Sayang Sama Cucu

Sayang Sama Cucu
Saya sama Cucu-cucu: Ian dan Kaila

INDONESIA PUSAKA TANAH AIR KITA

Indonesia Tanah Air Beta, Pusaka Abadi nan Jaya, Indonesia tempatku mengabdikan ilmuku, tempat berlindung di hari Tua, Sampai akhir menutup mata

This is default featured post 2 title

My Family, keluargaku bersama mengarungi samudra kehidupan

This is default featured post 3 title

Bersama cucu di Bogor, santai dulu refreshing mind

This is default featured post 4 title

Olah raga Yoga baik untuk mind body and soul

This is default featured post 5 title

Tanah Air Kita Bangsa Indonesia yang hidup di khatulistiwa ini adalah karunia Tuhan Yang Maha Esa yang harus senantiasa kita lestarikan

This is default featured post 3 title

Cucu-cucuku, menantu-menantu dan anakku yang ragil

This is default featured post 3 title

Jenis tanaman apa saja bisa membuat mata, hati dan pikiran kita sejuk

Rabu, 07 Agustus 2013

7. MATAHARI TERBIT DI WILWATIKTAPURA (SERI 6)

7. MATAHARI TERBIT DI WILWATIKTAPURA

TATA LETAK KEDATON SINGHASARI
Di bekas lokasi Akuwu Tumapel  sudah samasekali tidak ada pada masa  pemerintahan  Prabhunatha  Kartanegara, diganti  samasekali dengan bangunan Kedhaton Baru, sesuai dengan derajad kerajaan Singhasari sebagai Kerajaan yang telah menaklukkan kerajaan Janggala, Kerajaan Kadiri yang tegak mulai Maha prabhu  Erlangga, Kadhipaten Lamajang,  Tuban, Jagaragha, Wengker dan Kling telah menyatakan tunduk kepada Mahaprabhu Kertanegara.  Lahan Kedhaton dibuat seperti bukit landai ditengah tengah  merupakan kediaman  Raja dan Ratu,  yang merupakan pusat dari  tanah datar dibawahnya yang berbentuk silang utara selatan dan barat timur.. empat penjuru mata angin ini dibangun sabha yang berupa wantilan  agung disetiap mata angin.
Yang terbesar adalah wantilan sebelah timur, yang dipakai  upacara kaprajuritan, dengan sendirinya menghadap alun alun yang sangat luas, yang menjadi batas antara kota raja dimana mayoritas penduduk tinggal dengan pusat pasarnya yang selalu ramai, dengan wilayah alun alun dan Kedhaton
Disebelah barat dari denah silang itu dibangun wantilan untuk pendadaran khusus semacam doyo .
Diselatan dibangun wantilan serba guna untuk pertemuan terbatas  para bangsawan dan untuk menyambut para Duta dari jaban Rangkah.
Di utara dibangun wantilan dan balai penghormatan pamujan  para pitri,  dengan beberapa pavilion untu krabat dekat Kedaton yang sudah tua tua,
Untuk mempertahankan denah silang dengan rumah kedhaton  ditengah tengah, maka seluruh silang geometris ini di bangun tembok keliling dengan pintu gerbang pada setiap ujung persilangan itu, kecuali di timur yang menghadap ke alun alun.
Dalam tembok Kedhaton dilarang untuk kegiatan rakyat biasa.
Bentuk kota Singhasari menurut  hunian para pendukung kerajaan, misalnya para prajurit dan peralatannya di sebelah timur, sedang hunian para Pendeta Kasyaiwan, Waisnawa,  Kasogatan dan Brahmana ada di sebelah utara, para pedagang dan pasar ada disebelah selatan, dan para undagi ada di sebelah barat .
Semua hunian dihubungkan dengan jalan yang diperkeras dengan batu raen, tidak perlu lurus karena Singhasari ada di lereng gunung, jadi jalan sering dibangun menurut  kerataannya ( contour) tanah.
Halaman depan rumah hunian dipagar tembok rendah dan ada gerbang candi Bentar untuk setiap rumah,halaman berisi rumah kerabat dan rumah hunian magersari. Tanah kosong ditanami pepohonan buah buahan kolam ikan, atau  disatukan dengan aliran pengairan sawah.
Kota Singhasari tidak bertembok dan pintu gerbang, hanya kolompok istana yang bertembok dan berpintu gerbang  empat menurut mata angin, timur gerbang ini tersembunyi menhubungkan wantilan agung  dengan tempat tinggal Raja, utara barat dan selatan, ada gerbang berbentuk candi bentar yang megah, sedang di timur ada dua patung dwarapala dan gerbang candi bentar yang lebar tidak berundag.(*)








5. MATAHARI TERBIT DI WILWATIKTAPURA (SERI 4)

5. MATAHARI TERBIT DI WILWATIKTAPURA

Pisowanan  sinoman Kerabat Raja Singhasari

Sinom bahasa Jawa artinya semula daun muda, kemudian  sekarang berarti daun pupus pohon asam (Tamarindus indicus L ) atau daun muda pohon asam yang diperas ainya untuk jamu.
Pada tanggal limabelas bulan lima  tahun Saka, bukan tahun candra, sang raja berkenan supaya para muda  dari  wangsa Girindra ( keturunan Ken Arok dan keturunan ken Dedes menghadap Raja untuk diperkenalkan, karena dikalangan bangsawan jaman itu mereka saling dijodohkan,  jadi keturunan sezaman dengan raden  Wijaya baik dari sisi Ibu maupun dari sisi bapak  akhirnya di puncak pasti merunut ke Ken Dedes atau ken Arok atau keduanya, walaupun  itu dari Anusapati maupun dari Tohjaya.  Ini terjadi tujuh tahun setelah pemuda tanggung Raden Wijaya berguru dan tinggal di Perdikan desa Sendang,  wilayah Watu Kosek, dekat sungai Porong menjadi murid sang Bismasadana.  Ada puluhan pemuda pemudi yang umurnya dibawah  duapulu tahunan, dan ada perjaka tua diatas duapuluh lima tahun bebarapa orang, para putri , yang sudah kawin tidak diundang.
Peristiwa istimewa ini melanjutkan tradisi Sang Ranggawuni dan sang Mahisa Wongateleng yang bisa saling  rukun sesudah generasi sebelumnya saling membunuh akibat kutukan Mpu Gandring.
Sabda resmi baginda Raja Kertanegara, adalah demi kejayaan Singhasari, dharma para putri dan ksatria yang diundang   mengabdi kepada Negara, demi memulyakan para Pitri (leluhur ).
Setelah dengan khidmat mendengarkan sabda sang Kertanegara, Mahapatih Aragani menjelaskan dalam beberapa hari sesudah acara andrawina dan perkenalan dengan Keluaraga Kerajaan, para hadirin undangan diminta untuk membuat karangan singkat mengenai cita citanya untuk kerajaan Singhasari,  kebisaan dan kegemaran masing masing, untuk dipersembahkan kepada Raja,  Kebanyakan undangan disertai oleh pemuda, sahabat dan Orang Bijak,baik dari wangsa Ksatrya maupun dari  Brahmana yang menguasai sastra yang dituakan oleh keluarga masing masing, untuk menjadi Paranpara.
Pada hari yang ditetapkan masing masing undangan secara bergilir dipersilahkan menggelar karyanya di Wantilan Dalam dengan dihadiri oleh Sang Raja, sang Mapatih keluarga dekat Kerajaan dan para nindya mantri.
Dalam menggelar karya tulis ini boleh dalam betuk prosa  dibaca sebagai janturan dalam pedalangan  maupun  puisi  yang diikat dengan tembang, disediakan dua perngkat gamelan dan penabuh istana untuk mengiringi tari sembah, maupun silat sembah,  gending baris, dimana banyak gendang ditabuh  bila dibutuhkan. Ksatrya muda dan Putri mempunyai hak dan kuwajiban sama kepad Rajanya dan Negaranya, oleh karena itu gending yang dipilih juga tidak dibedakan.
Giliran pertama jatuh pada Putra Pangeraan Rakryan Singanabda, salah satu Panglima pasuka Singhasari. Ksatrya berotot dengan tinggi badan limajari lebih diatas rata rata prajurit pilihan, mengenakan lancingan ringkas berwarna gelap dengan penggiran perada sulaman perak sedikit dibawah lutut dengan belahan disamping tigajari bermotif nagapasa. Dodot ( penutup pinggang sampai paha) kain halus batik bermotif gajah oling ringkas manun banyak wiru/lipatan untuk keleluasaan gerak dililit sabuk kulit lembu disamak hitam dengan timang garuda mas. Bertelanjang dada, nampak berkulit cerah dengan wajah cerah dengan celak mata garis tebal hitam dilukis memanjang satu jari di pelipis, berambut tebal di ikat diantas kepala sebagai gelung padat diikat ringkas dengan tali sutra hijau setebal jari. Sangat mengesankan. Degung baris ditabuh dengan gemuruh, Ksatrya Gajah Wiromba masuk kalangan berlari menuju singgasana dengan lutut tertekuk tajam, telapak kaki tidak terangkat  layaknya  meluncur cepat  limabelas depa  mengikuti irama degung yang cepat, telapak dedua tangan didada bersikap mudra, tepat tabuh berhenti Ksatrya jatuh berlutut trus mneyembah,  tanpa bunyi seolah olah lutut yang menumpu berat seluruh tubuhnya ikut jatuh diatas bantal yang tebal menandakan dia akhli tenaga  keras  sekaligus tenaga lunak dan kuda kudanya sangat kokoh. Sang  Kertanegara tersenym dan memberi tanda uutuk mulai. Karya tulis perupa prosa, dibaca dari segulung kulit anak kambing, diiringi gending girisa yang dibawakan dengan lirih.
Dinyatakan bahwa dia pemuda yang belum pernah mempersembahkan jasa apa apa kepada  Baginda dan Singhasari. Tetapi yakin bahwa ketekunan Bapa Ibu dan gurunya melatih ilmu jaya kawijayan ilmu mengerahkan tenaganya  akan mampu menahan   serudukan gajah mengamuk, apalagi hanya serangan pasukan berkuda,  dia dan prajurit Singhasari membuat benteng pasukan yang kokoh bersenjatakan tombak panjang dari kayu  walikukun dan galih kayu gelam dari Sokadana, yang keras dan liat untuk merobek perut kuda kuda gila, tenaga yang tersimpan pada sikap kuda kuda silatnya bagai dinding batu karang yang siap melindngi Singhasari.    
Semua hadirin puas dan mengumandangkan sesanti jaya jaya Singhasari, Ksatrya muda Gajah Wiromba bersembah kililing dan undur diri.

