Sayang Sama Cucu

Sayang Sama Cucu
Saya sama Cucu-cucu: Ian dan Kaila

INDONESIA PUSAKA TANAH AIR KITA

Indonesia Tanah Air Beta, Pusaka Abadi nan Jaya, Indonesia tempatku mengabdikan ilmuku, tempat berlindung di hari Tua, Sampai akhir menutup mata

This is default featured post 2 title

My Family, keluargaku bersama mengarungi samudra kehidupan

This is default featured post 3 title

Bersama cucu di Bogor, santai dulu refreshing mind

This is default featured post 4 title

Olah raga Yoga baik untuk mind body and soul

This is default featured post 5 title

Tanah Air Kita Bangsa Indonesia yang hidup di khatulistiwa ini adalah karunia Tuhan Yang Maha Esa yang harus senantiasa kita lestarikan

This is default featured post 3 title

Cucu-cucuku, menantu-menantu dan anakku yang ragil

This is default featured post 3 title

Jenis tanaman apa saja bisa membuat mata, hati dan pikiran kita sejuk

Kamis, 12 Februari 2015

DO'A SAYA KEPADA BANGSAKU UNTUK MENGHADAPI ZAMAN TERTELAN PRAHARA INDIVIDUALISME

DO'A AKU KEPADA BANGSAKU UNTUK MENGHADAPI ZAMAN MASAYARAKAT TERTELAN PRAHARA INDIVIDUALISME. Apakah jahatnya individualisme ? Tidak ada, malah baik untuk merangsang pertumbuhan pendapatan dari kemajuan yang melecut semua orang untuk mendapatkan hasil yang sebesar besarnya. Begitulah para pakar Ilmu Ekonomi Kapitalis berkhotbah, bukan hanya berkhobah tapi juga dengan gagahnya memberikan dengan sangat royal landasan yang sangat menarik untuk hidup secara indiviualis dengan kata lain egoist, mobil pribadi, rumah pribadi, kapal pesiar pribadi, pantai pribadi bahkan pulau pribadi. Usahalah nikmatilah, tidak terkecuali Bank bank menawarkan dengan rekening gendut tidak bisa orang lain tahu segendut apa. Apa situasi semacam ini belum pernah terjadi ? Sudah selamanya terjadi, karena individualisme adalah sebagian dari hidup manusia yang sudah jutaan tahun bepasangan dengan hidup berkelompok menyatukan tenaga dan pikiran. Saya hindari kata sosialisme sebab ini taboo di dalam kebudayaan Amerika Serikat Tuan kita semua. Kena apa sebagian dari hidup ? Sebab kenyataannya sisi lain dari individualisme adalah hidup berkelompok, melawan binatang yang kuat sebagai predator predator, bersama sama satu puak dengan alat, dengan akal terencana dan pembagian kerja yang rinci, dan ditepati oleh seluruh kelompok, berarti upaya ini sudah mengandung kecerdasan yang lebih tinggi dari para pemembuat alat, melaksanan tugas sebagai individu dengan memperhitungkan dengan kepercayaan membagi tugas kepada individu yang lain. Dari zaman jutaan tahun yang lalu hingga sekarang. Kepercayaan kepada individu lain adalah bentuk kecerdasan yang baru, merupakan kesadaran baru. ( Kemudian kesadaran terbaru percaya kepada yang Maha Kuasa-Allah,jadi yang ini sangatlah sulitnya ) Contonya himbauan seorang Kepala Daerah temtang menanggulangi banjir, dimana mana di negeri kita yang tercinta ini: Bandjir bukan semata mata harus diatasi oleh Pemerintah, tapi juga tanggung jawab setiap individu anggauta masyarakat luas yang terimbas atau tidak, sederhananya “Jangan sekali kali membuang sampah disungai” Sudah bosan dari sederhananya pesan ini, tapi ini menunjukkan fungsi individual harus disertai dengan fungsi bermasyarakat artinya semua orang berperilaku tidak membuang sampah di sungai. Ini satu macam upaya. Upaya lain mestinya organisasi masyarakat yang resmi membuat tanggul spanjang sungai ini. Upaya membuat tanggul sepanjang sungai adalah upaya besar, perlu mengunpulkan dari dana pajak Negara lewat administrasi Negara. Lha upaya ini dipenuhi dengan lubang lubang individualisme dari setiap pelakunya, mengambil untuk keperluannya sendiri- “sekarang terkenal dengan prilaku koruptsi”. Tentu saja perilaku korupsi ini ditangkal dngan peraturan peraturan hukum dan undang undang. begitu hebatnya peraturan dengan dengan undang undang ini sehingga sangat menghambat pembeayaan segera. Uang sudah ada, artinya anggaran sudah ada, tapi pemilik tanah dibantaran sungai minta tambah ganti rugi karena selama pengadaan anggaran harga harga sudah naik. Ini alasan apa ? Mestinya tanah dan apa yang diatasnya dan dikandungnya sebanyak mungkin digunakan untuk kepentingan umum,(UUPA no5 tahun 60) jadi tanah bantaran sungai bukan pisang goreng, setiap hari bisa berubah. Ini tugas untuk tunduk pada Ungang Undang untuk menentukan ganti rugi, karena bantaran sungai alami brfungsi sosial Negara yang menentukan. Lain dengan pelebaran jalan, pembagunan jalan tol, yang tidak menyangkut mestapa orang banyak dan hak atasnya bagi individu lebih kuat dari bantaran sungai yang lebih banyak haknya Negara, yang pasti segera harus ditangani, jadi pembicara di TV harus menyadari hal ini dan rakyat semua harus menyadari hal ini dengan segera. Ndak usah takut menyatakan tugas sosial dari warga, ndak usah takut mengelurakan beaya extra untuk harga ganti rugi, karena tanah mempunyai fungsi ekonomi perdagangan secara dominan, bukan saja Berapakah hasil panen yang diharapkan dari beberapa ratus meter mersegi tanah bantaran sungai ?. Apakah perilaku koruptive dalam jual beli ini tidak ada, misalnya “mark up” ? . Ini perlu komisi, panitya dll yang makan waktu, kapan membangunnya tanggul itu ?. Lha bila rakyat bodo ya percaya "kesulitan" menentukan harga itu. E, e, malah petugas Negara pegumpul pajak bersekongkol dengan pemilik rumah usaha meringankan pajak untuk sebagian besar ditilep oleh si Pegawai Negeri Pengumpul pajak, ini se complex perumahannya tahu, malah bikin rumah tingkat mentereng, razeki dari Allah. Malahan lagi anaknya perempuan yang janda mencalonkan diri jadi wakil Rakrat di DPR apa ada rasa salah pada otak keluarga tega tersebut tdak ada sama sekali? Sama seperti keluarga Ratu Atut Chosiah, tidak pernah merasa salah, lha ini menyenangkan bagi tetangga kita Negara yang Adhi kuasa. Uang pribadi membawa berkah dan keselamatan dunia, untuk menghibur diri saya sendiri, diakhirat hasil korupsi tidak memberi berkah tapi member laknat*)

