Sayang Sama Cucu

Sayang Sama Cucu
Saya sama Cucu-cucu: Ian dan Kaila

INDONESIA PUSAKA TANAH AIR KITA

Indonesia Tanah Air Beta, Pusaka Abadi nan Jaya, Indonesia tempatku mengabdikan ilmuku, tempat berlindung di hari Tua, Sampai akhir menutup mata

This is default featured post 2 title

My Family, keluargaku bersama mengarungi samudra kehidupan

This is default featured post 3 title

Bersama cucu di Bogor, santai dulu refreshing mind

This is default featured post 4 title

Olah raga Yoga baik untuk mind body and soul

This is default featured post 5 title

Tanah Air Kita Bangsa Indonesia yang hidup di khatulistiwa ini adalah karunia Tuhan Yang Maha Esa yang harus senantiasa kita lestarikan

This is default featured post 3 title

Cucu-cucuku, menantu-menantu dan anakku yang ragil

This is default featured post 3 title

Jenis tanaman apa saja bisa membuat mata, hati dan pikiran kita sejuk

Jumat, 11 Desember 2015

10 - 12 MATAHARI TERBIT DI WILWATIKTEPURA : SERANGAN KILAT KE KEDHATON SINGHASARI


PERSIAPAN PENYERBUAN SINGHASARI
Sang Pangeran Agung Kadiri  Jayakatwang yang berhasil dengan gemilang  merampok Wengker, menggertak Kling, sekarang mendapat dukungan dari para Brahmana, jadi  Raja Kerajaan Kadiri. Setahun sesudah itu sang Jayakatwang dengan diam diam menyiapkan penyerbuan ke Singhasari, untuk membalaskan dendamnya kepada Baginda Kertanegara yang telah merebut hati Ni Ratri. Meskipun secuilpun dia tidak mengenal cinta, tapi harga dirinya ter-robek robek oleh kecuekan Ni Ratri  kepadanya, setelah gadis liar ini berkenalan dengan Prabu Kertanegara.  Tentu saja Sang Prabu tidak menyadari hal ini, malah tidak terfikir oleh beliau, bahwa beliau telah membuat sakit hati  yang dalam pada Sosok Kalakatawang.
Pertengahan tahun, paroh kedua  musim hujan, sungai Brantas masih mengalir deras, dengan kedalaman lima depa rata rata di alur utama sungai itu. Jayakatwang mencoba perahu dayung, dalam semalam dapat sampai di tepian mana. Ternyata kebanyakan sampai di hutan hutan tepian desa Ploso paling dekat dan paling jauh diutara hutan hutan menjelang kota Wirasabha.  Jayakatwang meneliti sendiri rintisan dalam hutan yang tidak melewati kampong dan desa, dari hutan tepian kali Brantas hingga ke kaki gunung  Welirang. Maha Prabhu Jayakatwang  merencanakan pasukan berkudanya lewat rintisan ditengah hutan dekat lembah sempit antara kaki gunung Welirang dan kaki gunung Pananggungan. Beberapa rintisan telah dia peroleh. Dari rintisan ini yang berakhir di lembah sempit, diteruskan dengan rintisan ke Purwosari, dikaki gunung Arjuno. Dilembah ini ada  jurang air terjun gunung Baung.  Ada beberapa rintisan yang aman dari mata penduduk. Dengan sedikit berita menyesatkan mengenai rombongan besar ini, seperti perburuan binatang langka untuk banten upacara, atau pencarian tata letak candi pemujaan, atau rencana penyaratan kayu solo ( Pinus merkusii). Gelondong kayu ini memang baik untuk tiang layar perahu besar dan lain sebagainya.
Sebelum rintisan dibuat, di sebarkan berita berita  dari warung warung tuak hunian ramai,  dengan posisi terdekat dengan rintisan ditengah hutan yang direncanakan, tempat berkumpul, tempat berpencar pasukan dalam perjalan rahasia. Pokoknya kerangka cerita yang ditancapkan ke benak penduduk, sekira kepergok dengan rombongan yang sudah dirancanakan.  Berita yang disuguhkan kepada rakyat selau disertai dengan ancaman maut harimau dari Lodhaya dan Campur Darat Kalau perlu dengan korban korbannya yang ter-cabik kepalanya hilang. Kepada penjabat setempat ceritera menganai urat tambang emas, dengan sedikit hadiah picis untuk  persahabatan dengan  petugas rintisan. Untuk para Brahmana, berita mengenai pencarian keletakan lokasi candi pemujaan dan lain sebagainya.
Bila sangat penting dibuatkan jembatan jembatan geladak  yang melewati jurang jurang. Tentu saja rintisan jalan  diterjunkan kebawah dulu agar jembatan jembatan itu tidak terlalu panjang dan tinggi.
Meskipun ini bukan wilayah Kadiri, tapi ditengah hutan, jadi tidak ada yang segera mempersoalkan, itupupun bila ketahuan.  Bila perlu dibuat semacam upaya untuk menakut nakuti penduduk agar tidak masuk hutan dengan harimau harimau gadungan dari Lodhaya yang sangat manjur.  Yang namanya harimau gadungan, artinya menusia yang menguasai ilmu  gaib merubah dirinya jadi harimau, rerajahan dan  pangleakan,  agar penduduk menjauh dari rintisan dan lapangan tempat beristirahat pasukan pasukan berkuda yang harus dirahasiakan rapat rapat sebelum mencapai wilayah Plawangan.
Secara tidak kentara, rintisan telah dibuat beberapa jalur, dengan segenap pengamanan kerahasiannya. Dan juru penunjuk jalan. Rombongan dua malam beristirahat di hutan hutan, dan semalam di jurang  Gunng Baung yang seram.
Ternyata pekerjaan ini sangat memerlukan pimpinan yang cepat mengambil keputusan, mengerahkan tenaga yang ahli dan tenaga kerja yang banyak dalam membuat rintisan yang tepat sacara langsung, secara tidak langsung adalah pasukan telik sandi yang menjaga kerahasiannya.  Menyediakan keperluan istirahat dan makanan untuk kuda dan pasukan yang sudah harus ada di setiap tempat yang  ditentukan.
Dalam dua bulan semua sudah siap dipakai sampai ke lembah air terjun di gunung Baung. Peluncuran pasukan tingal neunggu aba. Dimulai dengan mendayung ke hilir sungai Brantas pada waktu malam. Puluhan perahu katamaran artinya dua perahu digandeng dengan geladak rata untuk kuda kuda, mandarat pagi pagi di hutan hutan tepian kali yang ditetapkan, dan siang hari menempuh jalan rintisan ditengah hutan hutan hingga malam tiba. Semua rombongan harus sudah sampai di tempat istirahat yang sudah ditentukan. Malam ketiga sudah harus berkumpul di lembah air tejun Gunung Baung untuk beristirahat.
Untuk paruh malam ketiga, sebelum tengah malam berkuda secara terbuka ke Singhasari, sambil membunuhi semua orang yang bertemu, dengan panah dari atas kuda yang berlari  Dua puluh anak panah setiap orang sudah ditentukan sasarannya.
Pasukan baris pendem sudah disiapkan bermingu mingu sebelumnya secara bertahap, untuk memancing para penjabat penting  keluar rumah dan dibantai oleh pasukan berkuda dengan panah panahnya yang istimewa. Barisan pendem ini membawa dua obor.  Hasilnya ternyata mengerikan sekali. Lebih dari dua ratus penjabat Tinggi Kerajaan mati terpanah. Istana terbakar hebat dan Raja Kertanegara mati terpanah diantara puing puing wantilan Agung.
Yang mengherankan tapi tidak pernah disaksikan orang, diantara mayat mayat bertebaran di puing puing wantilan Agung ada sesosok mayat wanita muda, Ni Ratri dari Kadiri, rupanya terpanah di dadanya tembus  ke punggung, panah pasukan berkuda Kadiri, khusus yang ini ujungnya  besi tuang yang berbentuk kuncup bung kantil dipaterikan emas sejarum. Anak panah ini khusus milik Jayakatwang, untuk sasaran yang berilmu tinggi *).                


Posted in:
iI MATAHARI TERBIT DI WILWATIKTAPURA (SERI 10)

