya meliputi arbitrase seluruh perkara, melindungi yang benar dari seluruh perkara, dan memberi keadilan pada masyarakat, tiada taranya, bahkan Nabi saja yang harus  juga Raja, berposisi puncak  di feodalisme mengadili dua ibu yang berebut bayi, kemudian Nabi, Raja Sulaima, mengambil pedang, hendak membelah bayi tersebut nejadi dua, masing masing ibu dapat sebelah supaya adil. Maka terkuak teka teki siapa sebenarnya ibu si bayi malang  itu. Sekarang kaum muslimin karena kemampuan  Islam dengan ajarannya  mampu menyerap ilmu pengetahuan tanpa bertentangan dengan azas hakiki ajarannya, dapat menggunakan test DNA tanpa salah, siapa sebenarnya ibu si bayi itu. Disitulah keluasan ajaran Islam menjadi ajaran yang dalam dan luas tidak bertepi, yang dapat menggantikan feodalisme dengan serta merta.

Lha kok sebagian kaum muslimin malah menyempitkan islam dengan perbedaan kecil kecil antara mereka, dengan mengeluarkan yang lain dari islam, perbedaan khilafah, politik kekuasaan di dunia yang fana ini, tega menghalalkan darah umat seagamanya.  Lebih cenderung pada feodalisme dari demokrasi yang adil dan beradab.

Jadi bahan adu domba iblis yang selalu mengintai kelemahan bani Adam ini. Dalam politik kekuasaan Islam jelas bukan feodalistik tapi demokratik, dan sekaligus pluralistic seperti isi dunia ini. Inilah Wahyu Illahi yang gilang gemilang untuk dipelajari jadi panutan manusia baru. Dari masyarakat plural jadi masyarakat manusia yang satu, dalam rangka rahmatan lil alamin.  Bukan sebaliknya dari monolith yang rapuh jadi plural berceri berai, menurut jalan iblis..

Republik muda ini telah memelopori dengan menerima Ketuhanan Yang Maha Esa, Sila pertama dari dasar ideologi Negara, daripada menerima Piagam Jakarta, meskipun Sembilan puluh lima persen penduduknya Islam. Karena ashadualailahailallah, wa ashaduana muhammadarasulullah,  peggalan yang pertama dari kalimah dua ini lebih membawa Republik ini dalam ikatan Negara Kesatuan Republik Indonsia. Sedang kita mengimani keluasan dan kedalaman ajaran islam, sehingga tidak ada celah  untuk jadi egois -embahnya  feodalisme. Jangankan menyatukan manusia se Indonesia, manusia sedunia pun bisa disatukan dengan “bismillaahirakhmannirakhim” yang mendahului segala perbuatannya.  Lho kok malah sukarela jadi sasaran adu domba, kekejaman dari sesamaya,  dan pengusiran dari negaranya, saling bunuh antara satu umat islam sendiri ? *)

 


 

Kamis, 07 April 2016

WASPADALAH, YANG DILARANG ALLAH, PASI HARAM

MANUSIA YANG BERIMAN. WASPADALAH !!!

HARUSNYA APA YANG TIDAK LOLOS DARI HUKUM TUHAN, PASTI TIDAK LOLOS DARI HUKUM MANUSIA.

Publik terhenyak, mendapatkan informasi dari “Skandal Panama”, pemicunya adalah mass media elecronik.

Mendadak saja, dari fihak banker dan pajak di Indonesia membuat pernyataan bahwa di mereka data mengenai pelarian modal ke wilayah yang bebas pajak seperti  pulau Kayman dan Panama Singapore mengenai  polah tingkah wajib pajak di Indonesia yang menyembunyikan kekayaan hasil operasi  kejahatan ekonomi, jauh lebih lengkap, dengan kalemnya..

