Sayang Sama Cucu

Sayang Sama Cucu
Saya sama Cucu-cucu: Ian dan Kaila

Minggu, 17 Maret 2013

BAWANG PUTIH (Alium sativum L) & BAWANG MERAH (Alium cepa L)

Bawang putih dan Bawang merah jadi selebritas di Bulan Maret 2013



Rasanya bila tidak menulis perkara bawang putih (Alium sativum L ) kok ndak peka terhadap persoalan budidaya tanaman yang satu ini. 
Familia dari tanama budidaya ini sekarang mempunyai nama sendiri yaitu familia sendiri Aliaceae bukan termasuk Amarylidaceae, atau Liliaceae (J W Purseglove, Tropical Crops). Yang sudah dijalankan oleh Pasar di Negara ini adalah import dari Negara lain, kira-kira 420 ribu ton (Finance. Detik .com), sedangkan produksi dalam Negeri hanya 5% dari kebutuhan ini.
Negara pengekspor komoditas ini adalah China, India, Amerika Serikat, Pakistan dan Malaysia. Dari China th 2012 mencapai 414 ribu ton, senilai 242 juta US Dollar. 
 Bawang putih (Aliun sativum L) ini  bentuk liarnya ditemukan di sabuk sub tropic benua Asia,  di pinggir gurun pasir, dan di wilayah stepa.
Bisa dimengerti bahwa kebutuhan iklimnya  adalah iklim sub tropic yang kering. Diperbanyak dengan umbi pelepah daun dan biji.
Untuk daya tahan perhadap penyakit, dan kebutuhan siklus hidupnya adalah tanah  basah, tapi kelembaban relative udaranya harus rendah, rata-rata di bawah  70%. Karena kebiasaan tepi gurun atau stepa, Tumbuhan di suasana ini sesegera mungkin memanfaatkan keberadaan air pada waktu musin semi yang pendek, memanfaatkan secepat cepatnya keberadaan air di tanah untuk menarik sebanyak mungkin hara, dan bersiap-siap untuk benrkembang biak, dalan hal bawang putih ya membentuk umbi daun, dan biji. Jadi di Negeri ini bawang butih dibudidayakan di ketinggian 2000 sampai 2500 meter di atas air laut, masih dengan resiko apabila kelembaban relatif terlalu  tinggi pada masa akhir vegetasinya, akan gampang diserang penyakit.
Di sub tropic bawang putih ada yang ditanam musim gugur, ada yang ditanam misum semi, tanaman ini sangat gampang ditanam dan tidak menimbulkan banyak kesulitan (sumber : Wikipedia). Ada dua cara menanam bawang putih,  yang ditanam musin gugur dipanen lebih awal dan hasilnya lebih bagus, dari yang ditanam musim semi.
 Lho bila memang begitu ya salahnya sendiri, kok sangat membutuhkan bawang putih itu gimana ? (coba bayangkan bila menggoreng tempe tidak menyertakan bawang putih, atau bikin nasi goreng tanpa bawang putih ?).
Di Batu, Malang, bawang putih pernah jadi tanaman cash crop yang menggiurkan, sayangnya sangat sulit sampai berhasil panen dengan baik,  ( l kwintal  bibit, mengasilkan umbi bawang putih 10 – 14 kuintal panen) harus siap dengan fungicides yang harganya mahal,  lima enam kali aplikasi semusim, dijaga dari night frost (embun upas) dengan menyemprotkan air pagi pagi sekali sebelum subuh, sering terutama bila cuaca sorenya dan malamnya tidak mendung.

Jadi, menurut saya bila memang tanaman itu teraklimatisasi secara alami di wilayah Sub Tropis, memang sulit ditanam dalam wilayah tropis, bila  perlu upaya aklimatisasi  memerlukan upaya breeding yang rinci. 
Umpamanya, mencari jenis bawang putih lokal, artinya yang sudah lama teraklimatisasi di iklim tropis seperti Bawang Bali yang ditanam di Penebel (Gianyar) terang lokasinya di atas 1500 meter di atas muka laut dan kering karena pengaruh angin dari Australia, siungnya sangat kecil namun aromanya sangat disukai penjaja mie kuah atau nasi goreng, sekarang mungkin sudah punah karena bibitnya tidak ditanam sudah puluhan tahun. 

