Sayang Sama Cucu

Sayang Sama Cucu
Saya sama Cucu-cucu: Ian dan Kaila

INDONESIA PUSAKA TANAH AIR KITA

Indonesia Tanah Air Beta, Pusaka Abadi nan Jaya, Indonesia tempatku mengabdikan ilmuku, tempat berlindung di hari Tua, Sampai akhir menutup mata

This is default featured post 2 title

My Family, keluargaku bersama mengarungi samudra kehidupan

This is default featured post 3 title

Bersama cucu di Bogor, santai dulu refreshing mind

This is default featured post 4 title

Olah raga Yoga baik untuk mind body and soul

This is default featured post 5 title

Tanah Air Kita Bangsa Indonesia yang hidup di khatulistiwa ini adalah karunia Tuhan Yang Maha Esa yang harus senantiasa kita lestarikan

This is default featured post 3 title

Cucu-cucuku, menantu-menantu dan anakku yang ragil

This is default featured post 3 title

Jenis tanaman apa saja bisa membuat mata, hati dan pikiran kita sejuk

Kamis, 01 Maret 2012

LALAT BUAH ( Fruit fly – Dacus spp )


Menurut Dr. L.G.E. Kalshoven, sarjana Belanda yang mengarang buku “The Pests of Crops in Indonesia” salah satu buku wajib bagi mahasiswa Fakultas Pertanian, bahwa Dinas Karantina sejak Hindia Belanda th 1914 dulu sampai sekarang (mungkin sampai 1951 pada saat naskah asli buku itu ditulis), telah berhasil mencegah masuknya lalat buah  dari Mediteranean (Ceratitis capitata Wied.) ke  Indonesia. Wong sesudah th 1952 dan seterusnya  terlalu banyak gonjang-ganjing di negeri ini, sulit untuk ngurusi secara teliti semua pintu masuk ke tanah air kita ini.
Yang dimaksud dengan lalat buah disini adalah dari Ordo Diptera (bangsa lalat dan nyamuk), familia Tephritidae, speciesnya Dacus spp.
Sebab ada lalat buah lain dari species Drosophilla melanogaster, yang bukan hama penting, malah makan sampah buah-buahan.

Kerusakan yang ditimbulkan oleh Dacus /lalat buah yang dimaksud ini mengerikan, karena kulit buah jambu, blimbing, mangga yang ranum tidak nampak cacat apa-apa, cuma sedikit tempat yang kulitnya melemah, tapi si hama ini set /ulat/larva yang sebesar beras berwarna putih agak kuning makan daging buah dari dalam, dan bercampur baur di situ, dan bisa menjentik atau meloncat, ibu-ibu langsung urung makan buah itu bila dikupas, seluruh buah ranum yang terserang langsung dibuang.
Satu pohon jambu air habis, tidak tersisa sedompolanpun, semua buah terserang.
Rupanya si larvae tinggal dan makan dalam buah sudah sejak lama,  keluar bila merasa sudah masanya  untuk menjadi kepompong lewat lubang kecil, sementara telur lain diletakkan dengan bantuan lalat buah/ Dacus jantan dengan membuat lubang kecil di kulit buah di tempat lain.

Yang jelas saya selalu berurusan dengan lalat buah jambu air – Eugenia acuea Burm. L  (Jambu Klampok, Jambu Kaget, karena sejak menanam jambu ini selama 30 tahun  tidak pernah memetik hasilnya kecuali menyapu berkeranjang-  keranjang rontokan buah yang rusak karena hama ini, setiap musim jambu.

Menurut Kalshoven juga, hama ini bisa diberantas dengan sex pheromone yang dijadikan daya tarik untuk perangkap beracun.
Dari teman saya Ir.Widagdo, dari Balai Pengendalian hama dan penyakit Tanaman Pangan Jawa Timur, saya diajari untuk membuat perangkap sederhana dengan sex pheromone - methyl eugenol  (methylenisasi dari eugenol atau minyak cengkeh – sudah dibuat untuk dipasarkan oleh Petrokimia )
Meskipun ada penelitian lain, yang menandai bahwa minyak sereh wangi  (Andropagon nardus) merupakan atractant juga malah dicampur dengan lem yang menarik si jantan dan si betina rupanya sudah dipasarkan juga –( Small Crab. Com. Wikipedia) – barangnya waktu itu tidak didapat.

Botol plastic air keamasan 1 liter yang kosong dibuka tutupnya, dibuat beberapa lubang berbentuk “V” dari botol plastic yang digantung  melintang dengan kawat kecil, untuk tidak melorot dibuat simpul penahan, dengan disisakan sepanjang tiga empat jari untuk mengait kapas yang dilumuri methyl eugenol. Ujung kawat yang panjang hampir tiga jengkal dibiarkan tetep lurus, demasukkan lewat mulut botol terus ke lubang kecil tepat di tengah tengah botol agar seimbang, yang telah disiapkan, kawat ditarik  dari luar lubang kecil sampai simpul penahan,  dibawahnya tergantung kapas yang dilumuri methyl eugenol tadi, lalu ujung yang panjang dikaitkan seputar ranting dan cabang pohon yang dilindungi.
Larutan air gula lebih manis dari teh yang kita minum, cuma yang ini diberi racun insectisida,  umpamakan satu liter larutan gula yang lebih menis dari teh kita, itu diberi 2 – 3 cc insektisida persis seperti larutan kerja untuk menyemprot, agar bau insectisida tidak mengacau.
Untuk satu botol penarik lalat buah ini dimasukkan umpan 5 sendok makan, bisa diserapkan pada selapis kapas atau kertas tissue, yang dimasukkan lewat mulut botol melekat didasar, trus ditutup rapat. Beberapa botol plastic penarik Dacus jantan ini untuk satu pohon diperlukan.
Artinya sesudah bau methyl eugenol ini menarik lalat yang jantan saja, si jantan ini mencari kapas yang dilumuri methyl eugenol lalu masuk lewat beberapa lubang “V” yang disisi samping  botol seperti lubang bubu, sulit mencari jalan keluar, minum air gula yang mengandung racun dan diharapkan seketika mati.

Lalat buah jantan yang tertarik makin banyak makin baik, disamping bisa mengurangi perkawinan antar lalat buah, juga menghalangi peneluran si betina, sebab si jantanlah yang juga membuat lubang pada buah di mana si betina akan memasukkan telur-telurnya.
Methyl eugenol ini harganya mahal, sedangkan setiap sudah tipis baunya 3-4 hari hari, mesti dilumuri lagi pakai sedotan atau pipet dari mulut botol.

Memang efektif, tapi melihat arah angin dari mana, kadang jambunya orang lain yang selamat, di buah jambu air kita masih sebagian diserang lalat buah, padahal kita yang susah payah, kejadiannya seperti meracun hama tikus sawah.

Konon hama Dacus yang menyerang hamparan Lombok (Capsicum spp) telah berhasil baik dikendalikan dengan sisitim umpan-racun dengan umpan –racun  ready for use, entah buatan dari negara mana, bentuknya seperti pentil sepeda.

Bisa dibayangkan betapa repotnya, wong mempunyai hanya sebatang jambu air dan kepingin panen, bukankah illmunya sama dengan memelihara kebun besar ?

Kena apa perusahaan besar Multi National Companies tidak memuat “umpan” sex pheromone ini, karena membuat menthyl eugenol tidak bisa di patent-kan, sehingga nantinya akan  selalu terjadi persaingan harga.

Pengalaman yang unik, bahwa bila kebetulan ada dua pohon yang satu belimbing, yang satu jambu air terletak berdekatan dan berbuah bersamaan, maka hama Dacus/ lalat buah akan menyerang jambu air, belimbingnya selamat. Semoga berguna(*)


































































Selasa, 28 Februari 2012

MEKANISASI PERTANIAN YANG SAYA HARAPKAN DI INDONESIA


PEMANFAATAN LAHAN TIDUR UNTUK PERTANIAN.

Saya pernah disuruh mengajar di satu Fakultas Pertanian Universitas Swasta, yang saya sanggupi, meski semua orang bilang honornya tidak seberapa, tapi biarlah agar jadi amalan ilmu.

Dibandingkan dengan sarjana pertanian contemporer saya, saya merasa saya telah bersinggungan dengan mekanisasi pertanian jauh lebih awal intensif, karena saya dididik di Uni Sovyet, lulus magister pertanian di Sovyet tahun 1965. Tahun terjadinya perubahan yang sangat dahsyat, karena Orde Baru membuang seluruh hasil kerja yang berbau Orde Lama.
   Dengan serta merta saya kerja di perusahaan swasta, sebagai Agronomist,  Sales Promotor dan Representive dari Perusahaan Agrochemical milik Perusahaan Multi National  antara lain untuk Bimas/ Inmas. Nama kerennya dari Tukang Obat. Saya tetap diterima baik oleh kawan-kawan contemporer saya yang lulusan Gajah Mada, meskipun saya urung jadi Alumni karena pindah studi di Patricia Lumumba Moscow, mereka pada meniti karier sebagai Penjabat Pemerintah di bidang Pertanian dan Peternakan.

Kurenungkan pengantar kuliah ini dengan berkesimpulan bahwa Mekanisasi Pertanian adalah satu keharusan, karena urusan “Bertani” delapan puluh persen lebih adalah urusan : “mengangkat dan mengangkut” beban yang berat.
Dalam bahasa Jawa ukuran ukuran luas dan berat banyak yang dihubungkan dengan tenaga manusai, misalnya luas lahan pertanian diukur dengan “bahu” dalam Babad Tanah Jawi dibahasakan dengan “karyo” umpama …..dihadiahi oleh Raja, tanah berukuran “seribu karyo” dan pakaian kebesaran satu perangkat. Satu bahu sama dengan kurang lebih 0,75 Ha.
Hak atas harta warisan kepada anak diukur dengan pengandaian beban “segendong” untuk anak perempuan dan “sepikulan” untuk anak laki-laki.
Pada periode Perang Kemerdekaan tahun 1945 – 1949 , Tentara Kerajaan Belanda membedakan pemuda  Pejuang/Gerilyawan dengan pemuda tani dari desa-desa, yang kerjanya bertani, dengan melihat penebalan kulit pada pundak/ bahu  (karena bekas pikulan) dan penebalan pada telapak kaki mereka, karena lain  dari pemuda pejuang/gerilyawan.

Jadi pertanian modern yang mempunyai ciri  lebih produktif, setiap pelaku pertanian harus mampu “mengangkat dan mengangkut” setara dengan tingkat produktivitas yang semakin meningkat dimiliki masyarakat modern.

