Sayang Sama Cucu

Sayang Sama Cucu
Saya sama Cucu-cucu: Ian dan Kaila

Jumat, 10 Juni 2016

I. UPAYA KAUM INTELIGENSIA JAWA MEMOMPA SEMANGAT PERLAWANAN TERHADAP DOMNASI BUDAYA PENDATANG..

Budaya asing yang disertai dengan  derajad teknologi lebih tinggi yang terikut, sangat menentukan corak perkembangan masyarakat di Nusantara..

Memang Pulau Jawa satu pulau di untaian permata  khatlistiwa ini punya ukuran yang pas untuk hunian  para pedatang pada zaman  teknologi  masih sangat sederhana,, yaitu zaman peerpindahan bangsa bangsa degan skala zaman batu halus sampai zaman perunggu.

Mereka datang dari  Melanesia,  Polynesia dan dari  anak benua India. Percampuran terjadi  antara budaya setempat dan budaya pendatang ini,  dengan  terpakainya bagian cara hidup yang terbaik dari masing masing puak, dalam bertani ladang yang perpindah pindah. Petukaran pemakaian bibit tanaman budidayanya, penemuan tumbuhan obat obatan alat alat pertaian dan  bahasanya. Maka terbentuklah satu suku besar di pulau Jawa. Domestikasi ternak dari binatang liar terjadi dipulau ini,  penanaman serat untuk dipintal, umbi umbian dari Polinesia taro dan yams, buah sukun,  dan pisang, sayangnya di iklim tropic basah tanaman serat kapas,  mengalami arah evolusi  kelain jurusan,  hinga hasil introduksi dari  tumbuhan budidayanya dari pinggir gurun jutaan tahun yang lalu gagal,  demi terciptanya serat yang halus dan pajang,  tidak bisa muncul di suasana iklim tropic basah,  meskipun dari India banyak  tanaman yang  bisa beradaptasi cukup baik,  jenis padi dan buah buahan Asia seperti mangga.  Pengerjaan alat alat dari perunggu dari Lembah Mekong dan Irawadi terikut dari kebudayaan Dong song., dan lain  peleburan logam.  Para Paleontologic telah secara rinci mencatat  pristiwa  ini, dari peninggalan mereka terdata waktu keberadaannya  pada   penggalian artefak artefak  dari wktu kawaktu

Yang tetinggal pada kita, orang awam adalah legenda  cerita  rakyat , hanya dongeng kepada anak cucu kita, yang makin sedikit ditularkan oleh orang orang tua masa kini, karena anaknya sibuk ngegame di androit mereka. Sedangkan para Paleontologic belum menjamahnya.

  Umpama asal usul huruf Jawa.   legenda Prabu  Ajisaka satrya pengelana dari Atas Angin mengalahkan Prabhu Dewata Cengkar Raja setempat yang masih menggemari daging manusia.  Bagi  orang setua saya, barangkali cerita ini sudah berhenti saya ceritakan kepada cucu cucu saya, kerena mereka sibuk main game di computer, sebelum tidur dan waktu libur.

Ceritanya sang Ajisaka bisa mengusir raja setempat hanya dengan mohon bhumi selebar sorbannya,  sebagai gantinya dia sanggup dibunuh dan disantap oleh sang  Raja Dewata Cengkar. Ternyata ujung sorban yang dipegang oleh sang Dewata Cengkar  dengan  cepat melebar dan memanjang, sehingga menutupi seluruh negeri sampai ketepian jurang pantai laut Selatan yang ganas, dan sang Dewata Cengkar dikibaskan masuk kelaut yang ganas itu, berubah jadi buaya. Sang Ajisaka menggantikan sebagai Raja, rakyat terbebas dari jadi santapatan sang Raja.  Dari cerita  sambungannya mengenai dua orang abdi setia  sang Prabu  Ajisaka yang  salah satu ditinggal ,  ditugasi menjaga keris pusaka, satunya lagi ditugasi mengambil keris pusaka tadi, mereka bertengkar karena  mengukuhi perintah  sang Ajisaka sang satu disuruh menjaga yang satu disuruh mengambil,  mereka berkelahi mempertahankan tugasnja  masing masing dan mati bersama. Jadi bahan tulisan Jawa:  Ha, Na, Ce, Ra, Ka -  Da Ta, Sa, Wa, la – Pa, Da, Ja, Ya, Nya  - Ma. Ga, Ba Ta, Nga. Ini legenda  cerita rakyat. Ajisaka pengelana berkebudayaan India mewakili beratus ratus perahu bercadik yang gambarnya  terukir di tembok kamadatu candi Borbudur, mendatangkan ternak kerbau besar, sapi berponok dan pencetakan sawah padi dengan pengairan berundag, setahun bisa dua kali panen, tidak kesulitan memberantas gulma/rerumputan liar  sawah.*)



0 comments:

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More