Amazon SearchBox

Sayang Sama Cucu

Sayang Sama Cucu
Saya sama Cucu-cucu: Ian dan Kaila

Senin, 11 Juni 2012

CARA MENGERJAKAN OKULASI ATAU BUDDING YANG BENAR.

Okulasi lebih banyak dipakai dalam upaya menggabungkan sifat-sifat dari dua individu yang baik  dengan menumbuhkan mata tunas tanaman berkambium di atas perakaran batang bawah tanaman berkambium atau roostock tanaman lain yang juga berkambium, yang masih dalam batas satu familia malah sebih dekat lagi, satu species.
Biasanya familia satu tumbuhan akan sama bila tinjauan diagram bunganya sama. Tinjauan jumlah chromosome dalam sel bisa diabaikan. Diagram bunga dengan unsur-unsur sebagai berikut:
-Jumlah dan bentuk kelopak bunga (calyx) ,
-Jumlah dan bentuk daun bunga (corolla) ,
-Jumlah dan bentuk kepala putik ( gynocei) dan
-Jumlah dan bentuk benang sari dan kotak tepung sari (androcei) disingkat Ca, Co, A, G.
Eloknya tidak ada orang yang bisa menduga sebelumnya, keadaan penyatuan dua macam species itu sebagai batang bawah (roostock) atau sebagai batang atas (scion), sebelum dicoba dan diamati. Sulitnya menyambungkan dua species ini acap kali menimbulkan kegagalan, karena memang belum tentu keduanya cocok, karena banyak juga yang tidak compatible (tidak cocok antara tanaman satu sama lain), atau salah dalam mengetrapkan teknik menyatukan dua jenis tanaman ini dengan okulasi dengan mata tunas (teknik okulasi / budding) atau dengan menyambungkan rantingnya/ entrys (teknik menyambung / grafting).
Reno cucuku yang rajin siram-siram


memilih mata tunas untuk dibuat perisai (shield)



mulai membuat irisan untuk mengambil mata tunas untuk perisai
mengambil mata tunas untuk dibuat shield (perisai)
mengelotok/mengelupas perisai (shield)
mengelotok memisahkan kayu dan perisai yang berkambium

perisai (shield) yang berkambium utuh dan siap ditempel


Teknik yang benar membuat perisai:
Perisai itu merupakan kesatuan antara cambium dan phloem, yang di sekitar mata  tunas. Bila dibesarkan perisai ini serupa jaringan pipa-pipa hidup artinya Masih  mempunyai protoplasma  inti sel dan vacuola, pipa -pipa jaringan pembuluh ayak  atau phloem yang juga jaringan masih hidup,  pipa-pipa jaringan cambium, dan  jaringan parenchym, dengan alas yang di bawah jaringan pipa cambium dan  parenchym. Kedua jaringan ini membuat bidang pertemuan dengan batang bawah,  jaringan yang sama dengan kepunyaan rootstock.
  Cuma bedanya dalam meng okulasi tanaman luka yang terjadi waktu membuat jendela, dan luka waktu membuat perisai bisa dibuat dengan pisau yang tipis dan tajam sekali, kecuali itu sebisa mungkin sterile (mungkin dengan dicelup alcohol 70 %, lalu dilap dengan lap yang sterile juga).
Waktu puncak keaktipaan cambium adalah waktu terbaik untuk melakukan okulasi  tumbuh tumbuhan, lha kapan ? Tidak ada penelitian yang menegaskan bahwa selagi tumbuhan membentuk tajuk dari kuncup yang masih muda adalah tanda puncak aktivitas cambium membelah, mungkin bisa sebelumnya bersemi mungkin juga sesudah bersemi, tapi pokoknya bila tanaman bersemi itu umumnya phytohotmone yang mempengaruhi pertumbuhan sel sedang banyak, jadi termasuk jaringan cambium juga.
Jangan sampai kulit tumbuhan yang akan diambil sebagai perisai mata tunas satu-satunya dalam perisai itu tidak sempurna, artinya bagian xylem dari mata tunas tidak terikut alias menyebabkan lubang pada perisai, sebaiknya angkat kulit tunbuhan bakal perisai, sebisa mungkin jangan ditekuk melainkan dibantu dengan diangkat pakai pisau sambung yang tipis, dipisahkan dari jaringan kayu, mesti harus terasa mudah dan licin, sesampai dekat mata tunas dibantu dengan tajamnya ujung pisau sambung, agar bagian kayu (xylema) dari mata tunas dipastikan terikut di perisai, bagian bawah dari perisai dipotong sejari. Dengan asumsi bagian ini sudah tidak steril karena bagian ini dipegang dengan dua jari tangan kiri untuk dipisahkan dengan bagian kayu dan kadang terlalu ditekuk keluar oleh kita, jadi jaringan phloem dan cambiumnya pecah dan dapat menciptakan rongga pada kapiler jaringan tersebut, selanjutnya menyebabkan kematian sel-sel pada tempat paling bawah itu. 
   Sesudah bagian atas dipotong sebagai akhir dari proses pengambilan perisai, tanpa banyak kontak tangan dengan perisai, si perisai (shield) sudah siap untuk di pasang di jendela yang dibuat di batang bawah (rootstock), jendela kira-kira sejengkal lebih dari tanah sebisa mungkin sama lebar dengan perisai, diiris sejajar dipotong bagian bawah trus kulit batang bawah dikelotok keatas, kali ini mengelotoknya boleh sembarangan, artinya boleh ditekuk, karena yang penting adalah bagian kayu dan bagian cambium dari rootstock, yang diupayakan tetap steril tidak tersentuh pisau atau tangan.
  Pengelotokan (mengupas) kulit untuk jendela pada rootstock, harus terasa mudah dan licin, rootstock tidak boleh masih mengeluarkan air bila dibuat lubang jendela.
  Apabila perisai masuk dalam jendela masih kekecilan, upayakan membuat jendela di satu sisi saja dan ke atas sampai mentok, tapi bukan digeser melainkan yanya ujung perisai bagian atas didorong sampai mentok tanpa menggeser bagian cambium dari rootstock, habis itu perisai ditutup dengan sisa kulit yang telah dikelotok tanpa menekan terlalu keras tanpa mengeser-geser lagi, lantas dibebat dengan tape atau raffia (buka cellotype ynag sudah ada lemnya) yang sebisa mungkin bersih/sterile dibebat dari bawah keatas, diujungnya tetap dipegang dengan tangan kiri, ujung pita disisipkan kebawah bebatan, dikunci dengan bebatab satu putaran dan ujungnya pita yang terisisip dibawah bebatan ditarik erat-erat, maka selesai seluruh proses okulasi.
  Tinggal ditunggu empat lima hari, bila okulasi berhasil, artinya perisai tetap hijau, baru bebatan dibuka untuk diikat kembali dengan menyisakan lubang buat mata tunas tumbuh. Proses ini harus sangat hati hati agar tidak menggerakkan posisi perisai yang masih dalam proses menyatu dengan batang bawah. Atau diwaktu membebat yang pertama di bagian mata tunas sengaja dilewat tidak ikut terbebat. Semoga segala anjuran dan segala pantangan dalan proses operasi tanaman yang namanya okulasi ini berhasil, dan jangan bosan untuk mencoba dan mencoba lagi. Salam Pertanian.(*)

0 comments:

Poskan Komentar

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More