Sayang Sama Cucu

Sayang Sama Cucu
Saya sama Cucu-cucu: Ian dan Kaila

INDONESIA PUSAKA TANAH AIR KITA

Indonesia Tanah Air Beta, Pusaka Abadi nan Jaya, Indonesia tempatku mengabdikan ilmuku, tempat berlindung di hari Tua, Sampai akhir menutup mata

This is default featured post 2 title

My Family, keluargaku bersama mengarungi samudra kehidupan

This is default featured post 3 title

Bersama cucu di Bogor, santai dulu refreshing mind

This is default featured post 4 title

Olah raga Yoga baik untuk mind body and soul

This is default featured post 5 title

Tanah Air Kita Bangsa Indonesia yang hidup di khatulistiwa ini adalah karunia Tuhan Yang Maha Esa yang harus senantiasa kita lestarikan

This is default featured post 3 title

Cucu-cucuku, menantu-menantu dan anakku yang ragil

This is default featured post 3 title

Jenis tanaman apa saja bisa membuat mata, hati dan pikiran kita sejuk

Rabu, 07 Agustus 2013

2.MATAHARI TERBIT DI WILWATIKTAPURA (Seri-1) Oleh : Ir.Subagyo

Dongeng untuk cucuku, menurut interpretasiku dari sejarah Majapahit, yang terjadi pada jaman 1200 M- 1400M.


2.        PRAKATA DARI PENGARANG  CERITA  INI  “MATAHARI TERBIT DI WILWATIKTAPURA”

Cerita ini sepenuhnya dalah fantasi saya sendiri, sebagian nama dari pelaku adalah tokoh sejarah yang benar benar ada, yaitu tokoh tokok Kerajaan Singhasari dan zaman yang mengikutinya yaitu zaman Majapahit. Tempat tempat yang disebut adalah tempat tempat dengan nama yang dipakai pada zaman itu  th 1100 – 1300 M, untuk menyesuaikan suasana cerita, tidak ada penelitian apapun, Kejadian yang diceritakam ditempat itu hanya  dari imajinasi pengarang melulu.  Hanya tempat tempat itu penah dikunjungi oleh pengarang secara  kebetulan  dan bukan untuk tujuan menulis. Pengarang mepercayai adanya  nama dan tokoh tokoh yang disebut dalam prasasti  yang ditinggalkan oleh kurun zaman itu,  yang jadi sumber autentik dari para sejarawan kita zaman ini,  bahwa prasasti itu kebanyakan semacam ketetapan  hak atas tanah, ataupun untuk menerangkan pendirian candi candi yang dibuat  beberapa generasi setelah yang dicandikan meniggal, melulu untuk kepentingan yang masih hidup. Mungkin juga manuskipt dalam lontar lontar yang sekarang masih bisa dibaca oleh para sejarawan yang serius, juga dibuat atas pesanan keturunan yang masih hidup,  meskipun dikerjakan oleh  Mpu yang terkenal, barangkali karena dekat dengan kekuasaan saat itu, kayak Profesor Nugroho Notosusanto, yang berusaha keras mengganti Bung Karno yang didukung  oleh mayoritas rakyat Indobesia, diganti dengan peran   Jendral  Suharto yang didukung oleh sebagian ABRI saja.  Yang kemudian jadi sumber kebenaran ahli ahli  Archeologi . Saya bayangkan seratus tahun setelah kita kita ini, bagaimana generasi generasi penerus itu mengerti sejarah kita, yang  tanpa malu malu, malah disengaja oleh  ahli sejarah semacam Profesor Nugroho Notosusanto memalsukan sejarah untuk menghapuskan peranan rakyat dan Bung Karno, atas pesanan  Orde Baru, dari sejarah perjuangan untuk menegakkan kemerdekaan .
Dimulai dengan ditiadaknnya tanggal 10 Novermber 1945  sebgai hari yang diberi tanda warna merah artinya hari libur Nasional.
Jadi apa salahnya bila fantasi saya dan imaginasi saya, mambuat cerita sendiri yang masuk akal dari  segi materi dan moral saat itu, dan cocok dengan logika pada umumnya yang abadi sepanjang zaman .
Begitu pula legenda dan babat yang menceritakan zaman yang lalu, apalagi isi kitab kitab yang dikarang pada zaman itu, yang ditulis para pujangga yang kenamaan umpama empu Sedah Empu Penuluh Empu Prapanca dan empu Kanwa, itu bukan atas pesanan Penguasa ?
Pustaka yang ada jadi pusaka kita sampai sekarang yang digeluti oleh para sejarawan dan ahli ahli archeology zaman sekarang ya itu. Selebihnya akhli sejarah kita dari SMA nya sudah di bagain sastra, jadi tidak diajari ilmu Kimia, Ilmu Fisika, ilmu Matematika dan Kinematika, jadi daya analisanya terhadap kejadian alam lemah. Seperti pembuatan mesiu, peleburan logam, panas pembakaran bermacam macam arang, sulitnya pembuatan jalan dan jembatan, daya dorong layar dan besarnya perahu jadi apa salahya bila saya memasukkan unsur unsur alat dan barang yang ada sebagai alat pendorong atau pembatas kemampuan orang didalam kejadian sejarah zaman itu ?

Dalam tulisan ini saya kepingin mengangkat tokoh tokoh sejarah yang jadi tonggak  keberhasilan bangsa ini,  tonggak tonggak penting bangsa untuk diceritakan secara lain,  sekuat fantasi dan imaginasi saya,  kena apa.?  Karena terlalu naïf  bila kita tanpa curiga apapun percaya bahwa Raden Wijaya, ksatria konon keturunan Lembun  Tal dan selanjutnya keatas sampai ke  Ken Arok dan Ken Dedes, Yang mestinya dididik cara ksatria yang mengutamakan Dharma, lebih dari kasta lain, kok menipu, mengarahkan bala tentara Lalksamana Mongol,  menyerbu Kadiri, sebagai hukuman yang harus dierima oleh sang Prabu Kartanegara, yang sudah pernah menghina Dutanya.  Habis itu, kok masih nenohok kawan seiring, mengkhianati pasukan  Mongol yang lagi berpesta kemenangan  terhadap Kadiri. Hlo bila dipikir apa mungkin seorang Laksamana kerajaan Kublai Khan, datang ke Asia Tenggara dengan misi penaklukan atau pemberian hukuman pada raja yang melawan, kok ndak tanya atau mendengarkan laporan, atau mengirim mata mata terlebih dulu, wong disini sudah banyak pedagang China yang sudah lama bemukin ? 

Selanjutnya dari mana Raden Wijaya yang baru saja diampuni setelah menjadi pelarian begitu lama, sampai ke Madura, mendapat pasukan yang cukup untuk menyerbu pasukan laut Mongol meskipun sedang berpesta  mabok mabokan.  Saya kira perilaku  ini tidak mungkin dikerjakan oleh  Robin Hood yang manapun, karen mereka tahu bahwa pasukan yang  menjelajahi negara asing pasti sangat waspada, boleh berpesta pora,tapi pasti dibawah penjagaan yang ketat dan ditempat yang pengamananya boleh diandalkan, jadi Raden Wijaya harus mwngerahkan bala tentara yang besar, dari mana ?
              Ini kok seperti upaya pembunuhan karakter pada pendiri Kerajaan yang menaklukan Nusantara dalam kurun  waktu yang singkat. Dalam dongeng, tambo maupun cerita banyak pelecehan karakter atau pelecehan tokoh musuh, beredar lama sesudah jadi legenda, seperti bertemunya tokoh Hang Tuah dengan Gajah Mada di bumi Malayu, atau Gajah Mada adu kerbau di ranah Minang, yang sebenarnya tidak pernah terjadi.
    