Peserta undangan dari wangsa Girindra yang mendapat giliran menggelar karya tulisnya adalah seorang Putri remaja, dengan perawakan tinggi badan sedang, bekulit seperti warna temugiring, putih dengan semu yang kuning pucat matanya cemerlang seperti mata burung merak bulat dengan pulupuk mata tipis dan ekor mata yang memanjang, alis tipis melengkung dan bulu mata tidak menjolok namun ditebalkan dengan celak yang serasi hidung dan bibir serasi dan tidak besar, mengenakan pakaian para putri dari Campa. 
Sang putri remaja laksana putri bangsawan dari Campa, masuk di kalangan dengan tubuh dan  leher tegak berjalan dengan diiringi ending kinanti, tangan kiri dengan anggun dan lemas memegang tepi selendang dan tangan kanan menganbil posisi laksana pendeta budha, dihadapan  baginda raja  sang putri membungkukkan badan kemudian menyembah. Setelah baginda memberi isyarat, sang putri mengambil kertas sempit dan agak panjang, menempatkan kertas catatan  debagai  dengan posisi solah olah mnimang bayi.
Rebab ( biola hindu ) memberi nada dasar gending macapat dan sang putri mulai menembangkan ikatan syair yang menceriterakan bahwa dirinya adalah warga Singhasari wangsa Grindra dari ayahanda sedang  bundanya adalah putri dari Campa.  Dia mahir bahasa dan tulisan Campa, adat dan kebudayaanya, mulai umur lima tahun diajar oleh Sastrawan bangsa Han bahasa Cina dengan tulisannya sekalian seni sastra Cina dan adat serta bahasa Istana Cina, dia juga mahir bahasa Tartar yang lebih sederhana, bahasa Tartar dia pelajari dalam pelayaran ke Negara Ibundanya  menumpang jung cina beberapa awak jung yang ditumpanginya adalah orang Tartar, dia sanggup menyumbangkan dirinya dengan kebisaannya kepada Negara Singhasari  dengan mengabdikan diri  kepada baginda raja, disamping dia pernah belajar ilmu kalawisa kepada Ni Kalaniti yang tersohor di gunung Lengis, Tuban.   Sang Raja sangat terharu berkenan  bangkit dari dampar mendekati sang putri remaja dan meletakkan tapak tangannya ke pudak sang putri dan membimbingnya mundur. Sunyi senyap di Wantilan dalam, di sesusul dengan suara helaan nafas banyak hadirin.  Bahkan ada seorang nindya mantri tua yang begitu terharu hingga menitikkan air mata.
Pada hari kedua hari ketiga dan keempat banyak digelar ilmu silat dan ilmu kekebalan tubuh, Seorang Ksatrya muda akhli melatih kuda dan melatih burung merpati pembawa berita,    putra wangsa Girindra dari Balega pulau Madura mengutarakan dengan tembang gambuh bahwa kekuatan pasukan berkuda adalah serangan mendadak, akan tetapi bukan untuk menduduki suatu wilayah. Maka itu diperlukan pengiriman berita ke arah Sasaran yang di ketahui jauh lebih cepat daai larinya kuda.
Putra Ksatrya dari Balega Madura ini selesai dan menyembah sang Prabu Kertanergara, beliau hanya mengerutkan kening sesaat, hanya mahapatih Aragani yang meberikan pendapatnya bahwa Singhasari  cukup besar untuk melayani musuh dari sisi manapun perbatasan Negara  untuk sampai ke ibukota tanpa diketahui tdaklah mungkin. 
Sedangkan burung burung merpati yang ternyata bisa menyeberangi laut Jawa kurang berarti untuk mengabarkan berita penyerangan
persembahannya dicatat tapi kurang mendapat sambutan dari bangsawan narapraja yang hadir karena  pikir para bangsawan Narapraja ini keahliaan melatih merpati dan kuda  hanya pantas untuk kaum waisya dan sudra saja, bukan pekerjaan Ksatrya.
Alangkah menyesalnya para Narapraja termasuk mahapatih Aragani bila masih mengingat  persembahan Ksatrya muda dari Balega ini, karena beberapa tahun kemudian dihari yang nahas Ibukota Singhasari ditembus dari utara secara mendadak hanya oleh beberapa ratus pasuka berkuda pilihan oleh raja Jayakatwang dari Kediri, kuda kuda ini diangkut oleh perahu perahu yang dihubungkan dengan geladak menghilir Sungai Brantas diturunkan  di hutan Tarik menyusuri lereng gunung Pananggungan yang banyak asram dan candi candi kaum waisnawa dalam dua malam sudah brkumpul di jurang Baung  pakuwon Plawangan, Dari jurang Baung di Plawangan (sekarang kota Lawang) 15 yojana dari Singhasari  menjelang tengah malan dari Plawangan kuda dipacu kencang lurus keselatan melewati jalan jalan di persawahan yang lagi bero (kering)  upet  baru terbakar tiga jari pasukan berkuda sudah  masuk gerbang kota raja  langsung berpencar  pada tujuan masing masing yaitu Istana dan dalem Narapraja    setelah kedaton porak peranda, istana para Narapraja dikota raja disatroni tanpa sempat mengadakan perlawanan, bahkan tidak sempat bersembunyi atau menakluk, semua dibantai ternasuk mahapatih Aragani dan paduka raja Kertanegara. pasukan berkuda menghilang, Istana terbakar hebat, dalem narapraja rata dengan tanah karena terbakar lebih cepat  tanpa dipadamkam, banyak prajurit jaga yang tembus oleh panah panah yang ditembakkan dari kuda yang berlari kencang,  sedangkan perwira perwira pendekar yang lebih sebat menilai situasi, mendadak saja diikuti oleh “pengawal yang memegang obor ganda  mereka adalah pasukan baris pendem yang sudah ada di Ibu kota sepekan sebelumnya untuk menandai keberdaan pendekar pendekar yang perlu penangan khusus dari penyerbu yang sepadan kepandaiannya.   
Disini di potong ke bab berikutnya.
Pengendara kuda berkepandaian tinggi langsung 
menyerang  sambil meloncat turun dari kuda yang berlari kencang  sebagian lain memanah sambil mengikuti kuda yang kabur ditingalkan oleh penunggangnnya, walau berkepandaian silat yang tinggi, diserang secara demikian  jatuh juga  pendekar Singhasari atau tertembus panah atau kena sabetan kelewang   rakyat digiring oleh pasukan baris pendem  untuk menjaga rumah masing masing sambil memukul kentongan  jangan sampai meninggalkan balai kampung.  
Menjelang fajar semua sunyi, rakyat gemetar melihat istana yang megah dilalap api yang masih menyala dan dan para narapraja rata jadi abu, disana sini isak tangis rakryan ibu para  emban dan selir, putra putri kipeluk oleh para emban. Hilang semua kemegahan narapraja Singhasari yang disaksikan oleh rakyat yang masih gemetar, fajar menyingsing dikota  raja yang dinodai dan dikalahkan.
 Balatentara Singhasari aeperti ular tanpa kepala.  Telik sandi Prabhu Jayakatwang mengetahui presis siapa yang dicari  dan siapa yang sudah dibantai pada hari pertama serangan mendadak. Selain itu bisa diurus kemudian. 
Akhirnya malah sisa sisa Pemimpin Masyarakat Singhasari mengirim utusan ke Kadiri, menyerahka kekuasaan Singhasari kepada sang Jayakatwang tanpa perang.
Singhasari dijadika Pakuwon lagi, Akuwunya diangkat dari  Pejabat Akuwu aebelumnya.
Ini benar terjadi setelah beberapa tahun kemudian setelah pisowanan sinoman kerabat Singhasari, yang bila dinilai dari  bobotnya sangat tidak berarti dibanding dengan kegiatan sehari hari para Narapraja Ibukota Kerajaan*)









