Sayang Sama Cucu

Sayang Sama Cucu
Saya sama Cucu-cucu: Ian dan Kaila

Kamis, 03 Oktober 2013

NYONYA KAPITALIS KECIL, LADY DESPOT, OWNER OF THE INTERNATIONAL SCHOOL, DI KOMPEX APARTMENT KOTAKU


Saya sangat tertarik kepada cerita saban hari dari anak tetanggaku, yang bekerja sebagai guru pada Sekolah yang katanya bertaraf International dilingkungan Apartment yang canggih mahal dan harum, yang mencerminkan keberhasilan duniawi di Republik ini. Jangan salah, dia Sarjana S1 teknik.
Si Nyonya, yang dari keluarga besar yang kini kaya raya, Sangat dekat dengan Keluarga Cendana, sebagai biasanya hasil upaya yang terintegrasi dari dagang  seluruh puaknya dan Kekuasaan di Republik ini, koalisi dagang dan kekuasaan sudah sejak dini memang ada di Republik ini, tidak lebih dari tiga puluh lima-enam puluh  tahun yang lalu. Saya heran, bagaimana si Nyonya ini kok bisa kesasar mengurusi dunia Penyelengaraan Pendidikan formal  (ya tidak heran, mestinya menurut feasibility studies dalam penggagasan pendiriannya, usaha ini sangat menguntungkan, karena bagi orang tua murid yang kaya raya apalagi para “nouveau riche” – orang kaya baru, yang barusan saja jadi kaya, ongkos tidak bakal jadi masalah, daripada anaknya dikirim ke Singapore atau London) 
Mestinya si Nyonya ini kan menapaki dunia celebrities di lobby- lobby yang terintegrasi dengan Kekuasaan seperti sejenisnya, terbalut oleh itu lho,  karya Allure satu perusahaan adhi busana exclusive dari kaum yang dekat dengan Kekuasaan, selalu diperciki oleh air suci yang harum dari Coco Channel seperti Artalita  Who, Hartati  the Invincible, Anita the Star, Astiami the Old Prisonsflea,  Melinda the Deeceptive, Waode the Fixer Of Undevelopes Area, Bunda Putri The Meatgrinder dan masih banyak lagi.
Si Nyonya khilaf, betapa jauhnya dia disesatkan oleh “feasibility studies” dari upaya pendidikan ini, hasil karyanya yaitu kualitas murid muridnya, segera diketahui masyarakat, karena ulahnya yang hadigang hadigung, sebelum sempat diselipkan dalam daun bunga mawar “socialite” di “dream land” mereka yang mereka ciptakan secara harfiah. Murid muridnya begok, demennya nge-game melulu malah di kelas pelajaran. 
Satu saja yang si Nyonya lupa karena tidak tercantum di feasibily studies, bahwa upaya pendidikan harus ada porsi besar  “ kasih”, kepada murid muridnya, kepada bangsanya,  dan kepada ciptaan Allah secara keseluruhan, yang sayangnya ndak bisa dinilai dengan uang. Malah menggandakan diri sendiri bila suasana cocok. Waktu Kristus, saya menyebut beliau Isa Al Masih, ditanya oleh masyarakat miskin Yahudi, apa mareka boleh makan makanan yang bukan makanan kosher ( makanan yang disiapkan tepat menurut tatacara dan bahan yang di halal-kan oleh agama Yahudi menurut Kitab Torah, Kitab Suci mereka), Jawab beliau: “  Makanan   tidak dengan sendirinya jadi cemar melainkan makanan yang djnyatakan cemar oleh Allah”  -Roma 14).  Beliau tahu bahwa orang miskin tidak akan mampu membeli makanan atau minuman haram sebanyak nafsunya dan kapan saja mereka mau. Inilah ungkapan kasih beliau yang tidak pernah diucapkan. Seperti Gandhi atau setiap orang-tua-saleh dan para Guru yang professional,  tidak pernah mengucapkan kata “kasih” dengan sembarangan, melainkan dengan ungkapan perbuatan, dari hati, dengan hati hati, (maksudnya menurut kadar yang wajar). Lha balik kepada si Nyonya, jadi Kepsek bayangan sambil jadi ketua yayasan, sambil ladi juru bayar karena modal untuk mrnyewa gedung atau membeli sayap dari satu cluster apartment yang wah, laboratorium bahasa, laboratorium kimia dan kaboratorium fisika, alat music yang cocok untuk grand orchestra, ruang olah raga dan fitness centre semua indoors, buntut buntutnya semua dihitung dengan ROI ( return on investment) 25 % (artinya dalan empat tahun modal kembali), plus profit pada tahun pertama lebih dari 20% per bulan sama dengan bunganya orang dagang,  berkali kali lipat dari pengeluaran untuk kehidupan wajar dari tenaga pengajar seluruhnya per bulan ( Ini nyonya dibesarkan di wijk Pecinan yang sesak dengan dagangan dan para budak inlanders, tidak pernah mengalami praktijk etische pilitiek dari penjajah sekalipun, bagaimana Meneer Liem dan Meneer Sugio guru guru dari HCS dan HIS diperlakukan oleh yang katanya penjajah ( guru guru ini digaji oleh Gubermen cukup baik, tanpa dihitung ROI terlebih dahulu). Saban hari mengumpat dan mengumbar sifat  kapitalis kecil yang tidak saja tengik, tapi juga diwarnai watak feudal yang kental. Ini adalah retrogresi dalam bangsa ini yang nyata.  Apakah dia tahu bawa  sekolahan bangsa merdeka seperti Taman Siswa yang “kasih” tidak pernah diucapkan melainkan dinyatakan dengan watak egaliter, adalah mesin penetas tekad bangsa ini untuk merdeka ? Yayasan dan guru guru bertekat hidup miskin sebagai akibat sikap non cooperative dengan penjajah yang sudah menawarkan etische politiek yang lebih nyaman, begitu juga kepada pengikut Dr. Sun Yat Sen ?
Pengalaman sekolah si nyonya adalah sekolah bangsawan Europa tempat orang yang tiada kerja melainkan memburu kesenangan para Despots, persis yang ada sekarang. Mereka tidak kenal idealisme melainkan caprice dari uang yang banyak  saja. Ya bisa dibayangkan anak siapa nanti jadi apa di sekolah yang dikepalai oleh si Nyonya ini, guru gurunya nya jadi mati rasa (*)

0 comments:

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More