Setidak tidaknya dalam fantasi saya suatu kejadian itu harus cocok hubungan causalitasnya dengan peristiwa yang mendahuluinya, seingga  menciptatan ceritera yang tidak mengganjal  pemikiran.
Sebenarnya, supaya  mudah dibaca urutan cerita nya jadi:
1. Tempat lahir dan pendidikan Gajah Mada.  Pada tulisan berjudul Dongeng untuk cucuku, termasuk disini tulisan “Dapur Istana ada ditengah hutan” dilanjutkan dengan segala cerita mengenai wilayah antara  Sidayu sampai Probolinggo  pelayaran dengan pertemuan dengan bajak kaut dari Sampang misalnya, Keadaan di perjalanan antara Probolinggo sampai pantai Pasirian tempat pengecoran keris Majapahit yang memang hasil cor besi tuang canpuaran bubuk  bijih  mangan, yang jadi pamor berwarna hitam. Digambarkan dngan jelas dalam kakawin kronik perjalanan raja Hayam Wuruk keliling Wilayah Jawa Tengah dan Jawa Timur olih Mpu Prapanca didalam kropak "Negarakertagama" pupuh delapan bahwa gerbang komplex keraton Majapahit disebelah utara dibuat dari BESI. ram berukir indah ( wrought iron seperti rangka kursi taman zaman sekarang) sedangkan wrought iron ini adalah proses lanjut dari besi cor- pig iron yang menjadi keris Majapahit.
 2. Tempat Raden Wijaya di didik dan hasil pendidikan raden Wijaya, disini saya masukkan pelajaran budaya Jawa asli yang ada juga di Bali, tertulis di buku dari Bali “Kandapat Sari” yang menguraikan kepecayaan Jawa “ Dulur Papat Kalimo Pancer” yang lahir bareng si jabang bayi,  jadi kepercayaan sebelum Hindu, yang anehnya di Bali kepercayaan ini  memang nge-claim dapat mengalahkan efek  ilmu gaib yang putih maupun yang hitam, maupun Dewa Dewa Hindu asal ada pada posisi yang benar, dan kajanaprya, artinya unggul.
3. Raja Singhasari  Baginda Kartanegara, yang terbunuh oleh serangan kilat sang Jayakatwang seorang Raja dari Kadiri. Dalam tulisan “ Sisi gelap Kedhaton Singhasari. “ dan  “ Sinoman wangsa Girindra di Singhasari”
4. Jayakatwang menurut versi saya dalam tulisan “Jayakatwang”  “Persiapan Penyerbuan Singhasari”   “Pahitnya empedu dalam kemenagan”  dan  “Kutukan Ni Ratri”. 
Memang banyak prasasti yang menyebut Nama Jayakatwang sebagai kerabat Girindra yang saling bertalian perkawinan yang menghasilkan tokoh Jayaktwang, tapi, penyerangan yang tidak kenal malu dan tidak kenal ampun ini apa layak dilakukan oleh mereka yang berkerabat ? 
5. “Pelarian Raden Wijaya”  sebagai  hasil dari penyerbuan sang Jayakatwang.  “Aria Wiraraja” , “Tumenggung bebeteng Praja” dan “Kutukan Ni Ratri”   dan “Jatuhnya Jayakatwang, kekosongan kekuasaan di bhumi Mpu Sindok” dan “Wilwatiktapura kota merdeka” Pengarang mengurutkan kejadiannya yang paling mungkin terjadi., bukan yang diriwayatkan ratusan kali ya itu itu saja.
Untuk selanjutnya,  konstruksi perahu model Madura itu memang  demikian, dan kemungkinan besar, kemudahan untuk bermanuver itu memang jadi ciri perahu perang Majapahit  untuk menaklukkan pantai pantai dan tepian sungai besar, dengan  dua laras meriam kecil di anjungan, sehingga dengan mudah masuk ke padalaman sungai sungai di Sumatra maupaun di Kalimantan atau di kepaluan Riau, dan menaklukkan kubu kubu perttahanan para penguasa kuala atau pantai dan selat. Sehingga dalam waktu singkat Sumpah Palapa di realisasikan.
Diceriterakan mengenai peleburan bijih besi dari pasir besi, Batu kapur (CaO) dan  batu mangan (MnO) maupun belerang  (S) yang disini mudah didapat,  selanjutnya di lelehkan dan menghasikan “pig iron”, yang sudah ada di kebudayaan Campa/Vietman pada zamam sebelum Masehi di kebudayaan Dong song,  yang bisa diwariskan pada zaman zaman berikutnya, yang karena kemudahan membeli besi yang sudah jadi, kepandaian melebur besi ini jadi musnah, di pulau Jawa.
Hanya, perkembangan peleburan bijih besi dari pasir besi memang perlu arang dari tambang di Sukadana (Kalimantan) dalam jumlah besar untuk melelehkannya. Dikemudian hari peleburan besi dari bijih besi jenis lain (limonit,atau laterit) dari Luwu Sulawesi menggantikan bijih besi dari pasir besi, karena bisa mengurangi kebutuhan arang/batu bara dan kualitas lelehannya tidak terlalu gampang patah.
Mestinya kota kota penting di Nusantara sebanarnya bukan kota “benteng”, sebabnya sulit diterangkan, mungkin karena pemeliharaan kavaleri/pasukan berkuda  memang sulit dan mahal diwilayah tropic ini karena penyakit, lain halnya dengan di tepian gurun seperti di China  atau di India, merupakan pinggiran gurun besar,  padang rumput, memang habitat bangsa  Kuda  ( genus  Equus -Tarpan)  Sampai sekarang disini masih ada wabah penyakit kuda “ bolor”  (Malleus) yang mematikan secara masal sulit dikendalikan. jadi betapa sulit mengumpulkan pasukan berkuda. 
Jadi gerakan barisan tentara  infanteri secara besar besaran selalu dapat dipantau oleh calon musuh kota kota tujuan penyerbuan dan dapat diupayakan perlawanannya. dibandingkan bila pengumpulan pasukan kavaleri ini cuma pada waktu singkat, umpama lima tahun masih masuk akal, sesudah itu jadi sangat sulit.
Relanjutnya, mengenai pelaksanaan “sumpah Palapa” yang mengherankan, masak nama nama hunian dijalur pelayaran dari Atas Angin ke tempat dagangan rempah rempah dihasilkan, semua dipinggir pantai Kapulauan Nusantara, tempat tempat itu ditaklukkan dalam satu watu tidak lebih dari 40 tahun saja. Tanpa menyebutkan andalan apa alat perang  yang dipunyai Majapahit waktu itu, mestinya satu armada, dengan meriam kecil sesuai dengan kain layar yang mampu mendorong armada itu,  bukam infanteri bukan kavaleri.
Apakah salah bila saya bayangkan, bahwa konstruksi perahu Madura memang mudah dikendalikan, baik layar maupun arah haluannya, karena konstruksi lunasnya merupakan  sabut kelapa yang tentu saja sangat mudah berputar diatas air, ditambah dengan factor X, yaitu dipakainya Kalantaka, atau rantaka atau lela di anjungannya. Meskipun tidak ada bukti apapun secara material tentang adanya senjata jenis tersebut yang  kemudian sesudah perang penjajahan orang Eropa memakai canon dan  demi kanon, culverin yang dinamakan meriam dalam bahasa Melayu kemudan Bahasa Indonesia. Tapi anehnya meskipun nama asli senjata andalan tersebut sudah diganti, masih ada "kata" yang  hidup sampai sekarang  dalan pengertian “meraja lela",  "berantakan", " luluh lantak", "meriam lantak", "emas lantak"  yang menggambarkan peleburan  pencairan dan pencetakan logam, atau besi atau perunggu atau  emas, atau gambaran akibat dari dipakainya  senjata ini,. Sebab semua tahu apa yang dimaksud bila orang mengatakan lela,  rantaka, kalantaka tanpa menyebutkan meriam didepannya.  pemakai bahasa Melayu sudah mengerti apa maksudnya. Kenapa nama senjata ini lambat laun diganti dengan meriam ?  Kata ini ada setelah orang Eropa berdagang sambil menaklukkan wilayah orang Melayu dan Nusantara dengan senjata ini, seolah olah hanya monopoli mereka, sehingga orang Melayu di Nusantara hanya mengerti arti kata lela, rentaka, kalantaka, lantak  bila dimukanya diberi tambahan kata meriam yang entah dari kata apa. yang jelas itu senjatanya mereka, kita tidak pernah punya, itu tujuannya, susah payah menghapus nama asli lela dan kalantaka atau rentaka.
Bukankah ada upaya untuk menhapus ingatan bahwa Bangsa ini pernah menggunakan senjata yang ampuh dengan misiunya sekalian yang kita mengerti sebagai campuran antara bubuk sendawa, bubuk arang, dan bubuk belerang dengan perbandingan tertentu yang didapat dari resep China untuk mebuat petasan ?
Tidak heran bahwa pada tahun l810 – 1823 seorang Pangeran dari Madura Raden Sugandi  ahli sastra Jawa dan empu membuat keris pada masa mudanya, kamudain diangkat jadi Susuhunan Surakarta Pakubuwono ke V, menghimpun  “serat Centini”  satu almanac Jawa yang komplit pada waktu itu.
Susuhunan intelek ini pasti penasaran bila membaca catatan perjalanan zaman Raja Hayam Wuruk, raja keempat dari Majapahit, kakawin Negarakertagama yang jelas dimiliki Kratonnya. Menjelaskan bahwa komplex karaton Majapahit dikelilingi tembok kokoh dan gerbang utara Kedaton itu dipasang pintu besi ram berukir indah. Beliau pasti penasaran dari mana didapat besinya sebanyak itu?
 Meneliti peninggalan pusaka *kalantaka" kraton yang sudah rusak, sepenggal meriam kuno yang pecah ketika dipakai perang tahun 1740, berdalih membuat keris dari pecahan senjata itu ( waktu itu sudah dinamakan meriam), siapa tahu  dasar senjata rusak itu yang kemungkinan pehinggalan Majapahit, karena bahannya sama dengan keris peninggalan zaman itu yang konon dibuat sengan melelehkan bijih pasir besi dengan bubuk batu mangan , yang tentu saja bisa melengkapi perahu perahu perang Majapahit, untuk memenangkan Sumpah Palapa Mahamantri Gajhah Mada.  Siapa tahu bahwa sang Pangeran intelektual ini berusaha tahu bagaimana meriam itu dibuat dari besi macam apa untuk memuaskan jiwanya dalam menghormati tanah air dan  nenek moyangnya, yang MUNGKIN BARANG PENINGGALAN INI TINGGAL SATU SATUNYA,  sebab yang lain telah dirampas oleh Belanda dan dilebur menjadi meriam mereka.  Dia pasti tahu bahwa senjata ini kalantaka berasal dari bahan dan proses  yang sama dengan keris peninggalan Majapahit yang besar besar seperti pedang pendek orang Romawi, sekarang masih banyak dipakai di Bali, berciri  keras dan  bisa patah, sering gagangnya di cetak bersama dengan bilahnya.  Sedang keris bikinan zaman berikutnya dibuat dari besi dengan kandungan mangan rendah ditambah  kandungan carbon dan diberi pamor batu meteor besi nikel,  menyebabkan bilahnya bisa melengkung sifat dari besi baja. Kecintaan pada kakek noyangnya dan tanah airnya yang telah mampu mencetak lantaka atau rentaka dan lela sebagai senjata andalan telah menyadarkan  pengikut generasi berikmya Pakuibuwono ke VII  mendukung Pemberontakan Pangeran Diponegoro yang berakhir dengan dibuang dan dibunuhnya beliau di Ambon, sekarang diangkat secara  anumerta sebagai Pahlawan Nasional. *)

MENGENAI MAHAPATIH GAJAH MADA :
Gajah Mada adalah lurah  bhayangkari atau kalau sekarang dia adalah komandan lapangan Pasukan Pengawal Raja, mungkin setingkat Kapten Pasukan Pengawal Raja, Kerajaan Majapahit yang masih sangat muda, malah yang ada duluan adalah sebagian dari rencana kota pelabuhan sungai Wilwatiktapura, sebelum Raden Wijaya jadi Raja dia yang membangun Kota ini.

Pendiri Kerajaan Majapahit, Pangeran Wijaya, melewati waktu waktu yang sangat genting dengan melarikan diri dari serbuan mendadak yang sangat berhasil dari kerajaan Kadiri, sehingga  sang mertua Raja Kertanegara terbunuh  dan kerajaan Singhasari jatuh.

Besar kemungkinan seorang pemuda anak seorang Brahmana  gryasta (Brahmana yang membina keluarga)  dari desa Mada ini. Kini jadi kota Kecamatan yang sampai sekarang masih dengan nama yang sama,  terletak dilereng pegunungan kapur Kendeng kearah selatan kira kira sepuluh kilometer dari kota Babat kabupten  Lamongan pinggiran Bengawan Solo.

Mada desa ditengah hutan yang sejak dulukala sudah ditanami tegakan kayu jati ( Tectona grandis  L - teak wood) bercampur baur dengan tegalan dan kebun,  kelebihannya dari lokasi lain,  Desa Mada terletak dilereng landai menghadap ke Bengawan Solo, terpotong potong oleh anak sungai ke bengawan Solo yang lurus dan licin mengalir ke utara sepajang lereng pendek ini, licin karena tanahnya liat.

Hutan selebar lebih kurag sepuluh kilometer dan sepanjang lereng utara pegunungan Kendeng dari Pamotan (sekarang Lamongan) sampai dengan perbatasan Rajegwesi (sekarang Bojonegoro) sebelah timur adalah hutan dengan tegakan jati yang menjanjikan karena cukup luas, mengandung tegakan jati yang ditanam semenjak zaman Pemerintahan   Paduka Erlangga dengan lereng landai memanjang menghadap ke bengawan Solo.