        PELARIAN DARI KEDATHON SINGHASARI
Pasukan berkuda dari Kadiri menyerbu ibu kota Singhasari dari Utara. Dengan para penunggang kuda yang liar, melarika kuda kudanya dengan kecepatan penuh berbondong bondong tidak beraturan. “Rawe rawe rantas malang malang putung”.  Lepas tengah malam kedengaran titir kulkul dari Utara sayup sayup kemudian makin keselatan ke kota Singhasari dengan makin jelas suaranya.
Memang rupanya inilah kejadian yang paling dia takutkan, perahu perang dikirim ke Palembang dengan tiga perahu besar bercadik , model yang sudah lama, karena pembuatannya boros kaju dan berlayar kurang laju sebanding  dengan luas layarnya. Tapi ketiga perahu bercadik dengan geladak bersusun tiga, kebanggaan Singhasari. Perahu  perahu ini persis serupa dengan perahu besar yang dilukiskan didinding candi Borobudur. dibagian kamadatu. Sedang ibu kota yang tidak bertembok ini tidak seperti biasanya Ibu kota, karena bahaya diserbu oleh gerombolan pasuka barkuda tidak pernah ada.
Raden Wijaya ditemui oleh penjaga peraduan raja dengan sangat tergopoh, gopoh. Diberi titah darurat dengan tegas supaya membawa istreri dan adik adiknya semua melarikan diri lewat pintu rahasia Utara. Segera  disana sudah disediaka kuda lima ekor. terserah menurut situasi, jangan sampai kepergok pasukan berkuda atau siapapun sebelum berkuda sepenginang.
Kelanjutan wangsa Singhasari sepenuhnya ditangannya, sambil menyampaikan kalung kerajaan lambang Garuda Wishnu yang selalu dipakai Baginda, itu berarti Baginda siap mati.
Bagitu gawatnya susasana, sehingga raja tidak bertitah untuk bertahan, ,melainkan melarikan diri dengan kuda menyamar, sampai sepenginangan diperjalanan.
Raden WIjaya segera mengerti betapa gawatnya kedudukan Singhasari dan dia beserta adik adik iparnya sebagai harapan satu satunya untuk pepulih dikemudian hari.
Tanpa berpikir panjang dikumpulkan adik adiknya, dua lelaki tanggung dan tiga remaja putri, bertujuh dengan dia dan istrinya Membawa bekal bumbung kerajaan yang disediakan untuk keadaan darurat. Semua berdandan ringkas semua berdandan ringkas cara prajurit. Berdestar dan pakaian malam segera berangkat dengan lima kuda yang selalu tersedia di istal kuda untuk situasi darurat, dekat pintu rahasia di Utara Kedhaton. Dia satu kuda, isterinya satu kuda,  masih  tiga kuda lagi untuk keempat adiknya. Mereka berkuda dengan langkah drap menuju ke barat laut. Kawasan berhutan lebat. Mereka berkuda merunut jalan setapak agak menanjak. Jalanya pencari madu.
Sepenginang sampai di wilayah dengan semak semak lebat. Wilayah berbentuk  kipas, bekas laharan gunung Arjuno, berpasir campur kerikil, sangat sunyi.
Tempat ini memang jarang di jamah untuk kepentingan apapun karena tanah laharan ini sangat gersang. Raden Wijaya tahu jalan setapak ini, nanti bila menurun sampai di satu Asyram di desa Polaman agak sebelah barat Plawangan. Siang ini dia dan rombongannya berusaha bagerak sejauh mungkin dari Singhasari dan sesedikit mungkin ketemu orang.
Anehnya menjelang fajar, disebelah barat Plawangan rombongan ini bertemu dengan rintisan jalan ditengah hutan, yang menuju ke utara, nampak baru dan dilewati banyak sekali bekas telapak kuda, lebih dari limapuluh ekor, keutara sepanjang lereng timur gunung Arjuno, menembus hutan lebat. Dia langsung tahu bahwa rintisan ini jalan rahasia yang barusan semalam paling lama dua hari yang lalu dilewati pasukan berkuda dari Kadiri. Sudah ditinggalkan oleh pembuatnya karena gunanya sudah diperoleh.
Raden Wijaya berdecak kagum. Dengan mudah rombongan kecil ini mencapai Purwosari lewat rintisan jalan baru ini tanpa ketemu seorangpun. Rombongan beristirahat ditepi  hutan, dekat dengan pakuwon Purwosari.
Mendadak saja mereka ingat bahwa sejak malam mereka belum makan bahkan minun air setegukpun, ketegangan pelarian menyebabkan semua jadi lupa makan dan minum seharian.
Sore itu mereka bertujuh turun dari kuda, menuntun kuda kearah bawah pohon elo besar, yang lagi banyak burung “joan” menyerbu buah elo, menjelang senja. Semua putri raja yang empat orang, nampak lelah tapi tetap tenang, semua berwajah kemerah merahan, nampak kelelahan. Semua mengerti burung burung itu makanan, tapi apa boleh buat, mereka tidak punya alat apapun selain pisau belati yang sangat tajam bawaan Raden Wijaya.
Kedua adik iparnya yang laki laki, tidak membawa panah apalagi sumpit. Toh Wijaya dulunya pangeran yang miskin, bergaul dengan semua orang, sebelum menjadi murid sang Bhismasadhana. Dia dititipkan di satu asyram, sebagai bocah yang suka bermain main dengan anak gembala dari seputar asryam.
Dengan mereka dia belajar renang di sendang yang dingin dan banyak ikannya, karena penduduk takut mengambilnya. Sedangkan dia dan temannya yang paling bengal tidak.
Mereka diam diam sering mengambil ikan tambera yang paling besar terus dibawa ke tepian hutan lalu di panggang dengan bumbu dari pinggiran hutan, garam dan umbut combrang ( laos hutan) di gilas dengan batu hingga halus, dimasukkan rongga tubuh ikan beserta daun daun muda dan berbau harum banyak.
Daun daun dan bumbmu ditempelkan di sekujur kulitnya dibungkus rapat rapat dengan daun combrang dan daun bunga tunjung (teratai) berlapis lapis, dan dipanggang.
Kali ini bukan ikan tapi ayam hutan yang ternyata banyak ditempat itu. Dasar waktu kecil temannya anak gembala, dia pembuat jerat dari serat pohon waru gunung. Wijaya mahir membuat jerat ayam hutan. Menjelang senja Wijaya sudah   mendapat empat ayam hutan, semuanya betina. Langsung di bersihkan bulu bulunya diberi bumbu garam dari bumbung kerajaan bubuk merica dan tumbukan umbut jombrang ( lengkuas hutan) dibalut dedauman pisang dan teratai yang kebetulan ada di sendang kecil delat situ.
Memang bila nampak pohon elo, sekitar situ pasti ada air, entah sungai entah sendang atau danau. Bungkusan dipanggang sampai malam tiba. Waktu dikeluarkan dari unggun api, dan dibuka dengan membelah bungkusan ini, ternyata tercipta aroma harum. Keenam putra putri raja itu makan ayam hutang panggang, seolah olah tidak pernah marasakan masakan ayam. Mereka minum air anak sungai kecil tidak jauh dari pohon elo tempat mereka beristirahat. Sisa api unggun dibuat membenamkan ubi hutan, dan mereka makan dengan lahap. Menjelang malam mereka adik ipar laki laki nampak masih lapar.
Sebelum mendatangi rumah akuwu, Raden Wijaya member isyarat dengan tangan, mengajak mereka berdua berburu oling ( belut raksasa).  Dia sepintas melihat sarang belut raksasa itu di sendang dekat situ, dia jelas melihat bekas bekas buih masih menggerombol dekat semak tepian lain dari sendang itu. Kepala ayam hutan yang tidak ikut dibakar dilubangi dang diikat di telapak tangan kanan sang Raden Bengal ini.  Mereka mendatangi bekas buih diterangi hanya dengan bulan muda, tangan dengan kepala ayam hutan sang Raden pelan pelan dicelupkan di air hanya selengan, tidak berapa lama, ada yang berkecipak keras.
Dengan kedua tangan satu belut sebesar lengan orang dewasa sudah tertangkap dalam genggaman besi tangan kanan, sedang tangan kiri membantu dengan memasukkan jari telunjuk ke insang oling ini sekuat kait besi. sementara  kedua tangan  ini diangkat dengan segera. nampak oling sebesar lengan orang dewasa ini berkelojotan diantara kedua cenkeraman tangan besi sang Raden, Oling atau sidat raksasa memang ikan buas yang paling licin, badannya berlendir sehinga memegangnya harus dengan keberanian dan tekad.
Dengan kaget kedua pemuda tanggung ini hampir berteriak sebelum mendatangi kegirangan, baru teringat mereka adalah pelarian nomer satu, ketika nampak sang raden segera mengelengkan kepalanya sambil mulutnya berdesis.
Mereka makan oling panggang dengan garam,  lebih dari cukup mengenyangkan, bertujuh masih makan sambil tertawa cekikikan seolah olah mereka sedang bercengkrema di halaman istana, sebelum menadatangi rumah Akuwu Purwosari, untungnya penjaga regol masih mengenali Raden Wijaya. Rombongan segera masuk dan regol ditutup. Kuda kuda masih disembunyikan di tempat rombongan beristirahat dihutan untuk kehati hatian. Ternyata benar, sebab Menantu Raja ini pernah berburu rusa dengan Akuwu atas undangan beliau, sedang tadi siang sudah tersiar berita bahwa Singhasari jadi karang abang, hampir semua pembesar Kerajaan terbunuh, termasuk Sribaginda Kartarajasa. Istana terbakar ludes, hampir semua orang tidak percaya, mereka akan berbondong bondong menuju keselatan melihat Ibu Kota.
Ketujuh tamu ini  masuk regol dengan cepat tanpa kuda kuda, sehingga tidak menimbulkan kegaduhan. Sedangkan Jayakatwang pun belum memasang telik sandi di Pakuwon Purwosari, mengharapkan bahwa seluruh keluarga Raja bakal berkelahi gaya puputan Margarana.
Putra putri Raja langsung beristirahat, Raden Wijaya dan sang Akuwu merundingkan perjalanan selanjutnya ke ruangan pendopo, kuda kuda segera dijemput dan depilhara di istal lain, Mereka berdua berkirim surat singkat saat itu juga dikirim gandek berkuda ke Japan dan Bangil, Habis tengah malam rombongan berganti naik pedati sapi menuju ke Bangil dari pintu samping diantar oleh prajurit tua penjaga Regol. Sehigga dapat dipastikan tidak ada seorangpun yang tahu kedatangan tamu itu selain keluarga Akuwu.
Raden Wijaya mempercayakan nasibnya pada Akuwu Purwosari, sambil mengucupkan tangan didepan dada, salam persahabatan, yang disambut dengan meyakinkan oleh sang Akuwu. Dia tidak akan melapor kepada Tuannya yang baru Raja Kadiri dan Singhasari Sang Mahaprabu jayakatwang. Hal mengenai kedatangan rombongan ini.
Dalam gerobak sapi yang diisi penuh jerami, dedak dan rendeng ( daun kacang tanah kegemaran kuda kuda), diantar penjaga regol dan dua emban yang memang tahu kedatangan tamu ini, mereka bertiduran diantara muatan jerami itu, tidak nampak dari luar.  Matahari sudah tinggi baru sampai di penggiran kota Bangil, yang ramai karena kota itu kota pusat kemasan artinya tempat undagi emas, disana sudah dijemput oleh Pemilik Perahu Madura. Siang nanti segera berlayar ke Trung.
Perahu tidak besar, ditambat di sungai yang membelah kota Bangil, bersama dengan perahu perahu tambangan, ternyata dua emban mamaksa ikut ke Trung, dengan pertimbangan kerahasiaan Raden Wijaya mengabulkan.
Rembang siang hari perahu didayung ke muara tanpa banyak cing cong, dan langsung disambut oleh angin timur yang agak keras, segera layar terisi dan perahu meluncur cepat ke utara. Selang dua hari sesudah hari itu, baru rombongan telik sandi Prabhu jayakatwang desebar di Japan, di Purwosari, para abdi Pakuwon dan Penjaga regol ditanya apa ada tamu kemarin, jawabnya tegas tidak ada, wong tamunya sudah tiga hari sebelum itu. Sudah tidak ada yang tahu kacuali keluarga Akuwu, yang ternyata bisa diandalkan. Dikemudian hari, betahun tahun mendatang masih diingat oleh Raden Wijaya.
Keluarga yang ditingalkan oleh dua emban dijamin oleh Akuwu lebih dari cukup, dan diyakinkan akan keselamatannya. Begitulah sementara romdongan pelarian yang sangat penting dari Kerajaan Singhasari seperti hilang ditelan bumi.
Di Japan sepertinya tidak ada kolong yang tidak diintip, tidak ada pintu yang tertutup bagi telik sandi, tapi sama sekali tanpa hasil sampai berbulan bulan tidak ada berita sampai di telinga Prabhu Jayakatwang tentang Putra Putri Kartanegara dan Raden Wijaya, padahal Prabhu Jayakatwang sudah terlanjur mengumumkan dirinya seperti Dewa, serba tahu.
Yang ini benar benar dia tidak tahu, meskipun ribuan telik sandi dengan jaringan gandek gandek dan burung burung merpati pos, jaringan telik sandi bukan saja di Japan, tapi di Janggala, Trung. Bahkan sampai ke Pasar Uang  Tuban dan Wirasabha, tapi tetap tidak ada berita apa apa selama dua bulan.
Yang lebih menjengkelkan pencaharian pelarian itu sampai jadi bahan ejekan kuli kuli tukang angkut barang di japan, Jenggala dan Trung, bahwa mereka telah menggendong putri putri kerajaan yang cantik cantik  ini menuju ke jung yang berlayar ke negeri Cina, mereka bercerita demikian di warung warung tuak sambil cengengesan, ngerti bahwa disitu pasti ada telik sandi Pabhu Jayakatwang dan pasti berita itu disampaikan pada beliau. Ada yang bercerita bahwa empat putri Raja itu sekarang menyamar sebagai ronggeng di desa Dawuhan, dia sempat menciumnya,  Bercerita begitu sambil pringas pringis, ada yang bilang bahwa si Nem bakul pecel yang cantiknya kelewatan di pasar gede Jenggala itu adalah salah satu Putri Raja  Kartanegara yang menyamar, semua berita itu penting dan sampai ke telinga Rajanya para Dukun, balian mangiwa. yang bertahta di puncak alang alang kumitir. Sang Jayakatwang mengakui bahwa berita berita itu harus dinyatakan semua, membuat dia jadi gila, sambil membanting tongkat pusakanya dihadapan Tumenggungnya para telik sandi Kerajaan.
Malah berita bahwa Prabhu Jayakatwang gila menyebar dimana mana dengan bumbu bumbu tentunya.  Malah ada rombongan tobong ( sandiwara) keliling desa desa yang melakonkan penyamaran putri putri Singhasari dan Raden Wijaya, konon sangat laris dengan banyolan banyolan.
Bagaimana Negara melarangnya, bagaimana melawannya, apa deserbu dengan pasukan berkuda ? Disini dia dimakan oleh siasatnya sendiri, tukang menyiarkan berta bohong.  Rakyat di kota kota pelabuhan ternyata sangat kreatip mengejek kekuasaan Negara dibawah sang Mahapabu Jayakatwang,
Penguasa baru Janggala Kadiri dan Singhasari, bang wetan dan bang kulon.
 Prabhu jayakatwang merasa bahwa perlawanan Rakyat Singhasari, Jenggala, Wirasabha yang terus terusan meluas semacam ini, sangat mnjatuhkan wibawanya. Dalam hati dia mengharapkan Raden Wijaya menakluk dengan sukarela, tapi bagaimana mengumumkannya ? Siapa Yang percaya lagi ?
Menjelang pagi, angin berubah ke barat daya, perahu Madura merubah haluan ke Barat langsung ka Pelabuhan Trung, dimuara Sungai Mas anak sungai Brantas yang lewat kota Trung. Belum sampai selesai merapat di penggiran, ada sosok anak anak yang membawa surat diberikan kepada Raden Wijaya, yang isinya satu Asyram Islam di Ampel Denta menyediakan perahu dayung lengkap untuk pelayaran kemana saja sepanjang kali Brantas. Ini wujud bantuan dari Asyram Ampel Denta kepada Ki Bismasadana dari padepokan Sendang.
 Raden Wijaya sangat bersjukur, ternyata utusan ke Japan yang berangkat dari Purwosari telah sampai kepada sang Bismasadhana yang juga sahabat dari Pendeta Islam dari Ampel Denta.
Parahu biasa, dengan lebar dua depa ditengah dan agak langsing, membawa layar lateen, dengan atap kajang yang agak panjang.  Para pendayungnya muda muda dan berotot, ada tujuh orang, bersalwar dan baju dari kain tenun gedog berwarna putih kotor, ada yang bersorban kain putih. Dayung mereka agak aneh, berupa talempak (semacam tombak pendek dari besi, bermata lebar dua telapak tangan dan panjang ada yang dari besi seluruhnya, disamarkan dengan warna kotor.
Para tamu disuguh dengan wedang jahe, yang dicampurkan dengan kahwa, minuman baru, dari biji kopi yang dibakar hitam jadi dibubuk, dituangkan air mendidih, rasanya agak pahit, desertai dangan makanan juadah dan jenang ayas yang manis , segala manisan buah dan kue rangin. Perahu didayung enam pendayung dengan santai memudik sungai Mas.
Menurut Sang Bhismasadhana, mereka sebaiknya menuju Desa Kudadu, dekat Hutan Ploso, sesudah arah mudik dari Wirasabha. Pelayaran perahu selama dua hari, dengan malam istirahat. Menurut sang Bhismasadhana mereka bisa istirahat lahir dan bathin di Asryam Kudadu, yang letaknya jauh dari japan dan mendekati Tuban, yang bisa ditempuh sehari semalam berkuda.
Raden Wijaya bersalaman dengan mereka, selesai bersalaman meletakkan kedua telapak tangan ke dada cara Muslim, kepada semua pendayung, begitu pula para adik ipar lelaki tanggung mengikuti dengan tersenyum kikuk. Para santri dari Ampel Denta ini rata rata sopan terhadap anggauta rombongan kaum putri, yang sekarang jadi enam orang. Awak perahu yang tujuh orang itu memang sangat sopan dan terpelajar, menulis surat di daun lontar tipis dan diikatkan di kaki burung dara pos dikaki burung itu dan dilepaskan tiga ekor. Mereka membawa enam sangkar dalam perahunya.
Tidak sekalipun pandangan mereka tidak wajar terhadap kaum wanita penumpangnya, yang ternyata gadis gadis remaja yang cantik cantik kecuali dua emban yang malah sering menunjukan sifat wanitanya dengan sopan. Para pendayung ini melakukan upacara agama mereka tepat lima kali sehari menurut edaran waktu ditandai dengan posisi matahari. Menghadap ke barat dengan bergantian tiga orang tiga orang, Perahu ditotog dengan galah panjang. Sungai Brantas sudah tidak sederas dua bulan yang lalu, mereka mendayung dngan santai dan nampak ringan saja, meskipun Raden Wijaya tahu persis bahwa dayung dayung itu denjata yang dahsyat dan berat, bisa melubangi dinding perahu dengan mudah.
Raden Wijaya merasa sangat beruntung mengawal istrinya dan putri putri raja, yang bersifat mudah menyesuaikan diri dengan keadaan dan mudah bergaul dengan siapa saja, wajar tanpa canggung, begitu pula dua emban yang ikut dari Purwosari.
Merka membangun rumah sendiri dekat pesantren Ploso, Raden Wijaya dan Para adik iparnya para pemuda tanggung, mendekat ke Asyran di Kudadu. Dalam dua minggu saja makin banyak orang yang permukim diantara Ploso dan Kudadu, dibawah perlindungan Brahmana Rsi di Kudadu, termasuk pesantren di Ploso, tepi kali Brantas. Sebulan para pelarian ada di Kudadu, dengan tambah pengikut antara limabelas orang tiga wanita, semua ahli memelihara burug dara dan kuda kuda. Hubungan dengan Tuban direntangkan dengan bantuan santri dari Ampel Denta, burung dara pos bisa dikirim dan mererima berita dari Japan, Ampel Denta dan Tuban.
Rupanya Sang Jayakatwang saking jengkel mengerahkan pasuka berkuda, Wirasabha dan termasuk Ploso. Rupanya dari Tuban ada usulan untuk mohon perlindungan ke Madura Aria tua itu, sang Wiraraja.
Ronbongan Pelarian pindah dengan perahu, ke Pinggiran sungai Porong dan ganti mengendarai gerobak lagi ke Wilayah Jenggala dengan kawalan dari kaum yang mencintai Singhasari.  Rombongan serupa yang agak menyolok bergerak ke Pamotan, tapi hilang di jalan, karena hanya untuk gerakan penyesatan saja.
Robongan dipecah menjadi dua, bertemu di Kedung Peluk setelah seminggu kemudian.
Rombongan dibimbing oleh teman teman Raden Wijaya, dengan gandek pembawa berita dimuka dan dibelakang, menganyam jejak pasukan berkuda, yang dibuat bingung oleh berita berita yang menyesatkan, sekarang malah secara acak mengunjungi Pasar Pasar,dengan Gambar par putri dan putra raja beserta Raden Wijaya. Berkat bimbingan para pedagang simpatisan Singhasari, dibantu oleh kaum santri dari Ampel Den
 ta, rombongan tidak pernah ada disuatu tempat disatu waktu dengan para pengejarnya. Akhirnya kedua rombongan sampai di Kedung Peluk, hampir bersamaan waktu. Perahu perahu sudah disediakan menghilir sungai Rambut, kebetulan waktu pasang. Dimuara tempat rumah benteng disatu pulau seorang sudagar putri dengan banyak perahu dan barang dagangan tinggal, Putri Sekar Dadu. Salah satu perahunya dipakai untuk berlayar ke Pamekasan oleh rombongan pelarian.
Sementara itu berbulan bulan pengejaran di tempat tempat yang dicurigai tetap dilakukan berbulan bulan kemudian, yang sengaja disiarkan untuk menyesatkan pencarian.*)
12. MATAHARI TERBIT DIWILWATIKTAPURA (SERI 11)
3.58 PM  SUBAGYO KOESNO  NO COMMENTS
     
