Sayang Sama Cucu

Sayang Sama Cucu
Saya sama Cucu-cucu: Ian dan Kaila

INDONESIA PUSAKA TANAH AIR KITA

Indonesia Tanah Air Beta, Pusaka Abadi nan Jaya, Indonesia tempatku mengabdikan ilmuku, tempat berlindung di hari Tua, Sampai akhir menutup mata

This is default featured post 2 title

My Family, keluargaku bersama mengarungi samudra kehidupan

This is default featured post 3 title

Bersama cucu di Bogor, santai dulu refreshing mind

This is default featured post 4 title

Olah raga Yoga baik untuk mind body and soul

This is default featured post 5 title

Tanah Air Kita Bangsa Indonesia yang hidup di khatulistiwa ini adalah karunia Tuhan Yang Maha Esa yang harus senantiasa kita lestarikan

This is default featured post 3 title

Cucu-cucuku, menantu-menantu dan anakku yang ragil

This is default featured post 3 title

Jenis tanaman apa saja bisa membuat mata, hati dan pikiran kita sejuk

Minggu, 17 Maret 2013

BAWANG PUTIH (Alium sativum L) & BAWANG MERAH (Alium cepa L)

Bawang putih dan Bawang merah jadi selebritas di Bulan Maret 2013



Rasanya bila tidak menulis perkara bawang putih (Alium sativum L ) kok ndak peka terhadap persoalan budidaya tanaman yang satu ini. 
Familia dari tanama budidaya ini sekarang mempunyai nama sendiri yaitu familia sendiri Aliaceae bukan termasuk Amarylidaceae, atau Liliaceae (J W Purseglove, Tropical Crops). Yang sudah dijalankan oleh Pasar di Negara ini adalah import dari Negara lain, kira-kira 420 ribu ton (Finance. Detik .com), sedangkan produksi dalam Negeri hanya 5% dari kebutuhan ini.
Negara pengekspor komoditas ini adalah China, India, Amerika Serikat, Pakistan dan Malaysia. Dari China th 2012 mencapai 414 ribu ton, senilai 242 juta US Dollar. 
 Bawang putih (Aliun sativum L) ini  bentuk liarnya ditemukan di sabuk sub tropic benua Asia,  di pinggir gurun pasir, dan di wilayah stepa.
Bisa dimengerti bahwa kebutuhan iklimnya  adalah iklim sub tropic yang kering. Diperbanyak dengan umbi pelepah daun dan biji.
Untuk daya tahan perhadap penyakit, dan kebutuhan siklus hidupnya adalah tanah  basah, tapi kelembaban relative udaranya harus rendah, rata-rata di bawah  70%. Karena kebiasaan tepi gurun atau stepa, Tumbuhan di suasana ini sesegera mungkin memanfaatkan keberadaan air pada waktu musin semi yang pendek, memanfaatkan secepat cepatnya keberadaan air di tanah untuk menarik sebanyak mungkin hara, dan bersiap-siap untuk benrkembang biak, dalan hal bawang putih ya membentuk umbi daun, dan biji. Jadi di Negeri ini bawang butih dibudidayakan di ketinggian 2000 sampai 2500 meter di atas air laut, masih dengan resiko apabila kelembaban relatif terlalu  tinggi pada masa akhir vegetasinya, akan gampang diserang penyakit.
Di sub tropic bawang putih ada yang ditanam musim gugur, ada yang ditanam misum semi, tanaman ini sangat gampang ditanam dan tidak menimbulkan banyak kesulitan (sumber : Wikipedia). Ada dua cara menanam bawang putih,  yang ditanam musin gugur dipanen lebih awal dan hasilnya lebih bagus, dari yang ditanam musim semi.
 Lho bila memang begitu ya salahnya sendiri, kok sangat membutuhkan bawang putih itu gimana ? (coba bayangkan bila menggoreng tempe tidak menyertakan bawang putih, atau bikin nasi goreng tanpa bawang putih ?).
Di Batu, Malang, bawang putih pernah jadi tanaman cash crop yang menggiurkan, sayangnya sangat sulit sampai berhasil panen dengan baik,  ( l kwintal  bibit, mengasilkan umbi bawang putih 10 – 14 kuintal panen) harus siap dengan fungicides yang harganya mahal,  lima enam kali aplikasi semusim, dijaga dari night frost (embun upas) dengan menyemprotkan air pagi pagi sekali sebelum subuh, sering terutama bila cuaca sorenya dan malamnya tidak mendung.

