Sayang Sama Cucu

Sayang Sama Cucu
Saya sama Cucu-cucu: Ian dan Kaila

INDONESIA PUSAKA TANAH AIR KITA

Indonesia Tanah Air Beta, Pusaka Abadi nan Jaya, Indonesia tempatku mengabdikan ilmuku, tempat berlindung di hari Tua, Sampai akhir menutup mata

This is default featured post 2 title

My Family, keluargaku bersama mengarungi samudra kehidupan

This is default featured post 3 title

Bersama cucu di Bogor, santai dulu refreshing mind

This is default featured post 4 title

Olah raga Yoga baik untuk mind body and soul

This is default featured post 5 title

Tanah Air Kita Bangsa Indonesia yang hidup di khatulistiwa ini adalah karunia Tuhan Yang Maha Esa yang harus senantiasa kita lestarikan

This is default featured post 3 title

Cucu-cucuku, menantu-menantu dan anakku yang ragil

This is default featured post 3 title

Jenis tanaman apa saja bisa membuat mata, hati dan pikiran kita sejuk

Minggu, 30 Agustus 2015

SEKALI LAGI PENDIDIKAN

SEKALI  LAGI PENDIDIKAN

Semua manusia dilahirkan baik.

Saya sangat percaya. Artinya mausia tercipta dari rakhman dan rakhim Allah dan  rakhman bapak rakhim ibu nya, sampai lama lingkungannya memberikan rakhman dan rakhim secara intuitive. Sebagai sang surya menyinari dunia.

Inilah yang kemudian setelah dewasa menjadi bahan baku dari “track record” yang pasti bisa dirasa oleh segenap ciptaan Allah yang hidup, bukan saja dirasakan oleh sekelompok orang.  Panggilan yang mendasar dari ke-berpihak-an kepada  sesama hidup yang lemah, keberpihakan kepada kepentingan umum. Lebih pas dimengerti oleh mereka yang alergi kpada kata "rakyat". Sebenarnya ya sama saja.

Ibu ibu yang sembilan itu masih muda muda, berpendidikan sangat baik, rata rata diatas S1,  berpenampilan sangat rapi, nyaris tanpa cacat, berpembawaan baik.  Tapi oleh keadaan zaman Orde Baru, mendapatkan pendidikan  yang amburadul – mereka bisa mendapatkan penghargaan tinggi dari guru gurunya dari sistimnya karena saya curiga mereka “meneng, mangan  manut” Ditipu dan dibully oleh sistim.

Makanya beliau beliau kecelik, memilih calon ketua KPK yang bakal disukai oleh DPR [ D(ewan) P(enguasa) R(akaya)]  diantara empat puluh  delapan yang lain,  ternyata lebih dahulu sudah jadi tersangka kasus  Pertamina Foundation, jauh lebih sederhana, seperti mengabil uang dari kantongnya sendiri, Nyonya Besar Nani Nuriana Pramono.  Atas kuasa Allah, ketahuan. Wong beaya untuk nanam pohon 100 juta batang sebagian besar ditilep (konon 250 miliard rupiah lho), sukarelawannya fiktif, karena hutannya sudah ada dari dulu, hutan jambu mete, mungkin kering terbakar atau rebutan siapa yang nanam sama Pak Dahlan sama sama akhli. Lho kok nggak nebar benih ikan diperaian bebas, satu trilyun benih, demi kelestarian keaneka ragaman hayati, biar BPK Dewa Dewa ya gak bisa membantah pengluaran beaya harga dan jumlah benihnya. 

Tandanya:

Tidak ada keberpihakkan kepada rakyat yang menderita. WAH NGGAK USAH MALU,  kami ngerti ketulusan anda kami mengerti anda anda adalah korban Orde  Rahwana yang sudah sangat tua, kami mengerti anda tidak tahu caranya mendeteksi  keberpihakan seseorang kepada rakyat itu yang gimana*)




Rabu, 26 Agustus 2015

LAHAN GAMBUT

LAHAN  GAMBUT.
Saya menulis  artikel ini sangat seadanya,   bila pembaca ingin tahu mengenai gambut atau lahan gambut ada banyak artikel di google ini dengan kata kuci ‘lahan gambut’ saja, sudah banyak informasi
Soalnya harus ada keberanian yang bereaksi cepat dan tepat meskipun hanya pilot project bebepa puluh Hectare tapi sekarang juga, sementara masih musim kering , hanya tinggal beberapa bulan saja.
Kenapa musim kering, sebab gambut dimana saja di dunia selalu sangat dekat hubungannya  dengan rawa – dan rawa sangat berhubungan dengan adanya lahan relatip datar dan luas dan adanya luapan air dari sungai yang sangat lama, atau selama air sungai tidak kering ya masih ada genagan air yang bisa sangat luas tidak ikut surutnya sungai  sungai karena air terperangkap dalam satu dataran dangkal jutaan tahun.
Sisa vegetasi -lah yang memenuhi selebar  rawa itu, dan sisa kegiatan vegetasi yang hidup subur ini bila mati ditak habis terurai sepanjang tahun melainkan selalu tersisa kaena ada dibawah air dalam suasana anaerob. Maka terjadilah endapan bahan organic yang semakin  tebal bisa mencapai puluah meter, mempengaruhi seluruh ecosystem di hamparan rawa gambut itu.  Lho ko bisa terbakar ? Bisa terutama dimusim kering yang pajang, bahan organic yang dalam suasana anaerob itu tidak sempurna terurai masih banyak karbohudrate yang  tersisa, masih sangat lama untuk C ini mesalya jadi batu bara yang asalya dari kayu kayuan tertimbun sampai jutaan tahun, sedang gambut ya demikian tapi lauh lebih muda dan dedaunan lunakpun masih menyisakan carbohydrate yaitu semak dan rerumputan  yang tidak terurai  sempurna maupun larut air. Melainkan menjadi substansi lapisan gambut yang serupa spon (sponge),  bila musim kering,  air yang terkandung  dalam spon ikut melorot ke kedalaman dan bahan carbiydrate ini menjadi kering dan sangat mudah terbakar. Bila lahan ini dibakar lahan gambut pemukaannya akan turun maka akan terjadi penurunan permukaan gambut yang sangat merugikan ecosistim  diatasnya. Sedangkan spon ini harus tetap berisi air meskipun sangat asam dengan pH rendah sekali sampai 3-4 dan berwarna peperti teh kental. Sebagian dari abu gambut terlarut di air dengan reaksi basa, maka lahan gambut akan rusak menuyusut turun permukaanyua.
Konsekensi yang logis dari fihak ilmu  Pertanian, harus tetap menjaga kandungan air dalam spon  gambut, merubah reaksinya dari asam  lemah di zona akar untuk budi daya yang tahan tanah asam seperti padi,jeruk  dan banyak tanaman tropis lainnya , tidak akan dengan sendirinya mereaksi netral berarti pHnya jadi 7. Untuk semua tananan  budi daya yang tidak tahan tanah asam. pH dapat dinaikkan dengan kaptan aau kapur Pertanian, umumnya batu kapur yang dhaluskan hingga  sekecil  saringan 200 mesh. Ada dari kaput tohor batu kapur yang dibakar terlebih dahulu. Ada rumusnya untuk pemberian kaptan ditanah tanah asam, untuk menaikkan  pH. Ada pH meter di pasaran dengan alat pengukur banyaknya ion H+ bebas, yang di air suling hanya 7.  Sedangkan dissosiasi air yang sudah asan ion H+ lebih banyak,  dan di air yang basa ion H+ lebih sedikit. Karena pH adalah  minus logaritma ( dengan mantis 10)  jumlah ion H+. maka makin asam makin banyak ion H+ jadi minus  logritma lambang bilangannya  kecil, sedangkan tahan basa kandungan ion H+ sedikit jadi minus logritma ion H+nya ya tinggi. ( itung jumlah 0 dibelakang koma, ialah  bilangan ion H+ dari satu gramol air dikalikan -1)
Jadi tanah air kita punya lahan gambut (kalau tidak sudah dibakar semua) jutaan Ha ini kekayaan yang tiada taranya untuk pertanian, hanya harus diturunkan permukaan airnya dari zona akar pada musim banjir, dan dinaikkan permukaan airnya pada waktu musim kemarau sampai sekitar zona  akar  sejenak Ingat jeruk Pontianak ditanam diatas lahan gmbut tanahnya  ditinggikan secara individual pohon, dan hasilnya sangat bagus karena air ada dan zona akar diatas permukaan air. Di Kalimantan tengah saya dengan cassava/ubi kayu cultivar 'gajah' dttanam dilahan gambut dengan sangat berhasil.
Air dtnggikan untuk membasahi zona akar sejenak, lantas diturunkan lagi, tapi wanti wanti tidak boleh sampai turun sama sekali dan tidak bisa dinaikkan setinggi permukaan di zona akar lagi. angat dihindari  pengeringan dengan saluran pematus tanpa bisa dikendalikan ,  bisa mengeringkan lahan gambut , tapi ini tidak boleh,  untuk menjaga daya dukung tanah terhadap bagunan jalan dan jembatan, rumah, bandara, rel KA, dll, tanpa kandungan air sampai jenuh di spon ini daya dukungnya ikut gembos, jadi tidak bisa dikerjakan secara militer asal mengeringkan saja. Lain halnya di Nganjuk Utara ( bukan lahan gambut tapi tanah brumosol yang nyaris kedap air, sangat liat berwarna hitam ) dibuat sistin 'surjan' artinya ada satu strip tanah yang direndahkan ada strip tanah yang ditinggikan, yang direndahkan bisa tanam padi pada musim kemarau dan polowijo pada saat yang sama, begitu pula pada musim penghujan. Lha ini apa ndak bisa ditrapkan di tanah gambut ? kan bedanya bagian yang ditinggikan katakan 40 cm seterusnya lebih kering dan bagian yang direndahkan dari permukaan normal jadi lebih basah sangat dekat dengan permukaan air tanah, untuk bekerja cepat sangat diperlukan alat alat berat.
INGATLAH KEMBALI BAGAI,MANA PARA WALI ISLAM DULU, BKERJA DRNGAN TENAGANYA MENGGALI KANAL KANAL DAN RAWA RAWA DENGAN PARA SANTRINYA, DISUSAP  JAGI PERSAWAHAN DUA KALI PANEN SETAHUN, MENGATASI PROBLIM PENGANGKUTAN HASIL SAMPAI DI PELABUHAN KAPAL BESAR, DENGAN PERAHU BERLUNAS DAN BELAMBUNG DATAR SUPAYA DRAFTNYA PENDEK,   SEORANG WALI SAMPAI DIJULUKI SUNAN KALIJOGO, SEKARANG FUNAKAN TOFOLIOT GUNAKAN DRONE
TAPI CEPAT KERJA, JANMGAN RAPAT SAJA.

