Sayang Sama Cucu

Sayang Sama Cucu
Saya sama Cucu-cucu: Ian dan Kaila

Kamis, 19 Desember 2019

AGRONOMIST BISA MENGERTI MENGAPA APLE DI BATU/MALANG BISA BERBUAH TIDAK TETGANTUNG MUSIM


BAGAIMANA SOSOK AGRONOMIST BISA MENGERTI MENGAPAPEL  DI BATU/MALANG BISA BERBUAH TIDAK TERGANTUNG MUSIM,

Kebetulan oleh nasib, seorang agrronoist/ahli pertanian, bisa megerti mengapa apel di Batu/ lereng timur Gunung Panderman, dan dataran tinggi Poncokusmo/Tumpang bisa berbuah, Sedangkan cherry (Prunus avum) di Puncak dan Bogor tidak pernah berbuah.
Apel tumbuhan dengan asal lungkungan sub tropis sama dengan cherry – apel  familia2 tumbuhan khas empat musim mengalami musim gugur dan musim dingin dengan hujan salju yang bertemperatur dingin sampai dibawah nol derajad C. Semua tumbuhan menggugurkan daunnya (kecuali berdaun jarum bangsa Pinus) dan semua bahan penting dari daun  yang akan gugur, protein dan bahan hidup chorohyl  dan banyak enzym selama musim semi dan musim panas, di dedaunan yang hijau telah ditimbun di kulit batang dan cabang atau akar, dedaunan menjadi luning dan merah dari warma anthocyan teringgal didaun yang berguguran.
Tmperatur dingin dibawah nol, perubahan kualitas sinar matahari karena sampai ke permukaan bumi bersudut miring dan lengkung bumi, beda dengan wilawah tropis dimana sinar mahari masuk atmosfer lurus. Kedua beda ini yaitu tempeatur dan kualias sinar matahari merangsang  gugur daun dan pemimbunan makanannya di kulit pepoponan dan semak. Kuncup baru akan tumbuh musim semi nanti, menggunakan ersediaan yang ada, dengan syarat bila alam sudah memperkaya sinar matahari dengan spektrum yang lebih pendek ( merah kuning) dan tamperatur, pada saat kuncup di ranting tanaman / LEMBAGA  yang masih lekat dalam biji bijian mulai menarik air yang mencair dari salju karena panas mataahari, maka jumlah panas dari spektrum sinar panas ( kuing dan merah) menjadi syarat untuk  sel sel pucuk tunas, berubah dari membuat pertumbuhan-membesar, jadi membuat bunga yang berarti membentuk gameet betina dan gameet jantan. Pada tumbuhan pohon perubahan ini perlu waktu beberapa minggu, pada serumtan perlu sampai dua setengah bulan, sampai mekar. Ini mernurut hukum alam atau sukatullah....... paeubaha dari kuantitas ke lualitas sel tepucuk, selalu akan terhadi bia semua syarat dipenuhi.  Tapi sebenarnya, justru saat saat perama kali waktu sel sel paling pucuk, yang hr0nosomnya nasug 2n mendapat rangsang tepmeratur (bisa -5 minus lima derajad C) pada gandum musim dingin yang didapat pada musin gugur- ditebar saat musim gugur habis menyemai tertimbun salju selana 3 bulan) atau plus 4-10 derajad nntuk gandum musim panas) sel sel gerneratip di pucuk koncup sudah cukup untuk berkembangan selanjutnya membelah secara gereratip 2n jagi n)
Apabila syarat lingkngan ini tidak ada atau kacau maka perubahan pertumbuhan mendjadi pembungaan ( perkembangan) tidak akan terjadi.......menjadi organisme tanpa bisa membentuk organ generatip.
Apabia pohon apel daun daunnya di gunduli habis dan cabangnya yang cenderung tumbuh keatas di stuasi iklim tropik dilengkungkan kebawah, setelah dirompes  walaupun  daunnya masih hijau jadi gundul.   Maka akan merangsang penimbunan makanana di kulit cabang (    karena dirudukkan), juga merangsang tunas tunas tidurnya di pagian apikal berubah membentuk sel gameet jantan dan betina jadi bakal  bunga, artinya sel sel  pucuk berubah dari pombelahan vegatative ke pembelahan generative.
Karena segala syaratnya internal dnn external( teperatur dan kujalitas sinar) sudah lengkap.   Ternyata perangsang peluruhan daun dan perundukan cabang di lokasi iklim tropik......nerangsang pembungaan.  Juga kelembaban relatip yang rendah. Makanya di daerah Batu, lereng timur gunung Panderman, lebih baik dari Wilayah Poncokusumo yang lereng barat gunung Bromo. Mestinnya lokasi lereng timur kelembaban reatifvenya  bisa turun karena di daereh bayang bayang hujan, untuk dipilih menanam cherry ( Prunus  avum).
Sesama mahluk hidup, baik flora maupua fauna, yang pertumbuhan sel sel generativenya akan aktip  dirangsang oleh alam linhgkungan hidupnya, artinya temperatur udara, kuantitas dan qualitas sinar, kelembaban relative udara. 
Bila menyangkut gologan fauna diperluas sampai ke kuantitas dan kualitaa makanan  seperti anjing kucing dan babi– binatang piaraan ini cukup makanan  yang bergizi, dan bisa berbiak sembarang waktu dalam  setahun.  Sedang ke kualitas situasi dan kondisi lingkungan.....setiap binatang yang dikandang di kebuh binatang hanya para zoolgist yang memelihara yang tahu, sikon untuk kebutuhan  berbiak. Tanpa pentahuan itu binatang liar di kebun binatang banyak yang tidak mampu  berbiak.  Lingkungan macam apa yang cocok untuk setiap mereka berpasangan untuk berbiak.. Maka si Agrnomist bisa menganalisa , mengapa ikan bandeng (Canos canos sekarang bibitnya(nener) tidak ditangkap dengan susah paya di pantai pantai landai, tapi induk ikan bandeng dirangsang pemasakan telur dan spermuanya dengan hormomone steron ( androsteron dan gynosteron)  mengapa benih udang windu ( Pineaus monodon) yang dulunya harus didapat dari induk bunting sekarang bisa didapat dari induk yang pembentukan ovariumnya bisa dirangsang dengan  teknik ablasi. Jaitu nerusak tangkai mata udang windu betina untuk mengaktivkan ovariumnya membentuk telur, sehigga hanya diperlukan pembesaran udang windu mencapai ukuran induk baru dilakukan ablasi.....  Tidak perlu susah payah mencari induk alami (yang sudah bunting). Tingal dipiara sampai melepaskan telurnya, yang sudah dibuahi. OK udang windu sudah beres.

