Sayang Sama Cucu

Sayang Sama Cucu
Saya sama Cucu-cucu: Ian dan Kaila

Senin, 27 Oktober 2014

MAHABHARAT CERITERA INDIA YANG MAHABHARAT DI TV DIDONGENGKAN ORANG INDIA SENDIRI


CERITERA DARI INDIA DIDONGENGKAN  OLH ORANG INDIA SENDIRI

Saya memaksakan  diri untuk mengikuti acara TV yang penuh dengan iklan yang sudah    membuat saya sangat “mblenger” ( bahasa Jawa) artinya sudah pol-mau muntah,   hanya  mau tahu hikayat dari India yang diceriterakan oleh orang India sendiri  MABHARATA  dan AKBAR YODA Yang dijejalkan  sebelumnya ,dongeng anak anak HATIM.. 
Memang dari umur SMP saya sudah membaca cerita bersambung bahasa Jawa dari satu Penerbit di Semarang dengan judul Mahabharata yang merupanakan saduran dari bahasa Ingris atau bahasa Pali kedalam bahasa Jawa huruf latin.  Ceritanya disusun masih sama dengan aslinya,  dibagi bagi dalam “Parwa” parwa pertama adalah Adhi Parwa menceriterakan tentang Raja Janamejaya  anak  Raja Perikesit yang masih keterurunan ketiga dari Pandawa.  Epos Mahbharata  dimulai dengan seorang pendeta Rsi Waisampayana   menceritarakan kepada Sang Prabhu  riwayat dari leluhurnya. Setelah paripurna mengadakan sesaji besar besaran memberantas bangsa Naga  dibakar dengan api sasaji khusus dinamakan Sasaji Naga.
Cerita  ini dimulai dengan seorang  Maharesi   Kasyapa yang beristeri dua orang  putrti  Dewi  Winata  dan Dewi Kadru.  Keduanaya bersaing keras, sang Dewi Kadru beranak seratus ekor Naga yang semuanya perkasa, sedang Dewi Winata beranak dua telur yang tidak kunjung menetas.  Sangtlah sedih dan gelisah hati sang  Dewi Winata. Saking nggak tahan menunggu netasnya dua telurnya, salah satu telur itu sengaja dipecah, dan keluarlah makhluk istimewa berupa burung besar sekaligus mengapakkan sayapnya yang  bagai atap  sebuah sabha ( pendopo),nemgucapkan salam pada ibunya sekaligus menyesali kanepa sang ibu tidak sabar, burung hebat itu bernama sang Aruna. Menyesalkan  perbuatan sang Ibu sambil member kutukan bahwa dewi Winata akan jadi pelayan dewi Kadru karena kalah bertaruh dengan dewi Kadru menjadi pelayannya,  pembebas beliau adalah sang Garuda makhluk yang sakti dan perkasa, adiknya,  sang Aruna wanti wanti bila melum masanya adiknya yang masih dalam telur jangan diganggu. Selanjutnya sang Aruna jadi kendaraan Bhatara Surya saban hari mengarungi langit dari timur kebarat