     
PAHITNYA EMPEDU DI TENGAH KEJAYAAN JAYAKATWANG

Penyerbuan pasukan berkuda dengan persiapan berbulan bulan ke Ibu Kota Singhasari berhasil   sangat memuaskan. Hampir semua pembesar Kerajaan tebunuh, Sang Prabhu Kertanegara sekeluarganya melakukan puputan. Kecuali enam putra putri Kerajaan bersama dengan Raden Wijaya, mayat mayatnya tidak ditemukan,  Berbulan bulan hilang seperti ditelan bumi. Selama petempuran singkat di Wantilan Agung kerajaan Singhasari, ada sesosok orang berilmu tinggi, yang ikut membela Sang Prabhu mati matian pempertaruhka nyawa, walau agak terlambat, Dalam kilatan kobaran api dan asap yang tebal mengepul, Jayakatwang melepaskan panah dengan tiba tiba dari kudanya yang berlari kencang, sosok itu yang telah merobohkan lima perwiranya dengan lemparan bunga seroja, yaitu semacan senjata rahasia dari besi tuang yang ditajamkan setiap daun bunganya, delempar dengan tenaga dalam. Jayakatwang me manah sosok itu selagi meluncur diudara, begitu jatuh masih sempat melempar bunga seroja yang mematikan seorang lagi perwiranya berkuda.  Setelah sang Jayakatwang memutar kuda dan menghampiri sosok berilmu tinggi ini mencelos hatinya, sekaligus membanjir keringat dinginnya, ternyata yang ditembak selagi meluncur diudara itu adala Ni Ratri, wanita idamannya, sungguh dia tidak mengira, karena sosok itu berdandan sebagai  lelaki dan berjubah hitam mengikat rambutnya dengan kain hitam, layaknya golongan hitam yang lain. Ni Ratri masih sempat meregang nyawa di pelukannya, masih mengenalinya, menjawab permohonannya dengan setengah berbisik mengigau, layaknya orang yang meregang nyawa, bahwa dia berterimakasih telah dihantarkan ke Yomani, mati  menyusul kakang Gembluk, tapi dia Kalakatawang  akan mendapatkan pembalasannya, kuda kudanya akan binasa dan Kedhaton Kadiri juga akan musnah terbakar, Ni Ratri mati ditangannya.  Sang Jayakatwang tahu persis, Ni Ratri akan kebal terhadap segala senjata yang bukan di lekatkan di tajamnya dengan sepotong emas, sedangkan yang memanah kekasihnya hanya dia. Wantilan Agung terbakar hebat, Jayakatwang sudah ditinggal oleh pasukannya sesuai rencana  penyerbuan. Dengan perasaan ndak karu karuan Ni Ratri dinaikkan tertelungkup di kudanya, sambil meloncat dan mengeprak kuda dia larikan kudanya mencari jalan diantara kayu bangunan yang terbakar dan runtuh, menyusul pasukannya yang sudah keluar ke alun alun,  menunggu Junjungannya. Mayat wanita liar ini dia kuburkan di penggir alun alun, Singhasari dengan penyesalan yang mendalam, setelah menguburkan mayat kekasihnya yang meninggalkannya dengan semena mena, walau dia masih lekat dengan kenangan  manisnya.  Sambil terhuyung huyung  dibantu naik kudanya dan berjalan pelan pelan beserta beberapa pasukannya.  Tiba tiba saja dia menjerit melolong tanpa arti sambil mengeprak kudanya yang langsung berdiri pada dua kaki belakang  langsung melompat berlari sekencang kencangnya layaknya kuda gila. Pengikutnya beberapa orang anggauta pasukan  berkuda mengejar dibelakangnya makin  ketinggalan. Sang Prabu Jayakatwang pingsan diatas kuda yang berlari, teronggok menelungkup memeluk leher kudanya, untung saja sekaligus tersusul oleh anggauta pasukan yang juga pasti penunggang yang hebat, salah satu dari mereka nendekati  kuda sang Prabu, sambil meloncat keatas kuda Sang Jayakatwang  langsung  memegangi kuduk beliau sambil memeluk pinggangnya agar tidak jatuh.
         Sang jayakatwang baru sadar di Ngantang sudah ditidurkan didalam kemah Raja, dekelilingi para tabib istana. Detak nadinya bagus, beliau hanya menderita keguncangan bathin yang hebat. Para tabib bingung, sosok sesakti Mahaprabhu Jayakatwang kok sampai begitu, apa bertemu dengan Bhatari Durga ?
 Sebulan setelah menerima utusan penaklukan Singhasari  dari penjabat kerajaan yang masih hidup, sang Mahaprabhu jayakatwang, Raja  Kadiri, Janggala, Singhasari, yang bertahta diatas alang alang kumitir, telah diricuki oleh upaya pencarian berita menghilangnya putra putri Sang Kartanegara beserta raden Wijaya, seperti hilang ditelan Bhumi, tiada kabar berita dimana keberadaannya, meskipun telik sandi disebar dimana mana, terutama Japan. Janggala Wirasabha Pamotan dan Trung. Malah diterima berita berita palsu, berita berita melecehkan kesaktiannya sebagai Rajanya para Balian dan Dukun, dan disegani para Brahamana Rsi, keturunan titisan Bhatara  Shiwa sendiri. Beliau sendiri merencanakan pengejaran dengan telik sandi, mencocokkan semua kebenaran berita mbok Bakul sinambi wara,   beaya ditambah hampir tidak terbatas untuk Tumenggung telik sandi, wilayah pencarian diperluas sampai Tuban, Pasar Uang, Prabalngga, Kling. Pamotan. gambar gambar disebar, hadiah dijanjikan sampai limaratus picis emas bagi siapa saja yang melaporkan keberadaan pelarian nomer satu dari Singhasari ini, semua sudah empat bulan sia sia. Bulan ke lima  Mahaprabhu Jayakatwang benar benar kehabisan akal, lantas dimainkan kartu Sang Jayakatwang yang terakhir, para pesukan berkuda. Ratusan mereka dikerahkan beregu untuk menyisir wilayah luas. Makin menyempit di Janggala Trung dan Japan, disisir sampai ke pasar pasar bila waktu pasaran, ke Bandar Bandar dimana perahu keluar masuk, ke semua ashram dan sasana silat, kesemua tempat orang berkumpul dan bergosip.
Sekarang pasukan berkuda beregu dipersenjatai dengan gambar gambar putra dan putri raja dari  depan dan samping putra putri raja dan raden Wijaya, malah jadi ejekan, banyak wanita yang berdandan layaknya butri banyak tukang angkut jang menyombong telah bertemu mereka, masih yang brceloteh untuk menarik perhatian,  disiksa oleh pasukan berkuda saking jengkelnya perwira atasan pasukan ini mencambuki saipapun yang berani clometan menjawab pertanyaan beliau. Menjelang satu tahun para Pelarian ini menghilang, kuda kuda Sang Jayakatwang mati satu demi  satu, kejangkitan sakit bolor, penyakit pernafasan kuda yang mematikan dan sangat menular. Penyakit ini tidak kunjung mereda baik kemarau atau musim penghujan, saban hari puluhan bahkan ratusan kuda kuda tidak peduli milik siapa mati. Sudah dikerahkan ahli ahli pengobatan dan azimat kuda kuda, penularan masih meraja lela, menular pada para penunggangnya yang hidupnya dekat sekali dengan tunggangannya. Telah didatangkan tabib kuda dari Atas Angin, dari China, menghabiskan picis emas kerajaan untuk orang mencari  kuda sebagai pengganti kuda yang mati. Menjelang  tahun kedua hilangnya pelarian pelarian ini, yang menurut kabar angin juga menyebarkan penyakit bolor kuda, berupa putri putri cantik yang membawa pedupaan keliling hunian dan istal istal, sambil berjalan terbang tanpa menapak tanah, malah segera kuda kuda pada sakit, dan mati. Dengan demikian para gadis gadis sangat takut untuk mempersembahkan banten di surup surya, sandya kala, di muka rumah dan Pura, takut dikeroyok regu berkuda sebagai putri jadi jadian yang menyebarkan penyakit kuda dan manusia. Emang sekarangpun penyakit malleus/ bolor kuda ini juga masih sulit diberantas, segera jadi epidemi dan jadi persoalan Nasional. Sesudah sang Jayakatwang, di Jawa semua kerajaan tidak mampu lagi mempertahankan keberadaan pasukan berkuda secara massif. Mungkin Suasana tropis  basah ini memang tidak begitu cocok dengan kehidupan kuda kuda, kecuali dengan perawatan yang teliti dan obat obatan moderen. Kecuali di NTT dan Sulawesi, yang beriklim lebih  kering.
     Waktu itu satu setengah tahun sesudah pengejaran  Pelarian Singhasari yang sia sia, Sang Mahaprabhu Penakluk jadi tawar,  hanya dia yang tahu bahwa kehilangan pasukan berkudanya adalah kutukan Ni Ratri, kekasihnya sendiri yang dia panah dengan panah yang berujung dipateri dengan emas.  Hanya dia sendiri yang tahu. Dengan susah payah,  tidak mengenal lelah, diwujudkannya pembalasan dendam yang hanya Ni Ratri dan dia saja yang tahu betapa dendamnya kepada Prabhu Kertanegara yang sampai kehilangan nyawanya dan sekaligus Kerajaannya. Hanya membuahkan kekecewaan yang amat sangat karena hadirnya Kakanda Gembluk lah yang tetap di benak Ni Ratri.
Kuda kuda yang telah mengangkat derajadnya begitu tinggi, musnah, nampaknya tanpa bisa ditolong, dia sampai menagis kaya anak kecil waktu kuda kesayangannya si Gagak Rimang kena penyakit bolor, dan mati dalam lima hari, tanpa bisa ditolong.
Dalam kasedihannya yang beruntun  ini dia berpikir hanya Wijayalah yang tentu mengerti petapa hebatnya upaya dia menaklukkan kerajaan kiri kanan dan Singhasari. Kini hanya Wijayalah yang mengerti kejayaan itu adalah upayanya pribadi yang tekun, teliti dan tanpa salah, memajukan pasukan berkuda mendekati Singhasari dari utara, menghilir sungai memutari pegunungan dan bersembunyi di jurang Baung, orang senegara tidak ada yang mengira, karena berhasil bersempunyi selama empat  hari sampai di Gunung Baung, tidak termasuk satu bulan membuat rintisan yang panjang sekali ditengah tengah hutan dan tiada seorangkun yang curiga. Ini sebenarnya adalah maha karya yang sangat besar memerlukan tenaga dan pikiran sampai ke batasnya, baru dewa dewa dan cuaca yang membantu. Bukan karena dia dianggap keturunan Bathara Syiwa, dia sendiri cerdas lebih dari orang biasa, kenyataan itulah yang dia dambakan untuk mengharumkan namanya. Dialah orangnya satu satunya yang mencipatkan anak panah yang bisa menembus dengan mudah perisai kulit kerbau..
Satu satunya akal yang iya tidak  banggakan, malah sudah dilakonkan oleh tobong lakon Prabhu Jayakatwang bertahta diatas alang alang kumitir, tapi diatas panggung sandiwara. Dalam hati Mahaprabhu Penipu ini  khawatir sekali bila raden Wijaya  meraba sulapannya yang murahan, karena itu tipuan murah sekali, andaikata si Wijaya tahu saja.  Malah para pemain sandiwara telah melakukannya secara sangat tidak sengaja, bertengger diatas alang alang kumitir. Dia, sekarang Mahaprabhu Nata Janggala Kadiri Singhasari, sangat kepingin bertemu dengan Raden ini dan berdamai dengan Wijaya dari pada namanya dipermainkan orang kecil detertawakan dimana mana. Dia berfikir begitu hanya pada saat dia sendirian, takut pikirannya dibaca orang, sambil tersenyum  pahit sendiri. Para abdi melihat dari kejauhan,  mengira bahwa raja sudah benar benar gila.*)
       


SEMANGAT, ORANG TIDAK BISA hIDUP TANPA ITU, APALAGI SUATU BANGSA

ORANG TIDAK BISA HIDUP TANPA SEMANGAT, APALAGI SATU BANGSA.

Ilmu kedokteran, mengakui gejala ini, semangat hidup adalah unsur yang terpenting dalam keberhasilan upaya ilmu ini.
Semangat, bukan nafsu, kebalikannya,  semangat adalah mulia, nafsu tidak , malah menyangkut upaya transedensi jiwa, menyertai  rokhnya.
Jiwa jiwa ini dikala badai, prahara puting beliung  retorika dan permainan politik kata kata, serta ancaman fisik hukuman tanpa dosa dari  dari penguasa yang dholim sangat   menciutkan nyali , di pelabuhan pelabuhan “keimanan” kepada Allah dengan berbagai cara dan ajaran penyerahan diri kepada Allah atau apapun nama sebutanNya. Kesabaran ini juga perlu semangat yang tulus.   Dan ini ada, ini malati.
Sekarang, ekor buaya raksasa ( yang dengan gampang menggencet si cicak) , berkelojotan mengobrak abrik DPR RI,dengan tingkah polah yang menandakan sakaratul maut  dari sisa sisa Orde Baru dengan ciri pokoknya  tanpa etika , wong sudah dari sononya, dari lahirnya, mengakhiri puting beliung retorika Horde indifferentiate killers ( Horde Baru) ini. Mempertahankan Dwifungsi membabi buta dengan KKN. Rakyat bukan anti militer, terbukti telah memilih Bupati Batang Jawa Tengah yang Angkatan Darat yang telah bekerja dengan baik pada era reformasi ini,, menurut  pengakuannya dengan bantuan orang orang baik dari seluruh wilayah Batang.
Orde Baru, meninggalkan kemiskinan dan ketidak adilan masyarakat, telah padam bersama bunuh diri politiknya Satrya Togog, dengan Korawanya yang tergumpal di koalisi Merah Putih. Rakyat pasti akan mengetahui kepalsuannya, dasar kualat.
Dengan semangat Allahuakbar, sisa sisa Orde Baru akan tersapu bersih dari masyarakat kita untuk selamanya, bagaikan yang  terjadi  dengan sisa sisa kotoran, rontok dari  ujung kuku Super Power, yang merasa gatal menggaruk garuk badannya. Dengan jari yang sama pasti akan mencuil  sedikit jarahannys di Papua buat rakyat kita, lumayan untuk membeayai BPJS kita yang amburadul.
Allahuakbar, akan memberi semangat pada rakyat yang sadar dengan  maha agung-Nya, menyatukan mereka yang berserakan oleh retorika retorika sisa sisa Orde Baru, yang hanya segitu saja,  pencatut nama, koruptor.  Satrya Togog !, sudahlah…….*)