Lantas pada mempunyai idea, agar modal yang mencapai  nilai beberapa kali lipat dari anggaran belanja Negara hasil kejahatan dan meloloskan diri dari pajak kekayaan ke Negara Indonesi, kembali ke Indonesia, dengan Undang Undang   AMNESTI PAJAK DI DPR, juga dengan kalemnya. Dengan pertimbangan manfaat dan mudharat duit haram sebanyak itu.

Kok lupa,  bahwa sejak dulu, kapitalis itu tidak punya Negara,  kapal selam yang menenggelamkan  kapal penumpang mewah berbendera Amerika, "Lusitania" dengan penumpagnya yang tidak berdosa itu adalah kapal selam Jerman yang disupply bahan bakar di laut lepas oleh perusahaan munyak Amerika. Salah satu dari tindakan asocial dan anasional  dari capital.

Tindakan lain yang sama jahatnya dengan itu adalah menggelapkan pajak,  menurunkan pajak, kong kalikong dengan petugas. Demonstrasi yang sangat nyata dari kejahatan asocial yang langsung merugikan  seluruh penduduk Negara. Karena aktivitas memperoleh keuntungannya menggunakan sarana kepentingan umum hak orang banyak hanya untuk digelapkan kuwajibannya membayar pajak, seolah olah Allah tidur bagi  kejahatan manusia jenis ini. Malah anak istri, penarik  pajak slingkuh ini,  mampu membeli mahar buat jadi anggauta DPR/DPRD dengan tenangnya sampai sekarang terima gaji dan kehormatan dari kita. Partai partai jadi tergoda ikut menanggung dosanya karena tidak punya prinsip ideology. Kayak anak. istri, Haji Permata Safir al Yakut alm. tetangga saya yang berumah mentereng di bulevart kampung saya.

Mesti saja pencoleng ekonomi di Indonesia membawa lari dari pajak Negara demi kekayaan haramnya keluar Indonesia, supaya lestari wutuh malah berlipat ganda  buat operasi kejahatan lainnya lagi, tidak menutup kemungkinan untuk business narkoba. Kalau toh mau tertarik kembali ke Indonesia, oleh amnesty kejahatan pajak,  ya kasihan para ulama yang masih berkutat dengan persoalan halal dan haram  makan pisang dari rumpun pisang yang dipupuk kotoran babi, oh kasihan.

Saya masih mngimani bahwa hukum Allah tidak akan memberi amnesty apapun kepada penjahat model baru tapi edisi lama dengan dukungan suci neo liberalisme ini, yang akan terang terangan dengan modal teramnesti itu untuk malang melintang membeli kepentingan rakyat guna digoreng  untuk menciptakan keuntungan haram yang berlipat ganda lagi, para ulama akan lebih medalam memikirkan ekonomi model baru ini, semoga mereka dengan modal amnesty ini tidak bisa membangun condo di  sorga sana*)



Rabu, 06 April 2016

EMPAT ILMU YANG DIAJRKAN ISLAM

DARI EMPAT ILMU YANG DIAJARKAN ISALAM, ADA DUA YANG MENGENDALIKAN NAFSU AMARAH DAN NAFSU LAWAMAH.

Nasfu amarah yang sampai membakar rumah ibadah yang dianggap bid’ah dan musyrik, melempar batu dan membunuhi orang.  Penawarnya adalah ilmu syari’ah sendiri yang istiqomah dan benar untuk meluruskan kesalahan maslim lain dengan ajaran dan tindakan yang komplit penuh “reasonning” dan sabar.

Nafsu lawamah yang memincuk orang untuk beguru pada ulama palsu yang mengajarkan dzikir sampai mabok, trans,  yang mengajari  penggunaan atribut tetentu, gerakan sandi tertentu, ucapan rahasia tertentu tentu saja dengan mahar yang besar. Wong mencari jalan mendekatkan diri ke Allah, karena  permohonannya  banyak agar cepat kesampaian, nafsu ini akan tawar dengan ilmu tarikat yang sesungguhnya, yang artinya “jalan” pendekatan kpada ALLAH, orang Jawa bilang selalu ingat kepada kehehadiranNya. ( ELING ). Ulama palsu ini  biasanya menggunakan  ilmu laduni dari bakat, atau ilmu sulapan dari akal, atau dari iblis, mempromosikan kedekatan dirinya dengan Allah.  Biasanya mengumpulkan uang secara tidak bertanggung yawab.

