Sayang Sama Cucu

Sayang Sama Cucu
Saya sama Cucu-cucu: Ian dan Kaila

INDONESIA PUSAKA TANAH AIR KITA

Indonesia Tanah Air Beta, Pusaka Abadi nan Jaya, Indonesia tempatku mengabdikan ilmuku, tempat berlindung di hari Tua, Sampai akhir menutup mata

This is default featured post 2 title

My Family, keluargaku bersama mengarungi samudra kehidupan

This is default featured post 3 title

Bersama cucu di Bogor, santai dulu refreshing mind

This is default featured post 4 title

Olah raga Yoga baik untuk mind body and soul

This is default featured post 5 title

Tanah Air Kita Bangsa Indonesia yang hidup di khatulistiwa ini adalah karunia Tuhan Yang Maha Esa yang harus senantiasa kita lestarikan

This is default featured post 3 title

Cucu-cucuku, menantu-menantu dan anakku yang ragil

This is default featured post 3 title

Jenis tanaman apa saja bisa membuat mata, hati dan pikiran kita sejuk

Selasa, 13 Februari 2018

SURAT KEPADA ANAKKU SEORANG DOSEN ILMU FISIP, UNUTK ORIENTASI POSISI INDONESIA YANG BEDR PANCA SILA

DAUR ULANG POSTING TH 2013
Sejak diketemukan Benua Baru ini oleh Columbus, ratusan tahun kemudian berbondong-bondong para
imigran dari Europa berlayar menyeberangi Samudra Atlantik dengan perahu layar. Tujuan mereka
sebagian besar adalah bertani di tanah perawan yang  konon sangat  sangat luas.
Tentu saja sebagian kecil adalah para Pemodal dengan tujuan menguasai tanah seluas-luasnya seperti di    Negeri asalnya. Tentu saja usaha pertanian perorangan ini terbatas luasnya pada kekuatan otot dan alat yang digunakan untuk mengolah tanah, terutama untuk menghasilkan komoditas bernilai tinggi seperti tembakau di Virginia.Yang terkenal jadi lambang WASP adalah penumpanfg kapal layar mayflower.
Saya akan sepakat bila kaum ini adalan asal muasal dari semangat Kaum Menengah di sana.
Tentu saja usaha tani, seperti terjadi sepanjang zaman dimana-mana, sangat tergantung dari cuaca setiap musim. Dari cuaca yang bervariasi setiap tahun, para Petani kaum menengah ini nasibnya tergantung. Sebagian kecil dari mayarakat tani dengan semangat kaum menengah ini dapat bertahan dengan bekerja sama satu sama lain membentuk masyarakat tani gotong royong yang peninggalan relic bertahan sampai sekarang seperti masyarakat Amish, masyarakat Mormon dan lainnya, dengan jumlah yang relatip kecil sekali nyaris tidak berarti.
Ketergantungan pada alam dari usaha tani dapat disimak dari dongeng/legenga yang  populer pada jamannya tentang Pengacara Daniel Webster, yang membela petani  kaum menengah, saking putus asanya telah menggadaikan nyawanya kepada si Devil, pembelaannya berhasil, karena para jurinya adalah rokh kaum menengah Amerika juga, yang pada waktu hidupnya pernah gagal, malah telah tergelincir jadi musuh masyarakat.  Peralihan kepada industry adalah keniscayaan, karena semua sarana ada, seperti yang digambarkan pada tulisan Tom Paine “ The Land of Plenty”.  
Sedangkan sebagian besar beralih profesi menuruti gelombang raksasa industrialisasi ini. Karena sebagai pekerja di Pabrik dan pekerjaan yang berhubungan dengan industri tidak tergantung dari perubahan cuaca dan hama penyakit tanaman yang menggagalkan panen meraka setiap saat ada kesempatan, tanah yang makin kurus, lingkungan petanian yang makin rusak.
Tentu saja industrialisasi yang melangkah sangat cepat ini tanpa gangguan apa-apa, karena jauh dari pusaran dinamika masyarakat di Europa. Industrialisasi terdukung baik dari sisi sumber bahan baku, sumber energy maupun dari sisi tenaga kerja, karena dalam tahap awal khusus di Amerika Serikat kaum Kapitalisnya masih berwatak egalitarian, meskipun segera saja diganti dengan watak greedy/hangkara, dan makin “impersonal” yang ternyata hingga sekarang.
Sedangkan watak kaum menengah yang oportunis dan phragmatis (artinya tidak berprinsip) yang mewakili sebagian besar warga  Amerika, telah membentuk watak kaum menengah yang diwakili oleh kaum pekerja kerah putih/white collar workers dan kerah biru/ blue collar workers, membuat kaum Kapitalis yang greedy leluasa membentuk kartel dan mengarahkan APBN- Amerika Serikat setiap tahun untuk membangunkan infra structures demi mereka berkiprah.
Kaum Kapitalis berkerumun di wilayah bahan baku dan energy tersedia murah buat mereka, jalan dan jembatan dengan sendirinya telah terentang kesana semua dari APBN nya yang diarahkan oleh lobby terkuat kaum ini di Senat, Konggres dan badan badan Otoritas untuk mnegerahkan Anggaran Belanja Negara.
Sampai akhirnya sesak secara fisik dan perlu istirahat, seperti ular yang perlu waktu untuk ganti kulit, yang artinya pertumbuhan ekonomi dihentikan, para buruh dirumahkan karena overproduksi.
Sampai para pe lobby di Kongress maupun Senat mendapatkan sebagian besar APBN-Amerika Serikat untuk membangun infra structure baru bagi mereka, yang asumsinya adalah menciptakan lapangan kerja baru. Jadi negara adhdidaya ini sebenarnya hanya jadi alat bon bonan modal untuk membangun infra srucuture baru, yang kaum kapitalis besarnya yang sangat sedikit. ( bon bonannya ndak dibayar lagi, atau dibayar dari setiap pembayar pajak,
Pada upaya pembangunan infra structure oleh dorongan penuh dari APBN semula adalah “infra structure tahap pertama”, yaitu pengembangan sumber daya energy, sumber daya bahan baku, dan seluruh keperluan hunian untuk tenaga kerja (tentu saja khusus yang ini mendapatkan porsi paling kecil, karena tidak ada hubungannya dengan proses produksi yang menciptakan keuntungan). Ini rupanya yang dulu memicu perang saudara, pajak federal dari export diciptakan oleh kondisi saat itu, bagian Selatan dengan produksi kapas mendominasi Dunia  menggunakan tenaga budak, akibatnya harga kapas Amerika tidak tersaingi, tapi infra structure dibangun di Utara untuk keperluan industrialisasi terutama sistim jalan kereta api, yang marak pada era itu. Disana muatan selalu penuh dan lintasannya relatip lebih pendek dari daerah pertanian di Selatan.
Sekarang ini mulailah saya memperhatikan tentang APBN – AS ini.
Pertama telah menjadi pegertian umum, bahwa recesi selalu tertolong oleh pembangunan infra structure industri perang.
Emangnya iya, sekarang Amerika Serikat lagi menyulut perang dimana mana dengan mengaktifkan persenjataan super modern, berdasarkan IT dengan rangkaian electronics yang mahal dan soft wares super canggih, harga infra strukutre yang super canggih ini, harus dibayar oleh APBN – AS berkat para lobbyist Cogressmen, yang mendominasi Sisitim Pemerintahan Amerika Serikat.
Bukan saja industry ini harus dibangun dengan ongkos yang tidak bisa di hemat, tapi kini industry perang dan semua sector industry harus dibangun  pula dengan infra strukutre tahap kedua yaitu otomatisasi dengan dasar IT alias menuju ke penggunaan robot, jadi ongkos pertamanya sangat tinggi, justru akan menyaingi pemakaian tenaga manusia.
Masih ada lagi, demi monopoly ladang ladang minyak dunia, perang Penaklukan diembuskan di Timur Tengah.  Dengan asumsi tentu saja agar orang Amerika Serikat bisa bertahan hidup, kayak kebutuhan akan “Das Lebensraum”nya Hitler. Padahal technology robot yang berfikir masih dalam kontroversi akan “dimiliki” siapa public atau previlegi  si Kapitalis? 
Boro-boro, wong kaum menengahnya malah ditipu kok, dibebani pajak yang mestinya jadi beban Kapitalis super kaya, agar krasan dan mau membuka lapangan kerja, sambil golongan menengah ini dianak-tirikan dari penggunaan APBN-AS, sampai difisit, artinya merendahkan upah dan tabungan hari tua buruh, tahun demi tahun jadi makin merosot,  yang ini sekarang mulai mereka rasakan.
    Makanya semenjak Presiden Nixon, Reagan, dan Obama, pajak orang kaya selalu mendapat potongan agar mereka krasan/tetep tinggal da AS dan perangsang kredit, bahkan untuk ‘bail out’   bank bank wall street yang bangkrut dan subsidi diberikan dengan royal oleh Pemerintahan Presiden Presiden tarsebut agar mereka membangkitkan industry Amerika Serikat dan menyerap tenaga kerja, begitulah yang dipercaya.
     Keserakahan Wall Street dalam menguras APBN -AS ini sangat membuat figure kaum menengah seperti Micheal Moore resah, membuat Profesor Ekonomi seperti Dr. Ravi Batra mengumumkan betapa Presiden Presiden Amerika Serikat Mulai dari Richard Nixon, Ronald Reagan dan Obama sekalipun memanjakan si Kapitalis yang super kaya tambah kaya, malah menciptakan lapangan kerjanya hanya sedikit, dibandingkan dengan 3 billion dollar yang mereka terima ( Simak tulisan Dr. Ravi Batra, simak kegiatan Michael Moore dengan OWS (The Occupy of Wall Street), di  Google dengan kata kunci Dr. Ravi Batra mengenai The Occupy of Wall Street, yang merupakan tanda tanda bangkitnya kepentingan kaum menengah yang seharusnya hidup berkecukupan ini.
  Dengan meniru persis prilaku para Presiden Amerika Serikat sejak Richard Nixon sampai Obama, kita punya Penggede berharap dapat dukungan dari Amerika Serikat, umpama mem “bail out” bank Century jang 6,5 trilliun rupiah yang malah dimainkan oleh penipu, bungkam terhadap adanya outsorching  tenaga kerja, memberi kredit dan hak ex territorial kepada Perkebunan HGU raksasa a’la Industri Gula di Lampung, menghadiahi Hartati Murdaya Poo dengan 75 ribu hektare lahan di Sulawasi untuk dikuasainya sebagai HGU termasuk menambang apa saja yang ada disana, membiarkan Lapindo keluarga Bakri mengobral janji thok mengganti rugi mereka yang tergilas lumpur. Apa kita bisa menyalahkan itu Penggede dan Party yang dipimpinnya ?(*)


