Sayang Sama Cucu

Sayang Sama Cucu
Saya sama Cucu-cucu: Ian dan Kaila

INDONESIA PUSAKA TANAH AIR KITA

Indonesia Tanah Air Beta, Pusaka Abadi nan Jaya, Indonesia tempatku mengabdikan ilmuku, tempat berlindung di hari Tua, Sampai akhir menutup mata

This is default featured post 2 title

My Family, keluargaku bersama mengarungi samudra kehidupan

This is default featured post 3 title

Bersama cucu di Bogor, santai dulu refreshing mind

This is default featured post 4 title

Olah raga Yoga baik untuk mind body and soul

This is default featured post 5 title

Tanah Air Kita Bangsa Indonesia yang hidup di khatulistiwa ini adalah karunia Tuhan Yang Maha Esa yang harus senantiasa kita lestarikan

This is default featured post 3 title

Cucu-cucuku, menantu-menantu dan anakku yang ragil

This is default featured post 3 title

Jenis tanaman apa saja bisa membuat mata, hati dan pikiran kita sejuk

Kamis, 11 Januari 2018

KHOFIFIAH, TAHAP PWERKEMBANGAN SANG P3MIMPIN.



TAHAP TAHAP  PERKEMBANGAN SOSOK SEORANG PIMPINAN MASYARAKAT  DARI ZAMAN KE ZAMAN.
Sebagai subject biologi, manusia dari semula bukan makhuk soliter seperti kebanyakan predator, dan bukan makhluk sosial/bermayarakat seperti rayap, dan bukan hidup secara kelompok kecil seperti hyena atau kera baboon, atau kera mackaque  juga bukan berkelompok besar seperti pinguin, di lingkaran kutub. Species  Pithecanthropus erectus  ini lain.
Manusia purba hidup berkelompok berdasarkan kebutuhan untuk survivalnya, tapi dalam berkelompok itu menyertakan kemampuan lain dari kelompok makhluk  golongan primata tersebut diatas, yaitu manusia purba mengunakan kemampuan berorganisasi dalam rangka bekerja sama – Artinya berorganisasi dengan pembagian kerja menurut kecenderungan masing masing anggauta masyarakat, bertumpu pada kemampuan  satu individu yang bisa  diyakini oleh kelompoknya, semula dari penampakan fisik, ternyata banyak benarnya, karena yang ini juga  pemberani. Keberanian ini ternyata kadang tidak sesuai dengan kebutuhan kelompoknya. Maka menurut pengalaman yang sangat panjang, ternyata akal manusia yang secara fisik biasa biasa saja, namun mampu memimpin mencari makanan, dan mampu membimbing kelompoknya menghindari bahaya, misalnya membuat  pagar, atau berumah di pepohonan yang tinggi.  Maka timbullah organisasi kelompok dengan satu Pemimpin yang kuat secara fisik  digabungkan dengan kemampuan menggunakan akalnya. Mulailah orgaisasi sederhana dalam satu kelompok.
Satuan masyarakat ini sampai bisa begitu besar mencapai milyaran, maupun  hanya ratusan anggauta saja, tetap bertumpu pada kemampuan berorganisasi, yang sangat mungkin bisa mengikat sampai sangat dalam di jiwanya, sehingga saya sendiri sebagai anggauta masyarakat heran. 
Dalam sejarah perkembangannya si Pithecanthropus erecrtus ini, kok tertandai kemampuan berorganisasi/ bekerja sama,  dipimpin oleh mereka yang mempunyai kemampuan fisik yang lebih dari kebanyakan yang lain, dan  dikombinasikan dengan akal.
Akal ini jenis kekuatan yang mempergunakan pengendalian diri secara fisik dan emosional, menilai kelebihan dan kekurangan,   seperti layaknya segala makhluk lain dalam bertarung. Tapi manusia bisa mengembangkan pertarungan ini mengunakan segala kemungkinan yang dipunyainya untuk mengungguli lawan – itu maka species dari genus Primata yang ini, bisa menggunakan akalnya untuk menang, bahkan menggunakan pikiran kolektip menyertakan sesamanya dan pengalaman yang tercatat dalam benak benak kelompok kolegial bersama, bahkan tetap diingat dengan tanda tanda/ catatan.
Akal manusia memang bisa bekembang beda dengan species primata,  merupakan kualitas kecerdasan  akal, dari membuat alat hingga  nemggunakan  siasat.  Maka  akal pikiran  telah  berkembang mengenal  dirinya sendiri,  menjadi tonggak  pertanda kualitas baru akal pikiran  manusia, yaitu bhatin.  Satu loncatan ke kualitas baru akal pikiran, menjadi bhatin manusia.  Fenomena ini  diterangkan  dengan campur tangan  alam esoteric. Setelah Adam dan Hawa tinggal dalam wadag si Pithecantropus erectus , karena Adam dan Hawa terusir dari  sorga oleh satu kesalahan, tidak mentaati perintah Allah.
Menjadikan keturunan mereka berdua , walau bersilangan perkawinan dengan  Homo habilis yang lain, manusia sekarang, toh  "code" DNA Adam dan Hawa sudah disana, wong memang "code" adalah non fisik, code bukan benda bukan energi, jadi bisa dibawa dari asalnya dan tertanam di code DNA Pithecntropus homo habilis,, sejak itu semua keturunan Adam dan Hawa, mereka disebut disebut Homo sapient. Buktinya Manusia Naendertahl yang tidak mempunyai kesempatan bersilang kerturunan dengan keturunan Adam, punah - DNA manusia Naendertahl ndak tercantum di DNA bani Adam.
 Begitulah yang belum bisa diterangkan oleh agama agama samawi. Sedang Ilmu pengetahun manambah dengan pembuktian adaptasi  pada bentuk organ dan warna kulit sehingga tercatat di DNA, dan evolusi kemampuan otak  untuk mengolah informasi dalam arti kuantitative sel otak menciptakan kualitas baru otak homo Sipient.
 Maka mulai saat itu manusia menyadari, bahwa  bhatinnya  mempunyai dua  kecenderungan  berperilaku  lahiriah dan bathiniah. Gejala  kecenderungan bhatin yang mendua ini dalam akal pikiran  manusia dibedakan antara bhatin baik dan bhatin buruk – jelek adalah bhatin egois yang kasat mata maupun yang tersembunyi dalam pikiran, dan bhatin yang baik adalah mengupayakan kebersamaan, keselamatan keturunan dan makhluk sejenisnya, dan makhluk lain, juga alam habitatnya.         
Gejala non substantial dari bathin ini  ditandai sebagai nafsu manusia, karunia Allah yang konon malaikat dan gunung gunung saja tidak sanggup menerima, karena beratnya. Dalam hukum fisik manusia, bathin yang buruk belum bisa dihukum, dalam hukum esoterik bathin yan buruk sama dengan perbuaatan buruk ------         Nafsu yang telah disaring oleh bhatin yang baik dianggap kemauan baik, sebaliknya kamauan buruk,  yang ajaran agama sangat berusaha menangkalnya.
Islam mengajarkan  gradasi kebaikan dari  nafsu ini, yaitu nafsu amarah, nafsu lawamah, nafsu mutmainah dan nafsu supiah. Dua yang pertama menandai bhatin yang kasar  dan rendah yang hanya mengabdi kepada ego, sedang dua yang belakang menandakan bathin yang sudah bersih dan luas meliputi sesama manusia sesama hidup, keindahan harmoni kedamaian dan tanggung jawab kepada  Sang Pencipta seluruh alam- Allah, sebagai khalifah Allah di bumi.

Petunjuk dari Islam, mengajarkan bahwa nafsu nafsu ini hanya bisa dikendalikan dengan menyadari ilmu ilmu  untuk menggali petunjuk Allah yaitu ilmu syari’at yang mengutamakan  aturan hidup yang kasat mata, ilmu tarikat islam sudah merambah bhatin,   disertai dengan  laku yang kasat mata yaitu dzikirullah  selalu ingat kepada kebaikan dan kebenaran  dilakukan dengan bimbingan dan bejama’ah. tanpa kepura puraan, kenyataannya banyak akal akalan seperti Dimas Kanjeng Taat pribadi dari Pesurua (pengganda uang). Sedangkan  ilmu hakikat islam  dan ilmu  makrifat islam akan mengendalikan nafsu  mutmainah dan nafsu supiyah, yang tidak kasat mata membimbing bhatin manusia  kearah yang dikehendaki  Allah,  manusia yang bisa menjadi rahmatan lil alamin. Bila disadari dengan ikhlas dalam arti mengesampingkan ego, tidaklah terlalu sulit, karena ajaran ilmu ilmu ini  memang dirancang oleh Allah subhana huwata’alla untuk seluruh manusia  penghuni dunia. Waktunya sudah mendesak agar Pemimpin masyarakat memiliki kecenderungan bhathiniah yang baik, kerena walau tidak kasat mata, perilaku para Pemimpin pemilik  bathin yang baik adalah menomer satukan  kelestarian, kecukupan masyarakatnya, karena resources alami sudah menipis. Tidak bisa memberi toleransi kepada nafsu nafsu  amarah dan lawamah mempermainkannya demi egoisme apa saja, dari lahiriah maupun bhatiniah

Lha Pimpinan apa saja, Politik, Militer,  Agama, Pendidikan, Ekonomi dan Teknologi  apalagi partai partai mestinya ya harus merunuti koridor koridor perkembangan ini, tidak ada egoisme dalam memimpin masyarakat manusia yang sudah terang benderang tanpa  ada segala tipuan permainan sandiwara a’la Setnov, model Dimas Kanjeng, Juan Shi Kai, Hitler, Stalin, Syah Reza Pahlevi  semua harus menjadi transparan, a’la Gandhi, Omar Mohtar guru ngaji dari Aljazair, Dr. Jose Rizal dari Phillipina, dan sosok yang namanya sama dari Indonesia yang mirip Abu Dzar , Lech Walesa pemimpin buruh di Gdanks Polandia, Ho Chi Min, Gus Dur, Bung Karno dan ribuan yang lain, karena bhatin manusia sudah terhubung dengan benar, antara lain dengan  penyiaran  pemikiran  individu bisa memakai teknologi IT.
Pemimpin masyarakat seharusnya mempunyai ciri utama melihat kedepan,  bukan saja  menyangkut  nasibnya dendiri, melainkan menyangkut  kesejahteraan masyarakat. contoh extrem - buruknya Setnov dan wakilnya, semoga rakyat tahu.
dan tidak kembali lagi.  
Tapi bagaimanapun, seorang  Prmimpin masyarakat harus ada wahana untuk mengembangkan egonya menyertai kedalam perjuangan individu undividu menjadi kesatuan cita cita bersama. Tergantung seberapa luas  perjuangannya sehingga bisa menampung cita cita setiap individu.  Yang terluas adalah ego yang  berusaha menjadi rahmatan lil alamin, berkutat dengan seribu satu jalan dan rintangan, kearah itu.
Tujuan egonya dan kenyataan perilakunya, yang lebih sempit dari itu dalah memperjuangkan  bangsanya untuk  tercukupi sarana existensinya dan menjadi unggul dalam perlombaan internasional dari bangsa yang lain. Juga melaksakan syi’ar agama demi  pesatnya ajaran agamanya mengenai kesejahteraan masyarakat.
 Tolok ukur yang  harus terbaca adalah sikap  hidup Pimpinannya cenderung ke egoisme, apa  egalitarianisme ,  hanya ada satu diantar dua itu.
Makanya dalam tulisannya teman saya, seorang  doctor ilmu ekonomi,  menyebut : Masyarakat yang baik harus dipimpin oleh Pemimpin yang baik.- Dr. Susilo Toer. di buku karangannya "Jalan Ketiga"
Kan seharusnya Partai Partai menampakkan diri  dengan deretan pimpinan dan kadernya dari yang terbesar sampai yang terkecil,( bukan maharnya) tapi mencari peluang membuktikan ke masyarakat luas  secara consisten – apa enggak – yang mananya ideology partainya.  
Apology ini sangat kabur. Yang kecil pencari kesempatan yang nampak terbaca di sikon Indonesia  sekarang  kedua  dasar ideologi/oportunis - yang besar egois,  malah pada wakil  wakil  Partai di DPR RI ( entah dengan cara apa kok sampai di puncak sana ) banyak diantara mereka adalah  para oportunis egois dalam skala yang sudah melebihi batas cara dan sasaran  cenderung ke perbuatan kriminal, tanpa mereka bertereak ada kriminalisasi polah tingkahnya, wong memang sudah kriminal ,duh malunya. Ya si tembem memang tidak punya malu, yang dipunya hanya setumpuk besar uang hasil curian dinastinya.