Untung sekarang ada alat berat, excavator, back hoe, bulldozes, grader,  pompa pompa berbagai ukuran , chipper untuk mencacah semak semak dijadikan kompos , chain saw untuk membersihkan lahan dan pepohonan, dan sepeda motor untuk diisi dengan bensin hasil kencingan dari tanki dll. Yang tentu saja ada harganya, juga bahan bakar BBM pasti. Tapi bila niat, pasti ada jalan, wong kita telah di propokasi dengan di-anjokkannya rupiah sampai kini kita nyaris telanjang nilai rupiah kita dari US dollar, kalok kita minta utang alat berat  dan dibayar dengan hasil pertanian kita apa Amerika Serikat mau mengerahkan Armada ke tujuh ? ha kok nggak boleh wong komunis sekarang sudah tidak ada ??*)

Minggu, 23 Agustus 2015

THE VISA OF ULiL ABSHAR ABDALLAH WAS DENIED BY MALAYSIAN GOVERNMENT

THE VISA OF ULIL ABSHAR ABDALLAH ,  AN  INDONESIAN CITIZEN, WAS  DENIED BY  MALAYSIAN EMBASSY,
This  visit is to attend  a  seminar and discussion wth the local  thinkers of Islam, about the  genuinely refreshing of  muslim way of thinking to accommodate modern world.  The national religion of Malaysia is Islam, therefore the Governmant  rules its implementation according to their will.     Ulil Abshar Abdallah is publicly known as  a person of  Liberal muslim  belief,  he wrote these in news papers,  and printed medias very often, especially in politics and religions,  particularly Muslim  religion. He is inclined  to    Gus Dur’s way of thinking.  Actually  his  opinions  were  disconcerting  his contemporaries  Islamic  self appointed holy cyndics.   He is an ardent member of Nahdkatul Ulama, a major muslim a social organization.
In Indonesia, there are  two mayor muslim organization.
These were founded since the Dutch colonial rule’s era.  About one  hundred years ago, Nahdlatul Ulama  and Muhammadiyah.
Nahdlatul Ulama was founded by reverent muslim  Hasyim Ashari’s  & family, during  the Dutch colonial rule ,  many  years  after Muhammadiyah ,  as a muslim scholar  and he worked  to teach Islam  belief,   using  traditional  muslim  method of education.  Although it was  dubbed as an old fashioned.  Most of their  disciples were coming from lower strata  of   indigenous  people.  True, superficially  their way of life and their  garbs, which consist of sarong,  caps / pici and   below- knee length of culot (short trousers – France), mostly black for male, and their female wears  head covers cloth some time just enough to cover their long hair which tightened in a bundle, loose  kebaya (similar to cardigans) and batik sarong, some time just below her knee   length ,  bounded  around her waist with long  cotton  woven  wide  band,  because  these  muslim  women also working in the shalow  muds of rice fields, this way to cover their  legs   are forbidden to muslimah  ( female muslim)  in Arab.  This is superficial  visible  customs, but  fundamentally the Nahdlatul Ulama  way of  garbing themselves and their way of life were entirely on purpose  to   resist the influences of the Dutch ‘s   in customs and style of anything.  This attitude  is named (internally)  amongst the NU members  as  “uzlah”  wich means a  resistent attitude toward  anything   the colonial Dutch were pushing to  the natives,  but not in wearing under wears   for male and female, and they ardently  care its  domonstatives implementations, such as  the NU peasants  declined to work as sugar cane fields  as  field  hands.  This is known by us just  recently.  Actually it   was patriotic.  Nevertheless NU was  accused to spread syncretism of  Islam  and  Hinduism, based on  the  cultural  interaction  of Islam teaching in Hindu society  in the  beginning  of Islam introduction in Java island, and in some ways.  it was true in unimportant matters.
Muhammadiyah, this muslims organization, founded by Ahmad Dahlan a serious scholar of  Islam,  on the beginning, this organization  worked  to patch social discrepancies during colonial era,  such as  educations and health cares to indigenous people.  Unlike of NU, this organization won  popularity  among the westernized  educated indigenous  people, because Muhammadiyah was not resisting westernized garbs,  such as pantaloon, shoes,  ties,  and short haircut  for men,  and modern garbs for women  under knee length of  gown, with head cover at  the same fashion as  Indira Gandhi’s, according to the hard liner of muslim    religion, this was inadequate,  the correct way the head and face cover named  burkah., not just hijab.   Lately the Colonial power  secretively hired an Acehnese of discendent, a certain gentleman  Muhammad  Basya Dahlan,  to be implanted in Muhammadiyah organization.  The Dutch colonial Administration  support  him financially to study Islam in Mecca , under the tuition of  the founder of Al Irsyad movement   Syech Ahmad Syurkati  in Mecca, which strongly inclined to Wahabi purification of  Islam  ( google– situs Pekalongan Utara  Bersatu judul Pelurusan distorsi sejarah yan dilakukan wahabi……)  unfortunately  the purifrication teaching of daily lives were very similar to Arab customs. This practice of garbing for women suited the fanatics but not the active women in tropical hot and humid climatic area, as the  murdered   Benasir Bhuto and her contemporaries for example our minister Khofifah Indar Parawansa and her alike, they prefer wearing hijab, of their own taste and wear  it as  determined by Islam.
The purification  which were introduced by Muhammadiyah  of  all the  life’s practices, customs, which were initiated by Wahabi-inclined- new-leader   He  made the  NU members to be suspected  as  mixing Islam with Hindu  beliefs, these practices should be eradicate,  such as showing respect to the dead in its grave, considered as heretics practices  because  this is very close to veneration  the deceased, to be considered as sinful.  While  NU believe that this practice  could  be tolerated,  because paying respect to the dead is harmless to the Islam religious principles.
This was intended to make a gap of schism among the Muslims factions in Dutch East Indie. And  alas,  the modern Muhammadiyah became  the  core  of  Islam hard lines, to infiltrate there.  Their student movement become  a training ground  for  fanaticism up to this moment. No wonder that Ulil was  symbolically sentenced  with death penalty   by several Islam  self appointed syndics from West Java, Central Jav and  East Java.  As he was blamed  by his adversaries  fanatics. It  is  a treason to Islam, in uttering  that all the acknowledged  religions by the  Fundamental Law of this Republic of Indonesia are the same good, it  is disparaging  to Islam.   They convinced  as a muslim,  it is forbidden  to discuss  about  the rule of conduct and thought dictated by Islamic rules . Otherwise they have  the moral , self righteous  strength  to  support  this verdict, because these Arabic customs are inseparable  parts of the  Islam’s  sacred ritual.
  Did Nahdlatul Ulama  understand  the advantages of their predecessors’ heritages  did’nt it ? – The predecessors  of    Javanese people who embrace  Islam, they called them as holy  teachers,  mostly were coming from Ynnan povice of China,  in 12 th century - 14th  century  later the Javanese reverently called  them   “Waliullah“  the nine  holy persons  elected  by Allah  to understand  His will.  During  the era of 13 th century,  their  efforts  to  win  Islam  teaching against very strong  influences Hinduism  and Buddism, could be observed, that most of the inhabitant of Java island were  discarding  the haram  habit to Islam  in every important aspect of life,  were accomplished ,  here were  the proofs:
In  two or three milleneum  from 13 th century to 15 th century  all inhabitant of Java Island  were  converted to Islam   peacefully,  almost without  traces of Hinduism and Buddism in habit and customs, i.e. : Nobody in Java Island consumes alcoholic beverages until this time being, although it is very easy to make it ,  except the downright hooligans. Nobody  consumes wild boar meat or  pork  in Java Island, except the Chinese who are the Buddhist, if they were not vegetarian and the  incoming  people from another islands.  People shy to do these haram thinks. No woman is roaming publicly bare breasted as happened freely in Bali where Hinduism  is  strongly embraced. But no Javanese looking  this disparagingly  and leering nonchalanty to them,  to  the  beliefs  and customs of people in another  island.  How come ?
These Waliullah and their disciples  purposefully touch  the lower caste of Hindu believers  literacy both Arabic’ and Palawa’ alphabet, unlike the Hindu’s  Brahmins (who viciously forbid the lower caste the waysia and the sudras learn to write nor read the holly Vedda  in sankritic language writing in palawa alphabeth), Waliullah and their disciples teaching them arithmatics and book keeping,  making and signed an invoices,  trading documents as  bill of lading and letter of credit ,  rudiments  of international trading.  Long before the Dutch Colonialism created europeanized customs and educations, in between segregative  colonial society.
These waliullah  created  irrigated rice field and canals mode of transportasions  along the mostly flat fast marshland  as an advantageus transport   to the  awaiting  giant china sailing ships to export  the most needed rice , against  Hindu’s Kingdom in the hinterland  which its rice productions  were basend on cascading down  terraced  irrigated rice fields far away from the sea harbors. They turned the vast marshland   in central  Java  into rice fields and  create an Islamic  kingdom there ( Demak Bintoro Kingdom- on 14 th century there about 20 thousand Ha shallow marshland – consist of trapped water in a ravine among the volcanic mountains  mount Merbabu, mount Telamaya  Northern carst   and mount Muria (lately was damaged irrevocably  by volcanic sands  and ashes  thick sedimentation in those fast area } Based on this economical strength, using the  Mesopotamian  technology,  to make  amelioration of  marshland  into arable rice fields twice a year of certain bountiful harvests. There,  in Pati area  muslims  society was not consuming  cattle but buffaloes meat, not to make offences to the reminding Hindus  in those area.  Last but not least all the Waliullah and their disciples initiate every of his deed with a credo of Islam  “bismillahirakhnanirakhim” – by the name of Allah the Most Mercifull and the Most Compassionate.  This holy credo to be a preamble of all the surrah of the Holy Qur’an except only one surrah At Taubah. Therefore all muslim and muslimah should be very patient, merciful, and compassionate to their  under developed  spiritually  contemporaries  of different  beliefs and schooling.  Ulil Abshar Abdallah  and many of his alike  are  many  generations downward descended  from these ancestors,  inherited  their schooling  of Islam, from generation to generations.
It was happened differently in  sparsely inhabited Sumatra and Malacca pininsula,  during  the time of Islam ‘   teaching exspandsion in South East Asia from Yunan (Prof Slamet Mulyono, historian) .  Indeed  scholars from Yunan represented  the  most  advancad  of science  and technologies  of  their era,  whch had developed in   civilizations of Mesopotamia and China, not only Islam  from the Prophet Muhammad salallahu alaihi wasalam. Their teaching was readily  to be implemented in well organized society, meanwhile in Sumatra and Malacca peninsula  where majority of their inhabitant were spread  in slash and burn agriculture,  Islam was  introduced among the  traders and  strongmen  who dominated the waterways  in every estuary of rivers,   these strongmen extracting  fee  from  trading  of forest’s produces. These  part of  inhabitant  in these area only could absorb  rudimental teaching of Islam, tend to be conformistic, fanatics  to win favor from Allah to grant  them the Heaven in life and after,  very impatient  to the local  pagan believers. ( document of Tuanku Rao – the war of Batak tribe ) One  discenden  of the leader of this troop  settled in Malacca peninsula  Tanku Tambusai  ( from documents of Tuanku Rao,  the same source of information) .  They were actually  local group of` Islam disciples who got re-education from  Muslim beliefs  of  Mamluk dynasty in Egypt, who coming down to these archipelago  in  several  ships,  to  reform the Yunan’s  scholars on Islamic teaching,.
Since those time, there  should be more  agressive and pure   islamic teaching.  In Aceh, part of Sumatra and Malacca peninsula  these new orde of islamic teaching was received by less civilized slash and burnt  of agricultural society ( lately in modern time they became   rubber collectors  by tapping    the turned to wild latex trees - Hevea brasiliensis, in fact it was a very valuable substance  to make the war machineries during the World War II ,  living sparsely in the forest most of the time, by the collectors  of  forest produces,  by the  strongmen of  river’s estuary  turned Tungku  Sultans for generations,  got the moral support from these Mamluk power ever since titled as Sultan.  No wonder they became  less toleran muslims,   strictly speaking Islam should be performed physically  and  mentally exactly  similar to practices in Arabian great peninsula, dot of finality, no discussion.  Islam  to be understood as  was written in the Holly Qur’an and the Hadists of Rasulullah salalahu allaihi wassalam.
Ulil Ashar Abdullah’s  ancestors was fully agreed  with all of these  rules,  they earnestly read and understood all the scriptures of the holy Al Qur’an and the Hadists of Rasulullah. From those 144 surrah of the holly Al Qur’an there are 143 surrah preambled  with this holy phrase Bismilahirakhmanirrakim – means By the name of Allah The most Merciful and The most Compassionate. – means the rest of the  intrinsic meaning  of these scriptures have to be weighted  by this important preamble's  light  of this particular holy phrase. Therefore  by truly understand these scriptures under the  Allah given  preamble phrase,  they were tolerans and very patient to their contemporaries of non Islam, they strongly  believed  that they were spreading the truth, seek for nothing worldly. Just to enable human being to transcend  to the creation of better world and universe  insya’Allah .
Therefore Ulil, dont worry if some one dubbed you as Akhmadiah follower, or of Syi’ah disciple, or of  Cristianized muslim, don’t  pay attention to them, you are the seeds of hard working ancestors. They who created rice fields so fast and bountiful in a short of  historical time to feed  the needy nations  which  were  very occupied in warring each other,  there in China sub continent., they who steadfastly stand in his own feed instead of the parasitic life of the landlords  who owned fast area of arable land as in anywhere else in Africa  and they understood the holy Qur’an and  Al Hadist of Rasulullah correctly * )