Jadi, menurut saya bila memang tanaman itu teraklimatisasi secara alami di wilayah Sub Tropis, memang sulit ditanam dalam wilayah tropis, bila  perlu upaya aklimatisasi  memerlukan upaya breeding yang rinci. 
Umpamanya, mencari jenis bawang putih lokal, artinya yang sudah lama teraklimatisasi di iklim tropis seperti Bawang Bali yang ditanam di Penebel (Gianyar) terang lokasinya di atas 1500 meter di atas muka laut dan kering karena pengaruh angin dari Australia, siungnya sangat kecil namun aromanya sangat disukai penjaja mie kuah atau nasi goreng, sekarang mungkin sudah punah karena bibitnya tidak ditanam sudah puluhan tahun. 

Sedangkan jenis “lumbu ijo” atau “lumbu putih” yang ditanam diatas  daerah Batu, Punten di atas Malang. Saya curiga  istilah “Lumbu” ini dari kata bahasa Belanda “Landbow” hasil  aklimatisasi dan seleksi Jaman Panjajahan dulu.
Bila memang mau swa sembada bawang putih ya dicari wilayah yang mirip mirip dinginnya dengan sub tropika, dan penelitian yang menghasilkan varietas landbow ini dilanjutkan.
Tapi apa seyogyanya lebih baik kita berusaha mengexport ketela rambat atau batatas  (Ipomea batatas L) Yang disukai di China misalnya varietas “ Cilembu” yang manisnya luar biasa atau varietas yang ditanam di Kuningan sebelah selatan Cirebon entah nama varietasnya  apa yang  umbinya besar-besar ( hampir sekilo atau lebih) dalamnya memutih (bertelur)  penuh tepung bila dikukus.  Karena kita tahu betul bahwa di wilayah sub tropis menanam jenis tanaman ini sulit sekali, barangkali mereka punya penelitian untuk aklimatisasi tanaman budidaya ini sudah memenuhi satu gedung besar meliputi empat  generasi para ahli seleksi dan agronomi, sampai sekarang.
Tapi bila soal yang sepele ini, mengenai izin import bawang putih, lha mbok dibebaskan saja izin maupun bea importnya, ndak perlu takut kita mengimport bawang putih berlebihan, wong dipakainya untuk bumbu, bila kebanyakan toh ya tidak enak ? Akirnya bila sdah kuwalahan import bawang putin dai Cina, mbok barter saja dengan bumbu yang sama sama tidak boleh tidak ada pada masalan cina yaitu tepung tapioka, sebab kita gampang sekali memproduksinya, Penduduk china toh satu milliard lebih, lahannya 50 % sub tropik  dan sisanya empat musim, jadi tidak bisa tanam ketela pohon (Manihot utilisima)
Lha bila mengatur import kedelai saja ya sudah “bingung”, kehilangan “road map” untuk mendapatkan luas areal yang mendekati kenyataan, izin impor daging sapi ya begitu, sekarang bawang putih dan bawang merah, rupanya yang berkewajiban mengatur izin pengadaan produk-produk ini kok memang tidak serius, bahasa Jawanya “ngglonjom” percuma digaji dengan duit rakyat, dan punya titel akademis berderet di muka dan belakang namanya. Yang diuntungkan cuma segelintir pedagang sekaligus pengatur pengadaan dagangan ini,  Lha wong business relations nya ini sudah terdakwa di KPK  kok,  malah berdalih ada konspirasi lagi ?
BAWANG MERAH  (Alium cepa  L) 
Sama dengan bawang putih, guna bawang merah adalalah untuk bumbu masak.
Hanya pemakaian bawang merah (Alium cepa L) lebih banyak, paling kurang satu banding lima dengan bawang putih.
Bawang merah lebih banyak ditanam di Indonesia atau tanah tropika yang lain, karena bisa ditanam di dataran redah, oleh sebab  itu lebih banyak problem hama dari bawang putih, pengaruh panjang hari penyinaran sudah bisa diaklimatisasi.  