4. MATAHARI TERBIT DI WILWATIKTAPURA (SERI 3)

4. MATAHAI TERBIT DI WILWQATIKTAPURA       

PELAYARAN DARI RAJEGWESI KE PROBOLINGGO
Dari Rajeg wesi ke Sidayu perahu rombongan Pengelana hanya menghilir sungai Bengawan Solo yang airnya mulai menyusut karena dibagian hulu sudah jarang ada hujan lebat. Dari Sidayu baru Sungai ini bercabang cabang yang merupakan wilayah Delta, cabang yang menuju agak keutara kebanyakan akan mendangkal dan lebar lebar, sedang cabang yang keselatan menuju ke Manyar lurus agak sempit tapi kedalamannya baik, hal ini terjadi karena wilayah selatan merupakan kaki gunung kapur Pegunungan Kendeng selatan. Justru diwilayah sungai ini orang Garowisi membuat tanggul tanggul dan terusan terusan, agar bisa menuntaskan air payau bila surut, dan menaikkan air tawar bila pasang besar naik membendung aliran air tawar dari bagian hulu sungai. Semula Gajah Gombak heran, ditengah tengah rawa jauh dari mana mana kok ada orang yang menggali terusan terusan yang Nampak dari perahu rombongan ini , apakah kurang pekerjaan ? Yang jelas menggali terusan dan membangun tanggul dirawa rawa adalah satu pekerjaan yang sangat berat.  
Anak sungai di delta bengawan Solo ini memang mengalir di tempat yang bisa mempertahankan ketinggian wilayah, karena di pangkal percabangannya merupakan tanah yang terangkat naik oleh gerakan terangkat daratan selama jutaan tahun.  Disinalah air payau didorong masuk ke daratan watu pasang naik dan mengalir kelaut waktu surut. Vegetasinya adalah khas tanah payau berupa nipah, sebangsa palem.  konon selokan selebar dua depa sepanjang ratusan tombak ini buatan orang Sidayu dan Garowisi    untuk mencetak sawah dilahan tersebut. Selokan aneh ini amat berat pengerjaannya terutama kerena lahan tersebut sangat berlumpur, gunanya untuk menahan air tawar bila pasang naik, justru tanah galiannya untuk dijadikan tanggul sekalian, sungguh perbuatan orang setengah waras. Tidak tahunya bahwa saluran saluran ini diberi pintu ganda, agar hasil panen bisa diangkut dengan perahu tanpa mengganggu ketersediaan air tawar. Justru fungsi  pengangkutan hasil bumi yang tercipta oleh sistim saluran ini akan menyaingi kemampuan Wilwatiktapura dalam mengadakan stok beras dikemudian hari.
Manjelang senja perahu sudah di Selat Madura utara pelabuhan Garowisi, angin mati perahu masih didayung menuju agak ketimur mendekai pulau Madura. Menjelang pagi angin melai bertiup dari barat daya, dan perahu rombongan menggunakannya untuk berlayar ke timur. Perahu rmbongan sengaja mendekati pulau Madura, menghindari gosong gosong lumpur di depan muara kali Porong. Angin tetap menuju ke timur, mendekati perairan Sampang yang konon gawat oleh para bajak laut dari Sampang. Ternyata jauh didepan perahu rombongan pengelana ini ada dua titik yang menandakan layar dua perahu dari desa desa sekitar Sampang melaju ke barat daya, diperkirakan haluan prahu ini akan memotong alur pelayaran prahu rombongan. Gajah Gombak memerintahkan Pandega maupun Jurumudi untuk tidak merubah haluan, untuk mengetahui maksud dua peerahu ini sebenarnya. Benar juga, tidak ada perubahan arah dua perahu yang keluar dari perairan Sampang ini, melainkan akan tepat memotong jalannya perahu rombongan, bararti ada kemauan yang pantas dicurigai. Benar juga sesudah jarak antara mereka tinggal limaratus tombak, nampak puluhan orang mengacung acungka senjata, semacam arit besar panjang dan golok, mereka mengenakan baju dan celana hitam komprang selutut, semua memakai destar cara Madura. Gajah Gombak tidak ayal kagi, menyuruh anak buahnya dari penyaradan Mada  menyiapkan dua bilah batang bambu, diselipkan antara dua balok penguat geladak yang melintang badan perahu miring kearah haluan perahu guna tumpuan loncatan jarak jauh, setelah jarak mencapai duapuluh tombak Gajah Gombak mulai meloncat ditas ujung dua bilah bamboo yang dipasan miring, jarak limabelas tombak, haluan perahu rombongan darahkan persis kearah tiang pengikat layar perahu perompak. Dengan bersenjatakan golok pendek dan cambuk panjang yang disiapkan melilit pundak kiri dan pinggangnya, pemuda gempal ini melocat berjumpalitan diudara, tepat pada jarak sepuluh tombak, dia mendarat persis diujung tiang pengikat layar perahu pembajak, dengan tangan kiri meretas tali layar hingga layar jatuh, sambil berdiri disatu kaki di ujunng tiang pengikat layar, sekaligus mengayunkan cambuknya bercuitan diantara gerombolan pembajak dan terdengar suara mengaduh dantara suara senjata celurit berkerontangan di geladak diantara layar yang mendadak jatuh. Dengan berteriak murka, seorang kepala bajak yang  meluncat dari buritan loncatan yang ringan dan pesat, setinggi tiang pengikat layar sambil mengayunkan celurit, nampak pemuda Mada ini tidak bisa menghindar hantaman celurit yang mencuit kearah pundak kanannya kebawah. bersamaan dengan itu pemuda Mada ini dalam sekejap sudah terterlungkup diatas diang pengikat layar, bertumpu diatas telapak tangan kirinya yang mencekeram ujung tiang, sambil nengayunkan cambuk panjangnya, ayunan campuk ini sekejap mata lebih cepat dari ayunan celurit, maka apa yang terjadi, bahwa kepala perompak pinggangnya erlilit cambuk panjang, dengan gerakan ikan sili melentik, pemuda Mada menegangkan tubuhnya yang seolah olah terbaring menelungkup dan meregang diatas tiang layar, cembuk sekaligus menegang dan menarik tubuh kepala perompak ini keatas dan meluncur menurut garis arah loncatatannya, lewat diatas badan Cajah Gombak  luncurannya diteruskan lima tombak menuju laut, arah haluan perahu perampok. Untung waktu jatuh diair dengan deburan keras,  seandainya bukannya pinggang yang terlibat cambuk panjang tapi bila lehernya,  bisa mati dia, ternyata celuritnya jatuh waktu diayunkan, mengenai tempat kosong tanpa tenaga. Perahu perompak yang satunya segera putar haluan dan menuju ke daratan dengan didayung secepat cepatnya. Gajah Gombak sudah berdiri disatu kaki lagi diatas tiang pengikat layar, sambil mengayunkan cambuk panjangnya, menantang siapa yang mau mandi lagi. Semua perompak lebih dari dua puluh orang mengangkat sembahnya diatas kepala, sambil mohon hidup.            
Setelah perahu perompak dan perahu pengelana diikat lambungnya satu sama lain, gerombolan perompak dan Pemimpinnya yang baru selesai berenang digiring ke haluan sambil berjongkok. Mereka semua menyatakan menakluk dan minta ampun pada sang pendekar. 
Pemimpin perompak mengaku namanya Lora Sapuangin, dia dan kawan kawannya sanggup menebus kesalahannya dengan mendayung perahu pengelana sampai tujuan sebagai ganti kemurahan sang pendekar memberi mereka hidup. Dua puluh empat pendayung telah siap dibagi dikedua sisi lambung, sebelumnya setiap mereka diberi makan satu ketupat dan sepotong dendeng sapi panggang, untuk menghangaatkan badan dihadiahkan sebumbung tuak untuk diminum bergantian.  Segera haluan perahu diarahkan ke tenggara dengan menggandeng perahu perompak. Dalam sehari dijamin akan mendarat di Probolinggo dengan kecepatan ini, kekuatan layar dibantu dengan duapuhuh empat dayung. Perompak diampuni setelah berjanji tidak sembarangan merompak lagi, dan Lora Sapuangin mohon untuk ikut rombongan kemana saja, dengan harapan ditambah ilmunya oleh Gajah Gombak yang penakluknya yang kepandaiannya sangat dikagumunya. Gajah Gombak berfikir ada baiknya membawa dia menyertai rombongan agar memudahkan merintis jalan ke Pasirian.

Di Probolinggo, gajah Gombak sengaja membeli kerbau jantan dua ekor, disembelih dan dendengnya dibumbui dan dikeringkan untuk dibuat tambah bekal daging, kecuali itu dikuliti dengan potongan khusus dibelah dari sebelah punggung sehingga bagian dari dada kebelakang wutuh, dan bulunya dibersihkan. Kulit  tidak disamak, dikeringkan dengan garam dan sejenis minyak damar akan menggumpal dan mengeras. Kulit lembu mentah dikeringkan dan sebelum kering benar dipotong memanjang menjadi pita dari selebar sejari hingga selebar tiga jari.  Setelah kering benar di anjam sambung menyambung menjadi tali sepanjang tiga tombak, bagian perut menjadi tebal dan agak lentur bisa diiris menajam dari anyaman cemeti itu. Sedangkan irisan kulit bagian punggung sangan liat dan kuat. Kulit seekor kerbau jantan menjadi enam cambuk panjang, yang cocok untuk pertarungan. Memang Gajah Gombak dalam perjalanan akan mengajari pemuda pilihan dari Mada yang ikut rombongan untuk membuat cambuk panjang dan membuat senjata tempur yang handal. Kelihatannya sang Gajah Gombak membiarkan Sapuangin mengikuti semua proses pembuatan cemeti tempur ini. Ditangan seorang pendekar, cemeti semacam ini bisa menjadi senjata istimewa, dan serba guna.
Dalam perjalanan ke Sadeng,  Pasirian, saban sore pereka memmbuat kemah peristahatan, dan Gajah Gombak mulai melatih tenaga dalam para pengikutnya, dan si Sapuangin ada diantaranya.
Sebenarya latihan menghimpun tenaga dalam manusia itu adalah cara untuk mgnhubungkan tenaga non fisik dengan tenaga fisik otot manusia. Tentu saja otot otot hewani kecepatannya ditentukan oleh jumlan rangsang adrenalin yang tersedia terutama otot jantung. Otot otot ini sangat berhubungan dengan tingkat metabolisme. Di alam raya ada sumber energi yang jauh lebih hebat dari energi metabolism. Otot manusia terlalu dikendalikan oleh pikiran, bila perkerjaan otot orot ini sedikit dibebebaskan dari pikiran, seperti otot kaki belalang yang menyepak, seperti otot sayap burung merpati yang terbang menentang angin, seperti sayap lebah yang bergetar sekian ratus kali sedetik, otot  bersinergi dengan alam dan mengeluarkan tenaga yang bukan dari metabolism saja, melainkan sinergi dengan alam sebagai angin terhadap layar perahu . Begitu pula tenaga yang harus disalurkan lewat cemeti yang panjangnya lebih dari tiga tombak, pesilat harus mampu membebaskan pikirannya dari katerbatasan ujung cemeti, artinya ujung cemeti harus dialiri kemampuan untuk bersinergi dengan alam. Cemeti yang sudah mengandung tenaga pendekar yang memainkannya, akan kaku sebagai tombak dan sekaligus lemas sebagai tali. Latihan meditasi membantu pesilat membebaskan ujung cemeti dari pengaruh pikiran, jadi seharusnya dibawah pengaruh kesadaran, tapi bebas dalam bersinergi dengan alam. Jadi meditasi yang sifatnya bukan berkonsentrasi melainkan membebaskan dari contradiksi pikiranlah yang diupayakan.
Seminggu perjalanan darat yang tidak tergesa gesa, melewati pemberhentian dekat dengan sumber air minum biasanya hunian dengan sedikit penduduknya, melulu menyediakan keperluan orang beristirahat.
Lima hari perjalanan ini sungguh sangat berarti bagi Sapuangin, karena latihan silatnya sangat menuruti satu urutan kegiatan otot yang dinamakan jurus jurus silat. Sedangkan yang ini membebaskan otot dari pikiran. Untung Gajah Gombak meskipun masih muda tapi mewakili sosok guru yang sabar dan mengerti persoalah setiap muridnya. Dia menotok Sapungin dibeberapa tempat di belakang leher, disamping badan dibawah ketiak kanan kiri, sambil berkata inilah gerbang untuk mengalirkan tenaga dari pusar. Latinan berikutnya Sapuangin telah merasa tenaganya tersalur sampai ujung cemeti, dia rasakan itu dengan sangat kegirangan dan bersyukur.
Setelah sampai di pantai selatan Pesirian, diantara rombongan rombongan para undagi dan Barahmana yang menyertai pembutan keris, sangat mudah untuk menemukan Empu Keleng. Rombongan Mpu Keleng dari Sumenep mendirikan perkemahan dan peleburan pasir besi ditanjung yang mampak menjorok kelaut di arah barat tempat mereka bertanya.
Mereka bertemu dengan Mpu Keleng sendiri, seorang pria yang berbadan lebih besar dari rata rata, telah agak bongkok, bercambang dan berjenggot tidak teratur mentupi bagian bawah mukanya, hanya matanya yang berbinar binar melihat cucunya yang masih dikenalinya si Sapuangin, berdiri disamping pemuda gempal bersalwar dan dadanya menyelempang tali kebrahmanan, sambil telanjang dada, juga mengenakan ceripu dari daun lontar. Sapu angin segera berlutut dan meraba kaki Mpu Keleng sebagai tanda bhakti cucu kepada kakeknya, sedang Mpu Keleng dan Gajah Gombak menangkupkan sembah didada sambil mengucap “Om swasti astu” sebagai lazimnya tata cara Hindu.
Mpu Keleng membimbing tamunya ke wantilan sedehana kecil semacam gazebo  mereka bersila, kebetulan ada sosok anak buah Mpu Keleng yang dipesan untuk
menjemput rombongan yang masih ada di pinggir pantai sebelah timur. Gajah Gombak membiarkan kakek dan cucunya saling berceritamelepaskan rindunya satu sama lain. Mpu Keleng berkata pada cucunya dengan maksud agar gajah Gombak ikut mendengarkan. Sapuangin sangat beruntung dapat bimbingan dari sesamanya Brahamana Gryasta dan harapannya agar pandangannya ke masa depan tidak salah, behwa Gajah Gombak akan menjadi orang besar di tanah Nusantara, bahwa Sapuangin sangat beruntung bila bertahan melayaninya dan berguru kepadanya. Lantas Gajah Gombak menceriterakan tentang robongnnya yang jauh jauh datang ke Pantai Pasirian ini yaitu untuk belajar  dan menyaksikan peleburan pasir besi, terutama mencetak secara benar.


