Sayang Sama Cucu

Sayang Sama Cucu
Saya sama Cucu-cucu: Ian dan Kaila

Senin, 09 Januari 2012

SALAK PONDOH, CERITA YANG MENYENANGKAN


Ini saya tetap tidak janji nulis yang baik-baik saja di  blog ini,  meskipun  sebenarnya cerita ini menyenangkan.
    Buah Salak (Salacca zalaca atau Salacca edulis…)  memang sejak dulu sekali ada di Nusantara, penggemarnya yang ikut melestarikan budidaya ini ya kita-kita, dengan segala susah senangnya. Soalnya beli rasanya enak, beli lagi e... e lha kok rasanya ndak enak mencekik leher.
Senangnya apa, buah Salak cocok untuk menjamu tamu dalam perhelatan besar kecil, karena tidak mengotori tangan dan pakaian kebesaran, rasanya bila dapat Salak yang benar, manis segar, kurang berair, mudah dikupas, sayangnya sudah sejak tanaman ini dibudidayakan,dan dijual  di pasar-pasar bila lagi musim, penjual buah ini paling penuh dengan tipu daya sewaktu  penjaja buah Salak menjajakan Salaknya ke calon pembeli, dagangan Salak diatur yang besar dan mesti di atas, kurang dari 10 biji, yang di bawah ya seadanya, senampan penuh.
    Bila ditawar dengan harga yang kurang berkenan, mereka selalu bilang: “Pundut sedaya napa? ( bahasa Jawa : Mau dibeli semua?)
Harganya tidak pernah naik exorbitant karena tidak pernah dicari untuk sesaji di klenteng-klenteng.
Rupanya nama lain dari buah ini “snake fruit” tidak disenangi dewa-dewa.
Itu dulu sebelum ada anugerah cara perkembang biakan yang baru kira kira th 1980 an.(Wikipedia)

   Khusus di Bali sebaliknya, Salak cultivar Salak “Bali” ,  memang Salak kelas satu, rasanja enak bijinya kecil, daging buahnya tebal, sejak dulu masyarakat Bali seluruh hidupnya adalah ibadah kepada para Dewa, jadi memetik dan memperdagangkan buah Salaknya pun bila sudah tua benar.
Sekarang  masyarakat Bali sudah terpolusi berat, umpama di jalan masuk ke Pura Besakih yang sacral, tidak ketahuan Bali yang mana, mereka penjual Salak, mereka sama dengan penjual buah yang lain,  menimbang yang sudah dipilih oleh pembeli, membungkus dalan kantung plastic khusus hitam, menghitung harga dan kembaliannya, e... e sampai di rumah Salaknya berubah jadi Salak muda dan kecil-kecil tidak enak dimakan, itu sekarang, sementara turis domestic sesudah dirumah setelah menyeberang Selat Bali, ratusan kilometer dari segala Pura segala tempat wisata, pada menggerutu.
    Penjual Salak di tempat tempat yang dikunjungi turis terutama turis domestik, si penjual Salak memposisikan dirinya dan timbangannya satu hingga satu setengah meter lebih tinggi dari dagangannya yang diatur dengan bakul-bakul  berundag ke atas, menutupi pandangan dari depan apa yang terjadi dibalik itu, dari samping juga tertutup oleh dinding kiosk,  wajar makin ke atas makin tinggi kualitasnya. Tapi diatas sana dekat dia duduk sudah siap kantung kantung plastic hitam dengan isi Salak khusus  kualitas rendah dengan berat 1 kg, 2 kg, 3 kg  tersembunyi dari pandangan calon pembeli tentu saja, khusus untuk penukar bungkusan Salak yang sudah dipilih oleh pembeli untuk ditimbang, pintar kan ?
   Makanya hati-hati jangan pernah beli buah dari  pedagang buah apa saja yang ningkring duduk di atas, di belakang dagangannya, belilah di pasar-pasar, daripada kecewa nanti, sesampai di rumah.
Melapor Polisi ? ah jangan guyon, karena hal 'lumrah' yang demikian sudah terjadi puluhan tahun, bergenerasi-generasi, mungkin mereka kerabat penegak hukum, atau direstui Pengusa atau Preman secara langsung atau tidak langsung karena setoran penjual penjual Salak ini istimewa.