Ciri utama dari tanaman budidaya ini lebih melibatkan banyak petani, dari petani gurem sampai petani besar, banyak menyerap tenaga kerja, meliputi puluhan ribu hectare di sentra penanamannya. Di kalangan petani tanaman ini adalah cash crop yang sangat cepat perputarannya yaitu dua bulan setengah, dari tanam ke panen. Suka air tapi juga tidak suka kelembaban yang tinggi. Di Brebes bawang merah ditanam sepanjang tahun, dimana petani bawang berusaha menangkal secara dini penularan penyakit cendawan, bahkan dengan mata telanjang kita belum melhat tanda randa penyerangan, mereka mulai memperlakukan dengan Fungisida, pada saat kelembaban tinggi bisa menyemprot tiga hari sekali atau bahkan dua hari sekali, hama terpenting adalah Spodoptera yang masuk ke dalam lubang daun yang memang merupakan pipa, segera sesudah menetas.

 Puluhan tahun petani berjuang melawan hama ini, bahkan dengan insectisida systemic, insecticides chitine inhibitor hormone, baru enam tujuh  tahun  terakhir ini petani bisa mengatasinya dengan mengacaukan perkawinan kupu-kupu Spodophtera ini dengan sinar lampu neon, toh listrik juga makin mahal, karena setiap malam kebun bawang merah kayak kota terang benderang dengan puluhan lampu neon.
Jadi bila Pemerintah Indonesia mau melindungi petani bawang merah memang sebaiknya jangan mengizinkan impor pada musim bawang merah panen, yaitu mulai dari tiga permulaan kemarau. Tapi wong akalnya pedangang, bisa dumping stock setiap saat panen, dengan menimbun stock, dan melempar ke pasar waktu panen besar. 

Untuk menambah stock piling mereka,  karena bawang merah langsung anjlog harganya. Jadi bila memang hendak menolong petani bawang merah, memang pemerintah tidak boleh tanggung-tanggung. Gudang- gudang para pemain penimbun bawang merah harus diawasi karena pemain di bidang ini terbatas jumlahnya, gudang bisa dimana-mana, tapi rakyat dan polisi tetap bisa tahu, seperti koruptor, harus dihukum berat.  Menjaga agar harga bawang merah tetap wajar.
Hasil bawang merah per tahun rata-rata antara 800-900 ton, hanya th 2012 mencapai 10.140 ton.
Impor terutama dari Thailand, Phillipines, India dan Malaysia, menurut Finance.detik.com, dari BPS  th 2012  sejumlah 95.000 ton, satu jumlah yang besar, meskipun hanya untuk bumbu. Melihat dari besarnya impor ini, maka sangat sulit melindungi petani bawang dari pelepasan stock pada saat panen. 

Yang bisa dilindungi hanya konsumen. Sebab sepanjang zaman, penimbunan pangan selalu menjadi lahan empuk dari penyedot uang rakyat,  yang jelas jelas dilarang oelh Agama Islam. Apakah impor yang mencapai 10 kali dari produksi dalam negeri ini menandakan satu regulasi pengendalian impor, saya kira kok tidak.
Jadi pasti pengawasan terhadap kartel pedagang bawang merahlah yang berani berulah, sebab impor dengan air freight pun bisa kalau mau sekedar meredam kenaikan harga bawang merah yang dua tiga kali lipat harga normal, hanya kemauan saja yang ndak ada. Saya pikir ya pasti satu rentetan dengan kenaikan harga daging sapi, kenaikan harga kedelai, nanti pasti Lombok Merah, akhirnya pasti kenaikan yang tidak wajar dari beras, wong yang ngatur ya si semprul itu.(*)

Minggu, 17 Februari 2013

ADAM DAN HAWA MENURUNKAN MANUSIA SEKARANG

Bila judul keterangan diatas dapat anda terima dengan enak, ya baik, tidak perlu  mencari keterangan lain. Yang penting pikiran anda tenang dan anda dapat mencurahkan pikiran anda untuk yang lain. Tidak mengurangi sedikitpun amal anda dalam hidup ini, dan juga tidak akan menambah amal anda. Tapi bila anda mengikuti tayangan TV asing misalnya program “History”, atau “National Geography” atau “BBC Knowledge” dan keterangan yang mereka tayangkan lain dari pengetahuan anda, tidak usah khawatir, semua itu Allah akan menjelaskan bagi anda sesuai dengan tingkat pengertian anda.