Lha bagaimana bisa, bila tidak dibantu dengan alat-alat,  kemudian mesin-mesin ?
Saya sering terbang rendah dengan menumpang penerbangan Perintis pesawat Cassa di atas permukiman wilayah transmigrasi, tak terlihat adanya pembuatan jalan-jalan kendaraan untuk mengangkut hasil dan membawa pupuk ke lahan, kecuali jalan ke hunian mereka,  apa mereka bakalan memikul dan mengerjakan tanah olah dengan cangkul dan ternak seperti nenek moyangnya ribuan tahun yang lalu ?
Kok beda sekali dengan Pemerintah Hindia Belanda waktu membangun lahan tebu jutaan Hektare di Pulau Jawa pada penghujung abad ke 19, lahan sawah di ‘kriss-kross’ dengan jalan- jalan dan jalan untuk rel lori yang dipindah-pindah sampai sekarang masih ada, sebab mereka memperhitungkan panen tebu hingga 1000 kwintal/ha.
Kok mirip lahan sawah di wilayah Pinrang Sulewesi Selatan,  dengan lahan sawah yang sangat luas dan pengairan yang baik dari sungai Sa’dang, tapi juga ndak ada jalan yang cukup untuk mengangkut panen padi ke pinggir sawah, walau pengangkutan  hasil sudah dikerjakan dengan kuda beban.
Makanya sering terjadi padi busuk atau tumbuh sebelum sempat diangkut ke jalan yang diperkeras.

Begitu cepatnya problem bahan bakar untuk mesin-mesin merambah ekonomi masyarakat Indonesia dan Dunia.

Lebih dari 80 % pekerjaan di bidang pertanian adalah mengangkat dan mengangkut, akan benar-benar terpukul. Bayangkan, untuk  “mengangkat” selapis tanah lapisan olah walau hanya beberapa sentimeter saja, nama umumnya “pengerjaan tanah” atau membajak, atau mencangkul supaya lebih produktif, ya dibantu traktor.
Untuk membawa pupuk ke lahan olah, bila pilihan jatuh ke pupuk organic yang didengung-dengungkan pemerintah, apa tidak perlu alat bantu untuk mengangkut katakan 10 – 30 ton compost atau pupuk kandang masak ? Maunya kan melipat gandakan produktivitas kerja setiap petani ?
Orang mengatakan pemakainan pupuk organic, -tapi dosisnya hanya kuintal-kuintalan setiap hectare, itu menurut perhitungan saya-, ya orang yang bilang gitu sama saja dengan berbohong.
Mengangkut hasil dari lahan, juga perlu jalan perlu alat dengan roda pneumatic ditarik mesin, katanya harus melipat gandakan produktivitas petani ?  Bila tidak kapan petani bisa meningkat taraf hidupnya ?

Tidakkah pada waktunya untuk men-design baru  lahan yang harus dibuka untuk pertanian, dengan azas efisiensi energi mekanis untuk nantinya dan sosiologis kalaupun masih di ingat.
Mosok lahan transmigrasi cuma diberi jalan lurus dengan kiri kanan lahan kering untuk bertani dan hunian diatur perpetak-petak dipinggir jalan thok ?

 Indonesia masih sangat beruntung mempunyai lahan tidur yang sangat luas dan potensial, bukan untuk petani yang memikul dan mencangkul, tapi menggunakan alat mesin, yang tentu saja membutuhkan seluruh perhatian kita untuk memberikan prioritas bahan bakar yang semakin  mahal ?
Apa menteri yang suka berbohong, mampu mengerahkan para pemikir tentang ini ?

Tidakkah sudah pada waktunya kita  mempunyai design mesin penggerak yang universal, murah dan mudah untuk membantu pertanian kita. Jenis mesin apa yang bisa dimiliki secara kolektif? dan jenis mesin apa yang bisa dimiliki petani secara individual ?
Ini semua ujung-ujungnya ke pemakaian bahan bakar yang semakin mahal, dan semakin menuntut efisiensi, bila perlu dengan diversifikasi jenis bahan bakar atau kayu, atau gas atau batubara.
Di samping ribut-ribut mengenai mobil buatan dalam negeri, yang semua komponennya dicetak di China?

Seorang Pemimpin yang mampu mengilhami rakyatnya, mengerahkan tenaganya, masih kurang cukup bila dibandingkan dengan tuntutan tugas dari keadaan sekarang.
Seorang Pemimpin yang benar benar terfokus pada upaya memanfaatkan lahan tidur, lahan gambut, lahan rawa pasang surut, dengan design kedepan  penggunaan masin mesin yang cocok buat pertanian kita, sangat diperlukan.

Bila jaman kerajaan Hindu hampir semua situs pusat kerajaan didirikan di pedalaman setinggi lebih kurang 500 meter diatas muka laut, lahan miring,  bukanlah satu kebetulan yang aneh, tapi menurut azas kemudahan membuat sawah berundag dengan irigasi, sehingga sawah berpengairan mudah dicetak dan menjamin pangan maupun komoditas dagangan di kala itu, kenapa sekarang tidak kita ulang sejarah itu, senyampang problem energi menjadi sangat kritis ?
Sambil mengerahkan tenaga petani pengguna air pengairan buat konservasi lahan di atasnya sebagai hutan water catchment area ? Bukankah alat-alat electronic sekarang ini terlebih yang akan datang, makin irit sehingga terjunan air sekecil apapun bisa bermanfaat untuk memutar generator listrik ?
Daripada menanggung akibat pembalakan liar, lereng-lereng yang di Papua pun sudah dirasakan.

Setengah abad yang lalu, ex negara Uni Sovyet ingin mengejar produktivitas Petani Amerika Serikat, yang konon hanya 3% dari total penduduknya, mampu memberi makan seluruh penduduk AS, mengalami kesulitan yang besar, karena sistem jaringan jalan dan jembatan yang kurang memadai, juga silo-silo  dan gudang gudang, teknologi yang tidak terintegrasi antara panen, upaya pasca panen dan pengolahan.
Pada waktu itu belum terasa tekanan harga bahan bakar, terutama minyak bumi.

Kita tidak hanya harus menanggulangi tekanan ketidak seimbangan kependudukan yang berakibat sangat parah pada bidang pertanian, tapi juga harus meningkatkan produktivitas petiap petani untuk menjamin taraf hidupnya di manapun mereka bertani, dengan mekanisasi.
Tapi juga harus menyediakan perangkat pemakaian energi yang efisien bagi pertanian seperti yang sebelumnya tidak pernah sebegitu terpaksa seperti sekarang.  Dan harus bisa atau Negeri ini diambil alih orang lain, dan kami hanya akan jadi  buruhnya yang kontrakan  saja ?

Maka itu wahai yang merasa mampu menjadi calon Pemimpin Bangsa ini, berpikirlah ke depan untuk nasib bangsamu, bila tidak mampu memulai melaksanakan pikiranmu, itu juallah mimpi untuk mengatasi problem masa datang,  bukan hanya sekedar menawarkan perubahan keadaan dengan suara menggelegar, terlalu naïf, toh lebih baik dari menjadi Pemimpin Collector pencuri, hanya karena daya dukung kelicikannya dan uangnya. (*)

















Rabu, 15 Februari 2012

SEANDAINYA “BASMALLAH” DIARTIKAN SETEPATNYA DALAM BAHASA INDONESIA

“Belajar Agama seperti berenang dan menyelam, agar tidak celaka,  carilah Guru dan belajarlah Ilmunya, jika kau akan menyelam siapkan dirimu, Gurumu haruslah penyelam yang baik, agar tidak terjadi hipoksia seperti penyelam pemula”

Dalam membaca Al-Qur'an,  kita ummat Islam pasti membaca Basmallah (setelah kalimah ta’awwudz), sebagai kalimah pembuka surah ayat-ayat suci Al Qur’an. Kalimat Basmallah adalah “Bismillahir rahmanir rahim”.
Saya sering mengkaji beberapa model terjemahan (tranliterasi Al-Qur’an) di berbagai edisi kitab suci Al Qur’an di Indonesia. Dalam terjemahan yang dibahasa Indonesiakan, kalimah  Bismillahir rahmanir rahim dalam satu edisi terjemahannya adalah : “Dengan Nama Alloh Yang Maha Pemurah lagi Maha Pengasih”.
Kemudian pada penerbit lain, dalam sebuah edisi Al Qur’an, kalimah Bismillahir rahmanir rahim, terjemahannya adalah: “Dengan (menyebut) Nama Alloh Yang Maha Pemurah lagi Maha Pengasih”.
Karena saya seringkali mengamati beberapa edisi terjemahan kitab suci Al Qur’an dari tahun ke tahun, saya ingin mengkaji lagi terjemahan dengan kata “menyebut” yang dimasukan ke dalam kurung, kurungnya dihlangkan, yang berarti ditambahkan dalam arti bahasa Indonesia agar lebih dekat dengan maknanya, mungkin begitulah maksud ulama penafsir kitab Suci ini
Ada lagi transliterasi kalimah Bismillahir rahmanir rahim dengan terjemahannya yakni: “Dengan Menyebut Nama Alloh  Yang Maha Pemurah lagi Maha Pengasih”. Tanpa kurung baca lagi pada kata “menyebut”  yang mungkin menurut ulama penafsir, terasa lebih pas dan mengena menurut maksudnya dalam kitab suci Al Qur’an. Wog dalam surah dibawahya, Al Beqarah ayat 30, dsbutlan bahwa manusia sudah dititahkan jadi Khlifah Allah di Bhimi, lha namanya khalifah itu kan hanya berbuat atas nama yang menngangkat nya tidak semaunya sendiri, ada tanggung jawablya. Sedanhgkan bila ditambah dengan kata menyebut, nampaknya tidak berani mengatas namakan Nya, karean Allah maha tinggi pikirnya. tapi kenyataannya manusia memang berbuat semaunya sendiri, misalnya membuat senjata pemusnahan massal dan memakainya,, masak  perbuatan begitu kok suruhan Allah, yang Maha pemurah dan maha Pengasih > Kalau memang sudah waktunya kiamat ya Allah sendiri yang menentukan, ndak usah  menitahkan manusia bikin bom hydrogen  ribuan mega ton. ?

Saya tertarik untuk mengkaji makna Bismillahir rahmanir rahim, secara harfiah.
Bi-Ism-Alloh:
Pada  kata ‘Bi’ -
Terjemahan Al Qur’an dalam bahasa Inggris, para ulama cenderung tidak mengartikan  ‘Bi’ dalam Bismillahir rahmanir rahim dengan ”with the” artinya kurang pas, lebih condong dengan pengertian “In the” (Name of Alloh)
Apabila dipakai ungkapan “with the” maka para ulama cenderung mengartikan “ “with the blessing of”……… 
Kontext Bi – dalam Bismillah adalah lebih pas dengan ungkapan:
-    under the governance of………….
-    as instrument of …………
-    as a representative of……….
-    On behalf of……………
-    With the support of……….
-    For the glory of………..

