Sayang Sama Cucu

Sayang Sama Cucu
Saya sama Cucu-cucu: Ian dan Kaila

Jumat, 04 Mei 2018

SADARKAH ANDA KITA SUDAH DIKEPUNG BANGSA PREDATOR

SADARKAH ANDA, BANGSA INDONESIA INI DARI ZAMAN DULU SUDAH DIKEPUNG OLEH BANGSA PREDATOR ?

Ya, dari dulu penghuni Nusantara in sudah punya lingua franca, bahasa Melayu yang kemudian sekali baru dipertajam menjadi bahasa Indonesia, karena kita sudah menyadari dari dulu.
Bahwa persatuan suku suku di Nusantara adalah modal pokok untuk menangkal serangan  predator dari dua jurusan ini.
Bisa dimisalkan bahwa kerbau di kepung dari barat oleh bangsa leopard gurun dari Barat, jauh sebelum bangsa Europa Vasco Da Gama, mendapat jalan pelayaran lewat Tanjng Harapan.  Dari Timur gurun Gobi deserbu oleh para naga. Keduanya baik leopard  maupun naga merasa bahwa mereka adalah pemimpin budaya dunia. Sudah terbukti dalam sejarah para Pemimpin mereka mengirim utusan yang merupakan alat menuntut penaklukan, dari Timur utusan Kublai Khan dari wanga Mongol ke Singhasari di pulau jawa, dan Syech Sulaiman oleh wangsa Mamluk dari Mesir, ke Pasai Aceh ( historysmartku.blogspot.com/2016/07/kerajaan-samudra-pasai.html) 
 – yang masih tercatat dalam sejarah  yang masih tersisa, karena telah ditukangi oleh Penjajah Belanda. Belum para utusan yang dikirim ke kerajaan kecil kecil di Ternate, Tidore, Bali, Lombok, Luwu dan di kuala sungai di Sumatra dan Aceh, yang sudah terlupakan oleh sejarah. Kerbau hanya ditundukkan cukup dengan utusan, bila perlu dengan sedikit hadiah seperti senjata dan pakain kebesaran, tidak perlu exspedisi  angkatan laut yang mahal.
Saya yakin bukan hanya oleh alasan ajaran agama , tapi juga alasan ekonomi. Nusantara adalah asal rempah rempah, beras dan emas.
Dari sudut pandang ini saya ingin mengemukakan, bahwa bangsa ini, kesatuan dari suku suku di Nusantara, termasuk ras ras yang sudah menjadi penghuni bhumi Nusantara puluhan hingga ratusan generasi, sudah pernah mengintegrasikan diri dalan tekad percaya diri untuk menjadi dirinya sendiri, yaitu bangsa Indonesia. Sayangnya masih dengan pasang surut, seirama perlakuan kekuasaan yang ada, pernah condong ke islam di zaman Demak Bintoro, kemudian mepet ke Belanda, alhamdulillah sampai sekarang sudah memilih tanah air Indonesia, sambil masih membawa watak oportunisme kapitalistis. Saking mudahnya berganti ganti muka untuk dipamerkan didepan bangsa yang tumbuh di iklim pemurah ini. 
Karena serbuan utusan utusan dari para leopard dan naga, tambah elang botak dan beruang kutub, mereka pasti menumpang ekor sang naga. Kedua yang belakangan sebenarnya sangat pelit untuk mengeluarkan uang, belanja perang amat sangat mahal, makanya bilioner bilionernya segan ditarik iuran perang, maka pajaknya harus di perbanyak, berarti rakyat kecilnya yang diperas, rakyatnya, pemuda penudinya  yang dikorbankan untuk perang demi si kaya mencari resouces alami demi berputarnya kspital elang botak ini. Sekarang mereka ini sudah mengerti, bisa bisa Presidennya tidak terpilih nanti, apa dimakzulkan, sayang.
Para billionair  sangat egois, tidak mengenal nasionalisme, yang dikejar hanya keuntungan ( waktu Europa - sekutu si elang ini sedang perang dengan Jerman, bilionernya malah menyediakan bahan bakar untuk kapal selam Jerman ditengah lautan, padahal dalam waktu yang sama menenggelamkan Lusitania, kapal penumpang sipil berbendera Negaranya, bayangkan). Sedang si beruang sibuk dengan programnya sendiri, ingin memiliki lahan pertanian pangan yang  tidak terganggu dinginnya kutub, karena dia korban pertama di bhumi ini, dari perubahan iklim global, yang sudah dicanangkan nyata nyata, perlu segala upaya untuk menangkal ini, sedia payung sebelum hujan.

Lha kita, bangsa Indonesia, ya harus tegas, dan percaya diri, untung masih dikaruniai Allah  tambang emas Papua, tapi si botak malah jadi sok jagoan, nakal a’la gangster mafia maunya diambil semua, kayak miliknya mbahnya sendiri, mestinya mengerti, toh sebenarnya perolehan si elang botak ini malah bertambah karena gunug ini masih jauh lebih banyak mengandung emas. ( you tube, kata kunci Presiden Jokowi gigih. Menurut Rizal Ramli Indonesia mendapat durian runtuh - nilai dollar bisa melejit jadi Rp 2000/ US dollar) beliau tahu ini, dan beliau serta staffnya sudah dimandikan air kembang setaman,  anti gendam, anti suap barapapun – e e malah menteri BUMN nya kok terpincuk masalah kecil, minta bagian rejeki listrik untuk dinastinya, ketahuan, jadi dia mengandung masalah - jadi masalah emas ndak bisa kan dia  bermuka dua, ndelallah. 
Kalok Indonesia sudah sekaya itu, semoga Pendidikan dibenahi, mulai dari mendatangkan Pengajar/Lecturer asing dari mana saja, yang professional. terutama dibidang ilmu eksakta dan teknik, dengan kontrak ninimum lima tahun sebab dari sana sumbernya para pencoleng semua bidang pelaksanaan dan perencanaan, Perbandingan mahasiswa dengan staff dan pengajar Universirtas Proffesor, Lecturer, asisiten pengajar dan laboratorium  asisten setiap kafedra, librarian,  satu banding sepuluh mahasiswa.  konon  di  Uiversitas Haneda satu digaji cukup - banding enam mahasiswa) Pemilihan Rektor dan Dekan dengan prinsip profesionalisme dan kualitas kesarjanaan,    sebab watak pencoleng dari ilmu teknik mebahayakan umum,  mampu melakukan  korupsi tanpa merasa salah, wong memang b,,,,,,, dasar. 
Insya Allah akan mendapat pengawal kesejahteraan masyarakat dengan baik dengan cepat, Serahkan kementrian PP&K kepada Pendidik Profesional, yang mencintai bangsanya, kemandiriannya, bukan pada politisi atau sipapun yang amatiran dari  apalagi pada Businessmen, 
Pendidik, Budayawan, adalah jenis manusia yang langka, pernah ada sosok model itu seperti Tengku Syafei dan Ki Hajar Dewantoro, yang mengerti arti pedidikan dalam nasionalisme dan humanisme, cari pasti ada  *).

0 comments:

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More