Sayang Sama Cucu

Sayang Sama Cucu
Saya sama Cucu-cucu: Ian dan Kaila

Jumat, 21 Oktober 2011

"ANDAIKATA AKU MAHASISWA SEMESTER TERAKHIR FAKULTAS PERTANIAN"

Andaikata Aku mahasiswa semester terakhir Fakultas Pertanian, waktunya membuat proposal untuk judul tugas akhir. Aku masuk jurusan Agronomy, andaikata aku mengajukan judul tentang penyambungan tanaman atau okulasi tanaman. Sebagai contoh Tomat  dengan Terong (Licopersicon  L diatas tanaman terong Solanum melongela L) bisa diterima apa tidak ya ?

Ada calon Dosen Pembimbing yang lagi kosong, orangnya masih muda sudah lulus strata Dua (S 2 ) dibidang Agronomy sekarang mau mengambil S 3, saya tahu betapa mahal ongkos mengambil title S3 itu, mestinya dia anaknya orang sangat kaya dan masih bekerja, atau dia akan menjadi Capres.  Sebaliknya orang tuaku sudah pensiun Pegawai Negeri, baru tahun ini. Aku cari Judul yang murah ongkosnya, besar gunanya bagi masyarakat, tapi tidak mengulang apa yang dikerjakan orang.

Aku mendapat informasi bahwa pisau okulasi bisa dibikin sendiri dari gergaji besi yang diasah khusus. Wah lha ini, aku baca informasi dari blogger http://idesubagyo.blogspot.com ini agak detail, wah bahan-bahannya murah ! Segera aku pergi ke toko besi punya keturunan Cina  kebetulan dekat muara gang di kampung saya. Aku beli gergaji besi satu minta yang terbaik, aku diberi merk Narvik harga   Rp 17.000,- trus aku minta batu asah yang dari batu kehijauan buatan Cina aku gambarkan panjangnya sejengak tipis, pamilik toko itu tidak punya. Aku ditawari macam-macam batu asah, ada jang dicetak kayak batu gerinda, ada yang dipakai oleh tukang kayu untuk mengasah mata “planner” (alat listrik serutan kayu) ada yang potongan batu alam persegi merupakan balok sepeti potongan kayu kaso sepanjang dua jengkal endapan sand stone jutaan tahun yang lalu permukaannya kayak sander ukuran 400, semua batu asah ini tidak cocok dengan gambaran yang aku dapat, aku tanya pada pemilik toko itu, dia mengingat ingat. Aku dianjurkan coba satu toko dekat Pasar yang paling besar di kotaku, e ternyata ada, panjang batu asah itu  sejengkal dimasukkan dalam dos karton tipis sederhana, ada tulisan “Whet Stone” dan tulisan Cina.
Aku perhatikan batu asah itu, nampaknya batu asah ini perkakas asah khusus untuk pisau sadap karet, tandanya permukaan tipisnya tidak sejajar, artinya agak miring di sisi lebar,  satu sisi panjang di samping  lebih tipis dibulatkan khusus untuk lengkung tajamnya pisau sadap karet, wah aku lega. Harganya murah hanya seribu limaratus rupiah, sambil ditanya mau beli berapa,  Aku jawab, ini baru untuk contoh sambil mengantongi kembalian uangnya.

Gergaji ku potong jadi dua saja persis ditengah, sesuai dengan informasi, aku potong miring kira kira 60 derajat. Ternyata mudah, aku jepit dengan jepitan ulir jang aku pinjam dari bengkel sepeda motor depan rumah aku jepit erat-erat dengan sudut 60 derajat, trus aku tekuk, dipukul dengan palu ke samping mepet ke jepitan dengan mudah gergaji besi itu patah menjadi dua, baja yang baik, mudah patah. Aku pinjam juga gerinda listrik 300 Watt, tidak pnting wong sebentar kok.