Simak Tulisan asli Dr. Ravi Batra yang menjadi inspirasi bagi  saya :

The Occupy Wall Street Movement and the Coming Demise of Crony Capitalism
Tuesday, 11 October 2011 04:57By Ravi Batra, Truthout | News Analysis

In 1978, to the laughter of many and the derision of a few, I wrote a book called, "The Downfall of Capitalism and Communism," which predicted that Soviet communism would vanish around the end of the century, whereas crony or monopoly capitalism would create the worst-ever concentration of wealth in its history, so much so that a social revolution would start its demise around 2010. My forecasts derived from the law of social cycles, which was pioneered by my late teacher and mentor, P. R. Sarkar. Lo and behold, Soviet communism disappeared right before your eyes during the 1990s, and now, just a year after 2010, middle-class America, spearheaded by a movement increasingly known as "Occupy Wall Street (OWS)," is beginning to revolt against Wall Street greed and crony capitalism. Will the revolt succeed? It surely will, because the pre-conditions for its success are all there.
The first question is this: Why does rising wealth disparity create poverty? My answer is that it causes overproduction and hence unemployment and destitution. It is all a matter of supply and demand. Inequality goes up when official economic policy does not allow wages to catch up with the ever-growing labor productivity, so that profits soar and rising productivity increasingly raises the incomes and bonuses of business executives. I have detailed this process in an earlier article. Then money sits idly in the vaults of bankers and big-business CEOs and restrains consumer demand, leading to overproduction and hence layoffs. The toxic combination of mounting layoffs and absent job creation raises poverty, which, according to official figures, is now the highest in 50 years.
The next question is: how has the government either restrained wages relative to productivity or made the rich richer and the poor poorer? It is easy to see that almost all official economic measures adopted since 1981 and contained in the following list have devastated the middle class. The list includes:
1. The Reagan income tax cut of 1981 that benefited the rich, but made it necessary to sharply raise all other federal taxes, paid mostly by the poor and the middle class, to finance that tax cut.
2. Unenforced antitrust laws, leading to mergers among large and profitable firms, but killing high-paying jobs in numerous industries.
3. Permitting the oil industry mergers in the 1990s that are now preventing oil prices from falling in the middle of the worst slump since the 1930s.
4. Permitting relentless mergers among pharmaceuticals and health insurance companies, so that America, far more than any other nation, now spends almost 15 percent of its gross domestic product (GDP) on health care that is mediocre by European and Japanese standards.
5. Unchecked use of outsourcing that kills high-paying jobs in manufacturing and services.
6. Ignoring the growth of the trade deficit that has destroyed our manufacturing base.
7. The 1999 repeal of the Glass-Steagall Act under President Clinton that led to reckless lending by banks and an unprecedented housing bubble, which collapsed in 2007 to trigger the ongoing slump.
8. The Bush tax cuts and bailouts that further benefited the rich while nearly doubling the government debt.
9. And finally, the decimation of the real minimum wage by President Reagan and other Republicans. (In 1981 the hourly minimum wage bought $8 worth of goods compared to $6 by the end of Reagan' presidency in 1988,  and to mere $5.15 in 2006 under Bush.)
Looking at this nine-point list, is there any government program that a big business CEO would hate? Stated another way, is there any measure that has helped the middle class? I can't think of any. Thus, over the past three decades whatever the government did, ostensibly to help the people, actually ended up hurting them. Mergers, outsourcing and free trade raise productivity, but also lower wages, whereas the other provisions of the above list directly enrich the wealthy. The nine-point list is really a list of exploitation.
Let us now look at President Obama's record since January 2009 when he took office. The president's first act was to engineer another bailout, à la George W. Bush. The idea was that the $800 billion package of assisting banks and faltering industries would save or create some four million jobs. Did the measure succeed in its avowed purpose?
According to the latest estimate from the Congressional Budget office, the bailout created nearly 1.5 million jobs. Even if we accept the administration's claim of four million, the bailout was extremely wasteful and enormously enriched the rich. Dividing 800 billion by four million yields 200,000. In other words, the government spent $200,000 to create one job. When the average wage is less than $50,000 per year, where did the other $150,000 go? This suggests that companies that hired those four million people received $150,000 for each job they created. Thus, three-fourths of the bailout, or $600 billion, went to businesses, and a mere one-fourth benefited the unemployed. This is the best case for the Obama measure. It is clear that the bailouts, Bush's and Obama's, were extremely wasteful and hugely enriched the opulent.
The fact is that government deficits are not working and have always benefited the wealthy. Not surprisingly, the fastest and the sharpest rise in income and wealth inequality has occurred since 1981, when the culture of mega-deficits first began. Lasting prosperity occurs only when wages rise in proportion to productivity, as was the case through much of American history, especially from 1940 to 1980. Whenever wages trail productivity, debt and profits soar, only to be followed by overproduction and soaring poverty and misery for the middle class. Such was the case in the 1920s and the 1930s and such again has been the case since 1981.
If President Obama really wants to create millions of jobs, then all the economic measures adopted since Reagan's presidency must be abandoned. Of course, the Republicans would oppose him tooth and nail in this resolve; they would scream about the president hurting job creators, who in fact are job destroyers. Big business has decimated American jobs through mega-mergers, outsourcing, oil speculation and by shifting factories to Mexico and China. The nation can only prosper if the destructive ability of job destroyers is restrained through increased taxes or the creation of free markets.
When the government bails out mega banks and Wall Street firms, it amounts to shooting the economy in the foot. Our president seeks to bring about change, which was his campaign slogan. But once elected, he got sidetracked by thinking that change is possible through compromise. This has never happened before. Never in history have the exploited prospered by cooperating with the exploiter.
Compromise is what produced the government's nine-point list of measures described above. The Republicans were able to impose these measures whenever some Democrats compromised with them. When Reagan raised the gasoline tax and excise taxes in 1982, it was through the cooperation of the Democrats, who cooperated again in 1983 when Social Security and self-employment taxes went up sharply to pay for the massive income tax cut of 1981. The repeal of the Glass-Stiegel Act, the Bush tax cuts and bailout were all the handiwork of Republican lawmakers and right-wing Democrats.
America does not need another dose of increased government spending, but a rational economic policy that generates free-market capitalism to take the place of the current monopoly capitalism. In 1776, the nation declared independence; coincidentally, the same year Adam Smith, the father of modern economics, demonstrated how small businesses generate lasting prosperity for all, not just a privileged few. That is what we need again. It is well known that small firms have created the bulk of American jobs in recent years. This is then the best argument for breaking up business conglomerates not only to create jobs, but also to lower the oil price and the cost of health care.
The government should also adopt strong, not toothless, measures to eliminate the trade deficit, which is now running at $500 billion per year. This alone will create five million manufacturing jobs. Eliminating the trade deficit will raise US GDP by the same amount, and to produce that much output, new workers will be needed. Suppose it costs a business $100,000 to hire a worker, including salary, benefits and profit. Dividing 500 billion by 100,000 yields five million. In other words, eliminating the trade shortfall will generate five million new jobs, paying the average wage and benefits.
The trade deficit can be eliminated by setting up a low export-exchange rate, the way China and other Asian nations have done. But first, the government must see the value of balancing our trade and then proper economic policy can be devised to reach the goal.
Outsourcing is now the biggest job destroyer. The government should impose a hefty tax on this practice. This way, if a company has to outsource some work, it will compensate the nation for creating joblessness in the economy. Finally, we need to eliminate the federal budget deficit. This can be done by repealing the Bush tax cuts for the wealthy and by enacting a small tax on financial transactions, while preserving crucial programs for the retirees. There is no reason to cut Social Security and Medicare, because President Reagan raised taxes sharply to guarantee the benefits to retiring baby boomers. In short, President Obama should do away with the nine-point list of exploitation mentioned above. He will then be able to bring about the change that he promised during the election campaign in 2008.
Einstein once defined insanity as doing the same thing over and over again and expecting different results. By now, we should know that excessive government spending is one such insanity. It creates very few jobs and primarily benefits the rich. In fact, I have shown mathematically to some audiences that, under reasonable assumptions, increased government debt goes completely into the pockets of the opulent. As the latest piece of evidence, from September 2010 to September 2011, the deficit rose $600 billion, but only 400,000 jobs were added.
I call upon the OWS movement to demand that the above nine-point list of exploitation be repealed, so that a free-market capitalism of small firms is reborn. This will strengthen the president's hand and enable him to face Republican lies and tactics that are only meant to further weaken the economy and force the president out of power. We need to make sure that Mr. Obama is re-elected, provided he accepts the repeal agenda, because the Republicans always do the same thing over and over, namely make the rich richer and the poor poorer. Additionally, we should also work to defeat Republican incumbents and rightist Democrats who will compromise to maintain the status quo and possibly cut Medicare.
Our efforts are bound to succeed. I am an economist and historian and made many forecasts in the past about the economy and social change. While 5 percent of my economic forecasts have been wrong, to my knowledge I have never made an error about forecasting a revolution. My latest estimate is that monopoly capitalism will go the way of Soviet communism by 2016.
O' brave protesters of the OWS movement, your effort will not only shape the 2012 elections, they will also end, once and for all, the brutality of the rich and powerful, who are responsible for the sorry state you are in. The change that you are about to bring will be glorified as what Abraham Lincoln did for black Americans. I hope that, with your support, Mr. Obama will be the harbinger of that change.
unquote