 Kartarajasa Jayawardana (1294 -1309)
  Raja Majapahit Pertama – Raden Wijaya

Satu bayi laki laki  dilahirkan sebagai  cicit dari seorang putri yang luar biasa, Ken Dedes  putri Brahmana yang  diperistri oleh dua raja  berturut turut, Akuwu Tumapel dan pendiri kerajaan Singhasari. 
Ken Arok yang kemudian menjadi raja Singhasari  pertama bergelar Sri Ranggah Rajasa sang Hamurwabhumi.  
Hasil perkawinan keturunan  Ken Dedes dengan Tunggul Ametung Akuwu Tumapel,  pemuda Anusapati membalas dendam membunuh sang Raja Ranggah Rajasa  alias Ken Arok,  mengambil haknya sebagai Raja, kemudian dibunuh oleh   saudaranya sendiri daei lain bapa , Rangga Tohjaya.   
Saling balas membalas kematian berakhir karena rangga Tohjaya mati muda, kemudian pada keturunan ketiga dari Ken Dedes saling berdamai, membuahkan Raja  Singhasari terakhir Krtanegara. 

Pangeran Wijaya atau Raden Widjaya adalah rumpun keturunan Putri Ken Dedes juga, diambil menantu oleh Raja Krtanegara Raja Singhasari, yang tak lama kemudian mati terbunuh oleh serangan kilat Raja Kadiri Jayakatwang. 

Raden Wijaya dengan istrinya dan adik adik iparnya melarikan diri dan dikejar  kejar berbulan bulan.  Karena di Tuban pun yang kerabatnya juga tidak aman menurut berita dari  Tuban  Adipati Rangalawe, diberi  petunjuk  untuk berlindung ke pulau Madura dibawah naungan  Raja muda  wilayah Madura : sang Aria Wiraraja.   

Aria Wirararaja:
Sebagai seorang Penguasa Wilayah pinggiran Singhasari yang sudah berumur dan bijaksana menyadari  posisinya sebagai penguasa wilayah yang tidak penting dibawah kerajaan Singhasari.  Bawahan dan sahabat Prabu Krtanegara, juga akrab juga dengan raja raja Kadiri baik turunan  langsung Mahaprabu Erlangga, maupun yang bukan seperti Sang Jayakatwang  yang telah menjatuhkan Singhasari. 
dan Prabu Kartanegara terbunuh saat penyerbuan kilat istana Singhasari. 

Konon telah tersebar luas bahwa sang Jayakatwang menguasai banyak ilmu gaib,  akhli menyilangkan kuda kuda, dengan saksama membangun tentara berkuda yang sangat kuat, setiap prajurit berkuda diwajibkan untuk menyatu dengan kuda kudanya yang merupakan pemberian pinjam dari sang Raja. Prabhu Nata Jayakatwang tahu persis prajurit dari Pakuwon mana dan mendapat “gaduhan” kuda dari keturunan kuda pilihan yang mana, 
Ratusaan  kuda milik kerajaan mempunyai ginealogi yang jelas dan dipelihara oleh pemuda pemuda pilihan yang di uji bertingkat tingkat kemudian  dan dididik dengan saksama, sampai prajurit prajurit ini memilih mati bersama kudanya dalam perang maupun dalam damai. 

Tanah sawah gogolan dihadiahkan kepada setiap prajurit berkuda, Seorang tamtama pasukan berkuda melakukan latihan perang perangan setiap seminggu di pakuwonya, setiap bulan sekali diadakan lomba kepantasan kuda kuda anak buahnya yang tigapuluh orang, setiap kuda perang betina yang nenunjukkan tanda tanda telurnya masak/birahi,  harus dilaporkan segera kepada Tamtama atasannya dengan isyarat yang dikirim dengan burung merpati, kelalaian perajurit penggaduh sering harus dibayar dengan nyawa.  

Pejantan ditentukan oleh  Petugas Brahmana gryasta di kabupaten.  Setiap kuda perang betina yang bunting harus masuk istal di Pakuwon Tamtama pemimpin, lengkap dengan catatan ginealoginya. 
Enam tahun  tahun Jayakatwang berkuasa sudah berani menentang Singhasari dalam  hal keagamaan, misalnya Kerajaan  Kadiri mendukung prosesi pemujaan di candi kaum Waisnawa secara menyolok dimana candi itu terletak diwilayah Singhasari. 
Candi kasyaiwan di wilayah Singhasari terlantar karena Sang Prabhu Nata Krtenegara adalah Pendeta Kepala aliran Tantra,  kaum Bhairawa, yang  sering berperilaku menjijikkan. 

Apapun rencana menghukum pendeta dan pengikutnya yang berani menerima dukungan secara  menyolok  dari Raja jayakatwang,  selalu mentah karena ketahuan sejak semula dan selalu dihindari atau ditangkal. 
Pengiriman pasukan penghukum  yang di pimpin oleh tamtama dan  prajurit pilihan Singhasari  untuk menangkap komunitas waisnawa yang masih dalam wilayah Singhasari saat  itu  pindah ke daerah terpencil, selalu digagalkan dengan aneh, satu saat diserang habis habisan oleh lebah hutan di lembah berbatu batu dekat Wlingi sehinga harus berlarian serabutan tanpa bisa berkumpul kembali dan melanjutkan formasi penyerangan.  Apakah ini ilmu gaib dari Prabu Jayakatwang begitulah dalam hati sebagian besar prajurit Singhasari.

Banyak Brahmana Kasyaiwan, Brahmana Waisnawa dan pendeta Kasogatan tidak menyukai perilaku sang  Krtanegara, terutama dukungannya yang menyolok kepada kaum Bhairawa dengan cara hidup yang nyleneh, memuaskan semua  hawa nafsu, duniawi  untuk mencapai kesempurnaan mokswa. 

Heran bagaimana Rakryan Tua dari Madura ini Baginda Wiraraja dapat mengikat persahabatan dengan  Kedaton Kertanegara sekaligus dengan tokoh misterius Prabu Jayakatwang, tidak sulit dijelaskan. 

Yang jelas setiap tahun,  waktu Penghadapan Agung, Arya Wiraraja selalu membawa  hadiah berpeti peti guci berisi arak obat yang konon aphrodisiac dan obat kuat yang sangat ampuh dan hanya sang Arya dari Madura ini yang tahu cara membuat ramuan rahasia ini, peti peti ini diterima baik dengan sorak sorai hadirin dipenghadapan agung di Singhasasi naupun di Kadiri.

Pelarian raden Wijaya yang sangat kritis  keadaannya berbulan bulan, hanya bisa berhasil diwilayah yang “ilmu gaib” Paduka Jayakatwang lemah, ilmu gaib ini adalah jaringan telik sandi dengan merpati merpati terlatih dan gandek gandek ( kurir) berkuda ternyata melemah di wilayah Trung, Pamotan, dan Janggala sendiri, karena wilayah ini mempunyai pusat pusat perdagangan yang kuat dengan peredaran uang sangat besar. 

Pelaku perdagagan adalah saudagar dari segala macam suku dan kepercayaan, satu satunya kepercayaan bagi telik sandi adalah uang dan emas. 
Diwilayah ini banyak telik sandi dan pejabat yang bisa dibeli, pengabdiannya hanya kepada uang dan emas saja. 
Berkat kesebatan para saudagar dari Japan, dekat muara sungai Porong ysng merupakan pelabuhan besar dan kawasan pergudangan milik kerajaan maupun milik para sudagar. Ada alasan mengapa  perkumpulan sudagar kawula Singhasari  dari Japan ini  bersimpati  kepada  Pengeran pelarian yang mereka kenal baik, menurut berita bisik bisik dari  para bakul  sinambi wara, bakul yang suka bergosip,  rombongan  melarikan diri kearah  utara, makanya  mereka segera  mencari kontak dengan rombongan pelarian dan  berusaha membimbingnya dengan kerahasiaan dan laporan tipuan yang diumpankan kepada telik sandi Kadiri.  
 Para kawula Singhasari yang pedagang ini secara rahasia menyediakan  tempat persembunyian, perahu dan kuda kuda.    Regu regu pencarian disertai dengan penunjuk jalan dan gandek gandek yang mengetahui persis letak sarang sarang merpati komunikasi  untuk secara cepat mencari jalur pelarian yang aman untuk penunjuk jalan apabila bertemu dengan rombongan pelarian,  informasi dari lingkungan yang masih setia kepada Singhasari, terutama bersimpati kepada sosok raden Wijaya.  

Tentu saja Japan sudah dikepung dengan jaring rahasia diatur oleh Prabu Jayakatwang sendiri.
Sebaliknya dilawan dengan jaringanan informasi yang lebih setia dan mengakar melibatkan banyak  orang   karena dahati setiap orang di Japan maupun di Janggala  mereka tau siapa Raden Wijaya,  segera hubungan terentang  sampai ke Tuban, Wirasabha, dan Madura. 

Anehnya bantuan jaringan merpati pos bisa diperoleh dari pedagang Islam di Garowisi (Gresik)  dan Ampel Denta, meliputi seluruh pantai utara, Madura, Jenggala, Singhasari, bahkan Kadiri.  
Geng  pedagang di  Japan ini adalah kaun Waysia dan Sudra yang mendapat tempat terhormat di  kalangan  perdagangan   Japan. 