Jangan ngomong perkara ideology lagi, kan hanya dua jenis ? Karena ini harus telah nampak siapa yang ada dalam Partai Partai yang sampai berjumlah belasan partai itu – karena kemungkinan asalnya pasti dari salah satu unsur ideology,  sikapnya  yang egois, atau egaliter.  Yang egalitarian  sejatinya semua fihak yang mementingkan kepentingan umum, apalagi yang melawan Amerika  untuk exploitasi tambang emas di Irian,  sangat tabu, lebih baik melawak dan menyebar sembako, sesudah si taboo tertumpas selama orde dictator . Misalnya  di Phillipina, Partai Kilusang Bagong Lipunan  dengan  martial law yang diumumkan oleh President Marcos no 1081 tg 23 Sepember  1972,  yang disini adalah dwifungsi ABRI  pada kekuasaan jendral Suharto selama 32 tahun, 1965 sampai 1997.  Apa hasil karyanya ?                                                                        Yang masih sisa selama reformasi,  mewakili rakyat yang masih lumpuh secara mental diteror 32 tahun hanya meneng, mangan. manut,  (diam,makan dan tunduk 

Masyarakat bahwa tanpa perlindungan Hukum, kesewenang wenangan Penguasa pemimpin Egois seperti memperlakukan  Marsinah yang mati disiksa malah dibuat bahan tertawaan di pengadilan beserta mass media ordebau  

Penguasa yang sebenarnya saat itu ada di Kecamatan dan desa desa bisa berbuat seenak udelnya sendiri, pada masa ordebaru, bukan martial law, tapi buruh berselisih dengan majikan, si Marsinah mengancam melaporkan majikan bahwa pabriknya memalsu satu merek arloji mahal dengan mesin arloji murah. Marsinah dilaporkan ke Koramil oleh sang Majikan, mati disana.  Di fotonya dia bertata rabut kribo, tapi bathinnya tidak kribo, apakah sayap perempuan dari ormas tahu  Yang tahu cuma tokoh  si noktah yang jujur tapi sering salah tingkah. mbak Ratna S.  

Kofifiah sebagai Pemimpin Masyarakat, yang luas pandangan bhatinnya dia tidak berjiwa sempit, tidak salah tingkah. Yang perlu baginya kekerasan hati dari seorang sosok yang sangat peka terhadap kehidupan kaum bawah Ibu Risma, gapailah beliau, rangkullha beliau, untuk membenahi pencoleng Kecamatan Kecamatan di Kelurahan Kelurahan, yang sudah sesak dengan Pejabat tengik oportunis yang masih memegang kunci penyalah gunaan kekuasaan, sampai sekarang.  *)                     

Senin, 08 Januari 2018

WARGA NEGARA DENGAN GEJALA PENYAKIT JIWA PARANOID, TIDAK BOLEH JADI CALON ;LEGISDLAYTIP ,MAUPUN EXKSEKUTIP

WARGA NEGARA DENGAN GEJALA PENYAKIT JIWA PARANOID TIDAK BOLEH DIPILIH JADI CALON LEGISLATIVE  MAUPUN EXECUTIVE.
Pada suatu saat, pasti rakyat sedunia sadar akan mendesaknya campur tangan Psychologist untuk secara Hukum HARUS memberi klarifikasi keadaan jiwa seorang calon, berdasarkan penelitian pohon  genetic maupun pshychologic si calon, alangkah baiknya bisa juga mencakup pemberian hak memilih.
Pembaca blog ini pasti mendakwa penulis blok inilah yang harus diperiksa kesehatan jiwanya, saya sanggup asal gratis atau dicover BPJS, dan tidak disiksa antrean.
Diantara gejala penyakit ini  yang  harus sangat diwaspadai adalah golongan  ”paranoid”. Sebab pengidap gejala sakit jiwa jenis ini punya”waham” yaitu satu keyakinan yang di temukan sendiri oleh penderita mengenai dirinya atau hal ikhwal dirinya yang dia sangat yakin benar adanya, keyakinan yang tak tergoyahkan.
Yang ini bisa anda anggap menyindir, atau menyebarkan kebencian, sama sekali tidak, tapi semoga tidak melanggar undang undang IT.
Paranoid ini jadi sangat berbahaya karena keyakinan waham itu jarang  muncul semata mata sangat kentara, tapi dengan dalih macam macam yang masuk akal contoh klasikya adalah Adolf  Hitler. Telah membawa Dunia ke  kehancuran. Dalih Hitler menggabungkan Pranoia-nya dengan Mania – megalomania – “Deutchland uber alles”. Orang Jerman percaya pada ocehan paranoid Sang  Diktator, di pantas pantaskan sendiri dengan perut beer-nya, jadi ras tuan tuan bangsa bangsa seluruh dunia.
Celakanya kejadian di Negara Kepulauan dengan lebudayaan yang sudah tua, ada sosok yang suka sekali bersedekah dan membagi uang dengan royal. Sebagai kaum terpelajar dia mengerti sekali pekerjaan guru. Dia sediri masih keturunan gembala jiwa, Begitu mudahnya dia mendapat dukungan dari kalangan tertentu karena kuatnya daya paranoid, bahwa dia adalah makhluk pilihan Tuhan, setara dengan Sultan Harun Al Rashid dari Bahdad di zaman lampau.
Dia sempat jadi  menteri Pendidikan Presiden yang habis masa jabatannya. Oleh dorongan Guruji Janglot yang kontet,  dan jeratan Gurita  sutra, dengan sangat berani dia melipat gandakan anggaran kompensasi tambahan untuk para guru yang bisa lulus kualifikasi guru dengan pendidikan universitas yang lebih tinggi, istilahnya sertifikasi guru guru anak buahnya, berhasil membahagiakan sang Janglot yang kantung jubahnya dua, kiri dan kanan.  Setelah  dia anggarkan 35 triliun pound Fijian – sebelum akhir tahun 2017 diperkirakan duit masih sisa 90% karena guru guru anak buahnya ternyata banyak yang belum lulus,  sebagai menteri dia tidak bingung, akan mengalihkan dana sisa anggaran itu  untuk keperluan lain,  lomba olah raga dan lomba menari hula hula, lomba menangkap belut laut Murray di karang karang, dengan tangan telanjang dengan beaya yang besar sekali diklopkan dengan sisa anggaran sertifikasi guru, Untung di pertengahan tahun sang Menteri Keuangan Presiden yang baru sudah tahu, kebanyakan guru malah tidak kuliah, jadi kapan  bisa dapat ijazah , lantas duit ditahan oleh sang menteri keuangan. Dia dicopot oleh bossnya yang baru, paranoidnya menjerumuskan dia, mungkin juga  rekan Janglotnya. Segala lomba yang  seharga pengeluaran yang gagal menjadi bubar. Padahal Panitya-nya sudah senang karena mendapat hasil tambahan, tinggal tanda tangan, seperti tahun tahun yang lalu, juga demikian. Dinegeri kepulauan dekat Fiji dikenal dengan overbudgetting.  Dia harus lengser, karena ganti Presiden, dia malah mencalonkan jadi Gupernur ibu kota, New Canton dan terpilih, atas dukungan sekte Bhairava berjubah, jenggot, ee belum ada setahun dia sudah menganggarkan puluhan trilyun pengeluaran tahun 2018 untuk Anti Corruption Guardian di Propinsinya, dengan tokoh tokoh kuncinya, dia pilih sendiri, yaitu mereka yang punya nama dan sayang honornya yang bakal 50 juta sebulan, belum pengeluaran pelacakan korupsi di Propinsi Ibu kotanya, melacak keluar negeri seperti Swiss, London, Hongkong, paling dekat Singapore, dasar oportunis, jadi mabok kesenangan, sang nama besar ndak risih !!. 
Pintarnya si paranoid, mengkombinasikan penyakitnya dengan pemberi sedekah secara royal hadiah honorarim buuuesar besaran dengan duit kas Propinsi, sambil mencari dukungan partai partai yang jadi  Steering Commitee Corroption Persecution.(SCCP). Untuk memperkuat posisinya sebagai Gupernur. Kalau perlu Sultan Harun Al  Rasyid II, dari khilafah yang baru. Sesudah ini bila korupsi tambah marak, dia ada dalih, wong programnya tidak disetujui pusat, DPRD pasti  setuju, sebab seluruh anggauta DPRD akan jadi Steering Comitee, yang honornya juga buuesar. Maka celakalah Propinsi yang mampunyai Gupernur paranoid dikombinasikan dengan watak royal sedekah tapi bukan dengan uangnya sendiri, berbahagialah sang ex boss Gurita  dan  Guruji Janglot. Karena  bisa ada  yang berani diperalat, dasar [aranoid.
Lha di Indonesia,  bila sang paranoid ini berhasil membuka kran pengeluaran semudah itu, maka hampir disemua Propinsi, terutama di Perbatasan akan membuka suatu Komisi Pengawas Penjagaan Perbatasan (KPPP) dengan alat alat canggih drone yang sangat mahal, dengan penginderaan yang sangat tajam dan rinci, sehingga tidak sejengkal tanah dan perairan laut dijarah oleh asing.(kan drone ini bisa hilang kena cuaca buruk, ya sudah, beli lagi )  Disetiap propinsi akan didirikan Komisi  Pengawasan Prilaku Pejabat (Kopeprip), tingkat Propinsi dan tingkat Kabupaten dengan honor yang buueesar untuk melengkapinya dengan detektive petikelir, gelang GPS, alat alat canggih yang mahal mahal, wong masih banyak sejenisnya si Harliem  yang dengan semangat akan membantu, membelikan barang, kalok perlu dengan SNI, buat Surveilance and Preemtive  Actions (S&PA) inti sarinya ya kepingin beli dukungan tokoh tokoh masyarakat dengan duit kas Daerah APBD.  Siapa orang daerah yang tidak setuju wong bukan dari kantongnya seniri ini namanya oposisi terhadap rakyat yang masih membutuhkan banyak beaya untuk kehidupan yang lebih baik, ini penghianatan yang sangat tengik, SANGAT BODOH UNTUK MEMBERI KESEMPATAN BUAT MENCOBANYA, ITU YANG DIHARAPKAN, JELAS DUIT APBD PASTI DIPAKE HABIS, sebab  si paranoid ini tidak  mempunyai rakyat, apalagi Negara ? *)


Sabtu, 06 Januari 2018

DESA

DESA


Saya bercita - cita semua Desa di Nusantara dipimpin oleh Sarjana Pertanian.
Betapa tidak ?
Pertama, betapa sulitnya bagi sarjana pertanian khususnya bekerja di bidang pertanian – mandiri atau terima gaji – karena Ekonomists selalu menyebut usaha pertanian adalah usaha yang “slow growth”.
Bagi sarjana ilmu Pertanian, satu - satunya tempat yang bisa memberi peluang berkarya adalah “desa”.
Kedua, kesalahan agroteknik oleh ketidak mengertian, akan berakibat sangat parah, meskipun akibat dari kesalahan itu akan nampak sangat lama, seolah -olah tidak berakibat apapun, perlu pengertian yang tidak kurang dari pengertian seorang sarjana pertanian.
Ternyata cita-cita ini tidak mudah,  bukan karena kesulitan mencari atau mencetak Sarjana Pertanian, tetapi karena Desa  mempunyai keunikan sendiri yang harus diperhatikan.
Desa di Jawa dan di lain pulau di Nusantara umumnya, mereka memilih Pimpinannya, baru akhir-akhir ini saja orang dari lain tempat, menjadi Pimpinan Desa, meskipun tentu saja harus dari penduduk desa tersebut. Apakah PEMERINTAH TIDAK BISA MEMBUAT TROBOSAN, MENCALONKAN SARJANA PERTANIAN ATAU TINGKAT D3 PERTANIAN UNTUK DICALONKAN SEBAGAI LURAH, HINGGA SKRIPSINYA SELESAI :?