Seorang Brahman gryasta tinggal didesa ditengah hutan, adalah satu yang tidak biasa. 
Sebab lebih mungkin  sang Pedeta gryasta ini ada di desa desa sekitar asram di wilayah tanah pertanian berpengairan, sebagai pengendali pembagian air, pengelola candi, asram dan bangunan suci, sebagai pemimpin pemeliharaan  sistim saluran air pengairan. Lain halnya sengan
 Brahmana  gryasta ini, dia adalah Adminisrtator dari tanah Perdikan bertanggung jawab untuk memelihara ratusan sapi zebu, besar dan berponok didatangkan langsung dari Benggala, harus dibiakkan secara murni, demi kekuatannya menyeret gelondong jati, bukan mengepalai asyram atau mengelola dan membagi air pengairan  beberapa Kelian Subak ( di Bali Ketua pengairan tingkat desa), atau menjabat sebagai Kelian Subak sendiri, dibawah Mpu Sedahan. 
Brahmana Kerajaan  urusan Pengairan dan pajak  (di Bali masih ada jabatan Sedahan Agung hingga kini   membawahi semua subak pengairan disatu wilayah, lembah beberapa sungai).

Seorang Brahmana  turun temurun  mempunyai hak untuk  membaca Kitab Weda, dan tentu saja kitab kitab yang lain, yang pasti bisa membaca dan menulis bahasa Jawa  kuno maupun kekawin dan sloka bahasa Sansekerta mereka mahir.

Gelondong  jati yang tanpa cacat dan lurus,  makin panjang makin baik mungkin panjangnya lebih dari  lima  meter hingga  belasan meter dengan umur lebih dari 80 tahun,  jati  diameternya hingga kurang lebih 70 cm, sangat dicari  oleh pembuat perahu perahu besar untuk pelayaran samudra, karena kayu jati sangat tahan terhadap cacing laut yang merusak perahu perahu besar pelayaran samudra membuatnya tidak aman dalam pelayaran yang makan waktu berbulan bulan.  

Gelondong jati ini sangat dibutukan di galangan perahu  besar disepanjang bengawan Solo, ada model  dhow Persia,  perahu  besar bercadik model teluk Benggala, perahu ini meskipun besar tapi harus dipasang cadik kiri kanan karena untuk menjaga kesetabial perahu  yang mestinya berat diatas karena bobot dari layar yang besar, seperti yang tergambar di dinding candi  Boobudur  ditingkat  Rupadatu. 
Kala itu sudah mulai jarang dibuat karena model mempunyai banyak kelemahan, antara lain  boros kayu dan kurang laju, layarnya lemah karena tidak mungkin dibuat lebih besar, apa di lagi, mengingat bahan kainnya dari serat kenaf yang berat., 
Sebagian besar  model jung dari  Cina, dengan ukuran super besar karena nanti dapat dipasang layar dari sutra yang ringan dan kuat dan model  konting dari  pantai  Utara Jawa,  beberapa pandega dari Bugis  memimpin pembagunan perahu model pinisi dan model lombo dari Sulawesi yang labih besar karena layarnya dari sutera yang di Sulawesi sudah dikembangkan ada banyak galangan perahu sepanjang tepian Bengawan Solo sampai daerah Sidayu.  

Perdagangan gelondong jati untuk perahu pelayaran samudra,  merupakan penghasilan Kerajaan yang diandalkan, karena hasil hutan yang ini  adalah milik Kerajaan dan dikuasakan kepada para Bahupatti.

 Pekerjaan sulit   adalah membawa gelondong gelondong ini  sampai  ke sungai  urat nadi pelayaran, mulai dari mencari tegakan yang baik kualitasnya,  mengeringkan dengan mengupas kulit pokok jati, kemudian menebang dan menyeretnya ke sungai besar hingga sepuluh kilometer atau lebih, menuruni  lereng  berhutan dan semak,  sungai sungai kecil,  menyeret  dengan tenaga sapi sapi  Zebu, sapi besar berponok  didatangakan khusus dari Benggala.  

Sapi sapi ini dibiakkan secara murni dan  teliti ginealogynya  oleh Brahmana yang berwajib,  tali temali dari kenaf (konon nama ini dlam bahasa Parsi) nama latinnya Hibiscus cannabinus,  tanaman serat  yang dibudidayakan dirawa rawa berasal dari teluk Benggala ( sekarang Bengladesh ) dan rotan  yang  dipilin sebesar lengan orang dewasa, maupun rantai rantai besi, semua disediakan di  Perdikan Mada.

Setiap hari puluhan sampai ratusan orang membawa tongkat tongkat kayu kekar dan panjang dari kayu walikukun yang  padat dan liat, sangat berguna untuk pengungkit,  segala alat penggali tanah dan pemotong kayu, juga setiap orang membawa kelewang dan mata tombak  seperti akan perang, berangkat dan pulang ke pakuwon Mada. 

Mereka bekerja di hutan  berhari  hari, sampai beberapa bulan, berbekal  beras merah,  garam   kacang kacangan dan tuak,  juga  dupa  dan soma  (candu), soma ini sangat penting  untuk membujuk para makhluk halus  yang menguasai  pohon pohon besar, batu dan  lubuk  disungai sungai  agar tidak mengganggu perkerjaan menyarat  gelondong  kayu jati yang sangat berat dan berbahaya ini.  
Paling sedikit bau  soma terbakar yang khas  bisa menenteramkan para  pekerja  dan sapi  sapi zebu !  
Selain itu mengandalkan  hasil hutan, dedaunan, umbi umbian dan binatang buruan kijang dan babi hutan, landak dan pelanduk,  ular sanca, madu, ulat kayu, kepompong  ulat  jati,  larva lebah hutan, belalang,  ayam hutan  cendawan bila lagi musim semua enak dimakan, lebih lebih setelah seharian kerja berat, hanya air kadang kadang harus dicari dari tempat yang jauh bila penyaratan gelondong jati dilakukan di musim kemarau. 
Pada musim kemarau tanah menjadi keras penyaratan gelondong gelondong besar mengandalkan roda bantalan kayu bulat yang diatur melintang sepanjang gelondong dan kayu bulat ini juga didukung oleh  bantalan kayu rimba semacan rel  sepanjang “jalan” yang    direncanakan. 

Disinilah diperlukan kecerdasan dan ketegasan mengambil keputusan untuk menggunakan  wilayah lereng pegunungan Kendeng, disini “jalan” lurus belum  tentu menjadi pilihan, sebaliknya jalan melambung dengan  pendakian ringan kadang kadang merupakan pilihan yang tepat,  disamping pertimbangan pemilihan lintasan yang tidak terlalu banyak  mengorbankan tegakan jati yang belum siap di panen,  juga  menghindari  arah  yang akan bertemu  dengan rintangan yang sulit, yang harus diupayakan adalah mencari arah lintasan dengan lereng yang panjang dengan sedikit rintangan dan kelokan tajam, menjadikan penyaratan lebih “ringan”. 
----------------------------------dapur istana ditengah hutan jati-------------------
Daerah Mada dengan lereng landai sepanjang kurang lebih sepupuh yojana ( sehabis kekuatan mata memandang orang berediri dikaki langit) memberikan “jalur” relatip mudah untuk upaya penyeretan gelondong gelondong yang besar  dan panjang dengan berat puluhan ribu kati,  karena banyak anak sungai kecil kecil yang kelokannya tidak telalu tajam atau kelandaian lereng yang baik hingga tepian sungai di Babat, dibantu dengan tanah hitam yang liat dan licin pada musim hujan,  disitulah letak pakuwon Mada, sedangkan tegakan jati disekitar situ masih puluhan ribu batang. 

Jadi mestinya tidak mengherankan bila desa Mada merupakan sentra pemeliharaan sapi sapi besar perponok dari India  sapi Zebu yang jumlahnya ratusan,  maka diperlukan seorang Administrator yang handal untuk upaya exploitasi hutan jati ini, sekaligus memelihara kesehatan sapi sapi  khusus  milik kerajaan, termasuk mengembang biakkan hewan yang sangat berharga ini.  Tentu saja tepat sekali apabila seorang Brahmana gryasta menjadi Pandega, ayahanda pemuda Gajah Gombak, Mpu Curadharmayogi 

Pemuda gempal ini menyelempangkan tali kebrahmanan menyilang dadanya, sudah mampu merencanakan jalur penyeretan gelondong jati besar besar, memimpin mengendalikan ratusan tenaga yang merupakan satu team dengan puluhan sapi sapi zebu.

Perkenalan putra Mpu Curadharmayogi, sang Pandega,  dengan sosok misterius yang bekerja di galangan perahu besar jung cina di tepian Bengawan Solo adalah wajar, ternyata kakek  Bangkong  (begitulah para penghuni tepian Bengawan  menjuluki  kakek baik hati ini) adalah pendekar kungfu aliran Butong ! . Sampai sekarang ada desa dekat Babat tepian bengawan Solo yang namanya Widang, mengingatkan kta pada nama Wu Dang atau Bu Tong satu aliran silat gi Negri Cina merupakan cabang dari  aliran silat Siau Lim.
Memang dari usia belasan tahun pemuda putra Brahmana dari Mada ini menjadi murid kakek Bangkong.  Anak laki laki  tanggung ini berlatih ilmu silat dan kungfu dengan dasar  keteguhan otot , ketajaman naluri dan  latihan pernafasan dari Butong,  yang intinya  secara bertahap dan hati hati  mempersiapkan seluruh  fibrasi  hidup  untuk beresonansi dengan   energi fibrasi dari  alam dimensi yang lebih tinggi,  

Melatih pernafasan, renang di Bengawan Solo bisa sangat membantu upaya ini dengan bimbingan kakek Bamgkong.  Meneguhkan kuda kuda denga rakit yang digoyang oleh sang Guru, bersamadi memang hasil  gemblengan  sebagai anak Brahmana. Dari hasil latihan ini Gajah Gombak mampu  mengirimkan suara hingga didengar sampai satu yojana.

 Ciri khas kungfu alirang Butong pada tingkatan  atas adalah penajaman naluri dan harmoni seluruh otot otot badan sehingga  aliran tenaga murni dapat secara efisien mendorong gerak refleks secepat kilat berkesimanbungan dan diluar kemampuan gerak otot orang biasa, bahkan diatas rata rata pesilat dan akhli kungfu yang terikat pada pengolahan otot untuk melakukan jurus jurus silat.   

Inti sari umum  semua aliran persilatan adalah mempersiapkan arah tenaga pukulan maupun tangkisan dan kecepatan berkelit yang dibebankan pada otot tertentu  seperti  umumnya  pegangan pokok aliran aliran persilatan.   
Aliran Butong pada dasarnya tidak terikat pada jurus jurus, hanya latihan dasar saja yang menggunakan jurus jurus umum, menjaga titik penting tubuh sambil membalas serangan dari semua jurusan, seluruh  badan panca indra dan indra keenam dilatih secara luwes melakukan dengan tenaga yang terkendali oleh gerakan refleks, pada kemampuan yang sudah tinggi mampu menghantar seseorang pesilat untuk mendayagunakan resonansi dengan fibrasi alam dimensi tinggi  sehingga tenaga yang dipusatkan pada dorongan, pukulan dapat sampai ke sasaran jauh lebih cepat dari kontak yang sebenarnya. 
Juga mampu membelokkan arah tenaga lawan yang tersalur lewat mata pedang tajam  dan mata tombak sambil secara refleks menggeser  bagian tubuh yang menjadi sasaran beberapa millimeter hingga eneginya lewat  atau membuyarkan tenaga  hantaman benda tumpul sebelum sampai ke sasaran dengan keluwesan.  
Begitulah, apakah kemudian Lurah Bhayangkari Majapahit sang Gajah Mada yang ternyata  berhasil menyelamatkan Rajanya dan menggulung komplotan makar Waraha Nambi, Lembu Sora, Kalabang Kuti yang ditakuti ini,  mampu melatih dirinya hingga jadi pendekar tingkat tinggi, sangat diliputi kabut rahasia, yang jelas sebagai seorang Brahmana, seperti juga  para Pendekar Siaulim dan Butong yang pemeluk agam Budha,  taat pada pantangan  membunuh dan berkelahi.  