Selasa, 18 Agustus 2015

DPR Republik Indonesia 2014 -2019

DPR  RI  D(EWAN) P(ENGUASA)  R(EKAYASA )  REPUBLIK  INDONESIA.
Herman  Saragih,  pembawa acara editorial pagi  jam730 di  Metro TV, dengan kecut berkomentar “ kita apes punya DPR yang tanpa harapan ( hopeless)".
Ya, saya juga merasa kasihan terhadap diri saya sendiri, memang kita apes,  wong punya DPR kok kayak gitu.  Apa rakyat ini bodoh sekali tidak bisa mencium bau busuk Dewan Penguasa  Rekayasa Republik ini ?
Sedih dan maklum,  bagi  anggauta yang terhormat Dewan Penguasa ini belum ngumpul cukup ongkos  untuk dibayarkan ke Partai  fraksinya  sebagai uang mahar.  Apa akal,  proyek ini kan tujuh items yang semuanya hanya menyangkut  birokrasi  Kesetjen-an DPR sebagai Pengguna Anggaran ( detik.com) ? Bisa mudah diatur kan ada praperadilan, yang  membuat mark up kan Para pemborong ? gimana sih Pak Jokowi ini, kok gak mau tanda tangani prasasti monunen kepiawaian kami, apa ndak ngerti kami bisa aklamasi balas dendam seperti  sejawat kami DPRD  Metro Jaya terhadap A Hok. Rakyat Indonesia insya Allah ya gampang dibeli,  rame rame di media kuning penerima uang.   Kami minta beaya HANYA BEBERAPA TRILYUN  untuk  1. Alun alun demokrasi, 2 Museum dan  Perpustakaan, 3 Jalan akses tamu, 4 Visitor centre, 5 Pusat Kajian ( nanti bila yang ini goal bisa berhaji VVIP  sungguhan dengan beaya  gratis…) Legislasi, 6. Pembangunan Ruang  Kerja Anggauta Penguasa dan Tenaga Ahli, 7 Integrasi tempat tinggal (+ garasi 2 mobil) dan anggauta D(ewan).P(enguasa R(ekayasa)  R(epublik) I(ndonesia)  Sayangnya lagi kok para anggauta Dewan dedengkot pengusaha amplop yang  "ngeri ngeri sedap" dan banyak teman teman sejawat lain nanti sesudah Desenber bila ada KPK baru dan keras kepala kayak yang satu ini, bila kami tidak kompak, bakal kering,  oh kasihan. BILA KELAKUAN ANDA ANDA TIDAK BERUBAH, RAKYAT AKAN USIR PULANG ANDA ANDA KE KAMPUNG, NDAK USAH MINTATOLONG SANA PRA PERADILAN UDELNYA SENDSIRI*)

PENGUASA VERSUS RAKYAT, SUATU PARSDIGMA YANG SELALU HARUS DICERMATI

PARADIGMA PENGUASA VERSUS RAKYAT - Edisi ulang setelah  tg 5 AGUSTUS 2016 ini ada pembakar lahan gambut di Palangkaraya - siaran Metro TV jam 7 pagi.

Acara ti TV- one jam  7.45 pagi tanggal 18/7/2015.  Menggelikan, karena membahas  “ pelanggaran Polisi Lalu lintas Kota Madya  Djokdjakarta versus pengguna  jalan di jalan umum  sepanjang jalan kota yang panjangnya  lebih kurang 20 km digunakan untuk konvoi “moge” ( sepeda motor besar- yang harganya mncapai 400 juta rupiah ) dengan belasan lampu  tanda lalulintas disetiap perempatan. Satu pers release hari ini juga,  saya lupa oleh stasiun TV mana sekira jam 7,   Kejadian  ini disiarkan  oleh  seorang petugas gedean dari Mabes Polri, (mungkin Letkol) , mengklarifikasi kejadian disana, Polisi lalu luntas  mengawal konvoi motor gede ini dan mengabaikan lampu merah di perempatan yang ramai, memaksa pengguna jalan yang memotong jalur mereka di perempatan, harus menunggu lama sampai konvoi moge tersebut lewat dan selesai keperluannya. Malah  dsempatkan oleh Bapak Kapolri, diwaktu lain setasiun TV lain yang saya lupa, bahwa Polisi bisa mengabaikan lampu merah menurut undang undang lalu lintas sementara keadaan memerlukan . Inti  sarinya seorang  naggauta polisi  berhak  mengabaikan tanda lalu lintas dalam keadaan darurat. Benar menurut undang undang.
Lha ini problimnya UUD, undang undang yang paling tinggi sampai  PP ditingkat pelaksanaan, selalu diawasi  pelaksanaannya  oleh Penguasa satu Negara,  prakteknya sangat fleksible tergantung dari Negara apa ?
Seorang Petugas Negara – juga Penguasa atas nama Negara melaksanakannya terhadap rakyat  selalu sangat condong menguntungkan  siapa yang  berkuasa di Negara itu, yang nota bene sudah merdeka 70 tahun ?
Rakyat Awar Awar Lumajang telah melapor pedada  Polres setempat bahwa dia diancam begundalnya Pak  Lurah yang menguasai tambang pasir illegal di desanya, gara gara  perlawanannya dengan  memprotes penggalian pasir itu merusak lingkungan sawah mereka dan diabaikan. malah kemudian  si petani yang peduli lingkungan ini dikeroyok oleh puluhan begundal Pak Lurah  disiang bolong,  satu sampai mati, dan satu lagi harus dirawat di rumah sakit Malang. 
Polres abai pada dump truck, pada back hoe yang menggali pasir yang sangat menguntungkan Lurah liar ini, dan konon Lurah liar ini berpengaruh sampai Pemerintah Kebupaten dan DPRDnya!
 Lha kapan rakyat biasa hidup dengan hak dan kewajiban  sebagai warga Negara di  Negeri bedebah ini ? Yang nota bene sudah merdeka selama  70 tahun ?   
 Makanya, para Penguasa belajarlah berdemokrasi,  revolusi mental adalah nerubah ke-berpihakan-mu kepada rakyat !! . 
Lha memang sisa strukture feodal kampung masih kental, menjadikan negeri ini  negeri bedebah.  Oknum feodal kampung ini di Palangkaraya malah menyuruh  membakar semak lahan gambut untuk kepentingannya. ( berita TV Netro tg 5/08/2016 jam 7 pagi) 

Kita mengharapkan semua  rakyat respek dan segan kepada Polisi, sebaliknya kalau Polisi jadi menggumpal dengan feodal kampung, yang egois dan  pada Pelanggar Undang Undang  disudut sudut pelosok negeri ini, itu baru habis harapan kita untuk jadi warga yang ikut menjaga ketertiban dan keamanan di Negara ini*),

Senin, 17 Agustus 2015

ANALISA KEMUNGKINAN : SUDAH SELESAI, PENGGALIAN TERUSAN SUEZ JALUR BEBAS HAMBATAN

PENGGALIAN  JALUR  KEDUA TERUSAN  SUEZ  JALUR  BEBAS HAMBATAN  SUPER CARGO SHIPS BISA BERPAPASAN DENGAN AMAN SUDAH SELESAI
Heran, kenapa saya baru mendengar dua minggu yang lalu, terusan ini dtambahi dengan terusan jalur kedua yang lebih lebar, bebas hambatan mendadak sudah diresmikan. ?
,O.,  ya tidak heran Mesir dibersihkan dari unsur unsur penggangu untuk hari depan yang panjang., dengan segala ongkos. Ya inilah nasibmu Mesir !!
 Inilah  tanda hebatnya penguasaan  media diseluruh dunia termasuk RT yang dari Rusia atau Yin Bao  China ikut bungkam  selama berbulan  Bulan “jalur tol”  terusan ini dibangun.( Berita RMOL, Fajar co.id tanggal 21 Juni 2015 mengenai percobaan pelayaran dua arah yang pertama dilaksanakan ) panjang 72 Km dapat dilayari 2 arah oleh  super cargo container ships tentunya .
Lha bila dipikir benar untuk apa susah susah merahasiakan pekerjaan besar yang makan waktu berbulan  bulan ini ? dan untuk apa  terusan dua arah  kapal super cargo ini dibuat atau untuk super tanker ?
Ada apa disebelah Timur benua Asia ? Apa bukan celah Timor ? Apa tidak perlu  BAIS kita sedikit “nguping”, sehingga kita pun bisa  punya Bahrain  Nusantara meskipun tidak punya areal blok utamanya ,  mungkin pinggiran blok ini atau  mungkin rezeki dari sisi  commercial services,  hotel  super mewah,casino, balap kuda,  sehingga  harus didirikan infra  strukturnya sekarang ?. Mesti saja nilai rupiah diplorotkan sedalam dalamnya sampai kita hampir telanjang supaya tidak mampu membuat infra strrucutre disana,  ya untungnya capres lima tahun mendatang,  yang mempunyai track record jadi pelayan  super magnate, dia  yang sangat piawai dan sangat telaten untuk mempoles citranya,  membangun dengan royal partai barunya,  sehingga bisa seperti Fatah al Sisi, bagusnya lagi dia bukan dari militer  ?
Tapi  apa betul anda punya ketulusan  terhadap Bngsa dan Negara ini ? Apa anda tahu sejarah,  saiapa yang  “tenguk tenguk nemu kethuk mlenuk samargi margi isine kencono abyor”
Apa  bisa  anda meratakan yang sudah terlanjur menjadi gunung , dan menaikkan derajad mereka yang sudah menjadi dasar jurang ekonomi di negara ini dengan setulus nya? wong barusan anda angkat raja hwa hwe jadi comisaris partai anda ? Wong anda tidak kenal R Ng. Ronggowarsito , tidak kenal W R Supratman,  tidak kenal Amir Syarifuddin, tidak kenal  Sutan Syahrir ?
Dan sekali lagi  rezeki kecil dari remah remah  super blok ini dirampas dari tangan bangsa ini ? *)

Minggu, 16 Agustus 2015

HARGA DAGING SAPI MELONJAK, ELU MAU APA?

