Sayang Sama Cucu

Sayang Sama Cucu
Saya sama Cucu-cucu: Ian dan Kaila

Selasa, 27 Mei 2014

Balada Sang Calon

Sosok yang diambil sebagai model kaum intelek yang tercetak dari sistim. Menyebal dari sistim, menjadi calon executive, lewat jalur calon independen untuk Gubernur Jawa Timur, dan gagal.

Saya ambil nama sosok ini sengaja dari twitternya yang, menyatakan bahwa perbuatan menilep bunga tabungan Haji di Kementerian Agama, Suryadarma Ali, harus diadili secara Hukum  Islam.
Kok aneh, bila menelisik dari track recordnya, sosok Eggy Sujana ini termasuk tokoh dari Organsasi Mahasiswa yang merupakan sumber kader dari tokoh tokoh Organisisi Partai Islam di Indonesia yaitu Himpunan Mahasiswa Indonesia (HMI), yang diambil oleh Pak Harto sebagai partner yang setia tokoh tokoh Orde Baru yang lalu dan merupakan kelompok Pemegang Kekuasaan. Diberi kapling khusus empuk di BULOG kepada foundernya Dr Achmad Tirtosudiro.dan sederet penggantinya kecuali Dr Rizal Ramli jaman Presiden Gus Dur.
Dengan Suryadharma Ali, Anas Orbaningrum, Lutfi Hasan Ishaq, Fathonah, Wawan, Fadli  Akil Mukhtar dan deretan mayoritas dari  Menteri Menteri Kabinet Orde Baru maupun Kabinet Presiden Susilo Bambang Yudoyono, mayoritas satu asal usul pengkaderan, satu cetakan. Tokoh tokoh ini semua pinternya dalam agama Islam selalu dipersaingkan, tidak diamalkan. Cuma dibuat selingan mengisi  waktu supaya betah istiqomah ditahan di KPK atau ketika jadi Narapidana korupsi saja. Rupanya selama pembentukan pribadinya dibiasakan menyesuaikan diri dalam lingkup exclusive elite, jadinya terarah bukan menuju ke rakhmatan lil Alamin tapi rakhmatan lil sistimin. Saya baca komentar  mengenai kuliah umum dengan kata kunci :"cuci otak dari Pengacara, dosen  Dr Eggy Sujana SH., MSi TTL" ini, di google banyak yang memujinya dalam keberanian memimpin demonstrasi mahasiswa, banyak yang mencercanya dari golongannya, rupanya dalam internal organisasinya beliau bukan conformis ( terbukti dalam pencalonannya sebagai Gubernur Jatim beliau tampil sebagai calon independent), blusukan ke kampung-kampung, di Surabaya utara mengadakan fogging terhadap nyamuk Aedes aegyptii penyebab demam berdarah di kampung kampung dsb. Kurangnya hanya tidak ada yang memandu di daerah daerah sehingga kurang bisa menemukan gerombolan pemilih yang gampang dipincuk secara instant (kayak bikin kopi instant)  tidak terkunjungi, lha apa yang bisa diperbuat seorang single fighter untuk memberi kesan pada calon pemilih ?
Saking beliau ini single fighter dan pengikut team successnya cuma kelompok mahasiswa gratis tukang demonstrasi saja, tragislah, dalam memincuk massa kalah sama Doktor Rhoma Irama,  memang jamannya baru menuntut itu, sayang.(*)

Ir. Subagyo, M.Sc usia nyaris 80 tahun, Arek Suroboyo Asli, pernah bertahan sekeluarga selama pengepungan Surabaya oleh Sekutu  10 November 1945. Kisahnya tentang kenangan selama di Surabaya saat di bom sekutu bisa dibaca pula di blog ini pada link  http://idesubagyo.blogspot.com/2012/08/ingatan-situasi-sebelum-17-agustus-1945.html

Mendapat gelar sarjana dan pasca sarjana di University Patricia Lumumba- Universiteit Duzhby Norodov, Moskwa Russia tahun 1966.

Sekembali dari Russia pada geger 1966 hampir semua alumni Russia langsung di Pulau Buru-kan atau dibui di Nusa kambangan, dan sebagian lagi tidak diijinkan hidup oleh Orba,  namun Alhamdulillah  beliau selamat dari geger 1966 karena tidak pernah mengikuti parpol manapun dan ormas manapun. Aktivitas ekstra kurikulernya di Russia banyak diisi dengan berkunjung ke Tashkent-Bukhara, membuat lukisan juga sketsa. Karena daripada kumpul-kumpul, beliau lebih memilih merenungi filosofi hidup, berkarya seni plus membaca sebagai hobby utamanya.

0 comments:

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More