Sayang Sama Cucu

Sayang Sama Cucu
Saya sama Cucu-cucu: Ian dan Kaila

Jumat, 10 Juni 2016

II. UPAYA KAUM INTELIGENSIA JAWA MEMOMPA SEMANGAT HIDUP DIBAWQAH PEJAJAHAN

II UPAYA KAUM INTELIGENSIA  JAWA MEMOMPA SEMANGAT
Apa yang sebenarnya Terjadi barabad abad yang lalu  yeng menjadi bahan dongeng, adalah tulisan huruf  Jawa ini berasan dari tulisan  huruf  Palawa dari India, dibawa oleh  pendatang dari India yang telah mampu memintal jenis kapasnya  yang seratnya memang panjang dan halus jadi kain muslin yang sangat dimaui oleh kalangan tinggi kerajaan. Pengelana India berhasil bercampur darah dengan kaum bangsawan setempat yamg masih liar, menjadi bagian dari kasta tertinggi  kaum brahmana dan  kaum  katria, sedangkan kaum penduduk asli jadi kaum waysia ( pedagang) dan kaum sudra (petani). Begitulah kaum setempat rela jadi kasta rendah karena mendapat teknologi meananm padi secara lebih mudah dan berhasil panen lebih banyak.
Budaya dari India yang lebih maju mengalahkan Raja setempat  dengan budaya yang lebih rendah.
Itu yang kasat mata, sebenarnya yang terjadi kebudayaan setempat yang egaliter karena air dan tanah subur melimpah dilereng gunng gunung berapi,  rakyat tidak yerrlalu tergantung dari Raja.  Rakyat petani masih menghormati pemimpin tetua Desa nasing masing,  salah satu prinsip dari  budaya setempat. Kaum inteligensia menciptakan tokoh legenda di Pewayangan, tokoh ki Lurah  Semar yang egaliter dengan ermpat anaknya, setara dengan dewa dewa Hindu.
Di  Bali yang masih kental  dibawah pengaruh Hiduisme hingga sekarang, orang yang menganut kepercayaan “ catur  sanak yang lahir besamaan dengan jabang bayi", direcord oleh kaum inteligensia  dengan tulisan dalam kropak kuno, kemudian dengan media  cetak “Kandapat sari,” mengajarkan: orang  akan selalu unggul  “kajanaprya” meskipun menghadapi para Dewa sekalipun  dan dari kasta apapun – artinya unggul diluar peraturan kasta Brahmana Hindu , bila bisa memgenal catur sanaknya, dengan upaya meditasi tertenu dan bertapa berata, dengan bimbingan para Dwija dan Empu !
Di Jawa kepercayaan ini masih dianut sebagai cara mendapatkan kekuatan  mistis seseorang yang berasal dari bantuan “ dulur papat, kelima pancer” –  Kepercayaan setempat ini  diabadikan oleh para inteligensia dalam serita pedalangan, Raden Sumantri seorang anak Brahmana rendahan yang menghamba kepada Raja  Sasrabahu, dibantu oleh sudara gaibnya yang lahir brsama dia dan semua orang yang lahir dari rahim  ibunya,   karena saudara gaib itu berasal dari tembuni , sang Sokasrana,  mampu memindah satu lahan taman yang luas  atas perintah sang Raja, dengan tenaga supra natural yang sangat besar dari sang adik, jilmaan dari tembuninya  dalam sekejap.
Ketercapaian kebudayaan Hindu diwujudkan dengan berdirinya kerajaan dari Wangsa Syailindara di Pelembang dan di Jawa Tengah. Karena bencana alam gunung Merapi  meletus, maka terjadilah mahapralaya,/ kiamat kecil,  kerajaan dipindah ke Jawa Timur,  oleh Mpu Sindok, berpuncak pada wangsa Girindra pendiri kerajaan Majapahit, dengan ibu kota Wilwatiktapura, situs peninggalannya ditepi sungai Brantas di Mojokerto, kerajaan itu dapat bertahan selama tiga abad.
Puncak keberhasilan kerajaan Majapahit selama dua abad, sebab abad ketiganya telah mengalami degradasi  dan decomposisi  dalam masyarakatnya didalam aparat pelaksanaan Pemerintahannya.  Kaum inteligensia yang  mengawalnya untuk memberi  inspirasi kebersamaan secara menyeluruh ikut dalam proses degradasi ini..  Atau kaum inteligensia Hindu sudah mencapai kejenuhan dibanding dengan inteligensia   baru kaum waysia  pemeluk agama Islam yang sedang  tumbuh pesat, membutuhkan apresiasi dalam  sistim kasta yang ada. Sedang kaum inteligensia Islam mempunyai cita cita Negara yang dipimpin oleh  Amirul Muslimin, yang sangat egaliter, meskipun belum punya  perangkat alat demokrasi,  bukan cara para bangsawan feodal memerintah, yang selalu despotis.
Sejalan dengan  ekonomi kam waysia  di wilayan Pamotan kini  Lamongan, daerah  penyangga  ekonomi dari Pelabuah Gresik, tumbuh sentra produksi dan sentra penyedia produk beras  yang luas dan handal untuk diperdagangkan dengan jung jung dari China, yang semakin besar beras sampai 300 ton sekali muat,  setiap saat dalam satu tahun, yang hanya bisa dilayani oleh persawahan  muara bengawan Solo di wilayah Pamotan. Interaksi dengan kebudayaan China yan leih tinggi semakin kuat. *)

0 comments:

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More