HARGA DAGING SAPI MELONJAK TINGGI, PADAGANG DAGING DIPASAR MOGOK. LHO KOK ???
Usut punya usut oleh Satserse Mabes Polri, ternyata si tukang pemasok untuk para pedagang yang mogok ini menahan stock sapi potong baik dari sapi local maupun sapi import.  Sapinya dipiara baik baik supaya lebih gemuk selama berbulan bulan ratusan ribu ekor dilokasi seputar Jakarta. ? ?   Yuridis formil barangkali nurut Bapak Yusril Ihsa Mahendra  atau siapa saja  yang ngebelain OC Kaligis, atau bang  Haji Lulung, ini bukan kejahatan wong sapi sapinya sendiri, mau dijual kek ¸mau ditenggelamkan dilaut kek , wong hak miliknya sendiri. malah konon menurut hukum Islam, menimbun bahan makanan untuk keuntungan semata  adalah HARAM KUKUMNYA - JADI YA TUNGGU FATWA MUI SAJA.
Dan seekor bulan Idhul Adha dulu, sudah disumbangkan untuk qurban.  Lha bila pedagang daging dipasar pasar  Jakarta brani membeli daging dari BULOG, ya awas, begitu  BULOG kehabisan stock, mereka ndak  bakal disupply daging lagi dari bandar mafia daging sapi, sampai  kapanpun.  Inilan murni hukum kapitalis yang sangat dihormati oleh Pemeritah Indonesia yang sudah sudah apalagi jaman orde baru, dan DPR nya. Kemudian diulangi kuliahnya wanti wanti oleh Nyonya Hillery Clinton tempo hari.
Lah bila direnungkan, selama kurun lebih enam bulan musim penghujan, seluruh muka bumi di Indonesia tertutup oleh hijauan, yang katakan 75%,  bisa dibuat makan ternak berperut majemuk  Yang kebanyakan halal, asal disembelih dengan ketentuan Islam
Hijauan yang menutupi 75% bhumi  Nuasantara ini bila setiap 2 bulan dipangkas dan dikeringkan atau dicacah dan dibuat silages ( silos) , bisa tiga kali panen.  Soalnya mengatur hijauan ini agar terjangkau oleh peternak dan dapat disimpan untuk pakan musim kering nanti.
Usaha serupa, tapi digunakan untuk pembuatan kompos sudah dirintis di Kota Madya Surabaya oleh Bu Risma, setiap kecamatan punya sentra kompos hijauan sendiri dari apapun dedaunan yang di pangkas di wilayah Kodya ini, yaitu mesin pencacah dedaunan baru dipadatkan dan ditup rapat rapat dengan terpal plastic untuk meragi/menjadi kompos.
Diseluruh pulau Madura, pertani di desa desa memanen dan bambu ditegalan dan pekarangan untuk dikeringkan  selama musim penghujan untuk persediaan “hay” dari daun bambu  kering, buktinya sekering apapun tahun tahun yang telah lewat mereka tidak pernah kekurangan pakan ternak sapi kambing  daun bambu ini dicamur dengan kulit tongkol jagung jerami padi, jerami kedelai, kacang hijau semua tersimpan rapi untuk persediaan pakan dimusim kering, tentu saja ditambah consentrate dari bungkil maupun katul dan briket/pelet consentrate.
Jadi tinggal membudayakan lahan yang tidak produktip untuk hijuan pakan ternak, menjadi peroduktip seperti pagar pekarangan, tepian saluran air dan sungai, tepian jalan, batas tegalan dan sawah, bukit bukit lahan mlik Pemerintah – bukan digunduli tapi dipangkas untuk dimanfaatkan daunnya guna pakan ternak sapi atau kambing Secara continue dan terrencana.
Teman saya pemelihara kambing gibas (domba), memangkas tanaman naungan jalan raya di kota Nganjuk Jawa TImur yang berupa daun Sonokeling  ( Daibergia latifolia –dari familia Fabaeeae )  yang pahit kok kambingnya ya mau,. Orang tidak akan bisa membedakan rasa daging  Domba Garut yang lambang kemapanan orang kaya dengan daging domba gibas biasa, yan diberi makan daun sonokling  penaung  jalan di kota kota.*)



Kamis, 13 Agustus 2015

WAHAI POLITISI, WAHAI TOKOH KARBITAN, WAHAI POLISI ALAM SUDAH MARAH, PENGHIJAUAN BUKAN BARANG MAINAN MENCARI POPULARITAS DENGAN REBOISASI


WAHAI POLITISI KARBITAN,WAHAI PENJABAT YANG MENCARI POPLARITAS MURAH, WAHAI PENGUSAHA YAANG NMENANAM SIMPATI SADARLAH,PENGHIJAAN BUKAN BARANG MAINAN.
 Artikel ini sudah di blog ini  tiga tahun yang lalu, pembacanya hanya belasan orang, ya benar memang penulisnya bukan sosok yang mengorbit  hanya warga biasa, hidup biasa mediocre senderung sededera, Salahkah bila pikiran menembus kemana mana ? Masa kini adalah waktunya orang biasa bersuarhana, menjerit, ngetwit, ngeblog,  meski tidak langsung mwnggugah masyarakat seketika, tapi  inilah salah satu upaya warga biasa, alhmadulillah.. Pesannya jelas: Jangan main main dengan issue  PENGHIJAUAN.
Kini situasi sudah mendesak, el Nino sudah berkunjung, bahkan yang ditanam dan dipiara oleh petani saja pada kerng, apalagi tumbuhan hutan yang  diprogramkan untuk menghijaukan wilayah gundul  yang kritis. Tengok itu hasil karya anda. Sekarang bukan waktnya main main lagi, jutaan hektare lahan gundul berisi semak, waktu kemarau kering, dibakar,  lahan gambut yang sudah dirampas semak semak yang tumbuh cepat, sejanjutnya selama musim hujan, tumbuhanmsuiman yang tumbauh ceoat ini  merampas hidup tumbuhan kayu keras yang lambat tumbuh, bahkan yang ini,  alhamdulillah bertahan selama tiga tahun secara alami karena mebuat kanolinya diaraas semak semak, , ikut mati dibakar atau kekeringan.  Pelototi hasil karya anda yang popularitasnya didapat dari issue ini. Pak Jokowi orang Kehutanan, kalian main main lagi pasti masuk bui.

Sejak Bhumi Nusantara terasa gundul, maka lahirlah istilah penghijauan.
Di Pulau Jawa, waktu aku umur 10  tahun,( jadi tahun1948)  setiap rumah tangga memakai kayu bakar sebagai bahan bakar masak di dapur, atau bagi rumah tangga kaya, mereka memakai arang kayu. Sejak tahun lima puluhan mulai dipakai kompor minyak tanah dengan konstruksi pembakaran sumbu yang diperpanjang dengan semacam ruang pembakaran taambahan sejengkal lebih, sehingga pembakaran uap minyak tanah menjadi lebih sempurna. Konstruksi ini sederhana, tapi model kompor ini tidak pernah ada sebelum tahun 1950  atau sekitar tahun itu. Maka rumah tanggalah yang menjadi sasaran kritik terhadap penggundulan hutan, selama Perang Pasifik dan perang Kemerdekaan kira-kira 10 tahun, dari 1940 sampai 1950.
Di luar pulau Jawa, yakni  pulau Sumatra, dan  pulau  Kalimantan masih sama sekali belum terjamah, karena kebutuhan kayu bakar dan arang ( khusus untuk menyetrika baju, membakar  sate dll) masih tidak berarti sama sekali dibandingkan dengan luas hutan rimba. Di pulau-pulau itu mulai terasa pembabatan  hutan, semenjak glondong berdiameter raksasa sampai satu meter laku keras untuk di di export tahun 1955 ke atas,  terutama untuk membuat veneer pencetak beton, sebab Dunia lagi booming, ekonomi berkembang pesat, kota- kota Negara Industri diperbaharui dengan beton terutama untuk bangunan pencakar langit jalan dan jembatan, viaduct saluran air dsb .  Semua ini untuk memenuhi kebutuhan gedung- gedung perkantoran, hunian condominium, jalan-jalan dan jembatan maupun viaducts, saluaran-saluran dll. Sampai sekarang masih meningkat scara progressive.
Hingga sekarang kita punya hutan primer sudah tinggal sangat langka, sedang hutan rimba di pulau Sumatera dan Kalimantan sekarang jadi tinggal 40 % dibabat dengan segala dalih. Malah lahan gambutnya pada dibakar, oleh uang. Karna tanah ulayat saja yang sudah dibakar, hargasnya bisa naik berlipat lipat, akalnya gimana supaya dapat untung ?_
Biarkan tanah ulayat disengketakan, disamarkan dengan tanah HGU kelapa sawi, memang letaknya mepat,
 Pejabat yang berwajib jadi bingung sendiri, lantas setelah dibakar dan bertengkar lahan itu milik siapa, baru harganya sebagai tanah ulayat naik, atau sebagai peeluasan  NGU kelapa sawit, tapa diketaui sapapun, kecuali yang memanen, di prluasan tanam,
Dapat harga tinggi untuk Penjabat yang lain, rakyat yang mebakar, uang dari boss, lahan bisa disulap HGU karena batas batasa HGU tidak berdasarkan dat deodesi diamnbik dari trrianggulai patokan, ratusan kilometer dipuncak gunung, seperti dipuncak Bawakaraeng di Sulawesi misalnya. Trianggulasi patokan ini dapan menentukan koordenasi satu titik batas ratusan kilomertar dati puncak Bawkaraeang. langsung bisa ditanam kelapa sawit,, dibuatkan patok patas baru,, begitulah tanah HGU, rugi yang terdampak asap berbulan bulan berapa ?

Penjabat, yang membakar rakyat yang diberi uang., sama sama enak, ndak dihitung kerugian ekonomi wilayahnya berapa, rugi Negara berapa.