Rata-rata di pulau Jawa pemilihan Lurah atau Kepala Desa dipilih oleh rakyat desa dewasa atau yang sudah kawin, baik lelaki atau perempuan, ada pula dahulu, pemilih adalah pemilik atau petani yang mengerjakan sawah milik pemerintah Hindia Belanda atau petani gogol.
Sebagai contoh desa-desa di pulau Jawa yang  menjadi lahan tebu dulu, mempunyai sawah berpengairan yang dikususkan untuk tebu rata - rata 100 Ha, tegalan rata- rata 200  Ha, pekarangan 100 Ha, tepi jalan dan tepi saluran pengairan 20 Ha ini sangat bervariasi menurut lokasinya. Jumlah areal antara 200- 400 Ha. Persis seperti Perkebunan kecil tetapi dengan tanaman budidaya yang sangat banyak speciesnya, lagi,  tenaga kerja yang melimpah.
Sedangkan tanah perkebunan seluas 100 -200 Ha dan satu macam budidaya saja, mampu membayar satu sarjana yang baru lulus.
Kenapa bekas lahan tebu?, karena lahan ini khas tanah dataran rendah pulau Jawa dan pemerintah Hindia Belanda telah membangun  irigasi untuk lahan ini,  merupakan lebih dari 60 % dataran rendah, dipulau Jawa.
Di luar Jawa luas satu desa jauh lebih besar dari pulau Jawa, akan tetapi pengairan yang dibangun sangat kecil prosentasenya.
Tanpa sadar, saat orang menyebut “desa”, pikirannya sudah membayangkan sawah atau ladang, tegalan dan halaman yang luas berisi tanaman buah buahan,  ternak sapi kerbau dipiara, kambing dan unggas di mana-mana, kadang kadang juga kolam ikan air tawar, semua bagus hijau, teduh pokoknya tenteram dan damai.
Boleh saja, dan benar, tapi kadang kenyataannya tidak demikian.
Sawah: Umumnya sawah berpetak petak dan ditanam padi, benar.
Tapi sawah yang sangat luas, milik beberapa puluh desa berhimpitan tanpa batas yang jelas, rentan terhadap hama dan penyakit.
Hama ”wereng” (Nilaparvata lugens Stal. Dan bangsanya Sogatella furcifera,  Nephotettix nigropictus) menyerang hamparan padi  tanpa  ampun hingga kini. hama ini merebak secara luas sangast cepat.  Misalnya tahun 75 an, padi mengering sampai puluhan ribu Ha. (hopper burn), juga menularkan virus ( sebagai vector )  “grassy stunt” rumpun padi yang mengerdil mirip rumput/ dan bila ”dibawa” menular sesudah malai kaluar, malai akan hampa total. Telah diciptakan VUTW (varietas unggul tahan wereng) meskipun sekarang sudah tidak dipakai lagi.
Sudah diciptakan satu set aturan menanam padi untuk menanggulangi hama ini, toh tidak dilaksanakan dengan consistent.
Penanaman dengan budidaya di luar musim, untuk memperoleh harga premium, seperti semangka pada musim hujan, atau tomat dan terung-terungan dalam musim hujan, hanya mengandalkan pestisida untuk melindungi dari hama dan penyakit, toh dikerjakan demi harga yang tinggi, tapi memerlukan “ilmu dan pengetahuan” pertanian yang luar biasa.
Sawah menjadi rusak akibat secara terus menerus ditanam padi dengan tergesa-gesa tiga kali setahun, yang perlu pengertian ilmiah  untuk menghindarinya, karena harga beras lagi baik.
Ladang:   Pada lahan yang miring sangan rentan terhadap erosi, sebenarnya hanya cocok untuk tanaman keras, toh ditanam singkong dan padi - padian.
Pekarangan dan tegalan: Lahan pekarangan dan tegalan, meskipun luas, sangat tidak produktif.
Segala tanaman perkebunan sebenarnya juga adalah tanaman tegalan, artinya, tanaman yang biasa ditanam di lahan tanpa pengairan, tapi semua tanaman tegalan dan pekarangan milik petani rata-rata tidak menurut aturan perkebunan,
Bisa ditebak bagaimana produktivitasnya, kuantitatif maupun kualitatif. Tidak heran bila di pasar- pasar, buah buahan lokal yang merupakan hasil tanaman tegalan dan pekarangan petani kita tidah berkualitas bagus, sebagus buah-buahan import, bahkan dengan  harga yang sama, sedangkan buah-buahan yang selalu berkualitas baik meskipun ditanam asal-asalan seperti Manggis (Carcinia mangostana L ) malah hilang dari pasaran karena langsung diexport, (siapa bilang asal-asalan, dia ini kabarnya tidak mau dipindah, langsung mati bila dipindahkan !). Tapi dengan teknik putar gali yang bagus Manggis bisa dipindahkan.
Lahan pinggir jalan desa-desa, pinggir saluran irigasi yang punya de facto ya desa, ini selain rumput tidak ada, padahal diproduktif-kan juga bisa, malah syukur biasanya ditanam Turi ( Sesbania spp ) bunganya dibuat sayur pical – “C” dari cicak  kata orang Suriname, kayunya baik untuk kertas berserat pendek, sayang pabrik kertasnya bangkrut karena BUMN. Bukannya merugi karena harga produknya murah tapi karena korupsi.
Sebenarnya sudah ada contohnya, di Jawa Timur ada desa yang didiami oleh suku Madura daerah  Tanggul/Wonorejo - Lumajang, desa itu nyaris tanpa sawah beririgasi, tetapi karena di pulau Madura sawah berpengairan hanya sedikit sebab topografi pulau Madura tidak mengizinkan, para petani sangat memperhatikan tanaman pekarangan seperti mangga (Mangifera indica L) Petai (lupa nama latinnya)  Nangka (Artrocarpus atilis Fosberg)  rambutan (Nephelium lappaceum L) buah buahan cash crops dengan pasar luas dan stabil. Petani disana sudah memangkas cabang tanammya dengan aturan, digergaji tepat pada pangkal percabangannya miring, supaya tidak dibuat sarang cendawan.
Lha petani di Jawa sejak zaman dahulu bertanam padi, bahwa ada tegalan dan pekarangan biasa ditanam kelapa ( Cocos nuciferaL)  dan pisang (Musa sapientum L) selebihnya entah mengapa benar-benar diabaikan. Kelapanya lambat laun hilang karena hama (ada tulisan khusus mengenai ini ), pisangnya sudah terinfeksi cendawan Fusarium daunnya mengering sebelum waktunya, bacteri Psedomonas  bakteri Xantomonas yang buahnya didalam hitam dan beracun maka pulau Jawa masih untung dapat support dari Kalimantan dan Sumatra agar pisang terutana varietas saba di pasar tetap ada.
Nampak jelas, desa adalah pusat produksi pangan yang teramat penting, bila di pelayaran laut, ada ketentuan seorang Nakhoda kapal harus mengenal ilmu pelayaran yang formal artinya dididik dan diberi ijazah oleh Departemen Pelayaran (juga armada nyamuk yang berlayar antar pulau)--- Lha ini setiap desa di Nusantara adalah produsen pangan kenapa tidak dipimpin oleh sarjana pertanian ?  kan akan dipilih dalam jangka waktu, sehingga sebelum luluspun misalnya tinggal pembuatan karya tulis ilmiah, pun bisa dicalonkan atas dukungan Pemerintah, sambil mendiukung percobaaanya dilapangan >

 Melihat kondisi banyaknya  species tanaman dudidaya, perlunya mengaudit semua tanaman bisa menghasiknan dengan mutu buah yang baik apa tida,  yang bisa membuat design tata ruang dan pergiliran tanaman tiidak nanggung-nanggung,  seorang Sarjana Pertanian bukan lulusan lain.  SMK kejuruan pertanian, lulusan sekolah ini (kalau sekolah ini masih ada) sebagai second in command di desa desa. Malah second in command  di Kabupaten,  Kecamatan dan Desa sebagai Kepala Dusun, kenapa?, karena SMK pertanian kalaupun ada belum matang umur sebagai Kepala Desa, dan ilmu yang diajarkan setaraf lebih rendah dari sarjana S1 pertanian, meskipun dengan meningkatnya pengalaman dan umur, wawasan selalu tidak biisa dengan sendirinya berkembang, seperti sarjama peertanian dibidangnya.
Kita cukup tahu bahwa setiap desa adalah unik, potensinya dan topografinya lain lain, juga bakatnya terhadap tanaman, yang memerlukan banyak pertimbangan ilmiah tidak kurang dari laboratorium lapangan untuk pertanian,atau  sebuah kapal di samudera yang harus dipimpin oleh seorang kapten.

Lagipula tidak membebani Pemerintah karena gaji dibayar oleh Desa  ( tanah untuk dikerjakan di Jawa namanya “bengkok” atau “tanah ganjaran-banyak sudah dijual oleh orba, diganyti gaji  yang perlu ditinjau kembali”).