Saya adalah pelajar dari satu cabang ilmu yang besar, jaitu Biology, dari cabang ilmu itu ada keterangan lain, anda perlu mebahasnya tanpa  panik, tidak perlu anda langsung mempertentangkan keterangan yang anda dapat terdahulu, pelajaran yang anda dapat mulai dari kecil, yaitu dari pelajaran Agama Islam ataupun Kristen  Hindu atau Budha. Karena keterangan dari agama agama itu pada hematnya hampir selalu disesuaikan dengan pengetahuan orang pada zaman agama-agama itu diturunkan kepada manusia, dan kadang kadang bila kita kembali ke zaman itu, agama adalah satu satunya sumber keterangan untuk semua hal yang ada.

Orang cenderung menerangkan segalanya lewat agama itu. Dalam mempertentangkan dua keterangan ini ada dua kelompok orang, satu kelompok menganggap bahwa apa keterangan yang lain dari keterangan yang  diberikan oleh Agama, keterangan  itu murtad atau paling sedikit menyimpang dari ajaran agama, dan salah. Bila anda tidak nyaman dengan keterangan yang tidak masuk akal dari keterangan semasa kecil, anda merasa bahwa keterangan itu sangat sederhana memang cocok buat  anak saja.

Saya beruntung, di masa muda saya, tahun 1965 saya diajak oleh paman saya mendengarkan ceramah agama Islam, pembicaranya adalah Bapak Qudratullah dari Banten yang baru bermukim di Jakarta, saya ingat waktu baru saja di edarkan uang baru, dengan kurs 1 : 1000 dari uang lama.  Di tahun tahun berikutnya konon beliau menjabat sebagai Anggauta MPR Republik Indonesia. Entah karena apa beliau nylethuk, bahwa sosok Adam itu diciptakan oleh Allah dari tanah liat di Jannah, Sorga, tidak di Bumi ini, lalau ditiupan Rukh padanya dan jadilah  Adam, manusia pertama, diberi tempat tinggal disana. Jadi asal muasalnya adalah tanah liat dari sana, yang lain dari tanah liat dari sini Bumi ini.

Lalu dari dia diciptakan Hawa, sebagai pasangannya. Waktu mereka berdua terusir dari sana, diturunkan ke Dunia, ditampung oleh badan wadag mungkin bangsanya Pitecanthropus erectus yang memang cocok dengan lingkungan planet Bumi. Mereka berdua terpisahkan dan akhirnya saling bertemu di suatu tempat, beranak pinak, berpencaran, akhirnya jadi kita kita ini.

Lha selanjutnya Asam dan Hawa yang berbadan Pitecanthropus erectus ini mempunyai rasa malu, mempunyai nur aini  Lantas topic berganti dengan yang lain, saya tidak ingat lagi.

 Saya pikir beberapa puluh tahun kemudian, sesudah saya harus membicarakan topic teory evolusi  di kuliah ilmu Seleksi, yang menyangkut tanaman budi daya Kopi (genus Coffea) di satu Fakultas Pertanian di Universitas Swasta  Surabaya, tentunya Pitecanthrupus yang lain yang menghuni di seputar planet bumi ya bukan dari keturunan Adam dan Hawa semua waktu itu, tapi yang keturunan beliau ada riwayatnya  misalnya riwayat Habil dan Qabil dan akhirnya riwayat Nabi-Nabi yang lain.

     Saya berpikir lebih lanjut, berhubung yang diturunkan oleh Adam dan Hawa in mampunyai kelebihan bathin dan kecerdasan yang lebih baik, karena sudah punya rokh, maka mereka dengan mudah bercampur silang dengan Pitecanthropus yang biasa, yang tidak sempat ketemu dengan keturuna Adam dan Hawa jadi kalah dalam kemampuan menyesuaikan diri dengan alam, ya akhirnya punah keturunannya.  Jadi  mungkin saja seluruh planet Bumi ini yang dua milliard penduduknya lebih sedikit, semua jadi keturunan Adam dan Hawa, menurut tayangan TV The National Geogaphy, baru 250 000 tahun yang lalu, manurut  penelitian DNA yang dilakukan dengan mengambil samples sel-sel dari jaringan mucosa mulut dari orang orang seluruh dunia, ternyata semua ras/race yang ada di bi dunia keluar dari benua Afrika berpencaran keseluruh permukaan Bumi, menjadi races yang Mongoloid, Caucasiod, Negroid, hanya berbeda kurang dari 1% DNA yang dibawa dari Afrika, yang membedakan antara ras ras didunnia ini.

