Sayang Sama Cucu

Sayang Sama Cucu
Saya sama Cucu-cucu: Ian dan Kaila

Sabtu, 06 Desember 2014

KEMELUT DALAM PARTAI GOLKAR 2014

KEMELUT DALAM PARTAI GOLKAR TANUN 2014. Partai Golkar sediri berdiri setelah Presiden Suharto lengser tg 21 Mei 1998. Kekuasaan Presiden Suharto diatas rakyat Indnesia adalah kekuasaan mutlak, dengan adanya GOLKAR atau Golongan Karya yang solid terorganisasi bersama dengan organisasi Pemerintahan dari Presiden sampai RT/RW. Di-istilahkan rakyat tidak tekotak-kotak lagi, atau masuk satu peti, yaitu peti GOLKAR, istilah buruh dihilangkan diganti dengan Karyawan. Dirangkapi dengan organisasi Angkatan Darat secara teritorial mulai dari Koti ( Komando Tertinggi yaitu Presiden sebagai Presiden Panglima Tertinggi) sampai Kodam ( Komando Daerah Militer) – mendampingi para Gupernur, Korem ( Komando Daerah Karesidenan) mendampingi para Residen, Kodim mendampingi para Bupati, Koramil ( Mendampingi para Camat), Babinsa ( mendampingi para Lurah). Merangkapi Pemerintah sipil dalam arti dapat mengatasi dan mengesampingkan Aparat Negara yang terikat pada UU Sipil, diberlakukan UU Militer, untuk perkara apa saja, terutama yang berbau keamanan Negara dan Politik, sangat luas dan fleksibel. Sedangkan para Aparat Pemerintahan sipil harus otomatis jadi Pembina GOLKAR daerah wewenang mereka masing masing. Jalan kesetiap desa diperlebar, hingga mobil bisa masuk dengan jembatan diperbanyak. Jadi walau sekecil daun jatuh, Pemerintah bisa dengar dan bereaksi cepat dengan jaringan rangkapnya. Kan dasar organisasi GOLKAR adalah Panca Sila, Undang Undang Dasar tahun 1945, dan penghayatannya dituangkan dalam crash peogramme kursus P4 ( Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pencasila ) mulai dari Pakyat biasa sampai anggauta Organisasi Pemerintahan dan Pejabat Pekerjaan umum Pendidikan dan Pelatihan yang diselenggarakan Pemerintah untuk Umum maupun Aparat pemerintahan (PNS – Pegawai Negeri Sipil), Pekerjaan Umum Teknis dan Kesehatan. Semua sudah ditatar dengan P4 sesuai dengan tingkat wewengnya. Organisasi GOLKAR dan organisasi yang menjadi Pembantunya dalan semua bidang, Kepemudaan, Petanian, Perikanan dan Pertahanan Sipil dari Perusahaan maupun Mahasiswa semua dibawah pengarahan GOLKAR. Menuju ke masyawarah dan mufakat, rapi tanpa gejolak pro dan contra. Semua demi ketenangan dan kepatuhan pada Pimpinan tertinggi. Untuk itu telah terlaksana atrocities dan genocides rakyat di pedesaan kan kota kota Pulau Jawa dan Sumatra Utara tahun1965-1967, delanjutkan dengan menghilangkan hak hukum dari semua yang dianggap anti Panca Sila sampai th 1997. Sebagai tumbal Kekuasaan Orde Baru dikorbankan kira kira sebanyak 2 juta jiwa guru guru sekolah desa, pegawai kehutanan, dan petani penerima tanah redistribusi UU Pokok Agraria 1960 dari perkebunan perkebunan Hindia Balanda terutama bekas lahan tebu – sawah berpengairan kelas satu di pulau Jawa, terutama mereka adalah pendukung Bung Karno, yang dimanipulasi oleh PKI bahwa redistribusi tanah perkebunan dan sawah ini hasil upaya mereka,yang kemudian jadi tertuduh makar musuh Negara, membunuh sepuluh jendral dan kolonel, dua perwira ABRI. Sebenarnya Partai Golkar mewarisi kemapanan ini, sudah dengan banyak korban. Akibatnya