Bahasa moderenya berdzikir, adalah mengingat Allah  saja, kapan saja, dimana saja tanpa diketahui orang sekitarnya kecuali tingkah laku dan bathin yang baik.

Adapun nafsu mutmainah, nafsu menuju ke kebaikan, bisa ditawarkan dan dikendalikan dengan ilmu hakikat – ini ilmu kebenaran yang sejati hasil dari  perenungan yang  dalam, dalam wakktu yang lama.  Hanya Allah yang member hidayah. Mengapa mesti dikendalikan wong ini nafsu menuju ke kebaikan ?  Ya karena setiap manusia itu harkatnya belajar sepanjang hidupnya,  hanya Allah memberi dia hidayah, sedang nafsu kita mungkin bisa menimbulkan kesalah terima’an, seperti Nabi Haidir meninggalkan Nabi Musa. Kebenaran sejati hanya kepunyaan Allah.

Nafsu supiyah, nafsu yang penuh daya dan semangat mengajak kejalan yang benar. Selama namanya masih nafsu, masih ada unsur demi   “hidup manusia” di alam ini.    Ilmu makrifat ini ditandai dengan jari telunjuk kanan kita luruskan diatas lutut waktu bersimpuh tawarukh, sambil berseru dalan hati "ashadualahilahailallah wa ashadu anamuhammandarasulullah" adalah ilmu alam perbatasan, diseberang sanapun  juga lingkup Allah, yang kita tidak tahu persis. Disana kita hanya mohon dituntun ke jalan yang benar. Benar yang bagaimana ? Kita serahkan kepada Allah – seperti jalannya mereka yang telah mendapat petunjuk, bukan jalannya mereka yang sesat dan dimurkai Allah.

Jadi mempelajarinya setiap individu harus mendapat hidayah dari Allah, Ajaran apapun bisa tidak cocok dengan keperluan individu lain jadi dalam tataran ini orang harus  menahan diri terhadap individu lain. Harus sangat sabar karena dalam tataran ini,  hidup  ini hanya bercanda.     Semoga berguna*)



Senin, 04 April 2016

SAYA YAKIN TULISAN INI NDAK ADA YANG NAU BACA

 SAYA NDAK YAKIN TULISAN INI ADA YANG MAU MEMBACA.

-PELOPOR REVOLUSI MENTAL -

Hing jaman kena musibat, wong hambeg jatmika kontit, kaliren wekasanipun – serat Jaka Lodhang ( R,Ng, Ronggowarsito, pujangga kraton Surokarto (penghujung 1800 - seperempat pertama 1900)

Kami, kaum veteran generasi pertama, kaum pensiunan generasi pertama, Orang yang didewasakan secara harfiah dengan waktu tumbuhnya Republik Indonesia,  yang dihasilkan dan dibesarkan 100% oleh Republik ini, sedang bergulat dan sedang memenangkan  perjuangan kami, yaitu pergulatan kami mengiringi perjuangan Republik ini, tahukah kamu apa itu  ?