Sedangkan jenis “lumbu ijo” atau “lumbu putih” yang ditanam diatas  daerah Batu, Punten di atas Malang. Saya curiga  istilah “Lumbu” ini dari kata bahasa Belanda “Landbow” hasil  aklimatisasi dan seleksi Jaman Panjajahan dulu.
Bila memang mau swa sembada bawang putih ya dicari wilayah yang mirip mirip dinginnya dengan sub tropika, dan penelitian yang menghasilkan varietas landbow ini dilanjutkan.
Tapi apa seyogyanya lebih baik kita berusaha mengexport ketela rambat atau batatas  (Ipomea batatas L) Yang disukai di China misalnya varietas “ Cilembu” yang manisnya luar biasa atau varietas yang ditanam di Kuningan sebelah selatan Cirebon entah nama varietasnya  apa yang  umbinya besar-besar ( hampir sekilo atau lebih) dalamnya memutih (bertelur)  penuh tepung bila dikukus.  Karena kita tahu betul bahwa di wilayah sub tropis menanam jenis tanaman ini sulit sekali, barangkali mereka punya penelitian untuk aklimatisasi tanaman budidaya ini sudah memenuhi satu gedung besar meliputi empat  generasi para ahli seleksi dan agronomi, sampai sekarang.
Tapi bila soal yang sepele ini, mengenai izin import bawang putih, lha mbok dibebaskan saja izin maupun bea importnya, ndak perlu takut kita mengimport bawang putih berlebihan, wong dipakainya untuk bumbu, bila kebanyakan toh ya tidak enak ? Akirnya bila sdah kuwalahan import bawang putin dai Cina, mbok barter saja dengan bumbu yang sama sama tidak boleh tidak ada pada masalan cina yaitu tepung tapioka, sebab kita gampang sekali memproduksinya, Penduduk china toh satu milliard lebih, lahannya 50 % sub tropik  dan sisanya empat musim, jadi tidak bisa tanam ketela pohon (Manihot utilisima)
Lha bila mengatur import kedelai saja ya sudah “bingung”, kehilangan “road map” untuk mendapatkan luas areal yang mendekati kenyataan, izin impor daging sapi ya begitu, sekarang bawang putih dan bawang merah, rupanya yang berkewajiban mengatur izin pengadaan produk-produk ini kok memang tidak serius, bahasa Jawanya “ngglonjom” percuma digaji dengan duit rakyat, dan punya titel akademis berderet di muka dan belakang namanya. Yang diuntungkan cuma segelintir pedagang sekaligus pengatur pengadaan dagangan ini,  Lha wong business relations nya ini sudah terdakwa di KPK  kok,  malah berdalih ada konspirasi lagi ?
BAWANG MERAH  (Alium cepa  L) 
Sama dengan bawang putih, guna bawang merah adalalah untuk bumbu masak.
Hanya pemakaian bawang merah (Alium cepa L) lebih banyak, paling kurang satu banding lima dengan bawang putih.
Bawang merah lebih banyak ditanam di Indonesia atau tanah tropika yang lain, karena bisa ditanam di dataran redah, oleh sebab  itu lebih banyak problem hama dari bawang putih, pengaruh panjang hari penyinaran sudah bisa diaklimatisasi.  

