Sayang Sama Cucu

Sayang Sama Cucu
Saya sama Cucu-cucu: Ian dan Kaila

Rabu, 17 Agustus 2011

MASYARAKAT KITA, POSISI PERKEMBANGANNYA, DAN AKAR PENYAKITNYA

       
Kita semua menyadari masyarakat kita mengalami perubahan, tapi jarang yang membahas secara kepala dingin mengenai hal ini,  mengenai posisi masyarakat kita, dan semua memberikan pemikiran mengenai bagaimana jalan keluarnya, bila ada problem yang muncul di permukaan.
Saya hanya merenungkan apa yang saya lihat di jalan jalan,  saya dengar dari mana-mana, dan apa yang saya alami setiap hari, sebagai penduduk biasa.
Para Pemimpin sekarang selalu menekankan “Biar Hukum yang memutuskan nanti”, baiklah daripada dibungkam di era sebelumnya,dan bagaimana masyarakat kita di rezim yang lalu hanya bungkam ?
Dipaksa,  bila menggerutu apalagi protes – dicap komunis dan dilenyapkan.
Prilaku mayarakat sering saya rasakan aneh, bila ada kecelakaan di jalan raya,  kebakaran,  malah ramai ramai melihat, alih - alih membantu memadamkan api, apalagi ada bencana alam, satu ketika ada banjir bandang dan longsor di Rambipuji Utara 20 km dari Jember, atau pengeboran gas Lapindo Brantas, lha kok yang melihat naik sepeda motor berboncengan tiga (yang naik mobil jarang) luar biasa berjubel, begitu pula kebakaran di manapun, kok malah jadi tontonan sampai mengganggu mobil Pemadam Kebakaran, ini gejala apa ? Setelah direnungkan agak lama bertahun tahun baru ketemu, di tingkat awal sekali bila orang belajar, dari melihat bahkan meraba, amatilah  bagian - bagian patung batu di situs situs purbakala mesti bagian bagian tertentu dari satu patung ada bekas rabaan orang  banyak, sampai  berdaki ( mbolot – bahasa Jawa), kepekaan akan sanitasi juga minim  - o iya,  jadi mengerti, sebagian besar masyarakat baru belajar ditingkat itu yakni dalam tahap 'melihat kejadian' sebagai proses belajar mula. Masyarakat yang mana ?  Mereka yang baru saja mengenal pendidikan dan budaya, mungkin malah hanya dari pendidikan anak - anaknya saja, mereka sendiri mayoritas. Golongan bawah ini, malah tidak menyelesaika SD nya, oleh berbagai sebab.
Gejala ini akan susut dengan sendirinya dengan diberlakukannya UU Wajib Belajar 9 tahun. Begitukah ?
Bila kita perhatikan keadaan lalu-lintas kita banyak kecelakaan, di samping ada ke-tidak seimbangan antara jumlah kendaraan bermotor dan keadaan jalan jalan yang ada,  juga penyumbang terbesar adalah human error, tepatnya prilaku Si Sopir. Disini berlaku “yang kuat dia pasti benar” – sopir Bus antar Provinsi adalah raja jalanan, dan raja tega, ini semua para Sopir sudah tahu, masih ditambah  sopir truk truk besar, dan angkot yang berseliweran (ada kota yang dijuluki kota angkot di Indonesia saking banyaknya mereka solider satu sama lain jadi mengandalkan jumlah-yakni Kota Bogor) ternyata para sopirnya adalah kaum yang tumbuh di pedesaan yang disana berlaku “the might is right.” Di kota - kota setidaknya ada “zebra coss” yang kuat harus mengalah dengan pejalan kaki !
Tapi jalan perkotaan, penduduk kampung - kampung (kita tahu darimana mayoritas penghuninya berasal), jalanan sempit tanpa kaki lima,  orang selalu berpihak kepada kendaraan kecil dan selalu cenderung membela ramai-ramai dan menuntut uang ganti rugi  yang besar bila ada serempetan, senggolan,  meskipun kesalahan ada di fihak kendaraan kecil, ini berlaku  di mana- mana. Malah penduduk desa keluar ramai-ramai memperhitungkan nilai anak  -pinak ternak yang mati tertabrak, yang belum lahir.  Mereka yang besar -ukurannya, mereka yang berjumlah -banyak, selalu benar – The might is always right. Apa perlu bukti ?
Kenapa orang di Pedesaan perprilaku seperti itu ?
Tidak berubah di era euphoria kemerdekaan, disusul era despotisme orde baru, kemudian sekarang era reformasi yang dibilang Demokrasi atau Plutokrasi !