Kamis, 08 Februari 2018

PARA PEMERHATI  KEMANDIRIAN BANGSA, WASPADALAH

Teknologi moderen telah menghasilkan komoditas komersial masal yang memabokkan, bukan memabokkan  dalam arti mabok khamar/minuman keras atau madat/narkotik, yang sudah jelas pelanggaran hukumnya, baik Hukum Negara maupun Hukum Agama. Tapi mabok produksi masal teknologi maju  Tekhonomicoholic, mabok produk technology barang produksi masal, yang menggerakkan ekonomi Negara maju. Misalnya HP, sudah mencapai generasi ke IV,  jenis android, merupakan perbaikan dari HP generasi ke III yang dijuluki smartphone.( google Wikipedia kata kunci Hand Phone)
Tapi yang ini memabokkan gaya hidup, mabok yang ini bukan   pelanggaran, hukumnya tidak ada,  baik dari sisi ajaran agama maupun dari sisi Hukum formal. Ujung ujungnya mengacaukan prioritas belanja anggauta masyarakat yang lagi mabok, yang income-nya sebatas tetap ditera secara konvensional  UMR – padahal pengeluarannya meroket, apalagi di metropolitan Jakarta. Masih banyak produk tekhnologi canggih, yang dijadikan kebutuhan yang memabokkan, sejenis itu. Misalnya pengusir bau mulut, bau badan, pemutih kulit dsb, mobil dan sepeda motor yang harganya ndak murah karena segenap asessory canggih dipasang disana, pembuatnya robot, konsumen yang membeayai. Memadati jalan jalan, barang barang ini bingkil local tidak bisa menangani tanpa alat alat, suku cadang harus  asli – dram, sensor dan IC, harganya selangit bahannya dari dram ( dynamic random access memory) dan plastic murah dan mudah, hanya presisinya cuma robot yang bisa menangani di pabriknya sana,  semua ini sudah menjadi kelengkapan hidup modern,  harus ada pada si pemabok. Transporasi masal cepat masih dibangun. Suami istri harus kerja sehari, lha anaknya  dikemanain? Main game, membuka situs situs yang meragukan pengaruhnya terhadap jiwa anak.
Jadi jalan keluarnya yang paling logis ya korupksi dengan pelanggaran hukum yang sudah jelas, sementara relatip aman dianggap kelalaian yang tidak disadari, ya memang lagi mabok, dengan hukuman ringan.  Tidak bicara perkara pelanggaran moral, dan akibatnya pada kehidupan di masyarakat, karena si koruptor masih bisa jadi Petinggi Partai, businessnya tambah canggih. Malah dia yang masih sanggup menjerit dia difitnah, dia di-kriminal-isasi,………… apa nggak tragis ?
Makanya, mari bangsa ini mengerahkan semua potensi warganya, pemerintahannya,  untuk mendidik generasi muda melatih dengan sungguh sungguh, merangkai sendiri alat apa saja terutama electronic, untuk dipakai di pasar dalam negeri. Misalnya dynamo kecil dan pompa air wiper mobil dan aquarium, kipas angin bilah bamboo, speaker dan semua barang yang terdiri dari kumparan kawat dengan isolator dan magnet jenis baru, mungkin dynamo untuk pembangkit listrik ukuran kecil sungai deras di pedesaan, mebel karton, karena DRAM, SRAM, EDORAM dll,  dan IC dijual dalam jumlah besar sendiri sendiri. Rangkai sendiri detector kerapatan populasi ikan dilaut, wong dari monitornya, sampai IC dan DRAM dan keluarganya, oscilator gelombang sonar gelombang electromagnetis , laser lemah dijual lepasan, malah untuk mainan anak anak, pointer, semua import. contohlah Taiwan. Masak detector dini tsumani saja beli dan malah hilang. http://notebase.blogspot.co.id/2014/#. Juga membuat alat alat pertanian seperi pisau occulasi yang bermutu tinggi,  autoclaves ukuran industry comersial, blender, ukuran ukuran idustri banyak alat alat pengolah panen yang bisa dibuat di dalam negeri atas bimbingan Departemen Perindustrian. Sampai sekarang Departemen ini berurusan dengan pemilik toko supaya tahu jualan yang ambilnya murah jual mahal, sedikit sekali dengan pelatihan yang terarah. kepada pramuka, murid SMU, mahasiswa. Semua mereka sehari delajar disekolah, nambahi income lembur guru gurunya, mutu dan daya gunanya embuh. Sama sama bayar mahal, belajar di kursus lebih baik. Apalagi diawasi dan disubsidi(kalok bisa) sebenarnya les bahasa Inggris diluar lebih intensip dan ada hasil nyata dari full day school sekolahan. Membayar les akan lebih beguna daripada mainan smartpone.
Kalau ada smartphone ya browsing ilmu yang berguna, blog yang baik, bukan untuk nge-game berjam jam. Gunakan sebaik baiknya, mumpung pulsanya masih terjangkau. Hanya beberapa tahn lagi, yang bisa menggunakan teknologi IT hanya orang yang berduit, yang nggak berduit jadi zombie, ganti jadi robot, selalu diperalat sebab tidak bisa mikir lagi.

Akibat dari situasi yang baru ini, korupsi dengan cepat merambah golongan menengah dan golongan bawah, mereka jadi zombie, secara otomatis menuntut tambahan ongkos jasa ( atas paksaan kekuasaannya menghambat business) dari siapa saja kapan saja dan dimana saja. Jadi petugas partai maupun jadi petugas jasa yang sangat vital, mereka ini digaris  depan, seperti sopir truck container barang export/import, sipir penjara, hamba hukum, petugas segala loket peraturan pemerintah dan semua yang langsung berhadapan dengan public.  Digaris belakangnya adalah mereka yang langsung melayani masyarakat yang dalam kedaan lemah fisik dan mental misalnya orang sakit dan pemilik tanah yang belum di sertifikatkan, pasangan yang mau nikah, orang mau ziarah dan menunaikan umroh – tidak saya sebut tukang perasnya, koruptornya sebab pembaca sudah hafal, bila disebut disini, bisa viral (kok GR), didakwa fitnah. Digaris ketiga, duduk di posisi yang lebih tinggi dan beaya yang lebih besar, naik keatas semakin jauh hubungan langsungnya dengan public – pembuat keputusan dan pembuat peraturan, yang semakin besar ongkosnya dan semakin banyak akal untuk melancarkan sumber korupsinya, langsung  dari anggaran Negara atau  dari business yang menyangkut anggaran Negara, 5,6 triliun, yang separo di embat rame rame, pemasukan Negara dibajak pegawai pajak, A'la Gayus atau harga bahan pokok  objek ihtikar kartel gelap, a'la PT Ibu. a'la Lutfi Hasan Ishaq.  Arab Saudi, contoh khas korupsi pada sistim feodal masyarakat zaman lampau, yang ditaulad sampai kini. Padahal ajaran agamanya Islam Wahabiah yang sangat ketat, kok malah pangeran pengeran itu tidak dipotong kukunya ya ?
Apa pelayan masyarakat kita,  dari sisi Agama atau Pendidikan generasi muda, Pendidikan masyarakat, Pembina Partai, Pemerhati Hukum,  sudah siap  dengan situasi ini ?   Kok malah pamer conformisme, bukan membuka kursus ketrampilan perangkat IT gratis pada kader mudanya ? malah diloloh Nazi isme. Apa bakal efektip cara repressive dan dengan pengawasan berlapis dan ketat atau  persuasive untuk menangkal kebocoran, kebohongan, mal praktek dalam pekerjaan (bukan dokter lho) yang ini  di kehendaki oleh sementara mayoritas anggauta DPR RI, mengekor mentornya yang di Saudi Arabia, menahan di hotel bintang lima kouptornya  iya ?

Tanpa dikendalikan sumber penyebabnya, saya kira, para koruptor besar dan kecil (tapi jumlahnya menyemut) akan patah tumbuh hilang berganti. Wong mereka mabok. consumerisme.