Minggu, 08 Februari 2015

MENJADI ORANG ASING DINEGARA TIRAI BESI SELAMA HAMPITR LIMA TAHUN

ORANG ASING DI NEGARA TIRAI BESI SELAMA HAMPIR LIMA TAHUN. Tulisan ke 2 Negara dibalik Tirai Besi, julukan kepada Negara Rusia yang dimiliki oleh dinasti Tsar Rusia selama berabad abad, rakyatnya yang masih petani penggarap setengah budak dari pemilik tanah merebut kekuasaan dipimpin oleh Paratai Komunis yang diketuai oleh Wladimir Ilytch Lenin, setelah revolusi social Oktober 1917, menjadi Negara USSR ( Union Sovyet Sociailist Republics), bubar tahun 1993 Kekaisaran Rusia memiliki wilayah mulai dari perbatasan dengan Polandia dan Checko – Slovakia Rumania hingga pegunungan Ural batas anak benua Europa di timur. Lebih ketimur lagi ke belantara terdingin di Dunia ribuan kilometer taiga sampai perbartasan China, Mongolia dan laut Bering, bagian paling utara benua Asia. Luas Kekaisaran Rusia dalam sejarah membesar dan mengecilnya wilayah Kekaisaran Rusia tergantung pada suku suku bangsa yang mendiami bagian Asia yaitu bagian timur dari wilayah ini. Dalam sejarah kapan suku suku ini kuat mendesak kebarat misalnya Jenghis Khan dari suku Tartar, menyerbu menaklukkan kerajaan kerajaan di barat. Dari steppa padang rumput dimana mereka terbiasa memelihara ternaknya sampai ke Bagdad dan nyaris menjarah Wienna ibu kota Austria. Kapan mereka lemah mereka menetap saja di steppanya. Akan tetapi, bagian barat dimana tanah hitam (chernozom) yang subur terletak, silih berganti ditaklukkan oleh suku suku dari barat, suku yang mendiami Polandia dan Teuton, tanah hitam yang sangat subur ini tanpa mempunyai perbatasan alami, sekarang menjadi bagian dari Republik Ukraina. Secara tradisional didiami oleh kaum Kazakh sebagai petani prajurit kavaleri yang sangat handal dengan kuda kudanya. Mereka semua di Ukraina. maupun yang di Belorusia di Rusia sendiri termasuk bangsa Slavia, dengan nuansa kebudayaannya sendiri. Jaman Tsar Rusia suku Kazakh ini menjadi prajurit kavaleri tulang punggung andalan Kekaisaran Rusia, mereka dimasa damai bercocok tanam di tanah hitam yang subur ini : Za Matusyka Russia, za Batusyka Tsarya. Kepala Kepala sukunya bertitel Attaman, Berjuang demi ibu Russia demi bapak Tsar.
 Tsar Peter I atau Peter the Great , mengadakan modernisasi Rusia dengan memajukan pelayaran samudra ( konon beliau belajar membuat kapal layar di negeri Belanda), memindah ibu kota Rusia ke Saint Petersburg, dekat ke semenanjung Skandinavia, ditepi sungai Narva yang menuju kelaut utara yang masih dipengaruhi oleh lidah yang paling ujung dari Gulfstream. Agama resmi Kekaisaran Rusia adalah Katolik Ortodox, dipilih alami, ini karena tulisan Cyrilic sangat mirip dengan huruf Yunani, dengan Kitab Injil ditulis dengan abjad huruf yang sama, kaum Pendetanya boleh kawin dan membina keluarga. Gereja Orthodox termasuk pemilik tanah dan hutan yang sangat luas, sebagaimana para bangsawan Rusia. Perang Dunia I, Kaisar Jeman Prusia, Wilhelm II, sebagai bangsa dagang, memerangi Perancis dan Inggris untuk tidak disudutkan kekanan dan kekiri, diperhitungkan dalam menguras kemakmuran jajahan mereka nun di Asia dan Afrika. Kekaisaran Rusia kena imbasnya karena tanah hitamnya juga terancam untuk dijadikan modal perang dari Kekaisaran Jerman Prusia, sehingga harus mati matian mempertahankannya demi kelestarian gudang makanan kekaisaran Rusia, dimana wilayah ini harus dipertahankan hanya dengan menyerang aggressor sampai ke sumber kekuatannya, seluruh lembah sungai Rhein dan lembah sungai Donau. Begitulah pada tahun 1917 Kekaisaran Jerman Prusia runtuh, kekaisaran Rusia kehabisan nafas, dan terjadi Revolusi sosial pada bulan Oktober 1917, wangsa Romanov dihabiskan semua dan Pemilikan tanah oleh para Bangsawan dan Gereja dihapuskan, dimiliki oleh Negara dan Petani Kolektip. kekaisaran Rusia jadi Republik Sosialis Rusia bersama sama dengan Pepublik Republik lain termasuk Republik Sosialis Ukraina, Rapublik Sosialis Uzbekistan Republik Sosialis Kazakhstan, Republik Sosialis Gruzia, Republik, bergabung juga Negara Negara kecil kecil yang secara tradisional bukan ternasuk suku Slavia, Negara Negera Baltik dicaplok dari hasil kesepakatan Hitller dan Stalin : Republik Sosialis Latvia, Republik Sosialis Lithuania dan Republik Sosialis Estonia masih banyak lagi dari ex kekaisaran Rusia menjadi Republik Sosialis, mereka bergabung jadi Soyus Sovyet Sosialis Republik (SSSR), bubar tahun 1991. Jadi keberadaan saya sebagai orang asing dari 1959 hingga 1965 di Negara Uni Sovet, Negara belakang Tirai Besi, Negara Sosialis adalah unique, sebab tidak bakal ada lagi orang yang bisa tinggal di Negara Sosialis selama itu pada tahun tahun yang akan datang, karena Negara Negara itu sudah bubar, juga karena gereja orthodox banyak yang ditutup, meskipun mereka sudah direhabilitasi, artinya gereja orthodox sudah beroperasi tapi ekonomi moderen sudah tidak bisa hanya didasarkan dengan kepemilikan tanah yang sangat luas seperti gereja orthodox zaman Tsar Rusia memerlukan reinvestasi yang sangat besar tidak mungkin diadakan dengan segera oleh siapapun, dan jazad seluruh keluraga Romanov termasuk princess Anastasia Romanova yang controversial sudah di exhume dan dimakamkan seperti semestinya. Kayaknya feodalisme kok kini sudah tidak dimaui oleh mayoritas bangsa bangsa di dunia ini apapun alasannya, kecuali untuk dekorasi sebagai musium hidup seperti di Inggris dan beberapa Negara Europa. Kayaknya tidak seorangpun yang mau bekerja mengolah tanah bila tidak dibantu oleh Negara, baik asuransi jaminan gagal panen maupun kredit yang mengandung subsidi uang rayat, baik di Negara paling kapitalis maupun Negara sosialis yang membalik baju menjadi kapitalis seperti di Rusia sekarang. Ini karena hukum pokok upaya pertanian sangat bertentangan dengan hukum pokok industry kapitalis. Meskipun di Indonesia, para kapitalis baru yang dicetak oleh Orde Barunya sang Jendral Suharto, telah menguasai lahan tebu ratusan ribu hectare disebagian besar Lampung untuk industry gula pasti bakal minta minta pemerintahan sipapun untuk berbagai keringanan dan subsidi dari dari uang siapa lagi bila bukan uang rakyat ? Sovyet Union, merupakan structure Pemerintahan yang kuat, buktinya memenangkan Perang Dunia Ke II perang total yang dahsyat melawan Naziisme, bersama sama dengan sekutunya Amerika Serikat, Inggris, patizan dari Polandia, patizan dari Yugoslavia, gerilyawan Chekoslowakia dan kaum Maquis sebutan dari gerilyawan Perancis, Pemerintahan dalam pengungsian dari Perancis dan Belanda. Naziisme dianut oleh blok As terdiri dari Jerman Raya, Italia dan Nippon yang terang terangan berideologi Naziisme yang memeastikan merekalah Tuan didunia ini. Tujuan pokoknya adalah merampas kekayaan alam dari negeri lain dan memperbudak bangsa lain untuk kajayaan bangsanya sendiri, mereka anggap diri mereka adalah das herrenfolk. Bedanya dengan fihak Sekutu, fihak As yang Nazi ini telah mempersiapkan agresi ini bertahun tahun sebelum perang. Jerman mempersiapka ratusan Divisi tank dan kendaraan lapis baja untuk mengatasi luasnya steppa, pesawat tempur Messerschmidt dan Fokke Wolf, dalam jumlah besar, juga berfungsi sebagai pesawat pembom tukik yang dahsyat. Juga memproduksi secara massal kapal selam samudra dan kapal penempur sangat modern tapi bertonase kecil ( pocket battle ships ) untuk memutus supply bahan strategis dari benua Amerika ke Inggris kemudian sebagian ke Murmanks Rusia . Jepang mempersiapkan armada laut menjadikan angkatan lautnya yang paling kuat di dunia, dengan lebih dari 19 kapal induk penuh pasawat tempur Mitsubishi Zero, yang spectakuler bisa digunakan sebagai pesawat torpedo, pembom presisi Bettty beserta pembom tukik dan pembom keseluruhannya merupakan armada terkuat di Dunia, dengan beraninya menghancurkan pangkalan armada Pasific Amerika di Pearl Harbour tanpa pernyataan perang sebelumnya. Untungnya Amerika Serikat sudah diperingatkan oleh spion Rusia bangsa Jerman Dr. Sorge. Sehingga pada hari H empat kapal induk dengan ratusan pesawatnya selamat, lagi keluar pelabuhan Pearl Harbour. Seterusnya Nippon menduduki seluruh kepulauan di Pasific, Phillipine dan Asia Tenggara dalam waktu yang sangat singkat, menuju ke Australia. Italia, melebarkan sayap ke Afrika, menaklukkan Ethiopia dan Sudan untuk memperkuat logistic blog As. Membangun skadron pesawat tempur yang tidak bisa dremehkan walau oleh Inggris sebagai lawan Jerman dalam teknologi. Manjelang Perang Dunia II, kekuatan Nazi Blok As berlipat dari kekuatan Sekutu minus Perancis yang kekuatan angkatan perangnya dihancurkan sendiri dari dalam. Maginot linie yang dibangga banggakan jendral jendral tua ternyata hanya onggokan banguna beton belaka, Kaum Nazi Jerman dengan pasukan panzernya mengitarinya lewat Belgia dan Negeri Belanda hanya setengah hari. Tapi Uni Sovyet meskipun di tahap pertama Operasi Barbarosa oleh pasukan Nazi Hitler ratusan divisi lapis baja, tentara Merah mundur sampai hampir dua ribu kilometer dengan terhuyung huyung, berkat kekacauan yang diciptakan dinas rahasia Nazi. Akibat dari fitnah yang diselundupkan oleh intelligence Nazi kedalam Pemerintahan Stalin yang otoriter, mengisyaratkan bahwa perwira perwira tinggi Tentara merah telah berkhianat, kemudian dibasmi oleh Stalin tanpa ampun, sampai ratusan Jendral yang telah merencanakan pertahanan serbuan dari Barat/Nazi dihukum tembak mati. Akibatnya serbuan oparasi Barbarosa tidak bisa ditangkal dengan efektip, karena blue print pertahanan dan garis mundurnya sudah kacau balau. Hanya karena tekad membaja rakyat biasa Rusia, musim dingin yang dahyat selama perang, musim semi yang sangat berlumpur dimana nana, maka operasi Barbarosa bisa dihentikan pada tahun kedua dan menyerang balik musim dingin tahun ketiga. Saya menjadi orang asing di Negara Sosialis yang pertama didirikan di Dunia dengan segala rintangan dan kekurangannya, sampai pada puncak kejajayaannya. Kami belajar bahasanya, perkembangan ilmu pendidikan genereasi mudanya dan kebudayaan masyarakat sosialis yang pertama di dunia. Kehidupan rakyat biasa di Negara balik Tirai Besi itu yang jarang mendapat ulasan para pengamat dari Negara bebas, kecuali melecehkan, yang merupakan propaganda politik. Ya memang sebenarnya Negara Sosialis pertama di dunia ini sangat tidak memunyai waktu buat kenyamanan rakyatnya kecuali bekerja dan bekerja untuk menangkal perlombaan senjata perang dingin yang sangar mahal,apalagi perang bintang. Maka keadaan yang sebenarnya kala itu perlu saya ceritakan sekarang. Negara Negara sosialis yang bergabung dalan USSR ini berdiri atas kekuatan kemauan Partai Komunis di bekas Kekaisaran Rusia, yang jajahannya membentang mulai dari Uzbekistan, Kazakhstan, Tajikistan, Turkmenia, Gruzia, Armenia, Belorusia, Ukraina dan Rusia sendiri dsb. Yang tingkat ekonominya tidak sangat beragam. Pada umumnya masih dalam taraf Feodalisme, dimana ekonomi sangat tergantung dari hak atas tanah pertanian, atau padang penggembalaan ternak. Sebagaimana diketahui manusia sebagai bagian dari makhluk alam, mempunyai kecenderungan yang seimbang daintara dua sifat yang tak terpisahkan yaitu sifat individualist karena dalam banyak hal dia harus menghadapi hukum alam sendiri sediri, sakit, mati, lapar dahaga. Sedangkan dilain sisi telah terpateri dalam jiwanya manusia memang tidak bisa bertahan hidup sendirian (seperti makhluk solitaire layaknya beberapa binatang pemangsa), artinya alam dihadapi dengan bersama sama dengan sesama speciesnya karena terlahir sangat lemah dalam waktu juvenile yang relatip lama. Jadi manusia ya makhluk individu ya makhluk sosial. Kalok di Kekaisaan Rusia dan sistim feudal seperti ini, ya dengan mudah Partai Komunis Rusia didukung oleh sebagian besar rakyat tani merampas tanah hak kaum feudal dan hak Gereja Orthodox untuk digunakan menjamin makan mereka, karena menjelang habis musim dingin hingga musim semi, kebiasaan kelaparan di setiap desa adalah peristiwa chronis berabad abad, menjadikan ketergantungan permanen dari para mujik/petani budak, kepada pertolongan bangsawan dan Gereja, yang mempunyai kekuatan untuk membangun gudang gudang makanan biji bijian yang memadai. Jajahannya masih dalam taraf feudal, ya feudal di situasi gurun dan steppa ini yang sangat ketat menjaga hak hak prioritas dari kelasnya, membuat kelas dibawahnya sangat tertindas, karena memang keadaan alam harus menyelengarakan self preservation yang ketat. Bila Revolusi Oktober 1917 menghasilkan kecenderungan mengarah ke pengaturan kepentingan masyarakat ya wajar. Idea sosialis laku kala itu. Saya berada di negeri yang diatur dengan kecenderungan mementingkan kepentingan masyarakat secara umum dengan fakta dan prakondisi zaman sebelumnya, dimana kecenderungan individualistic telah terdukung oleh budaya berabad abad, termasuk didukung kuat oleh Agama Katolik Ortodox Kepemilikan tanah: Yang saya temuka ditahun 1969-1965 semu hak tanah dan peruntukannya di hunian kota adalah milik Negara, segala Istana dan halamannya bangunan dan tanah orang kaya jadi milik Negara. Itu kami ngerti sejak semula, tanah adalah alat produksi utama zaman feudal, jadi ya dimanfaatkan unutk kepentingan masyarakat. Ternyata persolalan tanah saja di Negara sosialis bekas Negara feudal jadi milik masyarakat alias Negara, semua tenaga kerja jadi Pegawai, detailnya cukup rumit. Bukan saja sistim administrasinya yang rentan terhadap permainan gratifikasi, tapi pemilikan dimana dan seluas berapa bisa dimiliki perorangan ?. bagaimana registrasi pewarisnya, bisa diwariskan apa tidak, ini terus terang saya tidak sempat meneliti langsung detengah tengah masyarakat sana. Adapun alasannya kami terlalu sibuk belajar pelajaran, belajar yang berhungan dengan cabang ilmu yang berkaitan dengan kami masing masing, sedangkan belajar dari kehidupan masyarakat sana sampai kehabisan waktu, toh ndak ada ujiannya, ya jadi prioritas kesekian, memang kami hidup seolah olah dimenara gading dinegeri orang, gratis. Bung Karno founding Father dari Republik ini yang sangat gandrung pada Trisakti, juga mencanangkan sosialisme Indonesia kala itu, kami percaya, bahwa itu jalan terbaik untuk mengerahkan tenaga seluruh bangsa membangun Negara demi kepentingan seluruh rakyat yang sudah dituangkan oleh UUD 1945 titik. Kepala kami dipenuhi dengan idealisme mendapat kehormatan membangun Negara dengan sepenuh jiwa, keahlian yang kami peroleh dan tenaga kami. Malah terpikir bahwa kami akan membina keluarga dalam