Sayang Sama Cucu

Sayang Sama Cucu
Saya sama Cucu-cucu: Ian dan Kaila

Selasa, 28 Juli 2015

USAHA MENANAM SAYUR MAYUR LOKAL MENGISI KEBUTUHAN SAYUR YANG MURAH DAN BERMUTU

USAHA MENANAM SAYUR  LOKAL
Usaha menanam sayur lokal ini mempunyai dua sisi strategis, yaitu melestarikan  pemakaian tanaman local untuk menambah  gizi  disatu sisi dan menambah penhasilan dari lahan kecil disaeputar kota kota disisi lain.
Secara tradisi memang kebiasaan  “ ramban” ini sudah dipunyai oleh penduduk Nsantara ini.  RAMBAN ( bahasaa Jawa) adalah memetik daun nuda yang bisa dimasak dari tumbuhan liar maupun tanaman tanpa mencabutnya hanya memilih pucuk pucuknya yang baik, dari lahan lahan  tidak  diusahakan ditanami, puinggir pigir jalan setapak dan pinggir tegalan  atau sawah atau sengaja ditanam untuk diramban.Pucuk pucuk ini tentu saja masih lunak untuk di olah atau direbus. Bahkan di Sulawesi Utara bubur Menado yang terkenal itu sebenarnya  harus dilenglengkapi dengan hasil “ramban”  berbagai pucuk tumbuhan liar maupun tanaman  di bawah kebun kelapa yang masih sangat luas  jenis jenis tumbuhan liar ini  hanya dikethui oleh penduduk asli setempat, makanya rasanya sangan khas dan sangat menyegarkan. Juga nasi lembek sayur pecel di kota Madiun Jawa Timur, yang sekarang mengalami krisis sayuran yang acute.
Semakin meluasmya kota dan sesaknya hunian di kota kota, kebiasaan ramban ini semakin tidak bisa dilaksanakan dan hilang  karena lahan kosong hampir tidak ada. Begiru pula pengetahuan mengenai tumbuhan dan tanaman yang bisa diramban, baik jenis tumbuhannya yang pasti dan memasaknya artinya bisa  dibuat sayur atau direbus bahkan di makan mentah dengan sambal ( sebagai lalapan). Sedangkan “pasar” didesak oleh permintaan akan sayur sayuran yang murah, maka patani  di pedesaan menggantikannya dengan sayur yang  paling mudah diusahakan yaitu yang selalu ditanam di “kebun sayur” dipinggiran saluran saluran pematus kota kota, lahan kosong ini diusahakan oleh petani yang mengembara dikota kota dengan sangat intensive dan dengan meenggunakan air dari seluran got got pematus dikota kota, dan pupuk buatan, dipanen kurang dari dua bulan sekali, seperti bayam cabut ( Amaranthus tricolor L )  kangkung darat ( Ipomoea reptica  L) , dan sawi hijau (Brasica rapa L ) maupun sawi putih ( Varietas  Brasica rapa ) ,mulai ditanam di pematang sawah, bahkan seluruh  lapik sawah yang semakin sempit. Di parkebunan karet  kopi dan cuklat, mungkin kelapa sawit, para buruh tani meranban junggul ( Tagetes patua L) dan tumbuhan liar bahkan gulma lain yang dapat dimakan untuk lauk makan sehatri hari, yang kita tidak pernah tahu nama nama jenisnya.
Di daerab Bogor, dimana hujan bisa sepanjang  tahun, lahan bekas kebun kebun karet telah diubah menjadi lahan milik, dan ditanami singkong  sayur (Manihot utilisima ),  lembayung cabut, bahkan papaya cabutan (Carica papaya L) hanya dimanfaatkan daun daun mudanya , ini merupakan  upaya  menanam sayur  lembayung yang baru,  dipasarkan untuk restoran dan warung padang dan lembayung cabut dari  daun kacang tunggak ( Vigna unguiculata L) yang dtanam bijinya  dengan rapat baru berdaun empat tangkai  terus dicabut – dalam umur  2-3 minggu)  untuk penjual karedok  diseputar  Jobodetabek ( Jakarta- Depok-Tangerang-Bekasi).
Penanaman sawi hijau bahkan merambah di pematang  pematang sawah sekitar Banyurangi demi  melajani penjaja Bakso hingga Bali  !, tentu saja dengan harga.
Bagaimana keadaan dikota yang landmark nya menjual  nasi Pecel ?
 Ini sulitnya, makanan ini benar benar makanan rakyat seperti bubur Menado.  Umumnya semua jenis sayur daun harus direbus sampai lunak, seimbang dengan nasi agak lembek dan hangat, jadi tidak cocok dengan lalapan mentimun muda, tapi krai yang direbus sampai lunak.  Umum juga mengetahui sayuran nasi pecel semestinya menggunakan juga bunga  turi ( bunga Sesbania sesban/ Sesbania grandiflora  L) rebus sebagai kelengkapan sayur yang tangkai putiknya dan tangkai kotak sarinya dibuang, supaya ndak pahit..
Sedangkan di pasar pasar sangat  sulit  mendapatkan sayur dalam bentuk “ramban”ini,  melainkan di ikat panjang sepeti bayam cabut dan kangkung darat juga dicabut, sekarang lembayung di Bogor juga dicabut, bahkan daun papaya, juga  dicabut dengan batangnya yang masih sebesar  ibu jari,  sedang di Madiun pasar hanya menyediakan sawi hijau dan sawi putih, bayam cabut dan kangkung cabut, sedang daun singkong  dipotong pucuknya dari  tanaman singkong  dan dan dalam ikatannya dijejali daun singkong tua yang terlalu luat untuk derebus, begitu pula daun papaya sebab tidak seperti di sekitar Bogor daun singkong diambil tari tamanan  singkong khusus untuk diambil daunnya. Tentu saja pembeli nasi pecel pagi pagi  untuk sarapan bakal kecewa berat,sebab sayurnya liat.  Ketika persoalan  ini dikemukakan kepada Dinas  Pertanian, dan Personil Bank Dunia yang lagi keliling mereka tidak mengerti, haruskah ada upaya   memuaskan penggemar pecel, dan apa perlunya susah susah ini harus dikerjakan. Maklum, mereka bukan penggemar nasi pecel dan hanya salary men/women. saja.   Saya  tunggu sampai pecel sudah tidak menarik lagi bagi para pendatang/ pelancong yang mampir  bernostalgia di Madiun  untuk menyantap  pecel Madiun, akhirnya hilang dari khasanah culinary makanan local  yeng menarik pendatang mampir. Toh masih banyak makanan yang bisa dijajakan. misanya msalnya super mie*)

0 comments:

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More