Seandainya kini, jumlah sarjana pertanian kurang banyak, ya seadanya dulu, senyampang sangat sulit mencari pekerjaan yang cocok bagi sarjana pertanian, setidak- tidaknya bisa terdaftar sebagai pengikut pemilihan Kepala Desa, atas sponsor Pemerintah, meskipun bukan/belum jadi penduduk desa tersebut. Bisa saja dari tingkat yang lebih sendah dengan catatan bisa melanjutkan sampai S1

Yang penting ada Peraturan Pemerintah yang mendukung sarjana pertanian mana saja untuk menjadi Kepala Desa dimana saja.
Saya sudah berumur 73 pada saat nulis tulisan ini, saya edit setelah berumur 78  tahun,  toh saya masih membayangkan pedesaan di Negara ini seperti yang saya cita citakan. Serang sudah 80 tahun, makanya posting yang pailing pertama ini saya edit dan terbitkan kembali. Sekalian untuk merespond bahwa dana desa yang cukup banyak tidak terserap dalan periode pertama Presiden Jokowidodo hingga  di th 2017 ini,
 dari tahun tahun sebelumnya di periode Kepresidenannya.
Saya tidak mengetahui seluruh pedesaan yang ada di negeri ini, tapi pasti setiap desa di negeri ini penduduknya mendapatkan nafkahnya besar atau kecil dari usaha pertanian, di   perairan darat atau laut, perikanan plus pertanian juga.  Desa, sebagai desa lain diseluruh Dunia pasti ada Pemimpinnya atau Ketuanya atau orang yang dituakan istilah kerennya pemimpin formal dan pemimpin non formal. Sekarang demi produktivitas dan kualitas product pertanian, sangan perlu sarjana pertanian memimpin desa, sebab lahan percontohan disetiap kecamatan yang cukup luas disediakan oleh Pemerintah Kolonial Hindia Belanda sudah dibuat bancakan habis, bisa kantor Koramil, bisa kantor Kecamatan dan perumahan pegawainya, yang tidak langsung berhubungan dengan pertanian.
Saya yakin di negeri ini ada jutaan desa, mulai yang  paling tertinggal sampai yang paling maju, semua menyumbangkan hasil buminya kepada manusia lain di negeri ini, jadi secara Nasional bila makanan tidak cukup, selalu tujuan mata yang pertama adalah pertaniannya alias pedesaannya, ada apa dengan desa kita ? Adalah salah besar bila Pemimpin kita hanya melihat angka statistik nasional berapa kita mampu mengadakan suatu komoditas pertanian yang dibutuhkan kemudian import dari negeri lain, habis perkara, meskipun mengenai tepung gandum sekalipun.
Negeri ini sudah dijajah 350 tahun oleh Kerajaan Belanda, tapi di pedesaan di Jawa  dari dulu tetap memilih pimpinannya dengan azas pemilihan umum.
Konon, pada sekitar tahun 1830,  saat habis perang Diponegoro penduduk pulau Jawa masih sangat banyak yang buta huruf latin (sementara yang melek huruf Jawa maupun huruf Arab gundul juga tidak banyak), sekolah dasar didirikan oleh Pemerintahan Kolonial Belada sebagai tindakan  pacifikasi sambil menyediakan tenaga mandor untuk Pabrik gula yang aedang gencar gencarnya dibangun di Pulau Jawa.  tapi bentuk pendidikan di Asyram, bentuk pendidikan di Pesantren tentu sudah ada.*)


Kamis, 04 Januari 2018

JANUARI FEBRUARI WAKTU YANG SANGAT SULIT MENGISI PERUT PTANI SAWAH

WAKTU YANG SANGAT SULIT BAGI PETANI PADI  SAWAH  DI TANAH  REGOSOL TANAH HITAM LIAT DATARAN RENDAH BERPENGAIRAN – DULU TANAH TEBU.
Petani sawah berpengairan, sering memanfaatkan waktu tanam padi yang bisa lebih awal – bulan Oktober masih bisa mendapatkan bibit padi siap tanam umur 25-30 hari. Tanah hitam liat, menjadi abu abu bila kering sangat keras merekah  juga ada di lembah bengawan Solo,  menyedot air dari Bengawan. Repotnya ya waktu sekarang ini sudah bulan Januari sudah menjelang panen.  Padi jenis baru ini hampir semua mudah rontog bila terlambat panen.  Sebetulnya tidak usah terlalu  berusaha tanam  awal, sebab resikonya besar, tetapi menurut kebiasaan mereka, siapa yang bisa tanam awal bisa panen awal dan mendapat harga yang lebih baik. Sekarang tidak lagi.
Perusahaan  pemasar beras seperti P.T. IBU dan P.T Pilar Utama  dengan banyak yang lain, sudah terbentuk dari zaman Bulognya Pak Bus, 30 tanun yang lalu. Hanya beberapa perusahaan yang bisa duduk dipuncak perdagangan beras hingga saat ini, dan membentuk kartel  siluman diantara mereka dengan atau tanpa BUMN, karena paling sedikit sudah mampu memainkan stock beras di tingkat Propinsi sebagai basis dan di tingkat nasional secara bersama sama kartelnya.  Sudah begitu kayanya mereka ini, sehingga bisa menohok BUMN urusan logistic beras, sehingga Dr, \Leni Sugihat dipecat karena gudang gudangnya hampir di semua daeran besar penanaman padi masih kosong sedangkan penen raya kedua sudah selesai.  Di pulau Jawa, tanah bekas HGU pabrik Gula ini sudah tidak bisa dilacak siapa pemiliknya de facto, tapi faktanya, sudah bisa dikuasai oleh oknum tengkulak tanah dan beras selama puluhan tahun dengan pengumpulan petok sawah leter  C atau leter D di Kantor Notaris, sambil menunggu proses pendaftaran balik nama di  BPN sambil setiap kali memperbaharui proses sampai puluhan tahun ( ah jangan suudhlon tanpa uang kok), pokoknya PBB dibayar, iuran air dibayar, uang ke Pejabat dibayar, yang penting petani pemilik asli tidak memegang surat apa apa barangkali mau dijual lagi, fotocopynya saja ndak ada, dan penguasaan tanah segitu ratus ha ada di satu tangan, sedang pemilik semula adalah penggarapnya. Ini warisan Orde Baru yang sudah 40 tahun.
di Wilayah  Pinrang Sulawesi Selatan, daerah Pengairan Sungai Sa’dang masih tetap milik petani besar, hingga puluhan hectare, bisa dimengerti. Nah petani kecil yang masih memiliki tanah sawahnya, masih berkutat di usaha taninya yang sangat tradisional juga dibidang perdagangannya, nasih tergantung dari tengkulah gabah  (psst, KUD mainan harmoko itu ya kroninya mereka !). Dari dulu tengkulak ini sudah berjenjang dari yang paling kecil di tingkat desa sampai ke tingkat Nasional, dengan kartelnya yang super kuat dananya, karena persatuan ini sudah berjalan lama, semula dengan modal dari BUMN untuk membeli gabah dibawah harga dasar, kemudian masuk ke gudang gudang Dolog dengan harga dasar pemerintah, untungnya dibagi bagi dengan royal. Kemudian di tingkat Nasional, nasih ada stock swasta plat merah, guna mengisi quota import abal abal sampai jutaan ton, bertahun tahun,  entah duitnya kemana ? kan ada pulau Kayman, Singapore, Swiss, Panama dsb.

Nah bila ada petani sawah yang begitu pintar sehingga pada bulan Januari ini menunggu panen, etengkulaknya kok ndak muncul ? padahal padi sudah mulai mnguning, dan banyak hujan, kapan keringnya ? Ditambah lagi membanjirnya beras kemasan 3 kg. 5kg dan 10 kg di mini market yang sudah menyebar di desa desa yang buka 24 jam. Wal hasil harga gabah di Kecamatan itu hanya  Rp 4000/kg, wong sudah 2-3 minggu ini harga beras kemasan produksi P.T Ibu dan semacamnya hanya dibawah Rp 9500/kg. di label toko Rp11000,-kg atau lebih,  tapi dapat discount waktu beli. Kan membela rakyat kecil, perlu dipilih jadi Gupernur, ada partai yang membekingi lho, dan ini discount untuk menolong penduduk desa yang lagi laip, baru padinnya basu berumur sebulan setengah. umbi umbian, bangsanya uwi, gembili, suweg dan tgasdung yang berqacun memayikkan blai sqlah masaknya, biasa ditanam di pagar dan menjalari pepohonan, taro dan yams belum cukup umur untuk digali, apalagi ubi kayu, yang mungkin masih ada jagung sisa permulaan musin hujan. Bukan money pulitik, kilahnya !!!   Otomatis harga gabah di kecamatan itu anjlog, belum yang masih disawah diancam rontog, diancam banjir, dan seterusnya, Ini di tingkat Nasional namanya “dumping” beras ditingkat wilayah panen, stocknya bisa dari Bekasi !!! bisa dari Sengkang. Ini salah satu dari gunanya ihtikar ( yang artinya,  wakil rakyat di DPR RI sudah lupa  artinya,  arteri di otaknya buntu)  jadi dosa P.T IBU yang dibela ratusan pengacara ular biludak, dan sebangsanya bukan saja melabel beras kemasan secara sengaja menipu grade-nya, itu mah pelanggaran kecil, yang sangat jahat adalah dumping beras murah disamarkan gerakan kemanusiaan, padahal kecamatan itu lagi penen padi awal, nanti dumping lagi pada masa panen rendengan pertama sebentar 1,5 bulan lagi ( gudangnya malah aman, dijaga pak polisi) tapi mempermainkan stock beras demi menurunkan harga local di kecamatan kecamatan yang lagi panen dan menaikkan harga pasar di kota kota besar, mau makan apa ? makan roti, Bogasari sudah milik marga Liem Siu Liong  bin Salim al Cendana,  membunuh pasar petani, untuk kepentingannya kartelnya sendiri, yang sudah menguasai stock Nasional. Ini pemain kartel tingkat Yahudi, dilindungi hukum nasional dan Inernasional, hanya melakukan ihtikar hukum kuno yang tidak laku sekarang, karena ahlinya lagi demo, ngurusi  jaring centrang, sedang mempermainkan stock barang kebutuhan dan uang US dollar diseluruh dunia, si pahlawan autis lagi sibuk membela nelayan centrang,, konon secara hukum  tidak ada yang dirugikan dan tidak ada pelapor, kalok diadili berlagak pilon kayak Setnov, sang Ketua Partai golkar dan DPP RI *)

Jumat, 29 Desember 2017

MANAFSIR DAN MENGEMBANGKAN ISYAR

MENAFSIR KEMBALI DAN MENGEMBANGKAN  ISYARAT PAK SAID AQIL SIRAD PADA SIARAN TV ONE, MEREKAT PERSATUANA BANGSA  TG 14 FEBRUARY 2017, ASUHAN BANG KARNI. Disiar ulang tg 25 desember 2017 sore.