KAMI SEDANG BERUSAHA DAN PASTI BERHASIL DALAM PERJUANGAN KAMI YANG TERAKHIR, ”HIDUP ZUHUD, DALAM KONDISI KE-MENENGAH-AN KAMI, DAN JUGA KE-MENENGAH-AN HIDUPMU, WAHAI ANAK ANAK KAMI”

Bila ini tidak membekas pada hidup kalian, maka sia sialah perjuangan dan pergumulan kami. Maka kepeloporan kami, akan tenggelam dalam lautan individualisme, kaum egois dalam alam feodalisme, PENERUS NALURI RENDAH, membangkrutkan bangsa dengan menggerogoti assetnya,  mengeruk keuntungan dari infra tructurenya yang diperlemah demi keuntungan pengusaha kroninya, pembelian belanja Negara yang di mark up semena mena, pencurian hak rakyat miskin dengan sangat menyakitkan ini, ber-KKN semena mena dengan pengusaha,  dicontohkan oleh Mohamad Sanusi dan kawannya 40% anggauta DPRD Jakarta Raya, mendukung rencana reklamasi pantai dan pulau pulau laut utara teluk Jakarta demi keuntungan pengembang kondominium mewah Agung Podomoro group, dan pasti menimbulkan reaksi dari masyarakat yang terinjak, lebih menyakitkan lagi, bila kita tidak bisa membenahi dominasi mereka yang berkedok berjuang untuk suku ras dan agama ( sara) ini,  atau menyadarkan seniman gaek kedaerahan seperti   Ridwan Saidi.

Kami mendapatkan posisi ekonomi dalam masyarat Republik muda yang baru merdeka ini dengan pendidikan gratis, dan njaris gratis di Perguruan Tinggi Negeri, karena kemauan Revolusi yang masih menyala nyala. Banyak diantara kami yang gagal karena Dosen –Dosen kami, istilahnya bung Karno Pemimpin kami, saat itu menjulukinya dengan julukan Hollands denken- pikiran Belanda, sengaja dibuat  tidak peka, dan masih menggemari adat kebiasaan dan kekuasaan feodal, jadi sarjana adalah jadi Pembesar, maka harus ditebus dengan sekuat tenaga, penyerahan dari idea yang bergolak, ke rust en orde nya mereka,   mahasiswa memprotes– mengetrapkan  perkuliahan dan ujian  dengan seenak udelnya, “hollands denken“ “Kebebasan Mimbar” a’la Continental system dari jaman abad Pertengahan Europa, yang disanapun sudah ditinggalkan.

Waktu itu, Dosen dan Profesor mulai mabok dengan “Kebebasan Mimbar” bagi mereka,  kebebasan tanpa tanggung jawab, apa yang dingomong dalam kuliahnya, pertentangan  derajad manusia antara Dosen-Mahasiswa yang assimetris, tentu saja bagi mahasiswa juga ada senjata– boleh membolos, sebab tanpa diabsen. Sungguh tidak mudah. Kondisi ini menghasilkan genarasi Pengajar muda yang tidak kurang feodalistisnya disertai dengan kekejaman yang terselubung gula, meluluhkan semangat keluar dari sistim feodalistis mereka, kaum menengah yang sangat lembut dalam pergaulan, menimbulkan KKN Perguruan  Tinggi dan Organisasi Mahasiswa dan dikalangan akademisi, saking nikmatnya  sampai menjadi KAHMI.  Serta calon calon akademisi membentuk kelompok feodal   yang sangat nyaman, mesti dapat katabeletje bila nyari pekerjaan.  Disamping kelompok kecil dalam masyarakat yang menjadi kaum mahasiswa abadi sampai tahun 1960..  Kami yang lulus sebagai sarjana sampai tahun itu pasti menjadi birokrat mengepalai Propinsi, atau Direktorat Jendral, atau Derektorat, paling kecil kepala Biro di Propinsi atau Kementrian dan Diektorat Jendral, sebagian kecil jadi Menteri dalam jenjang politik dan birokrasi, atau dosen atau profesor, setara dengan  kehidupan kaum menengah atas yang terhormat dan nyaman. Dan terlahirlah di dunia ini generasi muda baru, ya anda anda ini semua termasuk yang terlahir sekitar tahun 1970 han. Seluruh sistim pendidikan kami tidak mempersiapkan anda anda jadi Pengusaha, karena kami sendiri ya tidak tahu. Ternyata bidang itu telah diambil alih oleh naluri rendah dari "sara" yang tidak kenal naluri yang lebih tinggi, "naluri bernegara" dan "naluri berbangsa" apalagi "naluri manusia"

