Sayang Sama Cucu

Sayang Sama Cucu
Saya sama Cucu-cucu: Ian dan Kaila

Selasa, 30 Agustus 2011

TANAMAN BUDIDAYA KAPAS DI INDONESIA, ANTARA HARAPAN DAN KESULITANNYA

Tanaman Kapas (Gossypium hirsutum L ).
Sejak tahun 1958-an, pemerintahan Presiden Soekarno, budidaya kapas merupakan obsesi Pemerintah untuk mengembangkannya.
Orientasi teknologi diarahkan ke Amerika Serikat sebagai penanam kapas terbesar, dengan penelitian yang komplet, pabrik pengolahan yang tersedia untuk dijual.  Pengiriman tenaga ahli ke RRT alm. dan USSR alm.  karena politik Pemerintah pada waktu itu.
Karena ini merupakan obsesi, kemungkinan besar telah dikirim peninjau-peninjau ke Mesir dan India, dikatakan obsesi, sebab dimulai dengan semangat mengurangi ketergantungan pangan dan sandang dari import, sebanyak mungkin, sebab kita semua memasukkan gambar kapas dan padi di lambang perisai  sang Garuda Pancasila, tahu rasanya kekurangan pangan dan kemiskinan sandang waktu penjajahan Jepang.
Saya ikuti kegiatan  dalam usaha budidaya kapas sebagai Agronomist pabrik pestisida pada zaman Orde Baru, dari proses penelitian sampai penanaman  hingga pensiun tahun 1993,  karena tanaman kapas di dunia ini dikenal sebagai konsumen yang besar dari segala insektisida,  di samping pekerjaan penyuluhan dan promosi dari perusahaan yang menggaji saya. (Program Bimbingan Massa /Bimas membeli dari Perusahaan Pestisida jutaan liter product pestisida setiap tahun lantas dijual kepada petani Bimas, dengan subsidi 80% permulaannya dengan kredit lagi, dengan syarat harus ada Agronomist yang bertanggung jawab, petani harus mengerti cara penggunaanya dan tidak ada kecelakaan).
Saya diminta mengajar dengan upah tidak berarti, juga kebetulan mengenai budidaya kapas. Dengan niat baik saya jalani, meskipun Universitas itu didirikan oleh  tokoh Golkar yang menganut paham nepotisme, king maker di Propinsi, jadi banyak pengajar yang selalu benar karena Pegawai Negeri, dipanggil untuk ngajar, sebagai part timer atau pengabdian. 
 Setiap pendahuluan kuliah selalu saya tekankan bahwa seluruh Ilmu Pertanian menggunakan ancar-ancar agroteknik dari lingkungan bentuk liar di daerah asalnya.
  Sebab kita berurusan dengan hasil domestikasi tumbuhan liar dan binatang liar yang di hutan-hutan, di padang rumput dan sabana yang mempunyai keadaan lingkungan yang khas sudah jutaan tahun. 
   Jadi Ecology tempat asal bentuk liar suatu tanaman atau hewan akan menjadi dasar agronomi selama manusia mengandalkan alam.
    Sekarang teknologi semakin canggih, saya baca di Google  mengenai budi daya kapas, kelihatannya persoalannya masih sama: Introduksi benih unggul dari mana mana termasuk benih hibrida dari Cina (malah sudah diimport jumlahnya tidak tanggung tanggung 40 ton) malah benih hasil rekayasa transgenic dari Monsanto, yang riuh dengan kontroversi setuju dan anti.  
Lha kok ndak disadari, sekian lama itu dari tahun1960 hingga 2011 masih mengintroduksi benih hasil seleksi wilayah lain, wilayah yang memang iklimnya cocok dengan kapas liar  jaman jutaan  tahun yang lalu. 
Jadi upaya seleksi, upaya hibridisasi memakai kapas kita sendiri yang masih ada, untuk dimanfaatkan sifat-sifat baiknya, walau sangat, langka tidak pernah ada, atau hasilnya tidak ada harapan, artinya sulit bersaing dengan hasil seleksi dan hibridisasi yang dikerjakan di wilayah yang memang dari sana kapas berasal.
Yang jelas waktu buah kapas mekar menyembulkan seratnya yang putih bersih cuaca harus kering kering dan kering berhubungan dengan penerbangan biji-biji, basah sedikit saja kapasnya melempem kayak krupuk tidak bisa terbang malah menyerap air, dan diserang cendawan.