Ism –
-    Anything being raised high
-    Anything distinguished
      -      bahasa Jawa = “Asma” bahasa tinggi untuk Nama
Alloh-
      -      Arabic = Alloh
-    Hebrew = Eli , Elohim
Dari kontext bahasa Inggris menurut kamus, maka makna “Bismillah”  dalam bahasa Inggris tidak ada yang pas dengan “menyebut” atau “mentioning”  atau “chanting”. Lebih cocok dengan terjemahan ‘In The Name’.

Ar Rahman dan Ar Rahim
      -     Adalah dua asma dari 99 Asmaul Husna.

Saya jadi berpikir jika kalimah Bismillahir rahmanir rahim diterjemahkan dengan “Atas nama Alloh Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang”, mungkin –ini menurut dugaan saya- para ulama penterjemah ke bahasa Indonesia, cenderung menghindarkan  si Manusia yang memberanikan diri mengatas namakan Alloh  yang Maha Pemurah dan Maha Pengasih, dalam tugas hidupnya.
Apalagi seperti orang Jawa yang mengungkapkan bahwa Alloh terhadap manusia:sangat kecil
“Lamun adoh tanpa wangenan, lamun cedak ora senggolan”
Artinya bila jauh tanpa batas, bila dekat dengan manusia tanpa bersinggungan.
Sebab pengertian sebagian para ulama formal,  Alloh harus  diposisikan oleh manusia,  yang Maha Tinggi di atas Alam Raya dan Maha Tinggi di atas manusia. Jika menurut pengertian Jawa tadi, maka masih ditakutkan bisa jadi terlalu dalam dan membingungkan rakyat jelata seperti urusan Siti Jenar dahulu, bila tidak membaca surah berikutnya yaitu Al Baqarah ayat 30, yang terang terang Allah birfiman menitahkan manusia, sebagai  khalifah Alla di Bhumi dengan .RakhmanNya dan RakhimNya thok, bukan sifat yang lain diantara 99 asmaNya. makanya jin dan  malaikan harus mesujud. Sebab kelebihan jin dan malaikat dari manusia, tidak menjadikan alasan Allah mereka  gijadkan khalifah di bhumi. 
Apalagi jika mengkaji ayat yang berbunyi “Alloh lebih dekat dari urat lehermu”. Wah, bisa-bisa pusing rakyat jelata yang kurang pikirnya, dan bagi orang yang mengkaji tanpa Guru bahkan bisa gila.
Di sisi lain, Alloh Yang Maha Tinggi, jelas telah mengangkat Manusia sebagai Khalifah-Nya di muka Bumi, karena dalam Wahyu-Nya tertera di Kitab Suci Al Qur’an, sesuai pada surah Al-Baqarah ayat 30, posisi yang paling mulia, dengan tanggung jawab yang berat.

Bila kalimah Bismillahir rahmanir rahim diartikan “Dengan Nama Alloh Yang Maha Pemurah lagi Maha Pengasih” seperti bahasa Arabnya, maka tanggung jawab Manusialah segala kejadian yang menyengsarakan manusia sendiri di atas muka Bumi. Jika kalimah Bismillahir rahmanir rahim diterjemahkan “Atas Nama Alloh yang Maha Pengasih lagi Maha Pemurah” maka cocok dengan amanat Alloh pada manusia sebagai khalifah di muka Bumi, karena manusia harus “care” terhadap sesamanya dan Buminya sebagai tempat hidupnya, wong sudah diangkat sebagai Khalifah di muka Bumi (pemimpin diatas muka Bumi), sebagai pengemban amanah Alloh SWT di muka Bumi.

Maka dari itu sesudah amanah yang telah mengatas namakan Alloh tadi, agar manusia berbuat kebajikan di muka Bumi, agar manusia sebagai si pengemban amanah itu berkewajiban berusaha bersifat kasih sayang di muka Bumi.  Inilah indahnya Islam menjadi “Rahmatan Lil Alamin” dan tidak ada Utusan Alloh lagi setelah kedatangan Rasulullah Muhammad SAW, yang telah menyampaikan amanah Alloh yang terakhir pada manusia.
Sebaliknya, bila Bismillahir rahmanir rahim diartikan sebagai “Dengan menyebut nama Alloh yang Maha Pemurah dan Maha Pengasih” dengan menyisipkan kata –menyebut- tanpa dikurung lagi,  maka saya jadi berpikir, jika dikatakan ‘dengan menyebut’ maka kapan manusia dapat dikatakan langsung bertanggung jawab terhadap sesamanya yang lagi menderita dalam hidupnya ?

Manusia akan menggumam, ‘saya kan hanya manusia biasa, saya hanya menyebut nama Alloh, saja, saya tidak mengatasnamakan Dia. Dia-lah nanti akan menetapkan apa yang dikehendaki Nya’.
Maka bila menggumam ‘hanya menyebut nama Alloh’, bisa jadi ada manusia ada yang berpikir ‘Jika kalian orang miskin, jika kalian tetanggaku kelaparan, maka mohonlah kepada Alloh untuk diberi  zakat, fithrah, mal, shodaqoh’, lha iya lah, dua setengah persen dari ratusan milliard rupiah dari pembalakan resmi ada SK Menteri, dari lahan tambang terbuka batubara ada SK Gubernur, SK Bupati. 
Lha rusaknya alam ? Katakan sepuluh persen untuk shodaqoh sisanya kan masih banyak? 
Lha bila manusia yang telah memeluk Islam sebagai Rakhmatan lil Alamin, maka mesti ada pertimbangan ongkos sosial dan nilai yang tak terbaharui, atau reklamasi lahan, atau transmigrasi, dimana manusia bisa bertani, hidup dari tenaganya sendiri.
Percayalah, harkat manusia yang diharapkan mewarisi sifat Rahman dan Rahim lebih tinggi dari harkat demokrasi yang artinya bukan saja kekuasaan milik rakyat banyak. Namun kekuasaan milik Alloh. Hanya saja sayangnya jika tidak dapat berpikir untuk mengkaji makna kalimah Bismillahir rahmanir rahim secara mendalam, maka amanat sebagai khalifah, bisa mudah diselewengkan menjadi kebebasan mengejar dan memperoleh apa  saja di dunia (duniawi), termasuk mengangkangi lahan perkebunan sawit ratusan ribu hektar.(*)

“Belajar Agama seperti berenang dan menyelam, agar tidak celaka,  carilah Guru dan belajarlah Ilmunya, jika kau akan menyelam siapkan dirimu, Gurumu haruslah penyelam yang baik, agar tidak terjadi hipoksia seperti penyelam pemula”

Kamis, 09 Februari 2012

REVOLUSI KE-II PENANAMAN PADI DI PULAU JAWA.

REVOLUSRI KE II PENENEMAN PADI DI PULAU JAWA

Sejarah mengajarkan penanaman padi di Pulau Jawa  (Oryza sativa L)  sudah ribuan tahun yang lalu,  ditanam ditebar, atau ditugal. Ternyata masyarakat dari India-lah yang membangun sistem persawahan dengan pengairan, dan yang paling penting dalam sistem ini, benih padi disemaikan  terlebih dahulu, setelah lebih tinggi dan dapat dicabut dengan tangan, kira-kira berumur 25 hingga 35 hari, lalu dipindahkan ke bubur lumpur, di petak-petak yang telah disiapkan, bersih dari gulma/ tumbuhan liar.
Ini adalah paket cara baru besar-besaran pada pendirian kerajaan Hindu di Jawa pada awal tahun Masehi, diperkenalkan ke masyarakat pribumi sebagai penonton kemudian peserta, oleh masyarakat pindahan dari India belakang – mengorganisasi pengairan, dan membuat pembenihan padi.  Ditandai dengan bereirinya wangsa Syailindra di Palembang sekarang.
Ini revolusi pertama dalam penanaman padi, sehingga kaum pribumi terserap semua dalam teknologi baru yang lebih menguntungkan ini, terserap dalam kebudayaan Hinduisme, satu plattform untuk tumbuhnya kerajaan-kerajaan besar Hindu di Nusantara.
Sampai sekarang Raja Jawa dijuluki “Trahing kusuma rembesing madhu, tedhaking  Handana warih.”
Artinya Sang Raja adalah keturunan bunga swargaloka yang dari mereka menetes madhu/rizki, keturunan Sang Pemberi air (pengairan).
Panen padi jadi berlipat,  0,75 – 1,5  ton padi bermalai malai bisa dipastikan, dan ada golongan masyarakat baru, terdiri dari keturunan Brahmana yang mempunyai tradisi dan monopoli kecakapan membaca dan menulis (huruf Palawa), yang mengurusi pertanian dan peternakan secara teratur dengan catatan pengalaman  yang sistimatic  makin panjang, hingga ratusan tahun.
Sekarang masih berjalan dengan nama sistim “subak” di Bali.
Subak ini bakan saja mengurusi hal ikhwal pertanian, tapi juga mempunyai kewenangan dalam hukum yang mengikat masyaraka tani, dengan peraturan peraturan (awig-awig – bahasa Bali), dan menuju optimalisasi seluruh produksi lahan, menurut contour tanah persawahan yang ada, dan kecukupan air pada setiap musim, kapan cukup unutk tanam padi kapan hanya cukun untuk menanam palawija. Tentu saja letak petak sawah yang dekat dengan  hulu saluran akan mempunyai kesempatan lebih banyak mendapat air, dari lrtak petak sawah yang paling jauh dari hulu saluran.
Taknik irigasai yang lebih maju, dengan menggunakan pintu pengukur banhaknyaq air yang tersedia (Liter per detik) akan menetapkan din=mana petak yang masih bisa menanan pedi, dan dimana petak yang haur menanam palawija yang membutuhkan air lebih sedikit dari padi. Dari saluran tertiair ini air bisa dibantu dibuatkan saluran cacing ke petak yang paling jauh, sehingga lebih cepat sampai dan tidak banya ialng di jalan, bila harus pewat petak demi petak.
Maka terjadilah revolusi yang pertama penanaman padi di Pulau Jawa.

Masyarakat pribumi meninggalkan cara lama menanam padi di huma, tegalan, yang dikerjakan  dengan cara “slash and burn”. Melainkan hanya tertinggal di tempat terpencil di perbukitan dan kaki gunung di pulau pulau yang sulit terjangkau oleh pendatang baru dari India belakang, karena penyiangan padi huma sangat makan tenaga. 
Bandingkan dengan keadaan pengairan di Bali sekarang, saluran air bisa didapat dari sungai diatas dan melewati saluran sepanjang dinding jurang, menyeberang lenbah dengan aguaduct sedehana sampai berkilometer jauhnya. Dibuat jauh sebelum lahan tebu debangun dengan pengairan moderen bahkan dengan menggunakan siphon untuk mendapat air dari seberang jurang ke lereng lain dari kaki gunung.
Bila airt pengairan masih mungkin didapat, pasti dibatkan saluran pengfiran menuu ke sawah.