Pengusaha kita merupakan kelompok etnik diluar sistim, yang secara tradisional dipiara sistim penjajahan menguasai perdagangan eceran, juga merupakan kelompok petani yang terikat dalam persaudaraan bakul dan  juragan diluar sistim, yang sulit dijajaki seberapa jauh jiwanya lekat dengan keberadaan sistim birokrasi Negara Republik ini, karena sistim kekuasaan Negara masih sangat rapuh, mau digunakan untuk kepetingan siapa, rakyat keseluruhan atau penjabat dan Pengusaha ?

Kaum menengah yang tercipta dari akademisi di Republik ini,  kenyataannya  dari asal usul mereka ada yang dari kalangan keluarga “mutihan” artinya kaum santri, ada yang berasal dari keluarga “abangan” artinya kaum priyayi jaman penjajahan yang dijauhkan oleh majikannya dari adat kebudayaan asli setempat ( Admnistrasi birokrasi Kolonial Belanda,  dalam Pemerintahan maupun administrasi swasta termasuk salesmen candu, garam dan mesin jahit, tempat tidur besi bermerek "kero" bed, dll).

Atau dari kebudayaan santri yang jadi juragan hasil bumi dan industri batik. Kemudian di zaman Bung Karno, pedagang dan pengrajin dibesarkan dengan lisensi harga khusus dari Pabrik tenun Pemerintah “Bhatari” membesarkan kekuatan ekonomi kota Ponorogo, Yogyakarta  Surakarta dan Tulungagung sebagai pusat industry bathik.

Bila keluarga baru kaum menengah kini ini,  termasuk dalam kelompok berakar dari para santri, mestinya mereka menjalani hidup secara moderat dan zuhud. Begitu pula yang berakar dari kaum priyayi kejawen yang abangan. Mereka menjadi warga yang jauh dari KKN dan hidup zuhud, akan mudah untuk menyesuaikan diri dengan sistim gaji/income  sekarang, dimanapum mereka bekerja, maupun dari veteran dan pensiunan PNS golongan apapun, mereka mudah mati penyakitan kok, jadi habis perkara.

Sebaliknya, mereka yang berakar dari para santri, tapi juragan beras, pemborong padi disawah dan juragan hasil bumi meskipun keponakan Gus Dur dari puaknya yang sangat banyak, dan sarjana, pemegang tampuk kekuasaan Partai dan Kabinet atau Dirjen, atau Bupati Kepala Daerah, ya sulit menjalani hidup zuhud dan memberi teladan bagi keturunannya yang menjadi kaum menengah atas tapi dengan income yang tidak tentu kecuali sudah dididik jadi Pengusaha beneran, bukan dengan sistim yang  ada, atau mereka harus merambah lembah kenistaan ber-KKN dengan Pengusaha, atau pewngusaha yang berKKN dengan PNS kayak La Nyala, atau merosot jadi kaum miskin.  Dari golongan priyayi yang mengandalkan gaji, ke-menengah-an mereka tidak ada lagi. Ujub dan riya menguasai semua manusia kelas menengah, kecuali yang ingat kapada ALLAH dan sunah RasulNya.

sebab orang yang berkelakuan baik di masyarakat ini, hidupnya akan sulit. ( R.Ng. Ronggowarsoto. Serat Joko Lodhang)