Keterangan ini lebih dekat dengan keterangan bahwa nenek moyang manusia adalah Adam dan Hawa, artinnya semua DNA ya dari beliau.

  Lho kan aneh, saya terusik dan berpikir terus menerus dari tahun 1955 sampai lulus  kuliah, sampai ketemu

Kiai Qudratllah, th 1965, sampai mengajar tahun 1990,  baru “ngeh” bahwa yang dikemukakan beliau adalah kompromi antara ajaran Agama dan theory ilmiah, antara rokh dan badan wadag, dan menurut dilektika, satu entitas selalu mempunyai dua sisi yang tak terpisahkan tapi berlawanan seperti mata uang, untuk menandai keberadaannya, cocok, manusia hidup harus terdiri dari rokh dan badan wadag.

 Seandainya hanya jiwa dan dan badan wadag, seperti entitas hewan dan binatang, karena jiwa masih bersifat wadag, tapi merupakan unsur hidup yang tak terpisahkan, buktinya jiwa bisa sakit.  Jadi sama-sama hidup, binatang dan hewan tidak sama dengan manusia, manusia punya jiwa dan rokh.

   Toh manusia bisa tetap hidup tanpa rokh, seperti binatang dan para koruptor hanya punya jiwa,  tidak punya malu dan tidak punya nurani. Sebelum ada Undang-Undang anti Narkotika ada, hampir semua agama melarang penggunaan narkotika, temasuk alcohol, karena penggunaanya bisa menghilangkan rokh, hidup tapi sudah kehilangan rokh, ngeri dong. (*)

Minggu, 03 Februari 2013

MENGENAI MASSA RAKYAT INDONESIA - The Freezing Mass

Massa rakyat Indonesia merupakan konglomerasi dari banyak latar belakang bermacam-macam menurut latar belakang ekonomi dan budaya.
 
Sebagai makhluk biologi seperti makhluk-makhluk lain, maka factor bagaimana mereka mendapatkan makanan adalah factor utama yang menentukan kebiasaan dan kecenderungan hidupnya.
Mayoritas rakyat Indonesia adalah petani, dimana makanan adalah hasil kerja mandiri, perilaku mandiri, tidak menurut perintah atau satu set aturan yang dibuat orang lain. 
 
Sikap yang dipilih adalah skeptis terhadap perubahan yang belum nampak hasilnya, yang beda dari kebiasaan “lahir batin” yang sudah menjadi andalan hidupnya, alias sangat conservative. Saya tidak menggunakan kata “berfikir” karena mayoritas massa ini sudah tidak berani berfikir.
 
Sikap konservative dari mayoritas penghuni Republik ini kadang sangat menjengkelkan bagi para pemikir, yang cenderung melihat bayangan apa terjadi ke depan, tanpa mempetimbangkan bagaimana perut ini diisi sekarang. Mereka lupa bahwa “berfikir” talah mengkat derajad Pithecantropus erectus menjadi Manusia.
 
Trauma yang diderita sebagian besar massa setelah terlibat langsung dengan pelaksanaan UU Pokok Agraria tahun 1960 yang ternyata di Pulau Jawa menimbulkan konflik horizontal yang yang disiram bensin manipulasi  inteligen Orde Baru,  menimbulkan atrocity dan genocide yang luar biasa, menyisakan kebekuan ketatonik massa petani terhadap pikiran ke depan. Kebekuan ini diperpanjang waktunya dengan slogan yang menyesatkan “Pembangunan Yes dan Politik No!” dan sebangsanya, disertai dengan program subsidi besar- besaran untuk sarana pertanian selama lebih dari 20 tahun, yang dikenal dengan program “Bimas” Pertanian, terutama untuk padi dan kemudian polowijo.
 