Setelah ditanam padi jenis baru mulai tahun 1968 yang dihasilkan oleh seleksi IRRI Los Banos Phillipines, yang berdaun tegak, posturnya pendek, berumur pendek ( kurang dari 115 hari) dengan potensi penyerapan pupuk produksi  pabrik yang lebih baik..
Panen gabah langsung meningkat hingga 5 ton per Ha. cara penen langsung berganti dengan dibabat pakai arit bergerigi yang khusus, dari pangkal rumpun padi, yang sebelum padi jenis baru ini,  panen dilakukan dengan ani-ani atau ketam, semacam pisau kecil padi dipanen semalai demi semalai, dipilih malai yang sudah tua, sehingga yang masih banyak bulir hijau ditinggal, untuk dipanen ulang.

Revolusi ke II adalah cara panen itu, terjadi setelah 2000 tahun lebih petani memakai ketam atau ani-ani.

Wong cuma ganti alat panen saja kok revolusi ?
Persoalannya tidak se-sederhana berganti alat panen, karena padi jenis baru dari  IRRI ini rontok bila masak. Ini persolan besar, sebab hasil kerja selama 115 hari ini  sangat berharga, bulir demi bulir gabah,  dikalikan lebih dari 5 juta hektar lahan/tahun.
Para Penyuluh Pertanian menganjurkan bila memanggul rumpun batang padi yang dibabat keluar dari lahan untuk pemisahan gabah dengan jerami plus merang, sangat dianjurkan dibungkus dengan selembar kain/plastic/ bekas kantong anyaman PP (polypropilen woven bag) supaya gabah yang mestinya rontok hilang di jalan, terikut  dikumpulkan, konon kehilanan ini bisa mencapai 10 % lebih.

Cara tanam yang baik, tidak terlalu dalam 2,5 – 3 cm, yang bisa merangsang  anakan padi, dari pada kebiasaan lama jang terlalu dalam sampai 5 cm. 

Semua malai akan dihasilkan dari anakan  padi. sekarang atara 7-12 anakan, ini masak tidak bersama sama dengan induknya melainkan ada selisih waktu, agak lambat satu, dua  hari setiap kemunculan malai dari kelompok anakan sulung ke kelompok anakan buncit. 
Apa yang dilakukan hampir setiap petani, bila sampai empat malai sudah cukup masak, yaitu induk dan malai anakan sulung dari setiap rumpun sudah rata masak, ya trus dibabat.
Anakan bermalai ke empat lima enam tujuh dan yang paling buncit bermalai keduabelas, tinggal ikut saja dibabat, tidal menunggu masaknya bulir bulir pada malai  4 - 6 anakan buncit masak, karena disamping isinya hanya 100 -150 gabah, karena letaknya rendah masaknya lebih lama, keburu kakak kakanya rontog..
Ya benar, anakan ke lima misalnya sampai kedua belas ini bulirnya rata rata katakan  hanya seratus limapuluh gabah, berarti ada 8 kali l50 bulir gabah atau sama dengan isi tiga malai normal, bulir gabah tiga malai utama.
Lha bulir bulir gabah dari malai anakan yang  ini hampir 40% masih hijau, saat dibabat bareng, atau kurang dari separo dari gabah malai anakan, mewakili 20 persen panen.
 Atau dua puluh persen dari potensi panen masih belum waktunya dipanen, habis bagaimana ketimbang  empat malai utama keburu rontok, nunggu kuningnya bulir-bulir gabah di anakan kecil-kecil.
Benar saja, sesudah dijemur, si  bulir hijau senjadi mengkerut, berwarna putih kayak kapur, bila digiling akan hancur.

Ide Subagyo :
Apabila kita berhasil mengeluarkan pembungaan anakan padi ini dalam waktu yang relatip sama dengan induk satu rumpun, maka kemasakan tiap bulir dari malai anakan akan siap dalam waktu yang hampir bersamaan dengan malai induk beserta anakan  ke empat,  sampai malai yang paling buncit  dari rumpun  padi tersubut?
   Alias saat dibabat kita bisa menyertakan malai anakan ke empat hingga delapan para anakan buncit menjadi gabah yang masak,  berarti lebih kurang mendekati  20 persen dari potensi panen.
Sesudah usia purna tugas, artinya ndak terpakai lagi, pernah saya membantu bekerja untuk teman yang berdagang, memproduksi “pupuk daun” artinya pupuk majemuk yang terdiri dari hara untuk tanaman yang mudah larut, dan diberikan kepada tanaman terutama berupa cairan encer yang diremprotkan ke daun pagi pagi hari. (Diutamakan menanggulangi kekuarangan hara mikro yang sering mengganggu  )
Pupuk daun ini sebenarnya produk ecek-ecek. Larutan urea/nitrat ditambah rarutan KH2(PO4), dan KCl  tawas dan pewarna  untuk daya tarik, kurang dari 15 % total wight/volume (saya kira)  dikemas dalam botol 0,5 liter, 1 liter dijual lebih dari harga 2 Kg urea, untung besar.

Terus terang saya tidak diberitahu apa sebenarnya yang terkandung dalan pupuk cair itu pada akhir pembuatannya, karena policy perusaannya mereka dengan counterpart pedagang keturunan Cina, itu semua dianggap rahasia perusaahan, kecuali yang tertera di label kemasan.
Anjuran pemakaian 3-4 cc /liter. Jauh dari ambang phytotoxisitas karena hipertonis terhadap cairan sel, aman. Dengan pemikiran yang diceriterakan dicatas, bahwa hanya dengan membungakan anakan ke empat hingga delapan anakan padi   yang paling buncit, sehingga bisa berbunga relatif bersamaan, maka masaknya gabah diraprapkan bersamaam, jadsi menambah bobot panen gbah yang bernas, bisa menjadi beras.
Saya mulai dengan penyemprotan pupuk daun saat mulai malai keluar satu… dua terutama yang mengandung kalium, dengan rate 750 cc/ha atau satu botol setengah sengan air 300 liter/ha dapat membuat malai anakan muncul lebih cepat sehingga pembungaan kurang lebih bersamaan.

Perkiraan saya  malai akan memanjang, mendorong  bunga keluar.
Se-sederhana itu.  Penyempotan pupuk daun,  misalnya daun bendera atau daun daun dipucuk tamanan padi masih bisa menyerap hara yang mudah larut dari  pupuk daun. macam apapun ion-ion yang larut itu, pokoknya membuat setiap vacoula sel-selnya padi bertambah tekanan osmosenya sehingga penyerapan air kembali lebih giat, akibatnya sel-sel yang menopang malai lebih  panjanb dan cepat.
Akibatnya hamparan yang mulai berbunga satu….dua ”mlecuti” (bahasa Jawa) atau mengeluarkan bunga, bisa mengikutkan anakan-anakan sekalian, relatif bareng,
Akibatnya semua malai akan masak hampir bersamaan waktunyadengan waktu membabat/panen. Semua gabah menjadi beras.
Penelitian tidak berlanjut, entah bagaimana karena kawanku yang menciptakan pupuk daun 'ecek-ecek' itu keburu meninggal karena kanker nasopharyngeal, dan counterpartnya yang pedagang keturunan Cina di pasar tradisional tidak biasa menangani product yang harus dibuatkan “image” yang hebat,  wong perusahan raksasa sekelas Unilever saja tidak  mengalokasikan dana untuk bikin pupuk daun produksinya, mengatasi prsolan ini, dan pasti memerlukan ongkos besar untuk menciptakan brand image ini.
Ya, se-sederhana itu.
Saya masih mengharapkan ada yang melanjutkan membuat terang gejala ini, sehingga berguna bagi petani dan tidak dibuat mem “blow up” pupuk daun yang 'ecek-ecek', hingga menguntungkan yang dagang thok, saya jamin anda tidak akan mendapat apa apa, kecuali sebutan Pejuang Revolusi ke II penanaman padi di Pulau Jawa. (*)

(Ir.Subagyo, M.Sc alumni Magister Pertanian- UDN University Druzhby Norodov- Moskow Russia 1966)

Selasa, 07 Februari 2012

SAYA PEMAKAI DAUN UNGU/HANDELEUM – Graptophylum pictum Griff
















TULISAN INI DIBUAT UNUTK MENGHORMATI DAUN BERKHASIAT DAUN HANDELEUM ( Graptophylum pictum L) 


Tulisan pertama saya unggah di blog google saya pata waktu saya berumur 75 tahun, Sekarang sudah 89 tahun, saya tulis kembali sebelum saya lupakan, kesksian penting saya mengenai daun obar ini.
Lima thun yang lalu saya kena stroke ringan, tapi harus ke Rumah Sakit, Atas rujukan Dokter BPJS saya. Garei itu saha merasa keseimbangan saya agak nggak bener, kila mata saya pejemkan saya tidak bisa berjalan lurrus.
Saya sama sekali tidak psing, tapi tekanan darah saya syswtole ( yang diatas) waktu diperiksa 240  yang sibawah saya lupa.
Dokter  menganjurkan saya segera ke Rumah Sakit. Segera diantar oleh menantu saya ke RSAL Surabaya berhubung loket sudah tutup saya dianjurkan lewat UGD, dengan rujukan dan pemeriksaan tekanan darah diulang, saya  diantar pakai ksi roda ke klinik pemeriksaan, Poly Syaraf. Sesudah beberapa saat menunggu antrian pemeriksaan pesien hari itu, saya dipanggil, anel haktu dirurh tidur di tempat tur pemeriksaan saya sudah tidak bisa melepaskan sepaktu saya, tangan kanan saya dan kaki kanan sulit digerakkan. Selanjutnya saya dikirim ke kamar inap menunggu pemeriksaan MRI, bener saja nampak penumbatan pembuluh darah di otak sebelah kiri - jadi efeknya ke anggauta badab terutama angan dan kaki kanan tidak bisa digerakkan.
Dalam perawatan inap, sar minggu anggauta bedab tangan dan kaki kanan saya sudah bisa digerakkan.





saya dan pohon handeleum yang mengobati ambeien saya


Tahun 1993 saya bebas tugas alias berhenti jadi pegawai karena usia, sebelumnya saya bekerja sebagai Agronomist perusahaan Pestisida products dari Multi National Company trus perusahaan itu dijual ke perusahaan domestic dengan products sekalian bersama asset dan para pegawainya. Saya tetep jadi Agronomist pada zaman Bimas Tanaman Pangan Nasional untuk wilayah Jawa Timur, Indonesia Timur dan Sulawesi. Kalimantan tidak termasuk.
Product Companies itu kebetulan cocok untuk dipromosikan dimasukkan dalam products yang dibeli pemerintah untuk program Bimas/ Inmas (Bimbingan masal dan Intensifikasi Masal untuk tanaman pangan dan kapas, yang jumlahnya mencpai ratusan ton). Kita hannya pasukan lapangan, sedang yang mendapat jatah menang tender sebenarnya adalah termasuk kroni dekat Pentolan paling berkuasa di Orde Baru.
Walaupun demikian pada tahun tanam sebelum tender tahun berikutnya, selalu dinilai barapa carry over atau sisa yang masih belum dipakai oleh petani, di gudang-gudang Penyalur Tunggal untuk sarana produsi pertanian bersubsidi, P.T Pertani.
contoh tanaman daun handeleu