Ciri utama dari tanaman budidaya ini lebih melibatkan banyak petani, dari petani gurem sampai petani besar, banyak menyerap tenaga kerja, meliputi puluhan ribu hectare di sentra penanamannya. Di kalangan petani tanaman ini adalah cash crop yang sangat cepat perputarannya yaitu dua bulan setengah, dari tanam ke panen. Suka air tapi juga tidak suka kelembaban yang tinggi. Di Brebes bawang merah ditanam sepanjang tahun, dimana petani bawang berusaha menangkal secara dini penularan penyakit cendawan, bahkan dengan mata telanjang kita belum melhat tanda randa penyerangan, mereka mulai memperlakukan dengan Fungisida, pada saat kelembaban tinggi bisa menyemprot tiga hari sekali atau bahkan dua hari sekali, hama terpenting adalah Spodoptera yang masuk ke dalam lubang daun yang memang merupakan pipa, segera sesudah menetas.

 Puluhan tahun petani berjuang melawan hama ini, bahkan dengan insectisida systemic, insecticides chitine inhibitor hormone, baru enam tujuh  tahun  terakhir ini petani bisa mengatasinya dengan mengacaukan perkawinan kupu-kupu Spodophtera ini dengan sinar lampu neon, toh listrik juga makin mahal, karena setiap malam kebun bawang merah kayak kota terang benderang dengan puluhan lampu neon.
Jadi bila Pemerintah Indonesia mau melindungi petani bawang merah memang sebaiknya jangan mengizinkan impor pada musim bawang merah panen, yaitu mulai dari tiga permulaan kemarau. Tapi wong akalnya pedangang, bisa dumping stock setiap saat panen, dengan menimbun stock, dan melempar ke pasar waktu panen besar. 

Untuk menambah stock piling mereka,  karena bawang merah langsung anjlog harganya. Jadi bila memang hendak menolong petani bawang merah, memang pemerintah tidak boleh tanggung-tanggung. Gudang- gudang para pemain penimbun bawang merah harus diawasi karena pemain di bidang ini terbatas jumlahnya, gudang bisa dimana-mana, tapi rakyat dan polisi tetap bisa tahu, seperti koruptor, harus dihukum berat.  Menjaga agar harga bawang merah tetap wajar.
Hasil bawang merah per tahun rata-rata antara 800-900 ton, hanya th 2012 mencapai 10.140 ton.
Impor terutama dari Thailand, Phillipines, India dan Malaysia, menurut Finance.detik.com, dari BPS  th 2012  sejumlah 95.000 ton, satu jumlah yang besar, meskipun hanya untuk bumbu. Melihat dari besarnya impor ini, maka sangat sulit melindungi petani bawang dari pelepasan stock pada saat panen. 

Yang bisa dilindungi hanya konsumen. Sebab sepanjang zaman, penimbunan pangan selalu menjadi lahan empuk dari penyedot uang rakyat,  yang jelas jelas dilarang oelh Agama Islam. Apakah impor yang mencapai 10 kali dari produksi dalam negeri ini menandakan satu regulasi pengendalian impor, saya kira kok tidak.
Jadi pasti pengawasan terhadap kartel pedagang bawang merahlah yang berani berulah, sebab impor dengan air freight pun bisa kalau mau sekedar meredam kenaikan harga bawang merah yang dua tiga kali lipat harga normal, hanya kemauan saja yang ndak ada. Saya pikir ya pasti satu rentetan dengan kenaikan harga daging sapi, kenaikan harga kedelai, nanti pasti Lombok Merah, akhirnya pasti kenaikan yang tidak wajar dari beras, wong yang ngatur ya si semprul itu.(*)

1 comments:

import bawang putih memang banyak sekali, tapi tanam sendiri sangat mahal dan merusak lingkungan water catchment area dilereng ketinggian 1500- 2500 meter karena menggunakan fungicides dan pupuk buatan banyak sekali, masak masa vegetasi hanya 2,5 bulan pakai pupuk urea 1 ton ? baiknya ya barter saja sama China, sebab bumbu yang tidak bisa ditingalkan mereka adalah tepung tapioca/ tepung aci/ kanji !!! karena peduduknya lebih dari satu miliar bisa klop impas

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More