Masa remaja Raden Wijaya
Kawula Singhasari golongan ini mengenal raden Wijaya sebagai Pengeran miskin dan yatim piatu dari Watu Kosek, karena saat saat meningkat dewasa Raden Wijaya tinggal bersama dan menjadi siswa kerabatnya di perdikan Sendang, kaki bukit Watu kosek sebelah utara, tidak jauh dari Japan. Semasa pemuda Wijaya belajar ilmu ilmu yang berguna di Perdikan  Sendang dari Ksatria pendeta, perjaka setengah baya yang sejak puluhan tahun telah menjalankan ikrar Brahmacarya, artinya tidak  melakukan hububungan pria-wanita.  
Sang Bismasadana. 
Mereka, murid  Ki Bismasadana ketiganya   sebaya,  Raden Wijaya  bersama dengan dua pemuda tanggung putra wangsa Ksatrya rendahan dari Jenggala, orang tua mereka berhasil menjadi kaya oleh perdagangan, hanya kaum Ksatria yang nyleneh saja yang mau terjun ke dunia perdagangan. Pemuda tanggung anak orang kaya, Carat Seta dan Lembu Sagara, yang kemudian selalu menemani Raden Wiajaya sang pangeran miskin, meskipun membawa watak masing masing yang kadang kadang berlawanan.
Sedikit mengenai masa muda raden Wijaya hingga terpilih oleh Prabhu Krtanegara menjadi menantu kerajaan, masa muda yang mungkin bisa sedikit mengungkap juga kenapa  menantu Prabhu Kertanegara ini  mendapat curahan simpati dari para sudagar dari Japan disaat yang sangat genting ini.  

Kumpulan saudagar Singhasari ini, di Japan merupakan patembayan campur aduk dengan pandangan yang yang praktis dan telah menyerap  pengetahuan baru menyangkut pelayaran . berhitung dan kepercayaan, yang masih dipandang rendah oleh para Dwija dan Guru dari kalangan Brahmana. Mereka menjalankan perdangangan dengan jujur, selalu menepati janji, membina hubungan luas tanpa memandang Kasta dan Bangsa, pergaulan ini mebuat Ksatria rendahan dari Janggala belajar dengan cepat ilmu ilmu yang sangat berguna dari pemukim wilayah pelabuhan Japan 

Banyak pemukim  dari mancanegara,  dari Gujarat, Cina, Parsi dan  Arab, yang mempunyai petugas tetap untuk membeli dagangan dari Wilayah Timur Nusantara dan menyimpan di gudang gudang mereka menunggu armada dari Negaranya berlabuh menjemput dagangan, dan memunggah barang barang dari mancanegara atas pesanan dan sebagai dagangan biasa.

Banyak saudagar pribumi yang telah mahir menggunakan abacus untuk berhitung, menggunakan catatan angka dengan angka huruf Arab yang sangat praktis daripada angka huruf Palawa, bahkan ada  yang sudah mampu belajar ilmu perbintangan untuk menentukan posisi perahu ditengah lautan, karena ada pendatang baru yang sangat royal mengajarkannya, adalah pedagang  dan Penyiar agama Islam dari Yunan sebelah timur - laut negeri Parsi 
Tiga pemuda tanggung murid sang Bismasadana, sebagai layaknya pemuda tanggung lainnya sangat gemar mengunjungi keramaian di pelabuhan Japan, sepanjang sungai Porong  yang tanggulnya semakin lama semakin panjang dan luas sedikit demi sedikit di timbun dengan bebatuan dan tanah liat dari bukit bukit sekitarnya. 

Ki Bismasadana, lain dari Guru umumnya zaman itu, hidup sederhana dari hasil tanah perdikan Sendang yang tidak berapa luas, perperilaku ramah dan suka menolong penduduk Japan yang membutuhkan,  tapi hidupnya agak tertutup dari pergaulan luas. 
Sangat wanti wanti kepada muridnya supaya berpakaian sederhana, rendah hati dan selalu menghormati orang lain dari kasta manapun dan bangsa manapun, dan lebih suka memberi dari meminta. Menjauhi tempat perjudian dan perkelahian. Mereka bertiga berpesiar di kota Pelabuhan Japan mengenakan seluar kain temun gedok kasar coklat tua dari rebusan kulit kayu saga,  tali pengikat seluar ini dibalut dengan  kain   batik penutup pinggang sampai paha, batik kasar gaya Tanjung bhumi  Madura, memakai destar  gaya pesisiran, gaya berpakain ini masih dipakai di tanah Melayu dan pakaian adat Surabayan , kemudian kain batik penutup kolor ini dibelit dengan sabuk kulit lembu hitam dengan timang dari besi tuang. 
Raden Wijaya karena memang masih pangeran, meskipun miskin, kain yang membalut tali celana selutut ini adalah bahan  kain  batik yang sama hanya motif lukisannya lebih halus konon dlukis di pembatikan  Singhasari, mengenakan timang besi juga, hanya bercorak garuda,  dikenakan tertutup sembarangan dengan batik membalut pinggang, mungkin untuk menyamarkan timang tersebut, karena motif garuda hanya  boleh dipakai oleh kerabat Kerajaan.  
Pada umumnya di Pelabuhan Japan yang hiruk pikuk tidak banjak orang yang peduli corak timang, apalagi  timang besi, kaum Arya dan Pejabat Kerajaan punya cara yang lebih menyolok untuk mengenakan pakaian yang menunjukkan derajatnya. 

Dua hamba yang selalu mnjadi  pengasuh anak bangsawan ini sudah lama menikmati kemerdekaan, mengerjakan apa saja yang disukai di perdikan, bukan mengiringkan tuannya, yang lebih suka sendirian bersama rekannya.  
Kedua pemuda dari Jengggala lebih suka menonton pertunjukan macam macam sedangkan raden Wijaya lebih suka mengunjung kenalannya orang Gujarat tua yang gemar bermain catur, pengelola kedai teh yang ramai, dan penginapan sederhana namun bersih,  sang raden suka main catur disana dan makin lama makin mahir saja. 

Sikap yang rendah hati dan bersahaja membuat orang suka  bermain catur dengan Pengeran Miskin ini, mereka penggemar catur di Japan menyukai langkah langkah tak terduga sang Raden  dalam permainan catur  gaya  dan jurus apapun, gaya pembukaan garuda nglayang yang hati hati namun  cepat menukar  buah catur,  gaya pembukaan Benteng pendem yang sangat hati hati dan menghindari pertukaran buah catur terutama perwiranya dengan tiap pengorbanan dan jurus selalu demi memenangkan kedudukan pengepungan, gaya pembukaan emprit neba yang ruwet membuka medan tempur dimana mana,  Reden Wijaya memang bermental juara dalam catur, dari tahap pembukaan, tahap pertengahan  memenangkan posisi dan mobilitas perwira perwira catur sehingga tahap akhir, pada tahap akhir selalu ada saja langkah manis yang mengubah kekalahan menjadi seri, bahkan kemenangan  yang gemilang, di tahap  inilah dia menjadi terkenal dikalangan penggemar catur di pelabuhan Japan,  dikalangan pedagang, saudagar, dan  orang kaya di Japan, sering mengundang  bermain catur, karena sifat Pangeran Wijaya yang tidak membeda bedakan Kasta dan asal usul bangsa, selelu rendah hati dan sopan.  

Tanpa dirasa Raden Wjaya mahir berbahasa Madura, bahasa Cina,  dan Urdhu, bahasanya pedagang  Benggala, juga tentu saja Bahasa Sansekerta, bahasa kitab Wedha.            

Tahap pelajaran menguatkan bathin dari sang Guru.
Sebenarnya bukan hanya pemuda pemuda tanggung ini yang belajar dari masyarakat perdangangan pelabuhan Japan, tapi  sang Ksatria pandita Bismasadana yang tinggal di perdikan Sendang  sangat  dekat denga Japan, sudah sejak lama mendalami pemikiran pemikiran baru mengenai alam semesta, ilmu perbintangan, dan edaran bintang dan planet, ilmu pengobatan dari sumber selain sumber sumber formal agama Hindu dari Yajur Wedda, meditasi agama Budha, bahkan latihan pernafasan dan pengendalian pranapun beliau perbandingkan dengan apa yang dimengerti dan didalami oleh sumber sumber dari Cina, Parsi dan Jawa asli.   
Ki Bismasadana adalah empu pembuat gandewa panah, yang sangat mumpuni,  mencoba membuat   busur atau  gandewa  dari lempengan baja yang pengolahannya  masih merupaka rahasia para empu senjata, sangat tertarik pada panah api  orang cina dan dia juga pemanah yang handal, sangat menaruh perhatian kepada upaya mengatasi para bajak laut, tanpa melatih para awak perahu dengan Ilmu imu silat yang sangat makan waktu, sebab tidak banyak pendekar handal yang mau menjadi  awak perahu.
Upayanya mempelajari pembuatan bubuk obat pasang terpusat pada pembuatan sendawa, yang dibeberkan dengan panjang lebar kepada Raden Wijaya disela sela pelajaran menulis dan kemudian membaca sloka sloka  epos Mahabharata yang sangat digemari.
 Inilah yang sangat membekas pada pemuda tanggung Pangeran miskin ini.

Ternyata ki Bismasadana juga mumpuni dalan catur India dan catur Cina yang prinsipnya sangat berbeda, catur India dilakukan dengan melenyapkan kekuatan kekuatan lawan, catur Cina melenyapkan mobilitas lawan dengan mengusai “jalan” strategis dengan buah catur sesedikit mungkin hingga lawan tak mampu bergerak. 
Ilmu Perang yang diajarkan layaknya kepada para ksatrya, secara tidak langsung dari mpu Bismasadana  lewat papan catur. telah dipelajari oleh mpu Bismasadana dari kitab dan penuturan para Pengembara dari tempat tempat yang jauh, yang sengaja ditemui oleh sang Ksatria pendeta, sesuai dengan berita dari banyak sahabatnya di Garowisi, Ampel denta, Trung dan Japan, terkumpul menjadi catatan pribadi,  dengan senang hati diturunkan semuanya kepada sang siswa, terutama Raden Wijaya, kemungkinan besar dari tulisan Sun Tsu. 

Ilmu bela diri yang diajarkan oleh sang Ksatrya pendeta hanya jurus jurus yang umum saja,  hanya ditekankan pada penguasaan simpul simpul jalan darah yang harus dieserang  cara menyerangnya atau melidungi titik titik penting disekujur tubuh manusia.      
       