Di ujung runcing aku rancang untuk mata pisau, aku asah mata gergaji besi yang keras dan berlenggak lenggok, karena memang barang tipis ( kira kira 1,2 mm) jadi ya cepat. Sisi tajam diurut dari runcing pisau sebelah dalam menghadap ke dada.  Ujung pisau diarahkan kekiri. Digerinda tajam sisi yang di atas.
Aku sangat hati-hati, sebentar sebentar aku hentikan supaya tidak terlulu panas, sambil aku lihat, seberapa sudut tajam calon pisauku.
Menurut anjuran, sudut tajam pisau sekecil mungkin, kira kira 15 derajat. Kalau bisa lebih tipis, dan sama di depan maupun di belakang calon pisau itu, dipesan tajam pisau dari satu sisi thok.
 Aku begitu hati hati, aku ini seolah olah Empu Sombro Gimbal lagi membuat keris, aku dibiarkan bekerja wong bengkel lagi sepi. Aku sekaligus mengerjakan sisi yang dibawah yang harus rata air. Iya bener, permukaan ini harus aku ratakan dengan pipi piringan gerinda, sampai semua bekas lenggak lenggok gergaji besi hilang, pokoknya jangan dibiarkan gosokan gerinda terlalu panas (bisa muda lagi mata pisaunya) slamatlah piringan gerinda itu masih baru, jadi pipinya masih rata.
Gergaji besi digerinda untuk mata pisau 4 – 6 cm dan sisanya masih panjang aku bebat saja dengan isolasi supaya enak dipegang.  Benar-benar hasil kerja yang teliti, kuhaluskan bekas bekas potongan dengan gerinda, aku lihat memang ini bisa jadi pisau yang tajam sekali.

Aku siapkan batu asah, benar saja  pmukaan patu asah “whet stone” dari batu alam kehijauan ini masih harus dihaluskan. Kebetulan batas berem halaman rumahku  yang kecil ada ris batu bata yang disemen rata permukaannya, langsung saja aku bawa ember dan aku asah dengan air dan batu asahku ku-asah di permukaan berm yang rata ternyata lunak saja, langsung beberapa menit menjadi rata air tapi masih kasar.
Ku-taburkan pasir halus di ubin keramik, trus batu asah aku asah denga air di sana, hasilnya permukaan whet stone lebih halus dan rata, inilah yang dimaksud oleh keterangan yang aku dapat.
Aku sangat bersemangat, dan kulakukan pengasahan pisauku sengan segera, di sampingku kusiapkan air satu ember. Aku asah sisi  tajam pisau itu , ternyata baru satu jam sudah terasa tajamnya di jariku. Ganti permukaan bawah yang akan kontak dengan permukaan bahan sambungan.
Lha ini memerlukan berhari-hari, sebab permukaan gergaji besi itupun tidak serata yang aku bayangkan, meskipun keluar dari pabrik. Untungnya sudah aku ratakan dengan pipi piringan gerinda agak dalam, karena menghilangkan lenggak-lenggok gergaji besi.
Aku anggap pisau perlu dicoba setelah permukaan yang harus halus dan rata air, bila lampu plafon rumah memantul gambarnya si lampu nampak jelas, dan tajam gambarnya, artinya permukaan itu sudah serupa cermin, bayangan nyata tidak berkelak-kelok kaya bayangan cermin murahan.  Sisi tajamnya cukup tipis, agak melengkung kearah tajam, karena proses pengasahan dengan tangan sulit untuk membuat sudut dengan permukaan batu asah secara tepat terus-menerus.
Akhirnya ada sebagian rambut yang putus dicukur oleh pisau ini, perlu empat hari mengasah pisau ini dalam waktu yang senggang.
Aku yakin pisau ini bisa dicoba untuk membuat taji, batang tomat kan lunak sebagi batang atas, sedangkan batang bawahnya terong ranti tumbuhan  yang tumbuh liar dipagar tumbuh tahunan apa jadinya ya ?
Syarat utama seluruh pekerjaan menyambung tanaman ini adalah sterilitas, dari pisau yang di lap bersih, batang atas dan batang bawah yang dibersihkan dari air debu dan pasir yang melekat, tangan yang bersih, meletakkan bahan sambungan di tempat yang bersih, bahan pembebat yang “steril”  dan seterusnya.
Dapat dijelaskan kenapa aku percaya sekali pada pemakaian pisau pusaka-ku ini.
Permukaan yang seperti kaca halus dan rata, harus bisa menciptakan taji batang atas yang halus lagi rata irisannya, sehingga bila ditempelkan ke permukaan irisan batang bawah jadi pas, jaringan mikro pembuluh secara acak sebagian bisa pas dan kapilaritas bisa menolong sedikit bagi batang atas yang secara mendadak diputus.
Cara sambung tanaman Kopi : Batang bawah dipotong tetinggi 10-15 cm trus dibelah di tengah atau dipinggir sesuai dengan panjang taji, terbentuk celah,  dengan membantu merenggangkan celah dengan jari telunjuk kiri pisau ditarik, sehingga pisau tidak perlu bergeser lagi dengan celah batang bawah, karena memang direnggangkan selebar lebih dari ukuran taji, taji dimasukkkan ke celah tanpa bergeseran dengan dinding celah batang bawah. Trus jari telunjuk kiri yang membuka celah dilepaskan – cambium taji berhadapan dengan paling sedikit satu sisi dengan cambium celah. Tanpa digeser-geser celah menjepit taji sampai didasar celah (ini penting karena bila tidak sampai didara celah bisa membentuk lubang), trus dibebat dari bawah ke atas. Bila sambungan ini tidak hidup ya heran.