“Semangat islam para Wali islam tanah jawa muali abad 12 M, sampai pada pendirian kesultanan Islam yang pertama Demak Bintoro pada abad ke 15 M, mengajarkan ilmu tasawuf pada kaum elite captures agama sebelumnya.” begitulah kira kira ucapan ketua PB NU ini.
 Ya, kepercayaan diri dari para Wali islam di Jawa pada abad ke 12 -15 M.  
Era dengan kurun waktu 12 abad pertumbuhan islam di wilayah asalnya yang sudah sangat kokoh dalam menggunakan semangat feodalisme, sebagai suatu pondasi pokok  kekuasaan dari masyarakatnya., sudah dimulai oleh dinasti  Mu’awiyah.  
Benar memang Demak Bintoro satu kesultanan berabad abad setelah dinasti Mu'awiyah di tanah Timur tengah, tapi  kesultanan islam di Demak sudah dengan azas egaliter, dimana Sultan dipilih oleh  pemuka agama islam,  dengan para calon Sultan adalah para elite masyarakat  islam baik dari kalangan feodal saat itu, maupun dari kalangan ulama dari semua kalangan tanpa ada pembedaan ( sebenarnya sulit memisahkan, mereka ulama- juga mayoritas masih berdarah keturunan para  brahmana atau ksatrya zaman sebelumnya - tapi kan yang dibicarakan sistemnya ?).  Keberanian yang dilandasi kepercayaan diri yang luar biasa, mengingat  telah 13 abad semenjak  Abu Sofyan mengangkat putranya menjadi Sultan. Sedangkan sebelumnya adalah Amirul Mukminin yang tidak diwariskan ke keturunannya.  Selama 13 abad setelah Sultan yang pertama bani muawiyah,  dukungan terhadap feodalisme makin kokoh, disertai dengan upaya pembenaran lewat  dalil ajaran dan budaya yang digoncengkan  pada ajaran hidup.  Jadi para wali islam zaman berdirinya kesultanan Demak Bintoro membenturkan masyarakat egaliter islami dengan masyarakat feodal berkasta pondasi dari masyarakat sebelumnya.  Manusia boleh sangat berbeda beda, tapi perbedaan ini tidak boleh melanggar hak azasi suatu kehidupan, makanya harus rela dengan kesamaan dan kebersamaan hak azasi seluruh umat manusia juga kewajiban azazi menjaganya .
Dengan  kepastian dapat membangkitkan semangat pembaharuan, dibawah panji panji islam, dalam segala bidang. Terutama ekonomi dengan pembangunan sawah dari rawa Demak bintoro, mengkaji pengalaman di jaman sebelumnya, persawahan di Pamotan dan Manyar,Gresik. Terutama export beras dan gelondong kayu jati dari lereng utara Gunung Muria.
Sangat berat membangkitkan semangat Abu Dzar, seorang sahabat Rasulullah salalahu alaihi wassalam. yang berwatak lugas, sederhana, terbuka dan berani. Pada usia lanjut, sosok lugas ini masih berani mengkritik Sultan bani Mu’awiyah yang membangun Istana Hijau Al Kirza, di ibukota wilayah taklukannya yang sudah sangat luas dengan kekayaan Negara.  Sesudah sultan ini, terjadi pergantian wangsa kesultanan berulang ulang semua sangat menikmati  keistimewaan feodal penguasa duniawi ( para Sultan dan kroninya) dan penguasa Agama ( para Ulama kesultanan,  Imam dan Mufti, Khadi ) juga dengan leluasa memberangus ide ide egalitarian dengan pamphlet dan sisipan di kitab kitab  tulisan tangan dengan edisi sangat terbatas, juga dalam bahasa arab yang adhi luhung, pokoknya diedarkan oleh kroni para Sultan sampai wilayah yang sangat jauh, selama belasan abad. Alias memberantas demokrasi, dari benak pembacanya.  Yang ini artinya jiwa demokrasi selalu tersirat pada tingkah laku Rasulullah Muhammad salalahu alahihi wasasalam.  Tanpa pribadhi yang “jeneng”  sangat berprinsip, pasti akan sangat  “ewuh pakewuh” , membuat kecewa para sultan, yang baik kayak Nabi Sulaiman, Sultan Harun Al Resyid yang legendaris   Penaklukan Yerusalem selama daulah islamiah ada dua kali penaklukan oleh Islam, yang sama sangat dikagumi sejarah.Oleh Umar bin Khatab.r.a. salah seorang dari khalifaurasyiddin dan oleh Salahuddin al Ayyubi. yang sangat islami dan elegan, tanpa watak barbarian. Dua duanya dipilih, bukan deari keturunan.
Untuk menangkal itu semua,  perjuangan para wali islam pulau jawa demi mengungguli  sistim masyarakat kerajaan terdahulu, sangatlah berat, dan memerlukan strategi yang sangat canggih, memerlukan tenaga dan pemikiran yang mendalam supaya kokoh dan tidak dicap sebagai sempalan ajaran Islam, yang dengan mudah akan dilucuti kekuatan moralnya.                                                                         Perlu kepercayaan diri yang sangat besar. 
Saya kira mengambil teladan dari Abu Dzar.   Mengadakan pendalaman ilmu tasawuf dengan elite agama sebelumnya. Konsekuensinya tidak satupun peninggalan kerajaan Demak Buntoro merupakan istana batu bata dengan adonan spesi antara batu bata pasir kapur tohor dan abu gunung api seperti kerajaan sebelumnya (bandingkan dengan makan raja raja Gowa atau raja islam di Aceh, yang di Demak sangat sederhana) atau ibu kota Mataram sesudahnya.  Mungkin, kerajaan Demak Bintoro  tidak cukup dana buat memperbaiki sistim pematusan rawa persawahan Demak yang sangat luas, karena export beras macet gara gara pembajakan galleon galleon Portugis meraja kanon  (bukan lela) diselat Karimata dan Laut jawa..
Mungkin, artinya pemasukan pajak sawah kurang, dan pajak perdagangan beras sangat susut. Sultan Hadiwijoyo, dan putra angkatnya Panembahan Senopati  lebih memilih tanah bhumi hutan mentaok sekarang sekitar D I Y Jogjakarta, yang merupakan lereng rendah kipas lahar dingin yang sudah melapuk jutaan tahun, dengan tiga sungai yang musim kemarau masih mengalirkan cukup air buat pengairan, sungai  sungai deras dan dangkal, mudah dinaikkan permukaan airnya untuk pengairan sawah, juga bendung plered, yang disamarkan sebagai nama pusaka tombak pusaka kiai Plered,  nama konstruksi bendung untuk pegairan kerajaan Mataram (serupa huruf  'f” lebih miring). Menggantikan sawah rawa Demak.  Mungkin perpecahan  di asal ajaran islam, yang sudah berabad abad rupanya telah merambah akar rumput, mengendorkan semangat  gotong royong petani santri di sawah rawa,  sehingga mengerjakan penataan kembali sistim pematusan tidak terlaksana.      Di Kerajaan baru ini Sultan memiliki sawahnya untuk kas kesultanan, dan memerintah sebagai monarki absolute. Dengan demkian karya para wali untuk mengintegrasikan kesultanan dengan semangat egaliter demokrasi gagal,  tapi tersisa pada ajaran yang diserap  oleh para kaum inteligensia Jawa bekas kasta ksatrya dan kasta  brahmana, kasta waysia dan kasta sudra yang sudah jadi saudagar canggih dan melek huruf, bisa membuat surat perjanjian, dan pembukuan lajur,waysia sudra yang sudah menjadi Bilal Bilal  yang tahan banting,  Semangat ilmu tasawuf  yang sengaja diajarkan dulu oleh para Wali islam, guna mengimbangi  semangat agama sebelumnya dengan wujud dalam kitab Bhagawat Gita,  dengan weddha kelima Mahabharata, dan aliran Budha Hinayana, Dengan masih tekun mengambil teladan dari  perjuangan Rasulullah SAW pada permulaan kerasulannya, dan Abu Dzar pengikut islam yang pertama, sahabat  Nabi dari kaum badui yan lugu, egaliter, bersemangat empati-nya  pada penderitaan rakyat miskin, tidak lekat pada harta benda. Masih mampu mencetuskan perlawanan - perang Jawa-(1825-1830) .           Muncul pada  karya dan keteladanan  RMP Sosrokartono wakil dari inteligensia Jawa dan Islam yang zuhud.  Menunjukkan warisan para wali jawa, sumber yang masih jernih dari ilmu  Hakikat islam dan ilmu Makrifat islam – tasawuf - dari gerakan dan bacaan sholat wajib,  Kalimah toyibah, kalimah basmallah,  dan Al Fatihah.  Keberanian “beda” kalok perlu : anteng mantheng, sugeng jeneng.
Harus ada kepercayaan diri dari ulama dan umarah Nusantara.  Masyarakat Indonesia jadi sarana melaksanakan ad dien dalam keberagaman berarti nenggubah ekonomi dengan ad dien yang sudah menjadi tantangan jaman. Membuat kehidupan manusia lebih manusiawi,  didunia yang lebih baik.
Menghapus perbudakan,  penjajahan,  menghapus feodalisme lahir bathin, melestarikan alam dari hangkara murka mafsu manusia.

Dengan alat terlaksananya  pemikiran neo liberalisme, praktek kebebasan ekonomi yang mutlak seantero dunia. Bentuk baru dari nazi-isme, neolib yang ini bukan mengejar dominasi ras, tapi mengejar dominasi US DOLLAR, dan otomatis yang menyimpannya di off shore banks, bukan negara, ndak punya rakyat ndak mbayar pajak menguasai perdagangan/keuangan  seluruh dunia ini, dibayar dengan memberikan ibu kota Yerusalem, kayak punya embahnya sendiri, pokoknya dia ndak keluar uang sepeserpun, cuma secuil topi serabi.
merah lagi, Dilain sisi  masih ada umat islam yang secara kasat mata semua benar, tapi urusan hidup masih  besazas feodalisme asalnya dari luar pulau jawa, dimana elite capture-nya menjadi elite capture yang memanfaatkan doktrin persatuan tanpa terkotak kotak, tapi elite capture-nya  masih berjiwa kerdil, setingkat suku dan puak, jenis ini ningkring diatas kotak  didukung kekuatan senjata untuk menipu rakyatnya. DENGAN DUKUNGAN US DOLLAR.   begitu dukungan us dollar berhenti, bubar. Golkarnya Harmoko tidak menunjuk penggantinya, bukankah ini satu pertanda runutuhnya feodalisme ?   Karena apabila sempat dttunjuk pasti tidak laku ?    1993 kekuasaan militer feodal ini runtuh, karena terlalu boros clan clan  warga baru, yang masih tiga generasi sudah merajai ekonomi,  tidak menghayati  kondisi sosio demografi Indonesia, dumeh dekat dengan sang Jendral. Lantas dengan menyolok hadigang hadigung, jadi  pendukung doktrni doktrin  ini, kasempatan digunakan tanpa  malu. Tersisa elite capture semacam Fahri Hamzah, yang ndak malu,  Sedang selama masa 15 abad feodalisme digunakan oleh para sultan,  demokrasi yang sudah diisyaratkan oleh Rasulullah salalalu alaihi wasallam sudah tidak dipakai lagi. Berkembang kearah penjajahan dari neo liberalism dalam ekonomi, yang sudah melampaui  batas dimensi Negara, agama dan sistim bermasyarakat – semua seluruh dunia harus ditera dengan kertas US dollar – lha si kertas ini dengan sengaja di-inflasi-kan dinegerinya kebutuhan hidup naik tapi gaji penerima upah disana ya dinaikkan, sedang dinegara orang lain malah nilai US dollar dinaikkan terhadap uang local karena mekaniasme pasar uang, dengan apa mereka diupah, jadi upahnya turun,  karena nilai us dollar naik karena sangat dibutuhkan ( di Mesir untuk beli gandum, ndak beli, kelaparan konon juga Pakistan – masih mending di kita – untuk membeli alat alat canggih – dan sayangnya juga  beli kedelai untuk lauk, saya harap ibu Moana Susi bisa mengganjalnya dengan ikan laut - makanya dasar lautnya jangan dikeruk dengan jaring centrang, dengan cengengesan)
US DOLLAR ini gantinya  ras Aria dari nazi-isme. Nilai us dollar naik karena harus beli infra structures selain bangunan, yang juga tidak sedikit, misalnya alat alat kedokteran dan farmaceutical products, karena kerusakan genetic dari mengkonsumsi  tanaman budidaya hasil  rekayasa genetic dari sana, yang belum tuntas diteliti efeknya terhadap pemakainya- manusia, alat alat komunikasi, senjata canggih,  alat alat Pendidikan dan penelitian ( disana peneliti bikin alatnya sendiri. disini beli jadi sudah wutuh tinggal pakai, dbuat satu satu oleh para ilmuwan – jadi harganya selangit – bikin sendiri, ogah ah  ? Tradisi para Profesor kita kan bukan dari lingkungan para tukang – mlainkan penghafal kitab kitab? jadi ya kurang trampil bikin alat alat penelitian sendiri)
Nilai US  dollar naik karena sangat dibutuhkan untuk membangun infra structure perikanan,  pertanian dan peternakan,  yang masih harus dibeli dengan US dollar.
Harga barangnya di Negara asal, sudah naik karena uangnya di-inflasikan, masih naik lagi  nilai US dollarnya dinegara berkembang karena sangat dibutuhkan.                                                  Dunia Islam, sudah ada konsep mengenai ini, ekonomi dan perdagangan cara islami. Cuma masih terselip selip dilemari primbon  para  ulama di seluruh dunia. Karena lagi sibuk menjaga kemurnian agama islam. Sebagian santrinya malah bikin bom bunuh diri, lebih gampang.  Devide et impera diantara  Negara kapitalis baru dengan watak “bakul”-nya masih kental  tersisa ( ngeloni keuntungan kecil -urik-nakal  dalam dagang, dan mengabaikan keuntungan strategis yang lebih besar berjangka panjang ) -  dengan  Negara berkembang alias Negara kapitalis setengah matang dengan elite captureya  yang makan suap, ndak mampu menawar dengan win win solutions mutlak, ya sedikit mengalah-lah, sebagai landasan dagang dimasa depan, Adu domba model ini masih sangat ampuh mengaduk aduk perjuangan  diantara rakyat miskin dengan segala cara. Dasar.  Apa ideology islam tidak bisa menciptakan trobosan, selain yang sudah biasa dikerjakan wahai para habib cuma omde (omong gede),  masih mau menggurui ?, ya ini subjeknya, gurui kami kalok bisa  !! *)