Sudah ditandai oleh mBah- mBah kita, mereka penerima gaji dari Belanda sebab ikut sekolah sampai  HIS, smpai MULO, sampai sekolah guru, sekolah AMS  sekolah kedokteran NIAS di Surabaya dab GH di Betawi yang makan beaya rata rata 40 % gaji orang tuanya, jadi mereka, si orang tua dan aggauta keluarga lainnya hidup zuhud, dan menghindari kemewahan, untuk membeayai sekolah putra putrinya, hanya yang ternyata berprestasi, dengan uang guilder Belanda. Sebab ini merupakan previlegy mereka.  Semua keturunannya merasa tidak nyaman setiap makan di restoran, sangat tidak nyaman ada di kerumunan dansa dan karaoke di Ninght Clubs,  mereka adalah pelopor yang sudah ada sebelum  revolusi mental. Cucuya   yang  nenjadi salesmanpun, meskipun jadi pegawai swasta, tidak mengajak anak istrinya makan di restoran, meskipun dengan  bon yang bisa diganti oleh Perusahaan yang menggaji dia sebagai salesman, dia mempunyai hak proxy memberikan intertainment  kepada langganan pentingnya.  Tidak minta dihormati oleh lingkunganya, tapi memberi cotoh teladan hidup zuhud dan beriman bukan sekedar mengenakan atribut agama, tanpa berbuat demonstratip keleluasaan pengeluarannya, dengan wah dan boros.

 Sangat lain dengan pensiunan PNS generasi ke ke II dan ke III, yang KKN, berputra/putri mereka juga KKN,  yang pensiun malah masih kerja lagi di perusahaan swsta nebeng nama kroninya di  Kantor Dinasnya, hidup mewah ADALAH TJUAN HIDUPNYA. Suka dihormati.  Saya yakin putra putrinya sedang berkutat mencri kesempatan KKN juga, SEBAGAI TANDA BHAKTI KEPADA orang tuanya. 

Anda  sabagai  generasi muda mengerti, Negara ini memerlukan orang yang zuhud, intelligent,  tulus mencintai Negaranya dan jujur, kalian semua  masih mempunyai teladan hidup zuhud, tanpa merasa jadi miskin, meskipun kalah pinter dari para teknokrat Orde Baru,  para veteran generasi pertama dan pensiunan PNS generasi pertama Republik ini, zuhud dan tulus  mencintai Negeri ini,  sebagian kecil hidup dan  disekitar kalian, apabila masih hidup.  Sebab banyak mereka yang dibantai waktu iblis merasuki kaum yang merasa benar sendiri membela agama dan bangsa, mereka orang yang dicekoki obat perangsang  paranoia  tahun 1965, seperti para algojo yang lain*)



Sabtu, 02 April 2016

APA KITA KURANG BUKTI  ke II??

Masyarakat manusia sebenernya tumbuh dan berkembang menurut pola tertentu, meskipun tinggal di berbagai benua yang tidak berhubungan satu sama lain.  Yaitu masyarakat pengumpul makanan ( alat alatya hanya berupa  tongkat penggali) – kemudian masyarakat patembayan/ komunal kuno – masyarakat perbudakan – masyarakat feodal – masyarakat demokrasi. Perkembangan ini sesuai dengan tarik menarik antara sifat egoism/ individualism kearah masyarakat gotong royong ( kalok sudah alergi terhadap kata  “socialism” takut dipanggil ke Koramil) . Implikasinya menjadi petentangan antara  perkembangan kepentingan egoism/individalisme yang melahirkan para despot  "berseberangan" ( kalok sudah alergi terhadap kata “beertentangan”- karena mengkotak kotakkan masyarakat dan merusak persatuanan kesatuan mnurut Harmoko)  dengan sifat bermasyarakat secara kesetaraan, yang diwaliki para demokrat  diantaranya Cromwell dari Inggris dan George Washington. Cromwel yang menghapus kemutlakan kekuasaan mutlak Raja di Inggris (menulis Magna Charta) dan  George Washington yang menghapus perbudakan di Amerika Serikat.  Ini berjalan berabad abad dengan segala kekerasan dan tipuan  demi dominasi salah satu fihak, kadang kadang berkompromi.