Jumlah sisa atau carry over pada akhir tahun tanam menjadi pertimbangan penting jumlah jatah pembelian tahun berikutnya. Nah inilah tanggung jawab kami para Agronomist, jadi kerja kami sebenarnya sangat mirip dengan Detailers Obat- Obatan manusia produk Pharmaceuticals Industries, hanya beda sasaran saja, sasaran kami adalah setiap petani, gurem atau tuan tanah atau Direktur Produksi perkebunan BUMN atau Swasta, petani gurem peserta Bimas/Inmas tanaman pangan polowijo dan kapas, sedangkan Detailers betulan, sasaran mereka adalah para dokter dan Rumah Sakit.
  Jadi tugas kami adalah kunjungan, pertemuan dengan petani, menyelengarakan demonstrasi, membagi samples, sampai ke lahan yang kena serangan hama atau penyakit, membuat “demonstration plots” dan memelihara “brand image” jangan sampai salah dalam penggunaan, memberikan penekanan pada keselamatan kerja menggunakan pestisida. 

pohon handeleum bisa tumbuh  di pekarangan

Menyelengarakan pertemuan dengan sebanyak mungkin Kelompok Tani, Jajaran Dinas Pertanian, Segala Lembaga Penelitian jang terakait, (PPL) Petugas Penyuluh Lapangan dan terutama Petani yang mempunyai pengaruh terhadap teman-temannya.
Termasuk juga perkebunan BUMN dan Swasta juga usaha Perikanan (pemberantasan ikan liar dan keong tambak payau yang dekat pantai, Trisipan. spp.)
Sesudah Bimas Inmas berhenti, dan penjualan dijalankan di pasar bebas tanpa subsidi, pekerjaan kami sangat competitive sebab banyak produk yang bahan aktif (generic) sama, banyak produk seperti sintetic pyrethroid yang punya gradasi knock down terhadap hama sendiri-sendiri.
Jadi jangan bertempur di medan yang anda pasti kalah “grade”nya dengan perethroid sintetic punya kompetitors
  
Wasir
Inilah yang membuat saya mengidap sakit wasir atau ambeien, atau haemorrhoid luar yang parah, kadang celana di bagian anus berdarah darah sampai kayak wanita haid, sebab harus betah duduk di kendaraan berjam-jam setiap minggunya, mengemudi sendiri jeep yang keras suspensinya pasti, sebab perlu menempuh segala jalan-jalan desa
Segala obat dari Phaemaceutical Industries untuk haemorrhoid, pil untuk diminum, supositoria (semacam “peluru lonjong dan agak lunak dimasukkan ke anus sudah digunakan), kemudian ada larangan makanan pedas, minum kopi, makan daging kambing sudah dijalankan, alcohol tentu saja dilarang, ok, tapi bergadang dan mengemudi jeep ya itu kerjaannya.
Sampai saya membaca perkara “handelaeum” sebagai obat wasir.
Dari pertama saja yakin, bahwa nama “handeleum” adalah nama Sunda, orang Sunda paling suka lalapan dengan sambal pedas, jadi mestinya sebagian mereka pasti kena wasir, lha bila mereka menemukan obatnya di antara dedaunan atau rimpang atau buah buahan ya pasti manjur.


perhatikan, daun handeleum bagian belakangnya ke-unguan, jangan salah tanaman
Lain halnya misalnya bila obat tradisional untuk penyakit hypertensi atau tekanan darah tinggi, yang dtemukan oleh orang Madura - ya manjur, habis semua makanan dan lauknya cenderung asin, kan garam diproduksi di Madura, dan mereka terkenal suka “carok” atau berkelahi menggunakan senjata tajam.
Yang penting saya bisa mengatasi wasir (istilah dokternya ambeien luar) yang saya idap sudah menahun.
Setelah saya temukan tumbuhannya yakni daun Handeleum tadi, saya ambil dua tiga helai daun yang masih muda namun sudah selebar daun dewasa, agak berlendir bila dipotes, saya celupkan air mendidih beberapa menit langsung diangkat.
Kemudian digulung serupa cerutu pendek dan padat. Cerutu daun handeleum sebesar jari telunjuk sepanjang lebih dari dua buku jari diletakkan membujur diatas jari kiri, trus yang di atas ujung jari dimasukkan dalam anus, kemudian ditekan pelan-pelan dari ke dalam anus, tapi yang masuk dulu adalah cerutu yang diatas ujung jari, dimasukkan dalam kedaan jari membujur lubang anus, tapi tekanan ada di ujung jari, sehingga masuk seperti supositoria biasa, seolah olah membujur anus.

Tentu saja jenis supositoria dari cerutu daun handeleum ini tidak keras, tapi dengan pertolongan ujung jari bisa kita masukkan cerutu sebagian besar gulungan daun handeleum kedalam rongga bawah ujung usus besar diatas sphincter ani (otot lingkar anus), sehingga tidak gampang lepas keluar, karena melorot tertekan usus besar.
Dengan demikian bila mengemudi kendaraan dengan supositoria gulungan daun handeleum ini tetap ada ditempat yang semestinya.
Beberapa jam Insya Allah, bengkak mengempis dan perdarahan berhenti, tidak perlu diapa-apakan lagi, sebab cerutu akan keluar bersama kotoran

Handeleum nama lain dari “daun ungu”, nama Latin species: Graptophylum pictum Griff.
Genus: Graptophylum, Familia: Acantaceae, Ordo:Seropheriales, Kelas:Dicotyiledone. Bila pembaca ingin mengetahui riwayat daun handeleum bisa baca di wikipedia telah komplit informasinya.
Handeleum Sangat gampang ditanam bahkan dari stek batang sepanjang dua jengkal pun bisa saja agar cepat besar.
Dapat ditanam dictempat yang lebih kurang 1700 meter diatas muka laut sampai tepi pantai, yang penting untuk perdu ini cukup air, dan dipiara dari serangan ulat daun. Bila cukup matahari daunnya cenderung ungu kemerahan, bila kekurangan sinar matahari cenderung menghijau.
Saya jadi biasa menanam Graptophylum pictum ini disetiap Penginapan di Kota Kabupaten di mana sering saya singgahi dan menandai di depan rumah di mana tanaman ini bebas tumbuh, ini perlu, sewaktu waktu haemorrhoid saya kumat saya tahu tempat terdekat dimana daun ini bisa diambil.
Semoga ada gunanya bagi pembaca, Insya Allah anda bisa terbebas dari penyakit wasir yang amat menyebalkan ini.(*)

Sabtu, 28 Januari 2012

TERNYATA SEBAGIAN NEGARA-NEGARA EUROPA BARAT BANGKRUT -BUKAN DARI PErTANINYA YANG PUSO DISERANG HAMA

TERNYATA GREECE DAN ITALIA, TERMASUK NEGARA MAJU ANGGAUTA 
UNI EUROPA - BANGKRUT ? 

Saya seorang Agronomist, pengertian saya mengenai ekonomi, apalagi ekonomi finance global relatif terbatas. Akan tetapi berhubung seluruh dunia geger, sampai sampai CEO yang menguasai uang yang ada seluruh dunia ini diwawancara oleh CNN, apa yang akan mereka lakukan di Club mereka saat ketemu di Davos Switzerland kini?
Soal pertemuan kota Davos di Swiss dengan Obama, saya tidak tahu, wong CNN saja ya belum menyiarkannya.
Tapi yang jelas kata “bangkrut” yang bahasa kerennya “bankruptcy”, kami tahu sekali, bahasa petaninya “puso”, artinya seluruh modal milik petani dipergunakan untuk ongkos tanam dan pemeliharaan. E…e… ternyata panennya habis diserang hama atau penyakit tanaman dan utang ndak terbayar.
Yang ini terjadi di Europa dimulai dari Greece (Yunani), kemudian Italia kemudian Perancis mulai kesulitan pancairan dana besar, sebelumnya Inggris berjaga jaga agar duitnya di Bank awet liquid segala pos pengeluaran diketati, termasuk dana pendidikan.
Di berita TV sedunia rakyat pada demo, karena mau atau tidak obatnya hanya satu yaitu “austerity measure” bahasa petaninya hidup sangat hemat, makan sekali-sehari.
Ndak percaya ?
Tahun 1975-an dan tiga tahun berikutnya ada hama padi wereng coklat (Nilaparva lugens L) yang sekaligus menjadi vector virus kerdil rumput (grassy stunt) dan wereng lainnya, menghancurkan panen habis-habisan, petani kelaparan, hanya mampu makan sangat sederhana, bahkan bonggol/umbut pisang direbus sekedar menangsal perut, bahasa kerennya “super autere measures”

Tapi ini aneh, Negara Europa, seperti Greece, Italia, bukan negara berkembang, termasuk negara maju, sudah bebas buta huruf, kematian ibu dan anak sangat kecil, harapan hidup tinggi. Gini rationya hebat.
Kok Bank Sentralnya bangkrut, anak pinak bank-bank di bawahnya sudah tidak bisa mengembalikan uang orang.
Pantasnya Negara yang sudah maju ini (wong negara Turki saja tidak diterima masuk kok) seperti negara negara Europa yang tergabung dalam Uni Europa, bank-bank sudah ratusan tahun beroperasi, punya batasan batasan hukum supaya bank itu tidak sampai terkuras habis oleh resiko apa saja termasuk KKN. E..e.. kok malah bangkrut.

Bila analisa dilakukan menurut ilmu dan istilah perbankan orang akan pusing tujuh keliling, sebab yang dinamakan harta bank itu ya “activa” bank semuanya, adalah semua activa itu yang bentuknya macam-macam termasuk piutang yang nagihnya mudah dan activa dengan kesulitan menagih sendiri-sendiri yang telah diperhitungkan.
Semenjak Perang Dunia II seluruh Europa telah berubah, “demokrasi” nya telah menyentuh rakyat bawah yang ternyata telah mati matian dengan gagah beani dan pengorbanan yang besar, ikut mengusir Nazi Jerman jadi Maquis. Partizans, Resistance, bekerja sama dengn Sekutu.
Kaum menengah dan menengah atas sesudah itu mulai peduli dengan kesejahteraan golongan bawah, buruh berkerah biru dan buruh tani- timbul aturan pemerintah yang melahirkan welfare country.
Lha memang dua negara yang Bank Sentralnya bangkrut ini termasuk negara yang tertua dalam segala hal, termasuk susunan hunian, jalan-jalan di kota kotanya dan sistem sanitasinya, bayangkan bila harus dimodernisasi.
Jadi setiap politisi harus mengikuti zaman, pemilihan Presiden pemilihan Gupernur dan Walikota pemilihan anggauta Parlemen dan patai-partai, para politisi calon-calon ini selalu berkampaye tentang kesejahteraan rakyat, lha akhirnya kan ditagih, dan umumnya mereka sudah mengenal penyelenggaraan “welfare societies/welfare countries” semenjak Perang Dunia II, artinya memberi kesempatan rakyat untuk hidup layak, dengan upaya negara.