                                                                                           

Sabtu, 23 Desember 2017

KEPERCAYAAN DIRI ULAMA PARA WALI ISLAM TANAH JAWA

KEPERCAYAAN DIRI PARA ULAMA JAWA PADA ZAMAN PARA WALI-  ABAD KE 12 – 15 M.
Meinjau keadaan sekarang,  kapan sosok peneliti se kaliber  Nurcholis Majid, doctor dalam ilmu sosial masih mendapatkan sanggahan  miring oleh para ulama yang mendapat pengetahuan dari sederet kitab kitab Islam yang dituntun oleh sang Al Mukharom yang mendapat legalitas dari  guru guru kelompoknya, nyaris di cap sebagai  perusak islam yang pantas dihukum berat, apalagi orang awam.  Para pakar agama islam dan kroni penguasa  dalam sejarah yang sangat condong ke feodalisme artinya kekuasaan despotic, sudah pasang kuda kuda semenjak menghadapi kritik Abu Dzar al Gifari yang Badui, salah satu dari yang pertama  diterima oleh Rasulullah sendiri, dari wawan sabda yang tandas,   Abu Dzar langsung masuk Islam. Hari berikutnya dia kemukakan dihadapan warga Mekah kaum Qurays kafir dan jahiliyah, dua hari berturut turut dia dikeroyok dipukuli, mereka mundur karena ada yang mengingatkan orang asing yang dikeroyok ini dari marga Gifar penguasa jalan kabilah dagang ke Syiria bisa bisa jalan dagang orang Mekah di blokir. (Repubka.co.id.  tg 13 juni 2011, kisah sahabat Nabi Abu Dzar al Gifari takoh gerakan hidup sederhana.)
Langsung pada saat itu Rasulullah minta supaya dia pulang ke oasis asalnya, dan mengajarkan  apa yang dia dapat dari Rasulullah SAW,  dalam pertemuan sesingkat itu.                               Th 1965  pada pengajian Kiai Qudratullah dari Banten di Jakarta anggauta Konstituante pada Pemerintahan Presiden Suharto, dia menceritakan kepada jamaah pengajian, bawa Abu Dzar al Gifari dengan berat pulang setelah pertemuan sangat singkat dengan Rasululah saw,  sambil menunggu dipanggil, bila perang dengan kaum kafir Mekah telah dimenangkan.  Sambil menyesal karena diminta meninggalkan Mekah oleh Kanjeng Nabi.  Atas penyesalannya ini  Rasulullah menjawab Abu Dzar, Jawaban Rasulullah saw ini yang sekarang saya cari di google ndak ketemu: Menerut Kiai Qudratullah,  dianjurkan supaya Abu Dzar mohon pertolongan Allah, bila dia tidak tahu menjawab suatu perkara, bila sangat mendesak segera harus dijawab,   pertimbangkan menurut hati nuraninya. Di google tidak demikian, tapi wasiat panjang panjang  pantasnya diberikan selama dia jadi sahabat Rasulullah salalahu alaihi wasallam. sesudah hijrah ke Madinah.
Lho, untuk sosok lugas,  jujur, terbukan dan  pencari kebenaran seperti Abu Dzar, terbukti  dia sudah susah payah jalan begitu jauh hanya untuk menemui beliau Kanjeng Nabi, maka dengan sagala jalan Allah akan menolong, dan bisikan hati nuraninya bisa diandalkan, tidak akan melenceng jauh.  Saya ingin temukan kembali pesan Rasulullah yang paling pertama  menyadari betapa masih sedikit pengetahuan ajaran Rasulullah  kapada Abu Dzar ini.   Menurut saya ini sangat penting,  sebab beliau menyuruh mohon pertolongan kepada Allah seperti semua orang, dan percaya diri mendengar bisikan hati nuraninya.    Sebab selama sepuluh abad berikutnya para pemimpin muslimin  adalah Sultan yang mengesyahkan kedudukannya dalam masyarakat  muslim, menurut azas feodalisme dengan segala jalan. Termasuk membungkam si lugas, jujur, terbuka, dan memperjuangkan kepentingan umum, seperti Abu Dzar.                            
Yang masih tersisa kenyataan bahwa setelah sampai ke Nusantara, dibawa oleh para Wali dari Yunan dan Mesopotamia, satu jarak yang sangat jauh, dari pusat ajaran islam, juga jarak selang waktu yang sudah berabad abad, semenjak  orang sejenis Abu Dzar bisa mengkritik Sultan dari bani mu’awiyah  ini, bukan karena dia masih sahabat Rasulullah, bahwa bani  Mu’awiyah  menghabiskan kas Negara Muslim pertama untuk membangun Istana Hijau Al Kirza di ibu kotanya di Siria.  Padahal selang waktu selama itu sudah sering kejadian naik dan hilangnya dinasti dinasti feodal di kesultanan Islam.  Tentu para Sultan dari wangsa manapun mengerahkan para cerdik pandai, ulama yang mendapatkan derajad dan rejeki dari tuannya yang Sultan, malah Syahansyah. 
Rasulullah  salalahu alaihi wassallam sudah disiapkan Allah, yang tersirat disini adalah kenyataan - Islam melarang perbudakan, membayar buruh sebelum keringatnya tuntas di lap, islam melarang menimbun pangan (ihtikar) untuk keuntungan, islam melarang riba ,ajaran moralnya hanya mengguakan harta dan kekuasaan untuk pebuatan rahman dan rakhim.

Susunan masyarakat ditentukan oleh ekonominya - susunan masyarakat bisa dirubah hanya dengan mengganti ekonomi masyrakat luas. Jadi menurut saya, masyarakat islami bisa terwujud ( politik dan budaya) bila ekonomi lingkungannya adalah ekonomi islami - Sedangkan dikiri kanan jazeerah adalah kerajaan kerajaan yang kuat berdasarkan feodalisme. Ini yang harus lebih dulu di tundukkan kekuatan ekonominya, Dengan perang yang harus menggunakan bantuan golongan ksatrya qurays, dengan kuda kuda perang dan baju baju zirah yang langka, sang Robin Hood Abu Dzar tidak punya. Sebelum disuap oleh feodal feodal tetangga kerajaan - jadi sementara Abu Dzar ya non job-kan  dulu. Hukum islam yang berlaku di Negara tanah hitam ( Persia) adalah reformasi bagi hasil panen dengan kaum Muslimin. Sebab tanah para Raja terdahulu secara de yure jadi milik penakluk, tapi Islam sangat hati hati mengenai ini. hanya bagian petani penggarap diatur lebih longgar bila sesama muslim. Pambagian hasil dirupakan pajak bhumi.
Di Mesir pun begitu, hanya baru abad ke 18 para shaikh diundang untuk tinggal di tanah bekas punya Raja.zaman dijajah romawi,oleh  Sultan Ali Pasha - (google) untuk jadi penyewa pertama dari Sultan  mesti saja ikut menjaga tahta.  Sebelumnya selama wangsa wangsa islam silih berganti, petani setempat sebagai penyewa langsung,