Rabu, 09 Desember 2015

KUWALAT, FENOMENA DALAM KEHIDUPAN MANUSIA

KUALAT ATAU KUWALAT– YANG ARTINYA LAIN DARI DOSA, LAIN KARMA, LAIN DARI  KENA KUTUKAN.
Di  google, Kamus Besar Bahasa Indonesia disebutkan sebagai “ kena tulah”, bukan dikutuk.
 Apakah sebenarnya kenyataan fenomena ini ?
Sebenarnya, saya selalu menghindar dari keinginan untuk berbagi dengan pembaca saya,kok sepertinya bicara mistik saja, ternyata pengamatan saya mengenai fenomena ini, yang artinya kurang lebih “kena musibah” akibat dari perilaku seseorang terhadap orang lain, atau makhluk lain yang di dholimi. sengaja atau tidak sengaja. Kita sebut dia kuwalat, atau “kena tulah”, diluar kemauam si korban kdholimannya.
Rupanya keinginan saya untuk berbagi dengan pembaca mengenai hal ini, tidak bisa saya bendung, sebab saya temukan dari pengalaman hidup yang sudah 78 tahun ini, fenomena kualat  ini ternyata ada, dan sangat menyedihkan bagi yang kualat itu, sebab dia tidak menyadari ke --dholiman-nya dan dholim kepada siapa selama masa lalunya itu.
Kualat ini bisa mengenai pelaku siapa saja, orang sebagai entitas individu, atau personifikasi  berbentuk perkumpulan atau kelompok orang.
Lha sekarang, siapa yang bisa mendatangkan “walat” ini ?
Menurut pengamatan saya adalah orang atau kelompok sekumpulan orang, yang TULUS dalam sebagian besar hidupnya, meskipun didholimi. Rupanya ketulusannya sudah tersifat didalam dirinya.
Misalnya bapak ibu  bisa  “ malati” ,  guru guru, orang tua yang sudah pikun, mertua perempuan bisa  “malati” terhadap menantu perempuan, golongan masyarakat yang memandang rendah dan melecehkan golongan lain yang hidupnya tulus, bisa kuwalat !
Mau contoh ?
Seorang noni Belanda, selama perang Pasifik jadi tawanan Jepang, sangat menderita lahir bathin, selama pendudukan Nippon Hokokai. Pada akhir kekalahan Jepang perpaksa mondok di keluarga Petani miskin dekat kota Salatiga, dan si noni ini sangat kagum dan berterima kasih atas perlakuan sederhana namun tulus dari keluarga petani yang tak bernama ini, dia kualat pada inlander yang dia rendahkan.
Golongan yang karena pembodohan yang sistimatik, telah membabat habis guru guru desa tahun 1965, golongannya sampai sekarang membuat apa saja di masyarakat tidak berbuah, kerdil terbelakang, jadi gurem, mereka kualat. Sebab profesi guru yang dikerjakan dengan ketulusan  mengajari anak anaknya sudah dia cederai, meskipun tanpa dosa
Orde Baru, yang dengan segenap keperkasaannya, mendholimi korban korbannya  yang pengikut Bung Karno, dianggap mengikut pemberontakan G30S  yan mereka fitnah, padahal mereka setulusnya mencintai Negara dan bangsa ini.  Penerus Orde Baru telah kualat sekarang, membuat apa saja tidak jadi, jadi gurem, dengan Satria Novianto Gurem di pergaulan bangsa, sudah mendapat cap tanpa etika, berprilaku tengik di Dewan Kehormatan DPR RI,  mereka telah kualat mempertontonkan perilakunya yang tengik didepan rakyat banyak, tanpa disadarinya, mereka telah kualat.
Mertua, yang ngebela belain kepada keluarga yang terdampar di perlindungan mertuanya, memperlakukan dengan tulus layaknya keluarga darah dagingnya, menghembus hembuskan kebencian anak anaknya kepada mertuanya yang menerima keluarga mereka dengan setulusnya, dengan segenap pengorbanan dan kekurangannya, setelah anak- anaknya sudah dewasa telah berhasil sebagai anggauta masyarakat yang terhormat, malah memperlakukan sang ibu dengan penuh curiga apakah kepikunannya di buat buat, dan tidak ada rasa hormat yang tulus dari menantu meantunya, istri/suami dari anak anaknya. Meskipun keadaan ibu yang sudah pikun ini memang memprihatinkan, kualatnya tidak pernah disadarinya. Kegagalan rumah tangganya bukan diterima sebagai cobaan Allah, tapi melulu kesalahan mertuanya, ipar iparnya, yang tidak pernah membuat keluarga si ibu dalam cobaan ini, menderita.  Sayang sudah tidak bisa disadarinya lagi.
Makanya wahai menantu perempuan, jagalah perilaku anda sebagai saingan alami dari mertua perempuan anda, bagaimanapun sang mertua perempuan adalah ibu dari suami anda, seperti anda adalah ibu dari putra putri anda, ibu mertua anda juga berhak untuk diperlakukan dengan respek oleh suami anda, dia sekutu anda bukan saingan anda. Apabila mereka tulus, sungguh anda harus bisa mengerti, sebab mereka malati*)

Sabtu, 05 Desember 2015

7-9 MATAHARI TERBIT DI WILWATIK TA PURA

        r
3.48 PM  SUBAGYO KOESNO  NO COMMENTS
Sisi gaib kejadian di wantilan dalem Istana Singhasari

Raden Wijaya disambut dengan pelukan dan cucuran air mata bahagia sang nenek ang sudah renta. Mualai keberangkatan cucunda  ke wantilan dalem guna mengadakan pagelaran sinoman Singhasari didepan raja dan sidang para nararya. Nini menyalakan api sesaji di balai pemujaan para pitri, membakar dupa menyajikan banten bunga mancawarna dan selalu memercikkan minyak suci kedalam api esaji sambil melantunkan puja Pitrayadnya. Api sesaji berkobar membuat lidah api yang meniggi diluar kebiasaan.

Segera nini bersujud dan melantunkan sasanti puja.  Dari jendela kecil dibelakang tungku api sesaji mnampak langit diatas wantilan dalem mengeluarkan cahaya aura kunig emas yang lembut, melebar keseluruh istana Singhasari, pertanda sangat baik.  Aura yang mampu membuka semua pintu kebaikan  yang membebaskan orang dari segala belenggu saat itu.

Tanpa kata kata nenenda tahu persis kenapa cucunya sekejap mata nanar  tatapan matanya dan terasa agak murung meskipun mendapat keberhasilan yang membanggakan, pasti sang  cucu kena asmaraturida. Dengan cepat pulih seperti biasa dan sekalaigus besimpuh mengelus kedua kaki nini, tanda bhakti seorang cucu.

Sambil tersenym menpersilakan cucunya beristirahat di bale bale sambil menghirup secangkir kecil teh hangat dari cina dan mengigit manisan labu baligo yang harum, sungguh  menggugah semangat Raden Wijaya, kewajarannya pulih

Nini menceriterakan bahwa sudah lama istana Singhasari diliputi  aura yang gelap. Disekitar tembok tinggi kedaton pada malam  bulan mati, sering terdengar auman serigala, anehnya suara auman serigala itu tidak  pernah terlacak dari mana asalnya karena selalu saja dari arah seberang istana, sehingga seolah olah suara dari kejauhan sedangkan jaga yang diarah seberang istana juga mendengar suara auman panjang itu juga dari seberang yang lain, tak seorangpun yang mendengarkan dari jarak dekat disekitar tembok istana, dilangit  sering manpak  benda menyala kemerah merahan terbang melintas setinggi dua jengkal  tangan diatas pepohonan,  bila diamati dari tengah medan lapangan yang satu yojana (jarak  semampu mata memandang kuda duatas catrawala) kadang nyala  kehijau hijauan.
Sudah sejak lima tahun sangat sering terjadi peristiwa yang nyleneh di kawasan dalam tembok istana hingga terlalu sering permaisura berobat dan beristirahat di Sanggariti desrtai putera puteri  raja dan para brahmana, merupakan iring iringan tandu tandu dan kuda kuda  prajurit dan pemikul bekal yang panjang, merupakan tontonan yang dianggap hiburan oleh rakyat petani di jalan jalan yang dilewati, jarak perjalanan cukup jauh ditempuh dari bang rahina ( subuh) hingga matahari nyaris tenggelam.

Baginda Kertanegara  sejak enam tahun yang lalu tergoda mengikuti upacara Hindu yang  aneh yaitu upacara aliran Bhairawa tantra.
Yang menimbulkan rasa curiga dari para brahmana yang biasa jadi parampara kerajaan  yaitu para tetua yang sudah mengepalai pura agung kerajaan bergelar  Rshi, adalah Pendeta dari atas angin yang sering langsung bertemu baginda di sanggar pemujaan, entah lewat jalan mana, sering kepergok para Pemangku yang memelihara sanggar.
Menerurut penelitian para Rshi di Singhasari yang jumlahnya tidak banyak aliran Bhairawa ini adalah salah satu sempalan dari pemuja Bathara Shiva  dari Benggali
Mereka menganggap bahwa mengekang diri dengan brata,  tapa  dan mengendalikan hawa  nafsu,  adalah sia sia.
Melepaskan kekangan terhadap nafsu nafsu adalah jalan pintas melewati rintangan mencapai kesempurnaan.
Sebaliknya dengan menjalankan lima ma yaitu matsya ( makan ikan) mamsya (makan daging)  ma’argya (minum minuman keras –mabok mabokan) maudra ( menari nari sampai teler dan trance) dan maithuna ( berpesta orgy sex ) sampai sepuas puasnya dalam hidup akan menimbulkan kesadaran tertinggi dan mencapai mokswa, sungguh sinting.

Sang Prabu Kertaneara yang berbadan tinggi besar, mulai dari masa mudanya sangat gemar mempelajari ilmu ilmu kanuragan, ilmu kebal, dan  melatih tenaga keras hingga seluru otot kembang dengan indahnya menambah kesan perkasa.
Disamping itu sangat gemar bermain  catur,   memang beliau mempunyai  bakat alami ,  yaitu kuat ingatan,  hafal  sloka sloka dalam wedda yang  menyangkut pitrayadnya hal  ikwal mengenai  pemujaan para leluhur.
Dalam permainan catur beliau sering  kelepasan omong kepada sahabat dekatnya. Bahwa beliau dapat merencanakan lima langkah kedepan  semua  yang mungkin terjadi bisa “tergambar” di ingtannya. Sehingga menjadi pemain catur yang sangat tangguh.  Selanjutnya  menjelang naik tahta pada usia yang sudah matang, beliau mulai mempelajari ilmu Hindu kejawen dengan pengenalan catur sanak, tekun  bersamadi dan anoragha, merendahkan diri,  layaknya satrya pendeta,  sampai tahap akhir dapat dicapai sehingga menerima sandi sastra dari catur sanak, yang harus dilatih terus menerus beralaskan brata dan samadi  dan menganut dharma, supaya  ada hubungan yang makin menyatu dengan sang catur sanak.

Sayangnya setelah penabalan sang pangeran menjadi Nararya  Prabhu Natha. Kegemaran  ma’argya, minum minuma keras semakin kurang terkendali, sehingga tanpa beliau sadari semakin sulit untuk mendapat “rasa hubungan” denga catur sanak meskipun dengan sunguh sungguh beliau menyerukan sandi sastra dalam bathin   berulang ulang, inilah yang membuat baginda Kartanegara gelisah, tanpa ada seorangpun yang mengetahuinya.

Suatu hari  menjelang sandya kala saat tergelar candik kala di seluruh tempurung langit, yaitu senja dengan seluruh langit berwarna merah dengan berbagai macam nuansa warna merah pada lapisan  awan awan  tipis, saat itu semua  nenek nenek dan para ibu memanggil manggil anak anaknya yang lagi main dihalaman dan dijalan untuk segera pulang masuk rumah. Waktu suasana senja semacam ini  berbahaya bagi anak anak kecil berada diluar rumah konon Bhatari Durga sedang berkeliling mencari mangsa.  

Saat itu datang entah dari mana seorang tinggi besar berkulit gelap berambut panjang tak teratur, rambutnya hitam legam tapi jambang dan jenggotnya sudah berwarna kelabu, menutupi mulut dan dagunya sampai ke dada.
Pendeta tantra Bhairawa dari Atas angin  Guruji Dutanggira, beliau menguncupkan kedua telapak didada sambil mendekat sejarak empat  depa, baginda mengucupkan sembah di ubun ubun sambil bejengket sedikit dan berdiri tegak lagi sambil menguncupkan sembah di dada, manyembrama sang tamu yang baru datang. Guruji Dutanggira menucapkan sasanti, dan dengan singkat mengutarakan keingiannya mengundang Paduka Raja untuk datang menunjungi padepokannya di  segara pasir di Gunug Bromo, beliau berkata bahwa beliau mengerti kesulitan baginda dan bersedia menawarkan pemecahannya apabila baginda snggup datang ke padepokan segara pasir di gunung Bromo, pada purnama mendatang, untuk tidak menyulitkan baginda sang guruji memberikan sehelai daun nangka kering dengan lukisan rerajahan sambil besabda, apabila waktunya tiba dan Baginda berkenan datang dipersilahkan duduk diatas daun itu, dan segera baginda sampai di padepokan gunung  Bromo.
Setelah memberi restu dengan tangan kanannya kepada baginda, empu guruji Dutanggira mundur dan hilang  dari  pandangan.
Raja Kertanegara yang waktu mudanya sudah berani malang melintang di dunia perguruan silat dan berguru untuk mempelajari ilmu kawijayan, dan mengenal catur sanak merasa tertarik kepada undangan sang Dutanggira.
Petang hari setelah berpamitan pada permaisuri bahwa dia akan menyendiri di sanggar samadi sampai besuk pagi supaya jangan ada yang menganggu.
Setelah duduk bersila sambil menghadap pedupaan dengan membakar dupa setanggi memanjatkan pujamantra kepada para dewa dan para pitri, sewaktu bulan purnama mencapai tinnggi tiga jengkal dari kaki langit timur,  diambilnya daun nangka kering dari sabuk beliau dan diletakkan di permadani tempat duduk, dengan tenang baginda duduk diatasnya.
Sejenak beliau memejamkan mata, seketika suasana berubah, waktu membuka mata beliau sudah dihalaman luar istana sudah duduk bersila diatas punggung harimau kumbang yang besarnya tigakali harimau kumbang biasa, segera baginda menurunkan kakinya layaknya menunggang kuda, seketika harimau melimpat terbang diatas langit kota Singhasari yang diterangi rembulan purnama, tanpa ada tolakan angin, kepakan sayap, harimau kumbang raksasa meluncur cepat diantara kabut tipis diatas laut pasir gunug Bromo, menuju lurus ke gua besar didinding laut pasir gunung Bromo dan sampai di penghadapan guruji Dutanggira.

Raja Kertanegara segera menguncupkan sembah dan bersasanti sebelum dengan takzim berkata, “Aku Prabu Krtanegara menghadap Guruji”
Sang Dutanggira memberikan parakrama, berkata bahwa ini bukanlah penghadapan dari yang muda kepada yang dituakan atau yang rendah kepada yang ditinggikan, tetapi pertemuan antara  dua sahabat.
Jadi hilangkan rasa segan, aku  lebih tua jauh dari anda sang Prabu, bila berkenan pangillah aku paman agar andika bebas berwawan sabda, sebab akan ada yang  aku tawarkan yaitu suatu jalan menuju kesempurnaan, di Mayapadha  maupun tuntunan kealam yang lebih tinggi.*)

8. MATAHARI TERBIT DI WILWATIKTAPURA (SERI 7)
3.53 PM  SUBAGYO KOESNO  NO COMMENTS
TATA LETAK KEDATON SINGHASARI
Di bekas lokasi sabha Akuwu Tumapel  sudah samasekali tidak ada bekasnya pada masa  pemerintahan  Prabhunatha  Kartanegara, diganti  samasekali dengan bangunan Kedhaton Baru, sesuai dengan derajad kerajaan Singhasari sebagai Kerajaan yang telah menaklukkan kerajaan Janggala, Kerajaan Kadiri yang tegak mulai Maha prabhu  Erlangga, Kadhipaten Lamajang,  Tuban, Jagaragha, Wengker dan Kling telah menyatakan tunduk kepada Mahaprabhu Kertanegara.  Lahan Kedhaton dibuat seperti bukit landai ditengah tengah  merupakan kediaman  Raja dan Ratu,  yang merupakan pusat dari  tanah datar dibawahnya yang berbentuk silang utara selatan dan barat timur.. empat penjuru mata angin ini dibangun sabha yang berupa wantilan  agung disetiap mata angin.
Yang terbesar adalah wantilan sebelah timur, yang dipakai  upacara kaprajuritan, dengan sendirinya menghadap alun alun yang sangat luas, yang menjadi batas antara kota raja dimana mayoritas penduduk tinggal dengan pusat pasarnya yang selalu ramai, dengan wilayah alun alun dan Kedhaton
Disebelah barat dari denah silang itu dibangun wantilan untuk pendadaran khusus semacam doyo .
Diselatan dibangun wantilan serba guna untuk pertemuan terbatas  para bangsawan dan untuk menyambut para Duta dari jaban Rangkah.
Di utara dibangun wantilan dan balai penghormatan pamujan  para pitri,  dengan beberapa pavilion untu krabat dekat Kedaton yang sudah tua tua,
Untuk mempertahankan denah silang dengan rumah kedhaton  ditengah tengah, maka seluruh silang geometris ini di bangun tembok keliling dengan pintu gerbang pada setiap ujung persilangan itu, kecuali di timur yang menghadap ke alun alun.
Dalam tembok Kedhaton dilarang untuk kegiatan rakyat biasa.
Bentuk kota Singhasari menurut  hunian para pendukung kerajaan, misalnya para prajurit dan peralatannya di sebelah timur, sedang hunian para Pendeta Kasyaiwan, Waisnawa,  Kasogatan dan Brahmana ada di sebelah utara, para pedagang dan pasar ada disebelah selatan, dan para undagi ada di sebelah barat .
Semua hunian dihubungkan dengan jalan yang diperkeras dengan batu raen, tidak perlu lurus karena Singhasari ada di lereng gunung, jadi jalan sering dibangun menurut  kerataannya ( contour) tanah.
Halaman depan rumah hunian dipagar tembok rendah dan ada gerbang candi Bentar untuk setiap rumah,halaman berisi rumah kerabat dan rumah hunian magersari. Tanah kosong ditanami pepohonan buah buahan kolam ikan, atau  disatukan dengan aliran pengairan sawah.
Kota Singhasari tidak bertembok dan pintu gerbang,hanya kolompok istana yang bertembok dan berpintu gerbang  empat menurut mata angin, timur gerbang ini tersembunyi menhubungkan wantilan agung  dengan tempat tinggal Raja, utara barat dan selatan, ada gerbang berbentuk candi bentar yang megah, sedang di timur ada dua patung dwarapala dan gerbang candi bentar yang lebar tidak berundag.(*)