Selanjutnya kisah Mahbharata versi Jawa ini diceritakan oleh buku komik karangan R.A. Kosasih yang juga saya ikuti.
Kisah  itu dalam Mahabharata dalam  Amrtamantana, juga diabadikan dalam ukiran melingkari tempayan kuno di Bali yang dikenal oleh Dinas  Pubakala sebagai Tempayan Pejeng ( dengan “e” dari engsel). Kisah para Dewa mengaduk samudra dengan ujung gunung Mahameru sedang tali pengikat adalah sang naga Basuki,  sebelah kepala ditarik oleh para Dewa dan bagian ekor ditarik oleh para Yaksa. Maka lautpun mengental kayak susu yang terus diaduk. Dari  samudara  yang mengental itu keluar kuda putih sang Uceswaras, perikutnya keluar Dewi Rembulan yang menyunggi dikepalanya guci Amrtha – air kehidupan abadi.
Saya tidak bermaksud menceritakan Mahabharata versi saduran dari bahasia Inggris, tapi kenyataannya Mahabharata ini sudah ditukangi di Nusantara Zaman Hindu oleh para cendekia Brahmana setempat  mestinya disesuaikan dengan watak alam dan penduduk Nusantara.  Kemudian juga ditukangi oleh para  Wali sembilan ( wali sanga bahasa Jawa),  penyiar agama Islam di Pulau  Jawa.  Konon  di India  Mahabarata  dianggap  kitab Wedda yang kelima, untuk rakyat jelata, disamping Rig Wedda, Sama Wedda, Atharwa Wedda dan Yajur Wedda. Yang  sulit dimengerti orang banyak. Karena semua keempat Wedda ini hanya boleh dibaca oleh Kasta Brahmana.
Di Nusantara Hindu, Mahabharata diceritakan mulai dari lahirnya para Pandawa dan Para Korawa, banyak hikayat didalamnya yang dihapus, seperti  Lahir dan besarnya Krisna,  sebagi titisan dewa Wishnu,  cerita Amrthamantana, cerita Dhamayanti dan Prabu Nala dsb.
Mahabharata ditukangi lagi oleh Ulama Islam, untuk desesuaikan dengan syariat dan kahidupan Islami, diberi nafas Islam. Dilakonkan dengan wayang kulit. Dengan tambahan azimat Puntadewa anak sulung dari kelima bersaudara Pandawa atau anak Raja Pandhu,  yang namanya Kalimasadha ( kalimat shahadat),  dengan Arjuna yang  istri  syah ada  empat, yang lain banyak,  disini semua istri istrinya adalah anak  Brahmana/ Guru,   adalah pengandaian dari ilmu ( yaitu ilmu syariat, ilmu  tarikat, ilmu hakikat dan ilmu ma’rifat atau tassawuf ) dan lain  penggubahan  sifat karakter seperti Pandita  Durna,  yang selalu membengkokkan ajat ayat dan  menyesatkan mruidnya  para Pandawa yang ternyata murid istimewa, dicerita aslinya Pendeta Durna tokoh lurus tapi bernasib tragis.   
Yang saya tandai cerita aslinya yang didongengkan orang India, semua tokoh yang melakonkan tokoh   sorang Raja, atau seorang Paman, Ayah tiri atau Ibu tiri yang dholim, dikisahkan sangat hyperbolic, kedholimannya berkali kali dan superlative, baru  si pngarang merasa sudah yakin menggambarkan orang yang dholim.
Apakah ini merupakan kebiasaan bahwa masyarakat berkasta kasta yang diatas pasti mendayagunakan kasta yang dibawahnya, melayani kasta atas gratis sesekali atau dirupakah hak prerogative  kasta atasan, jadi tokoh atasan ini tidak dholim. Bila digambarkan secara superlative dan hyperbolic baru benar benar dholim. Kesimpulannya golongan bawah di India sudah begitu tumpul perasasanya karena terbiasa didholimi.

Memeras bawahan dan mencari keunurtngan pribadi adalah watak umum para menager expatrate dari India. Pada umumnya mereka besat kepala, suka dipuji, dan hadiah hadiah, sangan menjat pnatran atasannya orang bule, sangat doyan menairk keuntungan dari gadis gadis srtempat yang mencari suami, tidak untuk dikawin, sebab dinegaranya dai pasti sudah ada istridari perjodohan orang tuanya. Saya kira ini hasil cetakan masyarakat berkasta, yan sudah pupuhan abad. Kmiskinan hang kronis karena jumlah penduduk yang tumbuh tidak terkandali. Makanya penjajah Inggris disana menjadi titisan Dewa mereka diatas para Brahmananya.

Anehnya, dimana saja watak  expatriates dari India ini, mereka sama ( buktikan dulu), jangan cepat berkesan bahwa  praduga saya ini rasialis atau  berazas stereotype. Celakanya di indonesia apabila perusahaan yang baru saja meraksasa milik keturunan China, terpincuk pada Managers yang fasih bahasa Inggris dari India, menyewa mereka sebagai Managers, atau Perusahaan Amerika kepincuk menyewa si tukang jilat pantat ini, ( saya khawatir mereka ada di Freeport Indonesia), maka perusahaan akan menjadi neraka.

Tapi watak karakter dalam dongeng mereka, ,encerminkan susunan masyaraktnya yang berkasta kasta, kemelaratan sistemik karena jumlah penduduk yang tumbuh dengan pesatlah yang  menjadikan  suasana persaingan dan  perebutan rezeki mendasari cetakan watak itu.*)


0 comments:

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More