Lha sekarang ada geger, menteri baru, kerena didesak untuk mendapat devisa cepat, maka mengizinkan export bibit lobster, yang pada zamannya  menteri Ibu Susi Susilowati melarang, karena untuk mendapatkannya bisa merusak lingkungan dan menhabiskan tempayak, dan induknya........... langsung Ibu Susi marah besar.......  DIA BENAR.
Cari nama bukan dengan DENGAN MEMBERI IZIN menjual bibit lobster saja, bidang perikanan masih luas, cukup berfikir kreatip bersama staff ahlinya,  masyarakat, dan rasiolisasi serta coordinasi antar lembaga penelitian. Seperti pemiakan kepiting lumpur....... sedang memelihara dalam keramba saja sulit sekali karena kanibal dan jenis makanannya belum diteliti, lha kok mau piara induk untuk pebiakannya........ kan harus dipiara dulu beru berbiak ? jadi ada dua tahap penelitian.
                    Tapi bagi seorang agronmist dengan aliran Pemikiran  menyatunya   mahluk  hidup dan  lingkungannya bisa tahu ?. Harus ber-imaginasi, mengapa benih lobster ( Panulirus spp) kok sulit di tangkarkan dengan metoda ablasi, seperti udang windu ?
                     Dua macam species ini memang berbeda sangat jauh, dalam bentuk dan cara mencari makan mungkin sama, tapi yang jelas rangka chitin-nya jauh berbeda. Kulit chitin udang windu lebih tipis dan agak transparan, Sedang pada lobster lebih menyerupai kepiting lmpur, kulit chitinnya lebih tebal dan tidak transparan.  Bahwa kepiting lumpur kita, yang mudah kita ketemukan sehari hari dipantai berlumpur, dihutan mangrove.  juga sulit ditangkangkarkan. 
                    Menurut penelitian,  pernah dicoba.
Yang saya tahu, beda antara kepiting dan lobster. Kepiting lebih berani mengexpose dirinya dibawah terik matahari dari lobster.
Teknik ablasi adalah merusak tangkai mata......... alat yang tersensitip terhadap sinar.
Kepiting lumpur, tidak terganggu pembentukan organ generative-nya oleh sinar matahari, sudah  biasa hidup dalam liang lumpur yang dalam mungkin sudah cukup gelap untuk mematangkan ovariumnya. sebaliknya mungkin udang windu organ mata-nya harus dilemahkan untuk pendewasaan ovariumnya, makanya dibutakan dengan ablasi, sudah cukup
Ada percobaan yang memakai teknik ablasi pada lobster..... gagal. Mungkin lobster masih terpengaruh sinar yang lewat chitine diruas ruas badannya yang cukup tipis dan tembus sinar.
Berarti: bahwa fungsi reprodulsi dari binatang laut berkulit chitine hanya  bisa aktip terbentuk dalam gelap, makin ada terang makin sulit terbentuk. Dan ada temperatur air dalam laminasi arus yang lebih dingin dari kutub bumi. ( Tandanya hanya pantai yang menghadap ke selatan dan cukup dalam untuk arus dingin kutub tidak terpaksa menyembul keatas jadi hangat dipemukaan karena dangkal atau terhalang pulau atau benua, misalnya pantai selatan jawa barat, Jawa Tengah yang bertibing curan samapai dalam dasarnya kondsi ini ada di panati Lampung Selatan. Sebaliknya di lingkaran kutub, selt Bering kepitingnya beras nesar rentang kaki kakinya mencapai semeter ( National Geodraphy)
Makaya dengan adanya menteri yang salah tingkah,  mau mengizinkan memjual bibit lobster, sebaiknya percobaan mematangkan ovary betina lobster dan kepiting betina yang cukup besar dengan aguarium diruang gelap 100% (bekerja dengan lampu biru) begitu pula kepiting lumpur tentu saja bersama dengan pejantannya, dIkerjakan lebih dulu. Sebab golongan ini tidak bisa dirangsang dengan steroid seperti biasanya ikan ikan. Begitulah imaginasi dan percobaan yang mahal saling mendukung. Saya sedih penelitian dibidang ini dan bidang lainnya sangat lapar dana, sehingga seorang mahasiswa tugas akhir mengerjakan teknik ablasi pada lobster di Lampung Selatan, manggut manggut memuji Gubernur Zumi Zola karena mungkin mendapat beaya dari Gepernur anakan ini, sebab harga induk lobster yang sampai puluhan ekor, sangat tinggi, dan mengangkutannya sampai ke Lab. harus dalam kondisi sehat dan hidup – apa harus dapat dana dari uang  haram ini ? Dan lagi, pekerjaan penelitian termasuk pekerjaan golongan para Fungsional yang lapar dana, bukan para eselon dari Struktural yang mencengkeram dana, ya  SEDIH DAN maklum *)









:






0 comments:

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More