  Salak Pondoh yang ditanam dan diperdagangkan seputar Kabupaten Sleman, Jogjakarta lain lagi, jalan raya dari  Jogja ke Borobudur sepanjang tepi jalan ada tempat bejualan Salak Pondoh di banyak lokasi, dengan cara berdagang yang sangat menyenangkan.
   Semua dagangan Salak Pondoh sudah dipilih dengan tiga kategori  kualitas super, kualitas nomer satu dan kualitas normal, dengaan price tags harga masing masing setiap kilogram, semua timbangan OK dari Dinas Metrologi. Lereng Merapi boleh dilanda bencana abu vulkanik yang tebal kebun kebun Salak Pondoh musnah, tapi Salak Pondoh ada dari Purworejo, Banjarnegara bahkan dari Wonosalam Jombang, dari semua pejuru, semua hasil fotocopy tanaman yang baik.
   Dijajakan dengan terbuka, diletakkan di bale-bale di bawah atap seperti saung atau gardu  keranjang demi keranjang, semua terbuka dari empat sisi penjuru angin, disediakan contoh untuk dicicipi kemudian, tinggal timbang, cepat dan ramah, beda sekali dengan simbok-simbok (ibu ibu setengah baya khas dengan kain batik lusuh dibawah lutut diikat dengan kain setagen (kain pengikat pinggang panjang selebar telapak tangan) sekenanya, dan kebaya yang sama lusuhnya sambil mulutnya disumpal susur - sebutir besar tembakau,  menjajakan segendongan Salak “Sleman” (yang sekarang mungkin sudah punah) sambil membawa kesana kamari sekeranjang kecil Salak yang sudah diatur, dua tiga buah yang besar di atas kemudian yang bawah dipasang Salak kecil-kecil diatur sedemikian untuk menipu pandangan, bila ditawar menjawab dengan sinis, apa mau dibeli semua ?
Bila diladeni jawaban akan panjang pernyataan pernyataan sinis  dan sarcastic, itu dulu sebelum th 1990 an. Kini berubah, apakah karena pengaruh para agamawan, dan alim ulama di wilayah itu yang tak henti-hentinya memberi ceramah rokhani, sehingga para bakul Salak di Sleman menyadari kekhilafannya, sehingga merubah cara menjual Salaknya dengan cara yang lebih elegant ?
  Yang jelas entah siapa yang memulai langkah jenius yaitu membuat fotocopy Salak Pondoh persis seperti beberapa batang Salak Pondoh yang mereka punya.  Kejeniusannya punya ide mencangkok anakan/cabang Salak Pondoh, lho kok ternyata berberhasil.
  Ada apa dengan si Pondoh kok orang begitu memutar “ketrampilan” men-cangkok Salak cultivar ini ?
Saya tidak mengatakan memutar otak, karena menurut teori sekolahan, men-cangkok golongan tanaman Monocotyledone – golongan  Palmae in tidak terlintas pada pikiran sekolahan, karena biasanya golongan  ini tidak ber-ruas-ruas, apalagi mempunyai “lapisan” sel yang meristematis yang mananya cambium, pada Monocotyledone cambiumnya bercampur dengan jaringan jaringan pembuluh, jadi bila tidak beruas ruas, yang dari situ bisa tumbuh tunas cabang dan tunas akar, jaringan meristematis ada disela sela jaringan pembuluh, kerjanya cepat selesai, makanya bangsa rerumputan diameternya tertentu saja.
   Tapi jelas batang Salak yang masih muda bisa mengeluarkan beberapa tunas cabang.
 Apa ada orang mencangkok kelapa ?. Men-cangkok Kurma ?
Lha Salaca zalaca ini kok punya tunas tunas di batangnya tapi tidak mengeluarkan akar, khusus pada tanaman yang umurnya kurang dari katakan 6-7 tahun, bila sudah terlalu tua konon kemauan membuat tunas di bantangnya berhenti.
     Saya tahu nama Mukibat, nama Mujair, nama Jagus adalah memang sedikit nama petani yang genius yang dikenal orang, seperti juga yang menemukan pen-cakok-an Salak ini.
Memang semoga jasa rakyat selalu dicatat oleh Allah, dan beliau beliau nanti ditempatkan di Syurga, paling tidak syurganya tidak dicampur dengan para Doktor Pertanian tapi yang yang ndak ada karyanya dan ndak pernah ngomong nyumbang perkara pertanian, ada lhoh yang Doktor Pertanian tapi sayangnya sekedar gelar abal-abal saja untuk mendongkak citra, ehm.. kalau tak mau dibilang abal-abal yah paling tidak yang ilmunya belum matang benar, tapi sudah lulus.
   Mengapa rakyat yang berkarya memulai mencangkok Salak Pondoh ini sangat berjasa ? Karena beliau telah membebaskan rakyat Sleman, Jogja terutama Stasiun Tugu dari dosa, karena selama menjajakan Salak selalu penuh tipu daya bergenerasi-generasi. Sekarang semoga tinggal sejarah.
Entah bagaimana nasib penjual Salak di Bali penjual mangga di kota Probolinggo, pinggir jalan yang satu jurusan menuju ke timur, teknik mereka sama.