Saya curiga, penguasa feodal  selama berabad abad,  memasukkan pesan kepada rakyatnya yang di boncengkan seolah olah sebagai pesan Rasulullah kepada Abu Dzar. Termasuk pesan jangan banyak tanya tapi amalkan saja apa kata para  Ulama  : Intinya  kekuasaan feodal itu atas karunia dari Allah, seperti raja raja zaman sebelumnya di tempat tempat lain.  Sangat masuk akal bila tidak boleh ada  ajaran dari dan untuk pikiran sehat, yang menuju ke demokrasi dan sikap egaliter yang sangat berlawanan dengan sifat kekuasaan feodal, mulai dari masyarakat sekecil madrasah, pondok pesantren sampai sebesar kesultanan, bahkan  adab juga disusun secara feodal, misalnya mashab Ismailiah dari Pakistan dengan Agha Khan sebagai  Pemimpinnya yang turun temurun dan pangeran Ali Khan memperistrikan Rita Hayworth  bintang film Hollywood  th 1950 han, hidup sebagai  socialite di Hollywood, bebas madat madon minum main, saking hebatnya  kaum feodal berjubah imam mashab ini mempertahanlan posisi feodalnya  maka punahlah -  Abu  Dzar Abu Dzar, ndak   lagi ada yang brani berfikir mandiri  menggunakan hati nuraninya,  mengkritik penyimpangan imam mashab Ismailiah, yang tidak pantas.                                                                                                         Sedang masa kini,menurut saya,  mencari kebenaran bisa lewat ilmu pengetahuan yang berkembang di filosofinya,atau dihentikan  saja, ndak usah mencari kebenaran, apalagi dengan berkelahi saling membunuh, sebab kebenaran hanya milik Allah, saya kira ini jauh lebih aman. Lha kalok kebenaran itu dipakai sebagai azas/ dasar berbuat baik, paling sedikit ya dipakai sendiri, tapi kan dicari ? Tandanya dalam sholat selalu dimohon dalan Al fat6ihah, tanpa itu diswetiap rokaat, sholatnya tidak syah, repot ya ? 
Jadi sebagai Guru harus jujur dulu, demi apapun, tanpa memperdayai pelajarnya, zaman sudah terbuka, seleluruh dunia postulat mathematika, hukum fisika yang diterbitkan dalam karya ilmia. selalu di verifikasi dengan jujur.  Allah menciptakan alam seisinya komplit dengan hukum hukumnya.  Keaneka ragaman alam menurut ajararan islam, nencakup fenomena non materi –energi  existensi hidup kita. Ini bukan bidang ilmu pengetauan.  Derajad manusia seluruhnya sama dihadapan Allah. Kekuasssn 
menentukan kecukupan atau kekurangan sarana hidup orang banyak,si elite kekuasaan atau si bodoh orang kebanyakan, jadi penentu pembagiannya ya dari  kesepakatan bersama, bukan si pakar dan si elite capture saja yang berhak menentukan, ini azas demokrasi yang pokok.  Rizki ditangan Allah, tapi sarana hidup sudah di anugrakankan Allah gratis untuk seluruh makhluk  Allah. Menurut hemat saya adil, yang bekerja mesti dapat, tanpa ihtikar dan akal akalan dan riba.  
Mungkin Abu Dzar  tanpa kompromi, meskipun Rasulullah tahu bahwa si lugas badui ini benar, tapi waktu itu gerakan islam baru mulai, dikiri kanan jazeera Hijaz, kerajaan besar Mesir dibawah Romawi dan Parsi dibawan majusi. Sedangkan prinsip perang padang pasir pertahanan yang paling handal adalah menyerang, maksudnya menempatkan musuh sejauh mungkin.  Sikap zuhud tanpa kompromi akan membuat ragu dan menakuti warga arab ksatrya qurays belum pahan islam, yang kaya memiliki baju zirah dan kuda kuda arab yang terkenal itu serta pedang baja Damaskus yang sangat kuat dan tajam, dengan kesempatan mandapat harta rampasan, dengan pasukan darat yang bersemangat dari umat islam walau  masih sedikit, tapi keberaniannya luar biasa. istilahnya jihadfisabilillah,  apa  bisa secepat itu bila Si mu’awiyah tidak mendapat dukungan dari  batalion kavaleri, pengendara kuda kuda arab yang mahal,( sedangkan satu ksatrya masih bisa meminjamkan kuda kudanya pada pengiringnya yang dulunya hanya jalan kaki  berbaju zirah ponjamam lagi),  guna menyerang menjatuhkan calon musuhnya ?  Kerajaan besar besar dikiri kana jazeerah Hejaz ?  Tanpa menaklukkan mereka lebih dulu. bangsa arab ini belum islam semua, masih sangat gampang di iming iming suap, dipecah belah dengan suap oleh super power saat itu, dan pasti kalah-lah pasukan islam semua, yang masih compang camping kurang alat, jalan kaki tanpa baju zirah dan masih kecil jumlahnya ?                                                                                                                 OK, itu dulu pada saat pengembangan ajaran Islam, sampai  me non job- kan Abu Dzar.  Hla  saat para wali mengislamkan Jawa dengan Kesultanan  Demak Bintoro, watak Abu Dzar sudah diserap para wali,  terbukti tidak ada peninggalan sejarah berupa gedung istana batu bata dengan spesi pasir kapur tohor dan abu gunung api ( belakangan diganti dengan bubukan batu bata – sebelum semen Portland) seperti di Wilwatiktapura dan Mataram sesudahnya.  Hanya ada satu mesjid Demak yang salah satu tiangnya dari kayu limbah, se-sederhana itu saja, Orang bilang disengaja, tapi apabila karena kekurangan dana, saya ya percaya. Sebenarnya ya bisa dibuat, seperti menara Kudus, tapi kan bukan kesultanan Demak ?
Setelah kesultanan Demak bintoro pindah ke Pajang karena bencana lahar dingin dan keamanan pelayaran jung  besar besar dari china sangat terganggu galleon galleon Portugis, pengaruh islam mulai surut di politik pemerintahan, tersisa ajarannya yaitu islam tanpa hasil  acara sistim feodal yang telah berlaku  sepuluh abad. Kepercayaan diri para wali  di tanah jawa itu bukannya tanpa alasan. Istilahnya mengambil jalan netral dari kemelut ideology islam yang bercampur dengan pembelaan terhadap feodalisme, dengan  kembali  ke era dimana dukungan terhadap ajaran islam hanya dari perorangan  rakyat kebanyakan dan suku qurais yang sadar atas dorongan dari hati nuraninya, yang oleh para wali digali dari bacaan surah surah waktu sholat, dan isyarat gerakan sholat – Misalnya kalimah syahadad, kalimah basmallah, surah Al Fatihah, sebagai surah wajib setiap rokaat, surah surah pendek dari kitab turutan atau jus amak, gerakan  dan rokaat sholat. Itu saja masih dianggap tidak sama dengan aslinya masih ditambah dengan bedug dan bacaan disuarakan dalam rokaat pertama oleh imam - aslinya konon bacaan sholat hanya dengan bathin saja. Sebab paling kecil risikonya, paling paling dicap klenik, sama sekali tidak mengubah nash, tapi memaknainya untuk lebih menghayati iman dan takwa,  yang mereka namakan bagian dari ilmu hakikat islam dan makrifat islami – tidak kasat mata dan tidak diperdebatkan, apalagi menyangkut kekuasaan. Malah diajarkan dengan lagu gending dolanan/ permaian anak anak, misalnya tembang “Ilir ilir” ciptaan wali islam di jawa, yang dihayati sampai sekarang. Menjadi pegangan muslimin jawa, mempertahankan  Kebaikan, kebenaran,  kesabaran bertoleransi dengan kebudayaan lain, tapi teguh dengan prinsip islami. ( surah Wal Asri)
Nampak bagaimana sejarah berulang, Abu Dzar di non jobkan karena belum wakunya mempertahankan prinsip hidup zuhud, tanpa kompromi, sepuluh abad kemudian di Jawa prinsip Abu Dzar ditrapkan di kesultanan Demak, dalam politik kalah lagi, ulama di non job-kan oleh para Sultan, karena  sesudah tidak mememelopori perkembangan ekonomi.
Tapi perlawanan kaum Abu Dzar ada di qolbu, ada di rasa kaum zuhud islami, Semangat lugas dan jujur semakin dibutuhkan karena sistim demokrasi sudah diselewengkan kebih jauh untuk menguasai resource sarana hidup manusia sedunia, malah dengan merusak alam, sekala Dunia.  Ajakan kaum Neo liberalis, Yang berakibat sengsaranya  bagian terbesar manusia  sedunia – penyesatan dan penyelewengan neo liberalisme, “yang  menang menguasai semua” – the winner takes it all.             


Apa kaum muslimin bersama manusia yang sudah dan bakal tertindas di dunia tidak saling membantu dan bertoleransi? Saling bunuh ini maunya siapa ?, Membangunkan Abu Dzar Abu Dzar  bukan langsung ke  sisi fisik, tapi dari nurani, dari rasa manusia sedunia. Dengan  tembang dolanan “ilir ilir” meskipun kitab kitab islam yang digubah di masa sesudah mu’awiyah mendirikan kesultanan, masih edesi sangat terbatas karena ditulis tangan, sama sama dalam bahasa arab yang adiluhung, melecehkan dan memojokkan  mereka telah dianggap melakukan  pelanggar berat nash agama Islam.   Dr. Nurcholis Majid alm..  Perlu mengkaji ulang keberanian dan kreativitas para Wali pulau Jawa. Agar prinsip prisip hidup islami dapat mengentas harkat manusia dari  pembenaran neo liberalisme yang sudah menguasai Dunia    Dan meneguhkan demokrasi seperti yang tersirat di teladan Rasulullah salallahu alaihi wasallam ?*)

Jumat, 22 Desember 2017

PARIWISATA, MERESPOND BU SRI MULYANI

PARIWISATA MERESPOND BU SRI MULYANI
 di strip Kompas TV 22/12/2017 pagi,

Bangsa yang bisa mengexport producesnya adalah bangsa yang maju, bisa mengalahkan bangsa lain. malah sekarang mengexport  objects pariwisata negeri ini”