suasana “frontier”, garis depan pembangunan diseluruh Nusantara gitu. Bahwa karya kami akan dinikmati oleh bangsa kami, yang sudah berhasil mengusir penjajahan begitu lama. Administrasi keberangkatan kami saja yang mensyaratkan bahwa pemberian dana Negara USSR kepada kami secara perorangan telah diambil oper oleh Negara cq Departemen PTIP ( Perguruaan Tinggi dan Ilmu Pengatahuan) saat pemberangkatan kami, kami menanda tangani ikatan dinas selama dua belas tahun dan hal ini tidak dikoodinasikan kepada Depatemen yang lain misalnya Departemen Luar Negeri, selama di Moskwa hanya satu tahun terkhir saja keberadaan kami di Moskwa diperhitungkan oleh Kedutaan Republik Indonesia, dengan Dutanya Pak Adam Malik, baru tahun ketiga kami belajar disana Duta Besarnya ganti Pak Manai Sofiaan. Beliaulah yang menganjurkan kami untuk mengikuti kuliah semua mata pelajaran termasuk Dialektika Materialisme dan dan Dilektika Sejarah perkembangan manusia. Memang beliau dari Partai Murba yang tidak asing dengan teori ini. Cuma Indonesia punya kepentingan geopolitik sendiri yang harus tetap punya kepribadian sendiri. Bung Karno juga penah berkata bahwa pisau operasi yang paling tajam buat menganalisa semua kejadian di alam ini akan sangat tepat bila kita menggunakan pisau dialektika materailisme dan dialektika sejarah. Metoda analisa ini yang berdasarkan sifat alam yang sudah ditemukan oleh kebudayaan kebudayaan kuno jang teruji kesahihannya seperti mendua yang tak terpisahkan- rwa binedha, sebab dak akibat – karmapala, yang abadi adalah perubahan itu sendiri – panterei , kwantita yang selalu berubah jadi kwalita baru, kebetulan dan keharusan dsb, sebetulnya tidak ada yang baru. Sedang dialektika sejarah mencirikan perubahan masyarakat manusia mulai jaman Phytecanthropus sebagai pengumpul makanan dari buah buahan biji bijian dan binatang kecil - masyarakat Petembayan/Gotong royong, masyarakat Perbudakan, masyarakat feudal, dan masyarakat kapitalistik yang terus berkembang menjadi masyarakat sosialis. Yang terahir ini adalah keyakinan yang sangat merisaukan kaum Kapitalis yang dipelopori oleh Amerika Serikat, karena msyarakat sosialis yang di prediksikan tidak akan ada, begitulah ideology Kapitalis manafikan. Manusia bebas dalam indivdualismenya hanya bertanggung jawab kepada dirinya sendiri. Juga tidak ada yang baru. Hanya urut urutan ini disebabkan oleh bagaimana cara memperoleh rezeki itu yang jadi lain. Bisa satu puak menaklukkan puak lain dan yang kalah dimakan, itu zaman batu, bila yang kalah disuruh kerja menjadi budak itu zaman perbudakan berikutnya. Perkerjaan bertani perlu inisiatip petani dan pemeliharaan tanaman dengan cermat dan tepat waktu, sudah tidak bisa hanya dikerjakan asal asalan Bahkan dengan pengawasan yang ketat, lebih produktip bila petani ini bebas, tapi membayar pajak perlindungan dari permpasan si Kuat, ini zaman feudal. Petani dalam waktu senggang membuat sepatu atas pesanan, ini zaman feudal, tapi akhirnya dia mngkhusukan diri membuat sepatu dan dijual di pasar, dia tidak memerlukan tanah untuk ditanami, jadi bebas kemana dia akan jual dan berapa banyak terserah pasar, dia bisa jadi kaya dan minta kedudukan setingkat dengan para feudal ini jadi bibit demokrasi. Bila tukang- pedagang makin kaya, mereka membuat uang sendiri atau Raja membuat uang yang sering dipalsu susut nilainya, merugikan pedagang. Akhirnya ada perubahan dari Raja jadi Presiden Republik, kayak Revolusi Perancis. Di Rusia petani setengah budak karana harga tanah termasuk petani penggarapnya. ( sastrawan Chekhov telah menggambarkan ini dengan baik) . Secara chronic petani ini kelaparan karena bagian panennya sedikit, kaum feudal dapat hasil dari pengumpulan panen yang diperdagangkan, maka terjadi revolusi social, perampasan tanah untuk petani, djadikan petanian kolektip tanah jadi milik mashyarakat, sesederhana itu. Dimana produktivitasnya rendah kerena tidak didorong oleh kepentingan pribadi, anggauta Kolektip ini cenderung berleha leha, ada yang tidak. Makanya perlu diktator proletariat, ya sama saja otoritariannya. Masyarakat Sosialis ini dianggap keharusan menurut hukum dilektika sejarah yang sangat ditentang oleh Amerika Serikat dan kaum Kapitalis seluruh dunia. Kuliah mengenai dialekitka ini belangsug dua tatap muka digabungkan dengan mata kuliah Politik Ekonomi tanpa kesan, karena teman kami yang dari Gana bilang Petani kopi mereka tidak suka bergabung dalam kooperasi karena dipimpin oleh orang dari kalangan Pemeritahan yang korup, nereka lebih suka bekerja sendiri sendiri, sedang sosialisme a’la Indonesia kami belum tahu wujudnya. Kamipun tidak merasa apa apa, study kami lancar lancar saja. Maklum dibawah Pemerintahan Sukarno, seluruh Depatertemen masih bercokol banyak kader kader partai PSI dan Partai Murba yang diam diam sangat tidak senang pada kedekatan rezim Sukarno ini ke kubu negara Sosialis. Sebenarnya mereka mengincar kesempatan belajar di perguruan tinggi gratis ini, inginnya dipergunakan untuk umpan menghimpun kader kroni mereka sendiri dari pelosok tanah air. Mumpung sosialisme Rusia masih belum melepas pemakmuran konsumtip individual dengan barang barang pakai yang berlimpah seperti di Dunia Barat, masih terpusat pada industry berat dan industry perang. Perdana Menteri Khrusyov kesengsem pada tamanan jagung di Amerika, baru mencoba menanam jagung kayak di Amerika yang produksi daging mentega dan susu melimpah karena tanam jagung. Di Uni Suvyet ( karena ABS-asal bapak sengang- semua Sovkhos – Perusahaan Pertanian Negara - memaksakan diri menanam jagung, akibatnya terang daerah di utara gagal total penen biji bijian dapatnya hanya silage batang jagung, karena musim gugur datang. Jadi mudah untuk mendisktreditkan sistim sosialis ( perencanaan ekonomi terpusat ) dibandingkan dengan sistim kapitalis yan barang pakai disana melimpah. Iya, di Rusia atau seputar Moskwa sendiri, kehidupan ternyata tidak begitu sederhana, teman teman kami pemuda pemudi Rusia berburu mencari pasangan, berebut untuk bekerja di kota kota besar atu mendekati kehidupan kota besar, berusaha keras untuk mendapat apartment (kwartier dalam bahasa mereka) bahkan hal ini juga termasuk jadi berita guyonan dari majalah Krokodile majalah satire dan dan kritik masyarakat, yang tentu saja dibawah pengawasan Partai Komunis. Saya sendiri tidak begitu tertarik pada kehidupan nyata pemuda pemudi sana, mereka mendambakan kesenangan la iya lah. Kami digadang gadang untuk membangun Negara oleh Bung Karno, dia bilang apa ? Untuk membangun keluarga cukup dengan bantal dan tikar selembar demi pembangunan Bangsa ini, rak gampang to, emang kami mengerti kami hidup di sabuk tropis yang indah, yang pasti kami sudah dijamin berpendidikan dari Rusia ini. Jadi bagi saya mendapatkan ilmu sebanyak banyaknyalah yang menjadi tujuan utama seluruh waktu saya berada di Negara dibalik tirai besi ini. Teman saya, lulusan IPB ( Instiute Pertanian Bogor) tahun 1963 Ir Willy Tampubolon telah membuka Universitas Lambung Mangkurat di Banjarmasin dengan istrinya Ibu Ir Munarni ( sekarang mestinya Profesor emiritus) yang terakhir dosen di Universitas Brawijaya, beliau berdua lulusan IPB Bogor. Mereka betul betul mengalami romantikanya mempunyai Negara yang baru dibangun. Terus terang watku itu studi saya belum selesai, saya kagum dan mendambakan romantika saudara saudara saya seperi Pak Ir. Willy Tampubolon almarhum. Apalagi bangsa Rusia pada umumnya disekitar kami adalah nasionalis yang sangat fanatic, malah kesan kami pada umunya mereka seperti katak dibawah tempurung, kami tidak meladeni, maklum mereka sudah sangat kenyang di indoktrinasi bahwa kehidupan mereka setara bahkan lebih dari keadaan masyarakat “lawan” mereka di Negara Negara Kapitalis. Istilah goyonan kita > perwie ve mire”< (nomer satu di dunia). Memang benar waktu kita masih disana Gagarin adalah orang pertama terbang ke kosmos, mengitari bumi tanpa bobot. Tapi bahwa industry ringan di Europa dan Amerika sudah berkembang melewati persaingan yang ketat seperti industry mode di Perancis dan Italia memang tidak bisa dikesampingkan begitu saja oleh megeri yang baru saja sebagian besar dirampok habis habisan oleh Operasi Barbarosanya Hitler dan seteruskan dengan berkonsentrasi di persenjataan akibat perang dingin yang berkepanjangan. Akibatnya sebagian rakyat yang padangannya cetek sudah enggan diajak prihatin lebih jauh lagi, mereka menggerutu dan para penggerutu ini dalam generasi muda lebih banyak saja. Atau prihatinnya memang melebihi dari daya tahan satu generasi yang tidak mengalami perang melawan Jerman Hitler. Mengerutunya misalnya memakai pantyhose dari nylon itu sangat sexy, merka juga kepingin, bahwa sejenis nylon atau dacron itu bisa jadi baju musim dingin yang ringan dan hangat mereka juga kepingin dan lagi lagi sexy sedang di seantero USSR tiak ada. Aku sangat tidak mengerti bagaimana pemuda pemudi Rusia seumurku tidak merasa memiliki bendung sungai besar besar di dunia. Bendung sungai Wolga, sungai Jeneisai yang menghasilkan listrik sangat murah, bagaimana bangsanya mempunyai peleburan baja di raksasa si Donbass dan di Ural, lampu listrik mereka masih dengan lampu pijar rata rata 100 watt 220 volt, dipasang dimana mana, bahwa saya tidak bisa membeli lampu pijar 25 watt karena memang tidak diproduksi, juga lampu TL 25 watt, karena semua 50 watt dan diatasnya, listrik sangat murah jaman itu karena dihasilkan oleh hydro listrik raksasa, dimana memungkinkan di sungai sungai besar. Rumah rumah yang dibangun semacam apartemen yang mempunyai pemanas sentral, dimana air panas disirkulasikan ke baterai baterai pemanas disemua ruangan, dikantor maupun disemua ruangan dan sekolahan baik dikota besar maupun tingkat kota kecamatan, mesti saja tetap dak memenuhi semua kebutuhan akan apartemen keluarga keluarga baru yang jumlahnya meningkat terlalu cepat. Sangat terasa pada musim dingin, dimana cuaca menghadiahi temperature hingga minus 38-40 derajad dbawah nol, kebanyakan satu keluarga dewasa dan anak anak berdesakan diruangan yang harus mempunyai baterai penghangat ruangan. Transportasi umum sangat murah di Moskwa sosialis dan banyak jenis maupun jumlahnya ada trem listrik, ada bis troly, bis diesel, Metro ( kereta bawah tranah). Toh generasi baru masih mendambakan punya mobil atau sepeda motor pribadi, lha wong menaruhnya di musim dingin saja sangat sulit, sebab bila ditaruh diluar mesinnya bisa beku bukan saja radiator tapi juga pelumas dalam mesin dan luar mesin. Artinya petumbuhan alat transport tidak dimulai dengan mobil sejenis T-Ford seperti di Ameka, karena industrinya baru tahun 1930 bisa bekerja dibangun menurut rencana tersentralisasikan seluruh Negeri, kan lebih cepat membangun tram dan trolly bus, truck dan bis dari mobil perorangan ? Saya tidak pernah berinisiatip untuk travelling di Rusia atas initiatip sendiri, lha kemana, kecuali ikut bersama sama rombongan teman se Universitas, konon umum perlu antri jatah tiket berbulan bulan untuk menunggu cuti bepergian dari Organisasinya, entah Serikat Buruh, entah serikat Pekerja, entah Kepala Project, pokoknya harus direncana sedemikian rupa sehingga seat untuk kereta api, pesawat dan bus dan kamar hotel cukup, saya mengerti bila di babaskan, migrasi keselatan pada musim panas yang menjadi dambaan semua orang dengan moda transportani massal akan selalu kurang, jauh dari kebutuhan, kayak dikita sekarang mengenai jatah haji maupun trasportasi mudik pada iedul fitri. Orang mabuk banyak, hampir semua laki laki tua atau setengah baya, pengemis ada sembunyi sembunyi, jelas tukang parkir ndak ada, yang berseliweran banyak truck dan container, kendaraan sedan umum taxi dan polisi dari merek Wolga, mobil sedan jarang lewat. Waktu saya diundang untuk belajar disana, USSR sudah berumur paling sedikit 37 tahun, melewati perang saudara dengan Kaum Huzar, kaum Mensyewik dan Perang Dinia ke II, paling sedikit lima tahun, 1939 – 1944. Sebanyak itu pengalamannya, masih saja detail mengenai kepemilikan alat produksi tanah masih amburadul, tentu saja bukan kepemilikan besar, justru kepemilikan kecil, sekecil 0,5 Ha kebun sayur dipingggir kota, didalamnya juga penggemukan babi yang diberi makan roti sisa jatah makan buruh pabrik, bukan sisa saja tapi batton penuh, tentu saja bergizi dan murah sekali. Bagaimana ndak bikin “pengusaha” ini kaya, bila dia sempat mengusahakan beberapa puluh petak secara clandestine ? Hla bila dijual harganya berapa, yang nengesyahkan penjualan itu siapa ? lantas pemilik semula mati apa diwariskan ? saya tidak menanyakan itu. Meskipun itu bisa kejadian di Indonesia bila sosialisme a’la Indonesia benar benar dilaksanakan oleh Pemerintahan Sukarno, saya kok juga nggak mikir kala itu, karena masyarakatnya sudah complex bukan kayak zaman Rusia Tsar th 1917. Tentu saja ndak bisa, kalau alat produksi sudah dimiliki Negara langsung terus beres, wong Indonesia menurut pendapat orang PKI adalah lautan Borjuasi, semua orang suka korupsi. Waktu itu kami adalah pengikut fanatic Bung Karno, penuh idealism, belajar a’la Rusia, menganut tradisi keilmuan yang sama sama dengan tradisi tradisi bangsa Europa yang lain, katimbang dari Indonesia yang masih sangat singkat sejarahnya, mencangkok sistim pendidikan tinggi a’la Continental yang mulai ditinggalkan bahkan ditempat kelahirannya sendiri. Setidaknya tradisi saling menghoramati antar individu baik antara lecturer dan siswanya maupun antara lecturer dan peraturan University nya. Yang jelas perbandingan siswa dengan kolektive pengajar yang terdiri dari mulai asisten lecturer yang membimbing praktikum, Lecturer, Lecturer kepala Kafedra (Kepala Jurusan), Dekanat beberapa orang Proffesors dan Librarian sangat royal yaitu hampir 4 : 1 hingga 5 : 1 jadi tegasnya 5 mahasiswa dilayani oleh 1 dari colecktive pengajar. Disemester bawah makin berat ke tenaga kolektive pengajar, makin ke semester atas perbandingan pengajar dari bahasa makin sedikit dan dari disiplin ilmu Fakultas makin banyak. Ditingkat pelajaran Bahasa Rusia satu pengajar untuk khusus phonetika ( lafal dan tekanan kata) untuk 5-6 siswa, dan satu pengajar lagi buat gramatica untuk 5-6 siswa, disemester kedua pengayaan vocabulary untuk setiap jurusan Faculties, satu guru10 -12 siswa, masih dalam rangka pelajaran Bahasa Rusia tapi sudah tidak saban hari Mulai pelajaran jam 9 00 semua mahasiwa masuk kelas setelah ketua kelas mengabsen kami, lecturer, atau dalam bahasa