Yang kemudian terbukti, Laksamana Armada Majapahit, selalu menyertakan perahu perahu cepat berlambung ramping sepasang dihubungkan dengan geladak layaknya “katamaran” digunakan khusus untuk menyelamatkan  prajurit laut yang  parahu perangnya karam, baik lawan maupun kawan, ini perintah khusus dari  Rakryan  Manggalayudha Gajah Mada.   

Pegaulan pemuda Gajah Gombak, anak Brahmana gryasta, Pandega  penyaratan gelondong jati dari pakuwon Mada. dengan masyarakat campuran di tepian Bengawan Solo sangat berguna kemudian, perkenalan secara kebetulan dengan pasangan suami istri bangsa Han dari negeri Cina.  

Kemahirannya berenang pemuda Gajah Gombak telah neyelamatkan seorang bocah yang nyaris ditelan olakan pusaran Bengawan Solo sewaktu tembonya (perahu kecil dari sebatang kayu yang lubangi sepanjang lebih kurang tiga depa) terbalik karena menerjang pusaran air yang cukup besar disekitar kedhung  ( lubuk ) bengawan Solo. 

Pemuda dari Mada ini berenang sekuat tenaga menggunakan gaya ikan lumba lumba sewaktu tubuhnya melesat diatas ombak olakan layaknya ikan lumba lumba,  sambil  memantau dengan cepat kemana bocah ini dihanyutkan oleh olakan yang ada sekitar seratus hasta di depannya.  

Kemudian merubah jurus renangnya dengan gaya ikan hiu meluncur  tanpa suara kecipak air, bahkan tidak ada percikan air dari gerakan jurus renang ini, hanya gerakan lengan kiri kanan secepat baling baling jantera menandai luncuran  perenang sebagai anak panah sehasta dibawah air. 
Tepat pada waktunya  leher bayu bocah nahas ini di raih sebelum tubuhnya dihisap pusaran air. Sang penyelamat segera berganti jurus berenang terlentang sambil menumpangkan kepala si bocah cina ini di dadanya sementara itu tenaga tendangan kedua kakinya yang dilandasi kemahiran kungfu sangat kuat disertai keluwesan ikan sembilang  dengan tangan kanan mengayuh sekuat tenaga  sambil mempertahankan keluwesan balalai gajah mina, maka kedua insan in mampu keluar dari  olakan air yang sangat berbahaya dan berenang ke pinggir disambut dengan isakan kelegaan  seorang ibu. 
Pasangan keluarga cina  yang juga bermukim sementara ditepian Bengawan Solo.
Singkatnya cerita, ternyata pasangan suami istri cina suku Han ini ahli melebur logam dari bijihnya, tembaga, timah putih  dan besi, juga logam capuran seperti kuningan, mereka  sedang mencari urat tambang batu kawi atau bijih mangan, masuk pedalaman pulau Jawa lewat bengawan Solo.

Gajah gombak juga memperkenalkan suami istri marga Yap ini kepada kakek Bangkong, mereka segera menjadi sahabat yang saling cocok.
Entah apa yang dilihat oleh orang marga Yap ini sehingga mau membeberkan keahliannya melebur logam kuningan yang hampir semua undagi sudah mahir,  kepada pemuda Gajah Oling ini, terutama keahlian yang saat itu masih langka yaitu melebur besi dan mencetataknya. 
Sedangkan batu kawi (sekarang bijih Manganese yang mengandung unsur Mn kurang lebih 50 %) digunakan untuk menghilangkan keropos atau gelembung udara dari besi tuang  dalam proses pembuatan meriam besi tuang yang lebih kuat dan dengan kaliber yang sama  lebih ringan dari meriam kuningan atau perunggu, karena jauh lebih tipis.  Sedangkan harga perunggu lebih mahal dari besi tuang. 

Kedua suami istri ini berusaha menjadi pengumpul batu kawi untuk dikirim ke negeri Cina di pelabuhan  Teluk Tonkin, tempat marganya mengusahakan peleburan logam, yang saat itu berusaha mencoba membuat usaha peleburan besi tuang
Bagaimana pemuda Mada ini tertarik pada peleburan besi tuang, bisa dimengerti bahwa penyaratan gelondong jati yang beratnya mencapai ratusaan ribu  kati ini memerlukan rantai rantai besi yang ditempa dari besi yang tidak keropos liat seperti baja masa kini
Atas restu ajahanda Mpu Curadharmayogi, gajah Gombak diizinkan ikut expedisi pencarian urat tambang batu kawi  atau batu mangan dan sekaligus belajar menuang  besi cair menjadi perkakas.
Petualangan bersama keluarga Yap berjalan hampir lima bulan, hingga musim hujan tiba, dengan tambahan bekal dana dan tenaga penyerta duapuh pemuda kuat dan bersemangat  dari Pakuwon Mada  ditugaskan mengiringi expedisi ini oleh  ayahanda Mpu Pandega Mad dengan rstu dari Mpu Curadharmayogi.. 

Atas petunjuk Mpu Pandega, perjalanan berbalik ke selatan Gunung Mahameru, dimana para Mpu pembuat keris melelehkan pasir besi dan mencetaknya menjadi keris, jenis keris ini  kemudian dikenal dengan keris Majapahit, dari besi tuang  (pig iron ) yang keras tapi getas artinya mudah patah, dengan ciri panjang dan tebal  layaknya  senjata perang brubuh,  saat itu sudah dituang dicampur butiran  batu kawi yang mrupakan “pamor” berwarna hitam dan kris nampak basah, yang mampu mengurangi sifat getas  atau mudah patah ini (mungkin lebih kuat karena berkurangnya gelembung udara).  
----------------Gajah Gombak belajar karakter/huruf Cina-------------------------
Baru ratusan tahun kemudian dikenal pembuataan keris dengan pamor batu meteor nickel yang berwarna perak,  diperkenalkan oleh para wali agama Islam seperti sunan Giri  Prapen. Suedah Sudah pada abad ke 15 - 16
Rupanya kepandaian ini diwarisi dari pembuat senjata baja dari Damascus ( Damascent steel)
Pantai selatan Lamajang memang sangat ideal untuk pengerjaan melebur pasir besi, disamping  letaknya  yang langsung diatas hamparan pasir besi, angin timur yang kencang dan bertiup tanpa berhenti dibulan bulan Ketiga hingga Kesanga, angin ini sengaja dipergunakan untuk membantu meniupkan udara ke rongga tungku pembakaran. 
 Tungku peleburan yang dibuat dari gerabah tanah liat putih beranpur pasir bintang yang lembut (sekarang kaolin dan pasir kwarsa) mampu melebur 30 hingga 50 kati pasir besi, memang kecil.

Mulut tungku yang melebar dihadapkan ke timur menentang angin, dan dari samping selatan dan utara ada lubang untuk pipa “ububan” yaitu pompa untuk meniupkan udara kedalam rongga pembakaran. Bagian bawah tungku yang lima kali lebih gendut dari bagian atas tungku tempat pasir besi melebur, diisi dengan arang kayu walikukun,, arang kayu kosambi kayu santigi dan arang kayu kamboja , batu bara dari Sokadana ( batu bara Kalimantan)  dan meberapa jenis kayu yang keras dari hutan pantai pegunungan kapur, dibagian atas berisi lapisan pasir besi ditaburi bubuk batu kapur bergantian dengan lapisan  butiran batu arang dari  Sokadana ( sekarang Kalimantan), diatur berlapis lapis sampai beberapa hasta,  Pasir besi akan meleleh menjadi besi tuang beberapa puluh kati. 
Pada puncak  musim angin  timur, semua tungku peleburan dinyalakan dan akan menjala selama beberapa hari diiringi dengan pujamantra dan ububan dari dua jurusan yang meniupkan udara terus menerus siang malam sampai  ratusan kati arang yang diatur dengan bijih pasir besi dan batu kawi  habis terbakar, menghasilkan cairan besi  yang nyaris tak bebusa ( rongga)  
Beberapa saluran dari grabah yang berisi besi cair dipecah  diujungnya dengan hati hati disertai suara berat puja mantra, cairan logam yang memijar mengalir kebawah di isikan dalam cetakan pasir halus memanjang diatur diatas papan panjang,  cetakan keris dengan berbagai bentuk dan ukuran. 
Tungku peleburan pasir besi yang lebih besar tidak mungkin dgunakan karena dinding tungku gerabah semacam tempayan  yang tinggi dibawahnya ada lubang besar untuk angin masuk didua sisi yang lain ada lubang dengan leher sejengkal untuk sambungan dengan pipa ububan ( pompa) dari dua jurusan, gerabah dari lempung putih ini sulit dbuat dan diangkut apabila ukurannya besar. 
Begitu pula makin besar harus makin tebal, sangat sulit dibakar menjadi bejana atau tempayan untuk peleburan pasir besi. 

Expedisi pertama dari rombongan kecil keluarga Yap dan orang dari Mada sudah brhasil dengan baik. Hanya selanjutnya kelurga Yap pindah ke hulu Sungai Brantas, mendekati urat batu kawi yang dicari cari, selanjutnya puluhan marga  Yap dan Go ikut usaha mengumpulkan batu kawi, mengirim dengan jung jung besar dari Terung dan Ampel Denta muara sungai Brantas ke pelabuhan di Cina selatan.

Pada satu saat nanti, saat Gajah Mada sudah menjadi Manggalayuda Bhayangkari Raja, dua belas tahun sesudah saling berpisah dengan keluraga Yap yang kemudian tinggal di Kadiri, Suadagar logam dan undagi Yap menemui Gajah Mada di Wilwatiktapura, singkatnya dengan bersemangat Undagi Yap mengabarkan bahwa dia pernah ke Sokadana disana ada undagi tembikar tempayan dari lempung putih yang mampu membuat tempayan tempayan besar yang kokoh menggunakan tungku pembakaran naga. 