9 MATAHARI TERBIT DI WILWATIKTAPURA (SERI 8)
 JAYAKATWANG, TOKOH LEGENDARIS DIKALANGAN ILMU HITAM
Dengan seringnya sanghaprabu Kertanegara mengikuti acara di gua istana ditebing laut pasir gunung Bromo,satu murid tingkatan atas gua kedathon makin merasa tersisihkan.
Satu murid istimewa yang benar benar merasakannya adalah tokoh hitam dari Kadiri, sang Kalakatawang, yang artinya pembawa becana dari angkasa. Sebab sang Kalakatawang sudah malang melintang di wilayah kedathon Kediri, membuat miris semua hulubalang Kerajaan.
Berturut turut mati mengenaskan narapraja manggala yudha kedaton Kadiri, darahnya habis diisap makhuk misterius.
Kabar slentingan memberitakan adanya sosok misterius yang sedang mengembangkan ilmu hitamnya, dan darah para pesilat yang telah mencapai tingkat tertentu melatih tenaga dalam adalah salah satu  syarat ilmu hitam itu, karena pada zaman Mahaprabhu Erlangga juga ada kejadian semacam itu. Ternyata pengacaunya adalah tokoh pangleyakan dari Bali, apa yang sedang terjadi ini entah siapa dan apa ilmunya.
Tudingan terahasia jatuh ke tokoh yang baru muncul dari tkoh dunia hitam, badannya tidak tinggi maupun besar, hanya seperti rata orang biasa, tidak mengesankan,  tapi ada sinar jang aneh pada tatapan matanya. Meskipun bukan rahasia lagi bagi rakyat Kediri bahwa tokoh ini menjalin percintaan dengaan salah satu saudari Baginda, sosok putri yang sudah setengah baya.
Sang Kalakatawang menyadari bahwa ilmu kanuragan, guna desti, kala wisa, walau sampai pada tingkatan yang paling tinggi, tidak bisa berpengaruh pada orang banyak, apalagi mengerahkan tenaga dan mendayagunakan rakyat banyak, kecuali seorang Raja. Sedangkan dia ingin membalas dendamnya kepada seorang Raja, yang menghalangi dan mengecilkan arti hubungannya dengan gadis liar berilmu tinggi, anak Totok Kerot yang “merajai” golongan hitam di gunung Klotok, Ni Ratri.
Semenjak menjadi kekasih tetap Baginda Kertanegara di dunia kaum Bhairawa, Ni Ratri tadak nengacuhkan Kalakatawang lagi.
Aneh sebagai manusia golongan hitam andalannya adalah kekuatan liar , tanpa kendali makin tinggi ilmunya makin liar, tapi tidak akan  bisa menjadi Raja jang menguasai wilayah dan segenap perangkat Pemerintahan, barbuat semaunya.seperti seorang  Raja. Tapi yang ini menguasai wilayahnya juga tidak bisa berlaku seenaknya sendiri tanpa kendali, seperti golongan hitam. Karena itu dia kepingin jadi Raja, berapapun pengorbanannya untuk itu, agar seimbang dengan Baginda Kertanegara.
Kebetulan yang menjadi sasaran adalah Kerajaan Kadiri, yang sudah terlalu lama hidup aman tenteram, para ksatria Narapraja sudah membentuk lemak diperutnya yang sudah buncit. Baginda Raja jarang menampakkan diri dimuka umum, kehidupan Kota Raja bagi Kalaketawang menjadi sangat tidak berwarna dan sangat membosankan.
Meskipun dia warga yang tadak karuan asal usulnya, mempunyai banyak guru dari semua kalangan, yang meragukan, terutama golongan hitam yang tidak peduli bahwa perilakunya itu jahat atau baik. Ada kegilaannya yang tidak menyangkut golongan manapun  adalah kegemarannya kepada makhluk yang namanya kuda, atau bahasa kunonya turangga. Dia tidak punya tempat tinggal yang tetap,  terlalu sering menghadiahi kenalannya diantara petani kaya, lurah dan demang dan sima yang kaya, kuda kuda pilihan untuk dipelihara. Biasanya orang yang beruntung ini bukan gembira, tapi malah susah, seperti kena bencana, sebab bila kuda ini kelihatah sakit sakitan atau mati, nyawalah taruhannya.
Kalaketawang jadinya telah mempunyai ratusan kuda kuda bagus di desa desa sekitar ibu kota, yang dia pasti satu saat di menengok nengok kuda kudanya, hampir semua orang Penjabat atau bukan menghindari permusuhan dengan Kalaketawang yang tidak bisa ditebak, apalagi hanya karena kuda.
Dari dendamnya kepada Baginda Kertanegara,  hanya dia sediri yang tahu, dia membulatkan tekad untuk jadi Raja.
Kebetulan kakak perempuan Raja Kadiri sudah pertengahan umur tapi tidak menikah, inilah jalan mudah untuk mengetahui seluk beluk kehidupan Raja.
Tidak sulit bagi seorang tokoh ilmu hitan semacam dia untuk menjalankan taktiknya, yang lancar berjalan sebagai jalannya jam. Tuan Putri tergila gila kepadanya berkat di tiupkan aji Cambra berag yang telah langka,  meskipun banyak diantara  Bhayangkari Kedathon yang berusaha mencegah hal hal jang mengancam junjungan mereka dengan lebih menggiatkan ronda, mati satu persatu mereka mati dengan aneh, tanpa luka darahnya habis.
Baginda  Prabhu Lembuamiluhur akhirnya mangkat karena sakit yang lama.
Bila ada tokoh jahat yang bercampur aduk dengan kehidupan Kedhaton satu Negara, tandanya Negara itu lemah, kalau Negara lemah pasti Rajanya yang lemah. Begitu pula di Kadiri saat itu. Tidak menarik bila diceritakan,   tapi fakta mengatakan dahwa Baginda Raja Kadiri akhirnya mangkat dan kakanda putri tertua yang setengah baya berani menggertak sidang keluarga dekat Raja, dan minta pengalihan kekuasaan ke dirinya sebagai Ratu Kadiri, dengan dukungan Kalakatawang dari belakang layar.
Kalakatawang mengundang sidang para kerabat dekat Raja yang baru saja di aben, dengan bade tingkat delapan, karena yang kesembilan disediakan untuk Ide Pedanda Brahmana Rsi Kadiri.
Ada  satu halaman kecil yang luput dari perawatan di Kedhaton Kadiri yang ditumbuhi semak alang alang,
diluar wantilan untuk sidang terbatas keluarga  dekat Raja yang jarang terpakai, terletak didepan dalem
Kedhaton.
Kalakatawang duduk bersila diatas rumpun alang alang kumitir, tanpa sedikitpun membengkokkah rumpun alang alang yang yang tegak, kumitir kena angin, sambil berseru bahwa dia tidak menghendaki tahta, wong tahta dia lebih bagus dan langka, ya tempat yang diduduki itu.  Dia hanya akan mendampingi Raja Putri kekasihnya yang menjadi Rajaputri di Kadiri. Kalau ada yang menghendaki kejayaan Kerajaan kadiri, menaklukkan dan menjarah kerajaan tetangga, ayo ikuti rencana Kalakatwang mendampingi Sri Ratu, bila tidak, silahkan meniru duduk di atas rumpun alang alang kumitir ini. Mereka kerabat dekat Raja terdiam, bahkan  tidak mampu melawan tatapan mata tokoh ini, lagipula penaklukan Negara tetangga tidak merugikan mereka, bahkan menguntungkan. Walaupun ratu Kadiri yang setengah baya itu dijauhi para kerabat karena takut, tidak menganggu atau berani mengungkapkan ketidak setujuannya kepada sang Ratu,  anggapnya dia sebagai Seri Ratu bisa memisahkan diri dari dia sebagai pribadi, Sang Ratu tidak tahu bahwa pembiaran itu karena para kerabat takut. Tidak pernah ada yang menyangka bawa disiang bolong, dihadapan orang banyak disatu halaman yang ditumbuhi alang alang, seorang tokoh menggelarkan ilmunya, sebenarnya hanya tipuan sulap, layaknya David Copperfield, menidurkan gadis pembantunya di udara tanpa alas, yang ini dia hanya duduk bersila dipucuk pucuk daun alang alang yang kumitir ditiup ngin, apa bedanya.
Perbuatan Kalakatawang dengan mengatur terlerbih dahulu  rumpun alang alang dengan meja yang ditutup bagain bawahnya dengan cermin tegak diantara kakidepan meja itu dengan cermin dantara alang alang, dan suasana menjelang senja, memang benar benar mengesankan dia duduk diatas alang alang kumitir.
Kalakatwang pesilat tingkat tinggi,  meloncat sambil salto dan langsung bersila dengan enteng adalah perkerjaan mudah sekali, dengan efek yang sudah diperhitungkan. Artinya Kalaketawang cukup realistis, tidak mungkin ilmu hitam  bahkan ilmu silat bisa menjadikan dia Raja, tapi mengolah  dan menganyam suasana disertai dengan sedikit sulapan murahan, tapi dengan situasi  yang tepat, dia yakin akan berhasil.
Sedang hadirin melihat dia duduk bersila santai diatas alang alang  efek yang sudah diperhitungka masak masak, adalah sambaran petir bagi jiwa jiwa yang lagi labil. Terlebih akibat tawaran untuk mengabdi Kadiri menaklukkan Kadipaten kanan kiri, yang sabenarnya hadirin ya condong untuk melaksanakan, tapi tidak mampu, Yang ini hanya menerima bagian dari harta rampasan yang akan memakmurkan mereka, sifat serakah, sudah menancap dalam jiwa mereka, membuat petunjukan sulapan itu makin efektip diliputi magis.
Sebagai suami Sriratu, Kalaketawang diberi  gelar dan julukan kehormatan Pangeran Agung  Jayakatwang. Para Brahmana mengarangkan silsilah sang Jayakatwang untuk dipercaya rakyat, silsilah Pengeran agung  langsung dari Bhatara Guru.
Segera Kadiri berubah. Sidang Kerajaan Kadiri menjadi sidangnya para pemelihara kuda, ahli kuda ahli penunggang kuda, karena sang Jayakatwang sangat piawai tentang kuda dan ahli menunggang kuda, yang sebenarnya tidak dia perlukan, ilmu hitamnya dapat membawa dia kemanapun secepat kilat. Para ahli ilmu hitam bisa mencuri satu pusaka tapi tidak bisa merampok kekayaan satu Negara. Para ahli ilmu hitam bisa dengan mudah masuk ke peraduan Raja musuhnya dan membunuhnya tapi tidak bisa menaklukkan Negara, Jayakatwang sangat mengerti itu, makanya dia merencanakan untuk menjadi Raja dengan gabungan segala daya upaya meski sangat rendah dan sederhana seperti sulap, dan memikat perawan tua.
  Selang dua tahun Pasukan berkuda Kerajaan Kadiri sudah membakar Kadaton Wengker, menuntut upeti yang besar, untuk mengganti dihentikannya penyerbuan kedua. Sengaja semua kerabat Raja yang sudah mangkat diberi hadiah uang emas dan perhiasan hasil rampokan, dan diterima oleh mereka dengan bangga, seolah olah dari Dewa Wisnu sendiri. Yang terbesar adalah   persembahan kepada para Brahmana Rsi, yang bisa diajak kerja sama dengan Pangeran Agung.
          Kadipaten Kling, belajar dari pengalaman kabupaten Wengker, memilih menakluk membayar upeti. Selang empat tahun Jayakatwang jadi Raja di kadiri pasukan berkudanya sudah empat ribu lasykar dengan kuda kuda pilihan, busur panah yang agak kecil, cocok buat lasykar berkuda, bisa detembakkan  dari atas kuda yang sedang berlari kencang, busur ini diperkuat dengan tulang rawan hiu tutul yang dikeringkan, ikan ikan ini sebenarnya jinak, setiap tahun mengunjungi pantai walayah Probolinggo. Potongan tulang rawan kering ini diikat dengan otot menjangan untuk menyatukan dengan busur dari Kayu hutan  Sokadana, yang khusus untuk busur panah, mata panah dari besi tuang yang runcing seperti kucup bunga kantil, lantas seluruh anak panah digosok licin dengan minyak jarak yang tidak mudah kering, sehingga bisa menembus perisai dari kulit kerbau yang tebal, dengan mudah.  Bagi umumnya prajurit darat, perisai dari logam memang kuat, tapi kerlalu berat untuk digunakan perang yang mengandalkan kelincahan, lalu di ciptakan perisai dari kulit kerbau yang dikeringkan berbingkai dan pegangan dari kayu walikukun yang liat dan padat, toh masih seperlima dari beratnya perisai  logam kuningan, yang berat dan mahal. Nampaknya perisai macam ini untuk  tentara darat sudah memadai, tapi kali ini tidak, untuk menghadapi gerombolan limaratus penunggang kuda yang merentangkan busur istimewanya sambil mengeprak kuda yang makin menggila berlari secepat terbang dan dari jarak lima depa melepaskan panahnya, tentu saja mendadak saja perajurit darat Wengker dengan perisai jenis ini pada jatuh bergelimpangan, terutama yang ada ditengah tengah barisan garuda nglayang yang digelar oleh Panglima Wengker. Masih disususul dngan ratusan gerombolan penunggang kuda yang berlari sepeti gila, tepat menembus barisan bagian dada dan kepala garuda,  yang tentu saja pasukan yang patuh pada aba aba Panglimanya, dan sekarang tidak ada aba aba kedengangaran, mereka yang sempat lebih suka membuang perangkat perangnya dan berlari minggir cecepat cepatnya, malah ada yang memanjat wringin kembar ditengah alun alun. Pendek kata kacaunya barisan garuda nglayang  Wengker seperi cerita ini.
    Jayakatwang sudah memperhitungkan kekacauan ini, telik sandinya sudah berbulan bulan sebelumnya sudah berada di Wengker, menyiapkan rute penyerbuan, menyiapkan di hutan hutan tempat berkumpulnya pasukan dengan sembunyi sembunyi, menyiapkan rintisan kearah gunung Wilis dan kearah Parsembunyian di hutan yang lebat di Slahung. Menyembunyikan pasukan berkuda dengan lima ratus kuda kuda dalam waktu lima hari bukanlah barang gampang’
     Sebulan sebelumnya di hutan Slahung  ditengah tengah perbukitan sekitarnya yang konon masih dihuni macan gembong, malah dilepasi macan macan gadungan dari Lodoyo dan Campur Darat, wilayah Kadiri, disana disamarkan tempat menyenbunyinya kuda kuda perang,  dengan rombongan penyarat kayu jati.                            
Sebulan sebelumnya di hutan Slahung  ditengah tengah perbukitan sekitarnya yang konon masih dihuni macan gembong, tempat menyenbunyikan kuda kuda perang, disamarkan  dengan rombongan penyarat kayu jati.  Sapi panyarat diganti dngan kuda kuda meskipun tidak wajar tapi cukup beralasan, bukitnya cukup terjal, tegakan kayu jati meski istimewa lurus dan panjang tapi berdiameter tidak lebih dari 20 jari, jadi sebenarnya ringan saja. Seratus kuda dapat disamarkan selama lima hari dengan baik.
Sebagian besar kuda kuda disembunyika di lembah sempit sungai kecil yang menjadi hulu sungai Madiun, trnyata lembah itu mampu menyembunyikan kuda kuda yang  empat ratus sekor, penungganngnya berlaku sebagai pimpinan pasukan perintis yang diatur melingkari kandang kuda dengan jarak satu  yojana, dua yojana dan lima yojana, tidak satupun pencari kayu atau kelana perambah hutan yang sampai tahu adanya persembunyian kuda luda itu, bila perlu mereka itu dibunuh ditengah hutan daripada menyiarkan berita kecurigaan. Telik sandi giat mengabarkan penyaratan gelondong kecil dari Slahung, yang lain kelompok menyiarkan berita adanya gladi perang di alun alun pada hari Anggoro Manis tiga hari mendatang  ini, pokoknya berita berita menjadi ramai simpang siur disertai dengan suguhan tuak keras untuk mengangkat semangat penduduk diluar istana Wengker. Disamping itu memang Jayakatwang telah mengirim surat bahwa pada hari Anggara Manis akan ada pasukannya akan menjemput permintaan picis emas dan rajabrana untuk diserahkan kapada kerajaan Kadiri, sepuluh ribu picis emas dan rajabrana untuk wiwahan para Brahmana.
               Ini apaan, teriak sang Prabhunata  Kramadayapati,  aku akan persiapkan pasukanku dengan pacak baris garuda ngalayang yang terkenal itu juga dengan mudah dirubah menjadi barisan cakra byuha sangat mistis membuat bingung bahkan kuda kuda perang, untuk membuat keder utusan, agar pulang mencawat ekor.
               Iya saja semua prajurit Wengker dengan bersenjatakan tombak panjang dan perisai dari kulit kerbau, lima  ribu pasukan dabawah lima Menggala Mantri dan panglima sendiri ki Gagak Lodra akan memimpin “penyambutan” ini  yang artinya pengeroyokan utusan  atau pameran kekuatan kepada pesukan utusan  Kadiri yang kurang ajar ini.
Menjelang matahari dua jengkal dari ufuk timur, pasuka telah siap dengan gelar garuda nglayang, Dikepala garuda manggala mantri Macan Ngalumba, yang terkenal gagah berani, didada baris garuda nglayang ini  Penglima Manggala Nindya Mantri Gagak Lodra, dan banyak manggala yudha yang lain di sayap garuda.
Ini  aneh, kata Taniro, pawongan di pinggir jalan, wong perang kok memberi tahu terlebih dahulu, kan lama memijat buah ranti saja, untuk mengusir para utusan dengan pasukannya..
    Pada saat matahari ditengah tengah langit yang tidak berawan, kepulan debu amat tebal dari arah barat barisan dialun alun, dalam hitungan detik para penunggang kuda dengan kecepatan mengila berderap dari samping barisan sambil merentangkan busur mereka yang istimewa.  Anak panah yang  licin dan tajam segera ditembakkan dari jarak lima depa didepan. Pasukan berbaris dalam formasi garuda nglayang jadi bergetar. Akibat dari parajuri parajurit yang melemparkan tombaknya dan disusul dengan tembakan panah penyerbu. Sangat cepat ditujukan kepada kepala garuda, leher dan dada barisan garuda nglayang.  Para prajurit bergelimpangan, tertembus panah ada satu panah yang mampu menembus dua orang. malah ada yang mampu membuat kuda teronggok melemparkan penunggangnya. Yang berkuda ini adalah perwira Wengker. Singkatnya serangan kilat dari samping  ini oleh pasukan berkuda, meluluh lantakkan baris pasukan Wengker. Setiap tentara berkuda berhasil menembakkan tidak kurang dari sepuluh anak panah tanpa mengurangi kecepatan berlari, kepala leher dan dada garuda porak peranda. Sedang pasukan berkuda ini terus menghilang begitu saja. Belum sampai debunya hilang disusul dengan pasukan utama yang semua berkuda, dengan senjata yang sama. Kuda kuda menyerbu dari depan garuda yang sudah kehilangan kepalanya, ada yang sambil bediri diatas pelana kuda yang berlari kencang, menarik busurnya dan menembakkan  panahnya   berturut turut lima anak panah  dari endong panah yang sudah menggemblok di penggungnya. Pasuka utama, empat ratus penunggang kuda yang gila seperi gerombolan ikan hiu yang haus darah.
 Panglima Gagak Lodra beruntung jatuh dari kudanya yang mati kena panah, pombongan utama pasukan berkuda menyebar yang dari depan barisan, berhasil mebunuh semua perwira berkuda Wengker yang mengelilingi sang Gagak Lodra.
Masih berlari menuju ke Wantilan agung sambil menembakkan panah bersurat
Isinya dalan dua hari mendatang untuk menghindari perampokan Kota Wengker, diminta penyediakan permintaan sang  Jayakatwang. Agar tidak ada korban yang tidak perlu, untuk hari ini sudah dianggap cukup.                  
 Ternyata sang Jayakarwang mempersiapkan penyerbuan ke Wengker dengan pasukan berkuda ini sudah hampir setahun, dengan sangat teliti, mengirimkan telik sandi disertai dengan pasukan darat yang menyamar menjadi tukang sarad gelondong jati sudah ada seribu dua ratus prejurit dan perwiranya, Pekerjaan utama mereka adalah mengacaukan berita di kedai kedai tuak yang juga didirikan jadi milik mereka. Membeli Penjabat untuk mendapat tahu berapa penghasilan sang Raja dari pajak dan penjualan kayu glondong jati, dan tambang emas di gunung Wilis. Mencatat keadaan penduduk kota para prajurit Wengker dan senjata andalannya, termasuk para waranggono dan wanita bebas di ibukota Wengker, setiap orang kaya di setiap kampung dimana rumah yang dihuni  para lurah dan demang
Pasukan kedua  ini yang merupakan pasukan “baris pendem” sudah dikirim ke Wengker  tinggal di Wengker paling sedikit satu tahun , lantas beraksi disetiap kampung memisahkan penduduk laki dewasa dengan perempuan, sesudah dipisahkan penduduk perempuan yang klimis dan muda semua ditawan dan dibawa  ke hutan Slahung  untuk melaksanakan orgy kaum bhairawa. Mahargya, matsia dan maithuna, mamsa, dan  ma’adra   komplit, seperti adatnya kaum bhairawa, para jawara penunggang kuda ini dengan cepat terserap dalam adat kaum bhairawa.
    Singkat kata, malah ada beberapa wanita Wengker yang ikut ke Kadiri, mengikuti suami dadakan mereka, karena mereka memang waranggana dan ceritanya Kadiri memang pusat pergaulan bebas yang baru menanjak, bergelmang segala kekayaan dan kenikmatan.(*)                      
 