Rusia Prepodawacil/prepodawacilnitsya masuk kelas mengucapkan slamat pagi dan kami berdiri, lantas dipersilahkan duduk. Pertama kami dibagi stensil naskah isinya singkatan mengenai topic kuliah yang akan diberikan hari itu, dalam memberikan kuliah siswa boleh tanya didahului dengan isyarat mengangkat tangan kanan, langsung ditanggapi oleh lecturer atau diberi tahu bahwa hal itu akan dibicarakan nanti apa jam kuliah yang akan datang. Kami boleh mencatat bolah tidak, karena di stensilan singkatan kuliah hari itu sudah disebutkan sumbernya dari text book mana. Sepuluh menit sebelum kuliah berakhir, diberi kesempatan untuk mengajukan pertanyaan apa saja, mengenai topics saat itu apa topic dari kuliah yang lalu, atau dari berita yang kami dapat dari koran, biasanya selalu dijawab seperti mestinya. Satu waktu kuliah 45 menit disusul istirahat 15 menit lantas kuliah jam kedua. Kuliah oleh lectures biasanya normative, menurut syllabi yang sudah dibagikan, disemester atas selalu disertai mengingatkan siswa keadaan waktu praktek lapangan tahun lalu, tapi apabila lecturernya professor yang rata rata sudah sepuh, selalu menceritakan pengalaman pribadinya selam meniti karirnya, yang sangat menarik. Profesor Botani kami menceritakan penelitiannya waktu masih muda, mengenai kandungan vitamin C dalam hypant bunga mawar yang ternyata sangat tinggi, membantu jaman perang, melengkapi gizi selama perang karena kekurangan sayur segar, kami berkometar bahwa kami pemakan segala dedaunan, malah kadang untuk pengganjal perut dari rasa lapar, direbus dan diperas dimakan dengan perutan kelapa plus cabe dan garam, yang dari Afrika tertawa terpingkal pingkal kerena itu juga kebiasaan mereka. Profesor kami mengenai zoology, menceritakan bagaimana dia menyelamatkan populasi sejenis ikan yang penting dalam industry dari kepunahan dengan pemijahan buatan, mrengambil steron dari otak babi, dipisahkan untuk diinjeksikan dalam badan ikan, merangsang pembentukan sperma dan telur ikan tersebut dan mempertemukan sperma dan telur dalam bejana mencampurnya dngan menggunakan bulu angsa. Sangat kalah mendalam dari Profesor kami terutama Ir Gembong dan dr. Suwasono menukil dari text book bahasa Jerman dan bahasa Belanda yang tebal tebal, sangat komplit ( dan berpotensi untuk diujikan semua) sayangnya tidak pernah menceritakan pengalaman pribadi dalam meniti karirnya wong beliau beliau waktu itu masih sangat muda dan saya yakin tidak pernah meneliti di lahan pertanian maupun hewan ternak milik petani. Ujian semesteran: Satu hal yang menarik untuk diceritakan bahwa ujian semesteran kami sangat unik, mungkin tidak pernah ada di Negara lain, apalagi di Indonesia hingga sekarang. Kafedra, menyediakan soal ujian yang ditulis dalam “bilyet” bervariasi sampai lima belas lembar, setiap lembar berisi pertanyaan ujian yang kurang lebih berbobot setara, terdiri dari tiga atau empat pertanyaan. Pertayaan ini menyangkut cabang ilmu isi kuliah bagian depan bagian tengah dang bagian akhir, pekerjaan praktikum di laboratorium maupun di lapangan. Mahasiswa masuk dalam ruang ujian ( ya ruang kelas kami), disana sudah duduk menghadapi meja ujian ( kayak Hakim Pengadilan disini), team pengajar tiga empat lima orang terdiri dari Professor atau Kepala Kafedra kami, lecturer, dan Asisten Pembiming kerja laboratrium maupun kerja lapangan, bisa ditambah wakil dari Kedutaan Kedutaan bila mau hadir. Si Teruji, mengamil salah satu bilyet yang diletakkan dimeja, masing masing bilyet dalam keadaan tengkurap, jadi kami mengambil secara acak. Kami tunjukkan kepada penguji nomer bilyet kami, kami mengambil tempat duduk dan mempersiapkan jawaban kami secara tertulis. Waktu mengerjakan tidak ditentukan, boleh ikut mendengarkan kawan kami yang terdahulu sedang menjawab dengan kertas ujian besertai biyetnya. Tentu saja tidak ada yang sempat mendengarkan bagaimana kawan kami sedang bercanda atau lagi “berenang” ( istilah kami mahasisiwa) dengan tertatih tatih dan mnggumam ,menjelaskan jawabannya dari salah satu soal yang tertera pada bilyetnya. Sampai disini mulai menarik, tidak ada hal yang terluput ditanyakan dari seluruh perkuliahan, mulai dari bab dalam garis besar maupun detailnya, tidak ada pertanyaan yang keluar diri curiculum dan silabus dari perkuliahan, tidak ada pertanyaan tambahan bila semua pertanyaan dalam bilyet yang berhasil dijawab dengan baik, kecuali pertanyaan pembantu dari asisten lecturer yang merupakan pertanyaan jembatan keledai untuk mengingat ingat hal dalam pertanyaan bilyet, pertanyaan pengganti yang diberika oleh Profesornya untuk meyakinkan nilai yang diberikan oleh team. Saya mempunyai kawan anak Afrika entah dari Negara mana, dia sering ngotot minta angka tertinggi 5 dari ujian itu, sedangkan dalam “berenang” dia lancar bicara tapi sering ngawur atau dlplomatis, diputuskan oleh team memperoleh angka 4, benar saja dia tidak menerima. Untungnya Profesor itu pernah ke Negerinya, diberi pertanyaan tambahan, ternyata jawabannya diplomatis, sehingga kami yang menunggu giliran menjawab kedepan team terpaksa ikut mendengar dan tertawa terbahak bahak, langsung diperingatkan oleh team. Tapi mahasiswa Afrika ini tetap mendapat angka 4. Dalam belajar yaitu mempersiapkan ujian semester, saya memakai buku buku, tentu saja meminjam dari perpustakaan, karena catatan kuliah saya sering amburadul, hanya mencatat komentar pengalaman pribadi para lecturer atau professor, tap buku ini sangat banyak macamnya, misalnya tentang ilmu dasar Microbiology, ada buku yang digunakan pada sekolah perawat yang mudah dan sederhana bahasa serta topiknya, ada buku yang disediakan untuk hygiene hunian dan teknisi penyaringan air minum, ada General Microbiolody, ada text book of Microbiology buat Fakultas Pertanian dan Microbiology buat Fakultas Peternakan, buku buku itu saya baca semua berbarengan. Bukan saya terlalu pintar tapi buku untuk perawat mrngenai hygiene air minum lebih gampang dimengerti dan singkat. Dari sini saya baru bisa menghormati professor saya karena sebagai professor dalam ilmu Microbiology yang sangat luas dan dalam, dia bisa membatasi diri dalam menetapkan bobot pengetahuan seorang calon Agronomist atau Akhli Peternakan dalam bekerja nanti. Karena dia bicara terus terang bahwa dia memberikan angka lima tidak sembarangan bukan saja dari bobot jawaban bilyet saya tapi dari keluasan jawaban mengenai ilmu itu, setara dengan keluasan ilmu dasar Microbiology. Saya jawab angka empatpun dari dia sudah sangat memadai bagi saya. Saya kemukakan pada dasarnya saya datang ke Rusia mencari ilmu sebanyak banyaknya. Saya bisa mendjawab bertanyaan tambahan dia mengenai bacteri Escherichia coli dari bacaan saya, bukan dari perkuliahan. Saya melihat sedikit sekali kaum professional dan kaum menengah yang menjadi anggauta Partai Komunis, karena saya bertanya pada mereka secara langsung. Kami mahasiswa asing dari Universitas Persahabatan Bangsa Bangsa dari banyak nasionalitas Asia Afrika biasa saling memotong rambut kita sendiri tanpa ongkos, sebab tukang cukur tergabung dalam coiffeur milik Negara dan si tukang mendapat gaji, antrinya panjang. Kami sangat jarang membuat pakaian di Atelier ( Penjahit), sebab menunggu terlalu lama, kami lebih senang membeli jadi, dengan kualitas yang buruk. Atau beli diluar negeri, nitip pada kawan yang baik, membayar dengan stipendium kami uang rubel Rusia. Kebanyakan dari kami mahasiswa Indonesia adalah undangan Pemerintah Uni Sovyet, ada yang atas nama perorangan seperti saya (jarang) ada yang dikirim lewat orgamisasi dan titipan tokoh di Indonesia, misalnya Amy Pryono alm. atau anggauta Lembaga Persahabatan Indonesia Rusia di Jakarta. Diantara penduduk Moskwa sendiri saling tolong tentu saja dengan ongkos membuat sweater menggunting baju dan celana adalah lumrah tapi tidak resmi merupakan usaha. Yang sudah tidak ada tukang swasta di masyarakat sosialis kota Moskwa adalah proffesi Plumber, Instalatur listrik, tukang renovasi rumah, sebab tergabung dalam perumahan Negara, tapi mengetik dan penjilidan skripsi ada. Yang direnovasi apa? paling memasang kertas dinding, wong apartment itu rata rata hanya satu kamar, kamar mandi dan dapur bersama. Ada “Banya” tempat mandi sauna bersama sama a’la Ruisa beertebaran dimana mana dengan membayar murah. Saya punya kenalan seorang seniman Pematung, tinggal di Apartment Ibunya, dia ibu guru sudah janda, tinggal di apartement yang sejenis Mungkin sudah kumpul kebo di apartement lain, karena bila lapor dia sudah kawin lagi apartemennya dicabut. Soal apartment di Moskwa sudah sangat complex antara kebutuhan dan supply sudah tidak memadai, meskipun distribusinya menurut aturan Negara, tapi celah, upaya mendapatkan dan kesempatan bisa di atur, saya sering membaca sindiran di majalah Krokodil. Begitu pula hasil pertanian apalagi sekitar Ibu kota Moskwa, lebih banyak sayur dan daging babi dhasilkan oleh peternak babi lepas/ clandestine perorangan lain dari yang dihasikan oleh Kolkhoz ( Petanian kolecktip). Bagaimana tidak, pertenak babi clandestine membeli roti yang harganya disubsidi banyak hanya untuk memberi makan babi babinya, kwalitas dagingnya lebih baik, dan lebih murah. Begitu pula sayur segar yang dihasilkan di lahan perorangan seperti kol, sawi,terong tomat dan buncis lebih segar dan cocok dimasak dari yang dihasilkan kolkhoz (Pertanian Kolektip). Kami sudah punya kantin Universitas yang ternyata masakannya jauh lebih enak dari Restoran kelas satu diseluruh kota Moskwa. Jadi kami jarang sekali belanja. Terus terang, yang kita ketahui, pemilikan alat produksi dinegaran Sosialis seperti di USSR tidak boleh dimiiliki oleh perorangan atau badan yang menrupakan entitas yang dianggap sebagai peroangan. Saya masih muda jadi tidak terlalu peduli pada hak milik perorangan, penuh dengan idealisme, karena hidup dalam keluarga menengah, jadi sampai berapa jauh hak milik perorangan ini menghunjam dalam sanubari saya di masyarakat saya tidak sangat menyadari, alias saya tidak bangga pada materi. Bahkan hingga dewasa dan hidup di dunia dimana apapun boleh dimiliki oleh perorangan tak terbatas, tetap tidak terfikir menggunakan kesempaan yang ada, untuk menambah hak milik, harta saya, dengan terlalu “ngoyo” (bernafsu). Diam diam, mulai kecil orang tua kami selalu mengingatkan bahwa kami bukanlah keturunan bangsawan, bukan keturunan saudagar atau petani kaya, tapi punya garis ginealogi yang jelas ( sudah bukan jamannya menceritakan hal ini) dari para Wali penyebar agama Islam yang pertama di Pulau Jawa. Istilah dalam bahasa Jawa “Dudu trahing kusumo rembesing madu, nanging tedhaking wong hamara tapa, timbangan bobote pada lan Brahmana Rsi” Kuliah saya secara resmi di Fakultas Pertanian Profil luas, tanpa jurusan. Pofessor kami memberi kesempatan seluas luasnya untuk membaca buku buku terbitan terbaru yang direkomdasi oleh dia. Kami dianjurkan untuk mngunjungi Perpustakaan Kementerian Pertanian, disana dapat dibaca terbitan Hemera Zoa dari Bogor, buku dari Heine, mengnai nuttige planten in Indonesi, buku Kalshoven mengenai hama tanaman bisa dan minta diterjemahkanpun dalam bahasa Rusia difasilitasi. Saya tertarik kepada sapi susu jenis kecil ( hampir sama dengan banteng) yang berasal dari steppa dan biasa digembalakan di steppa daerah selatan yang panas dan kering, dengan rerumputan dari daerah yang panas dan lebih kering dari di Indonesia. Namanya sapi “krasno-stepnoi Skot” selama musim dingin diberi makan silage rumput alfafa dan batang jagung tambah consentrate bungkil. Saya tertarik pada postur badannya yang kecil betina sampai berat hidup 200 -300 kg dan jantan sampai 800-900 Kg. relatip tahan terhadap suaca panas. Lain sekali dengan jenis Holstein Frisian yang biasa dipiara di daerah dingin untuk produksi susu di Indonesia, karena di tempatnya bisa menghsilkan susu 2500-3000 liter per tahun, dan sama dengan rata rata sapi India atau silangannya dengan sapi India, yang mempunyiai kelenjar keringat per cm2 (persegi) lebih banyak dari sapi daerah dingin. Pekerjaan saya sama sekali hilang ditelan perubahan politik Pemerintah Indonesia tahun 1965. Rezim Sukarno yang pro sosialime di coup d’etat oleh rezim Jendral Suharto yang pro Amerika.*) IHDUP DIBAYANGI ANCAMAN JADI TAHANAN TANPA BATAS WAKTU, HINGGA PE3MBUNUHAN, HARUS TIARAP DIBAWAH TYRANI KECURIGAAN MEMBUTA TULI, LEBIH DARI KAUM NAZI JERMAN MAUPUN NIPPON. Begitu sampai di Jakarta kami melapor ke Departemen PTIP sambil menunggu proses penelitian ijazah saya tinggal dirumah paman saya ( ingat paman saya tempat saya ngekost ?) dia sudah jadi Pegawai tinggi Departemen Keuangan Direktorat Pajak. Disela sela waktu menunggu saya menggelandang menjaring ikan bersama nelayan di Eretan, membantu memelihara sapi perah di Warung Buncit, hingga meletus pembunuhan Jendral jendral Pahlawan Revolusi, oleh pasukan Cakrabirawa yang konon dikendalian oleh PKI. Mulailah perburuan terhadap pelaku G 30 S, yaitu para anggauta PKI dan simptisannya, pengikut Bung Karno dan PNI yang dipimpin oleh Mr Ali Sastroamijoyo dan Ir Surahman, Bung Karno ditawan, Letnan Jendral Suharto. Panglima mandala ini praktis menjadi Pengemudi Negara Republik Indonesia, sejak Presiden Sukarno ditahan dirumah salah satu istrinya dan menderita sakit. Saya bekerja di kebon kopi dari tahun 1969 hingga tahun1971, kemudian menjadi Agronomistnya perusahaan Pensuply Pestisida Hoechst kemudian pindah jadi Agronomistnya perusahaan sejenis dari Shell – Kedua perusahaan ini mensupply insectisida untuk Programe Bimas tanaman pangan. Saya diwajibkan member after sales service kapada petani pengikut Bimas (Bimbingan Massal) di Jawa Tengah, Jawa Timur, bali, Sulawesi, NTB, toritis sampai wilayah transmigrasi di Papua Barat. untuk Bimas Kapas di Jawa Tengah Jawa Timur, Lombok, NTT dan Sulawasi Selatan dan Sulawesi tenggara, hingga umur 60 tahun saya berhenti jadi Agronomistnya perusahaan Shell yang sudah dijual haknya menjual productnya di Indonesia kepada stu perusahaan Amerika. Manager dari perusahhan Amerika ini adalah orang India yang sangat mencari cari kekurangan anak buahnya termasuk saya, akhirnya hanya untuk leluasa korupsi duit discout yang seharusnya diberikan kepada Agent dai setia wilayah penjual. Si India ini ketahuan menilep ratusan juta rupiah sekali raup. Dari setiap Multinasional Companies expatriate yang paling buruk kelakuannya rata rata dari India, sangat kotor permainannya untuk segera kaya dan pulang kenegerinya.*)

