Sayang Sama Cucu

Sayang Sama Cucu
Saya sama Cucu-cucu: Ian dan Kaila

Minggu, 08 September 2013

AKAR WATAK KORUPSI



Manusia  makhluk Alam yang tentu saja tunduk pada hukum-hukum alam yang esensial –salah satunya adalah “mendua” – “rwa binedha” – prinsip “im-yang”.
Salah satu dari watak mendua, bahwa manusia adalah makluk Individu disatu sisi dan makluk sosial disisi lain, dua sisi yang harus ada, tak terpisahkan.

Watak individualis memang  reaksi  yang wajar dari  kenyataan  menghadapi  dahaga dan lapar, rasa sakit dan mati, dimana satu individu harus menanggung sendiri, inilah pokok pangkal  Individualisme, satu sisi dari satu mata uang – manusia yang masih hewani

Manusia telah mampu melewati tahap watak hewani  karena kemampuannya  mengendalikan diri  dalam  kondisi  rasa  lapar  dan dahaga,  dengan  berbagi,  semula dalam Masyarakatnya, kemudian dengan seluruh Alam Raya, dari sinilah tumbuh Jiwa, inilah benih Jiwa yang Agung. Berbagi adalah sisi mata uang yang lain.

Maka dengan ini Masyarakat Manusia telah memisahkan diri dari msyarakat Hewan umunya, bahkan menjadi puncak tertinggi pada piramida kehidupan.
Maka tumbuhlah sang Jiwa yang merupakan kekuatan dahsyat dalam hidup Manusia, mampu menempatkan  sakit dak kematian  dalam kesahajaan proporsional  setara dengan Manusia sebagai Rakhmatan lil alamin.  
Tidak mudah mencapai derajad itu, sebab.  Oleh karena ke-istimewaannya yang tersebut diatas satu individu bisa menonjol menjadi panutan, menjadi pemimpin, dia diberi hak untuk menentukan kemana pengikutnya akan dibawa dan hasil kerja sama dari para pengikut ini untuk apa.
Dorongan Individualisme manusia bila di ikuti dengan nafsu akan membawa kearah sebaliknya yaitu naluri hewani saja
Dari sinilah ada pepatah kuno orang Inggris “Power tends to corrupt”

Semakin lanjut perkembangan Jiwanya – Manusia semakin kuat memegang prinsip memuliakan “hidup”yang universal  dan menempatkan dirinya didalamnya

Semakin merosot atau mundur perkembangan Jiwanya – semakin terpuruk sang Jiwa terkurung dalan “hidup” satu individu yang semakin lemah, penuh dengan sikap nista dan nestapanya  ketakutan akan lapar dan dahaga  sehingga menenggelamkan keberadaan hidup dalam kesibukan  yang sia-sia,  seperti kehidupan hewan pada umunya.
Inilah retrogresi yang sangat merendahkan.

Individualilsme, karena takut lapar dan dahaga, takut masuk angin, tidak percaya pada Jiwa yang memperkuat raga, menjadi selingkuh, culas, tidak bisa berbahagia  tanpa “kenikmatan” badaniah  yang sebenarnya sekedar  alat pemikat  terlaksananya fungsi fungsi  badaniah -  Nah korupsi lah.

Boleh saja dalam hidupnya dia telah mampu menggotong kesana kemari se-koper green backs   semua baru gres  dengan  angka tiga digit setiap lembarnya konon ketahuan FBI namun dilepaskan, boleh saja dia tinggal di mansion Padang Golf yang asri dan wangi, boleh saja  jasadnya dibalut karya seni adhiluhung mengundang  menggendam dalam kecanggihan bahasa Perancis “Allure” guna mencitrakan jasad lingkaran Penguasa, tapi itu semua hasil retrogresi Jiwa, jiwanya kerdil terkotak mungil dalam individualisme yang sangat  memderita takut lapar  dan dahaga,  seperti  binatang Sauria, meskipun makan terus  menerus  ber ton ton   setiap hari toh musnah – korupsi, kolusi dan nepotisme – hanya bekal  hidup hewani.   Jiwa tidak ditumbukan  dalam  jasadnya yang cuma akan menjadi fosil taring dan kuku yang mengerikan, itupun kalau dia beruntung,   bila tidak ilang saja, hanya  begitulah dia.  
Islam mengajarkan utuk manusia mengikuti harkatnya yang paling esensial yaitu menjadi Khalifah Allah di Allah di Bhumi dengan azas Rakhman dan Rakhim, sebagaimana yang diajarkan untuk memulai suatu perbuatan apapun dengan “Bismillahirakhmanirrakhim”
Apa yang kita saksikan di Dunia Arab kini adalah kejadian yang sangat mengenaskan, mereka yang telah satu setengah abad menjalani Islam dengan “kaffah” artinya sepenuh-oenuh-nya, semua do’a dan ikrar dalan sholat dan do’a diucapkan  dalan bahasa Ibunya, kok malah kroupsi kekuasaan, korupsi harta benda Negara untuk keperluan keluarga dan kroninya, kelompoknya dst.
Saya hanya mempunyai kesimpulan, bahwa sebenarnya disampaing ke- kaffah – annya sebenarnya mereka tidak tahu apa apa mengenai ajaran Islam. Tidak mengerti sama sekali selama ribuan tahun dan masih bernafsu besar untuk mengajari kepada masyarakat lain. Yang inti sarinya hanya kulit kulit ajaran Islam,  hanya penampakan dari luar saja, sudh berani menghalalkan darah mereka yang dianggap menyalahi azasnya.
Ajakan saya kepada umat Islam di Indonesia, marilah kita berusaha untuk mendalami pegertian dengan otak maupun hati ajaran akhir zaman ini dengan kemampuan bangsa ini yang memang sudah berpengalaman selama ribuan tahuin sebelumnya mengunyah semua ajaran Agama di Dunia ini kerena letak Geografis yang menguntungkan untuk ini, Marilah bersabar dan berhati dingin untuk mengembangkan agama Islam berdampingan dengan ajaran lain yang memang ada disekitar kita, semoga ajaran Islam tetap menunjukkan sinarnya yang sebenarnya, rakhmatan lil alamin.
Negara adalah tempat buat berbagi  untuk terhindar dari lapar dan mendapatkan kenyang, Negara adalah tempat berbagi susah dan senang,  dalam sakit dan  sehat sejahtera, begitulah demi tumbuhnya Sang Jiwa dalam hidup Manusia. Yang kemudian mampu menjadi berkah Alam Raya.

