Sayang Sama Cucu

Sayang Sama Cucu
Saya sama Cucu-cucu: Ian dan Kaila

Kamis, 12 April 2012

TEMULAWAK NAMA DALAM BAHASA JAWA, NAMA LATIN CURCUMA XANTHORRHIZA. L. OBAT HEPATITIS.

Bila pembaca mencari nama temulawak dalam bahasa Madura adalah temulabak, dalam bahasa Belanda mungkin tidak ada, apabila sudah dicari di buku karangan K. Heine, “De Nuttige Planten van Indonesia” – Heine adalah sarjana Belanda yang asalnya menulis buku dua jilid tebal “De Nuttige Planten van Nederlands Indie” yang menjadi buku panutan mengenai daya guna hampir semua tumbuh tumbuhan di Indonesia, buku ini diterbitkan dalan bahasa Inggris kira kira th 1948, yang di sini malah sangat langka. Mungkin tidak ada nama Belanda nya untuk tanaman ini, sebab asalnya memang dari pulau Jawa kemudian merambah daerah Asia Tenggara, sampai ke India dan China, bahkan Amerika latin. 
rimpang temulawak

Di kepulauan Polynesia di seputar Samudra Pacific tropika ada, di sana juga digunakan untuk obat yang disakralkan karena boleh digunakan dengan upacara (siaran TV National Geography). Akan tetapi di Google keterangan mengenai temulawak sudah sangat memadai temasuk para penjualnya berupa bubuk atau  extract, yang jelas tidak akan mahal, berkat penemuan kegunaan tanaman ini oleh nenek moyang kita.
Saya akan berbagi pengalaman saya dengan temu yang ini, sebab saya tidak serta merta percaya kepada tradisi dan dokter internist saya juga tidak menganjurkan segala macam “jamu” dari rebusan bagian atau seluruh bagian dari tumbuh-tumbuhan untuk diminum, dokter bilang terlalu beresiko.
  Pengalaman saya ini terjadi tahun 1983 pada waktu itu saya berumur 45 tahun, anak saya sudah dua, yang tertua sudah di SMP klas satu.
Semangat saya masih tinggi dan harus bertahan hidup. Apalagi saya telah survive hidup di Russia dari tahun 1959-1965 akhir, dan Alhamdulillah berkat pertolongan Alloh SWT saya survive dari pembantaian massal tahun 1966-1969. Saya juga selamat tidak langsung dikapalkan dan dikirim ke Pulau Buru seperti banyak kawan-kawan saya lulusan Russia lainnya. Saya berhasil survive pula hidup secara terisolir di perkebunan 'in the middle of no where' di belantara ujung Timur Jawa Timur, karena stigma lulusan Rusia mirip 'penyakit' yang harus dijauhi. Hanya saya tidak mengerti sikap pemerintah RI yang mendiskriminasi kami-para mahasiswa lulusan Russia, dengan melarang dalam semua aktivitas politik, dilarang jadi PNS, didiskriminasi dalam kegiatan ekonomi, sosial dan budaya. 
  Tapi itu dulu, saat Amerika sedang tegang dengan Russia. Kini Amerika tidak tegang dengan ideologi Russia, tapi tegang dengan yang ideologi lainnya.

