Sayang Sama Cucu

Sayang Sama Cucu
Saya sama Cucu-cucu: Ian dan Kaila

Selasa, 13 Desember 2011

JERUKKU SAYANG, JERUKKU MALANG

Ingin aku mengemukakan nasib jeruk kita (Citrus ) yang malang nan mengenaskan.
Empat puluh tahun yang lalu, kita masih mengenal jeruk dari Garut, dari Tawangmangu, dari Singaraja, dari Pacitan, ternyata kini nama daerah jeruk itu sudah tinggal kenangan. Mungkin jeruk di wilayah itu punah karena diserang CVPD (citrus vein phloem degeneration) syndrome, satu jenis serangan virus pohon jeruk yang tak kenal ampun, hampir semua verietas dan cultivar jeruk kita rentan terhadap serangan virus ini.
Virus ini ditularkan lewat vector hama pengisap Diaphorina citri, ada yang juga mennyebut thrips dan aphyds dan lain penghisap daun, malah ada penulis yang mengatakan bisa menular dengan kontak dengan alat alat menyanbungpun bisa menularkan virus. CVPD ini mmpunyai masa inkubasi yang panjang.
Jeruk keprok - C. reticulata - kena
Jeruk manis – C. sinensis - kena
Jeruk Bali,  C maxima cultivar “nambangan” - kena
Jeruk nipis semua varietas – kena dan sangat cepat symtome nya nampak.
Jeruk purut , nama lainnya jeruk makrut crossing dengan C. hystrix – tidak kena (Wikipedia)
Semua jeruk kita yang biasa sampai di pasaran kena tular virus ini kecuali jeruk purut.
Tandanya buahnya yang sudah dijual meskipun masak tanpa cacat apapun dari luar, di dalamnya sebagian atau semua air buahnya kering, tinggal isinya yang mengeras, dan dengan sendirinya relative lebih ringan.
Selama empat puluh tahun lebih lahan jeruk varietas “siem” selalu berpindah pindah, karena punah  diserang virus tersebut.
Cabang-cabangnya daunnya menguning dengan tulang daun masih hijau, akhirnya cabang cabang itu mati, seluruh tanaman merana dan mati.
Rupanya varietas Siem ini sangat disukai petani karena cepat berbuah dan berbuah luar biasa lebatnya, malah sifat ini menjadi problem sendiri dari penanam jeruk. Kecuali panen yang baik, cultivar ini juga bagus ditanam di dataran rendah bahkan bekas sawah. Empat lima tahun kemudian dilokasi itu seperti Ponorogo punah, pindah ke Jombang juga punah setelah empat lima tahun,  bgitu pula Pantai Utara P. Bali, dari Seririt sampai Tejakule.
Mojokerto kemudian Lumajang, Banyuwangi dan Terakhir di Jember Selatan.
Di Sulawesi Selatan di Bulukumba, kemudian di Malangke, daerah Palopo, entah sekarang.
Kini jeruk siem local di pasar pasar berasal dari Sumatra Utara atau dari Kalimantan Barat, dan jeruk bali (Pomelo )  cultivar “nambangan” dari Kabupaten Magetan dan Madiun masih sampai di pasaran bila musim yang sangat singkat, meskipun sebenarnya jeruk ini sangat tahan dijajakan berbulan-bulan.
Selain itu semua jeruk pasti  import, dari China, dari Thailand bahkan dari Pakistan.

