Sayang Sama Cucu

Sayang Sama Cucu
Saya sama Cucu-cucu: Ian dan Kaila

Jumat, 10 Juni 2016

IV. UPAYA INTELIGENSIA JAWA MEMOMPA SEMANGAT HIDUP

IV  UPAYA INTELIGENSIA JAWA MEMOMPA SEMANGAT  HIDUP
Inilah cara selamat untuk menerima ajaran Islam,  hasil rekayasa kaum inteligensia Islam, seperti ajaran pokok dan ajaran pirantinya  yaitu cara hidup islami, diupayakan wajar perbandingannya,  tidak  ada yang kelebihan nasi, maupun kekurangan lauk pauk, hidangan dimakan bareng bareng dengan menikmati nasi dan lauk pauknya sebanding, dan sekaligus.  Pengadaan “banten”/ sesaji  kepada para Dewa cara hindu diganti dengan selamatan cara inteligensia islam mengajarkan,  sangat simbolik, sangat bagus. Sebab sebelum menikmati hidangan semua hadirin berdo’a  bersyukur kapada Allah subhana huwata alla, dengan gembira dan pasrah, si pembagi hidangan pasti tidak pilih kasih, yang masih lapar bisa mengambil sendiri sisa hidangan bila masih ada. Mngkin ini simbolis dari   keinginan rakyat.
Maka  perkara sisi pengertian beragama Islam bagi orang jawa adalah keseimbangan antara nasi dan lauknya. Antara yang pokok dan yang nampak sebagai ritual, dan inti sarinya ada dalam ajaran  ilmu  Hakikat dan ilmu Ma’rifat.  Semua dengan bumbu masakan cara Jawa, tanpa harus menyediakan gule kambing, minyak samin atau roti mariam dan  korma.
Maka ulama Jawa pada zaman lampau telah berani menterjamahkan  “Bismillahirakhmanirakhim” dengan * Awit saking Asma Allah ingkang Maha Mirah lan  Maha Asih* – dalam bahasa Indonesia  “Atas Nama Allah jang Maha  Pemurah dan Maha Pengasih” tidak  ditambahi kata  tanpa dikurung  “Menyebut” nama Allah. Sebab dalam surah Al Baqarah ayat 30  manusia telah diangkat derajatnya oleh Allah sebagai wakilNya di Bumi ini, jadi semua perbuatannya ya harus atas nama Allah yang Maha Pemurah dan Maha Pengasih. Tidak khawatir disimpangkan  mengatas namakan Allah terhadap mati hidup muslim lain. Hanya Pemurah dan Pengasih thok, untuk  semua alam Robbil alamin" lengkapnya kalimah "Basmallah adalah " bismillahiraknirakim"  dalanjutkan  dalam surah Al Fatihah, induk dari Al Qur'anul karim,  Alhandulillahirabbil alamin - Segala puji hanya kepada Allah yang menguasai segala alam.- Arakhmanirakhim - Yang Maha Pemurah dna Maha Pengasih - Malikkiaumidin -  Yang menguasai hari Qiyamat - Iyakanaq buduwaijakanaq stain - Ya Engkaulah yang aku perTuhan, ya Engkalah yang aku mohon pert;ongan .. Ihdina syirotolmustakim - Tunutunlah aku ke jalan yang  benar .. Sirirotoladzina an-amta Allaihim walabdolin - Yaitu jalannya orangt yang Engkau beri petunjuk, bukan jalannya mereka yang sesat dan mendapat murkaMu  semoga Engkau berkenan - Amin
Masih dalam tahap pertumbuhan yang pesat teknologi islam diserap oleh kaum waysia Kerajaan  Demak bintoro dikalahkan dalam perang laut oleh kekuatan dari budaya lain yang  mempunyai kelebihan dalam produksi  meriam dan kain layar sehingga dapa melayarkan  kapal kapal layar besar dengan memuat meriam caliber besar disepanjang lambungnya, mengalahkan armada karajaan Demak Bintoro  dibawah Rajanya yang kedua Adipati Unus yang menggunakan  lantaka berkaliber jauh lebih kecil  dimuat di perahu model Madura yang jauh lebih kecil  akibat dari kemampuan layarnya yang  terbatas saja.
Pedagang dari Europa dengan kapal besar dan caliber meriam besar sangat memojokkan jung China yang bukan versi jung perang dan perahu armada  model Majapahit yang menguasai jalur laut Nusantara segera tamat.  Selanjutnya  Kerajaan demi Kerajaan di Pulau Jawa menderita krkalahan disetaip pertempuran selama dua abad. Mulai dari Sultan Agung dari Mataram ( 1613 -1645) sampai Pengeran Diponegoro Pemimpin  perang Jawa.  (1925-1930). Belanda lebih mempercayai  pedagang China setempat meskipun sudah melancarkan politik  etik  tetap  tidak memakai  pedagang ex kaum waysia, juga masih menyimpan dalam jiwanya sisa  nasionalisme, melawan pejajahan. Bahkan, oleh Belanda tidak diberi kesempatan  menjadi perantara, malah dinista sebagai "inlander" yang kotor demi devide et  impera, azas pokok kaum pejajah, disambut dengan sebutan "wana" bahasa Hokian artinya orang liar oleh Kartel mereka.
Mulai dari sinilah sampai sekarang ada segolongan kelompok pedagang yang samasekali berusaha dan hidup diluar sistim apapun di Negeri ini, upaya khusus andalannya adalah mencari keuntungan, lewat segala jalan. Maka percayalah dimulai dari Tan Koen Swie  dari Kediri dengan percetakan buku karangan inteligensia Jawa sesudah sang penulisnya wafat. Satunya lagi De Winter warga Belada, sang penerbit edisi perdana dengan tulisan Jawa dari Solo, makamnya dipindah ke Palar Klaten, berdekatan dengan makam R.Ng. Ronggowarsito, hidup sezaman dengan pengarang kritic social Ng,Ng. Ronggowaezito yang konon dihukum mati secara rahasia, dipaksa minum racun pada hari yang ditetapkan.  Hanya waktu dan bhumi yang pemurah dan pengasih yang  mampu melahirkan A Hok  -   A Hok berjuta juta untuk Ibu Pertiwi dan bangsa ini.*)


0 comments:

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More