Sayang Sama Cucu

Sayang Sama Cucu
Saya sama Cucu-cucu: Ian dan Kaila

Kamis, 29 November 2018

SEBAB PINDAHNYA KERAJAAN DEMAK BINTORO KE PAJANG

PENDIRIAN KESULTANAN ISLAM DEMAK BINTORO DAN PRODUKSI BERAS HINGGA SEKARANG.

EXPORT BERAS DIRINTIS  OLEH KOMUNITAS ISLAM DI GRESIK DENGAN  MENCETAK PERSAWAHAN  RAWA

ISLAM SEBAGAI ILMU – DAN PENERAPANNYA
Kok jauh banget, antara pendirian Kesultanan Islam yang pertama, produksi beras, dan ilmu yang digunakan para Wali Islam pulau jawa ?
Sunatullah di alam raya ini, menurut Islam sudah ada sejak alam ini diciptakan. Sepanjang sejarah manusia Allah mengutus para Utusannya berjenjang, dari yang masih bluluk menjelaskan pengetahuan yang sangat sederhana sampai ke pengaturan kehidupan dunia -akhirat yang rumit, sudah merupakan kelapa.
Cak Aiun Najib di satu ceramah warga ma’iyah, di siarkan lewat you tube, menjelaskan tentang ilmu ilmu yang dibawa para Nabi itu dari yang tertua sampai Rasulullah Muhammand salallahu allaihi wassallam, Nabi dan Rasul penutup, bisa digambarkan seperti keadaan buah kelapa mulai dari  bluluk ( pentil kelapa sebesar genggaman bayi), cengkir ( bluluk yang lebih besar sudah mangandung  air kelapa belum berasa manis), degan ( kelapa muda dengan isinya dapat dimakan) Kemudian kelapa yang sudah sempurna berkulit ari yang kedap air, kemudian sabut kelapa, berserabut yang mengandung rongga rongga udara dalam gabusnya untuk mengapung  dilaut, dibawahnya ada tempurung keras, didalamnya berdaging yang mengandung santan/persediaan makanan bagi embryo, tahan berbulan bulan mengapung dilaut tanpa  embryonya  yang dikandung menjadi rusak. Artinya siap tumbuh di pantai mana saja. 
Kalamullah  dari Rasululah penutup ini juga mengandug ilmu  untuk membuka seluruh sunnatullah.
Ayat pertama dari wahyu Allah adalah “bacalah” kalam illahi diwahyukan lewat malaikat jibril kepada Rasulullah penutup, dan bacalah sunnatullah pada seluruh ciptaannya.
Sudah saya singgung di blog ini mulai th 2011 mengenai penanaman padi di pulau Jawa, bahwa pendatang dari luar sejak zaman neolithicum di  dan zaman perunggu 1000 -500 th. sebelum mesehi, telah mengubah cara menaman padi di pulau jawa.  Untuk menancapkan existensimya di masyarakat baru. Kebetulan yang menjadi suatu keharusan untuk menyertakan anggauta masyarakat setempat, karena masyarakat setempat telah mampu menternakkan banteng liar ( Bos banteng ) hewan keluarga sapi asli Pulau Jawa untuk tenaga tarik, jauh sebelum kedatangan mereka dari India Belakang. Jadi memang ada kesesuaian tingkat budaya, mudah saling mengerti.  Dilain lokasi di dunia, masyarakat pendatang dengan teknologi baru melenyapkan masyarakat lama, seperti terbentuknya masyarakat Amerika Serikat, dengan mengalahkan masyarakat kulit merah. Orang Spanyol dan Portugis memunahkan masyarakat Aztek dan masyarakat Inca di Amerika Selatan. Ini bisa terjadi, meskipun orang asli Amerika Selatan, di Pegungan Andes telah menternakkan hewan aslinya, Lama. (Llama glama ). Toh kesesuain tingkat budaya dengan pendatang masih terlalu jauh, sehingga mudah tersulut salah pengertian antara orang setempat dan pendatang, debarengi dengan sikap culas dan srakah pendatang ini, menjadikan hubungan kedua belah fihak mudah kacau, kembali ke hukum rimba, seperti di Amerika Utara antara bangsa bangsa dari Europa dengan kaum Indian
Semula orang setempat pada zaman itu di pulau Jawa, menanam padi di huma, dengan sistim membabat hutan/semak dan dibakar pada msim kemarau, kemudian pada permulaan musim hujan baru benih padi ditugal, benih padi dimasukkan lubang tugal dan di injak, supaya kontak dengan tanah basah baik, sehingga cepat berkecambah. Oleh penulisan sejarah dinamankan cara bertani slash and burn. Kadang dimulai dengan semacam tongkat kayu yang ditarik oleh sapi alias banteng jinak.