Manusia mengexpresikan dirinya dengan berkomunikasi, ini juga jadi kebutuhan pokok.
Kenyataan wujud sebagai satu  species, ini  kebutuhan pokok hidup dalam arti aktivitas asimilasi dan disimilasi juga berkembang biak tentu saja dengan berkomunikasi dulu – meskipun pada tumbuhan juga berkomunikasi degan sesama tumbuhan, ini bisa lewat akar, ranting dan daun, sedang komunikasi khusus antar satu species, dengan tepung sari yang disebar trilyunan secara acak, hanya berusaha berkomunikasi dengan bunga lain dari species yang sama atau dekat tata susunan diagram bunganya, satu famila, OK.
Contoh:
Saya mempunyai HP, waktu harga pulsa masih murah, saya obral berkomunikasi dengan teman dan kerabat yang tinggal jauh yang secara fisik sulit terjangkau. Lalu kebiasaan berkomunikasi dengan HP menggunakan SMS jadi  kebutuhan pokok yang bisa dipenuhi dengan murah. Sekarang harga SMS naik drastis, pulsa cepet habis, senar pancing sudah ditarik, bisa bisa tidak terjangkau untuk SMS yang kurang perlu. Seperti mengirim telegram zaman dulu, kebanyakan berita kematian saja.
Jadi seperti yang dicontohkan Mahatma Gandhi, dengan janteranya  menenun dari benang pintalannya sendiri, karena India sangat tergantung dari textile buatan Inggris dengan alat tenun mesin yang bisa memenun untuk seluruh India, kapasya dari Amerika tanamnya dan penennya dengan tenaga budak, jadi komoditas kapas dari Amerika sangat bersaing murahnya. Akhirnya harga dagangnya menjadi seperti harga pulsa HP mengandalkan pengeluaran rakyat rakyat kecil  pemabok, karena itu tenun India mati, tidak bisa bersaing  “range” mutu dari harga sesuai dengan “range” kualitasnya.
Sekarang saya mengerti dan bungkam, tidak berkomunikasi dengan SMS lagi. Kabutuhan pokok berkomunikasi, saya salurkan meniru tumbuhan, berkomunikasi secara tumbuhan,  menyebar tepung sari, senyampang saya, si pohon tua yang masih bisa berbunga, meskipun ranting dan cabang saya sudah tidak selebat dulu, meskipun bunga saya tidak indah lagi, yang penting beguna bagi manusia sesama hidup.
Maka hidup saya kembali wutuh berasimilasi, berdisimilasi dan berkomunikasi – dengan menyebar tepung sari tulisan ini ( masih ada 560 posting sejak tahun 2011). Sangat irit sesuai dengan kemampuan pengeluaran saya, meniru Gandhi. Hanya bedanya, bila SMS selalu dengan saudara dan teman karib jauh secara fisik, gembira bisa tahu keadaannya. Maka sekarang dengan tepung sari ini, saya tidak bakal tahu bunga mana dari species saya, penerima tepung sari saya dimana dan bagaimana, pokoknya content dan originalitas dipertahankan sehingga berguna bagi pembacanya, sering mengambil informasi dari sumber dengan teknologi yang sama, tepung sari gratis dari kemajuan teknologi alat ini. Saya harus sudah ikhlas. 
Saya yakin kebutuhan hidup berkomunikasi cara ini lebih bisa menyebar luas tanpa batas kuno, puak dan filial, sahabat dan kenalan, yang menjadi murah dalam jangka technology IT berkembang dengan harga promo sampai beberapa tahun mendatang. Malah bisa menembus semua batas existensi manusia lebih cepat, sementara beayanya masih terjangkau di umur saya yang sudah tidak produktip ini sudah 80 tahun ini. 
Teman seunur saya malah bangga jadi gaptek, masih mengisi waktu dengan arisan arisan.                     
Pasti kebutuhan ini dimasa yang akan datang harus ditebus dengan produktivitas kerja, demi menghasilkan komoditas yang seimbang nilainya, supaya imbang harganya dengan pendapatan bangsa kita, yang berkembang di wilayah tropis basah ini. Ayo  expor beras, mencetak sawah dari tanah rawa. Ndak aga back hoe ya pake sekop, pakai sarap.
Lha begitu juga kebutuhan hidup yang dijejalkan oleh teknologi modern, diciptakan untuk merubah menjadi gaya hidup beaya tinggi, dengan membuat mabok masyarakat pada techonomiholic. Saya juluki dengan mabok techonomiholic yang kapitalistik. Sedang manusia akhirnya harus bersaing dengan robot menurut azas egoisme neo liberalisme. Yang tidak kuat mental ya jadi koruptor, trus, siapa yang kuat ?
Buah yang paling pahit bagi masyarakat, bila segala kebutuhan pokok hidup kualitasnya ditawar murah – juga menyangkut keselamatan umum. Makanan berformalin, makanan dengan pewarna textile, bumbu masak berlebihan, pengawet dan pemanis buatan,  Polusi udara, polusi lingkungan, kualitas air penghidupan, kualitas ruang hidup umum –dari sampah dapur– sampai sampah rumah sakit, sampah nuklir seperti Fukusima, dari crane ambruk untuk manipulasi ongkos, (ternyata pemborongnya kroni dari pangeran Arab sampai puluah biliun dollar) demi nombokin harga tanah lahan kota disekitar Ka’bah, sesudah dimark up, seperti lahan sekitar pulau pulau buatan di Jakarta, bangunan umum- dari ruang kelas SD dipelosok, atau hunian kota di pojok - sampai beton bertulang, girder dan trowongan dimana mana ambrol – saking  korupsi juga, kalok bukan pelaksanaan, ya konstruksinya ditawar, ya bahannya –misalnya air untuk pencuci pasir beton pratekan, logikanya air pencuci ini harus bebas dari  endapan, tidak terlalu asam terlalu basa atau air kali keruh ? Kayu jinjing untuk kuda kuda, kan harganya lebih murah ? pengawas ya ndak tahu, beda harga beton ijser, kan baja tertentu,  untuk tulang beton perlu olahan bijih besi dengan panas peleburan khusus , lain dari beton ijser  yang besi biasa sebab bila sudah di cor ya ndak ada yang tahu, sampai ambrol, disemua toko bangunan ya beton ijser ini, melur kayak gulali. Semua toko bangunan ini bisa jadi agen dengan jaminan pabrikan, bangsat petualang kayak Artalita , Hartanonhati Murkaya, bisa dapat keagenan, lantas bikin sendiri beton ijser dipablik asal asalan, dicampur sama bikinan Princpal yang sudah punya nama stadard mutu Indones (SNI), lantas dioplos, siapa mau ngecheck ? Pekerjaan pengurukan bila dipadatkan menurut aturan kan “rugi” jadi ya dipadatkan sedikit saja, tumpukan tanah urukan ditegakkan beberapa derajad masih berpori menyerap air, ambles, menekan  kesamping, beton pratekan-pasirnya kotor, meskipun semen tidak dikurangi (pakai truck cement mixer langsung dari pabrik semen) tapi kualitas kebersihan pasir, proses pengadukan, beton ijser kualitas rendah karena cari murah, apa tidak membuat ambrol ? Ini kan beton iser "oplosan" ?Wong pemasoknya sebagsa Artowati, Hartanpahati Murkaya, Anggodo, Lady Karsakuwatwati Harliemvanto, Ditambah orang kecil digaris depan ini ya korupsi, bukan yang diatas saja. Karena gaya hidupnya yang sudah dicetak oleh azas kapitalisme, pokoknya untung untuk membeayai gaya hidup pemabokan techonomicoholisme.
Apa penjaga perilaku kehidupan rokhani,  guardian kecerdasan otak dan keteguhan bathin bersih, seperti guru, ulama, pendeta, bhiksu, idepadanda, pastur, pendiri partai, seniman,  RT/RW, Lurah sudah siap menangkal desakan yang menggebu gebu dari tukang bangunan, pabrikan kapitalis yang mencari untung sebanyak banyaknya dengan mencetak pola hidup yang memabokkan yang ujung ujungnya harus dibeli – atau dengan ikut mabok sekalian, RT/RW pekas koruptor, kan masih bisa dapat imbalan atas timbunan material bangunan di pinggir jalan diwilayahya? Kan  gampang bikin KTP aspal ? Bikin untuk urusan bank mencuci uang haram OK ? Dia bisa lebih kuasa dari walikota, lebih kaya dari dokter bedah. pokoknya mabok saja. Tahukah anda bahwa semua SNI itu pernah secara periodik di check di lapangan ?. Ataupun samples products nya  diambil acak di tempat tapi disodorkan oleh pabrikan ? Ya plus kantong uang tentunya. Di semua super market besar kecil  sudah ndak nampak timbangan untuk check berat dagangan yang sudah dalam kemasan !!! 

Inilah makna larangan mabok dari ajaran agama islam, bersinggungan dengan cairan ber alkohol saja haram. Mabok yang ini biangnya korupsi. Karena sejatinya larangan mabok apa saja bakal diberlakukan kepada manusia seluruh dunia, percayalah, seperti larangan sex bebas, menularkan HIV, menetaskan AID yang sangat mematikan. *) 

Minggu, 04 Februari 2018

NYATA NYATA ADA BUKTI ZAMAN TELAH MENUNUTUT

NYATA ADA BUKTI  ZAMAN TELAH MENUNTUT.