Rabu, 02 Desember 2015

MEMBANGUN DEMOKRASI

MEMBANGUN DEMOKRASI
Republik Indonesis telah memutuskan tujuh puluh tahun yang lalu menjadi Negara Demokrasi.
Waktu itu mungkin founding fathers kita belum begitu menyadari, bahwa “ demokrasi” dalam kenyataannya tidaklah begitu sederhana seperti permainan kasti. Demokrasi mempunyai aturan yang tertulis maupun yang tidak tertulis, yang harus disadari oleh seluruh rakyatnya, tanpa batas umur dan gender. Apalagi demokrasi liberal. Sebab kebebasan individu indivdu harus tidak bisa mencederai kepentingan orang banyak, jadi sikap individu masing masing orang harus diatur oleh setiap pribadi sendiri, asal masyarakat tidak menderita, ini idealnya.
Bagaimana tidak ?
Rakyat pemilih yang lebih dari seratus limapuluh juta, harus mengerti siapa yang dipilih untuk mewakili mereka supaya ringkas dan efisien. Tapi si calon hanya sewa penyanyi, menyanyikan jingle di TV secara periodik, nomer urutan pencalonannya, pikir si calon dengan jingle yang periodik ini bisa menanggok suara pemilih yang masih bingung, ini kan hipnotisme massal, yang sangat primitip ?

Baru prosesnya untuk mendapatkan wakil yang benar benar mewakili rakyat saja sudah merupakan persoalan yang rumit, bila dilakukan diantara rakyat pemilih yang masih mempunyai selera corak masyarakat komunal purba,  atau yang sedikit lebih maju masyarakat perbudakan  dan  tingkat lebih maju  ialah masyarakat feudal.
 Konstelasi  kakuasaan lebih maju dan  itu kita belum pernah mengalami. Sedang masyarakat yang mampu meng-implementasi-kan demokrasi liberal adalah masyarakat yang tingkat kesadarannya sudah sangat maju, telah mengalami susah dan sakit sangat lama dengan sistim masyarakat yang lebih kuno, misalya masyarakat perbudakan dan masyarakat feudal yang sudah lama mereka tinggalkan, sebab berganti corak menjadi mesyarakat demokrasi leberal.
Konon masyarakat Perancis sudah muak dengan feodalisme, pada tahun 1776, rakyat miskin Perancis memakzulkan rajanya dengan Revolusinya yang terkenal ini, effek dari itu berkepanyangan sampai Napoleon Bonaparte diangkat jadi Kaisar lagi, kemudian keturunannya Mapoleon  III, sudah itu feodalisme disana benar benar sudah bubar diganti dengan Republik Perancis Dengan azas demokrasi libeberal. jiwa rakyat Perancis sudah menikmati demokrasi liberal ini meskipun sejak semula perut rakyat Perancis sangat tergantung dari kaum industrialis kolonialis sampai kaum pemegang kendali kekuasaan ini dibimbangkan oleh Jendral Tua Petain yang pro Ultra Nasionalis Nazi Jerman (NAZI) dan Negara Perancis hanya setengah hati melawan hegemoni Nazi, sedangkan rakyatnya mulai marah dengan represi perang ulah Jerman Nazi ini. Setelah Peang Dunia ke II Nazi bisa dihancurkan, rakyat Perancis dan industrialis Perancis sadar dan kembali ke Demokrasi liberal. Lihat berapa lama rakyat ini belajar, kaum borjuasi industry belajar hidup bengan Demkrasi liberal – belajar berdarah darah sampai hampir seabad. Yang sangat diuntungkan dari pembelajaran Rakyat Perancis malah Negara kecil Swedia, yang penduduknya sedikit, indstrialisnya bejiwa kekeluargaan karena Negeri Swedia waktu itu hampir monolit satu corak saja. Mereka sepakat untuk mengambil satu Jenndral dari Pasukan Peranis Raya yang bisa mencoba menduduki Russia - dipimpin oleh Napoleon Boneparte. Sebelum petualangan penjerbuan ke Steppa Ukraina dan dataran sungai Don, Swedia mengundang Jendralnya Napoleon Bonaparte Perancis, Bernadotte dan istrinya, anak pedagang Sutra Desiree Clarry, yang romantis, untuk menjadi Raja dan Ratu di Swedia, pasangan ini  sangat egaliter, untuk selanjutnya Swedia jadi Negara kerajaan yang sangat demokratis, ( liberte, egalite, fraternite) tanpa pertentangan yang berdarah darah kayak di Perancis.
Nampaknya kita di Indonesia tidak seberuntung rakyat Swedia pada abad abad yang lalu, kita harus belajar demokrasi dengan jalan yang penuh onak duri, yang harus kita atasi dan kita lewati.  Bahkan Ketua DPR kita korak egois, profiteer yang tidak kenal etika, Kapitalis kita dari etnik yang  “bakul” (istilah bahasa Jawa), dengan gampang bisa memperoleh kewarganegaraan deseluruh dunia dari hartanya dimana mana. Politisi kita masih hidup dalam era komunal purba, mengandalkan keturunan dengan hak pemilikan tanah yang luas untuk keluarga besarnya, kekerabatan suku, dan feodalistis yang berkuasa nutlak, dalam autokrasi dan plutokrasi, begitu juga  pemuka agama kita dari lapisan dan etnik sang sangat tidak sabar untuk mendidik-kan praktek  demokrasi melainkan autokrasi berlandaskan fanatisme, kayak Hasan al Sabah si Raja Gunung Alamut , dengan uangnya yang dari korupsi. NasionaIis kita tidak punya nurani kepemimpinan, melainkan hanya cari uang thok untuk jadi  petugas partai yang cocok untuk itu. Terwakili di DPR RI sekarang, wakil wakil dari saringan yang semu, rakyatr yang gampang ketipu karena ketergantungan pda hubungan feodal dengan wakilnya denga tipu daya. Conothnya Setia Novanto adalah wakil Gokar dari NTT, karena dia Katholik,  lho kok ? - padahal Romo Frans Magnis Suseno saja sudah muak sama perilakunya.
Saya mohon untuk sekali ini saja. Didiklah rakyat untuk ber-demokrasi- demi existensinya sendiri.
Hla kapan rakyat akan mengerti, bahwa alam hidup plural seperti di negeri ini, alam hidup gotong royong didaerah rawan bencena alam kayak di Indonesia ini. Perlu deberi wadah dan label demokrasi yang sesungguhnya, di-didik-kan dalam hidup keseharian di alam yang plural dan rawan bencana ini, yang naluriah dari dulu sudah ada. Yaitu “Perlakukan tetanggamu seperti saudaramu, darah dagingmu sendiri dimana saja di Negeri ini”.  Wong nyata nyata sekarang ini tetangga sendiri saling tidak kenal, tau tau e e digrebeg polisi karena pabrik extasi. Na sekarang siapa yang halamannya dipagar tembok dua meter setengah dan gerbangnya di gembok, setinggi  jauh diatas dari peraturan kota madya yang dari zaman kolonial dulu sudah ada, kacuali di wilayah Pecinan dan kampung Arab ?*)