        Ilmu Kebathinan diperkenalkan kepada siswa adalah hal yang diluar ajaran formal Hindu dengan tiga alirannya, tapi Hindu Jawa yang mengenal “catur sanak” yang lahir bersama si jabang bayi,  barang siapa yang mengenal catur sanak bersama diri pribadinya sebagai tokoh kelima, akan kajanaprya (Jawa, Bali artinya  unggul ) ,  unggul sebagai ksatrya  menjadi tempat berlindung  makhluk yang teraniaya, Brahmana petapa dan orang tua, tetap pada dharma, ini bisa dicapai dengan tapa berate dan Samadhi atas bimbingan sang Guru, yang intinya upaya merambah alam diantara tidur dan jaga antara hidup dan mati yang diupayakan dengan tapa berate dan ditutup dengan hamati geni (tidak makan dan minum) selama sehari semalam, kemudian bersamadi setelah tengah malam pada akhir hamati geni,  siswa tidak boleh bergejolak jiwanya sedikitpun, terkejut, bingung, takut harus dibuang jauh jauh, sesudah perasaan hilang tapi kesadaran masih ada, keadaan semacam itu harus dipertahankan selama lungkin dengan bantuan sang Guru, dengan pancaran instrukisi bathin yang sudah bisa diterima oleh siswa, maka ketenangan bisa berlanjut sampai fajar menyingsing, akan didapatkan kunci pertanda apapun, kalimat, siulan, tarikan nafas, sikap mudra telapak tangan, tulisan di udara yang kemudian dapat menjadi kunci penghubung kembali dengan catur sanaknya  sesaat di ingat dalam bhatinnya. Pengenalan pertanda ini masing  masing siswa berbededa beda,  dan masih harus dilatih pada pelajaran pelajaran berikutnya desertai berate dan menahan hawa nafsu secara berkala, dengan pengendalian pikiran, sehingga keadaan sambung rasa dengan catur sanaknya bisa diulang, semakin banyak latihan bersama Guru atau dilakukan sendiri,  semakin mahir mengadakan hubungan dengan catur sanaknya. Siswa akan lulus sesudah kira kira tiga tahun berlatih secara  tetap dibawah bimbingan sang Guru. sesudah lulus, bila diperlukan  delam sekejap situasi hubungan dengan catur sanak bisa dicapai dan apapun bantuan yang diminta bisa secepat cipta ada, apakah dalam menghadapi pertarungan, apakah menyingkir dari bahaya, melindungi diri dari serangan makhluk gaib, menghadapi kekuatan alam yang tidak biasa catur sanak akan menugaskan Bathara Bathari  bahkan Mahadewa berkenan melaksanakan dalam sekejap, bahkan “mahawak Kalamrcu” pun mampu bila perlu, asal untuk menghadapi lawan yang setara, asal pribadi sudah  menyatu dengan kehendak Jiwatman.  

Hubungan dengan catur sanak akan lestari  erat apabila hidup bisa menurut alur dharma. Makin menyimpang  dari dharma makin sulit mendaptkan kembali rasa hubungan  catur sanak, bahkan yang masuk adalah isi Alam hitam, yang datang dengan sekejap, karena pintu terbuka sudah ditinggalkan oleh penjaganya.
 Maka pribadi akan jatuh ke jurang yang tanpa dasar.  

Begitulah gemblengan Ki Bismasadana terhadap tiga siswanya, dua yang lain harus bersabar dan memgulang dari permulaan melakukan tapa berate awal, menghilangkan gejolak jiwa di alam antara sampai bekali kali gagal, toh akhirnya dinyatakan berhasil oleh sang Guru, meskipun bimbingan di alam itu hanya peneguhan peneguhan yang “terdengar” agar tidak terlempar kembali kealam nyata, namun belum  sempat  “mendapat rasa” pertemuannya dengan catur sanak, melainkan hanya sekejap mata karena jiwanya kembali bergejolak karena gembira,  walaupun sang Guru sudah menyatakan memadai, dan kapanpun sang Guru akan membantu mengajari mendatangkan bantuan catur sanak masing masing  dengan mantra yang pada saatnya akan diajarkan, untuk menjaga diri yang bersifat umum. 
Sebagai gantinya akan diajarkan beberapa jurus ilmu silat yang bisa diandalkan untuk membela diri.
Sedangkan mengapa pangeran miskin Wijaya berhasil, karena sejak kecil sudah yatim piatu dan meskipun Ibunya adalah Putri Pangeran Singhasari tapi bapanya dalah Brahmana gryasta sah makayangan ( meningal) karena bencana topan yang menenggelamkan Perahunya di laut antara pulau kecil Masalembu dan Nusa Jawa di utara Madura, Ibundanya mangkat dua tahun sesudah ditinggal sang suami. 

Kakeknya  Pangeran saudara tiri sang Krtanegara sudah mangkat. Putri janda,  nenek bocah ini masih mengabdi Keraton sebagai Pengatur banten dibalai pemujaan para Pitri, dengan cucundanya dicukupi keraton segala kebutuhannya. 

Hanya Raden kecil ini karena urutan kedekatan dengan suksesi Raja cukup jauh, urutan ke 12 maka segala apa dalam giliran permainan maupun pelajaran dalam kelompok pengeran pangeran dan putra putri kecil krecil,  Raden ini ada di giliran akhir. Anak lelaki ini sejak dini telah terpaksa belajar sabar dan rendah hati sampai batas yang nyaris tidak ada pada anak anak  lumrah , melainkan pada orang dewasa.

Sejak kecil Raden Wijaya telah belajar menahan diri, tidak menunjukkan kegembiraan maupun ksusahan melainkan bersikap datar, karea dengan dmikian dia bisa menghindarkan diri dari rasa kecewa. Ini sabda  sang nenekda  yang  belum waktunya,  tapi entah kenapa kok merasuk kedalam ingatan dan kesadaran anak laki laki ini.

Begitu pula mulai dari masa anak anak, sudah diperlakukan sebagai peserta cadangan atau yang mendapat giliran paling akhir.
Disetiap pemainan panahan, anak panah dan sasaran jumlahnya selalu lebih sedikit dari peserta yang terdiri dari putra putra pangeran yang dibawa oleh orang tuannya ke Kedaton dalan suatu acara, anak anak ini  pasti desertai dengan para abdinya yang sangat memperhatikan dan megusahakan dengan bersemangat agat tuan kecilnya mendapat giliran atau tempat, sedangkan Wijaya hanya dititipkan kepada emban Gusti Ratu yang lagi tak bertugas, yang sibuk bergosip ria dengan emban emban yang lain atau bercengkerma  dengan juru taman.
Pada gilirannya, semua pangeran kecil dan manja sudah pada berlarian srabutan dan tidak ada yang memperhatikan bagaimana dia memanah dan bagaimana dia meregang busur, anak panah terlalu melenceng kemana, jadi dia dengan sabar memilih anak panah yang paling baik, memilih busur yang paling baik dan mencoba mebidik sasaran tanpa ada penggembira yang memperhatikan, dia mencoba menirukan pemuda pemuda bangsawan yang dilatih memanah di kasatryan. 

Karena arena sudah sepi ditinggal oleh setan setan kecil dia bisa mendapatkan anak panah dengan mudah dan banyak bidikan yang tepat tanpa ada yang memperhatikan,  ini selalu terjadi.  Keadaan inilah yang melatih Wijaya untuk tidak telalu berharap pujian, tidak meledak gembira, gampang mengubah  alur perhatian  ke hal hal lain yang konstruktip  bila  gagal,  menjadi kebiasaan bersikap datar. 

Bisa dimengerti bahwa kebiasaan yang dihimpun sejak masa bocah, untuk tidak mengumbar emosi, sangat membantu saat bermeditasi sesudah hamati geni ( tidal makan dan minum selama sehari semalam)
Merembes ke alam liyep yang gawat karena kesadaran harus lengkap tapi tidak terpengaguh oleh sensasi apapun, terkejut, khawatir, refleks gerak  seperti berubah  irama  nafas dan detak jantung  harus tidak bergeming terombang ambing,  sesudah sang Guru berhasil  membimbing siswa melewati alam liyep,  diambang alam sunya ruri, dimana rasa menyatu atau bertemu dengan catur sanak yang  sensasinya mendadak gembira, mesra, seperti kerinduan yang terobati campur aduk, inilah satu kejapan saat yang berbahaya, siswa samasekali harus ta’zim, berserah diri dam meberikan  puja panyambarama  kepada catur sanak , sebab bagitu terbawa oleh emosi, begitu semua lenyap, meditasinya buyar. Sebaliknya siswa yang berhasil masuk dalam alam sunya ruri dengan selamat akan mendapat satu kunci sandi yang “berwujud”  macam macam, bisa derwujud ucap mantra, bahkan swara saja, misalnya  pemandangan wujud yang indah, bisa melihat dirinya menguncupkan sembah dengan sikap mudra tertentu, bisa  mendengarkan sepotong irama, sepotong  tulisan yang terbaca oleh sang siswa, yang itu semua nanti bisa diulang dalam bathin,  disaat  diperlukan, untuk menyambung kembali hubungan dengan catur sanak yang menjadi sarana  bantuan kepada ksatrya  guna menjalankan  dharmanya.
Sang Bismasadana selau menutup wawancara mengenai Dharma dengan kalimat Sang Karna Kuntiputra dalam bahasa Jawa saat itu:
“Tan hana Dharma mangrua”  yang terucap oleh sang Karna disaat yang sangat genting,  sang Karna harus memlilih kebenaran  antara  dua,  berpihak kepada Pandawa  sebagai yang dimohon Ibundanya yang selam ini dirindukannya,  Dewi Kunti,  karena  sebenarnya  Pandawa adalah para sudara saudara kandungnya, sedangkan para Kurawa yang telah  melimpahkan budhi kepada sang Karna yang baginya besarnya tak ternilai, yaitu meneguhkan dirinya sebagai Ksatrya – saat kabsahan derajad dirinya dipertanyakan dihadapan umum.  Ibunda Kunti mendatanginya saat kedua wangsa  yang masih sepupu ini sudah bersiap akan saling membunuh di medan perang besar dimana sang Karna merasa wajib  membalas budhi walau sampai gugur dimedan laga  -  arti  jawaban sang Karna kepada ibundanya adalah  “tidak ada kebenaran yang mendua”, kemudian diabadikan oleh Mpu Tantular dalam kitab Sutasoma.
Selanjutnya, kepada siswa yang telah melewati tahap pelajaran ilmu Kebhatinan Hindu Jawa setingkat ini, dua hal yang di tekankan oleh Sang Guru, kesatu adalah mengulang kembali menyambungkan hubungan dengan catur sanak hingga bisa dilaksanakan sekejap mata, kedua pelajaran Dharma yang artinya disingkat dengan “kebenaran”
Pelajaran Darma bukan saja bersifat “scholastic” mebaca dan membahas kitab kitab yang terkenal misalnya Mahabharata dan Ramayana,  Danghyang Kamahayanikan, Upanishat Wedanta dsb, tapi juga melakukan raja yoga, untuk  memperteguh pengendalian nafsu.
Masa berguru kepada sang Bismasadana tujuh tahun tanpa dirasa, diantara latihan tapa berate dan ceramah mengenai ilmu ilmu yang lain, Pemuda Wijaya angat tertarik kepada pembuatan perahu perahu  besar, Sang Raden banyak berkenalan dengan para undagi mpu Pandega galangan perahu, membahas gambar rancangan  lunas dan lambung  perahu dan penyambungan setiap bagian bagiannya, pembuatan dempul yang unik- dari bubuk kapur dan minyak jarak begitu sedikit minyak jarak dibandingkan dengan bubuk kapur yang dicampurkan nyaris tak masuk akal, toh ahkirnya menjadi satu gumpal dempul yang kuat menahan gempuran ombak disela sela papan papan lambung perahu dan geladak,  betapa celakanya bila pada saat gempuran ombak dempul ini mrotholi, lepas dari celah celah papan lambung atau haluan perahu, pasti perahu akan tenggelam. Dipelajari juga pemakaian damar dari Sokadana (Kalimantan), yang meskipun lebih sederhana tapi mudah pecah, hanya untuk papan papan perahu kecil saja yang melayari sungai, lain halnya dngan aspal dan pelangkin dari pulau Buton, sangat tahan air dan lemas, berguna untuk membuat anyaman bambu kedap air. Pemilihan kayu kayu yang cocok untuk digunakan ada kayu yang khusus untuk pasak lunas dan gading, ada kayu yang khusus unuk pasak pasak papan lambung, ukuran ketebalan papan yang tidak sama disemua tempat dan kegunaannya dan sebagainya. Raden Wijaya mahir menggunakan alat pertukangan kayu untuk bangunan perahu.
Raden Wiaya muda juga hafal  membuat dan melepaskan banyak macam simpul tali temali layar dan kegunaanya dan tidak canggung memanjat tiang agung untuk bertengger di papan peninyauan saat mendekati pantai yang bergosong karang dan saat bertempur. Kemahiran yang kemudian hari sngat berguna.*)




































