Jadi bila Politisi hutang pada bank dengan jaminan bangunan Kantor Municipalities, gedung Kementerian untuk bikin betul WC di rumah sakit, got pematusan seluruh hunian se-negara, bikin rumah sakit buat orang tua-tua itu ya memang dari hati nuraninya, didukung secara aklamasi oleh Parlemen-nya, wong DPR RI saja bikin betul WC di gedung DPR nya dengan onkos 300.000 Euro, lha deisana bikin baru semua jamban fasilitas umum, bikin jalan dan jembatan di desa-desa mereka yang habis kebanjiran sekolahan desa yang tidak mudah roboh, sangat mahal, memang budaya mereka sudah tinggi.
Lha kemudian kini duitnya orang-orang kaya yang sejak dulu dititip di bank terambil oleh keperluan mendesak itu.

Kebetulan mendadak saja ada prospect baru, meniru tuan Sachs dari US membeli logam mulia besar- besaran, penanaman modal di lain tempat dan para marquis-marquisse dan baron dan baroness, para mister Onasis dan para Papapuolos, Duke Paganinni dan Signor Ferrari menarik uangnya dari bank-bank itu - lho uangnya sudah tipis dipakai untuk membeayai infra structures kota dan desa, (tentu saja tidak seperti desa di Mesuji) tidak cukup, sdangkan kiriman devisa US dollar dari TKI (I -artinya Italia ) dan TKG (G- artinya Greece) susut banyak karena USA juga lagi krisis juga, maka bankrutlah bank -bank di sana. Ini penertian fantasi saya.

Seperti biasanya IMF menganjurkan “super austere measures” kayak petani kita, makan umbut pisang, tidak diterima rakyat, mereka bilang kami bekerja, products kami laku keras (lihat tas Gucci dan cosmetic dan minyak wangi dibeli dimana-mana, sepatu Bally kami selalu dipakai anggauta Dewan Perwakilan Rakyat RI) kok kami yang harus “puso” artinya puasa juga seperti petani Jawa Bali dan Sulawesi ?
Begitulah pengertian seorang Agronomist, sangat sederhana.

Pengertian mayoritas kaum menengah dan menengah atas di Europa, menyangkut pengaturan pendapatan Negara sudah bisa menjejelaskan pengertian idelogi kapitalis di bawah ini :

IDIOLOGI KAPITALIS

Para Ideologist Kapitalisme selalu dengan bangga menggaris bawahi bahwa kemajuan yang dicapai umat manusia setaraf sekarang ini adalah berkat berlakunya hukum pokok yang disakralkan oleh Ideologist Kapitalisme :
“Hak milik pribadi atas modal dan alat produksi tidal boleh dibatasi oleh apapun kecuali oleh kemampuan manusia itu sendiri untuk menguasainya.”
Memang masyarakat yang berbudaya harus bisa “melindungi” hak milik pribadi setiap anggautanya, mengenai hal ini masyarakat Dunia sudah sepakat bahkan oleh mereka yang masih hidup sangat sederhana.

Mungkin hukum ini didapat dari pengalaman manusia jutaan tahun, bagaimana mereka harus mempertahankan hidup, bukan dalam hubungannya dengan species lain, tapi dalam hal “hak milik pribadi” ini khususnya nenyangkut hubungan dengan speciesnya sendiri.
“Homo homini Lupus” adalah ungkapan sarkastik dari cirinya yang berbunyi :
“ The might is right” bagaimana pahitnya pengalaman masyarkat manusia sepanjang sejarahnya menghadapi prilaku sesama speciesnya yang merampas makanan, anak istri/suami, perangkat pakaian pelindung badan/tubuh dari cuaca dan menghancurkan tempat berlindung keluarganya, juga kebebasannya seumur hidup dan hidup anak cucunya di bawah perbudakan.
Dengan demikian bahkan membela hak milik pribadi diasosiasikan dengan “hak membela diri” untuk “mempertahankan hidup”. La iya lah, sampai disitu seluruh kemanusiaan setuju.

Dalam satu cerita dari sosok tokoh fiktif yang melegenda dari Masyarakat Dunia Baru duaratus limapuluh tahun yang lalu di Amerika Serikat digambarkan dengan indahnya bagaimana Pengacara Daniel Webster membela seorang Petani yang bangkrut yang terpaksa menggadaikan jiwanya kapada sosok Syaitan, saat jatuh tempo, di Pengadilan sistim Anglo Saxon ini Si Syaitan dengan Dewan Juri yang terdiri dari roh-roh Penjahat dan Pembunuh kelas kakap yang pernah hidup di Amerika Serikat, didatangkan langsung dari Neraka ........dan Juri-juri itu pada akhir pembelaan Daniel Webster yang menggambarkan bagaimana si Petani malang itu harus mempertahankan hidupnya dan keluarganya dengan mengerjakan tanah yang berkali kali puso, sehingga terpaksa menggadaikan jiwanya kepada sang Syaitan, Dewan Juri yang terdiri dari roh-roh orang Amerika yang nenek moyangnya hijrah ke sana untuk memperbaiki nasib, para Juri ini telah tergelincir jadi manusia yang sudah dianggap sekutu oleh Syaitan sendiri, malah pada mengeloyor pergi tampa keputusan sambil menundukkan kepala, keburu kemerahan di ufuk timur, sudah pagi, si Petani itu harus dibebaskan demi Hukum, karena dia terpaksa menggadaikan Jiwanya untuk mempertahankan hidupnya dan keluarganya.
Begitu hebatnya hak mempertahankan hidup itu dimaklumi, bahkan oleh mereka yang dalam hidupnya hampir tidak berhati nurani seperti para Juri yang langsung datang dari Neraka itupun tahu.
Karena bagaimanapun mereka dulu juga Manusia.

Yang dilupakan atau sengaja ditutup-tutupi oleh Para Ideologist Kapitalisme itu, sekarang ini “hak milik pribadi” sudah menjadi hak atas tumpukan segala kebutuhan hidup manusia yang di hak-i oleh beberapa gelintir manusia dan diperoleh dengan segala cara, “hak milik pribadi” macam ini tidak ada sangkut paut dengan “hak mempertahankan hidup” seseoang tapi bahkan mengancam seluruh bentuk kehidupan sangking srakahnya, itu namanya ya CAPITAL dengan huruf besar yang daya hidupnya dilahirkan dari pemikiran Kapitalisme, dengan hukumnya yang mutlak tidak bisa di amandemen oleh DPR manapun apalagi oleh DPR RI yang sering tidur dalam sidang sambil meRoyan dan tidak lupa mengucap Al Amiiiin, sesudah terima gratifikasi.
Hukum Hak Milik Pribadi itulah azas dasar Kapitalisme ini dibela mati-matian oleh kampanye yang gencar dan terencana, didukung oleh semua cabang ilmu, bahkan dicoba juga lewat agama-agama di seantero Dunia Kapitalis.
Faktanya Allah menciptakan Manusia tidak sama.
Sudah ribuan tahun yang lalu fakta ini digunakan oleh ras Arya mendapatkan pembenaran dari “dominasinya terhadap ras Dravida sebagai kasta Brahmin yang Aria diatas kasta Sudra yang Dravida , di Anak Benua India.Kaum Aria  yang kasta tertinggi Brahmana dan Ksatrya memberi peluang pada kaum Sudra untuk naik tingkngakt menjadi kasta Ksatryia atau Brahmana setelah dia mati. mengadalkan inkarnasi, hidup kembali menjadi ksatryia atau Brahmana apabila mereka taat membersihkan kotortan manusia waktu masih nidup menjadi sudra - lantas siapa Hindu yang tak percaya  nurut iman mereka ?
Kini siapa yang nggak tahu akal akalan ini bahkan di India sendiri.

Ada segolongan Ideologist Kapitalis yang menggali hukum-hukum Biology, mengemukakan bahwa persaingan untuk mendapat makan dalam satu Species akan lunak bila alam sedang memberikannya secara melimpah, akan tetapi akan menjadi ganas – saling membunuh bila sumber makanan menyusut dan menjadi langka. Ini juga berlaku pada hubungan antar Bangsa bahkan antar Negara, karena ini adalah hukum Alam jadi ya wajar saja. 
 Apalah nasib rakyat di negara yang kaya sumber minyak mentah dikala sumber yang tak tergantikan ini sudah terasa menyusut ?
(“The lesson of History” oleh Will and Ariel Durant risalah dari the best seller sebelas jilid dari “The Story of Civilization” oleh Pengarang yang sama , terjual tiga juta set th 1969)
Sepintas nampaknya memang benar demikian akan tetapi Ideologists ini lupa apa “pura2” lupa bahwa Manusia itu meskipun masih satu golongan dengan makhluk Hidup jenis Binatang Mammalia, tapi bukan golongan Carnivora –pemakan daging - hidupnya sebagai Predator yang bisa berbuat kanibal karena tdak mungkin makan selain daging, dan juga bukan Herbivora murni yang tidak mampu mencerna daging tidak mungkin jadi kanibal, tapi Omnivora yang bisa makan dan mencerna segala organisme dan mineral, jadi watak kanibal adalah watak “tempelan” kayak Sumanto dari Banyumas itu saja, bukan seperti gerombolan serigala yang kelaparan yang dibenarkan saling memangsa.
Bahkan sebagai hamba Allah, Islam mengharuskan umatnya ber-ikrar untuk mengawali segala perbuatannya “Dengan nama Allah yang Maha Pemurah dan Maha Pengasih”
Bukan bersaing untuk makan satu sama lain.
Boleh menimbun makanan, energi minyak tapi untuk distribusi dan konservasi, bukan untuk mencari untung, haram hukumnya.

Selanjutnya, Ideologists Kapitalis menandai bahwa sebenarnya tuntutan masyarakat manusia Moderen akan “pemerataan” kesempatan untuk mendapatkan jaminan kesehatan dan kebutuhan esensial hidup - adalah prakarsa anggauta Masyarakat kelas bawah yang memang inferior dalam produktivitasnya, akan menyeret ke arah degradasi-.
Golongan masyarakat yang superior menuntut Masyarakat memberikan “kebebasan” untuk berkarya mendorong kearah eskalasi derajad Kemanusiaan.
Tapi dengan hukum besi ”the survivial of the fittest” secara individual, lupa bahwa survival “manusia” di alam ini justru separoh lebih, disebabkan oleh sifat specdies ini sebagai makhluk social. kemudian makhluq berfikir,  peningkatannya dengan pesat dri memaca. Tidak heran ini jadi wahyu Allah, sebagai ayat yang pertama di dawuhkan " Al Alaq" - Ikroq......