Islam yang tersirat menurut sunah Rasulullah, menyikapi perkembangan masyarakat kearah demokrasi ini, dengan bijaksana, menyebut Pmpinan tertinggi dari kaum muslimin bukan Raja atau Sultan tapi dimulai dengan sebutan Amirul Mukminin- Pemuka dari kaum mukmin. Selanjutnya sesudah Rasulullah wafat Amirul mukmunin dipilih diantara sahabat yang terdekat khalifah-ar-rasyiddin. Semua pekerkejaan dimulau dengan azas bISMILLAHIRAKHMANIRAKHIM. 

Dengan cepat dirubah dengan gaya darah panas kaum kaum padang pasir, akhirnya dibelokkan oleh bani Muawiyah kearah kekerabatan feodalisme. Sebab kondisi dan situasi zaman itu yang mendukung. 

Masih tersisa dalam sunah Nabi, bawha siapapun laki laki yang sehat jasmani hohani dan mengerti ajaran Islam, boleh memgimami sholat berjama’ah kaum muslimin/muslimat. Sedangkan dengan agama yahudi, bahwa Imam agama yahudi ( rabbi)  harus ketnrunan dari dua belas suku yahudi yang mendiami ranah Yudea.  Bandingkan dengan para gembala di agama Kristiani.


Bahwa ada de-demokratisasi didalam islam, ditandai dari upaya melestarikan kesultanan Turki, kakhalifahan kemdian Kesultanan  Mesir, Iran, Maroko dan lain lain, tentu saja berdampak pada para pemeluknya untuk menerima demokrasi seutuhnya, terutama para pemukanya, yang menikmati kelas atas dekat dengan sang Sultan, para mullahnya, ayatullahnya, tuan gurunya, kiainya,  HMInya, KAHMInya, ICMInya, semua  masih bernada feudal, dalam  menunjuk Pemimpin, dalam arti mengetangahkan keturunan dan egoism yang dangkal seperti KKN yang dilakukan oleh mereka sesudah ada di puncak kepemimpinan, yang sangat buruk pengaruhnya pada massanya. Tandanya semua partainya menjadi gurem  Apapun yang dihujahkan, apapun yang dilakukan tidak menunjukkan ke-zuhud-an berperilaku, apaladi beriman. Tidak menunjukkan mementingkan kepentingan umum, yang terberitakan akhir ini menteri Yuddy Krisnadi yang KAHMI dan Ketua DPP Hanura 2015, memberikan katabeletje, jalan jalan ke Sydney sekeluarga gratis atas beaya Negara kepada kroninya sesama pengendali Negara dari satu partai hanura , yang sebelumnya Suryadharma Ali Ketua terpilih PPP,menilep dana Haji,  Lebih dulu lagi Lutfi Hasan Ishaq dari Presiden PKS memainkan harga daging sapi atas perugian umum, bahwa Sudirman Said-pun keluaran kelompok studi Islam Paramadina. masih cari cari dukungan untuk nyeper, diladang gas Masela. Wahai Pemimpin kami, apa yang kalian dapat dan apa yang kalian lakukan ?. Bahwa revolusi mental itu sebenarnya penegasan dari ajaran Islam yang populis,  mengarah ke demokrasi, mengetengahkan kepetingan umum, belum selesai, bahkan belum dimengerti. Malah ada demo mahasiswa yang pro khilafah islam anti demokrasi. Demokrasi bukan mengarah balik ke feodalisme ber KKN dan ujung ujungnya tenggelam egoism/individualism, tenggelam dalam rangka feodalisme dengan bangganya, Sadarkah kalian, perilaku anda sudah ditandai massa anda, melawan arus demokrasi , kaum muslimin akar rumput, sudah sangat mendambakan demokrasi sejati ? Nipu saja kok nggak bisa, kedodoran, ketahuan KPK, sedangkan ideologinya yang feodalistik rakus ketahuan rakyat *)

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More