Ide kedua sahabat ini sama, bagaimana bila tungku peleburan pasir besi ini di pisah jadi tiga bagian dan di buat di Sokadana untuk kemudian dipasang lagi di dataran yang berangin besar di Probolinggo, dan di Kling tepi sungai Brantas, pasir besi  diambil   dari Lamajang, kayu walikukun dan kayu keras sebangsa  kosambi mudah didapat, sedangkan batu kawi sudah tersedia dengan mutu yang bagus dari pegunungan kapur selatan Kadiri

Sang Manggalayudha Gajah Mada tidak sulit mendapatkan dukungan dari Paduka Prabhu Nata Jayanegara, terutama ibu Suri Gayartri tiga bulan sesudah pertemuan kembali dengan Undagi Yap, tungku peleburan sudah terpasang di dua tempat. 
Sebulan sesudah tungku besar yang bisa meleburkan duaratus kati pasir besi sudah bisa dicoba, saat itu masim kering angin keras dari timur, berhari hari, dengan upacara dan pemercikan air suci oleh  Rsi kasyaiwan tungku peleburan dinyalakan ububan dari  gulungan lempeng tembaga sebesar pokok kelapa delapan biji terus menerus meniup tungku menimbulkan kobaran api arang bergemuruh selama empat hari, setelah pipa tembikar dengan hati hati di lubangi sebesan kepalan, mengalirlah cairan besi membara kuning kemerahan kemilau ke cetakan pasir halus laras meriam dengan lubang peluru sebesar kepalan tangan orang dewasa lubang laras ini dibuat dari tembikar dipasang ditengah cetakan sekali tuang dua cetakan.

Undagi peleburan logam warga Yap tua telah mencoba berkali kali melelehkan pasir besi dengan mencampurnya dengan bubuk batu kapur dan bubuk batu kawi  dengan skala kecil an dia mendapat kesimpulan bahwa ada campuran dengan perbandingan tetentu dan ukuran butir butir bubuk batu kawi dan bubuk batu kapur sangat menentukan mutu besi tuang, yaitu hilangnya keropos, tidak boleh ada keropos  walau dedikit, cacat pencetakan  ini sama sekali harus dihilangngkan. 

Dari empat tungku peleburan yang sudah di siapkan buat dibakar, semua sudah dengan campuran pasir besi dengan bubuk batu kawi dan bubuk batu kapur dengan kehalusan seukuran  hasil percobaan yang terbaik, hanya tinggal berapa banyak bubuk batu kawi yang menghasilkan besi tuang paling baik, satu diantara empat tungku harus memberi petunjuk untuk pekerjaan mencetak meriam besi untuk dicoba menembakkan peluru yang sebenarnya.

Beberapa hari setetelah mendingin cetakan dipecah dan dua laras meriam kalantaka  menampakkan diri sempurna berwarna  hitam kecoklatan, tinggal menghaluskan permukaan laras didalam. 
Dari  pemeriksaan pertama dengan pukulan palu besi, tidak ada tanda tanda laras retak atau tercetak cacat keropos, begitu pula dengan pemeriksaan timbangan apung, setiap laras seberat seratus limapuluh kati, panjangnya dua hasta lebih lima jari. Kelompok kecil para undagi sangat bergembira saling merangkul dengan sang Manggalayudha Gajah Mada, malah undagi  Yap menitikkan air mata.

Manggalayudha Gajah Mada menyadari bahwa matahari telah menyingsing di muka bhumi Majapahit.

Dia membayangkan alangkah bahagia sahabat dan tuannya Raja Majapahit yang pertama sang Krtarajasa Jayawardhana, sebab pengetahuan beliau ketika masih menjadi sosok Pangeran pelarian di Madura, mengabdi di Kedhaton Sumenep kepada sang  Prabhu Patti Arya Wiraraja, belajar membuat perahu dari undagi Pandega galangan perahu di pantai Camplong. 

Bukan hanya memembuat, tapi juga mendalami pati sari rancang bangun perahu khas madura, yang dijelaskan kelebihannya dan kekurangannya kepada pengawalnya Lurah Bhayangkari Gajah Mada.
Gajah Mada memang sangat tergila gila dengan mahalela yang dia pernah lihat di geladak jung dari  pasukan Kublai Khan. 

Sayangnya meriam perunggu itu sangat besar dengan berat hampir tiga ribu  kati, berapa juta kepeng tembaga diperlukan  untuk membuatnya ? Sedangkan satu kepeng tembaga bisa ditukar dengan beras setengah beruk atau dua kepeng tembaga satu tempurung kelapa  beras !

Sekarang ditangannya laras meriam besi tuang kalantaka dengan peluru batu dibalut timah  sebesar telur angsa, bisa menembus lambung perahu di seantero kepulauan Nusantara, asal bukan jung dari Cina atau perahu besar bercadik dari Benggala, yang papan lambungnya tebal tebal. 
Atau peluru sebesar telur angsa ini diganti dengan petasan dibalut timah dengan sumbu   yang meledakkan petasan setelah ditembakkan  tigaratus depa ?

Dia ingat semasa menjadi Tumenggung bebeteng Praja di Tarik, Raden Wijaya brtutur bahwa beliau memperlakukan dengan baik seorang Perwira tawanan bangsa Uighur yang bergabung di Armada Tartar  beragama Islam, karena perilakunya sopan dan Perwira ini bekerja pada bagian obat pasang,  bubuk mesiu, atau pembakar petasan. Mengerti cara membuat garam sendawa dari kotoran kelawar dan kotoran ayam, 

Perbandingan dengan campurannya bubuk arang dan bubuk belerang. Setelah Prabhu Krtarajasa Jayanegara wafat,  Perwira Uighur ini masih mengepalai balai pembuatan petasan dan kembang api di Wilwatriktapura, Balatentara majapahit masih sangat sedikit dan mengandalkan persenjataan yang lazim, tombak, pedang,  keris dan perisai, baju zirah (yang ini sulit sebeb harus dikerjakan dengan besi berkadar karbon dan mangan rendah untuk bisa ditempa)  tidak ada kelebihan yang lain, mengandalkan kecepatan dan keberanian, terutama jumlah, keris Majapahit pejal keras dan panjang  layaknya pedang pendek, seperti prajurit Romawi.

Perang  laut mengandalkan pedang keris dan seligi (tombak yang dilempar), juga periuk api berisi nafta  yang dilemparkan untuk membakar tali temali dan layar.  
Selebihnya perang laut sangat mengandalkan jumlah dan keberuntungan oleh cuaca.

Prabhustri Tribhuanatunggadewi tahu betul bahwa Manggala Bhayangkari Kerajaan Gajah Mada, dalam banyak hal mengetahui betul betul pemikiran Pendiri Majapahit Ra Dyah Wijaya, yang  membayangkan  bagaimana seandainya  Kerajaan muda ini mengandalkan  kelincahan mengubah haluan perahu perahu Madura, digabungkan dengan meriam meriam yang dipunyai oleh jung jung Cina yang sayangnya berat sekali terbuat dari perunggu.  Sayangnya bukannya perahu besar itu tidak bisa dibuat, kayu banyak, tapi kain layar yang sebesar itu kuat dan ringan, wilayah ini belum bisa menghasilkan, jadi seandainya dipaksakan, perahu besar dengan layar ini akan terlalu membebani tiang agungnya, perahu besar ini berat diatas sehingga tidak stabil.
Dulu sang Prabhustri sering menyaksikan dan ikut mendengarkan pembicaraan dua orang muda yang bercita cita tinggi ini bewawan sabda sampai lupa diri,  mengenai perang laut yang mereka bayangkan berdua, solah olah mereka hanya dua sahabat dari mandala laut saja. 

Pertemuan dan pembicaraan yang sangat kental dengan kengetahuan dan pengalaman  ini terjadi tanpa rencana disetiap ada kesempatan ditempat yang sepi di bangku batu taman-taman istana, isyasat selalu disampaikan kepada Wira Bhayangkari ini untu bertemu sang Baginda. 
Dengan bekal  dan pengetahuan seperti ini tidak heran Manggalayudha Gajah Mada ketika dinobatkan sebagai Mahapatih pada Pemerintahan Prabhustri Tribhuanatunggadewi, berani mengucapkan Sumpahnya yang terkenal : “ Sumpah Palapa” yang ternyata terwujud sempurna dalam kurun waktu kurang lebih tigapupuh tahun. 
“Lamun huwus kalah Nusantara isun hamukti palapa, amun kalah ring  Gurun, Seran, Tanjungpura, Haru, Pahang, Dompu, Bali, Sunda, Palembang, Tumasik, samana isun amukti palapa” (*)


---------------------baca dan belajarlah------------------------------------------------------
Lanjutan dari dongeng ini adalah kegiatan para santri di Garowisi
Dilanjutkan dengan gambaran pertempuran laut, angkatan laut Masjapahit,
Perang laut antara armada perahu perang “Lancang” dari Melayu melawan armada Perahu Madura dengan dua laras “kalantaka” di haluannya, kemudian kalantaka ini berubah ucapan menjadi “lela” saja, diwilayah timur. 
Nama baru ini bisa segera dimengerti, seperti yang digambarkan  dengan kata ungkapan “meraja lela”. Untuk mandala laut Majapahit.
Ungkapan ini mengingatkan bagaimana aksi armada perahu Majapahit yang hanya tiga puluh perahu melawan armada yang menyemut dari perahu perang kora kora  nun dllaut Arafura.
Kelincahan merubah haluan dan kecepatan mengisi peluru kalantaka, telah memporak perandakan kora kora yang didorong oleh layar dan dayung ratusan prajurit, Yang tujuan utamanya menabrak dan m  enduduki perahu lawan, dengan kelebihan jumlah prajurit.*)

   