Selasa, 01 Desember 2015

6. MATAHARI TERBIT D WILWATIKTA PURA

                             6. MATAHARI TERBIT DI WILWATIKTAPURA (SERI 5)

3.47 PM  SUBAGYO KOESNO  NO COMMENTS
Titik balik nasib raden Wijaya

Pada hari kelima raden Wijaya mendapat giliran pertama menggelar tugas yang diberikan. 
Karena dia hanya ditemani oleh saudara seperguruan Gajah Segara dan Carat Seto yang awam  engenai  ilmu sastra dan ilmu bheksa wiama, selama lima hari dia ditemani oleh sang Nenek yang hampir tak berdaya masih bisa mengelus kepala sang cucu yang sejak kecil menjadi yatim piatu. Segala perasaan campur aduk, Raden Wijaya dengan sabar  mengikuti sang nenek menjalankan tugasnya dibalai pemujaan para pitri.
 Waktu sang nenek menanyakan apa yang akan digelarkan dihadapan Baginda, Raden Wijaya lantas menceriterakan apa yang dipelajari dari Empu Bhismasadana sampai  ilmu kebathinan pengenalan catur sanak hingga dikuasainya,  ilmu ilmu penting untuk membimbing  perahu ke tujuannya,  ilmu perbintangan dengan edaran bulan matahari dan  rasi rasi bintang , tanda tanda alam sesuai dengan posisi rasi bintang tertentu dilngkup langit, membahas Dharma dari  kitab kitab suci, juga bermain catur.
Neneknda tercinta sambil berkaca kaca, matanya yang sudah berkeriput mengguman seolah olah pada dirinya sendiri, kepandaianmu mengerahkan catur sanak tidak bisa kau gelar dihadapan Raja, ilmu ilmu yang diajarkan Bhisma tidak layak hanya diceriterakan karena untuk apa ? Semua itu sangat benar dan berguna bagi seluruh manusia sesudah semua kau gengam ditanganmu cucuku, benar sekali Bhisma mewariskannya kepadamu. Mendadak mata tua sang  nenek berbinar, apa kau tadi  bicara sering bermain catur dengan gurumu itu ? Benarkah ? 
Kebetulan sang Prabu adalah pemain catur yang sangat piawai, banyak tamu dari jauh dari manca Negara menghadap sang Prabu dengan membawa hadiah yang barang langka dan sangat berharga hanya untuk bermain catur dengan Baginda, seperti juga ayahmu yang sudah makayangan. 
Ya cucuku bila waktunya tiba, bawalah papan catur dan buahnya yang nenek masih simpan dibalai pemujaan para pitri seizing Baginda, pakailah selempang kebrahmanan,  tapi gelunglah rambutmu disini nenek akan bantu mengenakan penampilan satrya pinandita.  
Ajaklah baginda bermain catur dua babak, wahai murid sang Bhismasadana! 
Dia akan mengenal seluruh sosokmu luar dalam tanpa kamu bicara dan tanpa orang lain tau, bagus sekali, nenekmu  percaya mpu Bhisma tidak sia sia mengajar kamu.
Pagi hari Soma, Raden Wijaya keluar dari salah satu kamar disamping bale pemujaan para pitri  dimana neneknya tingal, mengenakan alas  kaki dari anyaman daun tal  dan rumput rawa yang dikeringkan, seperti yang biasa dipakai oleh kaum brahmana, salwar  putih sampai mata kaki, mengenakan kampuh sutera berwarna kuning  pucat  diperkuat dengan pending perak selebar empat jari bertelanjang dada dan mengenakan selempang tali sebagai seorang brahmana, tetapi rambutnya yang tebal digelung padat diatas kepala diikat oleh pita hijau dengan banyak lilitan oleh nenenda,  pinggangnya nampak ramping, otot dibawah kulit tidak begitu menonjol namun nampak seingsat tanda aliran darah seputar tubuh berjalan sangat baik, penampilan satrya pinandita, sambil mengepit kotak kayu cendana  berikut  anak caturnya,  panjangnya antara sehasta  inilah papan catur dengan buahnya dari gading dan kayu hitam.
Bertemu saudara  seperguruannya di halaman Wantilan Barat menunggu dijemput untuk diantar masuk kalangan, Raden Wijaya masuk kalangan dengan menguncupkan sembah walau berjalan biasa tapi memancarkan hawa  kuat  dan nyaman seolah olah sudah  sering hadir dilingkungan yang mestinya  memancarka keangkeran dan wibawa ini, sehingga tidak ada suara apapun. Pada tempat yang ditentukan Raden Wijaya berjengket meletakkan papan catur yang berbau cendana.  yang menarik perhatian sang Raja, dengan segera baginda mengisyaratkan supaya mulai mengelar karyanya. 
Dalam keadaan berjengket dan menguncupkan sembah, Raden Wijaya menuturkan tentang dirinya dengan suara yang lirih namun berisi tenaga  murni  yang tak terukur karena hadirin seluruh wantilan mndengar dengan jelas. 
Selanjutnya  dia menuturkan bahwa  neneknya yang bekerja dibalai pemujaan para  pitri di istana Baginda, bahwa dia adalah murid Mpu Bhismasadana dari perdikan Sendang di Japan, berusaha menjadi abdi Singhasari yang berguna sebagai seharusnya anggauta wangsa Girindra. Akan diutarakan dengan permainan catur menghadapi  baginda bila berkenan.
Baginda tertegun sejenak, merasa gembira karena teringat sebulan  yang lalu, beliau bermain catur dengan brahmana Rsi Damardana, dan mengalahkan dengan telak setelah melakukan langkah langkah pertukaran merugi tapi empat langkah  berikutnya terbukalah jalan kemenangan ternyata beliau mampu memperhitungka segala kemungkinan  empat langkah yang belum  digelar dengan segenap kemungkinannya untuk  dipertimbangkan. 
Jadinya  Baginda sangat bersemangat  mengingat  keberhasilannya – segera  memerintahkan  mantri Jero  dengan tertawa gembira, menyiapkan permaina catur langsung atas petunjuk Baginda, satu meja rendah diletakkan ditengah kalangan, bginda menmerintahkan mengambil  dampar dalem untuk beliau bersantap bersama permaisuri, tempat duduk yang lebih nyaman lebih rendah dudukannya dari dampar  pisowanan yang tinggi, menyilakan Raden Wijaya untuk menghadapi beliau sambil bersila.
 Semua hadirin bisa melihat jelas papan catur yang mulai disiapkan. Beliau sangat ingin mengukur murid mpu Bhismasadana yang lama beliau kenal  dan puluhan tahun tidak bertatap muka, baginda malah berharap meskipun murid Mpu yang berilmu tinggi toh masih muda mestinya masih lebih rendah dari Rsi Damardana.
 Sebagai penantang Raden Wijaya memegang buah putih yang melangkah lebih dulu, dengan cepat Baginda melakukan langkahnya, sampai  lima langkah kedepan masih pembukaan yang  umum, langkah ke enam Raden Wijaya tidak menempuh jalan yang umum tapi penyerangan dari  dua sisi dengan memindah raja selangkah kedepan. Semua hadirin menghela nafas atas kesembronoan sang penantang yang cari penyakit, karena langkah ini mengandung resiko tinggi  pada setiap langkah berikutnya, apalagi menghadapi Prabhu Kartanegara yang tersohor mumpuni dibidang ini.
Hening henap di pendapa dalem, Baginda duduk dengan santai menikmati anyaman pemikirannya yang nenjangkau jauh kedepan, terus menenerus memberi tekanan tanpa ampun kepada raja putih yang terbuka. Raden wijaya setengah memejamkan mata dengan takzim melakukan langkah demi langkah, dalam keheningan dengan bantuan catur sanak Raden Wijaya menembus anyaman pemikiran Baginda, Baginda merasa ada kilatan kilatan sambung rasa antara beliau dan lawannya, beliau segera meusatkan pikiran , lenyap rasa alam disekitarnya yang ada adalah kilatan Tanya jawab mengenai pertarungan catur langkah langkah yang sedang dihadapi dan lain pemikiran saling bertanya dan saing menjawab yang sangat intense dan menyegarkan pendapat dan pertanyaan diutarakan diantara langkah langkah buah catur yang semakin berat disela sela bau cendana yang semakin terasa bagi  segenap hadirin, seolah olah menandakan kehadiran para pitri, yang nampak mereka yang saling bertempur dimedan catur tapi apa yang mereka berdua  bahas dalam saling masuk ke anyaman pemikiran masing adalah kilatan tanya jawab mengenai  hukum alam semesta  keseimbangan abadi semakin nenonjol ditandai dengan langkah berbahaya yang selalu ada jalan keluar yang menimbulkan bahaya  baru silih berganti. Kedua petarung kelihatan semakin santai dan mereka memejamkan mata, sedang penonton terus menerus terombang ambing diantara kelegaan dan kecemasan. Meskipun  yang nampak permainan catur ini dilakukan dengan irama yang tetap tidak melambat maupun makin cepat tapi dalam penyatuan bathin mereka berdua  ada tanya jawan dan argument yang meninjau seluruh intisari kitab kitab Wedda, Upanishad, dan Wedda kelima yaitu Mahabharata, riwayat sang suci Rama, kitab Tripitaka dari  Sang Budha, ajaran Sun tsu,  semua diutarakan untuk mendukung setiap langkan jurus catur  yang dimainkan. 
Jadi sebenarnya yang terjadi adalah mereka berdua bersama mencari kebenaran semesta dan setiap langkah adalah Dharma, kebenaran yang mandiri yang mereka cari bersama. Rwa bhinedha akhirnya seri. 

Hadirin sampai lupa bahwa permaina babak pertama sudah berakhir.
Permainan biasa yang tidak cepat dan tidak lambat, dimainkan hingga tiga puluh lima jurus, begitu ghaibnya sehingga hadirin kehilangan rasa mengenai waktu, mereka mendapatkan resonansi  tergetar jiwanya sesuai dengan tingkat tingkat pencarian masing masing, semua merasakan kelegaan  pencerahan  samadi yang berhasil. Tanpa merasa hadirin saling memegang tangan dengan teman duduk disebelahnya, gembira tanpa sebab seperti anak anak.
Oleh karena waktu sudah habis dan peserta kedua untuk hari  itu sudah dipersiapkan, maka permainan kedua ditunda khusus sesudah sandyakala, para hadirin diperkenankan ikut menjaksikan.

Suasana meriah tanpa sebab mengawali pagelaran peserta undangan hari  itu.
Dua  dara kembar dari  kadipaten Jagaraga, cabang dari keturunan Rakryan Ranggawuni.
Segera gamelan ditabuh dengan irama degung, kedua gadis kembar ini masuk wantilan dengan menari baris putri yang mereka ciptakan sendiri  
Dua dara kembar berkulit kuning langsat semampai diatas rata rata putri bangsawan, dirias sempuran sebagai penari srimpi,  hanya untuk mebawakan tari baris putri ini, kain dodot, bagian dada tertutup oleh lilitan sutra kunng muda hingga dibawah ketiak layaknya dandanan penari legong Bali sekarang,  berbarengan menuturkan mereka sudah lama bermukim di  Ibukota Singhasari belajar menari dari umur lima tahun bertekat untuk mempersembahkan senibudaya tari untuk Kerajaan Singhasari  sebagai gerakan yang  menyehatkan jiwa raga , gending kinanti titutup disambung dengan irama sampak denga kendang keras dan bleganjur. 
Secepat kilat kedua penari serempak berdiri dan dodot dturunkan\destar dilepas,  kedua penari menjelma menjadi penari serimpi. Dengan rambut yang terurai. 
 Sulit dirunut peristiwa menyenangkan yang saling susul ini,  Baginda Kertanegara merasa sangat gembira karena belum pernah selama hidupnya bermain catur tanpa kesalahan dan penuh tenaga sampai akhir  walau berkesudahan seri, merasa kepalanya ringan tanpa beban karena paham gerakan dan getaran bhuana agung, rasanya seperti Bhatara Mahadewa  yang  lagi  menari untuk menciptakan dunia seisinya.
Kedua penari putri kembar Mahisa Andini dan Mahisa Anindita mendapat sambutan yang meriah dari para hadirin, Baginda lanjutkan kegembiraannya dengan mengundang hadirin  bersantap andrawina secara  mendadak dihalaman taman dalam Istana Singhasari, membuat abdi  istana dan tumenggung rumah tangga istana  bertindak sigap, dan para abdi  kedathon kalang kabut. Puluhan  prajurit diutus menangkap ikan tambera dan ikan gurami  dikolam besar diluar siti hinggil, menangkap semua babi dan kambing muda punya penduduk  Mager sari ditukar dengan uang perak  kedathon, sekejap terkumpul  bahan untuk babi  gulig dan kambing guling bebek dan ikan  gurami semua dipanggang di bara api arang bathok  kelapa dari dapur istana dialasi daun pisang dan piring  piring  besar dari Cina, entah kenapa pohon magga di pinggir balai pemujaan para pitri nampak berbuah ranum dan lebat pada  hari  itu, apakah dihari hari lain tidak diperhatikan ?. Tanpa dirasa semua hidangan sudah tersedia tidak termasuk tuak dan brem, buah mangga dan jambu dharsana masak ranum halaman istana, nasi beras merah yang harum sudah teesedia di beber di nampan nampan besar dari perak sambil dikipasi para abdi supaya mendingin.
Sambal puluhan cobek batu di lembutkan oleh para abdi ditempat menjadikan suasasana sangat meriah, semua bersantap andrawina dengan lauk yang sederhana manun nikmat luar biasa, karena hampir tidak pernah baginda Krtanegara begitu santai dan tanpa beban, sehingga mempengaruhi seluruh istana dihari itu. Mungkin para pitri brkenan membantu mnciptakan makanan dan suasana senikmat ini dalam sekejap, tanpa direncanakan. Para penabuh gamelan, pengikut dan pendamping pemuda pemudi bangsawan sinoman yang diundang berkumpul diseputar wantilan, semua mendapatkan makanan lorodan ( sisa makanan ) yang sebenarnya pngisian kedua maupun ketiga dari mnampan nampan besar itu dari  santap handrawina dadakan baginda Raja dan para nayaka narapraja, Pemaisuri dan para putra puri raja yang sudah dewasa, peserta sinoman wangsa Girindra putra putri, pendamping dan pengikut mendapat santapan dengan tertib dan bebas, tak habis habis sampai para penabuh gamelanpun mendapat lorodan dengan sangat bersyukur, bahkan mereka hanya makan sedikit yang penting akan dibawa pulang konon makanan lorodan santapan raja pada hari itu adalah hadiah para  Dewa bertuah untuk azimat rumah tangga mereka.   
Para pemuda pemudi sinoman merupaka kelompok yang istimewa kerena putra putri Baginda dan putra putri para Nindya Mantri bercengkrema dengan bebas diluar kebiasaan etiquet istana yang ketat saling mempersilahkan makan saling melayani dan minun makan sangat sederhana, kelapa muda yang baru dipangkas langsung, nasi merah dan panggang daging di beralaskan daun pisang sambal mentah terasi layaknya petani makan di dangau bukan andrawina kerajaan. Sungguh peristiwa yang luar biasa. Para emban tua pengirng putri kedaton entah kenapa pada saat itu seperti kena sihir mebiarkan asuhannya lepas dari tatacara istana dan makan sirih sambil melamun berbisik satu sama lain tesenyum dan menerawang mengingat masa muda mereka. Sesudah sepenggalan dupa tebakar habis, Baginda berkenan mundur ke  pakuwon dalem  dan andrawina dadakan yang meriah dan aneh ini ditutup.

