Sayang Sama Cucu

Sayang Sama Cucu
Saya sama Cucu-cucu: Ian dan Kaila

Selasa, 03 Desember 2013

GENERASI “BELAJAR’ DARI MASYARAKAT KITA

Kedengarannya judul tulisan ini kok klise, sebenarnya tidak, buka klise tapi terbukti pada banyak reaksi dari banyak unsur masyarakat yang menanggapi reaksi masyarakat dengan alasan  yang mentah dan emosional, sebagai pasangan dari sikap yang matang dan rasional. Misalnya “money politik” terhadap pemilih yang diobral oleh satu “dinasti” pada pemilihan Kepala Daerah kok ya membuahkan elektorat yang emosional dan fanatic dan malah memenangkan suara, yang menang menyuap Akil Mukhtar yang kalah ngamuk, kasus kasus “sara” yang sering meletus marak dengan alasan yang sepele, Kasus putusan Pengadilan terhadap satu anggauta kelompok profesi, yang bila terjadi di masyarakat yang sudah matang dan rasional ditanggapi dengan perilaku yang anggun, tidak membakar emosi, dan cerdas. Kok malah “demo” mogok kerja berslogan “yang ini jangan digitukan” seperti para Dokter  kemarin.
Yang memprihatinkan bunyi twitter dari adikku -saya sebut saja adik, karena umurnya lebih muda dariku, kalau saya sebut mbak, kan tidak kena- Ratna Sarumpaet, yang mencanangkan dalam twit-nya intinya– "Bila Kekuasan sudah menggumpal dari golongan  unsur apa saja,  telah mengkhianati rakyat dengan KKN, ya REBUT SAJA."
Saya memang sudah tua umur saya 75 tahun, meniti tebing jurang tidak berdasar selama 35 tahun Orde Baru berkuasa, bukan saya takut konsekuensi dari ide ini, tapi mbok ya mikir, pertanyaan dari twitter lain “Caranya gimana Bu ?”
Dalam keadaan sekarang pekik perjuangan sejenis ini sangat mudah untuk jadi bahan provokasi massal dan pembersihan massal. wong efek  dari indiscriminate genocide, akibat digelarnya propokasi dokomen Gilchrist tahun 1965 yang membuat darah kita membeku, tidak jelas hingga sekarang.  Empat puluh delapan tahun yang lalu hingga sekarang belum hilang dari kenangan rakyat yang mendapat bagian tanah dai UUPA No 5 tanuh 1960 yang akhirnya dibantai. Saya sangat mengharapkan adik adik saya untuk selamanya tidak akan mengalami indiscriminate murders seperti tahun enampuluh lima, yang dengan ngototnya diingkari oleh pelaku pelakunya hingga sekarang, yang kini masih bergentayangan dimana mana.
Saya ya ngerti betapa jengkelnya adik saya ini menghadapi keadaan di tanah air kita dewasa ini. Pertahankan semangat merubah keadaan kearah yang lebih baik, bersama sama dengan seratatus tiga puluh juta pemilih.
Ada fihak lain yang menunggu nunggu kesempatan untuk mengadu domba dan melaksanakan pebersihan fisik seperti yang terjadi di tahun enampuluh lima terhadap sesama bangsa kita yang tidak  disenangi oleh Penguasa Dunia. Banyak kekurangan kita.
Rakyat pemilih kita sudah lebih dari 130 juta orang, dalam alam demokrasi liberal masa kini menentukan warna kekuasaan. Semoga bangsa ini cukup cepat belajar untuk bertahan seutuhnya.
Jadi sebenarnya gampang saja, bersabar untuk menunggu para pemilih jadi pintar, mengerti akan kepentingannya sebagai masyarakat yang berbudaya dan berkeadilan. Sesudah itu baru berkecukupan.
Pintar tidak terjadi dengan sendirinya, pintar karena belajar menerima orang lain, yang bukan kliknya
bukan puaknya, bukan saudara seimannya. Pintar karena mengerti satu satunya tempat untuk
mempejuangkan nasibnya dan nasib keturunannya adalah Negara ini, dengan Bangsa ini yang ditakdirkan ada sampai kini. Ketahuilah sejarah bangsa lain, sampai tuntas secara cerdas.
Alat ada : alat computer ada, sumber informasi ada dimana mana, dengan mudah terjangkau sumber sumber bembelajaran yang beraneka ragam. Asal jangan terpancing emosi yang sengaja ditiupkan untuk mengadu domba  sampai  kita babak balur semua. Percayalah bahwa era ini mulainya semua kepalsuan, korupsi kolusi nepotisme akan terbuka kedoknya dengan serta merta. Yang diperlukan hanya mengetahui “track record” alias “jejak rekam” seseorang yang bisa di umumkan lewat mass media public dengan “citizen journalism” dan “Pewarta Masyarakat” ya tentu mengingat UU ITE, sebagai wahananya yang nyaris tanpa beaya.  Kita gampang tahu jejak rekam si "Tuan Sutan Kerikilbatara" waktu kecilnya ( Harigini kok masih ber-sutan, emangnya zaman Siti Nurbaya ?), mengangkat dewasanya, kemudian menjadi warga masyarakat, perilakunya,  dari citizen ournalists para tetangganya, lha kemudian ya tidak heran prilaku persahabatan apa antara dia dengan Penggembala Sapi Perah dan berapa banyak susu telah dia tenggak gratis yang secara hukum sulit dibuktikan, tapi dari track recordnya kita bisa memotret perilakunya selanjutnya, sehingga yang terpenting ya jauhkan dia dari Kekuasaan apapun di Negeri ini, kan anda yang memilih ?(*)

Sebagai blogger usia saya sudah 75-an, saya lahir di tahun 1938, jadi pemikiran saya, juga pengalaman saya di lima jaman (Jaman Belanda, Jaman Jepang, Jaman Revolusi Kemerdekaan, Jaman Orba dan Jaman Reformasi) sebisa mungkin saya tuangkan, semoga bisa menjadi wacana.

0 comments:

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More