ESSAY SEJARAH NUSANTARA, MASYARKAT BERKEMBNG MENURUT CARA BARU PENANAMAN PADI DAN PENCETAKAN SAWAH

ESSAY SEJARAH NUSANTARA Daerah kepulauan di sabuk tropika ini memang sejak zaman pra sejarah jadi tempat perlindungan dan tempat hidup baru puak puak dari benua Asia yang terdesak dan juga menjadi asal dari Pythcanthropus erectus sejak semula. Mulai dari zaman pra sejarah hingga sejarah zaman pertengahan telah terjadi perubahan yang drastic dari masyarakat, mengikuti perubahan cara bercocok tanam padi ( Oryza sativa) yang rata rata menjadi makanan pokok penduduknya, terutama di pulau Sumatra, pulau Jawa dan pulua Sulawesi selatan dan Sulawesi Utara. Kebiasaan makan nasi rupanya dibawa dari asal mereka yang datang dari tempat lain dengan berbagai alasan dari zaman ke zaman prasejarah hingga jaman pertengahan, Selain padi penduduk asli sudah menggunakan sagu, taro dan yams, sukun, tanaman asli dan dibawa dari kepulauan Pasific taro dan yams disini namanya talas dan bentul. Tanaman padi memang diduga dapat ditemukan bentuk liarnya di Nusantara, tapi nyatanya ada dua verietas yang ditemukan sejaman dengan waktu artefak prasejarah, ditanam hinga sekarang adalah gabah yang panjang dari jenis Oryza sativa cv. Indica , dan Oriza sativa cv. japonica yang gabahnya agak oval. Ternakpun demikian ada kerbau jenis dari India Bubalus arnee lebih besar dan lebih hitam, ada jenis Bubalus mindoroensis yang local lebih kecil. Sapi dari India ”Zebu” besar dan berponok dan beda dengan sapi local yang dijinakkan jadi sapi Bali , dari jenis liar setempat Bos banteng lebih kecil, mempunyai tonjolah serupa ponok, merata dari tulang belakang mulai gumba sampai beberapa ruas tulang belakang kearah ekor. Binatang piaraan yang menandai pendatang yang membawanya dari zaman pra sejarah ( 2000 – 1500 tahun sebelum Masehi) adalah ayam dan babi, mungkin kucing dan anjing. Ayam local serupa ayam katai, kakinya pendek, kecil, kita punya babi hutan local paling sedikitnya ada empat species alami, babi hutan dari hutan darat jenis yang terbesar ( celeng wijung- Bahasa Jawa), dari rawa rawa berkaki panjang berambut kemerahan, ada species yang mukanya berbenjol benjol ( celeng katak- Jawa) dan celeng goteng ( bahasa Jawa) kecil kecil. Apa yang dibawa pendatang dari China berbadan panjang dengan tulang belakang melengkung seperti sadel, kepalanya berat dan telinganya besar, mirip babi Bali. Jadi persis, piaraan ini dibawa suku suku ke Nusantara yang keturunan dari China dan Campa, dan Asia daratan di tenggara-lah yang membawa ayam dan babi dari sana, dengan tanda tanda yang cocok seperti di Minahasa, Batak, Bali Kalimantan, yang sekarang penduduk aslinya kulitnya berwarna cerah. Bahkan padi yang mereka tanam juga varietas japonica. Sedangkan dimana ada kerbau besar species dari India datang belakangan dengan perahu yang lebih besar dan datang secara massive, seperti yang datang dari Benggala, mereka datang dengan perahu bercadik dengan balatentara dan petani beserta ternak tariknya, Bubalus arnee kerbau lebih besar berwarna lebih hitam dan Bos indica sapi besar berponok, dan ayam jenis Galus bangkiva dari Asia tenggara. Mereka yang datang secara massive ini adalah suku suku yang berkulit sawo matang agak gelap, dan bertanam padi jenis dari India. Kedatangan pendatang dari teluk Benggala ini terjadi pada 500 tahun Masehi, dengan keperluan mendirikan kerajaan sebagai outpost dari kerajaan di Benggala di muara sungai Musi, untuk menguasai jalan pelayaran lewat selat Sunda dan dari laut Jawa ke barat. Mereka menggunakan perahu perahu besar karena telah berhasil melengkapi perahu yang besar besar ini dengan layar yang besar, meskipun perahunya masih harus dipasang cadik untuk keseimbangan layar yang cukup berat diatas. Konon armada perpindahan penduduk dari Benggala ini berjumlah hingga 20 ribu orang, tentu saja lengkap dengan alat alat pertanian petani, ternak tarik bajak dan tentara. Sekaligus membuat suatu peradaban baru di Nusantara, menyerap puak puak setempat, untuk membangun hunian dan sawah ditepian sungai Musi dengan Kerajaan Sriwijaya. Kerajaan ini kemudian berkembang di pulau Jawa dengan wangsa Syailindra di Jawa Tengah di Jawa Barat Kerajaan Panjalu.pertanian padi swah jadi satu sistim masyarakat sawah. Apabila di tepian sungai Musi mereka membuat saluran irigasi mengandalkan pasang surut permukaan air sungai besar yang dipengaruhi pasang surut air laut, maka di Pulau Jawa yang lebih kecil dan Bali, mereka menggunakan lereng lereng gunung berapi dan kaki gunung yang mengalirkan air dari mata air dan menjadi kali kecil di hulu turun ke jurang dibawahnya, maka dengan membendung sungai yang tidak besar ini di ketinggian menjimpangkan air lewat saluran yang dibuat dengan menyertakan orang orang setempat karena pekerjaan cukup besar, dengan aliran air dan hewan tarik, dicetaklah lapik lapik sawah berundag, berpengairan yang sangat subur, bisa panen dua kali setahun dan sangat menarik kaum pribhumi untuk bergabung dengan kelompok pendatang ini dengan cara menanam padi yang baru, menggunakan pengairan dan pembibitan, bibit dipindahkan ke lahan yang bebas gulma untuk beberapa bulan sementara padi masih sangat muda. Jauh lebih nyaman dari menanam padi di huma. Akan tetapi kalangan Ksatrya dan Brahmana cukup hati hati, menjaga keunggulan mereka sebagai “Trahing kusuma rembesing madhu, tedhaking handana warih” Ksatrya dan Brahmana dianggap sebagai keturunan Bunga atau bidadari dari Kahyangan melelehkan madu kebahagiaan dan keturunan bidadari dan dewa pemberi hadiah air pengairan terus mengalir untuk sawahnya. Maka itu mereka dengan senang hati membuat iuran hasil panen meraka kepada kedua kaum diatas, kan mereka menjadi kaum Kaum Waysia dan kaum Sudra, siap membantu bila ada musuh jadi prajurit dan bekerja bergotong royong. Dua wangsa yang diatas itu sangat hati hati khawatir mereka minggat dan membuat sawah sendiri. Mreka sangat memperhatikan perilaku watak Ksatya- Brahmana yang sampai sekarang dikenal dengan watak “priyayi” atau “ noblese oblique”, sesuai dengan derajad yang diberikan oleh masysrakat. Perilaku ini juga mencegah para kasta bawah orang setempat minggat dan membuat negara sendiri mencetak sawah dilereng gunung yang masih tersembunyi. Hanya para Brahmana melarang keras mereka untuk belajar membaca dan menulis huruf Palawa hurufnya kitab suci Wedda. Sebaliknya ajaran Agama samawi yang pertama datang ke Musantara adalah agama Islam, bukan asli dari orang Arab, tapi lewat Parsi, yang kebudayaannya jauh kebih tinggi dari kebudayaan Arab dengan para mubalegh dari Yunan Tiongkok, yang kebudayaannya juga ludah tua sekali ajaran bermasyarakatanya, berbatasan dengan Irak. Mereka menghilir sungai Yang tse, lewat Tiongkok selatan menuju ke Nusantara, ikut berlayar rombongan pedagang. Mereka mbalegh kaum intelek bejumlah hanya sedikit, tapi sangat piawai dalam Ilmu agama Islam dan teknologi orang Parsi dari Mesopotamia yang terkenal dengan “taman tergantung” dan sistim pengairan di rawa rawa di Mesopotamia, antara sungai Euphrat dan sungai Tigris. Mubalegh dari Yunan ini dengan murah mengajari kaum Waysia dan Sudra membaca dan menulis huruf Arab, sehingga orang wangsa Waysia dan Sudra yang hidup dipantai bisa berdagang dengan sangat maju, membuat surat perjanjian, mengirim pesanan barang dan mencatat pembukuan keuangan dengan angka Arab yang sangat praktis untuk neraca lajur hingga tujuh delapan digit di daun lontar. Sesudah jumlah mereka cukup banyak dan modal terkumpul mereka mencetak sawah dirawa rawa dekat hunian di bukit kapur Gresik. Sehingga kuburan islam yang paling tua dari gadis Fatimah binti Maimun bertarikh setara dengan abad ke sebelas Masehi. Pencetakan sawah rawa ini belum pernah dibuat ditanah yang diterlantarkan , tanah rawa ini. Metoda yang digunakan adalah metoda pembuatah saluran penatus dan pengisi air tawar dengan pintu ganda, yang bisa untuk lewat perahu pengangkutan hasil panen padi/beras ke pelabuhan terdekat, mengalahkan supply beras dari sawah lereng gunung kerajaan Majapahit yang jaauh dari pelabuhan kapal pada waktu itu. Sesudah mereka punya pengalaman dan tenaga cukup banyak dengan tenaga mereka sendiri, dimulai membuka rawa rawa yang lebih luas di selatan gunung Muria menjadi Kerajaan Demak Bintoro, tanpa bersaing dengan wangsa yang berkuasa, malah memberikan sumbangan tambahan. Rawa seluas kurang lebih 30 000 Ha ini terjadi karena aliran sungai sungai dari gunung Merbabu lereng timur, dari gunung Telomoyo di Ungaran - lereng timur dan dari pegunungan kapur Kendeng lereng utara seluas kurang lebih panjang 50 km selebar 20 km mulai kota barat Demak sekarang sampai dibarat kota Pati sekarang , catchment area ini terhalang oleh gunung Muria yang ada di pantai Utara. Maka kerajaan Demak yang Islam bisa mengalahkan Kerajaan Majapahit dalam produksi beras dan sekaligus pengangkutannya ke pelabuhan di pantai utara Jawa di Trung, Ngampel Denta dan Jepara. Kebetulan mata dagangan yang sangat dibutuhkan oleh jung jung raksasa dari Tiongkok adalah beras sebab disana kehidupan petaninya korat karit karena sering perang. Ditambah dengan penghasilan dari kayu jati di lereng utara gunung Muria. Terbukti, satu abad kemudian, setelah kerajaan Demak. Diganti kerajaan Mataram dengan ibu kota di Plered pada abad ke 15, di barat kota Bangsri, orang Portugis membuat Benteng ditepi pantai yang sangat sepi, nyaris tidak berpenduduk, dan menghadap kelaut Jawa lepas, hanya untuk menjaga monopoly mereka terhadap kayu jati yang diluncurkan dari lereng utara gunung Muria, dengan mudah diluncurkan kelaut untuk lunas dan lambung kapal kapal mereka, karena bahan kayu jati ini ternyata sangat tahan terhadap cacing laut yang sangat merusak, menjadi barang dagangan yang sangat berharga. Mubalegh Islam dari Yunan dan Parsi ini tidak berdagang melainkan mengajar Ilmu scara murah. Mereka rata rata berwatak ksatrya –brahmana selalu monomer satukan kepentingan umum, pantang bermewah mewah dan menmpuk harta untuk menciptakan “Dien” yang dicita citakan oleh islam, sebagai lawan dari kaum Bhaiarawa tantra yang merusak kerajaan Majapahit dari dalam, mengejar suap dan upeti a’la LHI dan Fath. mengumbar hawa nafsu ma lima untuk kesempurnaan jiwanya menuju derajad kesadaran jiwa tertinggi. Pemuda islam rata rata tidak mengejar harta duniawi melainkan berjihad mengabdikan diri demi kamaslahatan umat. Belajar Ilmu tasawuf dan ilmu alam, ilmu Kimia dan Mathematik, sehingga rata rata mereka bercita cita tinggi, sehingga mampu mendirikan kerajaan Demak Bintoro Dengan kekuatan ekonominya mengalahkan kerajaan Hindu Majapahit. Konon, kekuatan physic para pemuda Islam ini, waktu itu dibantu dengan penguasaan ilmu pernafasan a’la aliran silat dari Tiongkok, dengan bantuan tenaga linuwih mereka mampu menggali saluran saluran dirawa rawa yang dapat mengatur ketinggian air disawah sawah mereka. Tarbukti ada murid mubalegh ini yang rakyat menyebutnya Kalijaga diberi martabat sunan oleh rakyat karena ikut mengembangkan ajaran islam. Kalijaga artinya menjaga kali, mengukur meneliti prilaku air kali untuk menentukan arah dari saluran saluran tentu saja dengan alat optic rudimenter seperti teodolit/nivelier sekarang, sudah ada di Mesopotamia dan dibawa oleh mubalegh Islam untuk merubah rawa rawa luas jadi sawah yang subur, bisa dipanen dua kali setahun, angkutan panen mudah dan cepat dengan perahu perahu khusus berlambung rendah dengan draft yang sangat kecil sehingga bisa melewati saluran saluran yang dangkal, jenis perahu ini sapai sekarang masih ada. Menciptakan pengolahan senjata keris yang semula orang Majapahit membuat dari dari besi cor (pig iron) menjadi dari besi baja cara Damascus ( Damascent steel), yang tidak gampang putus bahkan mengisinya dengan pamor meteor nikel. Sesudah runtuhnya kerajaan Demak Bintoro karena sistim saluran dan persawahan dengan cepat dan luas menjadi dangkal karena lahar dingin dari gunung berapi Merapi dan Merbabu, karena hujan abu yang besar, maka butuh tenaga yang luar biasa dan lama untu memulihkan kekuatan ekonomi yang menonjol. Bersama itu juga kedatangan Mubalegh islam dari Arab dan Mesir yang Pedagang, lebih mementingkan tata cara dan keseragaman cara, dengan patokan hidup cara Arab, dari pada tasawuf dan ilmu pengetahuan yang dianggap sangat tidak perlu, ditandai dengan di singkirkannya ajaran tasawuf dari Hamsah Fansuri di Sumatra dan ajaran yang dipengaruhi falsafah islam dari Parsi Al Haladz, disini berimbas pada pemikiran Syekh Siti Jenar, penghapusan pemikiran ini juga merembet ke kebencian kepada ilmu pengetaahuan sesudah reinessance. Sesudah itu Kerajaaan sesudah Demak Bintoro tidak pernah bisa melawan armada dari Barat, karena daya tembak meriamnya yang jauh lebih dari armada perahu setempat. Pada jaman baru, kerajaan di Nusantara semua ditakluk-kan oleh Penjajahan Belanda dengan menanda tangani “ Traktat panjang” , akhir d ke 18 abad ke 19 sesudah terusan Suez digali, pelayaran kapal uap semakin mudah, Karena alur pljayaran melewati Laut Merah, dan di pelabuhan Jeddah kapal uap dari Belanda kosong, mengisi penmpang dengan menarik ongkos dari orang Arab yang dibujuk untuk memperbaiki kehidupannya ke Hindia Belanda, Meskipun Jasirah Hejaz penduduknya sedikit, dan dari Hadramaut juga sedikit, akhirnya kapal uap mereka masih bisa ngeteng mencari uang daripada kosong, dasar. Malah mereka yang akan mencari kehidupan yang lebih baik ini setelah beberapa saat di tanah Hindia Belanda disamping berdagang juga mencari uang dengan mindring membungakan uang yang dilarang oleh agama Islam, menjadi Sayid dan Sayidah Tuan tanah, memiliki rumah banyak untuk disewakan juga tidak diharamkan, merangkap menyempunakan Islam dengan cara mereka yaitu melaksanakan tata kehidupan Arab, yang sayangnya oleh orang setempat dianut sebagai kepatuhan pada akidah Islami. Jadi apabila Islam harus dominan di tanah ini, maka ajaran yang sudah dirintis para Wali di Pulau Jawa, para pemudanya, mahsiswanya menjadi pelopor membuka tanah gambut diluar Jawa, membuang jauh jauh nafsu korupsi, mengumbar hawa nafsu harta tahta dan wanita menghasilkan kekuatan ekonomi pangan dunia, mengajari anak petani gratis ilmu pengetahuan praktis seperti menciptakan pembangkit listrik micro, menggulung dynamo dan motor listrik, menggunakan energy surya sebagai alternatip, membuat silages dan kompos, dan menyambung dan okulasi tanaman, membuat bio gas, ( lah gimana , para uztadz- nya saja nggak bisa, sudah puluhan generasi hanya kitab kitab agama saja yang dipelajari, sekaligus menghidupkan jiwa Islami dalam wadah keksatyraan Nusantara, sesuai dengan akidah hidup islami yang pokok. Bismillairakhmanirakhim – memulai setiap tindakan dengan nama/atas nama Allah yang Maha pemurah dan Maha pengasih – menjauhi teladan buruk dari Partai gurem a’la Lutfi HI dan Fathonah, Partai gelembung udara a’la AU yang ngotot jadi Partai wakil rakyat macam Sutan Batu Gana , bupati Fuad dari Madura dan Hasan Batalipu dari Sulawsi tengah dan kawan kawannya*)