Rabu, 31 Juli 2013

1 INTERMEZO, INTERPRETASI SEJARAH


Susuhunan Kasunanan Surakarta ( sesudah pecah dengan kasultanan Jogjakarta) paku Buwono V adalah raja yang sangat terpelajar...... pneghimpun Almanac jawa Serat Centini yang sudah dicetak dalam huruf latin 12 jilid )
Konon, karya sang Sinuwun yang sangat dikagumi dikalangan empu keris Istana, diberi nama keris Kiai Kaget, mengherankan karena eloknya.  Menurut saya, sang Susuhuhan yang terpelajar ini mencari asal usul sejarah "meriam" kecil yang pecah ini, maka beliau menempa pecahan besi "meriam" ini menjadi keris, hasil daur ulang dari pusaka yang asal usulnya sangat misterius dan mestinya juga mempunyai daya tarik bagi beliau.  Apabila keris yang didapat dari daur ulang besi   "meriam" kecil mesterius ini, SAMA DENGAN KERIS ASLI BUATAN MAJAPAHIT, dibandingkan dengan keris pusaka peninggalan Majapait asli yang ada di Keraton Surakarta,, Maka dapat dipastikan pembuatan pusaka istimewa “meriam lantakan” ( mungkin nama asli dari meriam adalah kalantaka sebab nama itu masih tercantum di suluk pedhalangan wayang purwo) adalah peninggalan  kerajaan yang telah lama lampau ini dan dicetak/ dituang pada jaman itu. Mungkin tinggal satu-satunya, dan beliau curiga yang inipun akan didaur ulang Belanda sebagai senjata dari sana, untuk menghapus sejarah kebanggaan bangsa ini, yang pernah membuat lantaka/senjata api sendiri. Kemudian pada kurun waktu hidupnya Sinuwun Paku Buwono ke V ini namanya sudah jadi  "meriam."
 Adapun nama Guntur Geni sebagai meriam kecil dari besi tuang (wrought iron) WAKTU ITU NAMANYA MASIH KALANTAKA, telah  muncul paling sedikit sekali dalam legenda  atau dongeng yaitu dalam Babad Nitik Pangeran Kajoran, atau Babad Kajoran. Bahwa Pangeran Kajoran Putra Panembahan Romo, berakar dari keturunan Ki Ageng Giring, sosok yang bermunajad kepada Allah agar keturunanannya dapat menjadi Raja di Tanah Jawa, dua generasi di atas  Panembahan Senopati. Mungkin juga "Babad Tanah Jawi" menjebut nama senjata ini, meskipun sudah ditukangi Belanda, dengan nama "meriam".
Sekali lagi legenda pusaka meriam kecil ini  menjadi benang merah legalitas suksesi raja di kala itu, menyangkiut legalitas suksesi dari kerajaan Majapahit, karena kekuatan fisik “tokoh” menurut kharismanya sudah tidak bisa mutlak diandalkan ( sering didukung diam diam oleh Belanda dari Batavia). Ki Ageng Giring menetap di tanah  yang dijadikan nafkah keluraga besarnya dari bhumi perdikan pemberian pemerintahan Majapahit, dekat Klaten sekarang bernama Kajoran diragukan oleh Sultan Mataram.
Konon menurut babad, salah satu keturunan dari sini  berani menerima tantangaan Sultan  dari  Mataram untuk menerima  bhumi sesigar semangka asal berhasil  menadahi dengan dadanya tembakan meriam tersebut.  ( Apa ini bukan kiasan bahwa Kajoran mendapatkan legalitas hak turun temurun tanah tersebut dari Majapahit, yang diragukan olah Sultan Mataram? ? ). Jadi meriamnya di Zamana Mataram Peniggalan Sultan Agung  sudah menjadi pusaka kraton dan masih berfungsi, itu enandai legalitas dari kerajaan Majapahit.
Apakah ini dongeng  menyembunyikan cerita yang sebenarnya ? bahwa Meriam itu sebenarnya memang pusaka dari peninggalan  zaman Majapahit, yang diwariskan kepada kerajaan Tanah Jawa untuk legalitas kekuasaan berturut-turut Demak, Pajang, Mataram dengan ibu kota Plered, di mana dan kapan peristiwa sayembara ini terjadi.
Ada seutas benang merah yang panjang direntang guna mempertegas  legalitas suksesi kekuasaan mulai dari Majapahit, ke Demak Bintoronya Raden Fatah yang konon adalah Putra Brawijaya yang Islam.
Persoalannya adalah, pemindahan kekuasaan Sultan Tranggono sultan ke III Demak Bintoro, ke Sultan Hadiwijoyo, yang hanya menantunya. Bahkan kemudian memindah Kota Raja ke Pajang, sebagai dasar kekuasaan Sultan Hadiwijoyo alias Jaka Tingkir,  memperkuat benang merah suksesi kekuasaan ini dengan hubungan ketururunan dari Majapahit juga, lewat  Ki Kebo Kenongo yang memeluk Islam esoteric,  sudah ada sejak zaman Majapahit.  
Termasuk anaknya yang telah membunuh Ario Penangsang, dalam perang tanding di tepi bengawan Sore, Sutowijoyo atau Panembahan Senopati.  Sosok Penembahan Senopati ini mendapatkan bumi Hutan Mentaok ( wilayah Jogjakarta) dari Sultan Hadiwijoyo ya karena kemenangan ini, sedang wilayah tersebut juga telah jadi wilayah kekuasaan nenek moyang Ki Ageng Mangir sejak zaman Majapahit, dan terjadi sengketa antara Panembahan Senopati dengan Ki Ageng Mangir, berakhir dengan kematian Ki Ageng Mangir, (konon kepalanya dibenturkan pada batu tempat duduk Panembahan Senopati, sewaktu menerima sembah sang Ki Ageng Mangir, karena sudah jadi menantunya).
Mulai dari sinilah setiap sosok yang menganggap dirinya mempunyai hubungan benang merah dengan Brawijaya dari Majapahit mengukuhi haknya atas suksesi raja tanah Jawa atau hanya baik secuil wilayah tanah Jawa. 
Kekalahan Demak, Mataram dan Kartasura kalah dari penjajah Portugis, Inggris maupun Belanda adalah dari keunggulan dukungan meriam yang dimiliki kaum penjajah ini. Sedangkan Majapahit telah berdiri megah di Nusantara untuk mewujudkan Sumpah Palapa oleh Mpu Mahapatih Gajah Mada, mengandalkan kalantaka (merian) besi tuang yang lebih kecil dan ringan bisa dimuat di haluan parahu model Madura yang jauh lebih kecil walau sangat lincah. Perbeadaan kaliber meriam ini selanjutnya menghasikah kemenangan bagi bangsa Porugis pada setiap perang laut, kecualai kaliber meriam juga ukuran kapal layar mereka lebih besar, karena di Europa ada tanaman bahan pembuat kain layar yang lebih kuat dan ringan untuk satuan luas layar yang sama , sehingga mampu menghimpun tenaga dorong angin yang lebih besar, tapi tidak terlalu membebani tiang agung yang tinggi, membuat kapal layar tidak stabil, sedangkan Majapahit awal masih kesulitan mendapatkan bahan untuk kain layar yang ringan dan kuat lebih lebar seperti kain layar dari flax/linnen (Linum spp. L) atau sutra yang digunakan sebagai kain layar  oleh jung dari China. Lain halnya dengan suku Bugis/Makassar yang sudah menenun kain sutra sendiri, nyata perahu pinisi mereka lebih besar dari prahu Madura.
 Apakah sosok intelek seperti Adipati Anom R. Sugandi yang sebelum jadi Pakubuwono V , menghimpun almanac pertama Jawa “Serat Centini” tidak penasaran ?
Pakubuwono V meneliti pecahan meriam misterius ini dengan memanasi dan membakarnya layaknya membuat keris, bila ternyata hasil keris teresebut sama dengan keris dari Majapahit yang ada di gudang senjata kraton, maka dapat dipastikan si pembuat keris Majapahit pada jamannya juga mencetak “lantak” atau “kalantaka” sebagai senjata, yang di sejarah Melayu oleh penulis Malaysia disebut “rentaka”. Konon keris Majapahit dibuat dengan mencetak bentuk keris secara masal dari peleburan pig iron, kemudian baru dikikir dan disempurnakan diberi ornament, banyak yang bilah keris jaman Majapahit  jadi satu dengan gagangnya. Dalam kakawin Nagarakertagama naskah kronik perjalanan keliling kerajaan Wilwtikta di Pulau Jawa, sasterawan dengan nama samaran Prapanca, menulis di pupuh delapan naskahnya, bahwa kota Wilwatikta , komplex Kedaton dikelilingi tambok tebal dan kokoh, sedangkan gerbang komplex ini disebelah utara telah dipasang  pintu gerbang dari BESI yang merupakan ukiran ram .indah ( wrought iron seperti rangka kursi taman zaman sekarang) wrought iron adalah hasil proses lanjutan dari pig iron hasil peleburan bijih besi. Selanjutnya menurut legenda lisan, pemasangan pintu ram besi ini adalah empu Keleng dari Madura..(Tentu saja tidak ada hubungan dengan kata klinknagen bahasa Belanda yang di indoneisakan dan di Jawakan jadi keling plat besi)
Pakubuwono V pasti meneliti peninggalan pusaka lama yang kemungkinan dari kerajaan Majapahit yang masih dihormati Keraton dari zaman itu umpamanya pecahan “meriam” Majapahit Kiai Guntur Geni, yang mestinya ada nama  sendiri yang umum untuk senjata itu pada jamannya ?
Sebab sampai sekarang kata “ meriam” itu dipinjam dari mana, dari kata apa ?,  nama senjata ini semakin gelap saja. Nama Jawa untuk meriam model dulu, yang diisi dari moncongnya adalah “meriam lantakan” juga “bedil lantakan” , untuk membedakan dengan bedil karabin. Emas yang dijual langsung dari peleburan adalah “emas lantakan” yang
bentuknya silindris. Jadi emas lantakan ada hubungan langsung dengan bentuk silindris dari peleburan logam. Jadi kata lantakan hidup, dan artinya dalam perdagangan logam yang dicetak dari peleburan yang bentuknyua silindris. Jadi tanpa kata “meriam”,  lantakan ini bisa dimengerti sebagai barang yang dilebur dari logam yang dicetak silinidris, diisi mesiu dari moncongnya. 
Kemungkinan besar di-identifikasi dari nama “Kalantaka” atau “lela” saja.  Belum diperkuat dengan akar kata “be-rantaka-n” dan kata “luluh lantak” yang mengandung maksud yang sama, mengandung sylabel “rantaka” dan ka-“lantak”-an. yang tidak bisa dihubungkan dengan kata meriam,  nama yang dipakai pada zaman berikutnya . Begitu juga istilah “merajalela” yang ada hubungannya dengan “lela” yang menguasai medan perang.
Semoga tulisan ini dapat jadi perangsang bagi Sejarawan kita untuk menggali kembali, sejak kapan kita punya kalantaka, atau rentaka untuk perang ini, bukan “meriam” dari orang Europa.
Penulis dari Malaysia, sangat mencurigai benda senjata ini juga sudah dipunyai oleh lasykar kerajaan Melayu untuk menghadapi Gubernur Inggris, sampai sang Gubernur terheran-heran.
Di sejarah kerajaan Melayu nama meriam adalah “Rentaka” jenis yang mudah di bawa kemana-mana, apalagi dengan perahu dagang. Era dominasi Penjajah dari Eropa, senjata jenis rentaka , “meriam” lantakan yang buatan pribumi makin jarang, karena sengaja dihapuskan keberadaannya untuk menipiskan kepercayaan diri dari bangsa yang dikalahkan. 
Bila kalah dalam pertempuran dirampas oleh penjajah dan dilebur menurut bentuk senjata mereka,
 beberapa dijadikan satu, otomatis caliber nya lebih besar. Semakin lama semakin habis bahkan cara membuatnya juga tidak pernah diwariskan, karena tidak ada order. Mudah kan ?  Menghapuskan sejarah setelah empat ratus tahun ? O iya, dapur pelebuan logam kita adalah bejana keramik seperti guci yang besar yang mempunyai lubang untuk udara masuk baik dari angin maupun dari ububan ( semacam pompa angin), jadi kapasitasnya tidak bisa  besar terbatas pada tebalnya guci, sedangkan orang barat membuat peburan logan dari batu bata tahan api dari bangsanya keramik juga bisa dibentuk silindris seperti cerobong dengan lubang angin masuk dari bawah makanya kapasitasnya lebih bebas, jadi meriam atau lantaka yang dicetak juga besar, untuk mempersejatai kapal besar,  perang darat makin besar makin sulit bergerak, sedang diatas kapal besar makin baik dengan jarak tembak lebih jauh. *))
Note
Pada tahun 2018. kebetulan saya mendengarkan suluk pardhalangan wayang purwo di you tube, di situs suluk goro goro, yang dilantunkan oleh dhalang gaya Ngoyognyokato, ki Hadi Sugito, diunggah tg 29 okt.2017, (jadi di you tube situs yang benar "suluk goro goro dhalang ki Hadi Sugito alm, 29 okt 2017"sebab ada goro goro lain  dari lyang yang sama narasinya dirubah bukan yang ada kata meriam kalantaka.
Pada akhir janturan ( narasi) mengenai keadaan Suralaya yang gonjang ganjing, sesudah tirta prawita di teteskan oleh Sang Hyang Girinata , maka berhentilah keguncangan di swargaloka, dan terdengan suara gemuruh diangkasa seperti suara meriam klantaka.
Suluk wayang puwa ini sudah ada zaman Majapahit, tapi janturannya (narasi) masih memakai bahasa jawa Kono atau bahasa Kawi, pada zaman Demak Bintoro, hingga Mataram Kerto dan Mataram Plered, janturan sulu ditambahi banyak syair janturan memakai bahasa jawa zaman itu sedikit dicampur bahasa kawi dan jawa kuno, yang lebih disukai para dhalang, meskipun kosa katanya sering berubah dari aslinya, karena para dhalang hanya menghafal dari seniornya - kata meriam ditambahkan pada kalantaka menjadi meriam kalantaka, sebab nama kalantaka dalam sehari hari sudah diganti dengan meriam dengan sengaja. Menyertai lenyapnya kelantaka ini karena dirampas kompeni, konon dibawa ke Buthan dipantai teluk Benggala oleh kumpeni dicetak kembali  oleh orang sana, jadi cannon dan culverin yang kalibernya lebih besar dipakai oleh kumpeni di kapalnya dan dinamai meriam, sewaktu barang kuno yang tidak praktis untuk berperang yang paling besar dihadiahkan pada Raja Jawa - dilabel dengan nama meriam hanya yang ini dari perunggu  kuno dan besar besar dan beratnya lebih dari 10 ton sangat sulit dibawa bertempur. Satu upaya untuk melenjapkan kepercayan diri, bahwa pribhumi juga bisa membuat kalantaka dari besi, jadi yang ada hanya meriam, milik pelayar Europa. Sedangkan sejarawan dari Malaysia menuturkan di google, Gupernur jendrak Inggris pernah heran heran kok orang Melayu punya rentaka - yang kecil, lebih bisa untuk manuver asykat darat. Kan ndak jauh antara rentaka dan kalantaka ? Sedang lela juga sudah tidak dipakai karena barangnya memang lain, untungnya masih ada di dalam bahasa tutur seperti merajalela, berantakan adalah kata turunan dari rentaka dan lela.*)