  

3. MATAHARI TERBIT DI WILWATIKTAPURA (SERI 2)

3.MQATAHRI TERBIT DI WILSWTIKTAPURA

DAPUR ISTANA DITENGAH HUTAN JATI
Hari ini rombongan penebang dan penyarat glondong jati, yang terdiri dari tigapupuh orang, berangkat dari pakuwon Mada agak siang, karena letak pohon yang dituju hanya dua belas yojana. Dalam rombongan termasuk tiga pasang sapi zebu dan peralatannya, dan lima ekor anjing pemburu, Kliwon Cenik dan  Pon Burik  ada diantara rombongan. dua orang ini tidak diingat namanya bila tidak mempunyai kepandaian istimewa, yaitu mencari bahan makanan ditangah hutan yang gersang, tapi kebetulan saat itu permulaan musim penghujan. Tiga puluh orang ini berangkat dengan membawa segala peralatan menyarat gelondong jati yang beratnya puluhan ribu kati, juga belanga dan piranti masak dari tembaga yang mahal harganya, cukup untuk menyediakan makan buat tiga puluh orang dan lima anjing dibagi dalam tiga kelompok. Nampaknya tidak ada yang ngaggur bahu dan tangan mereka, bila tidak punggungnya mengusung sesuatu alat , pundak mereka memikul sesuatu beban yang tidak kurang dari tigapuluh kati, kecuali anjing anjing pemburu, yang mengikut tanpa tali dan bebas beban apapun.
Rombongan ini jadi istimewa karena dipimpin sendiri oleh Gajah Gombak, putra Mpu Curadarmayogi. Makanya si Pon Burik dan Klion Cenik ikut dalam rombongan, Yang satu ahli menangkap segala sato wana, walang atogo, yang satu lagi ahli mencari tumbuh tumbuhan yang bisa dimakan dan enak. Pon Burik memikul jala dan tali temali, Klion Cenik memikul belanga tembaga besar  kecil, persis seperti orang mau jual dawet.
Segala keperluan yang lain telah disediakan oleh hutan rimba, kecuali garam, tuak dan soma, yang sangat mahal harganya karena didatangkan dari Atas angin, makanya dibawa hanya  tiga butir masing masing sebesar kemiri termasuk bungkusnya dari lilin tawon yang tebal, dibawa oleh pemimpin rombongan dengan hati hati.
Rombongan berjalan masuk hutan sambil mencari untuk masing masing tumbuhan yang sangat pahit untuk mengusir nyamuk dak pacet, sambiloto, digosok gosokkan keseluruh tubuh mereka sambil jalan, sebentar saja mereka sudah lenyap ke barat ditelan hutan yang baru bersemi.  Waktu matahari tinggal tiga jengkal dari ufuk barat yang juga diselimuti mendung  tipis mereka sampai dipohon jati yang dituju. Aneh dimata mereka pohon itu istimewa, karena gelondongnya nyaris tidak bercabang dibawahnya, dan senjakala tertimpa matahari dari barat berwarna keputih 
putihan, terpisah dari latar belang hijau yang cenderung gelap,  kebetulan disebelah baratnya agak terbuka dari pohon besar, karena rupanya entah berapa puluh tahun yang lalu pernah dirambah orang  untuk  berhuma. Disitu ada beberapa puluh tegakan jati kira kira umur empat puluh tahun, dan rumpun pisang yang  porak peranda, karena habis deserbu babi hutan. Dipinggir  bekas hunian peladang huma ini ada pohon pucung yang buahnya masak dan bijinya berceceran di tanah, yang tidak luput dari pandangan si Klion, dan tidak aneh ditempat dia berdiri ada pokok jeruk purut selingan, si Klion memegang pokok jeruk purut ini sambil tersenyum.  Di lahan itu juga tidak sulit ditemukan segala empon empon (rimpang obat dan bumbu (familia Singiberaceae) mulai dari kunyit,  laos, jahe puyang, ditempat yang agak terlindung masih tumbuh kencur dsb, termasuk lombok rawit, yang tumbuh disisa bekas dapur yang masih ada sisa abunya.
Karena lokasi itu agak terbuka, segera semua orang meletakkan bebannya dan mulai berkerja, ada yang mendirikan pondok dengan atap dedaunan  palem hutan dan daun pisang hutan, ada jang mulai membuat api,  ada yang mencari sumber air, menurut petunjuk Gajah Gombak  sang pemimpin, agak ketimur laut  sebentar ada sendang yang jernih dan segera dua orang kesana untuk mencari air dengan membawa dua kantong kulit kambing masing masing. Sore itu mereka makan bekal dari rumah masing masing, yang terdiri dari nasi dilapisi daun pisang, ( rupanya sewaktu panas di ratakan di daun pisang setebal dua buku jari, setelah agak dingin lalu digulung erat  erat dikedua ujungnya di jepit dengan  penusuk bambu dikedua ujungnya, cara ini membuat nasi awet tidak bau dan lauk seadanya kebanyakan ikan asin dan sambal, beralaskan dedaunan, nampaknya nikmat sekali.
 Kedua kawan kita sudah pergi entah kemana, yang satu dengan anjing anjing, yang satunya lagi pergi kebawah pohon pucung, dan berjongkok agak lama satu tempat lain,  rupanya sedang mengali empon  empon, peninggalan pemukim huma itu puluhan tahun yang lalu, trus tumbuh meliar, selama hampir empat puluh tahun. Rupanya Klion Cenik lagi beruntung, hampir semua bumbu ada, termasuk  rumput sereh!
 Lain halnya si Pon, selang beberapa waktu, sekira menjelang tengah  malam dia datang dengan memikul dua ekor kijang yang terikat kaki kakinya di pikulan, sedangkan jala-nya dia tinggal tergulung ditengan hutan.  Anjing anjing ikut meramaikan suasana. Selang beberapa menit anjing anjing dapat bagiannya segala usus dan isi perut kedua kijang itu dan mereka lagi berpesta duluan.
Tulang dan daging kijang segera direbus dalam ketiga belanga tembaga,  menjelang pagi api unggun sudah mati dan daging kijang yang direbus sudah masak baru diberi bumbu oleh si Klion, rupanya bumbu rawon, yang ditumis dengan minyak kacang !                                    
Ternyata tidak rugi dia membawa satu buli buli  minyak kacang, untuk dipakai  pada kesempatan yang baik, rupanya kesempatan itu saat ini, kapan lagi dia menyertai Gajah Gombak. Minyak kacang untuk menumis bumbu rawon, siiip. 
Pagi pagi sekali seluruh hutan  mencium bau harumnya rawon si Klion. Membuat beberapa orang anggauta rombongan yang penakut  berdiri bulu kuduknya, hanya buyar rasa takut mereka, mengingat bahwa si Burik kemarin malam telah mendapatkan dua kijang,  tapi kok aneh mereka berdua bisa mengolah rawon ditengan hutan ini. Tidak menyangka bawa bumbu apa yang ditingalkan oleh penghuni huma empat puluhan tahun yang lalu, malah tumbuh menyemak, hanya orang  yang seperti Klion Ceniklan yang bisa memanfaatkan harta karun  itu.               
Semua anggauta rombongan sarapan sekenyangnya.
Bila tidak ingat akan siang kapan mereka perlu makan lagi, belum tentu seberuntung ini
Nati siang masih butuh makan lebih banyak, semua rawon maunya disikat pagi itu juga. Rombongan penyarat gelondong jati biasa mulai bekerja pagi pagi benar, tali temali direntang, tegakan jati yang sudah dikeringkan selama setengah tahun dipanjat lalu diikat bagian atasnya dengan tali lebesar lengan anak anak, menjulur kearah mana dia harus direbahkan. Sapi sapi penyarat disiapkan dengan pasangannya, jalur lintasan  yang telah direncanakan Gajah Gombak  semenjak kayu itu di kupas kulitnya untuk dekeringkan, mulai dirintis dengan bantalan kayu rimba mumbujur Jalur lintasan, sebagian orang membuat roda roda dari kayu bulat dipotong sedepa dengan garis tengah yang agak sama, sekira  tengah hari jalur sudah siap dua ribu depa. Beliung kapak dan kelewang dengan sebat bekerja, menjelang tengah hari tegakan jati yang sudah dikering setengah tahun berdebam  tumbang  kearah yang ditentukan, tinggal dipotong segala cabangnya ternjata wutuh gelondong itu lurus bisa mencapai 12 depa, panjang dan  agak melengkung dengan busur yang nyasis kentara. Bagian luar gelondong jati kira kira empat lima jari, adalah kayu luar yang berwarna cerah, tidak ada gunanya 
untuk diikutkan dalam pengolahan gelondong jati untuk jadi balok atau papan, karena kayu “putih”  masih terlalu muda,  bagian dalam berwarna tua sampai kehitaman, inilah yang menjadi dasar bahan kayu olahan.