Semua makhluk tumbuhan, binatang, termasuk manusia dapat terseang virus, dan obat penangkal virus tidak ada kecuali daya tahan organisme si terserang, malah bukan daya tahan saja daya tahan, tapi bahkan kekebalan tubuh organisme terseranglah  yang dapat diandalkan.  Jadi, jeruk local masih mempunyai harapan untuk berkembang, dengan persilangan dan seleksi yang sangat menguras tenaga, kesabaran dan beaya,
 bila upaya ini dikerjakan. Sayangnya tidak ada berita apakah upaya ini sudah dikerjakan dan sampai dimana?
Kehidupan memang silih beganti, satu cultivar bisa punah tapi satu species lebih liat perjuangannya untuk bertahan. Cultivar baru bisa timbul dengan sendirinya, tapi kebanyakan masih  dibantu hasil seleksi manusia, yang memperhatikan kemunculanya diantara populasi tanaman, terus diperbanyak.
Sudah banyak cultivar jeruk yang menghilang dari pasar seperti jeruk keprok Tawangmangu, jeruk keprok Madura yang khas kulitnya tidak halus dan tebal berwarna kehijauan, inipun saya curiga akibat serangan virus CVPD.

Saya cenderung ke pendapat Ir. Sutopo MSi dari Balitjespro yang menulis di Wikipedia bahwa CVPD merupakan kambing hitam dari sulitnya penananam jeruk masa kini. Secara keseluruhan hama hama tambah banyak, termasuk vector CVPD , alam sudah berubah.
Di samping itu sentra sentra penanaman jaruk yang dulu dmotori oleh Landbow Kring hampir delapan puluh hingga Sembilan puluh tahun yang lalu dizaman Penjajahan dan dibimbing secara “cultuur technisch” saya coba omong Belanda, en petani pananam jeruk masih sedikit, makin lama makin banyak petani yang asal tanam tanpa bimbingan teknis, karena jeruk memang budidaya yang menguntungkan, dan bimbingan teknis ini jadi projek, yang ada bila ada dana, terutana “Grant” asing.
Bahkan tahun delapan puluhan petani jeruk di pantai utara Pulau Bali sekitar Singaraja menantang bahwa bila saja tanaman jeruk Siem-nya bisa panen tiga kali saja, sudah untung,  yang kena ya disulam, kadang jumlah daun-daunya sama dengan jumlah pentilnya,  bahkan sayang untuk dikurangi !  Akhirnya, tahun tahun kemudian wilayah itu bukan sentra jeruk lagi.
Akhir tahun delapah puluhan saya kenal dengan seorang petani jeruk siem dari kota Purwokero, sekarang entah di mana lahannya yang ditengah kota itu, mengatakan bahwa dia abaikan CVPD itu karena dia mempertahankan rangka pohon ( jorget )  3 cabang kemudian diatasnya tiga lagi,  tidak pernah mengizinkan adanya cabang air yang banyak tumbuh, mempertahankan perbandingan jumlah daun sehat dan pentil (buah yang masih kecil sebesar kelereng) seingat saya satu pentil berbanding dengan 20 -25 daun sehat. Beliau pergunakan pestisida sistemik khusus untuk mengendalikan hama pengisap, selalu memberi pupuk berimbang dan memetik pentil yang berlebihan tanpa ampun, sungguh tahan uji kenalan saya ini.
Saya melihat tanaman jeruk kultivar grape fruit di Kecamanat Kemang Bogor, tepatnya ya di “Kavelling” para Penggede zaman Orba, selama lima tahun ini hanya berbuah lebat sekali, tiga tahun yang lalu, meskipun dipelihara baik (karena miliknya orang kaya), tapi jelas ndak pernah di pupuk organic maupun buatan  oleh penunggunya,
Karena orang kaya zaman Orba hanya mengerti mengambil hasil Negara,  ndak pernah mengerti memupuk Negara. Semoga ceritanya tidak habis disini, jeruk purut yang kebal terhadap virus CVPD ini apakah bukan merupakan suatu titik permulaan dari harapan ?

Bedanya Negara kita ini dengan Kerajaan Thailand, di sana uang juga dikuasai oleh Raja, bukan bukan oleh para Bankir saja. Kerajaan membeayai research pertanian jangka penjang secara konsekuen, sedangkan  di kita uang ada pada para bankers, yang allergy terhadap pertanian.(*)   

2 comments:

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More