Akhirnya aku mendapatkan metoda membut taji dengan cara memegang pisau seperti orang Barat mengupas kentang. Pisau sambung tajamnya dihadapkan ke arah dada, sambil dipegang gagang pisau itu dengan jari jemari seperti memegang stang sepeda, tapi jari jempol kanan menjadi landasan memotong taji.
Tidak apa apa asal pegang pisau erat-erat, bila tidak erat, pisau bisa mengiris jempol kanan sedikit.
Sedangkan batang tomat yang lunak berair dipegang tangan kiri seperti memegang stang sepeda, pisau menyilang ke bawah untuk memperkirakan runcingnja taji dan menyilang batang atas untuk memotong taji dengan menarik pisau sepanjang garis imaginair batang tomat yang akan disambungkan, pisau sekali-kali jangan ditarik ke dalam, kearah tubuh, kulit batang bawah (phloem) bisa rusak.
Diulang untuk membuat muka taji sebelah lain, jadi taji yang runcing, makin runcing makin mempunyai bidang kontak yang luas antara taji dan batang bawah, dan jepitan celah batang bawah makin baik. Trus dibebat dari bawah keatas rapat rapat dengan raffia atau pita plastic asal tidak terlalu erat, tapi tidak kendur, ingat kita berurusan dengan pipa pipa microscopik yang merupakan kapilair.
Sambungan akan hidup bila dalam tiga hari batang atas tomat masih hijau, tidak busuk.
Semoga proposal saya diterima, karena pembuatan pisau seperti pusakaku ini juga bisa dipakai membuat taji dari ranting yang keras dan berukuran kecil, permukaan irisan ditanggung rata air dan bersih karena pisau buatan sendiri ini dari baja berkualitas baik, karena dengan cara mengiris yang lain tidak serupa orang Barat mengupas kentang, permukaan irisan bisa tidak rata air, sehingga penyatuan batang atas dan batang bawah berongga-rongga dan akhirnya gagal menyambung.
Cara menyambung bermacam-macam bisa dilaksanakan.
Aku juga mendapat keterangan, bahwa melarutkan Vitamin C sedikit untuk mengelap pisau okulasi  yang tidak dari stainless steel bisa meningkatkan keberhasilan. Yang jelas aku tidak tergantung dari pisau okulasi import dari stainless steel Victorynox yang harganya selangit.
Justru konstruksi pisau okulasi Victorynox ini yang aku pergunakan secara seharusnya, tapi pisaunya aku bikin sendiri.
Aku juga bangga, mungkin aku adalah satu-satunya mahasiswa yang berlajar membuat pisau okulasi sendiri, belajar trampil menyambung tanaman dari computer, dari membaca blog http://idesubagyo.blogspot.com, dan aku berjanji untuk mengajari petani yang tertarik untuk mengusai teknik ini,  meskipun jauh dari PC apalagi dari laptop dan BB, atau tidak punya Guru yang mumpuni di bidang ini.
Betapa kepinginnya aku pada suatu saat nanti, akan ada satu orang di setiap Desa yang akhli mengokulasi tanaman dan menyambung tanaman.  Diterima atau tidak proposal aku nanti,  jadi tidak penting.
Semoga di sentra-sentra penanaman buah langsat yang ternyata ada puluhan sentra dari Sabang sampai Merauke (aku lihat di Wikipedia – buah langsat) ada satu akhli sambung pucuk, sehingga mitos mengenai buah langsat hanya bisa manis rasanya dilokasi tertentu  tidak luas  (karena tanahnya direstui oleh satu Dewi ) makanya jadi buah langsatnya manis, di luar itu masam, umur sampai berbuah panjang sampai puluhan tahun, bijinya besar dan pahit campur dengan biji yang tak berkembang, tidak ada lagi, semua langsat tak berbiji. semoga. (*)

(tulisan ini saya dedikasikan untuk para pelajar / mahasiswa pertanian agar semua pecinta ilmu pertanian dapat melakukan teknik okulasi dan sambung, setelah mahir maka pecinta pertanian semua dapat mengajari setiap petani yang berminat untuk memperluas ilmunya, terimakasih-Subagyo)  

1 comments:

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More