Saya amati benar yang terjadi  di pulau Sulawesi,  pulau yang sangat khusus karena sebagian besar  sangat tipis, bingga cuma 50 km  menurut garis potong lurus,dari pantai ke pantai melewati puncak tetinggi di tempat tanah genting itu hanya sekitar 200 m  diatas muka laut yang terendah yang tertinggi ribuan meter , tapi meliuk-liuk panjang seperti pulau itu sendiri.
Akan ternyata bahwa pulau ini, terutama di tanah gentingnya,  problem hutannya sama dengan pulau pulau kecil di NTT, sangat sulit dihutankan kembali, musim kering lebih lama dari tumbuhnya perakaran tanaman keras, menghunjam kedalam mencari air.
Bila tidal mendapatkan air di ceruk bawah tanah diatas batuab pejal, bibit tumbuhan hutan ini mati  Untul selamanya lahan perbukita tanah genting, atau pulau kecil unu gundul.
Setengah abad terakhir dari abad 20, Dunia jadi ramai karena issue penghijauan kembali, gundul sudah sangat akut, bahkan ada indikasi terjadi pemanasan global, karena efek rumah kaca, terjadi ketidak-seimbangan antara CO2 yang dihasilkan dari pembakaran semak, dan hutan sebagai penyumbang CO2, dan jauh lebih penting hutan rimba merupakan sau satunya   pengguna terbesar CO2, mengurangi kadar CO2 dari udara kita, oleh proses assimilasi CO2., Sedangkan CO2 sebenarnya dihasilkan besar besaran oleh Industri, oleh pabrik-pabrik di negara Industri,hanya  hutan yang bisa sangat mengurangi efek rumah kaca ini.
Issue mengenai penghutanan kembali di Indonesia menjadi ajang apa saja yang sangat ramai, umpama:
-Untuk bumbu ngomong supaya terdengar lebih berbobot:
-Iklan iklan di TV agar nampak sangat anggun, peduli lingkungan  hutan desa, meskipun sudah hidup di kondomnium ditayangkan dua kali sehari padahal nyatanya ya cuma iklan, beberapa anak menanam pohon dari bibit, dua tiga bulan musim kering tiba, tumbuhan itu mati kekeringan..
-Menggunakan issue penghijauan untuk mencari popularitas saat kampanye: Padahal ngomong doang, atau cuma simbolik saja memberi bibit kayu rimba bahkan bibit apa saja dan di shoot TV dari bermacam sudut, trus ditayang berkali -kali diberita minggu ini, mesti saja dengan bayaran.
Menggunakan issue penghijauan untuk mencari dana buat keperluan lain:
Lembaga Swadaya Masyarakat, Dinas-Dinas yang ada dana supaya kelihatan terpakai, Yayasan -Yayasan supaya kelihatan keren:
Membagikan bibit buah-buahan dan tamanan pelindung di perempatan jalan ramai di shoot TV entah lanjutannya untuk apa.
Menggunakan issue penghijauan untuk performance upacara:
Bapak Penjabat apa saja desertai dengan puluhan pengikutnya berseragam training set, disertai dengan puluhan bahkan ratusan Pramuka, bener-bener menanam bibit pepohonan di lahan terbuka (entah bisa hidup berapa lama bibit pohon itu ?), setelah itu entah jadi apa?. Wong hanya upacara.
Melihat itu semua orang (saya terutama) jadi eneg deh.
Kok bisa bisanya, hari gini issue penghijauan yang sudah jadi taruhan perubahan iklim, kok masih dibuat mainan. Please, deh, jangan jadikan penghijauan sebagai acara seremonial belaka.

Memang, bila dicermati, lahan-lahan yang terbuka, malah waktu kemarau nampak gundul karena semak semaknya  tetumbuhan musiman mati, itu memang ada sebabnya.
Mestinya jauh jauh hari, mbok mereka yang mengerti  soal tanam menanam itu memberi pengertian, artinya Lillahi Ta’Alla, ndak perlu dibayar, wong buka dokter manusia..
Menanam kembali lahan terbuka, itu bukan kerja sehari dua hari, harus ada pemeliharaan selama paling sedikit sampai tumbuhan yang ditanam itu bisa mandiri, persis seperti memelihara bayinya apa saja, syukurlah kepada Sang Pencipta, bahwa bayinya tumbuhan yang bisa sebesar pepohonan yang diameternya bisa semeter tanpa di bantu manusia itu, syaratnya kan hanya melihat hanya selama tiga musim kemarau saja. Hanya mengamati bibit tumbuhan apa saja yang baru ditanam pada kemarau pertama, pada pemarau ke-dua, dan pada kemarau ke-tiga.
Artinya apakah tumbuhan yang kita tanam di lahan terbuka itu masih mendapatkan air apa tidak ? Soalnya kemarau pertama bibit itu akarnya masih pendek, tidak bisa mencapai lapisan tanah yang masih basah, kan kesempatan untuk membuat akar hanya maximum lima bulan ? Itupun bila bibit ditanam pada permulaan musim hujan ? Itupun bila bibitnya benar, ditanam dengan benar dan disiram sesudah ditanam.
Bibit tumbuhan yang benar : Kan kita nanam di lahan tebuka gundul waktu kemarau itu, yang mati,  kan tumbuhan semusim atau semak semak  walau dia tumbuhan tahunan, tidak mampu mencari air. Lha kita menanam disitu, mestinya kita cari tumbuhan yang akarnya tumbuh kebawah dengan cepat memanjang, selama maximum 5 bulan sudah mencapai kedalaman yang aman di musim kemarau.
Apa ada tumbuhan macam itu ? `Pasti ada, Tanya sama Ahhlinya. Menanam tanaman yang akarnya cepat panjang menghunjam kebawah, memerlukan perlakuan khusus, wong bakatnya berakar panjang, jadi bibitnya ya akarnya panjang, jangan nanam yang akarnya pendek kerena putus.
Bila sudah di kantong plastik, bakat akarnya panyang, kan kantongnya harus extra panjang ?
Lahan, tanah yang kita  risih kok gundul dimusim kemarau itu ada apa ?
Lha bila dimusim hujan juga gundul  ya maaf, itu mungkin batu besar.
Tanah dengan dasar batu kapur, tanah miring, tanah berpasir dalam, itu memang rawan jadi lahan “kritis” artinya jadi sasaran kritik, sebab aku tidak tau kenapa dinamakan lahan ”kritis”.
Di lahan itu air hujan cepat hilang, atau lebih cepat mengalir di permukaan  yang miring (run off), atau cepat menyerap kebawah tanpa ada  lapisan penahan di zona akar yang normal, biasanya diatas batu dasar lapisan batu kapur yang mirip saringan, pori-porinya banyak dimana-mana, air hujan meresap jauh ke bawah zona perakaran, begitu pula tanah berpasir.
Bila bibit sudah dipilih dari yang berakar panjang,  lantas tanahnya macam apa ?
Ngototnya yang mau menanam pepohonan bagaimana?
Terhadap run off yang berat, kita ada akal membuat sabuk gunung (terrasering), atau  bila biaya mepet ya individual terassering.
Terhadap tanah yang tumbuh di atas bukit kapur yang porus,  kita lihat saja tunbuhan apa yang mampu bertahan di situasi itu, ya dia jadi pilihan kita untuk penghijauan.
Bila ngotot, ya pilih tunbuhan yang tahah kering, kita bantu sebisanya pada tiga musim kemarau yang pertama dengan menyiram sebisanya, mungkin pada kemarau ketiga akarnya sudan cukup menghunjam ke lapisan yang masih mengandung air.
Sudah itu di lereng, tanah dimana air hujan melorot kebawah zona akar, masih ada bagian lereng, yang di bawahnya ada batu besar atau ceruk batuan yang lebih massif, sehingga diatasnya tanah masih ada air terperangkap, disitu semak-semak tumbuh secara alami, bila tumbuhan yang kita maksud akan ditanam sebaiknya memilih tempat yang walau musin kemarau, masih ada segerombol tumbuhan yang masih hijau.
Penduduk Pulau kecil di NTT pada musim kemarau yang panjang, terpaksa minum air yang menetes dari akar Pisang Saba (Musa  accuminata ) yang dipotong, dalam  semalam,akan tertampung air segelas, dicukupkan buat sehari untuk diminum.
 Pisang yang sama, di sekitar Klakah, Jawa Timur  di tengah-tengah wilayah berbukit rendah antara Selat Madura/Probolinggo dan Laut Selatan Lumajang, disitu tanah berbukit rendah, ada di bayangan hujan gunung- gunung  tinggi di barat maupun di timur, tanah lereng bukit dan hujannya  kurang, tapi wilayah itu merupakan tempat buah-buahan dijual sepanjang jalan, baik musim penghujan maupun musin kemarau, Lho kok aneh, nanamnya dimana dan bagaimana ?.
Ternyata penduduk daerah itu ada yang mampu menanam pohon buah-buahan di lereng-lereng yang jauh dari sumber air,  yang mampu mereka tanam adalah; Nangka, Apukat, Pisang Saba dan Pisang jenis murahan yang lain, Kelapa, Kenitu (sebangsa Sawo warna kulitnya hijau (Chrysophylum cainito), kadang Mangga  Kita bisa jadi merasa heran, kok bisa melewat tiga musim kemarau?  apakah pohon buah-buahan di atas bukit sana pernah dibantu disiram manusia ya ?
Pembaca, boro-boro nyiram pohon Nangka bayi di atas bukit, mandi saja harus pergi lima enam kilometer.
Caranya yang saya amati begini; di lereng tempat yang terpilih, mereka penduduk yang arif sesuai dengan kearifan lokal, mulai dengan menanam Pisang Saba, setelah tumbuh serumpun, perlu dua tiga tahun, kemudian di bawah persis serumpun Pisang Saba itu mereka tanami bibit Nangka setinggi dua jengkal, tentu saja di permulaan musim hujan, selama musim hujan no problem, air turun dari langit, biar run off seperti apa.
Musim kemarau mulai ada problem, rerumputan sudah kering, kemudian semak-semak, namun rumpun Pisang tetap bertahan. Lha, si bibit Nangka yang ditanam dibawah rumpun Pisang tadi itu mendapatkan air dari tetesan air akar pohon Pisang yang sengaja dipotong dengan sabit, diulang-ulang sampai kemarau ganti musim hujan yang kedua bagi si bibit yang selamat melewati kemarau pertama.
Kemudian kemarau kedua, akar dan pohon Nangka sudah bertambah panjang, masih perlu naungan daun Pisang yang agak merana di musim kemarau, namun memadai.
Diulang pemotongan akar Pisang dengan menyisipkan arit di tempat perakaran Pisang dekat pohon Nangka yang ditanam, akhir kemarau kedua dilewati dengan selamat.
 Kemarau yang ketiga bibit Nangka telah besar lebih dari setengah meter, dengan akar yang cukup dalam, sehingga rumpun Pisang agak menggaggu pertumbuhan didongkel. Akhirnya seluruh rumpun Pisang didongkel pada tahun ke empat. Kemudian barulah  kita heran-heran kok ada pohon Nangka muda di lereng tinggi diatas bukit ? (Bila ada Penjabat Eselon yang melihat pohon Nangka tadi, namun tak tahu kisah nanamnya, Eselon itu kemungkinan langsung berteriak jumawa: “Lihat yang diatas bukit saja bisa ditanam Nangka, kenapa ndak minta dana untuk penghijauan besar besaran, kan gampang !” gitu ujarinya keras-keras.)
Padahal asal para pembaca tahu,  bibit buah-buahan macam-macam asal agak tahan kering dapat ditanam dengan cara yang sama. Karena belum pernah ada orang menyiram setinggi di atas lereng-lereng bukit.(*)
Semoga berguna. Wahai eselon belajarlah. Ya memang sudah, bualn Agustus 2015, ketahuan bawha Nyonya Basar Nina Nurliana Pramono, nilep uang yang dikuasakan kepadanya dari Pertamina Foundation tidak tanggung tanggung 259 miliard rupiah dicanangkan unutk menanam 100 yuta pohon. Ja jadi hutan jambu mete di NTT, tapi sudah keduluan diaku oleh pendahulunya sasama sebrity yang llebih licin. Si licin ini terpeleset perkara gadu listrik yang mangkrak dan 14 mobil listrik yang juga mangkrak, dia masih sangat kuat dibidang media, bisa bebas menurut Prapadilan, lebih lihaqi dari H 