OK, saya terkesan pada  pernyataan beliau, -“ing ngatase” –meskipun, beliau menteri Keuangan. Saya orang partanian, sudah bekerja sebagai Agronomist Perusahaan Produsen pestisida untuk program pemerintah – “Bimas Inmas" – terutama padi dan polowijo kemudian tambah kapas tambah lagi lahan tambak, tambah lagi lahan padi gogo di hutan jati yang baru di tebang, selama lebih dari 20 tahun, 7 tahun sebelumnya bekerja di kebun kopi. Usia saya sebentar lagi 80 tahun, ha.
Hampir seluruh komponen produces yang disebut oleh Bu Sri Mulyani  adalah object saya bekerja. Termasuk object object pertanian yang bukan hasil pertaniannya.
Tulisan ini saya harap bisa dibaca terutama oleh murid murid  SMK Pariwsata di  Bogor, sukur sukur bila ada pengajarnya yang sudi membaca, karena mungkin bisa menambah wawasan  tokoh tokoh Pemda yang  membidangi  Pariwisata, sekaligus sebagai guru pakar di SMK itu, saya kuwatir kepakarannya terutana dibidang pariwisata ada di anggaran Daerah, dan penggunaannya. Maka tulisan ini guna membesarkan hati Ibu kita itu – sebagai tanda simpati  mendukung perhatiannya. ( Apa lagi ,  harga US dollar kok tambah naik terus, kan bekas CEO Bank Dunia, masak heran ?).
Selama saya bekerja  menjelaskan pada clients saya petani gurem atau gajah, pemakaian Pestisida pada umunya dan pada khususnya merek yang dibebankan penyerapannya kepada saya, dan teman teman saya disetiap wilayah, dengan berkeliling dari desa ke desa wilayah  Jawa Tengah, jawa Timur, Bali, NTB, NTT, Sulawesi, disamping jatah jeep saya 3000 km/bulan.  Pekerjaan tidak bakal berhasil bila tidak menggabungkan  semua cara yang praktis dan cepat  namun harus ada hasilnya – Pesanan tahunan akan produk kami meningkat, Itu saja.  Keliling  sawah padi muda pada waktu malam dengan kain kasa sebesar sapu tangan terbentang di depan radiator jeep saya dibawah tutup mesin, paginya saya amati kupu/ kaper apa dan berapa banyak, yang menempel sepanjang rute jeep saya, tentu saja sepanjang jalan antar kecamatan bahkan antar desa. Ada serangan ulat apa disana. Parjalanan pagi mampir di pasar pasar melihat buah pisang yang pagi itu sudah dibawa ke pasar, bila pisang (kebanyakan pisang saba/kepok) masih bersegi segi penampangnya atinya petani sudah tidak punya uang.  Agak siang ketemu PPL diirumahnya, lagi  mandi. Makan sate ayam dari penjaja keliling pada petang hari, bila dagingngnya liat alot, tandanya daging petelur yang sudah terlalu tua, jadi harga daging ayam naik, yang ini jauh lebih murah, bila empuk dan enak berarti harga telor turun, populasi petelur dikurangi. Parjalanan sepanjang jalan desa bila ketemu rombongan besar burung walet dan seriti, pasti ada explosi hama wereng disana, bila rombongan capung pasti ada explosi walang sangit/kepinding bau. Lha kebiasaan memperhatikan sekeliling ini merembet ke bidang bidang lain seputar upaya pertanian dan ecologi – sisiologi desa desa, juga sejarah hal hal yag belum pasti jadi perhatian orang lain.
Perjalanan wisata yang menyangkut wilayah luar kota, ke sentra  sentra wisata ke kota kota wisata, ke pantai, ke gunung gunung dan candi candi pasti melewati desa desa. Nha ini cerita cerita yang akan saya sumbangkan ke dunia pariwisata, sebagai bumbu penjualan wisata darat.  Supaya bu Sri Mulyani merasa baikan sedikit. Ndak malah dimintai kredit dari pemilik Partai untuk bikin hotel bintang tujuh, di mark up lagi, saya kasihan, SEMOGA BU SRIMULYANI DIPARINGI SABAR                                            Sekarang, sudah banyak jalan antar kabupaten yang mulus dan tidak macet, selama satu jam dua jam perjalanan mini bus, beranyam dengan jalan tol, jalan antar peropinsi, jalan antar kecamatan, apa lagi di Bali, hampir 100 % mulus.                                                                                                        Di Jawa, masak semua wisatawan asing yang bukan back packers dari Jakara ke Jogja maik pesawat ?  Apa menariknya naik minibus atau bus limaratus kilometer,  apa yang menarik di jalan, menginap di tempat yang exclusive kaya dengan aroma fun dan hiburan juga pengetahuan  hal hal yang  unik ? Tidak atau belum. Bila wisatawan asing tidak tertarik, its not worthwhile, ya wisata  murid SMU, sambil mengapresiasi bangsa dan tanah air ? Sambil menuggu infra structures  wisata yang akan memadai, untuk wisatawan diatas back packers ? 
Bukan soal hard wares, itu gampang,, tapu soal attiude/perilaku melayani turis dari negara maju yang mau bayar. mereka ndak biasa minun teh kondor, paling sedikit ya kayak hotel di kota kota turis, pake sacet, mereka sangat sensitip terhadap kebersihan dan hygiene, mereka jijik pada roti tawar yang ditaburi gula pasir. mereka jijik kepata tissue yang sama sama kertas tissue putih mulus, dtaroh d meja makan, tapi drupakan gulungan alias tissue WC !, sekarang di kota kabupaten hard wares sudah ada, lha soft wares yang seperi ini yang masih sulit ditanamkan seperti kembersihan WC duduk, A/C yang tidak berisik, klambu dan sprei yang bersih, dan pamusaji pramuwisma yang standard pengetahuannya sesuai. yang tidak ada ,atau dibayar teralu murah, menurut azas neo liberalisme. Lewat jalan antar Propinsi dipingir jalan nyaris ndak melihat usaha pertanian dan desa desa, semua kota dan tempat perdagangan, sambung menyambung. Lewat jalan tol  dari ujung ke ujung cepat nyaman melihat sawah dan desa nampak dari jauh sering halaman belakang.  Perlu koordinasi untuk memiih route wisarta desa lwat jalan yang bukan buntu ( cul de sack) tapi bisa nembus ke tujuan kabupaten lain atau jalan propinsi yang sudah memenuhi syarat jadi jalan wisata desa - ini perlunya ada Dinas priwisata Kabupaten Kabupaten - demi membantu merancang route yang dilewati - Saya harap  SMK Pariwisata bisa membantu merangsang PNS Daerah yang terkait, supaya anggaran Daerahnya untuk sektor pariwisata tepat sasaran, tidak malah untuk wisata umroh.
Nah sekarang andaikata  group wisata tingkat SMU jalan mandiri dengan satu  bus yang nyaman bareng dengan back pakers manca Negara, ( Trips schedule dibuat routine setiap liburan besar, atau long week end,  rute yang nyaman diselingi lewat jalan tol, Jakarta ke Pangandaran nginap di Waduk Jati Gede , sebagian liwat jalan antar kabupaten sebagian jalan tol sebagian jalan antar propinsi  gimana.  Terus acaranya wisata pedesaan sebagian besar, mampir di water parks,  hutan bukit curam, pantai gimana ?
Nah waktu lewat jalan antar kabupaten antar kacamatan dan hunian desa bisa diceritakan pembentukan tanahnya. Pembuatan jalan mobil, panjang atau pendek bila di perbukitan mesti lewat pinggiran jalannya air/ sungai alami, bahkan kanal. Bila di ngarai pasti lewat dataran dengan hunian padat, dengan jembatan memotong sungai atau saluran air dan mengitari rawa atau menerobos rawa. Tanah di lereng rendah adalah tanah yang tumbuh diatas  endapan vulkanik berupa kipas lahar dingin dari lereng yang lebih tinggi, dipotong oleh sungai sungai bertebing rendah, berkelok kelok, apabila vegetasi  pohon tidak tinggi, kontet, maka lapisan bawahnya yang sekeras padas itu ,  dangkal saja zona akarnya,   tapi lahan macam ini subur buat sawah berpengairan. Tidak bagus untuk budidaya pohon buah buahan, hanya baik untuk buah naga, dari pada tanaman turi yang ndak ada harganya. Dibawah padas yang dangkal hampir pasti bisa dibuat sumur yang tidak dalam. Temperamen pedukuknya tenang tapi keras explosive.
Tentang tanaman yang cocok yang berharga, tetap harus diimbangi oleh adanya tumbuhan yang tidak berharga, demi keaneka ragaman hayati, karena banyak predator hama yang harus hidup disana, sama liarnya.   Anehnya di desa desa jarang sekali varietas unggul buah buahan ditanam dan di pelihara secara budi daya. ya apa maunya tanaman saja, toh pasar selalu penuh nasil panen buah dari varietas unggul karena extravagansa ini jarang laku, semua orang doyan, tapi tidak sesuai daya belinya, buah lainnya masih banyak, kayak kedondong, pisang, jambu biji atau jambu air, mangga kampung yang ndak punya nama  jamblang, rambutan setengah liar, ceremai, buah buni, nangka jarang sampai ke pasar, di kampung pampung masih ada untuk kensumsi sendiri, belum diminati tukang tebas buah.  Keberadaan tanaman itu dan pemeliharannya. Jarang sekali buah buahan dibudidayakan secara kebun,  boro boro bibitnya hasil cangkokan (markotting), wong pohonnya dulunya dari biji yang kebetulan tumbuh.  Yang bisa mengerti manfaat grafting (nyambung tanaman berkeping dua) atau okulasi hanya petani yang dekat perkebunan saja. Itupun tidak ada yang bisa mengajari. Amati sepanjang jalan sudah jarang sekali ada nyiur melambai. ( google, blog idesubagyo,blogspot,com. kata kunci Nyiur melambai) Apaladi di jawa tengah dan jawa timur.   Ditanah dataran rendah yang ndak punya lapisan cadas dangkal, Semua tumbuhan pohon cenderung tinggi besar, anda persilahkan client anda mebandingkan sendiri pohon naungan jalan dasatu tempat kontet dilain tempat tumbuh tinggi dan besar, di lahan yang lapisan cadasnya dalam sawah berpengairan  memerlukan lebih banyak air, juga pohon pisang, tapi buahnya tidak bagus.Ada prnncucian (istilahnya leaching jangan lupa) hara tanah yang cepat.     Permukaan sumurnya berfluktuasi menurut curah hujan. Sikap penduduknya exstrovert, banyak jadi sinden dan penari ronggeng. Tujuan hari itu adalah waduk Jati gede, bisa cerita perkara hutan jati,  yang sengaja ditanam mulai zaman pendatang dari India, tahun sebelum masehi, belakangan zaman perahu layar samudra yang berbula bulan di laut, papan dan balok kayu jati tidak dsukai  kerang yang biasa menempel di dinding lambung kapal, tidak dilubangi sebangsa cacing laut, tidak ada kayu lain seperti kayu jati, jadi sengaja ditanan sampai diameter 70-80 cm,  penanaman jati dari biji yang telah disangrai, sampai berapa panas dirahasiakan oleh Belanda. Yang menanan adalah penduduk desa, diizinkan menanam polowijo dan padi tegalan selama semaian jati masih kecil, belum menutup kanopi ,seribu batang setiap Ha, saban sepuluh tahun dijarangkan, hingga penjarangan yang ke delapan pohon jati bisa dipanen, tinggal seratus batang yang terbaik, lurus tidak bercabang rendah tidak berlubang dibuat  rumah neoternes ( sebangsa rayap yang makan kayu hidup terutama jati), adapun di Jawa Barat lebih banyak nama desa, kota yang memakai nama jati, karena kaum colonial menanan hutan jati besar besaran di jawa Barat, kualitas kayu sebagai mebel buruk, tapi sebagai papan kapal lebih cepat besar, cepat jadi uang. meskipun warna dan kekerasan kayunya lebih inferior, pokoknya laku. Belakangan setelah kapal dari plat baja,  jati hanya untuk mebel, dan rangka bangunan, tahan terhadap rayap/termite. Ditanam di perbukitan kapur di Timur pulau jawa. Sepanjang jalan di pedesaan hijaunya  dedaunan satu sama lain tidak ada yang sama, tidak bisa ditangkap dalam kanvas pelukis dari manapun, sudah ditandai oleh pelukis Perancis abad yang lalu Guaguin (google kata kunci Guaguin pelukis Perancis di kepulauan Pasific), tapi tetap ndak sama dengan di alamnya, alam tropic, apalagi cellulose foto film atau pixel electronik. Jalan macam ini biasanya menuju utara selatan, makin naik, atau makin turun, sebab pegunungan dan perbukitan di pulau jawa memanjang  dari barat ke timur, kurang lebih ditengah pulau.   Makin ke barat pulau ini tanahnya makin berwarna merah genteng, tanah yang tumbuh di bebatuan sekunder/ artinya bebatuan yang larut jauh diatas dibawa airtanah menurun mengendap mengeras bercampur dengan bagian unsur tanah yang lain di satu tempat,  namanya laterit dan tumbuh tanah diatasnya,  merah genteng. Turis itu umum, maka untuk pengisi waktu, apabila lewat jalan desa macam ini bisa dicritakan. Sementara untuk tanah dan tumbuhan sekian. 
Jalan melandai naik lewat hunian desa. Setiap kelompok desa punya Kepala Desa, yang nama lokalnya macam macam ( di blog ini menyertai posting Desember 2017 artikel “Pak jokowi hweran………”  bisa jadi bahan cerita yan seru. Makanya jadi Penjual turisme yang diharapkan bu Sri Mulyani ini,  harus buanyak baca geografi, geology populer, anthropology, sejarah, botani bagian taxonomi, pertanian apa saja,  biar dagangannya laku, atau blog ini, ada 500 posting lebih tinggal pilih..
Tentang pertanian budidaya padi ada di blog ini juga, tapi diuraikan cara lain, dihubungkan dengan sejarah dan ekonomi, buka blog ini ketik kata kunci budidaya padi…..Di sepanjang jalan nanti banyak kebuh karet, yang teratur rapi, ada di blog ini juga dengan kata kunci Budaya karet di Sumatra dan Strait setlement ( semenanjung Malaka) dicritakan sejarahnya, dan pengaruhnya kepada penghuni pulau Sumatra.

Lantas  Kuningan makan ketela di Kuningan ada jenis sana, di blog ini hanya berguna bagi orang pertanian, bukan jenis se-manis jenis cilembu, khusus besar bulat agak tertekan  ditengah umbinya berwarna putih. Cari di blog ini juga.  Begitu pula waduk Jati Gede, terjadi pro dan kontra, bisa mengairi ratusan ribu hektar sawah pada musim kemarau, ada di blog ini juga, tapi lebih baik cari dari sumbernya sendiri. Belum cerita perkara Pangandaran, kota kecamatan-nya Bu Susi Moana, Menteri Perikanan kita yang tercinta, ditakuti kapal pencuri ikan, dilecehkan oleh Ketua Partai gurem, yang masih suka cengengesan. Saya senang membaca tulisan anda nanti, kabari ya ? Pulangnya ke Jakarta bisa tidur saja*)

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More