Cara mencangkok Salak
Oke deh, kini cara mencangkok Salak. Pohon Salak yang sudah brumur 4 -5 -6 tahun, pelepah daunnya yang terbawah sudah sejengkal dari tanah, diatasnya daun daunya menua dan tumbuh tunas, lha tunas ini dibersihkan dan dicakup dalan dinding botol atau gelas pastik yang sudah digunting memanjang dari atas kebawah sekira 15 cm. Nampak tunas di pisahkan dari batang induknya oleh dinding botol plasti atau gelas plastic yang sudah disatukan kembali dengan diberi lubang bulat secukup agak sesak untuk tunas bisa melukai sedikit, penggir guntingan ke atas tunas disatukan kembali dengan diikat  solah olah pot untuk media. 
   Trus potongan botol plastic atau gelas pastik yang transparan itu diisi dengan tanah atau media yang bisa menahan kelembaban, seperti mencangkok pada umumnya, yang ini harus digantungkan, permukaan atasnya terbuka seperti pot.
  Bedanya selama tunas ini belum berakar, makanan disupply dari batang di bawahnya yang masih berhubungan dengan bagian pohon induk dengan kayu atau xylem pada pencangkokan biasa, sedangkan pada penccangkokan Salak dari samping tempat tunas batang ini menempel, luka kecil yang ditimbulkan oleh bibir potongan botol plastik, atau gelas pastik, kelembaban media cangkok dan suasana gelap (tertutup oleh media cangkok ) bisa merangsang tumbuhnya perakaran baru di bagian tunas menempel di induknya. Dialah bakal tumbuhan baru fotocopy dari pohon induknya

   Ini yang paling penting, meskipun fotocopy atau bibit baru ini relatip hanya bisa dihasikan sedikit konon hanya 5-6  cangkokan, toh sudah lumayan, katimbang tanam dari biji seperti sebelumnya, apalagi Salak kan berumah dua (tepung sari dihasilkan oleh bunga jantan di satu pohon jantan sedang bakal buah di bunga betina dilain pohon betina) jadi selalu terjadi persilangan, dan bijinya akan tumbuh jadi individu bastar, sulit untuk menndapatkan Salak satu kebun yang seragam.

  Sesederhana apapun mencangkok Salak, praktek ini dilakukan oleh petani kita, tidak sempat dicatat namanya, dihadiahi rasa terima kasih oleh “Muri”, atau diwawancara di acara TV Kick Andy  sebagai pengentas calon pelaku dosa kecil, yakni para bakul Salak yang bibitnya didapat dari biakan biji (senyum).

