Sayang Sama Cucu

Sayang Sama Cucu
Saya sama Cucu-cucu: Ian dan Kaila

Jumat, 11 Januari 2013

………..BANGUNLAH JIWANYA……..BANGUNLAH BADANNYA………… UNTUK INDONESIA RAYA………


Jiwa satu Bangsa bisa hidup, bangun jiwanya  dengan pendidikan, pendidikan mencintai kebudayaan bangsa itu, sebelum ketagihan akan kebudayaan bangsa lain.
Kebetulan bukan subjek yang akan saya kemukakan disini………….

Saya akan memberikan perhatian kepada harapan harfiah “bangunlah badannya” untuk Indonesia Raya.

Jauhnya segala penyakit dari bangsa ini adalah kunci pokok kesehatan badan dari bangsa ini.
……………..bangunlah badannya, untuk Indonesia Raya.
Pangan, sandang dan papan yang harus jadi perhatian pokok untuk menunaikan harapan ini yang dengan khidmat kita nyanyikan di setiap kesempatan peristiwa yang pantas, untuk mengulangi kembali janji kita kepada Ibu Pertiwi, lagu Kebangsaan Indonesia Raya. Baru benar benar bangun badannya bila mengkonsumsi empat sehat, lima sempurna.
Satu-satunya orang yang tersering mengulang ulang janji ini adalah Presiden Rebunlik  Indonesia, karena saya yakin beliaulah orang yang tersering menyanyikan Lagu Kebangsaan Indonesia Raya selama menjabat jadi Presiden Republik ini.

Saya hanya akan membahas satu saja dari komponen pangan yang teramat penting yaitu staple food, artinya pangan yang memberi sebagian besar kalori yang dibutuhkan “carbohydrate” untuk bangun,  yang   sangat terancam kemudahan keberadaannya.
Staple food adalah makanan pokok, “carbohydrate” yang akan terancam keberadaannya untuk makanan pokok manusia Indonesia, karena tersaing dengan kebutuhan bio ethanol dan bio diesel Dunia yang akan semakin nyata, bila tidak produknya langsung, pasti juga areal tanamnya.

Sebab pokoknya adalah: “Bila mesin berputar, keuntungan dijamin, makin menumpuk.”
Tapi bila orang beraktivias, kerja,  yang orang membutuhkan kalori, keuntungan belum tentu masuk. Hendaknya setiap manusia Indonesia, camkanlah dalil ini dalam benak.

Sekarang zamannya kanibalisme, demi keuntungan.

Mesin mesin harus tetap berputar, kendaraan semua jenis masih harus merajut setiap jengkal jarak, dengan beban yang semakin berat, demi keuntungan, ambang nilai karbohidrate semakin tinggi bagi segolongan manusia yang kurang beruntung.
Dan akan kelaparan.
Disini saya tidak menggugat orang cari keuntungan sebanyak banyaknya, tapi apa gunanya Nyonya Besar Hartati Murdaya Poo membuang uang 3 milliard rupiah untuk mendapatkan tanah yang akan ditanami kelapa sawit, singkong dan  sorghum 75. 000 hektare di propinsi Sulawasi Tengah,  sama dengan dua Kabupatan di Jawa Timur?
Hebatnya bila lahan itu diminta untuk diberikan kepada petani, tanah untuk digarap menghidupi keluarganya, Pemerintah Daerah alot, lelet, Putra Daerah lebih suka jadi PNS, atau Pegawai Perkebunan Sawit punya Nyonya Besar Poo ini
Mereka tidak sadar kebutuhan staple food akan dijual di Pesar Dunia, kepada siapapun yang mampu beli.

Mulai sejak dini di wilayah HGU (Hak Guna Usaha) raksasa di Lampung yang diberikan sejak zaman Orde Baru kepada Kroni Presiden Suharto, sudah diterapkan tradisi aturan Tuan Pemilik HGU ratusan ribu hectare. Ketegasan  itu sudah diterapkan dengan tradisi “kekerasan” peraturan dengan enforcement Pasukan Bersenjata yang untuk selamanya berkemah di sana (mesti saja secara bergilir).
Meskipun sementara ini aturan itu hanya melarang memetik mangga di lahan HGU (ya disemua tempat disana),  nanti akhirnya larangan untuk makan singkong, makan tebu milik HGU dengan hukuman setempat yang di- inforce oleh pasukan senjata, dibiasakan mulai sekarang, meskipun lapar kayak apa atau haus kayak apa.
Lahan 75 000 hektare lahan HGU steril dari rakyat umum, yang nanti bisa kelaparan, kecuali yang di pekerjakan oleh Perusahaan.