Rabu, 28 Januari 2015

THE BITTERIST SUGAR, WAS FOUD IN THE HISTORY OF JAVA ISLAND

THE BITTERIST SUGAR, WAS FOUND IN THE HISTORY OF JAVA ISLAND. Most European, consider that sweetnes of sugar, gave their adorable food named delicatessen. These kind of luxury foods became an increasing demand of their mercantiles society and the nobelities. Their economy was booming since the booming of industrializations, included the indispensable alcoholic beverages, rum and genever. Dutch East Indian Company ( VOC ) of course gladly met these demands. The sole logical source of sugar or sucrose of course was the tropical sugar cane ( cross bread between species Saccharums , for instant between Saccharum spontaneum L x Saccharum sinense.Rosb etc. The Dutch VOC noted that after the war of Java (1830) the Company and the Dutch Government were almost bankrupt. The separation of Netherland and Belgium, also occurred in this period of time, when the Dutch lost its most of industrialized area. The Dutch Governor General Van Den Bosch create a “cultuurstelsel” ( 1830 -1870) means to force peasantry to grow demanded produces by European market , especially sugar. This Company was owned by the Crown of Dutch Kingdom and consequently took over all the land in Java island which formerly belong to the subdued Javanese Kingdom. These encroachment was done since one and a half millineun before, mostly by “devide et impera” policies amongst the Javanese nobelities. For examples: These sly traders lured local princes by gifts and bribes of lavish European product of luxuries especially fine woolen fabric materials to make a kingly garbs in exchange of special right in stock piling spices monopoly. These fabrics were adored by nobelities because it was warm in rainy seasons and cozy in humid hot seasons, strong and rigid enough to hang golden and silver  star medal or honours  ornaments. No wonder , believe it or not, the one of Javanese Sultan loved to wear a used admiral’s coat of honour presented to him, which may be the Dutch got it from the boarded by force the Spain galleon. He was called by his subjects the Sultan Amangkurat Amral, meaned Amangkurat the Admiral, although he was loosing sultanate lands to the Dutch VOC, and had no navy at all. Van Der Capellen was appointed as successor of Van Den Bosch and under this Governor General the forced planting of sugar cane dubbed as Cultuurstelsel was in full swing in new area of fast Central Java and East Java low lands, peasants forced to grow sugar cane under the barrel of carbines, I suspect the the troops of Javanese Sultan involved cover enforcement in these fast area, under sultan regents who received the bribes and borrowed carbines, without knowledge of their powerless Sultan. It was happened at the last half of the 18 century. The private sectors of Dutch economy, the traders and capitalists soon bought from the European factories, steam engines to power the huge steel rollers press and steel big tanks as separators and to boil the sugar cane syrup more efficiently. This was time when sugar industries were born and earnestly grew very quick, both in number of refineries and in planting area. These private capitalists used labour of peasantries using their feudal serfdom right which exist long before, during the sultan ruler. Mostly on the building infra structures, such as building dams and spreading irrigation canals – primary- secondary- tertiary canals. Planting and nurturing the field for sixteen months, and harvesting the cane were done by precariously paid peasants, just enough to live subsistently, they lost most of the paddy harvest because they have to spent most of the time to tend the master”s sugar cane, instead of tending their own paddy planting. This era was the time of the bitter sugar in Java Island and actually it was continued until this moment by one or another reason. Actually, this cultuurstelsel which were fundamentally feudalistic monopoly, during its implementations fom time to time had helped the Netherland rapidly devoped to modern rich society, in the colony it was intertwined with a spirit of liberalism in pivate capital’s growth. So, in 1850 -1900 this cultuurstelsel were intertwined private’ capital interest – but both the government monopoly and private capitals enjoyed cozyly the spirit of feudalism in the fareway Netherlands Indie in every aspect of colonial life and economy, Rice became scarce, famine was imminent and spread fastly. Due to the fashions in accordance to liberalism, the Dutch arranged to change the cultuurstelsel with another rule the “etische politiek” which was effective in the year ot 1901, as a gesture to thanks the overworked, overexploited indigenous peasantry. But in the sugar cane fields this fashion was materialized as new arrangement with peasantries involved in sugar cane planting, the Netherland Indie prefer to import rice from Vietnam, Thailan and Cambodia, to feed their peasant workers, they got the wage of 25 cents a day, 7 days a week to buy about 1,5 kg of imported rice which cost much lesser then sugar price in Europe. The sugar cane appointed area ( actually ex paddy growing area during the Sultanate era) was owned by the Government of Netherlands Indie, leased to the sugar campanies cheaply and practically for ever, but it had to be rotated with paddy planting which was tended by “koelis gogol” who were permitted to grow rice once after second year and kept privately the harvest, with a compulsory task to uproot the sugar cane stumps groove of rhizomes after harvesting, to be submitted to the factory for free, to be processed, because it was rich of sucrose also. So at the end of second year a “koeli gogol” was assigned a plot of irrigated land about 3000 meter square to grow rice of his own, every time in defferent irrigated locations and ditched for bordering with neighboring plots. This method of sugar cane planting precisely in accordance with the most labour intensive system of planting and the most high yielding also: the Reynoso system. So in one area of several vilages, there were one thirth just planted sugar cane, one thirth of due to harvest cane’s planting, and just replanted rice field. Ranoso system of planting mean one harvest one planting, another system of planting was ratoon planting that mean several harvest from one planting only depends on the new shoots every one and a half year at end of one sugar cane’s vegetation period cycle. The old and unfit for working in the sugar cane field, old peasant had to return to the factory his position as koeli gogol or to inherit it to his able married son or his place to be given to another younger peasant pair appointed by the factory. The women peasant was needed to plant carefully the cane cutting not to damage the scions. The old and disabled koeli was the burden of peasantries, since the old old time. The price of rice was checked low by the existence of imported rice from Saigon, this local production of rice was cheap and stable enough to feed the upper class of indigenous people in the towns. Towns in Java Island bacame a segragation showcase between the “herenvolks-the Hollanders” against the “inlanders”, the indigenous of Netherlands Indie’s inhabitans. The remaining of these segragation’s showcase in this 20 th. century can be seen lately in South Africa, such as the note in public places and parks: “ Honden en inlanders vorboden toegang” - meaned “The dogs and the indigenous are not allowed to pass in”, absurd and painful. No wonder, after the capitulation of Dutch armed force in less then one single month, the entire Netherlands Indie crumbed down, all the small fries of the Hollanders who trapped in, could not flee out from this colonial heaven, became Nippon captures and interned, no dispised by them indigenous people were willingly to see them. For three years they were interned in concentration camps, miserable and hungry. This bitterness of sugar was continued after the declaration of Indepence of the Republic of Idonesia in 1945, ten years afterward. the remaining refineries which were neglected during the Nippon army for three years, plus occupation of Natherlands Kingdom’s troops five years of the war of independence ( the Dutch called it as politioneele actie – police actions) , because the Nippon occupation army (Nippon Gunseikanbu) only needed much rice to wage the Pacific war. During the Nippon army’ occupation, peasantries helped themselves to grow rice, there are about 1,5 million Ha of these well irrigated lands in Central Java and East Java, encouraged by the occupational ruler ( Nippon Gunseikan), but lately the harvest simply was taken by Nippon or compensated with very low price. Peasants rather quit to grow rice in the next season, because they have no capital anymore, which made the villages higher class trembling by Nippon army retaliation harsh punishment, so these village’s higher class ( the riches, the small ex paymaster and ex foremen of sugar cane plantings, villages’ teacher, wardens of teakwood forresteries and religious heads – mostly of Islamic religion) they took over the cost of rice planting, share cropping with the peasants below them, in the form of harvest share, and to submit the harvest token to the Nippon Hokokai. These new players of rice production, these witty class soon found ways fo bribe the Nippon supervisors, swindling the part of their harvest to the black market in the towns to feed the hungry inhabitant with good price. This was the seed of peasants holocaust years afterward. These class of villages inhabitant who were making profit during the Noppon’s Pasific war , these class continued this profitable practice during the five years Independence war, using the familiar to them Dutch Government owned lands practically it was factories sugar cane planting lands, to grow rice, and fed the whole inhabitant of the towns with good price, and also to feed bands guirilla army for free, they were contributing their merit for fight of independence were’nt they ? Unfortunately, after the fight of police action of Dutch troops ended, and Republic of Indonesia was acknowledged by the Netherlands Government, the sugar cane areas with its first class irrigation system was still practically owned by The Republic of Indonesia as a matter of consequent. Than in President Sukarno era, the Republic insisted to end this colonial practice forever, and create a new agrarian law headed by the name of “UUPA no 5 tahun 1960” (Fundamental Agrarian Law no 5 of the year 1960 ) which uprooted all the rest of feudalism and colonialism in agrarian law of Indonesia. And the unfortunate party was the upper class in the villages, who were living in another District at some distance villages from the plots of sugar cane lands belong to another District. According to one article of this new agrarian law, a person who live in another District, received no redistribution piece of land ex sugar cane area, it was solely to be given to the koeli gogol who live and work in the same district of redistributed sugar cane lands. And there were 1,5 million Ha of these sugar cane lands in Central and East Java, which some parts of it were redistributed to the koeli gogol already by Sukarno regime. Actually that same plot were planted with rice in ten years in row, by somebody form another Disrtrict or from the same District but not registered as koeli gogol according to factories book of records without any lawful right due to the war situations. Many thousand of hectare the sugar cane land in that position. Frictions and resistant were developed horizontally amongst the inhabitants of villages. And they who where loosing the sugar cane’ squatted lands, the illicit selling and buying the right to be a koeli gogol were flocking aound one or another Politcal Parties. This Republic’s founding father, Sukarno, was detestable to US foreign policy, Indonesia was trying build the “non block countries” an organisation whch were palatable enough to the young ex colony counties in the world. These effort was called immoral by John Foster Dulles. Consequently CIA decided to end this forever. Their decisive secret attack was very successful in 1965 by supporting a coup d’ detat of the Army’s leader General Suharto. This General was successfully maintained his rule for 32 years thanks to the supports of villages who got nothing from redistributed sugar cane irrigated field, but on the contrary were loosing the sugar cane’s land to grow rice, making cold steel havocs and butchering the hundred of thousands or millions amongst the receivers of redistributed lands, the majority of peasantries which were just common men of fearful and simple characters , loosing their beloved leader Sukarno, the arden defender of Pak Marhaen. Along with this debacle, Kommunist Party was wiped out by Suharto regime. Tried for treasons in massacred 12 armed forces generals, the whole Sukarno’s followers, the receivers of redistributed land and any social element of progressive believe were accused to be instrument for this treason also, to justify their disapearances, lately due to the international outcry for lawful justice, the remaining of them were exiled in the island of Buru, kept there as prisoners without trial. During this period of horror the rest of Indonesian common people, mothers, were catatonically shocked and numb. The New Orde brushed aside the Fundamental Agrarian Law no 5,1960, of their own reason, only dependent on the local Territorial Commanders which prefer to “peace and order”. The Elites of the Political Parties, which clinged to the lands of sugar cane they acquired by force, were abandoned by Suharto regime, they did not availed the Government subsidies for non food crops, General Suharto prefered to embrace the more profitable downstream industries, derived the raw marterials made by advanced industrial countries, absorbed the abundance of cheap labour. Modern Agro industries without Government cheap credit and R&D was a nonsense. These Political Parties had no strategic position to reckon with., not in disciplinary members nor in capitals and sciences. So were the destiny of land clinged old fashioned Political Parties in the era of the General Suharto’s New Order.. What about the sugar cane fields ? It was back to the same position as in the 18 th century ago, parts of it belong to the Government enterprises in sugar production, part of it belong tho the personages which worked on it since the japanese occupancy, But the landlordship was coming back, despite the Suharto New Orde effort to create village’s better economy with generous subsidy of fertilizers and pesticides, aided its implementation profoundly by the World Bank, IMF and Asian Developnet Bank, free irrigation cost, thanks to the IRRI green revolution’s paddy verieties, these subsidy was prolonged for 25 years. Multi National Banks prefer to encourage intensifications of agriculture programmes to obtain self supporting foods, overseeing that it was only dependent on loans. The result of these colossal Government’s subsidy practically was going to the daily consumptive peasantry’s life, as better housing, motorcycles, small engined generators, water pumps which were owned by individuals, weared quickly. On the contrary, food crops derived from extensification of agriculture, using fast tropical peatlands on the Sumatra and Kalimantan marshlands, millions hectare of this idle lands, will make foods self supporting last for very long time, making economical strength of this nation, preventing careless using lands cheaply for big mining industries, this was overseen by these multinational banks. And low price of local rice, unpalatable to the big lands owners, for the sake of boosting the low cost of labour intentsives industrial interprises. The price of rice was regulated by the Government Logistic Body (BULOG). This effort could happen because peasants got heavy subsidies in food crops input of planting, so far so good. But to ascertain that no area in the islands outside Java were touched by the Government’s extensification programs of agriculture, for good reasons of big investments. Many Riches go to Haj pilgrimage to Mecca, indicated the welfare of peasantry was improved. Not to be accumulated in the form of modern farming hard ware investments, not mentioning cooperative capitals. It was noticeable, to everybody’s delight that Islamic teaching superficially were very much improving on the formal sides. But its strength in jihad was fashionable with multi meanings, it was backfired afterward. But the winner took all. At last the sugar cane planting was considered unfeasible in technically irrigated area as it was years ago, new IRRI xoltivars of rice with sorter vegetation periods and its locally cossbred rice were the most profitable crops plus secondary crops after harvesting, as soybean, mung bean, tobacco or chilli. After rice, as secondary crops mentioned, were better rather than more then 14 month of single sugar cane’ long period of vegetation. Form now on sugar cane is planted in unirrigated area , new refineries are building in Lampung Sumatra, South Sulawesi, using ratooned system of planting. All the same, private Chinese Owned companies practices ex- territorial rule in their assigned area, Government enterprises assigned large plots for sugar cane’s planting, hopelessly were overburdened by mark up spending on investments, each was full of corruption holes during its productions, using as much as possible machanizations, frequented by agrarian conflicts with local neighboring peasantry, because heavy mechanisations of agriculture were not for them. Sugar, to the peasantry in this country is still bitter indeed, the bitterist in the world*)