   Tanaman budidaya lain seperti semangka (Citrulus maxima L)  melon (C. melongela)  tanaman budidaya yang berasal dari pinggiran gurun sama dengan kapas tapi masih toleran terhadap hujan waktu panen daripada kapas.
Di wilayah Indonesia (kok ya menggambar kapas di perisai lambang Garuda Pancasila?)  di tempat terkeringpun di NTT masih ada hujan barang l300 mm/tahun ada pengaruh angin muson setiap setengah tahun berganti arah, yang jadi persoalan terhadap budidaya kapas, batas antara musim hujan dang musim kering selalu tidak jelas, bisa maju atau mundur dengan tenggang 2 – 3 bulan! Entah oleh pemanasan global entah oleh El-Nino, entah oleh El Nina, jadi di lahan tidak berpengairan yang disediakan buat kapas,  mengatur waktu tanam sehingga waktu buah kapas harus mekar besar besaran cuaca dijamin kering, kering,  dan kering sangat sulit. Bisa diatur tanam pada akhir musim hujan, malah tiba tiba hujannya habis padahal kapas masih perlu air untuk mengisi buah yang ada, pengairan untuk nombokin kebutuhan air darurat ini tidak ada.
Bila saja pengairan disediakan buat situasi ini, semua beres ok.
Jadi demi mengetahui bagaimana kapas berperilaku dalam iklim ini, kita perlu meninjau bagaimana kapas yang hidup liar di wilayah sabuk khatulistiwa yang beriklim muson berperilaku.
Kapas tahun (nama Latin yang diberikan oleh Taxonomy aku tidak tahu  bukan kepentingan mereka yang membuat buku buku untuk tahu) – Merupakan pohon tahunan dengan percabangan dari bawah, mekar ke atas, tinggi mencapai 4 - 5 meter, daunnya  lebar lebih dari daun kapas satu musim, berbunga besar kekuning-kuningan, buahnya memanjang, buah yang kering mekar tidak sempurna, panjang buah 7 – 12 cm. Hidup liar di pagar-pagar, tepian hutan. Buahnya  terdiri dari 3 – 5 kotak, setiap kotak mengandung biji-biji yang berambut tipis mudah terkelupas dan biji tadi setiap 8- 15 butir melekat menjadi satu paket satu kotak tiga sampai 5 paket. Seratnya sangat pendek 4-7 mm itu saja agak kasar.
Saya deskripsikan kapas tahun ini sebab kecil kemungkinan  kapas jenis ini dibawa ke Nusantara ribuan tahun yang lalu, karena seratnya sangat tidak bermutu. Jadi memang kapas asli di sabuk tropis.
Kapas tahun (nama kapas lokal ini). menggambarkan arah evolusi menyesuaikan dengan iklim tropic basah, yang semestinya serat untuk terbang, malah buat iming iming burung burung kecil untuk sarang, yang semestinya tiap bijinya bisa terbang dibawa angin sendiri sendiri, malah melekat jadi satu paket, berserat sangat pendek 10-15 mm, lha iya setelah kering buahnya pecah tidak sempurna burung-burung kecil tahu, dan dibawa untuk membuat sarang, e..e., malah bijinya satu paket runtuh, sudah jauh dari pohon induknya. Satu paket biji yang saling melekat tumbuh bareng, bersaing untuk dapat sinar Matahahari, balapan untuk tinggi dan besar, satu dua tumbuh jadi juara. 
Akhirnya tujuan tercapai biji-biji  tumbuh jauh dari pohon induknya, umur tahunan dan ukuan batang memberi lebih banyak kesempatan untuk mencari sinar Matahari, akan menang  dari tetangga tumbuhan yang bongsor namun musiman, diantara pepohonan hutan rimba tropika basah di mana angin  terhambat oleh pepohonan dan semak-semak.  Lihat, alam sudah membuat arah adaptasi membelokkan daya guna serat kapas yang kita butuhkan sesudah jutaan tahun, jadi upaya seleksi  untuk mempertahankan sifat serat, memperbaiki sifat serat menurut kemauan kita, memakai bahan kapas lokal hampir tidak mungkin.