Oke, saat itu untuk pemeriksaan medis, saya bersama istri saya ke dokter internist sudah kedua kali, yang sekali ini membawa hasil test darah kami berdua. Semula memang istri saya ada keluhan sering merasa mual, aku pikir kadang kadang sehabis sarapan soto Madura yang sangat berlemak saya juga merasa mual, jadi saya ikut test darah saya juga.
Dalam hasil test analisa darah saya dibagian fungsi hati SGPT dan SGOT saya justru terkejut karena  SGPT dan SGOT saya malah lima kali lipat dari angka orang sehat. Istri saya cuma diberi resep, namun justru saya langsung diberi surat pengantar untuk segera ke rumah sakit untuk menginap di sana. Namanya bedrest, artinya harus tidur tiduran thok. Tiga minggu dengan patuh saya jalani siksa ini sambil harap-harap cemas, barangkali dokter membolehkan saya pulang.
Saban siang Dokter saya datang, meraba-raba lambung atas sebelah kanan, berbatasan dengan iga, melihat hasil rekaman ultra sonografic, yang menyatakan pemukaan hati dan pinggirannya nasih rata dan halus (saya tidak ngerti artinya).
Saya tidak merasa apa-apa yang kurang di sekujur badan saya kecuali bosan, juga tidak mual makan apapun (wong makanan rumah sakit, mana bisa tidak bikin mual tapi saya bertekad untuk segera sehat). Tiga minggu kemudian saya diperbolehkan pulang, dengan kerja ringan. SGPT (serum Glutamic Peruvic Tansaminase) dan SGOT (Serum Glutmic Oxaloacetic Transaminase) Masih dua setengah kali angka normal. Sekali lagi tiga minggu bedrest di rumah sakit secara sukarela.
Dokter memberi isyarat bahwa saya masih dalam keadaan bahaya, perlu istirahat, saya sendiri juga terpengaruh oleh ketertutupan Dokter, seolah-olah sudah benar-benar menghadapi maut. Kekhawatiran oleh pikiran saja sendiri yang kurang informasi, saya pikir saya bisa beresiko segera mati. Saya senyum dalam hati, apa mungkin setelah lolos pembantaian massal 1966, tapi harus meninggalkan dunia akibat lever, saat itu.
Saya berusaha berserah diri kepada Allah.
 Saya ini memang terbiasa bekerja keras, misalnya sebulan saya harus bisa menempuh 3000-4000 km seputar pedesaan di Jawa Timur, Jawa Tengah, Bali, Lombok, kadang di Jeneponto, di Maros, atau di Mangkutanah-Palopo guna menemui kelompok petani yang lahannya terserang hama, jadi saat dokter menyarankan untuk kerja ringan, saya tidak tahu kerja ringan yang bagaimana?
Akhirnya saya cari dokter internist lain yang lebih jago menurut para detailers teman saya (saya bekerja di Hoechst perusahaan Kimia Jerman yan mempkerjakan banyak Detailers untuk obat obatan Pharmaceutical Industry productnya). Hasilnya sama saja SGPT dan SGOT saya tetap dua kali lipat dari angka normalnya. Hanya salah satu dokter yang saya temui mengatakan dalam jamu Jawa (herbal medicines) banyak sekali alkaloid yang tidak diketahui daya pengobatannya dan daya racunnya terhadap hati dan ginjal, jadi ya lebih baik dihindari. 
Resep tetap saya beli, dan dengan setia saya konsumsi, kalau tak salah namanya “Proheparum,”, “sathion atau tathion” seingat saya akhirnya Dept. Kesehatan melarang claim sebagai obat lever semua termasuk 300 lebih merek dagang produk pharmaceutical, melainkan hanya dibolehkan nge-claim sebagai vitamin atau anti oxidant. Jadi yang diresepkan dokter dokter ahli penyakit dalam waktu dengan khusuk itu adalah  vitamin. O..o, baiklah pikir saya, karena khusus dibuat untuk obat lever, jadi harga obat macam itu sangat terdongkrak naik. Jadi saya berkesimpulan yang penting adalah me-minimum-kan apa-apa yang membebani kerja lever dan ginjal.
Terbawa oleh situasi kerja saya jadi lupa,  temu wicara sama sama petani ke lokasi demo plot kami dsb,  pulang tengah malam, cuma merokok tidak, selain itu lupa saya pikir.
Di suatu desa saya dijamu tuan rumah dengan rebusan temulawak, denga gula aren, kok badan saya seharian berikutnya terasa enak, tidak ada ngilu di bawah lutut yang sangat menganggu. Ibu saya menimpali bahwa temulawak itu dipergunakan untuk nenghilangkan jerawatan gadis-gadis dan menghilangkan bau badan, kok lain lagi, tapi saya malah membuat sendiri dengan menyediakan temulawak potongan dan menjemurnya lalu direbus dan setelah dingin dimasukkan botol buat bekal keliling dengan jeep yang selalu berkubang lumpur ke desa-desa, pegal-pegal di tulang belakang dan kaki pada malam hari berkurang jauh.
Sayapun mulai menjadi promoter dan sekaligus produsen temulawak kering, hanya untuk dibagi-bagi. Mulai dengan belanja di pasar desa temulawak yang sekilo Cuma 2000 rupiah memotongnya setebal 0,5 – 1,0 cm tergantung cuaca, bila musim kemarau dipotong tebalpun mudah dikeringkan dengan dijemur, di musim hujan dipotong tipis-tipis agar cepat kering. Sepuluh tahun sesudah itu harga temulawak jadi 4000 rupiah per kilogram. 
Kok beda bener dengan obat dari pharmaceutical industries  Europa dan Amerika Serikat atau obat yang dibawa oleh pengobatan China, yang bekerja sama dengan jajaran institusi Kedokteran kita..
Setelah diberhentikan karena usia tua dengan diberi pesangon sekedarnya oleh perusahaan yang yang membeli Formulating Plant dan hak  memakai merek dagang Shell Agrochemical, saya sering naik KA ke Bogor lebih dari 12 jam dengan bekal temulawak satu liter rasa payah saya duduk untuk selama itu hilang. Lebih dari itu waktu saya ikut dalam general check up, kecuali jantung saya yang kurang bagus semua parameter fungsi hati dan ginjal dalam batas normal, Alhamdullilah saya bersyukur.
 SGPT dan SGOT dalam batasan normal belum pernah terjadi pada lever saya yang sudah ketahuan  tidak normal. Apakah ini akibat dari kerajinan saya minum rebusan temulawak ? Minum rebusan temulawak tanpa dosis yang tegas.