Sabtu, 25 Mei 2013

SURAT KEPADA ANAKKU, SEORANG DOSEN FISIP, URAIAN PENDAPATKU MENGENAI KAUM MENENGAH DI AMERIKA SERIKAT.



SURAT KEPADA ANAKKU SEORANG DOSEN  FISIP
Sejak diketemukan Benua Baru ini oleh Columbus, ratusan tahun kemudian berbondong-bondong para imigran dari Europa berlayar menyeberangi Samudra Atlantik dengan perahu layar. Tujuan mereka, sebagian besar adalah bertani di tanah perawan yang  konon sangat  sangat luas.
Tentu saja sebagian kecil adalah para Pemodal dengan tujuan menguasai tanah seluas-luasnya seperti di    Negeri asalnya.   
Tentu saja usaha pertanian perorangan ini terbatas luasnya pada kekuatan otot dan alat yang digunakan untuk mengolah tanah, terutama untuk menghasilkan komditas bernilai tinggi seperti tembakau di Virginia.
Saya akan sepakat bila kaum ini adalan asal muasal dari semangat Kaum Menengah di Amereika Serikat, bdngsa Agiudaya.
Tentu saja usaha tani, seperti terjadi sepanjang zaman dimana-mana, sangat tergantung dari cuaca setiap musim. Dari cuaca yang bervariasi setiap tahun, para Petani kaum menengah ini nasibnya tergantung. Sebagian kecil dari mayarakat tani dengan semangat kaum menengah ini dapat bertahan dengan bekerja sama satu sama lain membentuk masyarakat tani gotong royong yang peninggalan relic bertahan sampai sekarang seperti masyarakat Amish, masyarakat Mormon dan lainnya, dengan jumlah rang relatip kecil sekali nyaris tidak berarti.
Ketergantungan pada alam dari usaha tani dapat disimak dari dongeng yang  populer pada jamannya tentang Pengacara Daniel Webster, yang membela petani  kaum menengah, saking putus asanya telah menggadaikan nyawanya kepada si Devil, pembelaannya berhasil, karena para jurinya adalah rokh kaum menengah Amerika juga, yang pada waktu hidupnya pernah gagal, malah telah tergelincir jadi musuh masyarakat.  Peralihan kepada industry adalah keniscayaan, karena semua sarana ada, seperti yang digambarkan pada tulisan Tom Paine “ The Land of Plenty”.  
Sedangkan sebagian besar beralih profesi menuruti gelombang raksasa industrialisasi ini. Karena sebagai pekerja di Pabrik dan pekerjaan yang berhubungan dengan industri tidak tergantung dari perubahan cuaca dan hama penyakit tanaman yang menggagalkan panen meraka setiap saat ada kesempatan, tanah yang makin kurus, lingkungan petanian yang makin rusak.
Tentu saja industrialisasi yang melangkah sangat cepat ini tanpa gangguan apa-apa, karena jauh dari pusaran dinamika masyarakat di Europa. Industrialisasi terdukung baik dari sisi sumber bahan baku, sumber energy maupun dari sisi tenaga kerja, karena dalam tahap awal khusus di Amerika Serikat kaum Kapitalisnya masih berwatak egalitarian, meskipun segera saja diganti dengan watak greedy/hangkara, dan makin “impersonal” yang ternyata hingga sekarang.
Sedangkan watak kaum menengah yang oportunis dan phragmatis (artinya tidak berprinsip, seperti banyak kaum muda Indonesia didikan ordebaru) yang mewakili sebagian besar warga  Amerika, telah membentuk watak kaum menengah yang diwakili oleh kaum pekerja kerah putih/white collar workers dan kerah biru/ blue collar workers, membuat kaum Kapitalis yang greedy leluasa membentuk kartel dan mengarahkan APBN- Amerika Serikat setiap tahun untuk membangunkan infra structures demi mereka berkiprah.
Kaum Kapitalis berkerumun di wilayah bahan baku dan energy tersedia murah buat mereka, jalan dan jembatan dengan sendirinya telah terentang kesana semua dari APBN nya yang diarahkan oleh lobby terkuat kaum ini di Senat, Konggres dan badan badan Otoritas untuk mnegerahkan Anggaran Belanja Negara.
Sampai akhirnya sesak secara fisik dan perlu istirahat, seperti ular yang perlu waktu untuk ganti kulit, yang artinya pertumbuhan ekonomi dihentikan, para buruh dirumahkan karena overproduksi.
Sampai para pe lobby di Kongress maupun Senat mendapatkan sebagian besar APBN-Amerika Serikat untuk membangun infra structure baru bagi mereka, yang asumsinya adalah menciptakan lapangan kerja baru.
Pada upaya pembangunan infra structure oleh dorongan penuh dari APBN semula adalah “infra structure tahap pertama”, yaitu pengembangan sumber daya energy, sumber daya bahan baku, dan seluruh keperluan hunian untuk tenaga kerja (tentu saja khusus yang ini mendapatkan porsi paling kecil, karena tidak ada hubungannya dengan proses produksi yang menciptakan keuntungan). Ini rupanya yang dulu memicu perang saudara, pajak federal untuk export diciptakan oleh kondisi saat itu, bagian Selatan dengan produksi kapas mendominasi Dunia  menggunakan tenaga budak, akibatnya harga kapas Amerika tidak tersaingi, tapi infra structure dibangun di Utara untuk keperluan industrialisasi terutama sistim jalan kereta api, yang marak pada era itu. Disana muatan selalu penuh dan lintasannya relatip lebih pendek dari daerah pertanian di Selatan.
Sekarang ini mulailah saya memperhatikan tentang APBN – AS ini.
Pertama telah menjadi pegertian umum, bahwa recesi selalu tertolong oleh pembangunan infra structure industri perang.
Emangnya iya, sekarang Amerika Serikat lagi menyulut perang dimana mana dengan mengaktifkan persenjataan super modern, berdasarkan IT dengan rangkaian electronics yang mahal dan soft wares super canggih, harga infra strukutre yang super canggih ini, harus dibayar oleh APBN – AS berkat para lobbyist yang mendominasi Sisitim Pemerintahan Amerika Serikat.
Bukan saja industry ini harus dibangun dengan ongkos yang tidak bisa di hemat, tapi kini industry perang dan semua sector industry harus dibangun  pula dengan infra strukutre tahap kedua yaitu otomatisasi dengan dasar IT alias menuju ke penggunaan robot, jadi ongkos pertamanya sangat tinggi, justru akan menyaingi pemakaian tenaga manusia.
Masih ada lagi, demi monopoly ladang ladang minyak dunia, perang Penaklukan diembuskan di Timur Tengah.  Dengan asumsi tentu saja agar orang Amerika Serikat bisa bertahan hidup, kayak kebutuhan akan “Das Lebensraum”nya Hitler. Padahal technology robot yang berfikir masih dalam kontroversi akan “dimiliki” siapa public atau previlegi  si Kapitalis? 
Boro-boro, wong kaum menengahnya malah ditipu kok, dibebani pajak yang mestinya jadi beban Kapitalis super kaya, agar krasan dan mau membuka lapangan kerja, sambil golongan menengah ini dianak-tirikan dari penggunaan APBN-AS, sampai difisit, artinya merendahkan upah dan tabungan hari tua buruh, tahun demi tahun jadi makin merosot,  yang ini sekarang mulai mereka rasakan.
    Makanya semenjak Presiden Nixon, Reagan, dan Obama, pajak orang kaya selalu mendapat potongan agar mereka krasan/tetep tinggal da AS dan perangsang kredit, bahkan untuk ‘bail out’   bank bank wall street yang bangkrut dan subsidi diberikan dengan royal oleh Pemerintahan Presiden Presiden tarsebut agar mereka membangkitkan industry Amerika Serikat dan menyerap tenaga kerja, begitulah yang dipercaya.
     Keserakahan Wall Street dalam menguras APBN -AS ini sangat membuat figure kaum menengah seperti Micheal Moore resah, membuat Profesor Ekonomi seperti Dr. Ravi Batra mengumumkan betapa Presiden Presiden Amerika Serikat Mulai dari Richard Nixon, Ronald Reagan dan Obama sekalipun memanjakan si Kapitalis yang super kaya tambah kaya, malah menciptakan lapangan kerjanya hanya sedikit, dibandingkan dengan 3 billion dollar yang mereka terima ( Simak tulisan Dr. Ravi Batra, simak kegiatan Michael Moore dengan OWS (The Occupy of Wall Street), di  Google dengan kata kunci Dr. Ravi Batra mengenai The Occupy of Wall Street, yang merupakan tanda tanda bangkitnya kepentingan kaum menengah yang seharusnya hidup berkecukupan ini.
  Dengan meniru persis prilaku para Presiden Amerika Serikat sejak Richard Nixon sampai Obama, kita punya Penggede berharap dapat dukungan dari Amerika Serikat, umpama mem “bail out” bank Century jang 6,5 trilliun rupiah yang malah dimainkan oleh penipu, bungkam terhadap adanya outsorching  tenaga kerja, memberi kredit dan hak ex territorial kepada Perkebunan HGU raksasa a’la Industri Gula di Lampung, menghadiahi Hartati Murdaya Poo dengan 75 ribu hektare lahan di Sulawasi untuk dikuasainya sebagai HGU termasuk menambang apa saja yang ada disana, membiarkan Lapindo keluarga Bakri mengobral janji thok mengganti rugi mereka yang tergilas lumpur. Apa kita bisa menyalahkan itu Penggede dan Party yang dipimpinnya ?(*)