Oleh karena Petani adalah mayoritas massa di Pulau Jawa terutama, kebekuan ini menjalar ke kaum menengah di Indonesia, yang menjadi sangat oportunistis, yang juga sikap yang tak perlu berfikir.
Kebekuan ini diberi nama “massa mengambang”, artinya atau massa yang secara katatonik membeku, menolak  berfikir ke depan, atau hanya sekedar berfikir, sebagian dari hard core massa membeku ini menjadi oportunis, yang menguasai blantika Politisi Orde Baru.
 
Massa yang membeku (The Freezing Mass) ini, digemukkan oleh subsidi sarana pertanian dalam waktu yang panjang, merupakan kemakmuran semu, yang pelakunya tersentak bangun saat ini, mendapatkan dirinya ketinggalan dari produktivitasnya dalam  Dunia laisses fare.
 
Dunia laisses fare sudah bergerak jauh ke depan dengan mengusai lapangan, merekrut para Politisi oportunis untuk mengembangkan sayapnya, yang dijuluki oleh lawannya Neoliberalisme, oleh karena yang direkrut ini kaum inteligensia oportunis, maka segala program Pemerintahan apa saja, dimana saja, harus diarahkan ke keberhasilan program Neoliberalime, penggunaan resources alami, termasuk penggunaan tenaga kerja, sementara mereka dibutuhkan, bila tidak dibutuhkan ya apa boleh buat, robot tidak memerlukan apa yang diperlukan oleh manusia, selain itu ya disposable.           

Jadi jika massa mengambang ditandai sebagai masa perempuan yang memang oportunis demi perkembangbiakan keturunannya adalah tidak seluruhnya benar.
 
Ciri masa mengambang yang makin besar jumlahnya adalah golput (tidak memilih) yang sekarang rata rata lebih dari 40 persen mereka yang mempunyai hak pilih. Mungkin golput ini berfikir, lebih baik jadi golput daripada memilih orang semacam Bupati Buol atau Bupati Garut. (*)

Sabtu, 02 Februari 2013

'SEGI POSITIFNYA' KASUS BUPATI GARUT


Saya jadi terlongong-longong mendengarkan di televisi, pembelaan di depan publik pemirsa TV oleh Pengacara sang Bupati, yang tidak mau lengser ini.

Si Pengacara dengan gagah dan lantangnya mengatakan bahwa sang Bupati yang ia bela telah menjalani perkawinan menut syara’ Agama Islam : ada Orang tua si Pengantin wanita, ada mas kawin, ada dua saksi, dan ada Penghulu Agama Islam. Nikah siri. Ini sudah syah menurut hukum Agama Islam, tiada hukum lain yang lebih syah benar dan sakral dari hukum Agama Islam ini terhadap pemeluknya, papar sang pengacara Bupati itu.

Apa yang akan dikatakan oleh sang Pengacara Bupati ini, bila nanti kedapatan Bupati tetangga Kabupaten korupsi, apa hukum Islam yang sakral ini juga akan digunakan menghukum Bupati Koruptor dengan memotong tangannya ya ?
Bupati Buol si Amran Batalipu mungkin terbebas dari hukuman ini, sebab memang hukum Islam tiada berlaku di Nusantara. Bupati  Buol itu  menerima suap empat milyar rupiah sebagai Bupati dengan memberi hak mengelola tanah seluas 74 ribu hektere. di Pualu Jawa sama dengan tiga kabupaten, kepada calo Hsatati Murdaya Poo, tinggal si lintah licin ini menunggu investor asing unutk deal dengan dia. Toh uang suap 4,5 miliar ini juga dia dspat dari uang hasil menjual tanah Negara juga  bekas lapangan terbang Kemayoran yang berhasil dia mainkan. Menurut hitungan dengan cara ini senacam bola saljua yang menggelinding dengan cepat sambil menjadi tambah mesar, dengan izin sang Budha dia isa mewndapatkan HGU unutk seluruh Indonesia !. Wong semua penjabatnya mau uang banyak. Haa ha.