Saya mendapat tips dari dokter teman saya bahwa hanya 10% dari kasus SGPT SGOT tinggi merupakan tanda penyakit hati yang berlanjut ke cirrhosis/ hati mengeras, yang apabila  berfungsi tinggal kurang dari 25% orang tidak bisa bertahan hidup. Pengobatannya hanya cangkok hati.
Lagipula sekarang, Hepatitis A merupakan penyakit kuning /hepatitis yang acute disertai panas tinggi, telah diresepkan Curcuma xanthorrhiza extract yang ada di apotik-apotik (heran dokter kok kenal ngirit, menulis resep obat yang ngak ada Detailernya  nggak ada pabriknya di Swiss  untuk dikunjungi).
Apapun kata dokter ahli, saya jadi percaya bahwa temulawak rebusan, adala obat sakit lever, juga memperkuat lever sebelum gejala sakit itu diberi nama oleh dokter. Jadi minum temulawak rebus dulu dengan rajin bila terasa ndak enak, lantas apa kata dokter nanti, jangan bebani pikiran anda dengan pikiran yang negatif bahkan rasa takut, sebab takut adalah penyakit itu sendiri, minum rebusan temulawak dulu yang rajin bila tahu bahwa kerja anda berat.
Dua genggam irisan kering rimpang temulawak dengan air satu panci 1,5 liter rebus hingga mendidih sepuluh menit, bila habis diminum, tambahkan lagi segenggam irisan temulawak kering, kemudian tambah air dan rebus lagi hingga mendidih 15 menit. Rebus yang ketiga kali, buang potongan temulawak yang sudah hitam, ganti dengan segenggam yang baru rebus lagi 10 -15 menit mendidih, potongan yang belum hitam jangan dibuang. Rasanya hambar kok, agak getir sedikit.
Temulawak nama Jawa.
Nama latin Curcuma xanthorrhiza L
Genus: Curcuma
Familia: Zingiberaceae
Ordo : Zingiberales
Kelas: Monocotyledone
Semoga berguna, keterangan lebih lanjut banyak di Google dan Wikipedia nya, temasuk alamat yang menawarkan dagangannya.(*)

3 comments:

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More