Bila direnungkan, penduduk pedesaan negeri ini diperlakukan dengan praktek “the might is right”  pada setiap segi kehidupannya mulai zaman Tanam Paksa, sejak empat abad yang lalu hingga sekarang !
Empat abat yang lalu pedesaan  kelaparan berkepanjangan, kerena dimusim hujan yang mestinya tanam padi dipaksa tanam nila/indigo/tom (untuk pewarna taxtile) dan tanaman lain yang dibutuhkan Penjajah, sesudah itu dipaksa jadi buruh perkebunan ke Deli, ke New Caledonia, Ke Suriname kalau perlu diculik untuk bekerja di perkebunan - perkebunan yang jauh, sesudah itu dijadikan Romusha dan Jugun Ianfu yang pada berpakaian karung goni dan  mati kelaparan, sesudah itu disuruh membunuh saudaranya karena berani menenerima sebidang tanah pembagian UU Land Reform setengah abad yang lalu, dipaksa dan dipaksa oleh kekuatan yang lebih besar, tentu saja kekuatan yang lebih besar itu benar. Maka dari sana lahirlah generasi  generasi yang meneladani bahwa yang kuat selalu benar –the might is always right.
Lima belas tahun pertama Kemerdekaan Republik Indonesia  parahara revolusi mengangkat   mereka dengan kebebasan memperoleh pendidikan, banyak di antara mereka yang ulet mencapai derajad sarjana, bahkan ikut menjalankan roda Pemerintahan, kenyataannya memang mayoritas kita ya dari desa.
Tiga puluh dua tahun  di bawah Despotisme dibungkus dengan segala dalih, diganti dengan era Reformasi, eh.. tanpa  dinyana dalil the might is right melekat di jiwa kita.. Buktinya, dimana mereka merasa kuat, dimana mereka memang  kuat seperti sebagai sopir bus antar provinsi antar kota, sebagai satpam, sebagai penguasa loket - loket pelayanan dan penguasa pelayanan masyarakat misalnya RT dan RW  dimulai “surat bersih diri”, alih - alih melayani mayarakat yang membutuhkan, malah menikmatinya dengan mempersulit, "kalau bisa kenapa ? Mau dipermudah, ya ada extra ongkos dong! Akulah sekarang yang kuat akulah yang benar, makanya sudah jadi Pembesar tidak mengenal “noblesse oblique” –. Di negara maju jadi orang terhormat itu ya berlaku ksatria.  
Gampang sekali berubah jadi Despot yang materialistic, meniru kaum menak (bangsawan) di kulitnya saja, cetek-dangkal.
Sudah begitu, sebagian besar  90 % mereka yang masih tertinggal di bawah, tidak   diperlakukan cukup  adil oleh para Spekulan tanah dan Developer Perumahan, bekerja sama dengan Kepala Desa dan Camat sebagai Pembuat Akte Pemilikan  Tanah.
Tanah dijual  untuk Pabrik - Pabrik, juga bekerja sama dengan Kepala Desa dan Camat setengah memaksa, karena satu blok tanah dimiliki orang banyak pasti ada yang enggan menjual, jangan coba - coba. 
Pabrik  membuang limbah seenaknya disebelah depan halaman mereka. 
Sunguh sulit bagi petani untuk menambah penghasilannya, kecuali ada diantara anaknya  jadi buruh pabrik, untungnya  dekat, di desa mereka.
Prilakunya yang menyimpang  tidak hanya diobati dengan Hukum Negara yang adil dan terjangkau dan melindungi,  yang mereka harus mengerti, dapat  digunakan  apabila didholimi hidupnya, hak milik mereka, didholimi lingkungan hidupnya.  Tapi bahwa Islam mestinya mampu menyadarkan mereka untuk melandasi prilakunya dengan Rakhman dan Rakhim = pemurah dan Pengasih dipupuk lubuk jiwanya karena memang demikianlah Islam (andaikata dimengerti secara benar). Misalnya: Sebagai petani yang suka berbagi,  membuat pohon pohon buah buahan dipekarangan mereka pada berbuah lebat  berkat Agroteknik yang benar yang biasanya hasilnya mereka bagi bagi juga laku dijual, seperti seteguk air bagi orang kehausan, mereguk kemurahan Allah, lantas bagaimana mengerti agroteknik yang bener bila gak ada yang mengajari ?(mohon ditemukan nantinya di blog ini dengan judul  ‘Budidaya TanamanKopi’ artikel bersambung, ini masih saya susun) . Bukan nilainya yang berarti, tapi keyakinannya pada tanah pekarangan, tanah yang tergantung dari hujan saja.
Sungguh tidak mudah membuat situasi yang nyaman di pedesaan bagi penduduknya yang petani, karena tekanan perkembangan penduduk, kadang yang dimiliki tinggal hanya pekarangan yang tak terurus, Diuruslah ! Pepohonan campur aduk ndak karuan ndak berbuah lagi, ya diganti dengan yang produktif dari benih unggul.
Sedangkan perluasan lahan dan hunian Petani (yang bukan kelapa sawit) ke pulau - pulau yang masih potensial untuk dikembangkan tidak pernah sungguh sungguh dikerjakan,  sehingga para Khalifah Allah di dunia ini, layak.(*) 
(Oleh :Ir. Subagyo, M.Sc.- Alumni Jurusan Agroteknologi-Agronomi Universitas Patricia Lumumba , Moskwa , Russia.)

0 comments:

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More