Senin, 10 Agustus 2015

VISA DITOLAK OLEH KEDUTAAN BESAR MALAYSIA KARENA ALASAN SALAH PENGERTIAN

      ULIL ABSHAR ABDALLA  VISANYA DITOLAK OLEH KEDUTAAN BESAR MALAYSIA.
Kami tahu siapa sosok Ulil Abshar Abdalla ini , dari banyak tulisannya dan sikanpnya dalam bidang agama dan politik, terutama di twitternya @ulil. Dia memang cenderung ke pemikiran Gus Dur pada umumnya.
Kok tiba tiba dia ngetwit, bahwa visanya ditolak oleh Kedubes Malaysia,  dia berkunjung ke sana untuk menghadiri salah satu peertemuan Islam.
Dia memang activis  dalam Jejaring Islam Moderat.
Entah secara resmi dia dituduh jadi penganjur aliran Ahmadiah, yang di Malaysia dilarang. Entah hanya tuduhan tanpa bukti. Kenyataannya dia itu NU  dan pengagum Gus Dur. Sedangkan Nahdlatul Ulama dikenal dengan ajaran Islam yang disiarkan oleh para Mubaleg dari Parsi dan Yunan,  mencerminkan  keteduhan dan toleransi  kepada  adat yang tidak  menyimpang jauh dari syariah. sebelum aliran Whabiah dari Jazeerah  mengadakan pembersihan dari kotoran gaya hidup setempat, menuju Islam yang kaffah, mirip Arab dari jaman Rasulullah  Muhammad  SAW,  Rupanya  dekat dangan  Muhammadiah. (Ada ceritanya sendiri  mengenai Muhammadiyah luar dan Muhammadiah dalam – sedangkan Muhammadiah  luar dipimpin oleh Muhammad Basya Dahlan dari situs google  kata lunci Pekalongan Utara Bersatu  kata lunci Van Der Plas,Syekh Ahmad Syurkati ( pendiri Al Irsyad) dan peranan Freemasonry -  
Situs yang sama dengan kata kunci : Meluruskan distorsi sejarah........
NU ada, embryonya  jauh sebelum   ada Muhammadiah, tradis paera wali. sangat  konsisten dengan sikapnya yang “uzlah”( menjauhi, berseteru,  non cooperative dengan penjajah Belanda) apapun budaya  yang berbau penjajah Belanda tidak dipakai,, jang malah di cap kolot pada waktu itu, pake clana komprang dibawah lutut dan sarungan kopyah.  Petani  NU tidal mau kerja di Pabrik Gula atau jadi buruh perkebunan tebu. ( konon sampai sekarang diwilayah Sidoarjo, ya begitu)  Sedangkan Muhammadiah pakai celana sepatu sering  ndak pake songkok, tidak berseteru dengan tatanan modern.
Islam di Malaysia adalah  agama Negara, tidak heran Negara ikut mengatur pelaksanaan Syariat Islam.  Perkembangan agama Islam di semenanjung Malaka persis seperti perkembangan Islan di Sumatra pada umumnya, melalui  jalur perdagangan,  di kota kota bandar.rata rata  sesudah abad ke 11 Masehi,  jadi lewat jalur   perdagangan antar pulau dan antara negara  sambung menyambung caravan dan perahu  dari  Sinkiang, Yunan dan India, merunut jalur perdagangan,  ke Nusantara,  Belum ada mbaleg  dari Hadramaut dan Arabia, kemudian baru wangsa Mamluk di Mesir yang mengganti wangsa Fatimiah datang utusan ke Nusantara, membarsihkan pengaruh aliran Fatimiah sebelimnya  ( konon syair syair islami karangan Hamzah Fansuri mirip dengan ikatan syair bahasa Persia) diganti dengan ajaran yang lebih fundamentalis.oleh Nuruddin ar Raniri dkk.( buku Dr  Slamet Muljana)
Kebudayaan Parsi dan China sudah jauh lebih tinggi dari budaya orang Islam dari Jazirah Arab, telah mengenal masyarakat yang rapi terorganisasi berdasarkan kepentingan umum misalnya dalam bidang pengairan,  lebih lebih didaerah  Mesopotamia.
Penyiar agama islam asal  dari Parsi, Yunan yang petama datang di Nusantara, dari sana   pasti manusia  unggul  sehingga seandainya  beliau  beliau ini dagang, pasti dagangannya barang yang berharga dan lanngka sepeti kaftan dan rompi dari wool domba parsi atau  domba karakul, senjata /pedang dari baja Damaskus yang berniali sangat tinggi,  dihargai oleh peguasa setempat. Seandainya beliau beliau ini orang berilmu, pasti ilmu yang sangat  bepengaruh kepada pertmbuhan masyarakat, misalnya kebisaan membaca dan menulis, dan berhitung  membuat neraca laba/rugi dengan angka Arab, yang dengan mudah dan singkat melambangkan 12 digit bilangan,   ilmu geodesi untuk membuat saluran saluran irigasi,  atau ilmu arsitektur yang rumit seperi membuat lengkung  kubah dsb. ilmu pengobatan dengan sterilisasi alat alat kedokteran. Dengan demikian para  akhli agama islam ini menjadi populer dantara penguasa setempat.
Tinggal bahan bakunya masyarakat macam apa yang   akan diberi pelajaran Agama islam itu. Masyarakat yang  terpencar pencar dan kebanyakan masih tingal perpindah pindah  di pedalaman dengan  dengan membakar hutan untuk huma ( slash and burn) dengan penguasaan di kuala sungai unuk manarik palak barang barang yang dibawa keluar masuk sungai ke pedalaman...
Atau masyarakat yang sudah terorganisasi teratur seperti organisasi pengairan di Jawa dan Sumatra Barat. Untuk masyarakat yang masih terpencar pencar di huma huma di ajarkan syari'ah Islam yang dekat dengan budaya Arab, yang tidak memberatkan. Untuk masyaraka yang sudah terorganisassi menurut kebudayaan Hindu, yang diajarkan adalah tasawuf Islam kepada para Brahmana rendah dan para ksatria, sedangkan para waisia dan  sudra diajari membaca dan menulis huruf hijaiyah dengan bebas, dan moderasi berpakaian , bukan burkah tetapi hijab saja  bagi perempuan dewasa yang lelaki memakai dan sarong dilipat rapi dan dibebatkan diatas celana komprang untuk bekerja, demi menyediakan alat sholat  (sarong) bila waktunya tiba, memakai songkok, bukan sorban a;la Arab..
Pendekatan para penyiar Agama Islam ini  berbeda beda. Begitu pula ajarannya mengenal  Islam yang pokok dan yang tidak pokok  akan dipilah pilah, yang pokok pun diambil  terpenting dulu yaitu mengakui Allah yangTunggal, tidak laki dan tidak perempuan, tidak penah dilahirkan, dan tidak  ada yang  bisa menyamai, menentukaan segala apa yang diciptakannya, sedankan manusia  sama derajad dihadapan  Allah.(menghapus kasta dari Hinduime)   Mereka bisa mempertimbangkan masuk Islam,  demikian itu karena pengislaman ini dengan sukarela bukan dengan peksaan kekuatan  fisik.
Dipulau Sumatra dan di semenanjung Malaka banyak bertebaran kerajaan kerajaan kecil yang hidup dari perdangangan di kuala sungai, sedang rakyatnya bertebaran dihutan mengumpulan hasil hutan dan bertani huma perpindah pandah, maka  yang jadi sasaran adalah  Raja  dan  masyarakat  pedagangnya.  Alias mubaleg Islam ini mendukung  feudal setempat  dengan inotivasi pengetrapan ilmu, geodesi, kartografi dan pelayaran,  pengobatan dan sterilisasi,  pembukuan dsb, mereka mengikat persahabatan.
Sedang di Pulau Jawa Kerajaan kerajaan sudah mengorganisi pengairan,  para  mubaleg ini tidak masuk kedalam sistim setempat, artinya ikut menguasi tanah pertanian beririgasi,- menjadi tuan tanah,, hanya membina persahabataban dengan Raja setempat. Tapi membuka rawa rawa dimuara sungai dengan teknologinya,  dengan teropong teodolit dan nivelier, untuk membangun saluran saluran pengairan  dan pematusan rawa   secara sistimatis untuk keperluan tanaman padi, seperti di  Mesopotamia. di muara sungai Brantas dan sungai bengawan Solo.,  kemudian menaklukkan rawa besat daerah Demak dan mendirikan Keerajaan Demak BIntoro di sana. Dengan kelebihan strategis dalam angkutan hasilnya hanya dengan perahu  berlunas dan berlambung datar, sangat membantu angkutan dari sawah penyosohan dan ke pelabuhan. Lain sekali dengan sawah berundag dilereng lereng gunung  yang dibangun oleh  Msyarakat Hindu, akhirnya  angkutan jadi kendala, untuk menjediakan beras sebagai mata dagangan ke pelabuhan pelabuhan samudra..
Dengan teknologi dan  mencerdaskan rakyat mubaleg islam ini dapat menaklukkan  tulang punggung ekonomi penguasa setempat, tanpa banyak perlawanan. Dan kaum inteligensia yang berpikir,  mendapatkan lubuk ilmu yang  tidak bakal kering yaitu keimanan dan tasawuf, ditambah azas islam yang  berbuat apapun atas nama Allah  yang Maha rakhman dan Maha rakhim- otomatis pembawaannya jadi sangat sabar.  Lain dengan kasta Brahmana  atau Bhiku dan Bhikuni yang meninggalkan kedunaiwian, tapi mengandalkan kekuasaan atas lahan pertanian beririgasi teratur, hibah kepada ashram atau wihara, dikerjakan petani dengan setoran untuk wihara dan ashram.
      Mas Ulil hidup dan dibesarkan di pulau Jawa,  kakek moyangnya jadi Islam kepincuk dengan ilmu tasawuf  bagai masuk samudra yang tdak bertepi, hidup lurus kejalan ukhrowi dan duniawi yang beazas bismillahirakhmanirakhim. Tentu saja disalah mengertikan oleh masyarakat yang langsung berasal dari huma huma yang berpindah pindah dan penakik karet/getah perca yang terpencil, dengan kesempitan pengertian didasari atribut atribut Islam ragawi saja..
Biasa membina kepercayaan setempat, dengan mengutamakan yang pokok dan mengesampingkan sejenak yang kurang pokok, demi ukhuwah islamiyah,  tahu bahwa yang tidak pokok itu hanya bawaan keadaan hidup dari asal usul ajaran agama sebelumnya,  pasti akan rontok dengan sedirinya..  Sebab  ajaran Islam yang pokok adalah universal. Bukan hanya atribut atribut saja, berserah diri untuk kepentingan pribadi yang tidak habis habisya (wajar untuk setiap manusia),  akan tetapi  dengan seta merta beramal jariah dengan tenaga dan harta dalan pergaulan msyarakat, Dengan demikian berkah Allah  menambahi kekurangannya. Inilah azas kakek moyagnya.
  Lha jangan masygul bila disingkur (dihadapi punggung)  Dubes Malaysia, dikira Ahmadiyah kek, dikira syi’ah kek dikira islam modernis kek, pokoknya yang lain dari mereka ya murtad. Lha ajaran kakek moyangnya ya gitu, mereka hanya punya conformisme masyarakat primitip, tanpa berpikir, ya maklum. Pencaharian pokok  yang digeluti terakhir, menjelang Peerang Dunia ke II mereka jadi tukang takik (sadap)  karet, ya terpencil  ya terpencar, kurang berbudaya,  sudah jadi doctor dalam science pun juga masih jadi teroris dinegara orang.
Konon di Afganistan dan Pakistan, bila orang  didakwa pengikut aliran ini (ahmadiyah) bisa langsung dibunuh tanpa perkara*)
S