Bila kesuburan tanahnya sudah mengurang sekelompok petani ini akan pindah ke hutan lain. Kesulitan hebat terjadi, bila pembakaran semak dan kayu kurang panas karena tertiup angin maka biji bijian gulma tidak mati, sesudah hujan turun, akan ikut tumbuh  lebih subur dari benih padi yang ditugal. Maka harus disiangi sangat awal, karena gulma akan segera mencekik bibit padi yang baru tumbuh. Sulitnya penampakan antara tumbuhan padi  yang baru tumbuh dengan benih gulma bangsa rerumputan yang baru tumbuh bentuknya sama. Belum gangguan babi hutan mencari cacing, tikus pemakan batang padi yang lagi membentuk rumpun dan bunting, dan akhirnya burung burung  sebangsa pipit dan gelatik datang berombongn sangat banyak. Pasti pulau ini pada saat itu belum dinamakan Pulau Jawa.
Pada akhir zaman Neolithicum masuk ke zaman perunggu kira kira kira 1000 - 500  th. sebelum masehi,  baru diberi nama pulau Jawa, dari kata  jawawud atau padi. Setelah para pendatang  dari  dari atas angin, anak benua India datang dan bermukim di pulau ini, merubah sistim menanam padi dengan caranya, menggunakan bibit padi yang berasal dari sana, padi bulu bermalai panjang dan umurnya juga panjang hinggi 5-6 bulan, sekarang dinamakan varietas indica. Jadi  varietas, indica, Oriza sativa var. indica. Mulai saat itu varietas ini populer larena tidak rontog, juga ditanam di huma, dengan ditugal.
Bercampur dengan varietas setempat yang asli dari P Jawa. Pendatang dari India belakang, dengan  dengan perahu besar bercadik seperti relief di candi Borobudur, mulai mengorganisasi mencetak sawah,  mnyertakan  petani huma setempat, mereka pilih lahan dilereng pinggang sebuah bukit atau gunung, pada ketinggian 500-700 meter diatas muka laut. Dimana disitu sudah ada penduduk setempat yang berhuma menanam padi. Mereka mulai mengorganisasi pekerjaan mencetak sawah berundak. Dipilih lereng yang landai yang  dipotong oleh sungai dari hutan diatasnya yang berdebiet  kecil saja. Sungai  diatas lembah miring yang dipilih, biasanya kipas lahar purba yang bebatuan dan pasir vukaniknya sudah melapuk, jutaan tahun merupakan hutan tropis lereng landai berbetuk kipas. Dari hulunya ada  sumber, dibendung dan dialirkan sepanjang punggung lereng dengan saluran aliran air yang dibuat diturunkan melandai. Dilahan dibawah saluran baru yang melandai ini dicetak lapik lapik sawah berundak dari atas kebawah dengan bantuan air, cangkul dan garu dengan hewan tarik bila ada, lengkap dengan pematang untuk menahan air, baru dialirkan turun berundak kebawah menurut kontour, dan berkelok atau melengkung kesamping menurut kemiringan lokasi, makin miring makin sempit, sedang makin landai satu area makin lebar lapik sawah ini dan makin persegi. Saya kira penggunakan ternak besar banteng yang sudah dijinakkna penduduk setempat sebelum kaum pendatang tiba, (yang kemudian membawa sapi zebu dari India). Pendatang baru ini,  suku Dravida  dan sangat langka suku Aria, sebagai pemuka agama Hindu, pekerjaan ini melibatkan penduduk setempat yang sudah menternakkan banteng menjadi hewan tarik, karena kurang tenaga  maupun penunjuk jalan sehingga keamanan mereka bisa terjamin. Benar saja dengan bantuan air yang menggenang bisa dengan mudah mencetak lapik lapik sawah dengan pamatangnya, dibantu oleh air dari saluran yang berasal dari bendung kecil dan saluran air yang sengaja digali diatasnya melandai,  sehingga banyak lahan lapik sawah padi bisa disiapkan sebagai bubur lumpur yang rata air dan bebas gulma. Untuk mengisi lapik lapik bubur lumpur ini perlu menyiapka benih padi yang disemaikan sebelumnya, dipindah antara umur 25 – 30 hari, sebagai bibit sdemaian mungkin untuk varietas zaman itu lebih lama.