Senin, 12 Januari 2015

KARYA PITHECANTHROPUS ERECTUS YANG TERHEBAT SESUDAH MENBUAT API KEMUDIAN MELEBUR LOGAM ADALAH MEMINTAL SERTA ALAMI, MENENUNNYA, KEMUDIAN HOMO SAPIENT MENENUN BATU DAN LOGAM LANGKA

KARYA PITHECANTHROPUS ERECTUS YANG TERHEBAT SESUDAH MEMBUAT API KEMUDIAN MELEBUR LOGAM ADALAH MEMINTAL SERAT ALAMI, MENENUNNYA. KEMUDIAN HOMO SAPIENT MENENUN BATU DAN LOGAM LANGKA. Bung Karno founding father bangsa kita, pernah bercerita, bahwa ketika beliau berkunjung muhibah ke Korea dipamerkan kepada beliau technology yang baru didalami oleh bangsa Korea adalah menenun batu dan memintal dan menenun logam, lama sekali kata-kata itu saya ingat. Dari semula kita tahu bahwa bangsa Korea ini piawai dengan kepandaian memintal dan menenun sutra (dari ulat sutera Bambuch mandarina) dan kapas (Gossypium spp) dari bangsa China berbarengan dengan bangsa Jepang dan mulai medalami kepandaian ini ribuan tahun yang lalu hampir bersamaan. Bahkan begitu piawainya konon mereka telah berhasil membuat cangkir teh yang istimewa dari tenunan sutra dan laquer, menganyam baju zirah tali sutera dengan lempengan logam yang enteng namun sangat kuat. To honor the readers of my Blog, who are English speaking, I try to translate this article in English. This is time consuming and difficult, but at least to avoid the translation of machines which sometime loss the context of this article. THE MOST IMPORTANT CREATION OF OUR ANCESTORS , PITHECANTHROPUS ERECTUS AFTER DISCOVERING TO TEND FIRE AND TO SMELT METALS, TO SPIN NATURAL FIBERS AND WEAVING FABRICS OF IT. THAN THEIR DESCENDENT , HOMO SAPIENT WERE CONTINUING THIS ABILITY TO WEAVE ROCK- STEEL ROD AND MAKING DRAMS WEAVING SEMI CONDUCTORS TO CONSTRUCT SUPER COMPUTERS. The founding father of our nation, Bung Karno, once told us, when he visited Korea presumably the South Korea, he was proudly told that this country’s research and development of sciences are learning hard new technologies to weave rock and steel rod ( pre stressed steel concrete block) and weave tiny thread of rare metals. I always remember, and I was amazed of this remark for more that 50 years. Than recently after 50 years, suddenly I am inspired by this long unfogoten remark. Indeed this nation was learning to spin and weave silk at the same time with the Japanese from the Chinese, thousand years ago. They were keen in this trade, they were able to make a tea cup from woven silk and lackuer, they were making the war’s protecting garbs/ harness by woven metal chips with silk threat, strong and light Why our founding father was so impressed, and tell us the youngsters this Korean piece of remark ? Fifty years afterward I am intriged to express my thought about this, and am trying to share with you. The amazement of our founding father was correct, that since eon years ago all Pithecanthropus erectus inhabitant of this earth were rapidly equipped themselves with tools to survive, making tools were stimulating their brain and their fingers hands/legs abilities to coordinate with their brains, transcendentally up in million years, living close together in harmonious societies to encounter unfriendly climate and beasts, to grow crops of cereals, to domesticate cattles and horses for their use and became Homo sapient. This thinking creature physically became apt to the need of a pair of creature from another dimension of the universe named by somebody of Homo sapient lately the Garden of Eden, this pair who were making mistakes, and to be ousted from there, destined for earth. Of course this pair were made from finer materials from there, and earth was too coarse to them. Our ancestors call them (the spirit) of Adam and Eve. So a pair of Homo sapient which was dwelled by these spirits of Adam and Eva became more sophisticated then Homo sapient in general, easily dominated the nature of earth, able to learn regulating their lusts to obtain worldly matters, therefore whichever Homo sapient not able to cross breed with the descendants of this spirited pair from the God’s garden of Eden, Adam and Eva, were extinct by eon of time. I am a disciple of Biology, I can’t deny the Darwinian theory of evolution which is well supported by intense serious study of scientific world, But I am a Moslem with a tint of Javanese culture. I am in peace with myself because my mind can combine this controversial thought. Controversial pair is always exist, it is the law on worldly nature. Human being is body and spirit ( soul) who can deny it ? ( This enlightenment was given by my teacher in Islam, Mr. Qudratullah from Banten W. Java, a member of Indonesian National Assembly/MPR 1967-1973) Polynesians thousand years ago were sailing cris-cross the tropical Pacific ocean with their catamaran powered by sail of woven pandan leaves (Pandanus) , strong enough to resist saline sea water for months, to power their sail, They gave us in Nusantara archipelagos their culture and varieties of yams and fruits. Apparently to strengthen these sails they used abaca fiber and palm fiber as rope. The Vikings sailed the Atlantic ocean, up to the Greenland and many believed up to Canada, due to their ability to spin short fiber of animals hair/wool, but this short woolen fiber was strong enough if it was spun thick to weave a fabric to propel ships of adequate size only, therefore a Viking sailing ship is light, in proportion with the weight of this sail, not to make this small ship imbalance, the sail will be heavier in wet condition. The ancient Egyptians sails to and fro the Nile, carrying slabs of stone weighting several tons, using the strength of their sails spinning from Egyptian cotton, exceptionally long up to 40 mm, strong enough for making a good sail. The Aria tribe Dravidian tribes able to make sail strong enough to propel big sips along Indian ocean the gulf Bengal to Indonesian archipelagoes, big enough to carry peasants and soldiers and their working cattles , horses for months voyages ( imagine how many fodders and foods these sailing ships had to carry ), although these ships used balancing bamboo bars parallel along both sides of the ship’s bows, to make it stable.these sailing ships were similar to one of a fresco craved on stone wall of Borobudur temple, These ships had sails weaved the yarn of long fibered cotton variety from arid region surrounded Rajahstan desert, to make a good sail. The ancient Egyptians, created advanced culture, blessed by their ability to crate sails strong enough and light enough to propel sailing ships to and fro the Nile, big enough to carry several tons of slab stones to build their pyramides, because their variety of cotton fiber was long enough to spindle small yarn, strong enough to make a strong fabrics for sails, they had no ambitions to sail along dangerous water beyond Mediterranean Than the inhabitans of lowland Europa begin to master the making fabric woven of flax fiber, strong and light enough to make a big, strong, and light canvase sails, to propel big- man-of-war /sailing ships with multiple guns. Weighted several hundred ton totally. But long before that happened, the Chinese, had no problem in making the needed specifications of large sails, form silk fiber. Therefore there were no size’s limitations of their jung/sailing ships with typically bamboo poles rigging. The armada of admiral Cheng Ho had proven this fenomenal voyages of strength, along the medieval Asia. The attitude of Chinese kingdom was different and more sophisticated than the voyagers of Lowland of European Nations. We Indonesian knew since the beginning that admiral Cheng Ho himself was chinese moslem, and had build a mosque in Surabaya town during his visit of his armada, in 15 th ce Why the native of this archipelago were unable to make a strong big and light sail using the rami fiber ( Bohmeria rami) or abaca fiber ( Musa textilis) ? Why than our ancestor who build a commercial kingdom named Majapahit kingdom based on the strong navy patrolling incessanty the seas, inland coasts and straits along these archipelago to deter sea pirates privateering and looters which were popular amongst the inhabitants of these island ? The fabric’s productions in these region were poor, our fiber culture, cotton was not yielding a long and good fiber until now. The thickness and water absorbtion of cotton fabrics were small in weight increasing rate, so this Majapahit navy was using cotton, In making lateen sails, probable the yarn was mixed of importing long cotton fiber from India with native short native cotton fiber. In fact Majapahit kingdom could maintain its patrolling navy for several millineum. Operating small “Madura”s type of sailing boat which typically agile easy to maneuver, but armed by small guns which was casted by their smelting in miniature foundries beside their “kris” ( a sort of dagger). Buginese sea rovers of South Sulawes iIsland was more fortunate, they are able to make sails of silk, producing this by tending silk moth themselves, since medieval periods. Their sailing ships were bigger and faster, but it did not carry guns. Buginese had no foundry big enough to be able of casting miniature guns ( Malayan named this gun “rantaka” -google) There are enough proves that the nations around the world, able to spin and weave fabrics to make a good sails were roving the world ahead each other, to build up their fortunes. Recently they are competing to weave steel rod in concrete slab, building sky scrapers, waeving the viaducts, tunnels, constructing arck dams, smelting rare amalgam of rare metal and making thread of it, weaving fabrics of semiconductors and manufacturing drams, sophisticated computers, aren’t they ? And arranged molecule of kevlar yarn (google ) to weave bulletproof jacket against terrorist’ bullet and sharpnel. And we are on the side track, sucking our thumb, we are not in. Meanwhile all the powerfuls in the world are uniting to maintain and weave the communications to enable them to control the energy and foodstuffs prices. To make all the nations submit its actual and potential wealth to the MARKET, to be controlled by them, by the principle of neoliberalism But as a small present to console you my countrymen. May I tell you, If advance nations weave informations to dominate market, mastering the stockpiles or energy and foodstuffs, we are the victim of these activities. May be we can weave friendships with equally poor countries once, to trade our food produces with other foodstuff we need but the yield were either failed or it is diffecult to grow, such as garlic, chilli, some time even rice, and soybean with our abundant produces of batatas, cassava flour ( tapioca flour indispensable ingredient of Chinese cuisines) oil palm, and fish catch from our sea coasts and straits. Don’t worry we can make it by barter trading. At last, we can eliminate our lust for corruptions to enable this nation open new arable land for rice, cassava and soybean growing. So we will weave and make fabric of friendships and co-operations with the Moslem's forgotten credo of bimillahirakhnanirrakhim – by the name of God, the most merciful and most compassionate principle. To cooperate together amongst the ¾ World Nations to harness the sails our voyages to limitless other habitable planets or another dimensions of this universe in this limitless cosmos. *) Mungkin kita bisa menunjukkan pada bangsa bangsa lain bahwa kita bisa jadi Khalifah Allah di Bhumi dengan berazaskan bismillahirakhnanirrakhim karena kita sudah mengorbankan hidup dari terlalu banyak saudara saudara kita berkat kebodohan dan kesempitan pandangan kita, yang akhirnya dunia dapat meneima sebagai azas hidup yang alami dan mudah. Karena alam, iklim dan tanah air baik terhadap kita bisa mendidik kita jadi makhluk yang mampu mempraktekkan azas bismillahirakhanirakhim. Betapa alami azas yang sama sama dilupakan oleh kebanyakan bangsa bangsa ini, kita membangun tenunan yang kuat sepanjang zaman dengan azas yang mudah dan alami yaitu bismilahirakmanirakhim dari serat serat perbuatan kita terhadap sesama hidup, sebagai bekal jalan untuk barlayar kekedalaman kosmos dan dimensi lain dari alam raya ini*)