Jumat, 07 Agustus 2015

KEMISKINAN YANG DIPAKSAKAN. DAN AKIBATNYA

KEMISKINAN YANG DIPAKSAKAN, INILAH YANG KITA ALAMI SEKARANG.
Kemiskinan adalah relatip,  Orang sudah tahu bila kebutuhan lebih besar dari pada apa yang bisa dimiliki, maka orang merasa miskin.
Yang saya maksudkan disini, kita sama sama tahu bahwa kini orang tidak hanya hidup dari roti. Hla sekarang roti saja hampir tidak terjangkau, sebab roti atau pangan sudah menjadi senjata strategis Dunia yang dipelopori permainannya oleh kaum Imperialis Dunia.
Banyak rakyat yang belum menyadari ini.
Unuk membebaskan diri dari kemiskinan  pokok, yang berarti kecukupan kebutuhan  esensialnya di dunia modern ini,  pangan, sandang, papan dan pendidikan, mereka berjuang disegala bidang.
Bahkan  menurut pengamatan saya, diantara mereka yang  masih kekurangan di empat bidang  kebutuhan pokok ini lebih me-nomer-satu-kan pendidikan.  Sebab ini yang paling dimengerti para akar rumput, untuk meninggikan penghasilan seseorang. JA LAN  LURUS  MENJADI AGGAUTA  PENGUASA DI MASYARAKAT, KEMUDIAN  KORUPSI,
Apabila ketahuan, masyarakat  tidak memberi  kutukan  sanksi, malah masih sangat menghormati, sanak famili ikut menikmati, tidak ada fatwa haram di rezeki ini. Malah  mertua Anas  bisa bikin Pesantren mewah di Jokja dengan amannya.
Padahal keadaan kemiskinan ini punya sebab yang lebih mendasar, yaitu hasil  rekayasa kaum yang sangat menguasai kehidupan ekonomi seluruh Manusia di di Dunia ini. Tragis ya ?

Akan sangat panjang dan  barangkali uraian saya tidak akan dengan gampang membuat terang perkara ini, terutama dibidang ekonomi global.  Juga sulit bagi siapapun bahkan bila penjelasan diberikan dari Pemerntah sendiri. Jadi jangan tanya keterangan dari ilmu yang sulit ini.

POKOKNYA::

SIAPA YANG TIDAK MENGERTI BAHWA PRODUKTIVITAS SATU BANGSA DITENTUKAN OLEH TEKNOLOGY ?  SIAPA TIDAK MENGERTI BAHWA TEKNOLOGI INI HARUS DIBELI, SEDANG RUPIAH SELALU  AKAN MURAH NILAINYA TERHADAP DOLLAR AMERIKA, BERKAT INEFISIENSI PENGELOLAANNYA, UNTUK BELI SEGALA KENIKMATAN INSTAN.  BORO BORO UNTUK  MEMBELI TAKNOLOGI WONG HABIS DIKORUPSI UNTUK BELI YANG INI ?

Siapapun sepakat Atut korupsi untuk beli 24 mobil mewah si Wawan, 299 rumah mewah di Bandung, Para Sudrun menimbun uang curian ini,,mencucinya bersih bersih untuk beli suara pilkada, pilnas, pilmanis,  rame rame muktamar digedung  DPR  yang instan jadi super mewah, dengan 500 anggauta balakurawa mereka, itu maunya.- ..

Semua sepakat,  bila tanaman  budidaya pertanian kita  menghasilkan panen cukup,  kami ya tidak k
elaparan,  paling kurang tidak merampas anggaran untuk kebutuhan pokok yang lain. Harga pangan terjangkau ini semua kami mengerti, sebab gangguan apapapun masih ada disini. Pertanyaannya, bagaimana membuat pAnen cukup ? Harus ada sistim yang mendukung sarana dan prasarana Pertanian. Waduh saya mulai keminter wong saya ex Agronomist.  Pokoknya Pemerintahan kita yang dipimpin Pak Jokowi masih mampu dengan apa yang ada memenuhi tugas ini, meskipun tahnn ini tahun el Nino.
Orang tidak akan merasa cukup dengan sekedar pangan, sekedar papan untuk berteduh, sekedar sandang  jadi pasti akan mengadakan upaya untuk memperbiki yang dimiliki saat itu.

Saya hanya kepingin menguraikan disini, bahwa “pendidikan” itu masih harus  di buat terang benderang,  maksudnya, seluruh anggauta masyarakat kita bakal dapat manfaat dari hasilnya,

Jadi upaya ini merupakan pendidikan untuk jadi manusia yang   trampil otak dan tangannya, demi mendapatkan penghasilan  /economical  gains  yang lebih baik, baik sekali, dan  berlimpah. disertai dengan budi pekerti yang masuk dalam hati nuraninya. mengapa ?  Karena banyak sekali upaya yang harus dilaksanakan bersama sama orang banyak, tidak boleh ada yang egois, supaya kompak.
Budi pekerti yang terpateri dalam hati nurani ini penampilkannya keluar dengan ketulusan dalam bermasyarakat.

Bagaimana bisa  ada ketulusan dalam hati nuraninya bila dalam usia yang sangat dini - usia Sekolah Dasar harus - menghadapi guru guru, orang dewasa yang lebih- dalam- segalanya, terhadap manusia kecil ini pada masa  sebagian  besar waktunya, lebih dari separo waktu sadarnya -   Dan yang terpenting dari situasi itu, zaman Orde Baru jaman yang sangat phragmatis dalam mengetrapkan kekuasaan untuk mencari uang., ekornya sampai kini   Bagaimana cara curu guru SD mencari tambahan uang pada era Orde Baru itu.  Seluruh Jajaran Kekuasaan mencari uang dari anggaran bidang Pendidikan dan Pengajaran.
Kekuasaan paling kecil. Guru kelas satu dua,  tiga,  tega memotong tabungan muridnya lebih dari 20 % pada akhir tahun, untuk keperluannya, tanpa sepengetahuan muridnya si penabung  Sangat tidak berarti jumlahnya, tapi sangat traumatis akibatnya.  Berita mengenai pelecehan terhadap bocah ingusan sangat  biasa.  Ketulusan apa yang bisa diharakan dari bergenerasi generasi murid sekolah SD  yang  sekarang sudah jadi kakek nenek ? Ketulusan adalah tautan  yang paling erat  dalam satu kepribadian yang wutuh sesuai nur-aini, bukan terbelah disatu sisi memakai atribut agama dilain sisi brandal dan korupsi -- tanda terbelahnya  satu pribadi senacam ini TDAK MERASA BERSALAH*)