rakyat sudah sangat takut karen pembunuhan tanpa proses peradilan dan runtuh kemuannya. Satu satunya warisan yang tidak ada lagi adalah Dwifungsi ABRI karena di biusnya Dwifungsi Abri ini pingsan selama reformasi pasca rezin Jendral Suharto, yang merupakan kekuatan andalan GOLKAR. Karena ABRI secara organik sudah kembali ke Chitah. Seperti GP Ansor dan Banser yang harus turut NU kembali ke Chitah. Lha kok sekian tahun sesudah jadi Partai, jadi Front Pembela, ada terorisme yang berdasarkan fanatisme Agama, disisi lain jaman reformasi ini dimana semua orang mengikuti dengan antusias jalannya Revolusi Mental yang dicanangkan oleh Presiden terpilih yang baru beberapa bulan, Partai Golkar jadi ricuh sendiri sampai memecat pentolan kader kadernya, pecah sangat memalukan. Bahkan kader dari tingkat bawah menengah dan tingkat atas, semua meninggalkan P4. Lha iya, mestinya ARB waktu kampanye jadi Presiden tinggal membuktikan saja bahwa dia konsekwen dan gigih memperjuangkan terlaksananya UUD 45 dan sangat gandrung dengan P4, bukan menceriterakan bahwa Ayahnya meskipun bukan sarjana telah mempekerjakan 10 000 orang, mestinya cerita kampanye itu harus sampai kepada percontohan hubungan P4, bagaimana cara mempekerjakan karyawannya, artinya apa benar benar sesuai dengan prototype dari P4 zaman itu ?. Baru dipamerkan, bila tidak, ya sama saja dengan Perusahaah Penjajah BPM di Palembang, jangan jangan pemegang kentrak “outsourching” dengan perusahaan minyak bumi Kolonial Belanda BPM ? . Lha gitu kok dipamerkan. Kita cuma mengira orang tua beliau orang cerdik dan sangat beruntung. Lha Minarak Lapindo dengan keluarga Bakrie adalah batu ujiannya sekarang, apa telah menghadapi konsekuensi ngebor sumur gas cara murahan ini yang berakibat terusirnya rakyat dari lahan dan rumah sumber pencahariannya , seluruh wilayah 600 desa dari 4 kecamatan. ratusan Ha sawah kelas satu tenggelam dalam lumpur apa diselesaikan dengan watak dan perlakuan gentlemen yang anggun? Jangan mengambil cotoh keberuntungan keluarganya thok. Sayang hal yang se- fundamental seperti itu tidak terlihat oleh beliau. Bila saja, sesudah Anas Orbaningrum yang telah menjalani lakon utama di Partai Demokrat dan ber-andil besar dalam menyeret turun kredibilitas Partai Demokrat, apalagi temannya sesama didikan Orde Baru sebagai sesama derajad kasta rezeki, sebagai Menteri zaman Pak Harto, kok masih mau berkiprah lagi di Partai Golkar apa dikira rakyat tidak tahu seberapa dia ber-anas ria? Mau diseret kemana Partai ini ? Sudahlah, Konggres Partai Golkar mau dimana saja kapan saja mbok ingat kembali pada P4 dan UUD 45 Yang sudah lama jadi warisannya, sudah sesuai apa enggak tingkah polah kader kader nya yang masih tinggal di Partai Golkar atau menyeberang ke Partai lain. Tunjuk-kanlah kamu ini siapa ? wong sudah dimulyakan 32 tahun, damanja dituruti semua keinginannya oleh Penguasa Orde Baru, kok tidak bisa jadi rakhmatan lil-latent bagi rakyat Indonesia ? Apa seperti pepatah Melayu : Setinggi tinggi burung gagak terbang, turunnya yak ke bangkai juga *) sumber bacaan: google, politik kompasiana.com 2013/10/29 ; google, bwifungsi Abri, azas tunggal hingga P4

2 comments:

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More