Pembaharuan teknik penanaman padi ini yang di rintis pendatang baru mendapat sambutan baik dari peduduk setempat, karena bisa menanam padi dua kali setahun, dan sangat ringan dalam peberantasan gulmanya, sebab mulai di tanam di lapik sawah padi sudah besar sedang air dapat dipertahankan tinggi, sehingga gulma tidak dapat tumbuh. Pendatang baru in diterima sekalian membawa budayanya, yaitu Hinduisme. Meskipun terjadi sincretisme dengan kepercayaan setempat, yang akhirnya membuat risih juga terhadap para Brahmana asli dari India ( pengamatan Idesubagyo, di Bali), belakangan ini, kedatangan Brahmana dari india yang menetap disana, mulai dengan membagikan buku dengan teks asli Bhagawat Gita, sambil mengembalikan kemurnian Hinduime, sekarang juga Anand Krisna terpidana pelecehan seksual juga bermukim disana, bukan tanpa sanggahan dari Ida Pedanda Hindu Bali tentunya. (Kepercayaan Hindu Jawa di Tengger – gunung Bromo jawa Timur, orang Tengger tidak ngaben jenazah kaumnya melainka membakar bunga bungaan sebagai gantinya)
Cara ini berabad abad merupakan pendukung ekonomi dan politik dari kerajaan Hindu yang besar besar zaman berikutnya, semua di padalaman pulau Jawa pada ketinggian lereng gunung 300 – 700 meter dari permukaan laut, mulai dari kerajaan Galuh, Pakuan di tanah Pasundan, kemudian kerajaan Sima di Jawa Tengah, Mataram Hindu baru pindah ke Jawa timur perpindahan terjadi karena bencana letusan gunugn Merapi, merusak dan menghabiskan petaninya terbunuh oleh awan panas “wedus gembel”, yang dikenang sejarah dengan mahapralaya  zaman Mpu Sindok.  Di jawa timur melahirkan kerajaan Singhasari salah satu rajanya yang menonjol Paduka Erlangga, kemudian kerajaan dipecah menjadi dua Janggala di utara dan Kadiri di selatan. Baru kemudian timbul kerajaan Singhasari dari wilayah kekuasaan raja kecil Tumapel – Tnggul Ametung, direbut oleh Ken Arok seorang asuhan dari sosok Brahmana. Tumbuh jadi kerajaan Singhasari kedua dengan Kertanegara sebagai Raja, kemudian terbunuh oleh serangan kilat dari Kadiri oleh Jayakatwang.
Kerajaan Kadiri dengan Jayakatwang jatuh oleh serangan dari armada jung perang kerajaan Kubiai Khan yang berlayar dengan jung besar, dengan mudah mebawa meriam perunggu dengan armadanya. Armada penaklukan ini mudik sungai Brantas sampai Ibu Kota Kadiri, Ibu kota kerajaan Kadiri dipinggir sungai Brantas, hancur oleh tembakan meriam armada jung Kubilai Khan, dan Jayakatwang tertawan, pada saat armada jung  perang ini dengan tergesa gesa balik menghilir, sarat dengan harta rampasan terutama emas dari petambangan emas di pegunungan kapur Selatan, dekat Trenggalek/Wengker. Karena khawatir armadanya kandas  di hulu sungai yang airnya bisa surut dengan cepat pada bulan bulan kemarau. Armada jung perang segera menghilir sunga Brantas.  Malangnya, aramada china diserang dengan panah api dengan crossbow/panah gajah a’la kerajaan wangsa Rama dari Thailand dari kedua sisi tepi sungai yang tidak selebar sungai Mekong atau sungai Barito, sepanjang tepi sungai  yang mencapai 60 km panjangnya, oleh rakyat pinggir sungai dipimpin oleh putra putri Kertanegara, dengan Pageran Wijaya sebagai menantu sulungnya.
Karena beberapa tahun sebelumnya, Wijaya diampuni oleh Jayakatwang atas jasa Aria Wiraraja, malah diangkat jadi manggala Pemburu satwa menjangan kijang dan babi hutan yang banyak di Bumi Tarik, sekalian menjaga keamanan sungai Brantas. Kondisi ini mengilhami putra putri Kertanegara untuk menggerakkan penduduk tepi sungai Brantas membuat panah gajah berujung obor.  Alih alih mencegat armada jung perang waktu mudik ke Kadiri, malah menghujani dengan  dengan anak panah besar besar berujung obor ke armada jung perang, ketika balik menghilir, sepanjang sungai dari kedua tepian sungai, banyak jung meledak, Jayakatwang segera dipenggal, oleh laksamana Manchu dan sang laksamana bunuh diri, akhirnya  harta rampasan jatuh ke Wijaya.  (dari idesubagyo blogspot,com, cerita bersambung “Matahari terbit di Wilwatiktapura” th 2013)