Apakah kita tidak sadar, bahwa zaman telah menuntut dengan bukti bukti sebagai tanda yang sangat nyata ?
Berabad abad kaum muslim menikmati singgasana hidup di alam feodal,  yang mestinya sudah ditinggalkan   pada setiap kesempatan pada peluang yang disediakan oleh sejarah.
Bayangkan,  ada berita kecil di  Metro TV tg 2/2/2018 , berita sore: ada puluhan pangeran di kerajaan Saudi Arabia yang ditahan disuatu hotel bintang lima, karena korupsi, mereka telah dibebaskan  karena telan mengembalikan hasil jarahannya sebesar lebih dari 100 miliar US dollar  oleh lebih dari 201   tokoh penting pengeran , businessmen sekelelas Osama bin Laden dari Saudi Arabia, kepada Negara. Berita kecil dari Negara lain, kita mau apa ? . Sumber aslinya di
          https://www. the guuardian.com/world/2017/nov/09/saudi-arabia 201-people-held-in-100bn-corruption-inquiry
Ini kan  sudah biasa dalam sistim feodal yang telah berabad abad  diseluruh bangsa bangsa dunia.  Inti sarinya perebutan menguasai harta tahta dan wanita. Ndak bisa ditutup tutupi kagi karena dibeberkan oleh kantor berita asing. pemborosan harta Negara ini menjadi sebab revolusi Perancis meledak akibat  pemborosan feodalistis  juga  oleh raja  raja Perancis sebelumnya,  rakyat Pernacis menghukum  mati dibawah guilotin Louis ke XVI  pada abad ke 17 ?
Iya, tapi sadarkah kita bahwa sebenarnya kejadian itu sudah sangat terlambat  mendapat  tanggapan sebagai  suatu tanda zaman terpenting, korupsi - pada era feodalisme ini namanya bukan korupsi tapi raja dan bangsawan memperlakukan harta seluruh negara dengan alasan segala sikap yang egois - makanya hukum potong tangan ndak berlaku sebab tidak nyuri, hanya memperlakukan kekayaan Negara semaunya sendiri, untuk kepentingannya sendiri, tidak mencuri kan dan bukan uslub?         Yang jangka panjang untuk negaranya bagus, makanya ajaran islam mengharuskan setiap mulai satu pekerjaan harus dimulai dengan bismillahirakhmanirakhim, bukan bombastis tapi ya elingen, rakyatmu jik butuh rena rena. Yang jangka pendek dan pemborosan harus dibersihkan, Oliver Cromwel dari Inggris abad ke 15, bagus, dan yang untuk kesenangan, pemborosan oleh Louia ke XVI, dan raja Perancis sebelumnya sangat buruk,yang harus diboroskan untuk Rusia oleh Tsar Peter  Yang Agung bagus, baik dan bisa dimengerti. Makanya sistim feodalisme sangat bertahan ratusan abad.
Rasulullah sangat condong pada Abu Dzar, malah dilupakan oleh kaum Wahabiah, mungkin ini sebabnya, didalam praktek ajaran islam, pangeran pangeran itu tidak dipotong tangan ? – Ulama kita yang berguru kepada ulama   Saudi Arabia – buta mengenai ini dan malah mengabaikan perilaku  jadi  ulat hama masyarakat – melakukan KKN berjama'ah jangka pendek,pinjam uang Negara, dengan alat feodalisme – ini para pangeran lho, bukan mencuri, jadi kukunya ndak dipotong.  Yang mestinya sudah dilakukan sejak Saudi Arabia jadi produsen utama minyak mentah, dan puncaknya selama masa damai sesudah  perang dunia ke II, th 1945 sampai sekarang  ? Lha di kita, korupsi di Pertamina, gimana  ? Sedang sampai kini, di kita, di DPR RI sisa sisa  orde baru dan banyak partai islam melakukan hak angketnya,  mau mengebiri KPK hingga sekarang,  malah pentolannya yang sakunya dua, yang kanan untuk syi'ar agama tipis yang kiri tebal, kalok diusut, "pinjaman" dari Negara ini lantas  berdemo didepan DPR  dengan gagahnya, menuntut tingkahnya menerima donasi supaya korupsi tidak dituntut hukum dan mengembalikan kepada Negara, meskipun ada bukti transfer bank menerima hingga cuma 600 juta rupiah, dari korupsi. Ngrowengnya  atas nama kebebasan individu, pecicilan ini perangkat mutlak sari demokrasi, harus ada aturan pengetatan penyadapan komunikasi dengan moda apapun, terutama lewat telepon, bila perlu harus izin RT/RW dan MUI yang ranting rambutnya juga bakal ada, diangkat jendral ulama MUI ditingkat itu, tingkat RT/RW.  Supaya mereka ini bebas  mengadakan  transaksi KKN, bebas dari kesaksian hukum.  Padahal tiga bulan yang lalu, panutan mereka yang  di Saudi Arabia  pangeran Miteb bin Abdullah sudah di KPKkan  yang dipimpin oleh Pangeran putra mahkota Mohammad bin Salman, ya  antara lain dari penyadapan dan  lain upaya OTT, wong pembiaran dari Raja Rajanya sudah dari dulu.  Disana terror dan obral pembunuhan, untuk nakuti rakyat, PRT migran, disini obral terror dan tidak toleran, dibuat keruh supaya bebas mencuri. Sudah diberantas?
Menjadikan  2% warga menguasai 56% kekayaan Bangsa. Kroninya malah minta dia diangkat jadi Pahlawan Nasional,karena sudah alm, sudah naik di sorga. Ini kan kebblinger ?
Ini  isyarat apa? http://nasional.kompas.com/read/2012/04/26/0630461/Dua.Percent.Penduduk.Indonesia.Kuasai.56.Percent.Aset.Nasional

Bahwa feodalisme itu sudah usang, ya Tuanku nan Renceh, rawan KKN, seperti pangeran Miteb bin Abdullah, nanti sesudah pangeran satu ini keluar dari linkaran kekuasaan diganti dengan pangeran Muhammaed bin Salman penggunaan uang nya ya sama saja, mau benernya sendiri, "Raja mangkat. hiduplah Raja Raja".  baik pengeran maupun dictator. Menumpuk harta di egonya sendiri dengan segala dalih itu nikmat, tapi tidak islami, rupanya soal ini bukan PR nya ulama wahabi. meskipun tidak sesuai dengan teladan Rasulullah Muhammad salallahu alaihi wasallam.  Korun itu dilaknat Allah, mosok dari Alif sampai Yak kok jatuhnya ke pelimbahan juga.

Untuk mengembalikan  Jerusalem ke penghuninya sejak zaman Salahuddin Al Ayyubi, dengan penduduk Arab yang toleran  dan menjadi tauladan,  menjadi pelopor ekonomi dan idustri  seperti yang tercatat dalam sejarah,  sekarang masyarakat kaum muslimin harus mengerahkan segenap harta dan kekuatannya buat menguasai kembali ekonomi business dan ilmu pengetahuan teknologi modern, ini MUI mesti jadi pelopornya, diluar puaknya diluar bangsanya meliputi seluruh dunia islam. Allah sudah  menyediakan segala sarananya – jare cak Nun wis bang bang wetan, menjelang siang, harta yang melimpah - dimana mana di dunia, minta investasi modal pembangunan infra strukture, otak yang cemerlang punya HMI sudah mencetak banyak doktor dan Profesor, duit yang dikuras 13 250 x 100 miliard rupiah  atau 1.325 000 000 000 000 rupiah sudah balik, berapa kali anggaran Negara kita ? Yang dikirim malah habib yang suka petualangan  slingkuh,  bodoh lagi. Potensi man power melimpah,  aturan ad dien yang cocok bagi semua orang di dunia sudah ada, ( ad dien in bukan budaya Arab lho, apalagi cara feodalisme mengatur Negara. Asal  empat ilmu ajaran islam yang dijahit jadi satu menjadi dodot bersegi empat, hiasan pinggang, sudah dicoba dan berhasil, asal  dimengerti dan dipilih urutannya dari kondisi  dunia yang memang sudah plural, seperti di pulau jawa abad ke 16 ternyata bisa, sabarlah seperti Wali Islam di tanah Jawa nun di zaman Hindu campur Jawa,  ya Tuanku jendral  Mulut dan hati dijaga supaya nggak sembarangan bohong, wong tangannya begelimang darah kok maksa dijadikan Pahlawan Nasional, saking slag ordenya sendiri, meskipun bebek ya songkem kalok di Madura, tak iya ? Begitulah pertimbangan pak Profesor, saking plin plan-nya.  Supaya masyarakat bisa dibimbing. Menghadapi  tantangan  zaman – kapan masyarakat manusia harus menguasai benda dan hasil karya intelektualnya – bukan  pangeran atau diktator atau feodal –atau kapitalis yang merajalela – atau komunis yang sudah mati – mereka yang memaksakan  bahwa benda dan hasil olahannya : kecerdasan buatannya/mesin robot,  menguasai masyarakat manusia – ajaran islam harus bisa mengatasi tantangan zaman ini – bukan kaum kapitalis - atau kaum komunis yang sudah mati -  bukan kaum neo liberalis yang sekarang merajalela- tapi masyarakat manusia rakhmatan lil alamin – ajaran islam abadi, yang harus menguasai benda dan hasil rekayasanya. Syaratnya hanya satu belajar ilmu alam nyata, ilmu pengetahuan alam, bebas berfikir a'la Ma'iyah nya cak Nun ( Ainun Najib dengan kidung Kai Kanjengnya), guna manguasai teknologi  dan ekonomi, belajar itu menurut firman Allah adalah membaca  segala ilmu, sambil berfikir,  bukan membaca soal agama thok, dengan bathin yang mabok dimanja tekhnoekonomi moderen yang diraihnya dengan korupsi a'la pembenaran feodal.  Berani berdiskusi, mawas diri dan terbuka, bukan menetek fanatisme suku ras agama dan orde senjata (alih alih nembak israel, malah nembak, ngebom saudara sesama muslim), sudah 15 abad ngeloni harta tahta wanita, yang itu itu saja, gitu kok mau merebut Jerusalem, malunya bah *)

Kamis, 01 Februari 2018

SURAT KEPADA PROF.DR. SALIM SAID

SURAT KEPADA PROF.DR. SALIM SAID.

Yang saya hormati Prof. Dr.  Salim Said, assalamu’alaikum  warakhatullahiwabarokatuh.