Di sabuk tropika basah banyak tumbuhan yang menggunakan penerbangan biji-bijinya untuk menyebarkan keturunan, dimulai dengan ketinggian yang cukup, – jadi postur nya pohon tinggi, percabangan tidak menggangu waktu biji-biji diterbangkan, tahan air hujan karena seratnya dikonstruksi khusus, di bawah microcospe seratnya jadi pipa berisi udara ! Sedang serat kapas yang kita maui pipa itu kempis, menjadi pipih seperti pita. Dia adalah pohon Randu – Ceiba pentandra L seratnya dinamai kapok. `       
Satu Famili dengan kapas tapi asli  berasal dari sabuk tropis, atau dari Afrika, atau dari Australia, tropika basah, dipengaruhi angi musson yang berganti arah setiap setengah tahun.
Seratnya masih untuk terbang tapi startnya dari cabang yang tinggi, Pohon Randu (Ceiba pentandra L), malah meluruhkan seluruh daunnya untuk membatu penerbangan ini, seratnya yang untuk terbang jadi anti basah dan tidak tenggelam di air, mikroskopis berupa pipa udara, sayangnya tidak bisa dipintal jadi benang selanjutnya ditenun jadi kain, jadi Randu (Cieba pentandra L) dikebunkan untuk  seratnya digunakan sebagai isi kasur, bila diompoli besuk dijemur sehari sudah kering, bantal dan pelampung keselamatan kapal kapal, (sebelum ada polyurethane), klentheng-nya (biji randu) jang kira kira 70 % dari serat berbiji, selanjutnya klentheng mengandung kira kira 30% minyak goreng tidak mengadung racum gossypol kayak biji kapas. Wong cari serat buat ditenun kok alam memberi serat buat kasur, ya nasib.
Monsanto ngotot mengintroduksikan kapas yang secara genetic sudah direkayasa jadi kapas transgenic, motif nya ya keuntungan.
Pemerintah Daerah Sulawesi Selatan sudah setuju. Terjadi pro dan kontra yang prinsipial.
Gubernur dan aparatnya pro, LSM dan banyak pakar tidak setuju  secara mutlak, harus ada percobaan pengaruhnya terhadap lingkungan berjangka panjang, kuatir jadi alasan introduksi orgnisme transgenic yang lain yang memang bentuk liarnya ada di sini, (mungkin sementara saya menulis buat anda, sudah ditanam di salah satu lokasi disini, misalnya kedelai  (Glicina maxima L) jadi kedelai transgenic.
Lha apa itu organisme trasgenic, kapas transgenic, itu gelar apa ?
Dimulai dari setiap sel hidup ada inti sel dan plasma sel, didalam inti sel ada chromosome yang normalnya berpasangan sejumlah 2n (banyak yang tidak normal). Chromosome bisa dilihat dengan microscope  asal selnya  mau membelah jadi dua, benang benang berpasangan ini menebal, bila diberi pewarna akan nampak berpasangan. Pembelahan sel somatic (asal jadi banyak seragam) setiap chromosome membelah jadi dua, pembelahan sel yang istimewa untuk jadi unsur jantan (sperma), untuk jadi unsur betina (telur) namanya pembelahahan sel reduksi artinya jumlah chromosome dibagi dua mangkanya sel normal chromosomnya berjumlah 2n, pembelahan reduksi jadi 'n' chromosomnya terbagi dua secara acak (ilmu Genetica khusus mempelajari hal ini dan pengecualiannya) kemudian direkombinasi ketika kawin n +n’.
Di sepanjang benang chromosome ada gene – satuan pembawa sifat makhluk hidup.
Lha gene ini sebenarnya adalah tempat senyawa kimia namanya DNA, selanjutnya DNA ini merupakan senyawa kimia nucleic acid yang ada empat macam, adenine, guanine, cytosine dan thymin, tiga diantara mereka akan bergandeng ber-urutan, merupakan code memerintahkan membangun satu macam asam amino esensial, ada 20 mancam asam amino essential pada binatang dan kedele, dan kira kira 16 – 18 pada tumbuh tumbuhan. Yang namanya transgenic ini memotong motong DNA yang perupakan  code satu organisme yang khas, mengganti atau menyambungkan dengan DNA makhluk lain, nantinya jadi nakhluk yang sama sekali baru kayak semangka berdaun sirih, dengan cara transgenic hal ini jadi mungkin.