Pembentukan masyarakat baru, masyarakat Islam pada abad ke 12.
Ribuan tahun sesudah kejaan Hindu di Jawa, melandasi eksitensinya dengan kekuatan ekonomi persawahan berundak, di pinggang gunung hingga abad ke 12 masehi. Terbukti dengan pendirian ibu kota kerajaan di lokasi lereng gunung pada ketinggian dari permukaan laut antara 500 – 700 meter dari permukaan laut, di pedalaman, mendekati sawah sawahnya.

Komunitas masyarakat islam di Gresik, mulai kerajaan Hindu Singhasari dibawah Paduka Erlangga, setelah berkembang jumlanya, mulai bergotong royong, mencetak sawah di tanah yang sudah diterlantarkan oleh Kerajaan Hindu karena sangat angker  (mungkin banyak nyamuk malaria), melibatkan para santrinya yang sudah cukup banyak mencapai ribuan dan bersemangat, dari kaum sudra yang bertani dan waysia di pinggir pantai  sebagai nelayan dan pedagang. Para waysia yang berdagang antar pulau segera belajar membaca huruf hijaiyah dan huruf jawa dari para ulama islam di komunitas Islam Gresik, belajar pembukuan lajur dengan praktis menggunakan angka huruf Arab ditulis dari atas kebawah daum lontar, bisa mencapai 7 digit, membuat surat perjanjian dagang dan invoice, berdagang sejajar dengan pedagang lain suku dan bangsa. Sebab ada larangan dengan hukuman berat bagi kaum bawah untuk belajar membaca dan menuis aksara bahasa kitab suci Wedda, bahasa sansekerta. Inilah ilmu para ulama islam, untuk mebaharuan masyarakat.
Sedang kaum sudra medapat petak sawah pasang surut yang dicetak dirawa rawa Lamongan dan Manyar sampai Sedayu, muara Bengawan Solo. Pencetakan sawah dari rawa rawa ini menggunakan teknologi dari Babylonia, yang dibawa oleh para Wali islam dari sana, karena mereka dari Sinkiang, lebih dekat dengan Irak dan Iran, memungkinkan perjalanan ke Nusantara dengan menghilir sungai Yang Tse ke Laut Kuning selatan, Kemudian lewat jalur pelayaran yang ramai antara Nusantara dan Pelabuhan di China Selata. Saya perkirakan para Wali Islam sudah dapat mengusir nyamuk Anopeles dengan minum bubukan jaddam, jaddam nama bahan obat dari Arab sehingga keringat pengguna jaddam ini tidak disukai nyamuk.  Atau sudah menemukan repellant  penangkal nyamuk malaria yang sejarawan tidak pernah meneliti, menurut naluri rakyat, misalanya rebusan daun papaya, daun mimba, atau sambiloto dedaunan obat yang pahit lainnya, menjadikan keringat mengadung repellant terhadap nyamuk malaria. Kelebihan sawah rawa dekat Gresik ini dapat dipanen dua kali setahun dan dapat ditransport memakai perahu yang berlunas datar menjadi lebar dengan draft yang dangkal saja lewat kanal kanal yang digunakan juga untuk mengairi, dan mengeluarkan air dari sawah sawah, juga mengangkut gabahnya ke penyosohan gabah langsung ke belabuhan pelabuhan tempat jung jung perahu besar  cina dengan draft 2- 2,5 meter berlabuh jangkar. 
Dari abad ke ke 12 hingga abad ke 15 kerajaan Majapahit surut pamornya karena barang dagangan yang dibutuhkan oleh kapal   kapal jung  Cina yang besar besar hingga 300 DWT ialah beras karena ekonomi pertanian di daratan China sangat terganggu oleh perang antar kerajaan kerajaan yang berkepanjangan, atau salah musim berturut turut. Sedangkan perahu bercadik dari India dan dhow dari Parsi juga terhalang menjadi mangsa empuk  bajak laut dari galleon galleon Portugis dan Spanyol, yang sudah menemuka jalan mengitari benua Afrika akhir abad ke 15 M.
Sedangkan Majapahit mengandalkan pendapatannya dari perdagangan pemrosesan dan penimbunan rempah rempah dari seluruh Indonesia.( Matahari Terbit di Wilwatiktapura di idesubagyo blogspot,com th 2013 ). Nampaknya para Wali Islam tidak mengabaikan kesempatan untuk melebarkan sayap komunitas islam yang sudah mempunyai pengalaman mencetak sawah rawa. Pada akhir abad ke 14 hingga awal abad ke 15 menemukan rawa rawa dangkal yang jauh lebih luas di lembah antara gunung Kendeng, gunung Merapi Merbabu dan gunung Telomoyo, satu lembah yang aliran sugainya tertutup oleh gunung Muria di Utara, menjadi rawa yang lebih lebar dan sangat menjanjikan untuk dicetak menjadi sawah.