Kamis, 06 Agustus 2015

PENDIDIKAN HARUS MENGHASILKAN WARGA YAN TULUS BERMASYARAKAT

PENDIDIKAN HARUS MENGHASILKAN WARGA YANG TULUS, BARU DAPAT DIKATAKAN PENDIDIKAN ITU BERHASIL.
Saban bulan saya harus mengunjungi Ruma Sakit yang ditnjuk oleh dokter Puskesmas, yaitu Rumah Sakit Angkatan Laut  Dr, Ramelan Surabaya.  Saya sudah menjadi pelanggan Rumah Sakit ini selama lima tahun secara tetap kerena saya penderita stroke ringan
Pengamatan saya  kira kira 75 % pengunjung RS ini adalah menula atau manusia lanjut usia.  dari segala umur.  Meskipun   lebih dri 70 % adalah wanita manula, lebih dari 75% dari wanita pengunjung RS ini memakai  hijab/jilbab, pertanda luar bahwa mereka  muslimah.  Menggeluti  etika pergaulan Islami, jiwanya wutuh, tidak terbelah.
Ruang Penerimaan pasien RS ini, yang sudah diambil alih BPJS,  benar benar merupakan pola statistik kota saya. Wanita manula adalah mayoritas pengunjung, mungkin lebih mudah sakit..
Di artikel ini saya tidak membicarakan penyakit, tapi perilaku manusia pada umumnya, dengan sample mereka yang jadi pengnjung Rumah Sakit. Meskipun saya sendiri manula usia sudah 77 tahun dan sakit , saya rasakan masih ringan, saya tetap pada sikap  laki laki sopan dengan mendahulukan wanita,  apalagi manula dan sakit lagi.  Ya biasa sikap sopan santun,
Apa yang terjadi,   pada saat computer yang mengeluarkan kertas nomer urut  antrean  dari klinik E   (urologi,  bedah umum dan dua klinik lain)  waktu itu  computer ngadat, pasien pada mengorgaisasi diri kembali meletakkan apa saja sebagai ganti antrean sambil bergerombol dimuka meja printer computer, sayapun disana, menunggu  antrean saya. Mendadak keluarlah rentetan kertas antrean  tanpa sepengetahuan petugsasnya, terpotong  tidak sempurna, untuk setiap nomer, Mendadak seketika para ibu ibu dan nenek nenek sakit itu menjadi gesit dengan sebat merebut serangkaian  nomer dan diperebutkan sendiri diantara ibu ibu dan nenek nenek itu !!! Puluhan nomer nomer yang masih kecil/ rendah bilangannya,, antrean tas dan botol minuman  menjadi amburadul, karena nomer kecil inilah semua datang pagi pagi, artinya akan cepat  terlayani.
Saya terkesima,  dan tetap menunggu tas antrian saya dibagi nomer dari petugas, sudah amburadul,  ternyata mendapat  nomer 93 !!!  Ini lebih lecil sedikit dari bila saya datang  lebih siang misalnya jam 7.30  pagi, padahal saya datang sebelum komputer nomer  dibuka, jam enam kurang seperempat, pantasnya bila normal,  ya nomer 35 an.
Saya merenung dalam ruang tunggu BPJS sambil berpikir, Rebutan, baik  untuk  nomer pelayanan,  zakat  mal maupun Jabatan dan rejeki sangat sudah mendarah daging diantara sakyat,  hanya tahu perut sendiri. Perilaku ini sejalan dengan Perndidikan mereka yang mayoritas adalah sekolah dasar, rebutan ini bukan hanya untuk pemainan, tapi untuk hidup, hidup dengan nafsu hewani, Yang bisa sedikit mengencerkan jejak buruk pendidikan SD, adah pendidikan selanjutnya ( mungkin murid sudah cukup besar untuk menentang) , padahal mereka  tidak menyelesaikan sekolah SMP atau SMA.
Nurut perkiraan saya,  statistik  derajad  pendidikan formal rakyat terdiri dari golongan bawah –diwakili oleh pendidikan SD : 75 %, bagian menengah bawah pendidikan SMP, SMA: 15 %, Menengah atas da golongan menengah bagian atas diwakkili oleh pendidikan  D3 dan S1:  7%, bahkan  S2,  2%  – sebab golongan S3 masih dapat dihitung dengan jari.  Hanya sebagian kecil penduduk yang beruntung dilayani oleh lembaga  kesehatat swasta, yang tak terjangkau oleh golongan yang tidak korupsi, atau telah dicover oleh asuransi kesehatan swasta yang preminya mahal, dan dicover Perusahaan.dimana dia bekerja..
Tiga puluh lima tahan Orde Baru, penuh dengan pameran kekuatan fisik, penuh denan euphemisme  menutupi  kerendahan watak, keserakahan  dan keburukan watak manusia diseluruh sector kehidupan, menyisakan nafsu hewani ditandai dengan egoisme mereka yang berpndidikan paling rendah maupn yang bergelar profesor yang nota bene hanya diangkat oleh seorang presiden,  yang terang terangan  bicara pendidikan formal dirinya  hanya SD. Ada seorang profesor yang  menonjol karena  membawakan dirinya sebagai seorang kopral  jendral,  mengajar Ilmu Hukum di  salah satu Perguruan Tinggi  di   Jawa Tengah,  juga menjadi  Penggalang  P 4 dan anggauta  terhormat golkar ( siapa yang tidak ?), mengincar jabatan Jaksa Agung, dapada akhirnya mendapatkannya.
Dari  warisan 35 tahun Pendidikan dan lingkungan  hidup semacan itu, artinya pedidikan budi perkerti diberikan oleh mereka yang culas, mengesampingkan nurani, hanya nafsu egoisme  di zama Orde Baru,  Perilaku egoisme  masyarakat yang tersisa sekarang, lantas budi pekerti semacam apa yang bisa diharapkan ?
Di Masyarkat lain di seluruh dunia, terlebih setelah perang Dunia II, kebudayaan ngantri merupakan jalan hidup, yang berarti ketulusan buat menghargai orang lain, menghargai kepentingan umum. Bahkan upaya ini di Singapore oleh mendiang Lie Kuan Yu ditekankan dengan hukum negara !!. !
Selanjutnya ketulusan hanya bisa dididikkan oleh mereka yang  dengan ketulusan juga  mengajarkannya.  Ketulusan adalah satu satunya ikatan simpul untuk seseoarng menjadi berpribadi wutuh,  memilah milah antara kepentingan pribadi dan kepentingan  masyarakat dengan benar.
 Siapa yang bisa neneguhkan watak tulus kepada masyarakat ini ?  
Yang terang hanya sebagian kecil guru guru yang menyadari ini, terutama guru sekolah dasar,  karena murid muridnya masih polos, jiwanya masih labil dan tunduk pada bully/ancaman, makanya meskipun telah jadi nenek nenek, budi pekerti yang besifat egois masih mejadi kebiasaan, karena kepribadian yang sudah terbelah. Tragis kan *)


Minggu, 02 Agustus 2015

PENGISIAN DAN PERESMIAN WADUK JATI GEDE. SAMPARASUN

PENGISIAN DAN PERESMIAN WADUK JATI GEDE SUNGAI CIMANUK DI JAWA BARAT
Sekarang ini lagi rame ramenya dan diramaikan jug oleh siaran TV One, kekeringan yang melanda Jawa Kalimantan Sulawesi Sumatra  oleh el Nino. Lha kok pengisian waduk Jati Gede tersendat karena menurut Gubernur Jawa Barat Aher belum terbit Pilpresnya mengenai jumlah ganti rugi yang mencapai satu triliun rupiah. Ini kan tendensius bila merunut partai yang mendukung gubernur ini PKS yang sudah ciri wanci –mesti saja setiap  peermintaan pengeluaran yang dimintanya harus dicermati extra hati hati, siapa tahu ada tendensi mencari kesempatan dalam kesempitan  waktu. Siapa tahu aparat dibawahnya  yang menghitung dan  membagi ganti rugi ada main, sambil menggoda mempermalukan Pak Wi.?  Kok nggak nyadari bahwa waduk ini toh untuk kebuyutan sunda thok untuk pengairan sawah sawahnya, dikala krisis air semacam sekarang ini, mbok ya ngrumangsani. Maju terus Pak Jokowi,  tanah air memanggil untuk sebat cancut taliwondo bekerja,  kami  akan tetap dukung.
Kepada saudaraku sesama penghuni Nusantara yang sudah sangat tua budayanya, saya sangat berempati kepada putra wayah  dalem Kebuyutan Cipaku  Sumedang larang, yang salah menafsirkan dunia sejajar Cipaku Sumedang larang di dimensi  kain dari bhumi ini tapi sangat dekat dengan bhumi empat dimensi kita, yang keberadaannya sejajar rapat saling menembus tapi tidak di dimensi yang sama. Jadi seandainya wilayah Jati Gede jadi waduk dan banyak situs legenda sakral ada dibawah  permukaan waduk tidak berarti tenggelam kayak alam dimensi kita.  Meskipun secara wadag anda anda putra wayah  tokoh legenda sang Aji Putih yang terhormat berabad abad dari situs legenda Cipeueut, masih bisa berkontemplasi diatasnya dengan  perahu yang dasarnya diberi kaca, syukur bila “water catchment “ area waduk Jati Gede ini masih lebat berhutan ( biasanya digunduli atau dijadikan villa villa  orang kaya, no problem, wong sama kabuyutannya dan bukan legenda)  airnya bisa jernih sehingga anda masih bisa melihat alam nyata didasar danau yang malah jadi lebih sakral tidak tersentuh tangan manusia. Atau  andika semua bisa menggunakan wisata selam dengan aqualung malah lebih sacral sebab sangar sunyi. Asal tidak saling bertautan dengan ajengan ajengan  anda yang dari aliran Wahabiah saja.
Semoga para pitri dan pohaci masih bisa berhubungan dengan andika warga kabuyutan Pakuan Sumedang larang dengan lebih mesra karena  telah berhasil ikut meringankan hidup petani di hilir Cimanuk dari kekeringan yang didengung dengungkan oleh TV One. Waduk segera diisi. Ada tanda sangat baik dari beliau beliau dari sana, kemarin tg 31 Juni 2015 hujan besar diwilayah Jaboedetabek.
Salam hormat pada yang mulia penghuni legendaris dari Pakuan Sumedang larang, dan terimalah rasa besyukur dari kami rakyat biasa Nusantara dimensi ini.*)

Sabtu, 01 Agustus 2015

IKLIM BHUMI YANG SEMAKIN BISA DIPREDIKSI, TERMASSUK EFEK RUMAH KACA DARI POLUSI UDARA

IKLIM DAN PERTANIAN
Sebenarnya praktek  usaha pertanian dan usaha lain yang mempunyai hubungan erat dengan usaha pertanian umpama peternakan dan peikanan darat. Sangan erat hubungannya dengan ASUMSI KEADAAN IKLIM.
Kennapa asumsi ?
Ya, karean keadaan cuaca setiap saat dapat   ditarik kesimpulan  dari iklim yang sudah sangat lama dipelajari oleh ilmu  KLIMATOLOGI, yiatu  ilmu yang  mencatat  mengenai keadaan cuaca disatu wilayah tertentu setiap tahun, yang secara rata rata berulang kembali dalam satu siklus, biasanya siklus satu tahun. Ilmu Klimatologi mencapai kemajuan yang sangat cepat didukung dengan  alat alat baru mengenai pengukuran semua parameteter cuaca diseluruh muka bhumi, termasuk pencatatan oleh satelit cuaca dan menkomunikasikannya dengan  pusat pusat pengukuran yaitu Badan Klimatologi dan Geofisik diseluruh dunia, menyebarkan pengukurannya kepada upaya yang sangat memerlukan  pengetahuan ini seperti transportasai laut dan udara,  pertanian, perikanan terutama penangkapan ikan, dan pusat pusat komunikasi seluruh dunia. Termasauk ramalan cuaca dan ramalan iklim, siklus yang lebih panjang seperti el Nino  la Nina..
Saya, sebagai  penonton TV yang sangat setia, karena umur saya sudah 77 tahun, sangat menyesal bahwa  mulai bulan Meret, April tahun 2015 ini tidak pernah mendengar dari siaran TV berbagai stasiun diseluruh dunia termasuk Natonal Geograpy  yang saya gemari mengenai peringatan  bila akan datang kemarau panjang pada tahun 2015 disekitar pantai barat Samudra Pasifik tropis dimana kita berada. karena di atas samudra Pacifik tropis udara bemuatan uap air tetap ngendon diatas sana tidak bergerak kebarat, ke wilayah kita namanya El Nino. Apalagi dicanangkan berulang ulang mulai bulan itu, apa saya sudah begitu tua, sehingga sebagai pensiunan Agronomist ingatan saya tdak nyangkut pada peringatan mengenai hal sepenting ini barang sekalipun,  pada bulan bulan itu ?   ( Maret April 2015). Bila ada kan bisa ditangkap oleh sebagian besar petani sehingga tidak berusaha menanam gadu ke2, tanam kacang ijo atau sorghum yang sangat lebih tahan kekeringan. Memang dari dulu petani selalu sulit untuk diperingatkan supaya jangan nanam gadu ke 2 tapi biasanya mereka "ngengkel" kita sebut tanaman mereka "gadu engkel" ( bahasa Jawa,  e dua duanya  dari "elok") karena petani selalu ngengkel/ keras kepala..

Padahal bulan ini akhir bulan ini Juli 2015 saban pagi selama satu minggu diberitakan oleh TV one  selalu memberitakan keadaan kekeringan yang meluas secara cepat dan kebakaran lahan hutan dan lahan gambut yang membuat saya miris. *) Tapi kabar dari Jabodetabek kemarin tg 31 Juli sure higga malan hujan deras, saya harap TV one mau menyiarkan kejadian elok ini. Malah kemarin hujan yang jangkauannya lebih luas tg2/6/2015  juga ada.

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More