Individu yang menonjol dalam segala bidang bertebaran sepanjang sejarah umat manusia. Anggapan yang sangat tidak adil bila kelebihan manusia manusia istimewa ini adalah melulu bakat yang sudah melekat sebagai mnusia istimewa.
Masyarakat manusialah yang memberikan sumbangan terbesar dari existensi dan keistimewaannya. Tidak ada makhluk setingkat Mammalia yang bayinya begitu lemah dan tidak berdaya  lahir tanpa pelindung dan anggauta badan memungkinkan segera lari mencari puting susu ibunya, hanya bayi manusia, atau segera dimasukkan kantong dibagian perut induknya  dimana keamanan  kehangatan dan puting susu secara  alami  sudah tersedia  dari golongan Marsupialia, tidak demikian bayi manusia – bayi ini dibekali kasih yang sadar sampai  usia lima tahun oleh bapa-ibunya dan masyarakatnya  sampai akhir hayatnya,  kasih, rakhman dan rakhim  adalah asset paling berharga dari survival  bayi manusia– tidak muncul sendiri jadi individu yang istimewa.
Sebenarnya dari semula dia menjadi satu individu yang benar benar sendiri hanya dalam hal  sakit dan mati, dalam dua hal ini benar benar dia sendiri, orang lain tidak  akan ikut merasakannya.
Dalam perkembangan masyakat manusia kemudian bahkan “sakit” pun jadi urusan masyarakat, diringankan, ditolong,  hanya akhir akhir ini  saja hal sakit ini menjadi lahan “pemerasan” yang dilindungi Undang-undang  yang diperagakan  secara realistis oleh RS OMNI Jakarta terhadap Ibu Prita  th 2010. Jutaan rakyat Negeri ini jijik dan merasakannya sendiri.
Benar benar mengherankan apabila setelah jadi manusia dia menuntut hak milik yang mutlak dari  hasil  “upayanya”  berupa benda benda dan hasil  intelektualitasnya. 
Sebenarnya keagungan Jiwa adalah Mahkota dari Individu – ini adalah transcendental highway bagi  Individu yang istimewa. Inilah domain Individualisme yang layak.
Untuk hanya mempertahankan haegemony nya terhadap hajat hidup orang banyak guna mencari  keuntungan , Kapitalisme tidak layak mengharu biru kenyataan bahwa existensi Manusia yang mendua
dan menjadikan individualisme benteng pembenaran mereka, hanya karena memang azas “berbagi” tidak cocok dengan doktrin mencari keuntungan  hangkara murka yang mereka anut.
Mereka bisa mencari pembenaran dengan dalih yang lebih  sesuai, misalnya berbagi emas dengan rakyatnya  yang sekarang menjelma jadi  kualitas hidup  bukan sekedar emas, mosok Kapitalisme harus berbagi kualitas hidup dengan rakyat Negara lain yang miskin, ngaco dong, sangat dihindari itu sangat mahal, makanya hangkara murka.
Seperti  Bangsa Romawi yang menggunakan emas dan perak  sebagai mata uang harian mereka  untuk membayar dukungan warganya  yaitu sekedar anggur dan adu gladiator, sedangkan di wilayah jajahannya bahkan Jesus nyawanya hanya dihargai 40 keping perak saking sulitnya cari emas, semua emas perak telah diangkut ke Roma, hanya anggur dan perkelahian di negri jajahan hanya seharga beberapa keping tembanga.

Kaum Neoliberal – kaum yang  memperjuangkan  Indivdualisme mutlak – sesuai dengan pesan Ny. Hillary  Clinton. 
Sejak seratus tahun yang lalu memelintir azas berbagi menjadi hanya berbagi kerugian misalnya kerugian Bank Centuri, kehancuran perang di Irak, tapi tidak berbagi keuntungan  bank bank yang dapat dana dari duit rakyat,  kehancuran oleh perang demi ngototnya kaum ini  hanya dibagi antara rakyat negeri yang diperangi saja, keuntungan jarahannya berupa monopoly hajat hidup manusia banyak hanya untuk kelompok kecil Rahwana dan para kroninya  diseluruh Dunia yang  kepada mereka itu di tiup-tiupkan Sanjungan  pujian Dunia Ilmu Ekonomi Internasional tentang kecerdasan mereka  kepada rakyat pelengkap penderita seluruh Dunia, supaya kewenangannya untuk mengorbankan hajat hidup orang banyak tidak ditanya tanya, musti benar enggih ndoro. Amin  (*)


 

0 comments:

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More