Bagaimana sebenarnya mengukur produktivitas anggauta masyarakat manusia ? Mengukur hasil akhir dari satu sistim penuh tipu daya, seperti Gayus si pegawai pajak yang duitnya ratusan miliar atau Cyrus si Jaksa bengkok. Bagaimana mengukur produktivitas seorang Sufi Ahli Falsafah Seorang Guru, Seorang Ibu yang memelihara bayinya?

Memang Manusia sebagai individu tidak akan sama satu sama lain, tapi dichotomi dengan kriteria inferior dan superior akan diuji apabila ada pandemi virus flu burung H5N1 apa si Superior akan lebih tahan dari si Inferior? - Jadi apalah arti pemerataan yang diminta - akan merugikan siapa dan apalah arti kebebasan bagi si Superior bila sama-sama bernafas dari udara yang sudah penuh dengan virus H5N1 ?
Si Superior akan membangun Dunia mereka sendiri yang bebas dari virus H5N1 tapi kapan ? masih butuh modal yang super kolosal, sementara WHO sudah membunyikan alarm itu H5N1 sudah didepan pintu.
Ternyata lebih mngkin memberikan pemerataan sanitasi, isolasi medis dan mengerahkan dana seluruh umat manusia menghalangi sebisa mungkin penyebaran H5N1, daripada mempertahankan dichotomi inferioitas dan suprioritas a’la Kapitalisme.
Alhamdulillahi Robbil Alamin.(*)

Rabu, 18 Januari 2012

APAKAH RAKYAT PETANI AKAN MENJADI TUMBAL YANG KETIGA KALI ?

Belakangan ini banyak terekspose berita-berita yang saling susul menyusul, betapa rakyat kecil, yang artinya tentu petani kecil dikhianati, dalam hal yang mendasar bagi mereka yaitu dalam persoalan agararia.

Siapakah yang sebenarnya sepanjang waktu Kolonialisme Belanda,  dijajah oleh sistem penjajahan Belanda?
Sesudah periode pendek perdagangan rempah-rempah dari pulau-pulau bagian Timur, disusul dengan cultuur stelsel atau tanam paksa yang panjang, siapa yang dipaksa menanam indigo, tembakau dan tebu ? Jawabannya adalah : Petani Pulau Jawa.

Seratus tahun disusul dengan revolusi industri di Europa dan tanam paksa diganti dengan etische politiek, pembukaan lahan Tebu lebih dari satu setengah juta hectare dengan pengairan teknis bendung dan bendungan waduk-waduk besar-besar untuk mengairinya, buruhnya adalah jutaan  petani gogol,  petani yang boleh menanam padi dua tahun sekali, ini hanya terjadi di pulau Jawa, dari lahan tebu milik Kanjeng Gubermen, yang disewakan pada pabrik-pabrik gula  pemiliknya hanya warga Belanda/ Nederlandche Burgers, termasuk Oei Tiong Ham, dan Raja Raja Surakarta.

Perang Pacific pecah 1942 petani pulau Jawa mengira Bala Tentara Dai Nippon membebaskan mereka untuk berhenti jadi kuli Gogol, bertanam padi sepanjang tahun, memang iya kurang lebih begitu, tapi panen pertama saja sudah dibeli paksa oleh Dai Nippon untuk bekal perang, elit desa mengikutkan untung revaksi timbangannya, panen kedua hanya dirampas saja ditambah dengan penjaringan jutaan mereka, petani di pulau Jawa untuk Romusha, pekerja paksa, mati di sana di wilayah Asia Timur Raya, Rabaul, Saipan, Halmahera, di rahasia gua-gua, diumpankan malaria, untuk bikin benteng Nippon Cahaya Asia.
Ini tumbal pertama.

Kaum menengah pribumi Hindia Belanda jelas berpihak pada Saudara Tua , Malah ada yang menjadi Peta, Heiho, makanya kaum ini jarang yang dibantai Kenpeitai, kecuali Supriadi dari Blitar,  Pemain ludruk (sandiwara rakyat) bernama Cak Durassim  dari  pedesaan Jombang disiksa dan dibunuh Kenpeitai gara gara mendendangkan  pantun “Pegupon omahe doro, melu Nippon tanbah sengsoro”

Indonesia memproklamasikan kemerdekaan tanggal 17 Agustus 1945, disusul segera dengan perang kemerdekaan selama lima tahun.
Petani dibela oleh Presiden Sukarno, penyambung lidah   Pak Marhaen, sahabat Pak Kromo,  petani gurem di pulau Jawa.
Kemudian, UU Land Reform yang dikenal sebagai UUPA (Undang-undang Pokok Agraria) No 5 tahun 1960 diundangkan, bagi petani gogol, iya itulah artinya Merdeka, bertani di lahan milik sediri, meski hanya setengah bahu ½ dari 0,76 Ha. lahan berpengairan kelas satu tanah gogol milik Kanjeng Gubermen, jadi, de jure milik Republik, de facto sebagian milik elit desa, sejak penjajahan kaum militeris Dai Nippon, perampasan panen oleh Balatentara Dai Nippon, elit desa lah yang mempunyai kecerdikannya bisa setor ke Paduka Gunseikanbu dan ngentit (secara sembunyi-sembunyi) dapat untung untuk diri sendiri dari pasar gelap beras.
Perang kemerdekaan 5 tahun menyusul, tidak ada yang leluasa menjual  beras, elit desa bahu-membahu dengan kuli gogol, karena  sistem pengairan tebu masih ada dan lahannya ada, petani gogol ada, elit desa sama-sama melarat, pasar untuk beras ada di kota-kota, perlu tukang pikul, tukang gendong, tukang gerobag, ongkos tinggi hampir tidak ada untung. Desa menyatu sebagai unit sosial membantu tentara gerilya, karena ada kesamaan dalam cita-citanya, yang satu ingin menggarap sawahnya sendiri, yang satu ingin berdiri di kaki sendiri tidak dibatasi oleh predikat inlander, sebaliknya ada kesenjangan besar dari KNIL dan massa petani, yang sedang ber-euphoria menggarap sawah gogol tanpa campur tangan pabrik gula, sedang markas KNIL ya di pabrik gula yang lagi nganggur, malah menghujani desa desa dengan meriam howitzer  dari sana.
Waktu itu ada pantun bahasa Jawa  di desa-desa yang berbunyi:  “Apa tumon ana Londo kalung kanon kok kalah karo cah angon?”. Mungkin karena mata-mata di pesawat capung yang dikirim ke sana  ngawur, rombongan pemikul beras dari desa ke kota dikira gerilyawan sembarangan menunjukkan gerakan consentrasi gerilyawan, lagi-lagi banyak yang mati, tentu saja tanpa berita
Supplier makanan yang paling handal bagi tentara gerilya adalah para elit desa, karena rumah mereka rata-rata besar memang bisa untuk menyimpan hasil bumi.
Lha setelah penyerahan kedaulatan th 1949- 1950  semua lahan pabrik gula maunya ya kembali ke Pabrik Gula. Lahan berpengairan teknis yang lebih dari satu setengah  juta hektar. Sementara pabrik gula banyak yang rusak berat karena terbengkalai selama 8 tahun - perang Pacific 3 tahun  dan dilanjutkan dengan perang kemerdekaan 5 tahun.
Elit desa banyak menguasai tanah gogol semenjak jaman Jepang, merasa punya harapan besar bisa ikut memiliki tanah gogol, wong ikut laskar rakyat pro Kemerdekaan sudah, ikut partai pada zaman kemerdekaan sudah,  lha mereka kok ndak dapat itu redistribusi  tanah yang sebenarnya de jure punya Negara, yang dikuasainya secara de facto, kenyataannya pabrik gula banyak yang hancur,  sementara tidak memerlukan tanah mereka. E, e, ternyata tidak, tanah gogol dibagikan kepada kuli gogol, yang namanya terdaftar di Rooster van de koelie gogol, petani penggarap tanah gogolan tercatat di leger Pabrik. Kebanyakan Elit Desa adalah para Kiai yang banyak santrinya, pensiunan Pegawai Kecil di tingkat Desa dan Kecamatan yang memang mengerti nilai tanah, mereka masih mendambakan ikut memiliki tanah tanah pabrik di mana dia mengabdi.
Tanah yang sudah de facto dikerjakan sekian lama ternyata telah dibagikan pada petani penggarapnya yaitu kuli gogol. Tentu saja para elit Desa penasaran, kok berani-beraninya menerima itu tanah redestribusian UU Land Reform ini.
Bagi petani gogol, pembagian tanah redistribusi tanah gogol ke mereka oleh UU land reform ya sangat membesarkan hati, apabila sebagian sudah dijual  di bawah tangan (hanya pakai kwitansi ) ini tidak syah, apalagi pembelinya tinggal di luar Kecamatan lokasi tanah itu  (menurut UU land reform),  digadaikan sebelum UU Land Reform pun tidak syah, sebab penggadainya sebenarnya bukan pemilik tanah gogol, masih tanah milik Republik secara de jure.
Yang lebih menyakitkan hati, petani-petani gogol ini cenderung menyambut penggembira yang paling  getol, yaitu mereka yang meneriakkan slogan tanah untuk tani, BTI/PKI maksudnya, tanah negara untuk tani gogol,  sedang elit desa rata-rata dari NU Masjumi dan PNI Osa Usep, sebagai orang luar yang bukan kuli gogol walau sangat berkepentingan mengukuhkan haknya atas tanah yang sudah sekian lama  mereka kelola ternyata menurut UU Land Reform kok jatuh pada petani gogol, yang pada zaman pemerintahan militerist Jepang tidak punya beaya buat tanam padi bila hanya untuk dirampas Balatentara Dai Nippon, mereka jadi penggarap saja. Sedangkan para elit desa yang aktif dalam pemerintahan, dipaksa Dai Nippon untuk bertanggung jawab setor gabah/beras, bila tidak mau, maka bisa dianggap penghianat oleh Kenpeitai, sama dengan dihukum mati, atau dijadikan Romusha.
Dasar pintar, bisa saja sebagian panen lari ke pasar gelap di kota-kota.
Jaman Perang kemerdekaan, rumah petani gogol terlalu kecil untuk berteduh para gerilyawan, jadi makan tidur di rumah elit desa,  oleh  karea itu mereka para elit Desa merasa mendukung  Mas-Mas Gerilyawan yang ndak ngerti apa-apa perkara tanah pabrik
PKI karena ulahnya sendiri jatuh jadi umpan  dokumen Gilchrist oleh CIA, sayap militer mereka membunuhi Jendral-Jendral yang dia anggap mau me coup de’etat Presiden Soekarno, dengan kekuatan yang setengah- setengah akhirnya harus menanggung dosa disapu bersih, dengan target 4 juta orang.
Petani gogol penerima tanah pabrik gula. Tanah yang juga diidam-idamkan oleh para pemodal elit desa   mendadak ditinggal President Soekarno dan para pengikutnya yang kena schock berat, sangat terkejut atas terbunuhnya para Jendral, setengah lumpuh dan ikut dilenyapkan oleh  dendam horizontal di tingkat desa, jutaan mereka dibantai. Tahun 1965
- Terjadi petani kecil  di pulau Jawa jadi tumbal yang kedua kali.
Sekarang 57 tahun setelah itu, Seluruh exponen orde baru, orde reformasi, Kiai dan pemimpin umat beragama lain, pada membuat sarasehan besar, guna mejatuhkan pamor pemerintahan, membongkar keberpihakan aparat Negara  kepada Pemodal hingga terjadi pembunuhan-pembunuhan para petani plasma kebun kelapa sawit, di seluruh lahan plasma sengketa kebun kelapa sawit di Sumatra, konflik petani dan Usaha pertambangan di Bima, Kalimantan dan Papua Barat.
Aneh, ada jeruk kok makan jeruk, wong yang di Partai Demokrat juga exponen Orde Baru, Sarasehan Anak Bangsa juga penuh dengan exponent Orde Baru, menggugat keberpihakkan Pimpinan Partai Demokrat  kok cuma jadi pilot pura-pura, malah negara ini dianggap mereka hanya dipiloti oleh autopilot saja.
Apa  berpihak pada rakyat atau pada pada pemodal ?
Apa mareka lupa bahwa sekian kali pemilu sesudah di Orde Reformasi, yang jadi Golput artinya tidak ikut memilih lebih dari 40% dari yang terdaftar, lha ini siapa ?
Yang  Golput lebih dari 40 %  ini  tidak muncul di  Sarasehan Anak Bangsa, karena tahu bahwa mereka toh selalu diakali dan tidak bakal terwakili, tidak ada Elit Politik yang berhasil menjadi calon  presiden dan wakilnya, calon angota DPR dan DPRD, calon Gubernur dan Bupati yang akan membela meraka, kalau artist dan actress banyak, wong organisasi tani , kontak tani, tani andalan, tani maju, himpunan tani, semua  masih tunjukan  Orde Baru yang dulu, atau clone pertama dan kedua.
Tidak ada yang mewakili berbicara di DPR  seperti mengenai tanah  kebun plasma kelapa sawit yang diberikan kembali pada kebun inti yang dikuasai oleh  Pemodal dan Pemerintah Daerah.
Sekarang lain lagi, bila petani plasma tahun-tahun  yang lalu telah menjual atau menggadaikan lahannya kepada pihak ketiga, karena hasilnya tidak cukup untuk makan. Hukum akan perpihak pada pembeli. 
Harga kelapa sawit berfluktuasi, karena panen kecil, karena mulai bibit sampai sarana pertanian banyak ditilep atau infra structure yang tidak mendukung (jalan dan jembatan) sehingga ongkosnya tinggi akan jadi tanggungan penghasil kelapa sawit alias petani kecil plasma , sebab dibeli ditempat lokasi kebun inti.              Hukum akan perpihak pada pembeli. 
Tanah ulayat dan tanah Negara yang diexploitasi oleh Pemodal dengan merugikan rakyat, juga oleh dukungan langsung Menteri Menteri exponen Orde Baru atau clone  generasi kedua yang memenuhi blantika Politik Negeri ini sekarang?
Saya khawatir demi merebut kursi empuk Penguasa Pepublik ini yang sekarang, para exponen Orde Baru ini memperalat cita-cita petani kecil  untuk keluar dari jerat kemiskinan yang sistemik, sampai sampai mau mnggarap pertanian plasma kelapa sawit jauh jauh hari, puluhan tahun yang lalu, jauh di pedalaman berjam-jam naik truk ke pusat perdagangan, yang ternyata harga sawitnya jatuh bangun, harganya tidak menentu.
Sekarang harga sawit bagus, malah diusir dari plasmanya seperti di Mesuji  yang  dimunculkan di mass media dan sangat banyak tempat yang lain tidak terdeteksi. 
Bila Pemerintahan Autopilot Presiden SBY (menurut pendapat Sarasehan Anak Bangsa)  benar-benar jatuh, yang akan mengganti siapa ? dengan cara apa – Pemilu yang dipercepat, wong Persiden dan Wakilnya  DPR nya yang dipilih sesuai schedule saja ada yang meleset. KPU nya para profesor, ternyata jadi  koruptor?
Atau Junta Militer, opsi yang logis dan murah secara ekonomis (tanya pada akhlinya kayak di Laos), tapi sangat mahal dari sudut pandang demokrasi.
Semoga bangsa ini dituntun ke jalan yang benar, yaitu jalannya mereka yang telah Engkau beri petunjuk bukan jalannya mereka yang sesat dan mendapat murka-Mu
Demi rust en orde, siapa saja bisa ber Junta ria, dan tumbalnya adalah petani kecil bukan lagi di lahan tebu, tapi di lahan Plasma Kelapa Sawit di Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, bila bersikukuh  bakal dibantai seperti petani dilahan tebu tahun 1965, atau jadi buruh bukan saja kontrakan, tapi juga di outsourcing dari kebun Inti milik Pemodal, kayak pemanen jeruk di California, selesai panen ya embuh.
Maka memang perjuangan sangat berat bagi petani kecil tak bertanah untuk menggarap lahannya sendiri untuk sekedar mencukupi hipup keluarganya.
Apalagi di system ekonomi yang jadi pilihan kini neo liberalisme.
Cita-cita itu mulia, tapi Negara dan segenap aparatnya harus kompak tulus membantunya dengan kesadaran supaya Pak Marhaen berhasil jadi produsen pangan di lahannya sendiri, dan industri terkatrol jadi Tuan juga di negerinya sendiri. Jangan sampai menjadi tumbal yang ketiga kali di tahun-tahun susah yang akan datang ini. (*)