Sedangkan para santri di Gresik sudah biasa mencetak sawah rawa  di Lamongan hingga Sudayu sekian lama sudah berkembang beranak cucu sangat banyak. Para wali Islam kala itu beniat dengan bulat dan bersemangat untuk membuka rawa rawa di Demak Bintoro dengan menggerakkan generasi ketiga dan ke empat  anak cucu para santri yang membangun rawa di Lamongan dan Manyar menjadi sawah, mengajak mereka membuka rawa di wilayah demak Bintoro.  Approach para wali Islam waktu itu, mengajak berjihad membuka sawah dirawa rawa Demak Bintoro, tanpa kejelasan, kepemilikan sawah yang tercetak itu, bakal lain dari sawah rawa di Lamongan dan Manyar.
Ada Kesultanan yang harus didukung dengan beaya besar seperti layaknya satu Negara.
Akan tetapi isyarat ke situ kurang mendapat perhatian karena contoh Kerajaan sebelumnya, Majapahit, yan masih dengan budaya Hindu, selama tiga abad hanya mengandalkan perdagangan rempah rempah, mengabaikan contribusi hasil pertanian sawah sebagai income Negara Dagang ini.
Kebetulan Kesultanan Demak Bintoro juga mengalami sebentar ramainya perdagangan beras, dan kelebihan sawah rawa yang baru dibuka, dirawa rawa Demak Bintoro, jauh lebih besar dari muara bengawan Solo.
Dalam beberapa tahun Pemerintahan Kesultanan Islam yang Pertama sudah berdiri kokoh oleh dukungan ekonomi yang kuat, hasil beras para pertani yang di bawa pindah dari Gresik dan penduduk setempat – sedangkan Kasultanan Demak hanya jadi exporter beras dimuat ke jung  jung besar yang berlabuh di pelabuhan Jepara, muara dari saluran saluran pematus rawa, kemudian pelabuhan ini juga mengexport gelondong jati dari lereng gunung Muria.
Rupanya Kasultana Islam pertama ini sangat sulit mencari landasan aturan memonopoli perdagangan beras yang sudah semakin besar. Semakin banyak kaum pedagang bermodal sangat besar bermukim di Jepara Semarang dan Demak, dengan satu satunya kepentingan mendapatkan beras. Tidak heran Oei Tiong Ham, pada  abad 19, sudah zaman penjajahan Belanda, sebagai pedagang besar beras mulai dari Semarang, jawa tengah. ahirnya mendapat HGU untuk medirikan pabrik gula, setara dengan para Susuhunan, tapi pemasaran di Europa dan Amerka tatap belanda.
Jepara, Semarang dan Demak semakin makmur dan banyak pedagang china yang bukan dari Sinkiang tapi pedagang dari Guangdong, Hokian melakukan stock pilling beras sendiri di Jepara maupun  Kudus dan Pati, karena jaraknya dekat pelabuhan dan mudah mencapai sawah. Terbukti dengan adanya gerobak kuda pony ( berarti sudah ada jalan yng dipiara dan jembatan pendek) dan pakaian serta tutup kepala penduduk wanita  Demak, dan sekitarnya sangat mirip dengan pakaian dari daerah Hokian.
Sedang Pemerintahan Sultan Sultan Demak yang hanya tiga generasi masih dibebani pertengkaran mengenai suksesi Sultan, yang dipilih oleh para pemuka Islam ( wali ) dan para tokoh yang dianggap tua dari Kesultanan. Kas Kesultanan sering deficit.
Bagaimana sejarah berulang.
Kebiasaan cara pedagang untuk membina hubungan quangxi dengan para pemuka masyarakat marak menjadi jadi, apalagi setelah ada bencana hujan besar dan hujan abu yang menyisakan lapisan debu tebal, merusak sistim pengairan dan pematusan dengan pendangkalan dan longsor, menutup saluran pematus utama di kaki  barat daya gunung Muria sepanjang beberapa kilometer – Gunung Muria, saluran pematus ini sagat rentan terhadap pendangkalan dan longsoran dari atas kaki dan badan gunung yang menutupi lembah Demak sehingga menjadi rawa. Segera tahun berikutnya sangat mengurangi pasokan beras. Kasultanan Demak tidak memperoleh bagian pengadaan beras ( persis seperti Ibu Dr Leni  Sugihat yang dicopot pada pemerintahan presiden Jokowi, dari jabatannya karena gudang gudang Dolog dan Bulog masih kosong, meskipun penen raya sudah  usai)  karena beras sudah di borong langsung oleh pedagang quangxi dengan pejabat. Inilah yang dinamakan bagaimana sejarah berulang.