  Saya pribadi tidak sempat mencari siapakah gerangan yang memulai mencangkok Salak Pondoh ini. Dengan ini saya ucapkan terima kasih kepada para pahlawan warga desa yang mencangkok Salak semoga Allah melipat gandakan amal ibadah anda

  Tidak lupa saya juga mengucapkan terima kasih dan penghormatan setinggi tingginya kepada petani kita yang sampai saat ini mempertahankan existensi “ ultivar”  Salak di mana-mana, meskipun bila dtitinjau dari alam tanaman berumah dua yang pasti disilangkan agar mendapat biji, kok masih bisa mengumpulkan berbagai cultivar Salak yang kurang lebih seragam, yang saya tahu misalnya Salak Bali, Salak Tlisik (Parusuan), Salak Suwaru (Malang), Salak Bangkalan, Salak Wedi (Bojonegoro), Salak Sleman, Salak Bogor, Salak Rantepao di Sulawasi selatan Salak Condet dari Betawi (apa masih ada?) dan lain lain cultivar Salak yang dengan susah payah dilestarikan oleh kita semua, semoga buah import tidak membuat petani kita malas.
  Saya mengharapkan dengan sangat semoga selain Salak Pondoh yang memang mengangkat derajad penjual Salak jadi gentlemen dan gentlewomen untuk kesenangan kita dan sampai ke anak cucu kita semua. Juga Salak Bali, Salak Tlisik (Pasuruan) juga Salak Wedi (Bojonegoro) dikembang biakkan dengan cangkok dari pohon induk yang baik, dengan teknik cngkok ini, Allah menyertai kalian. Dan mari kita mohonkan ampun kepada sebagian penjaja Salak kita yang telah salah langkah, serta tidak menginsyafi telah menjual Salaknya dengan cara curang. Pintu taubat masih selalu terbuka, anda akan disupply Salak terbaik, tidak usah menipu.

   Saya juga dengan senang hati menawarkan kepada tetangga kita, jiran kita, untuk ikut menikmati kemurahan Allah ini kepada tetangga jiran yang saya kasihani ini, untuk tidak usah meneruskan kebiasaan jelek, mengaku aku kebudayaan tetangganya, Salak Pondoh ditanam di sana lha nanti di patent-kan sebagai Salak ”Tengku Fakri ( bekas suami artis Manohara)” (senyum lagi).    
  Tanamlah Salak cultivar kami dari cangkokan kami sudah itu kalian cangkok sendiri, kembangkan sendiri, perbaiki sifat sifatnya yang kurang berkenan, tapi jangan mengaku aku, malu pada anak cucu, malu pada benderamu yang dihormati manusia sedunia.

   Rasanya kok kurang afdol bila dalam tulisan ini Salak Pondoh tidak di diskripsikan disini, Salak Pondoh lain dari kultivar Salak yang ada,  memang dari pentil tidak berasa “sepet” apalagi sampai tua. Daging buahnya kecuali manis segar juga tidak pernah “masir”terlalu kentara.
   Agrotenik: Salak tolerant terhadap kekurangan penyinaran matahari, harus selalu cukup air, tanah lebih disukai yang geluh berpasir dan tidak pernah ada air menggenang. menghindari penutupan dedaunan satu sama lain untuk bersaing, tanah gembur selalu basah, menjaga drainage untuk mrnghindari air menggenang, siap menyiram bila dibutuhkan.
   Dipupuk dengan pupuk kompos yang ditanam di got buntu dan pupuk NPK menurut kesuburan tanah asalnya. Tanaman muda dari cangkokan diberi tanaman pelindung, masih dalam potongan botol plastic  dipindah ke kantong kantong plastic hitam untuk bibit berat kira kira 2-3 kg, untuk waktu adaptasi tanaman pindahan ke kantong kantong plastic dengan perawatan intensive, bila perlu diberi tiang bilah bamboo untuk mengikat batang (sebab berat diatas) sementara perakaran belum banyak. Setelah beberapa bulan di kantong plastic bisa dipindah di lapangan.
   Harus ada masa adaptasi selama beberapa bulan sebelum di taman di lapangan, ini yang biasa diabaikan, karena  menyingkat waktu bagi penjual bibit, dan menjadi penyebab kegagalan, bagi pembeli bibit.
Sebaiknya dilapangan disiapkan terlebih dahulu naungan sementara, dari Glerisidia/Gamal/Secang, atau Turi (Sesbania spp) naungan dihilangkan setelah tanaman Salak teradaptasi di lapangan.(*)




1 comments:

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More