Monsanto satu perusaan raksasa trans-nasional di AS mempetaruhkan modal yang sangat besar untuk menjadi pelopor dalam membuat benih benih transgenic, – alias menjual benih makhluk baru, hasil rekayasa genetic oleh manusia.
Apa yang ditawarkan Monsanto kepada penguasa Sulawesi Selatan, Beliau -Monsanto yang terhomat, telah menciptakan organisme kapas baru dengan cara transgenic. Kapas yang anti hama. Semua sifat-sifat yang unggul dari kapas Amerika masih ada, hanya ketambahan bila bagian tubuhnya dimakan ulat yang selama ini jadi momok gondoruwo leak, yaitu ulat Heliotis armigera dan Earias fabia, ulat-ulat ini ditanggung langsung sakit dan dengan sendirinya mati. Ajaib, langsung  si Penguasa ini setuju.
Kenapa benih yang ajaib ini ditawarkan pada Penguasa Sulawesi Selatan, dan kenapa LSM dan sementara pakar kapas yang mengerti tidak setuju ?
Bahkan Pemerintah Amerika Serikat enggan menyetujui pemakaian benih kapas transgenic sebelum dalam jangka panjang lingkungan produk organisme tranagenic ini secara langsung atau tidak langsung selamat, bukan hanya  jangka panjang, tapi juga keturunannya. Kapas di AS bukan hanya tanaman budidaya serat, tapi juga budidaja minyak nabati, sebab bila minyak ini dipisahkan dari biji kapas yang masih mengandung kira kira 30 % minyak nabati tidak mengadung racun gossypol yang tertinggal dalam bungkilnya. Bungkil biji kapas meskipun beracun secara terbatas bisa buat campuran makan ternak, di AS konsumen poduk kapas yang berupa minyak nabati  dan daging hewan yang diberi makan bungkil biji kapas sangat besar. Pantas bila Pemerintah AS sangat hati hati, mengizinkan produk-produk dari organisme transgenic dikonsumsi manusia Amerika langsung atan tidak langsung, itu issue dulu. Di internet sekarang dinyatakan bahwa 93 % areal kapas di Amerika Serikat sudah menanam kapas transgenic.
Apapun proses  yang merupakan pemotong dan penyambung DNA ini  bila sambungan gene ini masih mampu menyambung lagi dengan gene manusia rasanya kok tidak, wong sudah dimasak kok, apalagi konsumen organisme transgenic lantas jadi monster, tidak bakalan, paling-paling alergi.
Tapi alergipun gejala abnormal.
Kapas transgenic ini mungkin DNA nya ditempat tertentu telah ada yang dipotong-potong dan disambungkan dengan DNA bakteri yang menjangkiti ulat Heliothis dan ulat Earias ini memang ada, DNA yang khusus memerintah membuat racun ulat ulat ini ditubuh bakteri thuringiensis, (insektisida Thuricide ada  - racun yang dibuat oleh Basillus thuringiensis) disambungkaan di tempat (locus) tertentu di DNA kapas, lha akhirnya kapas dengan sendirinya memproduksi racun ulat ulat itu., jadinya asal ulat Heliothis atau Earias makan bagian dari tubuh kapas ya keracunan, trus mati.
Ide Monsanto ini bener brilyan, dan telah dirasakan bahwa petani kapas di AS saja kewalahan membeli insektisida untuk tanaman kapasnya, apalagi petani kapas di Indonesia.
Penggede Sulawesi Selatan ya bener, berapa duit bisa dihemat bila budidaya kapas di Sulawesi Selatan bisa disisihkan,  bila kapasnya bisa membunuh sendiri  musuh musuh besarnya, tapi orang dagang ndak berpikir begitu,  -   harga bibit kapas transgenic toh hanya sedikit lebih rendah dari total harga insektisida yang harus dipakai, tidak boleh selisih banyak,  toh sambungan gene racun ulat ulat ini di  genenya kapas abadi di sana ?  Biasanya dalam jangka panjang ulat musuh petani –  dalam banyak kejadian, memakai insektisida satu
macam terus menerus bisa nenghasilkan kekebalan pada ulat sasaran.