Kasultanan Islam yang pertama di Pulau Jawa, dengan sumber beras melimpah di Asia Tenggara, setelah tujubelas tahun mendadak merasa bahwa keuangan Kasultanan kosong. Tidak akan dapat dari mana mana lagi. Menantu Sultan ketiga, Sultan Trenggono – prajurit linuwih yang membunuh tamtama Dadung Awuk dalam ujian masuk tamtama, Joko Tingkir – setelah mertuanya wafat, lebih memilih pindah ke Pajang. Kena ruwetnya mendapat mata dagangan beras, dan tidak ada beaya untuk memperbaiki kerusakan sistim pengairan rawa. Lebih memilih pindah ke bumi baru dekat kota Solo sekarang. Karena ibu kota Demak sudah kehilangan sumber penghasilannya.
Delapan belas tahun kerajaan Islam pertama di Demak ini ditandai dengan tidak adanya bangunan monumental di ibu kota Demak maupun istana Sultannya. Ada satu Masjid Demak, itu saja salah satu tiangnya dari sambungan kayu limbah. meskipun kayu jati. Selama 18 tahun existensi kasultanan Damak hanya meninggalkan  satu bangunan batu tembok bergaya Hundu, Menara masjid di kota Kudus. Saya kira pola kepemilikan perkumpulan pedagang beras china atas tanah sawah telah merambah ke lahan persawahan Demak Bintoro,  seperti terjadi di Negara lain misalnya Cambodia. Sehingga pemeliharaan sistim saluran menjadi terbengkalai, karena gotong royong sulit dilakukan sehingga ada hujan abu vulkanik yang besar hanya  sekali dua kali dari gunung  Merapi Merbabu, sudah mendangkalkan sistim saluran pengairan dan pematusan sawah rawa tanpa ada pekerjaan besar terorganisasi oleh kesultanan yan mampu mengerahkan pemilik sawah yang campuran petani dan pedagang tuan tanah, untuk membeayainya, atau mengerjakan secara gotong royong.
Existensi kesultanan islam Demak Bintoro yang sebentar ini sudah membuktikan bahwa para wali Islam mengerahkan tenaga dan pikiran agar ada landasan ekonomi yang lebih baik dari Masyarakat sebelumnya. Seperti sawah pengairan berundak yang diperkenalkan zaman Hindu kepada petani setempat, dibandingkan dengan petani berpindah pindah slash and burn. Dirangkai sepanjang perbaikan tatakelola pengangairan budidaya padi, tersisa sistim pengiran subak di Bali.
Bukan hanya mengandalkan ma’unahnya para santri, karomahnya para Wali saja seperti yang saya yakini, masih ada sisi kehidupan yang lain, sisi ekonomi yang dirancang para Wali tanah jawa, untuk dibangun, dengan ilmu dan tenaga. Yang terbukti menjadi tulang punggung pembangunan satu masyarakat kesultanan islam. Hanya kemudahan guangxi kaum pedagang besar, sistim pajak kurang mendapat tekanan perhatian oleh Negara Kesultanan ini, karena lokasi sawahnya nya sangat dekat dengan jalan darat ke jung jung besar berlabuh, lantas pemborongan beras dikerjakan sendiri oleh centeng centeng para pedagang besar. Sedankan pada masa Hindu, mengumpulkan beras 1000 koyan dalam waktu singkat sangat sulit, perlu infra struktur, jalan dan jembatan puluhan hingga ratusan kilometer.
Akirnya karena sistim pengairannya rusak dan tidak mungkin dipulihkan, pedangang beras dari china Selatan juga hengkang dari Demak Bintoro, meninggalan budayanya pada orang setempat, misalnya manyantap swiekee ( sup kodok hijau Rana tigrina), wanita pertopi anyaman bambu “kalo” semacam saringan dari bamboo bulat seperti topi, dengan  dipasang hiasan tali rumbai rumbai dibagian wajah, kayak cadar dengan ujung terikat semacam mata uang logam dan manik manik, dbagian mukanya, kebaya encim dan gerobak kuda pony, khas sampai sekarang. 
Jadi kepindahan kerajaan Demak bintoro ke Pajang,  karena Kerajaan Demak sudah tidak mampu menmbeli beras dari petani karena Jung Jung dari China tidak menunggu di Pelabuan Jepara saja tapi membeli sendiri dari petani dengan harga yang lebih bagus, dengan mendirikan gudang pembelian di sekitar sawah rawa Demak. Seperti yang dialami oleh Birektur BULOG Dr, Leni Sugihat, kalah bersaing dalam pembelian beras akibatnya panen raya sudah selesai, gudang dugang dolog masih kosong, sedangkan tengkula beras setelah sekaian lama bekerja sama dengan BULOG tidak mau lagi melepas stocknya ke BULOG dibawah Dr.Leni Sugihat.Karena diasimpan sebentar saja harganya sudah naik, lebih dari pembelian Dolog. Usaha ihtikar beras dari pedagang ini berlanjut sqampai sekarang. Sewaktu sistim pengairan rawa mendangkal, karena hujan abu gunung api.  Kerajaan tidak punya beaya sebab memerlukan beaya yang sangat besar. Ternyata belum ada mekanisme pengumpulan dana untuk pekerjaan kolosal seperti, mengggali kembali sitim pengairan rawa yang sudah ribuan ha. Sedangkan panen sangat turun karena pengairannya terganggu - kena apa tidak bergotong royong ? - Sistim gotong royong skala Negara hanya ada di Bali dengan sistim subak. Di Demak, ada gotong royong tapi hanya dalam sekala desa - sedangkan rawa harus dikerjakan dengan sekala wilayah Negara. Lagipula pendangkalan saluran ini merata shingga harus diukur kembali dengan sistim pengukuran yang hanya team Sunan kalijogo jang mempunyai  keker teodolit kuno dari Mesopotamia - setelah 18 tahun beliau sudah pensiun. 
Hitung hitung lebih mudah bikin sawah baru di lembah bengawan Solo di wilayah Pajang. Dengan tentara kerajaan sebagai penggarapnya - dan setor bagi hasil yang sudah disepakati.