Dibagian luar gelondong ini dibuat  banyak takik untuk tempat tambang tambang besar diikatkan dan juga lubang lubang untuk  menancapkan kayu,  mendorong dan mengarahkan gelondong disarat  sepanjang alurnya.   Gelondong selalu disarankan mrenyarat gelondong jati  dengan  bagian kayu yang terbawah di depan. Sang Pandega berdiri di bagian ini tengan berpengang pada kayu yang ditancapkan pada pangkal kayu gelondong, bila delondong agak sedikit tidak lurus tapi membentuk lengkungan sedikit, maka bagian luar lengkungan itu di arahkan dibawah bergeseran dengan tanah. Tali temali  derentangkan dengan tiga pasang sapi benggala, dengan rantai rantainya. Penyarat yang tigapuluh orang itu sudah membagi kerja dengan sendirinya, ada yang membuat  “rel” ada yang memasang gelondong kecil “roda”  tinggal mengungkit gelondong besar itu keatas roda. Setelah semua paripurna, gelondong mulai ditarik sapi sapi dan didorong oleh sebagian besar penyarat, hanya Gajah Gombak yang naik diatas gelondong berpegangan pada kayu  kemudi, kali ini dibelakang  gelondong besar. Setelah semua pada tempatnya,  gelondongong mulai ditarik, terdengan bunyi lecutan cambuk pada sapi sapi berponok dan,,,,,,,,,nampak ringan saja glondong itu bergerak maju, disertai sorak sorai ketiga puluh orang tukang sarat  dan gonggongan anjing  anjing melampiaskan kesenangan. Empat  atau enam orang memindahkan roda kayu bulat yang telah dilewati, cukup berat di angkat dua orang, diletakkan didepan gelondong yang lagi disarat, bagitu seterusnya. Rintisan rel dari kayu kayu rimba tiga ribu depa telah dilewati dengan selamat dan ringan, kerena arah  rintisan  yang agak miring kebawah, matahari sudah tiga perempat lengkung langit, mereka siap siap untuk beristirahat, makan siang dan makan malam jadi satu. Memang sejak dulu kaum petani di pedesaan makan duakali sehari, pagi pagi makan sisa kemarin malam, dan tiga perempat  hari siang  mengolah hasil pengumpulan makanan sejak pagi. Kali ini klion dan Burik tidak begitu beruntung, karena mereka hanya memperoleh ubi hutan cukup banyak, satu landak yang kesiangan  dan sebakul sarang tawon gung yang berisi larva tawon dan sedikit madu.
              Sisa bumbu yang oleh Klion kemarin terkumpul masih banyak, hanya dipilih lengkuas, kunyit, sekali lagi sisa minyak kacang dari desa. untungnya sekitar situ dihutan masih banyak popon salam dia ambil dua gengggam, masih ada kedondong hutan yang buahnya kecil kecil dan daunnya berasa asam, dia ambil daun kuncupnya artinya secukup lengannya memeluk. Ubi mereka bakar dengan dibenamkan di abu, sedang  tiga  tempayan tembaga cukup buat  mereka semua, 
Lenkuas yang dipukul pipih segenggan setiap tempayan dauh salam  segenggam setiap tempayan,  kunyit  yang sudah nyaris        hancur karena dilindas batu,  dan garam, semua dimasukkan kedalan tempayan berisi  sepertiga bakul larva tawon gung dan daging landak, kemudian daun kedondong hutan yang masih muda,  lombok rawit wutuh llima geggam setiap tempayan dan madu yang masih bercampur baur dengan sisa rumah lebah, seadanya, lalu didihkan sekali lagi, hasilnya sungguh sungguh aroma yang menggugah selera ( munkin aroma daun kedondong  Lombok rawit  daun salam dan serta aroma larva tawon).
                             Langsung masing masing orang mencari wadah, entah dari bambu, entah dari daun talas hutan dan sebangsannya untuk antri  mencedok sayur larva lebah gung dengan kuahnya,  menghantar ubi hutan ba kar, mereka sangat mengagumi kepandaian si Klion, minum kuah dari wadah  masing, dengan lidahnya berkecipak puas, meskipun makan sore hanya ubi bakar dengan seekor landak dan sayur larve lebah tawon gung  untuk tiga puluh orang, dengan kuah banyak, tapi justru rasa enak itu di bumbu dan sayurnya.
Sampai sekarang sayur asem asem daging menjadi menu unggulan di warung makan atau restoran sepanjang jalan utama di Bojonegoro, yang rasanya segar agak asam dan pedas.
Kembali ke dua ribu depa penyaratan gelondong jati sudah dkerjakan dengan rapi, matahari sudah tinggal dua jengkal dari ufuk barat, semua penyarat sudah puas makan ubi dan asem asem daging landak ditamah larva tawon, semua puas dan mulai meyiapkan tempat untuk tidur dengan menganyam daun daun palem, membuat gubug dari kayu hutan dan dedaunan agar bisa menjadi tempat berteduh bila mendadak hujan turun, sebab masa sudah memasuki musin hujan. Mereka pada minum tuak dan makan sisa ubi, hingga akhirnya semua pada mengantuk meski matahari barusan tenggelam. Ada yang gemar uro uro, artinya mendendangkan lagu kebetulan iramanya dandang gulo, disambung dengan kidung yang menjadi penjaga diwaktu malam, hanya untuk mempercepat mereka yang sudah mengantuk kepayahan dan pengaruh tuak.
Tidur datas anyaman daun palem yang digelar sembarangan diatas dedaunan yang berjatuhan di hutan yang ternyata hangat, dedaunan bagsanya sambiloto yang sangat pahit untuk mengusir nyamuk yang digosok rata dikulit, menjadikan para penyarat ini tidur pulas laksana raja raja yang tidak memikirkan apa apa, seputar api unggun.
      Besok paginya, lintasan harus disiapkan  agak menyerong ke utara, meskipun mengurangi penurunan yang landai tapi penghindari rawa rawa  yang memanjang ke timur yang tidak pernah mereka ketahui dasar dan kedalamannya.
Menjelang siang penyaratan agak terhambat dengan rintisan yang agak menanjak, tapi apa lacur,  gelondong malah  melenceng, dari rintisan yang melambung menjadi rintisan yang lurus, menuju ka rawa rawa, yang memang tidak direncanakan. Gajah Gombak tetap berdiri di buritan kelondong sambil berteriak memberi aba aba, apa boleh buat, gelondong sudah terlanjur meluncur dengan perlahan meluncur  sendirinya lurus kearah rawa rawa. Sebelum meluncur cepat Gajah Gombak neretas tali temali sapi sapi penyarat, dengan goloknya, sampil tetap berdiri diatas delondong yang mulai cepat luncurannya. 
Gajah Gombak sendirian menjaga keseinbangan badannya diatas gelondong yang meluncur makin cepat, diikuti oleh rombongan penyarat. Rombongan tertinggal dari kecepatan luncuran gelondong, hanya Gajah Gombak sang pemimpin rombongan tetap berdiri diatas gelondong dengan mempertahankan keseimbangan tubunya meloncat kedepan kebelakang dengan ringan, rupanya member arah lucuran ke tempat yang agak renggang dari pohon pohon besar, langsung meluntur tercebur ke rawa.  Karena daya luncur yang besar, delondong terdorong sampai ditengah rawa dengan Gajah Gombak tetap diatasnya. Begitu rombongan penyarat sampai ditepian rawa, Gajah Gombak berteriak, sudah turun dari gelondong berdiri ditengah rawa dengan kedalaman air sedada.
Ternyata dasar rawa ditengah berpasir dan agak keras, Cuma berlumpur senata kaki.
Rawa yang membujur ke timur itu ditengah dasarnya tidak berlumpur, dan dangkal dengan kedalaman sedada orang dewasa. Keadaan rawa seperti  ini,  tidak pernah dibayangkan oleh para penyarat.
Semula rombongan para penyarat agak takut masuk ketepian rawa, mereka membuat tongkat dan mencoba kedalaman lupur di pinggiran, ternyata lebih dari sedepa. Apa boleh buat, untuk memperoleh kembali gelondongnya mereka menebang pokok randu dan pokok dadap yang ringan untuk jembatan menuju ke tengah rawa dimana Gajah Gombak duduk digelondong yang muncul dari air sedikit saja, tanda bawa gelondong jati kering ini berat. Akhirnya dengan pertolongan pokok randu alas yang besar rombongan peyarat berhasil sampai ketengah rawa yang dasarnya ternyata keras.
Dengan sebat mereka membuat jembatan dari rakit dari pohon pisang hutan, pokok randu dan pokok dadap  untuk menyelamatkan gelondongnya kalau kalau tenggelam setelah lama tercelup diair.
Ternyata tidak, mereka mulai menarik gerondong ketepi tapi sebatas dimana mereka bisa berjalan diair tanpa terganggu  yang makin ketepi makin dalam lumpurnya, Dengan tegar sang Pandega memutuskan untuk mengikatkan gelondong randu sebagai pelampung, dan menyarat diatas air dengan rombongannya, menuju ke timur.
Rawa itu memanjang ke timur  dengan dasar yang sama ditengah agak berpasir dan keras, Gajah Gombak menuntun rombongan di depan, memilih kedalaman air se pusar dan lumpur yang di injak tidak dalam.
Akhirnya penyaratan di rawa mencapai sepuluh ribu depa ditempuh dengan sangat ringan,  hanya gangguan lintah lintah, yang dihadapi 
Anehnya, sang Pandega, Gajah Gombak tidak digigit lintah, kulitnya yang basah kecoklatan mengkilat ditimpa sinar matahari, akhirnya ternyata tepian timur rawa itu sudah dekat dengan Bengawan Solo, tinggal setengah hari penyaratan.
Menyaksikan kejadian ini diam diam rombongan penyarat ini percaya bahwa sang Pandega mempunyai ilmu yang tinggi, dengan meretas tali temali sebesar lengan secepat itu, maka sapi zebu penyarat bisa diselamatkan dan cara Gajah Gombak dengan entengnya berdiri di glondong puluhan ribu kati mengarahkan luncuran supaya tidak menabrak pohon kayu hutan langsung  meluncur ke rawa.
Untuk seterusnya rintisan lewat tengah rawa ini dipakai oleh ratusan rombongan penyarat, sehingga tegakan jati dibarat desa pakuwon Mada nyaris habis digantikan dengan huma dan tanaman muda.(*)


\




                          



                            
                                 

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More