Apakah mereka tidak sadar bahwa bhumi subur ini (apalagi dengan kemauan Politik Pemerintah Pusat cq Departemen Transmigrasi  ( sudah diganti nama jadi Kemenakertrans) dan Terutama Pemerintah Daerah membantu tiap Warga Negara untuk bertani di lahan milik sendiri, saya kira sampai saat ini cukup untuk semua orang yang mau, harus difasilitasi sementara bisa, tidak hanya difasilitasi tapi diarahkan untuk bisa mencukupi pangan dari bhumi kita ini,  paling kurang untuk keluarganya sendiri.

Bahwa Si Penanggung jawab untuk mengupayakan pemerataan penduduk kesemua pulau-pulau, bahkan yang mendesak bukan hanya tekanan penduduk yang tidak seimbang, tapi sangat diperlukan agar siapapun yang butuh makan dan tidak mampu bersaing dengan kebutuhan mesin mesin milik Modal Besar seluruh dunia, dibantu melibatkan diri, menanam sendiri dan mencukupi diri sendiri dengan staple food dan menyediakan bagi orang lain, tanpai mengandalkan beli dari Pasar Dunia, yang sudah ditukangi oleh lembaga Finansial Dunia, (apa lacur, mereka adalah Kanibal, membuat sebagian penduduk Dunia tidak punya uang untuk membeli ).
Orang tidak perlu terlalu cerdas untuk mengeti betapa krusial-nya langkah ini.

Toh si Pencuri Kesempaan ini lebih memilih mempermalukan keluarga besarnya dan mengkhianati pamannya-bibinya,  untuk mendapat kursi yang empuk saja, tidak berjuang dari posisinya yang sangat strategis untuk Bangsanya di percaturan ini.

Sebagian besar dari Warga Negara Republik ini tidak bisa mengharapkan memperoleh kebutuhan pokok pangan staple food dari Pasar Dunia, karena azas Neoliberalisme, mengharuskan mereka bersaing dengan mesin-mesin dengan design berbahan bakar  minyak bumi yang semakin cepat langka, tapi design  mesin- mesin inilah yang sampai sekarang  kita punya.
Pasar  Pangan Dunia telah dikuasai oleh Modal Raksasa, Satu tempat di Dunia panen raya hanya untuk dijatuhkan harganya dengan dumping stock Dunia cukup dari conjungture harga komoditas itu, mendadak saja hasil panen raya itu ndak ada yang beli, wong sudah di-supply oleh gudang gudang diseluruh dunia yang dimiliki oleh Modal Raksasa ini, yang isinya secara berjangka sudah dimilikinya, kok kebetulan kepingin juga menjual komoditas yang sama, untuk satu tempat kekurangan pangan,  (gobloknya kok ndak bisa menghasikan sendiri),  akan dilayani pasar Dunia yang dimiliki oleh Modal Rahwana ini dengan harga yang setingkat dengan harga unutk mesin mesin yang memberi keuntungan, sederhana saja.

Multinasional Finance Corporation ini luput mendengarkan perintah Allah yang diberikan kepada Nabi-Nya yang terakhir:
“Menimbun pangan dan mendapatkan keuntungan dari maipulasi stock pangan adalah larangan Agama Islam”,  karena mudahnya dapat keuntungan besar atas penderitaan orang banyak, tapi itulah yang dilakukan pedagang besar atau kecil.     
Sekarang dijalani oleh Modal Raksasa Dunia, tentu saja tanpa diketahui oleh FPI (Front Pembela Islam), mesti saja

Jadi gimana ?
Ya nanam sendiri, dimakan sendiri,  syukur syukur bisa melayanai kebutuhan setempat, ndak usah nyari di Pasar Dunia.

Wahai orang yang menyanyikan lagu Kebangsaan Indonesia Raya setiap kesempatan yang cocok dengan khidmat, tahukah anda bahwa anda akan semakin sulit menyanyikan ….. bangunlah jiwanya bangunlah badannya…… untuk Indonesia Raya.
Karena sebagian besar bangsamu nanti  sudah akan lemas kelaparan.
Karena Bangsa anda menggantungkan keberadaan staple food nya dari Pasar Dunia, sudah jadi instrument menggoreng konjuncture harganya oleh Lembaga financial Dunia.
Meskipun tanah subur masih berlimpah.
Sepuluh tahun sampai akhir 2014,  Orde Reformasi masih tidur pulas tentang  perkara ini.
Tapi si Oknum berjamaah di Pemerintahan Pusat dan Daerah bejibun gratifikasi yang kebal hukum wong dibolehkan, menghadiahi HGU untuk bio ethanol dan bio diesel kepada Modal Raksasa Penguasa Dunia,sambil cuek terhadap transmigrasi*)

 
                                                                                             

0 comments:

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More