Saya kira para Guru sejarah sudah mengerti. Sebab semua kejadian dalam sejarah manusia tentu dimulai dengan perubahan sistin produksinya, jalan mencari makannya.

Benang merah ini dilanjutkan oleh Kasultanan lanjutan dari Demak Bintoro ke Kasultanan Pajang, dengan satu Sultan saja Hadiwijoyo/ Joko Tingkir. Di wilayah sedikit sebelah barat Kota Solo sekarang. Pajang. mendapat dukungan dari salah satu Wali Islam tanah Jawa, yang dekat dengan aliran budaya Jawa, Sunan Kalijogo – hingga sekarang menjadi favorit para Sultan dan Susuhunan kerajaan berikutnya, sperti Kartasura, Ngayogyokarto hdiningrat, dan Surokarto hadningrat,  buktinya selain clan para Sultan dan Susuhunan ini tidak diperkenankan ziarah masuk kedalam cungkup/rumah makam wali islam tanah jawa ini sampi sekarang, di desa Kadilangu, Demak.
Sebaliknya kasultanan pindahan ini mengandalkan penerimaan kasnya dari sawah yang dibangun dari pengairan umbul Cokro dengan debiet yang cukup besar, dengan umbul/ sumber kecil kecil yang  lain dan bendung kecil kecil disepanjang kali Pepe, kali Dengkeng, anak kali Bengawan Solo, terkumpul wilayah pengairan kira kira 2000 ha, jauh lebih kecil dari wilayah rawa Demak Bintoro. Tapi pegerjaan saluran saluran pengirannya jelas oleh hamba Kasultanan, dibeayai oleh Kesultanan Pajang, sebagai pemilik sawah, dan dukungan moral kepada para petani yang menganut faham islam kejawen mendapat hati dari Sunan kalijogo, Ki Kebo Kenogo dkk, yang masih banyak di desa desa hingga sekarang.  Sehingga Belanda menyebut wilayah persawahan ini “vorsten landen” tanah milik raja. Sedangkan para hamba bukan santri saja tapi petani setempat yang ikut babat alas mendapat “lungguh” garapan sawah,  petani biasa harus rela membagi hasil panennya dengan Kasultanan. Bukan seperti santri dari Gresik terhadap sawah rawa di Demak.
Mungkin beaya didapat dari penjualan sedikit beras, kopi dan nila/tom/ indigo, hasil dari vorstenlanden ini masih kurang.  Sampai sang Sultan berselisih dengan penguasa daerah Wengker (sekarang Ponorogo), yang gelondong jatinya mudah diakses lewat sungai Madiun terus ke Bengawan  Solo, menghilir ke Sedayu – Gresik.