Saya belum pernah bertemu anda, belum pernah mendengar  suara anda sebelum saya temukan anda di youtube, dalam  rekaman pembicaraan mengenai tragedy kemanusiaan tahun 1965.  Acara ILC ( Indonesian Lawyers Club) asuhan bang Karni
Perkenankan saya memperkenalkan diri saya :                         Kebetulan tahun itu saya baru lulus sebagai sarjana pertanian, sekarang usia saya sudah delapan puluh tahun.  
Di zaman yang keruh itu saya berkerja serabutan dua tahun, kemudian bekerja di perkebuna  Kopi swasta  kemudian pindah di Perkebunan  kopi dan karet diwilayah Banyuwangi  juga – bekas perkebunan swasta milik warga Belanda,  dijual HGUnya kepada kelompok pedagang cina di Surabaya. Keadaan habis rusak parah akibat policy pendudukan Jepang, tanah perkebunan kopi  dijadikan kebun jagung selama tiga tahun, bidang sadapan karet sebagian besar dibuat sadap mati.  Kemudian bekerja sebagai penyuluh pertanian khususnya pemakaian pesticide untuk program Bimas/ Inmas padi dan polowijo ( terutama kedelai dan kapas, termasuk pengendalian hama kelapa di Sulawesi  utara, hama tambak ikan bandeng  di perairan air payau, meliput  semua problem hama penyakit tanaman perkebunan di Lembaga Lembaga Penelitian, didaerah  Indonesia Timur, jadi yang menggaji saya adalah pabrik produsen pestisida yang berpusat di Jerman dan Inggris.  Saya retired th 1995. Sekarang umur saya sudah 80 tahun, Alhamdulillah.
Sejak zaman penjajahan keluarga kami hidup di Surabaya dengan 8 bersaudara, semua pengagum  setia Bung  Karno, mengerti dan sadar tujuan ajaran beliau.  Menghadapi politik represi berat orde baru denga segenap ke-pura puraan-nya euphemisme yang sangat sinis, memperlakukan semena mena Bung Karno,  kami sangat menderita bathin, tapi kami selalu mendapatkan surat bersih diri, tidak tersangkut langsung atau tidak  langsung G30S PKI.  Karena kecintaan kami pada Bung Karno  sebagai inspirator kami, kami lakukan sebagai rakyat umumnya ,  tidak pernah  tergabung dalam organisasi, melainkan sebagai the silent  majority.                                              Istri saya Pegawai Negeri di Departemena PU.  Terus terang keluarga besar kami kaum menengah yang abangan, mendapat pelajaran islam secara turun temurun, dekat sekali dengan Kejawen. Dengan perjalanan waktu dan pergaulan kami,  kami bertukar   pencerahan syari’at islam  
dari sesama tetangga di kompleks perumahan PNS Poject PU, yang kebetulan  teman membersihkan halaman complex  kami, dia  lebih muda dari saya 10 tahun, waktu mahasiswa menurut pengakuan dia teman setia seorganisasi dengan Amir Biki,  pemeran utama peristiwa Tanjung Priok.  Pertukaran pencerahan ini menjadikan dia condong ke ahlul sunnah wal jamaah, ikut menggali kembali ajaran peninggalan para wali islam tanah jawa. Dan aktip  berdakwah dikalangan akar rumput itu, sepuluh tahun yang lalu beliau telah tiada, inalillahi wa innalillahi rojiuun.
Keluarga baru kami salah satu diantara yang sedikit, bisa menjalani hidup cukup diantara PNS yang beruntung, tanpa korupsi.  Kecuali  istri saya mendapatkan jatah SPJ ( Surat Perintah Jalan)  sebagai tambahan gaji, karena istri saya juga sarjana pertanian, digaji oleh Project Pengairan untuk penyelenggaraan sebatas soft ware tata guna air petani petak sawah saluran tersier.  
Mengikuti dengan sangat mengerti, semua langkah represi  dan intimidasi halus dan kasar yang di lepas oleh mereka  yang  mendapat mandat dari   orde baru lewat Korpri dan Golkar, dalam penyelenggarakan screening test mendatangkan staff satu dari Kodam secara periodik, didampingi oleh  Pimpro, bisa Kepala Dinas Propinsi bisa Kanwil yang dekat dengan Gupernur. Atau Pentolan Golkar tingkat Propinsi yang terintegrasi dengan Kodam dan Kodim. Semua didampingi dengan pasangannya sebagai Kartika Candra Kirana, atau Dharma Wanita. Saya bisa ikut  menyaksikan betapa kokoh dan bahagianya kelas baru dalam masyarakat kita,  kelas elite keluarga Golkar, elit keluarga Korpri, dan elite keluarga ABRI pada saat itu. Menyamai  penjelmaan dari masyarakat  Gandari putra dari Hastinapura.
Sebagai counterpart dari para PNS bagian Peyuluhan bidang  Petanian,saya jalankan tugas saya dengan sungguh sungguh. Tidak ada minggu tanpa pertemuan  di kelurahan dan saung para petani.
Saya kira perkenalan diri saya ini sudah lebih dari cukup kepada Prof. Dr. Salim Said, saya bisa pastikan bahwa beliau  adalah  “crème de la crème”  dari masyarakat  Sulawesi Selatan yang mewarisi tradisi  Masyarakat Bugis dalam jiwanya – seperti yang dilukiskan beliau tentang jendral Jusuf  Alm. dalam  pernyataannya di lansir oleh Tribun News di google, saya copy paste dibawah.
Saya sangat lega, mendengar pencerahan anda Prof,   ulasan anda mengenai tragedi kemanusiaan  genocide tahun 1965, yang intinya “Buang segala trauma akibat  amuk massal ditingkat akar rumput dan penistaan bung Karno hingga wafatnya oleh ordebaru, yang sungguh sangat melukai jiwa kami pecintanya.”  Karena kami tahu Bung Karno tidak pernah berlaku kasar terhadap lawan ideologinya meskipun terhadap ideology pedukung yang pro neo kolonialisme Amerika.  Memang sebagai Negara yang baru berkembang,  menangkal nekolim adalah wajar menurut saya, adapun Hukum Negara diberlakukan terhadap DI/TII yang sudah nyata berbuat makar melemparkan granat kepada Bung Karno seperti pelaku Peristiwa Cikini yang menelan korban anak anak TK, hukuman terhadap mereka itu bukan balas dendam pribadi, kami the silent majority  mengerti mengenai hal ini. Prof Mahfud M D pun sangat mengerti. Kami  berintrospeksi sejujurnya.  Semoga dari sisi lain  sang pemenang,  seperti pecinta Pak Harto Mayor jendral Kiflan Zen berbuat yang sama. . Sehingga generasi  dibawah kita tidak terbebani oleh dusta sejarah,  tanpa bisa melangkah kedepan menyongsong matahari terbit .  Hari depan generasi penerus kita akan selalu diterangi oleh pelajaran sejarah bangsa ini, karena kita berani setulusnya mengakui  semua kejadian yang sebenarnya.
Yang saya kepingin mengemukakan kepada anda, bahwa sekilas Pak Prof Salim  dalam acara ILC itu,  menggambarkan bahwa  pak Harto adalah kaum priyayi Jawa, yang meskipun sangat religious tapi islamnya adalah islam jawa,  islam makrifat,  dekat dengan kejawen.  Menurut Pof. Salim Said, guru beliau belakangan dalam ilmu  syari’ah islam adalah Kasim Nurseha, kemudian Prof. Qurais Sihab.
Islam Jawa, bukan sempalan, melainkan satu tafsir dari ajaran Islam yang disiapkan oleh Wali tanah Jawa sejak abad ke 12 M, untuk mengimbangi ajaran Hindu yang sudah berabad abad ada di tanah Jawa, telah membangun basis ekonomi yang kokoh. Yaitu persawahan dengan pengairan dilereng lereng gunung yang subur, sawah  berundak, dengan menyimpangkan sungai kecil dan mengalirkannya sepanjang   punggung lereng, untuk membuat lapik lapik sawah sesuai contour tanah dilereng bawahnya, selanjutnya diciptakan pembagian air di lapik lapik sawah seperti subak di Bali. Sebelum itu mereka berladang berpindah pindah dengan segala kesulitannya.
Sedangkan para Wali Islam tanah jawa mulai abad ke 12 sudah membangun sawah di rawa rawa, tanah yang sudah diterlantarkan oleh kekuasaan Kerajaan Kerajaan Hindu, dengan kelebihan yang menyertainya yaitu transportasi dengan perahu datar sepanjang sawah rawa ke penyosohan dan pelabuhan, lewat parit dan kanal. Pekerjaan berat dan skala besar ini menggali tanah rawa untuk saluran saluran adalah pekerjaan yang memerlukan kerja bersama orang orang yang sangat banyak dan berat,  dibawah komado pemimpin yang sangat mengerti, baik teknis maupun managemen  orang. Ini yang tidak pernah disinggung oleh ahli sejarah kita.
Para Wali tanah Jawa mengerti bahwa ada firman Allah yang mengatakan setiap manusia didampingi oleh empat malaikat selama hidupnya, selain malaikan Mungkar dan Nakir. Ini disesuaikan oleh para Wali Islam dengan kepercayaan jawa sebelum Hindu, adanya saudara  yang empat, lahir dalam sehari dengan si jabang bayi               Yaitu “kakang kawah adi ari ari yang lahir dalam sehari” yaitu air ketuba, tali pusar, ari ari, dan darah ibu yang melahirkan. Di Bali dinamakan catur sanak, diuraikan cara menyapanya dengan tulisan yang diambil dari kropak kuno Kandapat Sari Himpunan Gde Bandesa. Mereka ini saudara esoteric yang selalu bisa dimintai pertolongan dengan menjalani satu ritual yang diberikan oleh para Guru bergelar Ajar atau  Ki Hajar.( bukan Ki Hajar Dewantoro). Setelah itu ajaran Islam sendiri setelah khalifaurasyiddin, timbul satu uraian bahwa sejatinya Islam itu mengandung ajaran empat warna, dua yang pertama menyangkut gerakan lahiriyah dan dua yang kemudian menyangkut getaran bathiniah, sesuai dengan nafsu yang empat warna juga, karunia Allah yang konon gunung gunung dan malaikat segan untuk menerimanya. Pelajarannya adala ilmu syariat islam, ilmu tarikat islam, ilmu hakikat islam dan ilmu makrifat islam atau tasawuf.  Pelajaran ini diperlukan untuk menjaga moral dan perilaku para wangsa ksatrya dan wangsa brahmana yang telah menjadi mu’alaf guna memimpin masyarakat untuk membangun persawahan di lahan terbengkalai itu, satu perkerjaan yang memerlukan upaya maksimal seluruh tenaga dan semangat bekerja-nya, meskipun sukarela, bergotong royong tanpa dibayar atau iming iming apapun, kecuali kebebasan bercocok tanam sebagai ikut jadi pemilik lahan. Ini juga dilakukan oleh Bung Karno dan Pak Harto ( hanya program Bulognya sudah digunakan countepartnya untuk memperkaya Himpunannya - baru kemudian pak Harto sadar - mencurinya si counterpart - terlalu banyak.
 - dioper kembali oleh beliau).
Lha jadi pelajaran ilmu makrifat islam dan ilmu hakikat islam diajarkan pada kaum inteligensia mualaf ini. Yang kastanya dalam Hindu lebih tinggi, demi mengimbangi moral karmapala dan Dharma.  Itu yang sampai berabad abad diwariskan pada kami, dan pak Harto, juga kemungkinan besar pak Jokowi, dan kebanyakan murid ahlul sunah wal jamaah yang mendapatkannya dari  para Wali tanah Jawa sejak abad ke 12, lewat para Kiainya secara estafet dan sorogan ( dar mulut ke mulut) para wali islam ini tidak pernah mengajarkan paham islam abangan, terbukti di tembang dolanan anak anak "Ilir Ilir" digubah oleh Sunan Giri Kedaton, cak Nun bilang Sunan Kalijogo, wong ndak minta hak cipta, jadi pokoknya Wali Islam abad ke 13 M.  Tembang permainan anak anak ini menjelaskan bahwa keempat ilmu itu harus dijahit jadi satu, sebagai kain dodot penghias pinggang. Tembang dolanan itu dilantunkan kembali oleh cak Ainun Najib, dengan ansambel gamelan Kiai Kanjeng berkeliling Dunia, semoga juga dijelaskan maknanya  !                                                                                                           Kepercayaan diri para Wali tanah jawa ini telah berani memeras  dari isyarat isyarat ilmu syari’at islam dan ilmu tarikat islam yang kasat mata merupakan tafsir beliau beliau dari gerakan dan ucapan bacaan kalamullah waktu sholat wajib, ilmu syari’at islam dan tarikat islam. ini tidak pernah difikirkan bahkan oleh kaum yang menurut dia paling islam dari ajaran Al Mukharom Abdul Wahab dari Saudi Arabia, bahwa ilmu kasat mata,tanpa mau tahu dua yang tidak kasat nata, yang mereka bela sampai titik darah yang penghabisan bahkan memukul bedug saja ya enggan, karena tidak ada di ilmu yang kasat mata itu. Meskipun  ini mengandung isyarat kedua ilmu bathin ini sangat sederhana, mudah dicerna, yaitu ilmu hakikat islam dan ilmu makrifat islam karena di design Allah untuk orang sedunia, ndak sulit, ndak menjadikan orang pusing, malah gila, atau saling bertengkar dan bunuh membunuh.
Mereka di timur tengah mengamalkan ilmu syari’at islam dan tarikat islam dengan taklid dan khusyuk. Taklid ini jadi tujuan para "mursyid" yang can do no wrong.                                                                                                               Tanpa merenungkan, mau tahu tentang isyarat isyarat yang merupakan petunjuk ke ilmu bathiniah yang tidak kasat mata. Sudah mendingan karena menjalankan ibadah ini melulu menjalankan kuwajiban terhadap Sang Pencipta. Tapi ajaran ilmu hakikat islam dan makrifat islam lebih membimbing umat islam ke jalan sabar dan kasih pada sesama hidup,  mengamalkan amanah Islam – jadi rakhmatan lil alamin. Prof, ini saya pandang sebagai tantangan zaman
Jadi menurut kaidah para wali tanah jawa, setiap ksatrya itu harus menguasai keempat ilmu itu sekaligus. Itu makna tembang anak anak bermain Ilir-ilir. Atau kiasannya dalam cerita wayang dari Mahabharata, ksatyra itu dibolehkan beristri empat, ( tidak ada dalam riwayat para wali jawa dan para sultan dari kerajaan isalam yang pertama di pulau jawa ina memelihara harem, karena sejatinya masyarakat jawa adalah matriarchat, beliau beliau menghindari menyakiti hati garwa-sigaring nyawa/belahan jiwa mereka), semua putri Brahmana, poligaminya  Arjuna putra Pandu, disulap jadi kiasan menguasai ilmu ilmu islam Sebab wayang kulit dari epos agama Hindu, yang merupakan wedda yang kelima, Mahabharata telah digubah lagi oleh para wali islam tanah jawa menjadi alat pendidikan umum untuk memeguhkan moral islami. Ini bukan sincretisme.
Lha para amtenaar pribhumi pada zamana Hindia Belanda, menyembunyikan keislamannya yang kasat mata, mengamalkan ilmu syari’at islam dan ilmu  tarikat islam, supaya tidak dicurigai tersangkut simpatisan pengikut Pengeran Diponegoro, ( keturunan si pengikut dengan aspirasi yang sama dengan sang Pangeran Diponegoro lebih memilih uzlah dengan heroic), tinggal si amtenaar keterlanjuran jadi abangan, karena jadi amtenaar jaman penjajahan itu adalah seluruh ketercapaian duniawi  seorang amtenaar besar atau kecil, seperti PNS di era ordebaru dengan KKN nya yang sangat subur.  Tapi diam diam mereka yang baik masih menjunjung tinggi ajaran kakek moyangnya dengan menyelami tafsir mencari inti kedua ilmu yang tidak kasat mata ini ajaran para Wali tanah jawa. Makanya ipar saya yang Andi dari Bone, meskipun sudah membuang ke-andi-an-ya, di Bone dia masih punya budak. Sangat meremehkan orang jawa yang sholat di rumah jarang ke masjid, kencing masih berdiri ( urinoir dimana mana disediakan untuk kencing berdiri, hanya disediakan gayung kecil untuk istinjak – saya ndak tahu, MUI kok diam saja,  kalau saya membaca buku karangan dr Ahmad Ramali “Islamologi dan seksuologi”sebagai program studium generale wakatu kuliah). Sedang umum, mekipun kencing jingkok, moral dan perilaku ya masih jalan ditempat. Soal kepedulian, sang ipar ini pernah berdiskusi dengan saya mengenai tafsir kalimah Basmallah, saya ganti mengelus dada, kapan  buliau ini bisa menjadi khalifah Allah di Bhumi ( Al Baqarah ayat 30)  untuk menebar rakhman dan rakhimnya Allah ? wong asma Allah hanya disebut saja, supaya kamu hai du’afa mohonlah kepada Allah sendiri…….saya sudah menjalankan kelima wajib saya dengan iklhas dan benar, begitulah kilahnya.
suntinga copy paste - quote:
Berani Gebrak Meja di Hadapan Presiden Soeharto, Ternyata Jenderal Ini Simpan 3 Jimat
Minggu, 28 Januari 2018 23:42