Senin, 05 Januari 2015

KARYA PITHECANTHROPUS ERECTUS YANG TERHEBAT SETELAH MEMBUAT API MELABUR LOGAM, ADALAH MEMINTAL DAN MENENUN SERAT TUMBUHAN KEMUDIAN MENENUN BATU DAN LUOGAM LANGKA

KARYA PITHECANTHROPUS ERECTUS YANG TERHEBAT SESUDAH MEMBUAT API KEMUDIAN MELEBUR LOGAM ADALAH MEMINTAL DAN SERAT TUMBUHAN, MENENUN BATU DAN LOGAM  dizaman moderen ini.

 Karno founding father bangsa kita, pernah bercerita, bahwa ketika beliau berkunjung muhibah ke Korea dipemerkan kepada beliau technology yang baru didalami oleh bangsa Korea adalah menenun batu dan memintal dan menenun logam, lama sekali kata kata itu saya ingat. Dari semula kita tahu bahwa bangsa ini piawai dengan kepandaian memintal dan menenun sutra (dari ulat sutera Bambuch mandarina) dan kapas ( Gossypium spp) dari bangsa China berbarengan dengan bangsa Jepang dan mulai mendalami kepandaian ini ribuan tahun yang lalu hampir bersamaan. 
bangsa Arab zaman perkembangan ilmu pengetauan segera sesudah islam emkebarat, dan ke timur dari Spsnjok hingga Lembah sungai Indus, para mester Arab sudah menciptakan Alat Tenun bukan Mesin, yang ditiru orang Europa sesudah perang Salib, zaman renaissance.  Bahkan begitu piawainya konon mereka telah berhasil membuat cangkir teh yang istimewa dari tenunan sutra dan laquer, menganyam baju zirah tali sutera dengan lempengan logam yang enteng namun sangat kuat. Ya kenapa Bung Karno kita terkesan dan menceriterakan itu kapada kita ? Lima puluh tahun sesudah itu mendadak dalam pikiran saya sangat tergoda, bahwa benar, bangsa bangsa di dunia ini dari zamam ke zaman , semenjak mereka masih merunuti evolusi sebagai Phytecanthropus erectus jutaan tahun yang lalu, mempergunakan tangan, jemari tangan dan kaki untuk membuat alat, dengan itu mereka berjuang bersama sama menaklukkan alam liar, antaranya harimau bertaring pedang, bersamaan dengan itu otaknya berkembang timbal balik dengan kepiawaian jari jemarinya menjadi Homo sapient dan layak untuk Adam dan Hawa, memberikan wadag kepada beliau berdua untuk hidup di dunia yang keras ini. Sehingga barang siapa dari Homo sapient ini yang tidak bercampur darah dengan bani Adam, selanjutnya akan punah karena kurang bisa menguasai alam, menguasai nafsunya begitulah pemikiran saya yang menjadikan bathin saya tenteram, disamping tidak mampu membantah theory Darwin yang berdasarkan penelitian yang mendalam, sedang aku hanya salah satu pemerhati ilmu Biology, aku juga pengikut ajaran Islam, jadi aku mengamini dua duanya, sebagai asal usul manusia dengan wadag Homo sapient dan rokh Adam (Ajaran Kiai Kodratullah dari Banten- anggauta MPR tahun 1966-1971) Bangsa Polynesia menganyam daun pandan dijadikan layar perahu katamaran mereka hingga sekarang menaklukkan semudra Pasifik tropis konon ribuan tahun yang lalu, mewarisi kita dengan buah buahan dan umbi umbian yang tersebar sampai keseluruh Nusantara. Alat temali perahunya dipintal dari serat pisang abaca, serat daun lontar yang tahan air laut, dan layarnya dari anyaman daun pandan, yang tidak terlau kuat . Pendek kata katamaran ini bisa tahan berbulan bulan berlayar dilaut. Bangsa Viking melayari samudra Atlantik konon sampai ke Greenland dan Canada dengan perahu Viking yang relatip kecil, saya kira kerena kebisaan mereka menenun sebangsa kain dari pintalan benang wool yang seratnya tidak terlalu panjang sehingga benangnya harus agak tebal karena dipintal dari beberapa puluh serat wool dan layar yang besar akan menganggu keseimbangan perahu yang kecil itu, meskipun kain wool tidak menyerap air, tapi bisa sangat berat bila sebentar saja ketempelan air, kena hujan. Akhirnya bangsa Mesir ribuan tahun yang lalu dan juga bangsa Aria dan Dravida dari India berhasil membuat kain yang kuat dengan bobot ringan basah maupun kering dari kapas Mesir dan kapas tepian gurun Rajahstan yang seratnya panjang hingga 40 mm. Meskipun bangsa Dravida mencampurnya dengan serat kenaf (bahahasa Parsi - google) Hibiscus canabinus ini baru terjadi pada zaman pertengahan. Sehingga perahu mereka tidak besar, karena tidak ada layar yang cocok untuk luasan itu tanpa menganggu keseimbangan perahu. Toh perahu jenis yang dilukis di Borobudur sudah cukup besar untuk pindah ke Nusantara dengan muatan ternak kerja dan petani dari Benggali, walau masih harus bercadik. Sedang bangsa Mesir sudah puas dengan perahu yang tidak begitu besar hilir mudik sepanjang sungai Nil, tanpa keperluan untuk membuat layar yang besar akan tetapi ringan, angin kuat dari gurun telah memanjakannya dengan kain layar dipintal dari serat kapas Mesir yang mencapai 4 cm panjangnya, cukup kuat untuk perahu yang mengangkut balok balok batu piramida setiap balok dengan berat beberapa ton. Nah baru pada zaman pertengahan keahlian memintal dan menenun bangsa yang mendiami dataran rendah anak benua Europa, mempu memintal dan menenun serat flax atau linen ( Linus usitassium- google) cukup kuat dan ringan bila basah suhingga bisa jadi layar pendorong kapal kayu yang berat berat tanpa terlalu membebani keseimbangan perahu perahu besar itu. (Jadi kuat untuk membawa meriam perunggu/besi yang berton- ton beratnya) Kanapa bangsa kita tidak menggunakan serat dari lain tumbuhan pada zaman itu seperti serat rami ( (Bohmeria rami) atau Abaca (Musa textilis)? Yang terang kita tidak punya varietas kapas yang cocok untuk benang yang tipis dan kuat sampai saat ini –( blog ide subagyo – kapas kita) ya alahualam, nyatanya kIta punya armada Majapahit ya sudah menggunakan perahu tipe Madura yang walau kecil tapi sangat lincah (manuvreable). Perahu Bugis yang lebih besar sampai beberapa puluh ton berkat dikuasainya technology membuat kain sutra di Sulawesi Selatan, pada zaman pertengahan. Lain halnya bangsa China, mereka sudah ribuan tahun menguasai technology pembuatan kain sutra yang tipis dan kuat, tidak terlau menyerap uap air, sehingga dapat jadi layar pendorong perahu jung yang berat dan besar, melayari samudra dengan armada besar seperti Laksamana Cheng Ho pada zaman petengahan. Udah cukup bukti bahwa kepandaian memintal dan menenun dari bahan baku yang ada di lingkungannya telah menghantarkan bangsa bangsa di Dunia ini untuk maju mendahului bangsa lain. Sesudah zaman baru bangsa bangsa berlomba menenun baja dan semen menjadi beton pratekan ( pre stressed), bangunan pencakar kangit, kemudian terancam dihancurkan oleh perang nuclear. Kita tidak ikut, gigit jari pipinggiran. Sesudah itu bangsa bangsa berlomba untuk memintal dan menenun logam langka menjadi diode/ semi conductor dan menenunnya jadi computer super canggih, memintal serat kevlar (google) dan menenun rompi jadi anti peluru teroris .Kita tidak ukut. Bersama itu bangsa maju seluruh Dunia berlomba lomba memintal dan menganyam informasi, menciptakan jaringan komunikasi sampai menguasai seluruh dunia dengan neoliberalisme, kita jadi korban naik turunnya konjucture, menguasai jaringan stock pangan dan energy sedunia, karena harus dibeli dengan US dollar. Sebagai hiburan mungkin sesudah kurun waktu kebingungan massal ini, kita bisa menenun persahabatan dengan tetangga kita yang pernah miskin untuk barter bahan pangan dan bahan industry, ndak perlu mengadakan US dollar. Kita bisa bekerja sama dengan bangsa bangsa di dunia ini berusaha memintal dan menenun hidup harmonis dan wajar satu sama lain, mngkin kita bisa berkontribusi, karena kita telah berhasil menaklukkan nafsu kita untuk korupsi, suhingga duit ada untuk membangun sekedarnya, tanpa didasari oleh individualisme hewani perorangan, dan indiviudalisme hewani bangsa Mungkin kita bisa menunjukkan pada bangsa bangsa lain bahwa kita bisa jadi Khalifah Allah di Bhumi dengan berazaskan bismillahirakhnanirrakhim karena kita sudah mengorbankan hidup dari terlalu banyak saudara saudara kita berkat kebodohan dan kesempitan pandangan kita, yang akhirnya dunia dapat menerima sebagai azas hidup yang alami dan mudah. Karena alam, iklim dan tanah air baik terhadap kita bisa mendidik kita jadi makhluk yang mampu mempraktekkan azas bismillahirakhanirakhim. Betapa alami azas yang sama sama dilupakan oleh kebanyakan bangsa bangsa ini, kita membangun tenunan yang kuat sepanjang zaman dengan azas yang mudah dan alami yaitu bismilahirakmanirakhim dari serat serat perbuatan kita terhadap sesama hidup, sebagai bekal jalan untuk barlayar kekedalaman kosmos*)

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More