Kesultanan Islam di Jawa Tengah,  berlanjut dengan pendirian kesultanan Mataram denga ibu kota Kerto oleh Sutowijoyo  putra angkat dari Sultan Pajang Hadiwijoyo, dengan julukan Penembahan Senopati, pada abad ke 17 M. Terkenal dengan legendanya memiliki tombak pusaka  kiai Plered.  Mendirikan kasultanan di wilayah hutan Mentaok, sekarang DIY Jokjakarta.   Padahal kata “plered” juga berarti bendungan sungai yang dibangun dari batu bata, dengan spesi luluh pasir, abu gunung api atau bubukan batu bata merah, dan kapur tohor, berbentuk huruf “f” rebah miring, untuk luncuran air sungai sisa yang masuk ke saluran irigasi atau masuk waduk atau danau buatan. Bendungan ini kuat untuk menahan aliran sungai dibawan 5 000 liter per detik, karena limpahan  sisa aliran air yang ditampung di saluran pengairan tidak terjun ke bawah tapi meluncuk sepanjang bidang miring huruf f sehingga kuat dilewati arus banjir dengan membawa kayu kayuan ikut meluncur kebawah. Sedang air yang masuk saluran bisa diatur dengan pintu papan yang dijepitkan diantara bangunan tembok serupa pintu, bersusun menurut kebutuhan. Jadi tombak pusaka ini adalah bangunan air, bendung sungai untuk pengairan yang cocok di diwilayah Yogyakarta. Ibu Kota Mataram ini semula di Kerto, kemudian pindah ke Plered, dekat dengan segaran yaitu danau buatan dengan bendung Plered, supaya petani tahu darimana air pengirannya berasal, jadi harus mau berbagi dengan Kesultanan.
Segala policy kasultanan ini dibuat dengan pengaruh para cerdik pandai, termasuk ulama islam. Tidak lepas dari intrig dan komplotan perebutan kekuasaan dan perjuangan kepentingan. Sampai kejadian Sultan Amangkurat I mambantai ribuan ulama islam dalam sehari karena didakwa berkomplot menjatuhkan sang Sultan. ( Serat Babad Tanah Jawi, huruf latin dicetakan JB Woltres Groningen Batavia).
Apakah dari sini tidak nampak upaya para ulama islam membangung sistim ekonomi kerajaan kesultanan besar kecil berabad abad, bahkan pembela fihak yang di dholimi ?
Sawah rawa di Demak Bintoro sistimnya rusak tanpa bisa diperbaiki, mungkin tidak terkumpul beaya yang sangat besar, atau sikap gotong royong seperti pada saat pembangunannya sudah luntur, karena penguasaan sawah yang sudah kacau antara petani asli dan penyewa atau pengijon, karena para ulama terpecah pecah sikapnya. Tapi ide pertama membangun Kasultanan dengan dukungan sawah yang dicetak secara gotong rojong satu generasi para santri yang berazas pemerataan kemakmuran yang berkeadilan, mengikutkan segenap warga masyarakat, seola olah akan bertentangan dengan pajak besar yang bagi tuan tanah, selalu mendapat tantangan dari mereka  kepada Kasultanan, mereka membeli dukungan. Rekonstruksi pengairan rawa seluruhnya mandeg.  Yang semula  Negara kesultanan sudah cukup dengan keuntungan perdagangan beras, jadi sangat susut kerena pencegatan oleh galleon galleon Portugis yang tak terkalahkan. Sedang sistim pengairannya harus di kerjakan maintenance besar besaran. Dari mana lagi uang bila tidak dari pajak ?. sedangkan perdagangan sudah di kerubuti oleh pedagang pedagang yang bercokol di Ibu Kota Demak dan Jepara ? Akirnya, wilayah Demak ditinggalkan, diganti dengan pengukuhan sistim Sultan sebagai patron dan petani sebagai client. Di pencetakan sawah yang baru di Pajang dan bumi Mataram, mengukuhkan hubungan patron-client antara Sultan dan petani.
Pada zaman Kumpeni menjalankan hukum tanam paksa, patih Danurejo berselingkuh dengan Belanda, sangat nenekan petani untuk mananam indigo/nila/tom  saat musim tanam padi, sampai kelaparan merebak luas, Pangeran Jawa Diponegoro memberontak dibantu oleh Kiai Mojo.th 1825 M
Pengalaman sejarah pendirian kerajaan Demak Bintoro, hendaknya menjadi suri teladan para ulama islam sekarang, memelopori mebukaan sawah dari rawa rawa di Papua dan Kalimantan, dengan azas kemakmuran dari pembangunan  yang berkeadilan, azas kooperasi dengan management yang demokratis dan terbuka sudah dimungkinkan dalam pemerintahan Presiden Jokowi sekarang. Sedangkan BULOG sudah dipimpin oleh jendral Polisi yang seluruh takyat berdo’a kebal terhadap guangxi, export beras ( nantinya) oleh Pemerintah untuk menahan logsornya nilai tukar rupiah, dan import beras dimonopi oleh Pemerintah.  Mumpung padhang rembulene, jembar kalangane,  artinya situasi dan kondisi sekarang dan lima tahun sesudah 2019 mendatang, sudah sangat baik dari sisi hard wares dan dari sisi soft wares, demi kesejahteraan rakyat yang berkeadilan. KKN reda atas dorongan KPK dan BPK yang bebas guangxi.

https/impacts/causes-of-drought-climate-change-connection.html#.WwPSkip to main content

Global Warming Effects on Drought - Climate Hot Map
www.climatehotmap.org/global-warming.../drought.html

 https/impacts/causes-of-drought-climate-change-connection.html#.WwPSkip to main content 

Lagi pula, kini diseluruh dunia banyak terjadi perubahan iklim, kekeringan di Afrika, Austrlia dan Amerika Serikart sendiri, mungkin juga sebagian China sehingga bakal terjadi penyusutan produksi pangan dunia terutama  staple food serealia ( siaran TVNational Geography, Histiory), apa masih mau demo mengusung Negara baru ? Wong kesempatan untuk menjadi rakhmatan lil alamin sudah ada di depan mata dan sejalan dengan upaya Pemerintah Indonesia, menciptakan kemakmuran yang berkeadilan? 
Skip to main content


Sumber https://ekbis.sindonews.com/read/1244099/34/permintaan-maaf-pt-ibu-momentum-benahi-tata-niaga-pangan-1506685522

Mengobok obok distribusi beras dengan pemalsuan kualitas, ganti di geledah usahanya oleh polisi. segala pokrul ular biludak mengeroyok membela duit. lantas melapor di Ombudsmen Republik Indonesia. 
Malah dakwaan menyalah gunakan wewenang oleh Polisi, sudah disingkirkan oleh ORI Ombudsmen Indonesia. Sekarang Direkktur Bulog malah ex Jendra Polisi. Satu isyarat yang tepat dari Pemerintah Jokowi, perkara beras bukan perkara pokrolan pokrolan oleh pemain catur pasaran, atau koor serigala berlisoi ria didepan TV, tapi urusan kemanan nasional mengqadcau dstrinusi beras sama dosanya dengan terroris.
Langkah cerdas pertama BULOG/DOLOG mendisrtribusikan beras kemasan kecil 3 kg, 5kg, 20 kg dengan bar code dan harga di labelnya. Jadi ratusan PT IBU boleh memalsukannya asal tidak ketahuan dan menjual sesuai label. bukan minta maaf saja. Kriminalitas ekonomi hukumannya berat, bisa dideportasi, lantas apa maunya sang pokrul *)













Union of Concerned Scientists


0 comments:

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More