M Jusuf dan Soeharto 

Ia juga merupakan salah satu keturunan bangsawan dari suku Bugis, hal ini dapat dilihat dengan gelar Andi pada namanya.
Akan tetapi ia melepaskan gelar kebangsawanannya itu pada tahun 1957 dan tidak pernah menggunakannya lagi.
Dalam posisi pemerintahan ia pernah menjabat sebagai Panglima ABRI merangkap Menteri Pertahanan dan Keamanan pada periode 1978 - 1983.
Selain itu ia juga pernah menjabat sebagai Menteri Perindustrian pada periode 1964 - 1974 dan juga Ketua  Badan Pemeriksa Keuangan periode 1983 - 1993.
Kakak Angkat Ahok Ungkap 3 ‘Jimat’ Petta Ucu
Oleh keluarganya jenderal Jusuf lebih dikenal dengan Sapaan Petta Ucu.
Keponakan Jenderal Muhmmad Jusuf, Andi Analta Amier menceritakan ada 3 filosofi hidup dan cara kerja pamannya.
Inilah yang selalu dipegang sang jenderal layaknya 'jimat'.
Apa tiga prinsip hidup itu?
 "Petta Ucu itu, selalu mengajari kami, hidup itu dimulai dari lempu (kejujuran), warani (berani), dan taro ada taro gau atau getteng (amanah)."
"Kalau kau jujur, maka kau akan berani, jika kau jujur dan berani, maka kau akan amanah," ungkapnya.
Andi Analta sendiri tak lain adalah kakak angkat Ahok.                                                                           Menurut Analta, Ahok sangat terinspirasi dengan kejujuran dan keberanian Jenderal Jusuf. (Tribun Timur)
Artikel ini telah dipublikasikan di Tribun Timur dengan judul "Pernah Gebrak Meja di Rumah Soeharto, Terungkap inilah 3 ‘Jimat’ Jenderal Jusuf"
Kolase Tribun Timur
Jenderal Jusuf 
TRIBUNNEWS.COM - Prof Salim Haji Said, Ph.D, dalam bukunya berjudul: Menyaksikan 30 Tahun Pemerintahan Otoriter Soeharto, menceritakan tentang jenderal-jenderal TNI di sekeliling presiden ke-2 RI itu.
Salah satu sosok yang ditulis apik oleh Salim Said adalah mantan Panglima TNI ( (saat itu masih bernama Angkatan Bersenjata Republik Indonesia atau ABRI), Jenderal Muhammad Jusuf.
Dia dilantik tahun 1978 sebagai Menhankam/Pangab.
Banyak yang kaget atas pengangkatan ini sebab Jenderal Jusuf sudah hampir 14 tahun tidak berkarir di ABRI.
Sejak tahun 1965, dia sudah menjadi menteri perindustrian.
Namun Soehartolah yang punya kuasa. Maka jadilah M Jusuf Panglima ABRI.
Menariknya dalam perjalananya sebagai Panglima ABRI, Jenderal Jusuf ‘bergerilya’ ke barak-barak tentara di berbagai daerah.
Tak heran jika Panglima yang satu ini sangat dicintai prajuritnya.
Salim Said menulis popularitas Jenderal Jusuf bahkan menyaingi Soeharto kala itu.
Kabarnya, hal ini membuat Soeharto sempat ‘cemburu’ melihat popularitas jenderal dari Bugis itu.
Halaman
Tags 
Baca Juga
Editor: Sugiyarto
Sumber: Tribun Timur
unquote.