Para emban putra putri raja terhenyak dan bergegas membimbing asuhannya masuk pintu pagar tembok rendah yang dirupakan candi  bentar gapura  yang sempit. Segera hadirin para muda mudi sinoman kerajaan ingat diri berjengket menyembah dibalas sembah sambil sedikit meneku lutut dan ucapan trima kasih atas keramahan mereka sambil yesenyum, ada empat putri kerajaan dan dua putra pemuda tanggung, yang sudah tinggal di  sayap kseatryan kedaton Singhasari. Belasan sinoman kerajaan diiringi Paranpara dan pembantu pagelararan yang jumlahnya empat kali lipat dan masih ada yang menunggu diluar pintu kedaton dalam. Raden Wijaya pamit kepada dua teman seperguruannya yang setia menemaninya, pamit  untuk mengembalikan papan catur    kepada sang nenek yang menunggu di satu pavilion mungil di sebelah balai pemujaan para pitri dalam  puri Singhasari.*)
  
Titik balik nasib Raden Wijaya II – Pertarungan diatas papan catur babak kedua

Telah masuk senja, matahari di ufuk barat tersembunya dibali pepohonan yang tinggi dluar kedathon,   tinggal sinar cerah yang berwarna kuning muda memenuhi udara dan langit, candik ayu. Semua penghuni Kota Raja Singhasari pada bercengkerma diluar rumah, anak anak berteriak, menjerit berlari lari, gadis gadis sudah bersolek, mebicarakan keajaiban di kerataton, yang beritanya sudah tersebar dimana mana. Gamelan di Banyak Pura ditabuh sengan  irama gembira, menambah semaraknya suasana.
Raden Wijaya, sudah keluar dari komplek rumah pemujaan para pitri, sambil mengepit papan catur, dia merasa  segar, setelah minum teh  wangi ditemani manisan waluh bligo a’la China, dari pavilion Nenenda. 
Nampakya penonton bertambambah banyak, sampai wantilan Barat yang serupa doyo untuk bermain silat penuh sesak, ditambah dengan rombongan para Brahmana Rsi, yang  diundang secara langsung untuk hadir oleh Seribaginda.
Sekarang arena dibuat khusus untuk permainan catur, dengan penonton hadirin mengelilingi satu meja rendah dan dampar dalem serta permadani untuk bersila lawan beliau.
Bila sang Raden tadi siang bertelanjang dada dan mengenakan selempang kabrahman, kali ini selempang dan bagian atas badan ditutup oleh semacam rompi berwarna gelap, pemberian nenenda, rupanya nenek ini masih menyimpan milik suaminya yang makayangan puluhan tahun yang lalu. Rompi ini secara kebetulah pas singsat menutupi dadanya yang bidang,  memang tidak berlengan dan dikancingkan untuk penahan dingin, terbuat dari bulu biri biri dari china, yang dipintal sebagai kain, meski tidak tebal rompi  akan tetapi hangat bila cuaca dingin dan tidak gerah bila cuaca panas.
Penuh sesak wantilan doyo,  penonton putri tidak ada, para Brahmana kasyaiwan ada dibelakang  dampar Raja, tenang bersila. Hadirin banyak yang mengenakan baju berlengan panjang a’la China, kebanyakan berwarna coklat muda dan putih, seolah olah nenghadiri upacara keagamaan yang penting.
Hadirin beringsut memberi jalan Raden Wijaya  ke tempat yang disediakan lewat jalan setapak  lurus ke meja rendah ditengah doyo, sambil mebungkuk dia berjalan hati hati sambil nguncupka sembah, dan mengucapkan sasanti kepada hadirin lirih, tapi semua mendengar.
Selelah beberapa lama bersila sambil negatur buah catur, baginda datang diiringi oleh  dua putra perjaka lancur, dan empat putri remaja, rupanya Raja telah memutuskan sesuatu yang penting untuk putra putrinya, kenapa mereka diminta oleh sang Raja untuk turut menyertainya diluar kebiasaan.
Putra putri ini datang dengan berpakaian sederhana layaknya akan menghadiri upacara di pura istana. Semua diperesilahkan duduk ditempat yang disediakan  dibelakang sang Raja, yang mengenakan baju dan dodot didominasi warna putih, gelung  Baginda diikat dibawah kain penutup kepala dipererat oleh mahkota emas layaknya tutup kepala cara Arab.( egal )
 Wijaya bersembah mengucupkan tangan diatas kepala dibawah hidung dan didada  dengan takzim. Dibalas oleh Raja dengan mengembangkan  telapak tangan.
Sang Prabhu Kertanegara membuka buah catur dengan permainan Raja Hindustan, tiga bidak berbaris kedepan dua langkah, Raden Wjaya meladeni dengan tekun pembukaan Raja Hindustan yang agresive, Raden Wijaya menjaga penukaran perwira harus disertai pengorbanan yang berat. akhirnya dengan penuh percaya diri Baginda memberika pengorbanan yang beliau pertimbangkan paling kecil.
Sekali lagi ada kilatan saling tanya dan saling jawab mengenai dharma, mengenai keinginan yang mebanjir menggebu gebu, gelora agresivitas  segera merubah barisan putih  jadi barisan emprit nebha  artinya pertempuran dimana mana, dijawab dengan kelenturan yang nyaris menyudutkan raja, tinggal mencari saat memukul balik bila para perwira dan prajurit semua dimedan laga yang jauh, dan pengawalan raja  kosong, peringatan yang jelas dari Wijaya.
Menjelang langkah ke empat puluh dua, Baginda berucap wahai anakku, jangan andika berpura pura, aku mengerti dharma, aku mengerti kewajiban, aku mengerti aku kalah. Diucapkan dengan lirih, tapi mengandung kabahagiaan yang tidak dimengerti olah hadirin yang semua bisa mendengarkan, berkat tenaga dalam yang tidak kalah kuat dengan lawannya.
Raden Wijaya bersujud takzim, tidak berucap apa apa, semua kosong yang ada hanya kuwajiban dari Yang Memberi Hidup, hamba menjalankan dengan ikhlas  Begitulah jawab Wijaya tanpa berucap dengan kata tapi hatinya didorong oleh  catur sanak berucap tanpa kata.
Baginda tersenyum lebar  kepada putrinya, anakku putri  sulung tahta Singhasari, inilah jodohmu, aku ajak kalian ke perjamuan singkat ini, engkau  aku jodohkan dengan Wijaya, dari Wangsa Girindra yang terpilih, jalanilah dengan ikhlas, bagaimana ?
Alangkah terkejut sang putri raja, dihadapan hadirin sebanyak ini. secepat ini, tapi dia Putri Raja, sudah digembleng  menomersatukan kuwajiban, dia teringat sekilas satu bagian dari Mahabharata, di Wanaprastha parwa, bagaimana keadaan bathin Putri Drupadi dari Pancala sewaktu dijodohkan dengan Pandawa, karena Arjuna berhasil mngangkat sang Gandewa, yang siapapun tak berhasil mengangkat, kecuali sang Karna, yang dia tolak sebelum membidik sasaran dan sekaligus memanah, tapi Arjuna  ini mengangkat dengan mudah sang Gandewa,  membidik tepat pada sasaran yang bergerak.
 Segera dia singkirkan perasaan harga diri pribadi, mengetengahkan kuwajiban  berbakti pada orang tua, tanpa malu malu dia tabah, tanpa malu dan takzim dia berdatang sembah sendika dawuh. Raden Wijaya menguncupkan sembah didada, memandang lurus lurus kearah tuan Putri sulung, menatapnya   dengan tanda tanya betulkah ucapanmu itu setulusnya ? Raden Wijaya menandai ada kilatan tekad dan kelegaan dari sang putri yang hanya sekilatan thatit ( secepat kilat), hatinya  kini malah terguncang, hampir  saja dia menitikkan air mata, mengingat dia satria miskin yang yang yatim piatu dari masa mudanya, sang raden memancarkan  aura sangat bersjukur, untungnya  guncangan bathinnya bisa disembunyikan  dengan berkejap nemutup mata. Dasar tenaga dalamnya sudah cukup kuat, detak jantungnya biasa, mukanya tidak memerah, hatinya yang berbunga bunga tidak nampak dimuka umum.
 Sikap seorang yang bisa menguasai dunia.
Menghadapi situasi yang mengguncangkan hati detiap orang yang mendengar keberuntungan ini hadirin tetap diam, membeku, baru kemudian atas pertanda dari sang Brahmana Rsi, hadirin  tebata bata dan akhirnya bersorak gembira, yang tidak habis habisnya. Sebab perkataan Brahmana dan Raja, seperti panah api, sekali dlepaskan pantang ditarik kembali.
Atas isyarat sang Brahmana dengan sikap mudra, berdiri, semua hadirin melantunkan puja, mengucap sasanti jaya jaya.  Berita kilat dengan cepat merambat ke hunian dan kampong kampong di Kota Raja, bahwa Baginda akan mantu empat puluh hari sejak hari ini. *)

Posted in:


KAPAN INDONESIA MERDEKA DARI DESPOT ORANG KECIL ?

KAPAN INDONESIA MERDEKA DARI DESPOT ORANG KECIL ?
Artikel ini saya tujukan kepada warga Negara Indonesia yang tinggal di kota kota besar, pensiunan PNS, yang  tidak ada halangan untuk membaca, dan tidak alergi terhadap kesalahan ketik dan tata bahasa.
Bagi orang kecil. Artinya urusan pribadi orang kecil - dengan Pemerintah, itu saja sebatas kebutuhan penting dari pribadi pribadi kecil. Sering amatlah aneh, oleh Petugas Negara disingkat “Itu sudah peraturan pak” Titik, bagaimanapun anehnya..
Siapakah semut semut kecil ini ? Mereka adalah warga negara biasa, kewajibannya hanya tunduk kepada semua “peraturan” yang dibuat, ,mulai dibuat oleh DPR nya yang berupa ”Undang Undang” yang sering tajam kebawah dan tumpul keatas”.  Peraturan Peraturan” yang dibuat oleh DPRD dan jajaran Pemerintahan mulai dari Presiden, Pemegang  mandat  terlaksananya Undang Undang,  sampai Satpam, yang makin kebawah, wilayah kekuasaannya makin njata, meskipun hanya sepotong halaman kantor, sebuah gerbang, atau sebuah koridor, bahkan sebuah meja tulis didepan pintu masuk suatu kantor sepenting kantor Kelurahan. Inti peratuan dia ciptakan  meng-enak-kan mereka sendiri sebatas tugas kecilnya ini.
Hanya berlakunya makin keras karena diawasi langsung oleh yang membuat aturan, yaitu satpam dan semua petugas loket maupun meja pertama yang harus dilewati oleh individu  individu yang berkepentingan tanpa alangan selamat,  mengedari ke loket kantor kantor pelayanan Negara yang dibutuhkan  Si sialan yang harus ber-urusan dengan Negara. Sialnya banyak kepentingan semut semut ini yang harus dikaitkan dengan Negara, misalnya, memperolah akta kelahiran anaknya, atau akta Kenal lahir dia sendiri, pemperoleh akta kematian, memperoleh surat pengalihan hak milik tanah, mau kawin, mau cerai, mau mendirikan  atau menambah bangunan tempat tnggal, mau membuat toko,  urusan sakit dengan BPJS. Jaman Orde Baru surat bersih diri, dan lain sebagainya.
Di bidang yang sudah mendarah daging jadi sarangnya autokrasi yang tak terbantahkan, loket loket ini juga  jadi sarang dengan nikmatnya menggiring sisakit pada kemungkinan lain, misalnya dokter memberi resep untuk satu bulan bararti mendapat 30 dosis harian, apotik RS BPJS bilang  tidak ada sejumlah gitu, hanya ada 10 dosis harian saja, yang lain boleh diambil, dengan nanya dulu lewat telepon, entah kapan, telepon ini ndak  ada penerimanya.  Ini berarti obat semahal itu tidak akan ada selama satu bulan. Lha tertulis dalam resep untuk pertanggung jawaban  ke pengeluaran gudang apotik kan tiga puluh dosis sudah dikeluarkan ? Tapi kenyataan yang diterima oleh pasien hanya sepuluh dosis, lantas kemana yang duapuluh dosis, wong si pasien sudah tanda tangan di surat resep sudah terima obat tigapuluh dosis, lu mau apa ? Kok mau tanda tangan penerimaan yang jelas tidak sama dengan yang tertulis di loket ha ?
  Ini menambah banjirnya urusan dengan Pemerintah, yang diwakilkan pada despot despot kecil ini PNS atau bukan.
Tidak peduli siapapun, bahkan mungkin pensiunan Presiden atau pensiunan Menteri, (yang saya lihat pensiunan colonel Angkatan Laut – di fasilitas kesehatan mereka,  kita rakyat biasa boleh nimbrung)  selama mereka  mendapatkan income dari Negara dan sudah dipotong gajinya sejak semula oleh ASKES sekarang  jadi BPJS, emas harganya Cuma sekitar enam ratus rupiah per gram, bila harus sakit dan berobat kerumah sakit dengan jaminan dibayar oleh asuransi BPJS, selalu harus ada fotocopy KTP, meskipun sakitnya kronis yang artinya ndak sembuh sembuh, seninggu sekali harus datang -  APA HUBUNGANNYA?
Karena obat hanya untuk satu minggu dan harus mengunjungi dokter dengan jaminan BPJS lagi untuk mengambil obat.  Disini berlaku peraturan yang sosialistik//komunistik, masyarakat tanpa kelas, semua harus nurut peraturan ini. (Tentu saja  ini tidak ada tautan dengan DPR(D), atau sidang Kabinet, meskipun harus dituruti oleh semua rakyat yang memakai “jasa” BPJS.
Disamping itu ada peraturan Pmerintah:  Merebut asuransi kesehatan kerusahaan swasta yang sudah mapan di asuransi swasta   untuk karyawannya yang sudah sangat memadai jasa dan prestasinya, ke BPJS yang sangat inferior baik premi maupaun pelayanannya dari asuransi swasta dibanding dengan BPJS. Kok bisa-bisa nya Pemerintah mendegradasi kontra prestasi dari Perusahaan yang sudah jadi hak karyawannya ya ? Atas kuasa siapa ?  menggilas/memelintir  hak karyawan yang sudah didapat, mengganti yang lebih jelek. Tentu saja Perusahaan swasta sangat senang,  pasti mengikuti “aturan”  ini. Dengan kamar pewawatan yang memadai sangat kurang  di RS BPJS, si pderita sakit acute  harus di down grade lagi jadi pelajyanan seadanya.
Daripada merebut uang  premi asuransi yang sudah diterima karyawan karena Perusaan Kapitalis  menghitung sudah klop dengan jasanya, yang ini malah diperintahkan untuk mendegradasi preminya sebulan hanya sekitar enempuluh ribu, yang dulunya lebih dari 200 000 rupiah,sertiap bulan.-
Mbok sekalian, menasionalisasi Freeport atau Penikmat kekayaan Negara yang menurut hukum sudah selesai kontraknya. Itung itung untuk membeayai BPJS  - pupung belum berurat berakar jadi despot, seperti pmilik pemilik rekening gendut ?
Konon para PNS derajad eselon 1, eselon 2 mempunyai kelas premi yang  tinggi dibayar Negara untuk mendapat perlakuan klas VVIP, yang jauh lebih baik dari BPJS secara diam diam bahkan sampai berobat keluar Negeri, dibayar Negara.  Peraturan ini presis dibawah Negara Komuunis alm. kepada golongan “nomenclature” nya. Saya percaya Pak Jokowi tidak tahu perkara ini.. Ini negara apa ? kok berbuat se enaknya sediri ? Apa Negara despot despot kecil yang kekuasaannya lebih dari Raja ? Apa Negeri para bedebah ?
menggencet orang kecil dan orang yang sudah uzur ?
Jadi saya anjurkan bila ingin mengumpulkan fotocopy KTP  demi  ke afdol-an untuk mendaftarkan dikantor KPU atau KPUD mencalonkan diri sebagai makhluk yang lebih berharga dari rakyat biasa, seperti balon executive atau balon legislatip uruslah di bagian pengumpulan arsip PBJS di Rumah sakit rumah sakit, arsip yang sudah lebih dari satu tahun anggaran, atau institusi loket lainnya yang banyak sekali, belilah fotocopy KTP sebanyak mungkin (harga kiloan seharga kertas bekas) berapapun yang dibutuhkan,  dari institusi loket macam ini, mungkin nanti juga loket tiket PJKA ? Atau loket tiket Stadion Sepak bola.  Mungkin anda bisa mengungguli Satrya Novianto, dengan mengatakan pada calon pemilih anda, bahwa anda mau  mengungguli Satrya Novianto ?*)

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More