Monsanto memang jago dalan menciptakan organisme transgenic, bila technology ini sudah bisa membuat organisme transgenic, sedangkan kita ber obsesi untuk menghasikan serat sendiri untuk swasembada sandang, karena sudah terlanjur digambar di Garuda Panca Sila – saya tawarkan merekayasa  segera transgenic pohon Randu yang kualitas seratnya seperti kapas – dengan menempelkan DNA kapas, yang menentukan kualitas serat kapas, di locus DNA pohon Randu di locus yang menentukan sifat seratnya, gene hadiah alam serat amfibi dibuang. Jadi rakhmat Allah mengizinkan manusia sepintar sampai ke taraf teknologi ini, dan dari teknologi ini segera dirasakan hasilnya,  memanen kapas, kayak memanen randu, perkara tinggi batang Randu, teknologi seleksi biasa bisa mengatasi, jadi Randu Katai, tapi rakhmat Allah ini bisa jadi kutukan bila akibat polinasi/persarian yang tak mungkin terkontrol malah menimbulkan akibat negative pada pohon Randu yang bukan transgenic.
Buah Randu kulitnya sangat tebal, sampai kering betul baru pecah. Saya tidak pernah melihat Perkebunan Kapok Randu  yang berpengairan, karena akar pohon ini cukup dalam dan kuat mencari air, musim kemarau pohon Randu sedikit sekali membutuhkan air,  saya melihat Kebun Randu dekat Gilimanuk Bali, kebun Randu di Pandaan Jawa timur, kebun Randu dekat Weleri Jawa tengah.
Kita harus mengerjakan semua ini sendiri (artinya memakai technology transgenic- ongkos berapa saja dibayar wong mengikuti obsesi kok), sebab ini bukan kepentingannya Monsanto dan AS, bukan Kepentingannya Cina, bukan kepentingannya Mesir.  Kita mungkin bisa kerja sama dengan bangsa-bangsa di wilayah yang biasa menanam pohon Randu, kita atasi bagaimana agar produk Randu transgenic ini tidak mencemari lingkungan. (Wong daging ayam mati saja masih dijual di pasar-pasar kok).
Atau bangsa-bangsa lain dengan iklim yang sama, dengan kesulitan menanam kapas yang sama dengan kita,  lebih memilih tanaman budidaya yang lain yang lebih cocok untuk wilayahnya, dipromosikan layaknya buah Kiwi dari New Zealand, di-export dan duitnya untuk beli kapas Mesir, biar transgenic tapi kan jauh.(*)
(Oleh :Ir. Subagyo, M.Sc.- Alumni Jurusan Agroteknologi-Agronomi Universitas Patricia Lumumba,  Moskwa , Russia.)
catatan : Ir Subagyo berangkat menimba ilmu di Russia pada tahun 1959, setelah menamatkan strata satu agronomi di Universitas Patricia Lumumba, kemudian melanjutkan studi di Universitas yang sama, dan berhasil meraih gelar Magister Science Agronomy dari Universitas Patricia Lumumba Moscow tahun 1966, langsung kembali ke tanah air, dan kini  kakek dari 4 cucu tinggal di Surabaya

Ir. Subagyo juga memberikan selamat kepada para mahasiswa Indonesia masa kini yang juga berkesempatan mengenyam pendidikan tinggi di Russia dan umumnya berkuliah luar negeri di negara mana saja, baik Timur Tengah, Amerika, China, Jepang, Eropa dll. Selamat wahai putra-putri terbaik Bangsa Indonesia :"Belajarlah hingga ke negeri China"- tapi pulanglah ke Indonesia untuk Memajukan Bangsa Indonesia.
                                               

3 comments:

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More