Surat saya  kepada Prof Salim Said belum selesai, karena surat ini akan dibaca oleh pembaca blog saya yang tidak sebanyak pengikut artis atau politisi yang penuh gaya dan pesona, saya kira mustahil sang Profesor baca surat ini. Jadi ya saya bongkar uneg uneg saja.
Falsafah para sastrawan inteligensia jawa mengenal ilmu,  bisa diringkas dan bulat  sekecil buah mrica yang diasah bulat, dan bila digelar bisa memenuhi dunia “ "Ilmu iku yen drirngkes dadi sak mrica binubud, lamun digelar ngebaki jagad Dan menafsirkan islam sebagai ilmu, bukan sekedar ritual, makanya malah banyak disalah artikan  oleh umat islam yag lain, falsafah ini sudah mendarah daging sampai ke akar rumput. Orang tua tua mengerti  konsep  kalimat  bahwa Allah itu bisa jauh tidak terbatas jaraknya bisa dekat dengan manusia tanpa bersinggungan. Ha kena apa sudah disumpah dengan Beibel, dengan Al Qur’an, dengan atas nama Allah kok masih dilanggar ? Karena pemukanya ya masih plin plan antara kepentingan duniawi dan kepentingan ukhrowi. Gampangnya antara kepentingan pribadi dan kepentingan umum, itu yang dikerjakan para sahabat rsulullah, itu yang diresapi dalam batin Salahuddin al Ayyubi, itu yang diresapi Pak Jendral Yusuf alm, yang diresapi pak Jokowi.

Ini keharusan sejarah, wilayah tanah yang terisolir oleh lautan (kepulauan) dan terisolir oleh lautan pasir ( oasis) ini, perkembangannya terlambat, apalagi sudah puluhan abad diatur dengan masyarakat yang berlapis dengan kasta kasta, yan sangat cocok dengan masyarakat feodalisme.  
Islam diwahyukan jauh sebelum Oliver Cromwel, isyarat untuk berdemokrasi terabaikan di masyarakat islam. Sedangkan demokrasi adalah kebebasan teraduknya lapisan lapisan itu karean azas penguasaan capital dan perangkatnya dengan lebih efisien, tidak mengenal hak istimewa dari keturuana bangsawan. Sedangkan masyarakat yang terisolir diatas, kebetulan adalah masyarakat islam, yang terlambat berdemokrasi, jadi secara harfiah kasta sudah dihapus, tapi secara kejiwaan kasta kasta itu masih ada – di Europa disindir dengan nama golongan parvenu, di kita orang kaya baru. Karena dimasyarakat lama  dinamika perubahan kasta  sangat dipersulit, harus menjiwai nobless oblique bahkan nunggu sampai mati dan berinkarnasi, di islam tidak ada itu. Lalu oleh zaman teknologi menjadi gerakan  gerakan chaos menghalalkan segala cara tanpa disadari alias mabok– tapi bukan oleh khamar, tapi oelh pasar tekhnoekonomi jadi para santri ikutan korupsi dan KKN. Jadi pendidikan di masyarakat terisolir ini harus mempersiapkan penumpukan capital di masyarakat, lebih intense daripada  penumpukan di pribadi, ini sebaik-baiknya azas moral egaliter, moral rukun islam ( dua ddiantara lima zakat sodakoh dibanding denga hadad sholan nai haju kegunaan peribadi dan tiga diantara lima untuk  kepentingan sesama) seperti di isyaratkan oleh islam, dengan pelopornya Abu Dzar, sebab sudah sangat mendesak. Sebab ini tantangan zaman

quote dari blog ini:
BAGAMANA PARA ULAMA ISLAM DI PULAU JAWA MENGINGATKAN UMMATNYA PADA ABAD KE 15 -16, ZAMANNYA PARA WALI, DI KERAJAAN DEMAK BINTORO.

Di youtube, cak Ainun Najib, malantunkan syair para wali tanah jawa satu tembang dengan grup musikalnya “Kiai Kanjeng” tembang  “Ilir Ilir”, yang dalam perenungan saya sebagai the last generatiom of the javanese" orang jawa generasi terkhir:
Ilir ilir….. ilir ilir……..            Oi angin sepoi datanglah 
Tandure wong semilir…..    Tanaman bibit padi disawah sudah bangun
Tak ijo royo royo……….         Begtu hijau berpendar  segar  
Tak sengguh penganten anyar… Kukira penganten baru
Cah angon 2  peneken blimbing kuwi… anak gembala 2 panjatlah pohin blimbing itu
Lunyu lunyu penekna……..meski sangat licin  panjatlah
Kanggo masuh dodot-ira…. Untuk mencucuci kain dodotmu
Dodod-ira – dodod-ira……. Kain penghias pinggangmu 
Kumitir badahing pinggir.. berkibar sobek di pinggir
Dom-ana, jlumat-ana......Jahit dan anyamlah dengan jarum dan benang.
tak enggo seba mengko sore … akan kupakai meghadap nanti sore
Pupung padang rembulane…. Senyampang bulan purnama
Pupung jembar kalangane…senyampang luas lingkaran “halo” sinarnya 
Ya surak-a  surak horee… bersoraklah sorak horeeeee.
 sur
Syair tembang untuk bermain para bocah ini mengandung  pertunjuk yang dalam dan telak bagi kaum muslimin zaman itu di pulau Jawa, sampai sekarang (malah hingga sekarang di seantero dunia), iyarat itu dari upaya cak Ainun bNajib berkeliling dunia dengan tembang itu meskipun di tembangkan beramai ramai oleh anak anak dimana mana.( memangnya hidup ini bukan sekedar permainan ?) Lho lah maknanya kok nggak terilut  ???.
Adapun makna yang saya renungkan adalah: 
Situasi lagi sangat baik, pemindahan bibit ajaran baru (di abad 16) sudah  tumbuh berkembang…..bibit padi disawah ditanam bersegi empat seluas sawah dari pembibitan sudah menggeliat bangun. Maksudnya ajaran islam dengan empat ajaran pokok yaitu ilmu  ,ilmu syari’at islam, tarikat islam, ilmu hakikat islam dan ilmu makrifat islam  sudah tumbuh dengan bergairah. Menghijau segar berpendar, begitu bersemangat sampai saya kira temanten baru.       Cah angon2, para gembala umat islam, ulama, nara praja ( abad ke 17), panjatlah pohon belimbing itu , yang  buahnya bersisi lima, yaitu kelima rukun islam, meskipun pohonnya licin, sangat berat. Sebab buah belimbing ini akan aku pergunakan untuk mencuci kain hiasan pinggangmu, jahitlah dan anyamlah menyatu kembali sebagai kain yang bersegi empat ajaran pokok ilmu islam yang akan aku jelaskan, ilmu srai’at islam, ilmu tarikat islam, ilmu hakikat islam, ilmu makrifat islam. Sebab aku lihat kain dodotmu robek  berkibar kibar di pinggir diluar libatan pinggang,  sebelah luar libatan dodot yang kasat mata, artinya  ilmu syari’at islam dan ilmu tarikat islam, jahit dan anyamlah dodotmu dengan teliti. menyatu kembali utuh sebagai kain bersegi empat artinya segi ilmu hakikat islam dan ilmu makrifat islam yang ada dilibatan kain sebelah dalam. Agar aku bisa memakai kainya untuk menghadap nanti menjelang magrib, sehingga ilmu ilmu ini menyatu keempat empatnya waktu matahari tenggelam  dalam hidupku. Kerjakanlah senyampang  kondisi alammu masih baik. Maka bersoraklah dan bergembiralah dengan bersorak  horeeee.                           

 Jadi penghadapan pada waktu magribnya hidup, alias mati, dapat dibicarakan dengan nyanyian permainan anak anak yang gembira diakhiri dengan sorak horeee.

Begitulah ajaran para wali islam di jawa, yang dilantunkan beramai ramai oleh ansambel alat  musik gamelan jawa dan choir Kiai Kanjengnya cak Nun yang selamat sejahtera sampai keliling Dunia, sedang renungan ini ya begini saja, masih untung belum viral dadakwa ilmu klenik, bid'ah  oleh para habib, dan dicerca dan dinista  seperti uraian Doktor dari Amerika Nurcholis Madjid alm. Yang inti dari cercaan itu adalah pesan: 
“Disini, Indonesia sekarang,  banyak orang pandai , al ustadz , al mukharom alim ulama ahli agama islam, buku dan artikel di e-media,  uraian agama islam bejibun yang  didukung oleh Saracen, dan  khilafah dari Sabang sampai Maroko, kamu ndak usah bergaya merenung dan berfikir sampai warisan para wali jawa segala, tanpa restu para saracen,MUI, khilafah, aswaja, (koma) karena,  selalu saja ada sayap sayap  organisasi organisasi itu  yang lebih  tegas layakya pegas forged in fires yang sangat berbahaya  dan ngawur tanpa kendali dari organisasi induknya, malah dapat dukungan dari anak autis kita yang gagah perkasa” *)
unqoute


Terima kasih, wasalamu’alaikum warahmatulahiwabarokatuh.

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More