Simak Tulisan asli Dr. Ravi Batra yang menjadi inspirasi bagi  saya :
quote
The Occupy Wall Street Movement and the Coming Demise of Crony Capitalism
Tuesday, 11 October 2011 04:57By Ravi Batra, Truthout | News Analysis

In 1978, to the laughter of many and the derision of a few, I wrote a book called, "The Downfall of Capitalism and Communism," which predicted that Soviet communism would vanish around the end of the century, whereas crony or monopoly capitalism would create the worst-ever concentration of wealth in its history, so much so that a social revolution would start its demise around 2010. My forecasts derived from the law of social cycles, which was pioneered by my late teacher and mentor, P. R. Sarkar. Lo and behold, Soviet communism disappeared right before your eyes during the 1990s, and now, just a year after 2010, middle-class America, spearheaded by a movement increasingly known as "Occupy Wall Street (OWS)," is beginning to revolt against Wall Street greed and crony capitalism. Will the revolt succeed? It surely will, because the pre-conditions for its success are all there.
The first question is this: Why does rising wealth disparity create poverty? My answer is that it causes overproduction and hence unemployment and destitution. It is all a matter of supply and demand. Inequality goes up when official economic policy does not allow wages to catch up with the ever-growing labor productivity, so that profits soar and rising productivity increasingly raises the incomes and bonuses of business executives. I have detailed this process in an earlier article. Then money sits idly in the vaults of bankers and big-business CEOs and restrains consumer demand, leading to overproduction and hence layoffs. The toxic combination of mounting layoffs and absent job creation raises poverty, which, according to official figures, is now the highest in 50 years.
The next question is: how has the government either restrained wages relative to productivity or made the rich richer and the poor poorer? It is easy to see that almost all official economic measures adopted since 1981 and contained in the following list have devastated the middle class. The list includes:
1. The Reagan income tax cut of 1981 that benefited the rich, but made it necessary to sharply raise all other federal taxes, paid mostly by the poor and the middle class, to finance that tax cut.
2. Unenforced antitrust laws, leading to mergers among large and profitable firms, but killing high-paying jobs in numerous industries.
3. Permitting the oil industry mergers in the 1990s that are now preventing oil prices from falling in the middle of the worst slump since the 1930s.
4. Permitting relentless mergers among pharmaceuticals and health insurance companies, so that America, far more than any other nation, now spends almost 15 percent of its gross domestic product (GDP) on health care that is mediocre by European and Japanese standards.
5. Unchecked use of outsourcing that kills high-paying jobs in manufacturing and services.
6. Ignoring the growth of the trade deficit that has destroyed our manufacturing base.
7. The 1999 repeal of the Glass-Steagall Act under President Clinton that led to reckless lending by banks and an unprecedented housing bubble, which collapsed in 2007 to trigger the ongoing slump.
8. The Bush tax cuts and bailouts that further benefited the rich while nearly doubling the government debt.
9. And finally, the decimation of the real minimum wage by President Reagan and other Republicans. (In 1981 the hourly minimum wage bought $8 worth of goods compared to $6 by the end of Reagan' presidency in 1988,  and to mere $5.15 in 2006 under Bush.)
Looking at this nine-point list, is there any government program that a big business CEO would hate? Stated another way, is there any measure that has helped the middle class? I can't think of any. Thus, over the past three decades whatever the government did, ostensibly to help the people, actually ended up hurting them. Mergers, outsourcing and free trade raise productivity, but also lower wages, whereas the other provisions of the above list directly enrich the wealthy. The nine-point list is really a list of exploitation.
Let us now look at President Obama's record since January 2009 when he took office. The president's first act was to engineer another bailout, à la George W. Bush. The idea was that the $800 billion package of assisting banks and faltering industries would save or create some four million jobs. Did the measure succeed in its avowed purpose?
According to the latest estimate from the Congressional Budget office, the bailout created nearly 1.5 million jobs. Even if we accept the administration's claim of four million, the bailout was extremely wasteful and enormously enriched the rich. Dividing 800 billion by four million yields 200,000. In other words, the government spent $200,000 to create one job. When the average wage is less than $50,000 per year, where did the other $150,000 go? This suggests that companies that hired those four million people received $150,000 for each job they created. Thus, three-fourths of the bailout, or $600 billion, went to businesses, and a mere one-fourth benefited the unemployed. This is the best case for the Obama measure. It is clear that the bailouts, Bush's and Obama's, were extremely wasteful and hugely enriched the opulent.
The fact is that government deficits are not working and have always benefited the wealthy. Not surprisingly, the fastest and the sharpest rise in income and wealth inequality has occurred since 1981, when the culture of mega-deficits first began. Lasting prosperity occurs only when wages rise in proportion to productivity, as was the case through much of American history, especially from 1940 to 1980. Whenever wages trail productivity, debt and profits soar, only to be followed by overproduction and soaring poverty and misery for the middle class. Such was the case in the 1920s and the 1930s and such again has been the case since 1981.
If President Obama really wants to create millions of jobs, then all the economic measures adopted since Reagan's presidency must be abandoned. Of course, the Republicans would oppose him tooth and nail in this resolve; they would scream about the president hurting job creators, who in fact are job destroyers. Big business has decimated American jobs through mega-mergers, outsourcing, oil speculation and by shifting factories to Mexico and China. The nation can only prosper if the destructive ability of job destroyers is restrained through increased taxes or the creation of free markets.
When the government bails out mega banks and Wall Street firms, it amounts to shooting the economy in the foot. Our president seeks to bring about change, which was his campaign slogan. But once elected, he got sidetracked by thinking that change is possible through compromise. This has never happened before. Never in history have the exploited prospered by cooperating with the exploiter.
Compromise is what produced the government's nine-point list of measures described above. The Republicans were able to impose these measures whenever some Democrats compromised with them. When Reagan raised the gasoline tax and excise taxes in 1982, it was through the cooperation of the Democrats, who cooperated again in 1983 when Social Security and self-employment taxes went up sharply to pay for the massive income tax cut of 1981. The repeal of the Glass-Stiegel Act, the Bush tax cuts and bailout were all the handiwork of Republican lawmakers and right-wing Democrats.
America does not need another dose of increased government spending, but a rational economic policy that generates free-market capitalism to take the place of the current monopoly capitalism. In 1776, the nation declared independence; coincidentally, the same year Adam Smith, the father of modern economics, demonstrated how small businesses generate lasting prosperity for all, not just a privileged few. That is what we need again. It is well known that small firms have created the bulk of American jobs in recent years. This is then the best argument for breaking up business conglomerates not only to create jobs, but also to lower the oil price and the cost of health care.
The government should also adopt strong, not toothless, measures to eliminate the trade deficit, which is now running at $500 billion per year. This alone will create five million manufacturing jobs. Eliminating the trade deficit will raise US GDP by the same amount, and to produce that much output, new workers will be needed. Suppose it costs a business $100,000 to hire a worker, including salary, benefits and profit. Dividing 500 billion by 100,000 yields five million. In other words, eliminating the trade shortfall will generate five million new jobs, paying the average wage and benefits.
The trade deficit can be eliminated by setting up a low export-exchange rate, the way China and other Asian nations have done. But first, the government must see the value of balancing our trade and then proper economic policy can be devised to reach the goal.
Outsourcing is now the biggest job destroyer. The government should impose a hefty tax on this practice. This way, if a company has to outsource some work, it will compensate the nation for creating joblessness in the economy. Finally, we need to eliminate the federal budget deficit. This can be done by repealing the Bush tax cuts for the wealthy and by enacting a small tax on financial transactions, while preserving crucial programs for the retirees. There is no reason to cut Social Security and Medicare, because President Reagan raised taxes sharply to guarantee the benefits to retiring baby boomers. In short, President Obama should do away with the nine-point list of exploitation mentioned above. He will then be able to bring about the change that he promised during the election campaign in 2008.
Einstein once defined insanity as doing the same thing over and over again and expecting different results. By now, we should know that excessive government spending is one such insanity. It creates very few jobs and primarily benefits the rich. In fact, I have shown mathematically to some audiences that, under reasonable assumptions, increased government debt goes completely into the pockets of the opulent. As the latest piece of evidence, from September 2010 to September 2011, the deficit rose $600 billion, but only 400,000 jobs were added.
I call upon the OWS movement to demand that the above nine-point list of exploitation be repealed, so that a free-market capitalism of small firms is reborn. This will strengthen the president's hand and enable him to face Republican lies and tactics that are only meant to further weaken the economy and force the president out of power. We need to make sure that Mr. Obama is re-elected, provided he accepts the repeal agenda, because the Republicans always do the same thing over and over, namely make the rich richer and the poor poorer. Additionally, we should also work to defeat Republican incumbents and rightist Democrats who will compromise to maintain the status quo and possibly cut Medicare.
Our efforts are bound to succeed. I am an economist and historian and made many forecasts in the past about the economy and social change. While 5 percent of my economic forecasts have been wrong, to my knowledge I have never made an error about forecasting a revolution. My latest estimate is that monopoly capitalism will go the way of Soviet communism by 2016.
O' brave protesters of the OWS movement, your effort will not only shape the 2012 elections, they will also end, once and for all, the brutality of the rich and powerful, who are responsible for the sorry state you are in. The change that you are about to bring will be glorified as what Abraham Lincoln did for black Americans. I hope that, with your support, Mr. Obama will be the harbinger of that change.
unquote.


Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More