 




        


Jumat, 13 Januari 2012

BAKUL, DALAM MASYARAKAT JAWA


Dari zaman dulu sebelum ada Penjajahan, zaman Kerajaan Kerajaan besar maupun kecil kata “bakul” dalam bahasa Jawa sudah dipakai untuk predikat suatu profesi yaitu Pedagang, spesialis barang kebutuhan sehari- hari,  setara dengan Juru Tani dan Abdi Dhalem atau petani dan pegawai keraton.  Jadi agak lain artinya dari bakul dalam Bahasa Indonesia yang artinya tempat semacam keranjang dari anyaman bamboo halus dan rapat dapat mewadahi apa saja dari berat kira kira 10 kg sampai bakul besar kira kira mampu mewadahi beras 25 kg.
Ada istilah poetis yang menyertai predikat profesi bakul yaitu  “Ana tembang rawat rawate mbok bakul sinambi wara”(bahasa Jawa)  artinya ada tembang  terdengar entah benar entah tidak dari wanita pedagang yang membawa dagangannya dari rumah ke rumah, biasanya rumah priyayi atau dari  pasar ke pasar setiap hari pasaran yang selalu membawa khabar dan gossip yang terjadi di masyarakat waktu itu.
Dari zaman ke zaman, bakul bukan saja menjadi predikat profesi, tapi telah mebawa suatu konotasi yang agak miring, meski salah pun tidak, dalam masyarakat Jawa, yaitu orang yang hanya mencari keuntungan dalam bicara apapun, dengan siapapun,  sudah jadi kebiasaannya yang mendarah daging, pelit memberikan informasi bila tidak langsung nenguntungkan mereka.
Misalnya, ada orang keliru bertanya pada pemilik toko pracangan (jual macam macam kacang, kacang ijo, kacang cina, kacang merah, kacang tunggak,  kebutuhan rumah tangga bumbu kering dan makanan kecil dalam kemasan, bahan bakar dan minyak goreng) apakah dia jual payung, selalu jawabannya bisa ditebak……. “Habis”, seolah-olah dia telah jual berkodi-kodi payung, padahal tidak pernah terlintas di pikiran dia akan menanam modal buat beli payung, untuk dijual lagi di tokonya.
Apabila harga yang ditawar oleh calon pembeli, kurang memadai keuntungannya, dia akan menjawab  tawaran harga itu dengan kata yang klise “Harga pengambilannya saja masih lebih tinggi”, harapannya supaya penawaran si calon pembeli ditambah. Atau bila kebetulan calon pembeli itu berhadapan dengan bakul salak dari Sleman dulu, akan dijawab “Pundut sedaya napa ?” maksudnya apakah sekeranjang penuh salak (yang meragukan kualitasnya) itu akan dibeli semua ? Yaa, itulah  bila berhadapan dengan bakul.
Lha celakanya sekarang watak “bakul” itu bisa menghinggapi manusia masa kini, dari segala profesi yang berinteraksi dengan kita, naudzubilah mindzalik, kayak menghadapi sahabat yang mencoba menjual dagangan multi level marketing.
Sangat menjengkelkan bila sifat “bakul” ini menghinggapi pembicara public dari kalangan politisi, business dan ilmu pengetahuan dan bisa terbaca dengan mudah oleh sebagian kita, misalnya dalam tulisan di blog-blog yang sudah dibaca orang banyak dari seluruh dunia, kok malah menutupi hal yang penting dalam keterangannya, dibelokkan ke jurusan lain ujung-ujungnya  keterangan yang malah tidak terang di bagian yang penting.
Saya kira hubungan antar manusia sedunia yang relatif murah dan tanpa kendala lewat dunia maya, dapat memajukan jalan pikiran orang, wong tidak rugi apapun bila dibuat sejujurnya, demi menyongsong manusia cerdas di zaman yang akan datang.
Berdagang tentu saja, tapi lewat dunia maya ini bisa lebih elegant dan sejujurnya.

Jujur itu benar, tapi di zaman ini benar itu belum tentu jujur, sedangkan yang semestinya jujur itu benar dan benar itu juga jujur. Zaman itu yang kita upayakan sepaya terwujud pada generasi manusia yang akan datang.

Islam mengajarkan bahwa merugilah  mereka yang tidak mengingatkan sesamanya mengenai perbuatan yang baik artinya sesuai dengan  kehendak Allah, hal-hal yang benar dan mengenai kesabaran  terhadap sesama umat Allah yang  masih keliru
Jadi para bakul sebaiknya ndak usah merasa rugi apabila menyandarkan pergaulan pada kebaikan, berbicara apa yang sebenarnya (Allah itu Maha Pemurah dan Maha Pengasih) dan bersabar sementara bakul yang lain masih belum sadar.
Berdagang, tetap digeluti sebagai profesi.
Kasihanlah mereka yang  malah sampai mati tetap berkelakuan sebagai bakul, tanpa ketulusan hati, satu cara hidup kuno, yang hanya memperlakukan manusia lain sebagai object, menghadapi orang dengan cara bakul.(*)


Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More