Saya jadi sadar bahwa kemerdekaan kita selama 68 tahun ini, sambil belajar mempunyai Negara Kesatuan, kita juga belajar mempunyai Negara yang setiap Kabupatennya merupakan Pemerintahan Otonomi Daerah, dianggap untuk membangunnya dengan pas, Putra Daerahlah yang lebih mengerti.
Lantas Putra-Putri Daerah memanjati ketokohan yang paling murah tapi pasti, untuk kemudian meloncat jadi tokoh Politik, yaitu KKN..

Ternyata Putra Daerah ada yang sangat piawai untuk menanjak perannya dengan memanjati ketokohan, sesudah menjadi tokoh apa saja, lantas mengerahkan segenap kemampuanya untuk jadi tokoh Politik, yang kita kenal sebagai stereotype Putra Daerah. Kalau dia mau pasti sosok H lulung atau sosok Herkules juga bisa jadi Guberbur DKI atau Gubernur NTT.

Mereka ini sengaja membangun citranya diatas pandangan primordial yang paling picik tanpa malu-malu, dan tidak peduli apa yang dikorbankan untuk itu.
Sepertinya semua Warga Negara yang baik di negeri ini, bahkan mereka yang pernah belajar di SD, SMP, dan SMA Negeri maupum Swasta, tahu apa arti primordialisme itu, asal tidak terselip-selip di pendidikan semi formal yang enggan atau tidak mampu mengajarkan perilaku bernegara dan bermasyarakat yang majemuk, entah terselip dimana. In terjadi semenjak Pengajaran jadi sumber mecarari uang dengan menjual titel daari Pengajaran palsu samapi S3 seperti Cabang dari Berkly abal abal di jakarta itu.

Lembaga pendidikan semi formal macam apa semua orang tahu, tapi di situ pasti ada doktrin yang tidak logis, keluar dari  alur pikiran normal, hampir nyeleneh, seperti pandangan suku, ras, dan agama yang diajarkan terpelintir.

Herman Gobbels dan Hitler jaman perang Dunia II telah mendasarkan pandangan yang fanatik bahwa bangsa Aria adalah bangsa Number One, tidak mentolerir  keberadaan ras-ras lain di dunia ini, (yang posisinya dihadapan Allah adalah sama). 
Mereka menjadi populer dan menjadi Pimpinan Politik, menjerumuskan Seluruh bangsa Jerman ke lembah kehancuran Perang Dunia II. Dengan mencari kambng hitam yang cocok.

Andaikata tidak ada Bupati si Aceng Fikri ini, pemikiran bahwa jabatan tertinggi di Daerah bisa dipisahkan dengan Pribadi yang menyandangnya (jadi dulu pengawasan yang melekat- waskat itu salah). Dan disuatu Negara ada Hukum yang lebih tinggi dan sacral dari Hukum Negara yang berlaku bagi segenap Warga Negaranya.?

Dimana kekeliruannya, wong  tokoh macam ini kok bisa menanjak menjadi Bupati Garut?
Silahkan merunut sendiri sebagai pelajaran untuk tidak salah dukung, malunya itu bah.

Jadi segi positifnya kasus Bupati Aceng ini rakyat bisa belajar untuk memahami, bagaiamana sebaiknya memilih pemimpinnya, atau bahkan mungkin rakyat tidak paham sama sekali atas apa yang sedang terjadi.

Yah, kalau saya tengok-tengok di kondisi umum, di pasar, terminal, dan di mana saja rakyat bercakap-cakap dengan sesama rakyat, sepertinya memang rakyat sudah tidak bisa mikir apa-apa tentang hiruk-pikuk politik dan ekonomi makro, aduh apalagi sempet mikir budaya, yang saya dengar hanya rengeng-rengeng keluhan tentang mahalnya aneka kebutuhan hidup, itu saja, lain soal tidak jadi concern-nya rakyat banyak.

Bahkan kasus besar tentang narkoba dan aktor partai politik yang ditangkap KPK baru-baru ini saja, rakyat tidak paham sama sekali apa itu sebenarnya, saya hanya dengar nama artisnya rakyat kebanyakan kenal, nama aktor politiknya tidak kenal, juga pas saya nanya narkoba dan undang-undangnya saya tanya para bakul di pasar ya mereka malah tak tahu. Apalagi soal politik, haduh, saya malah ditinggal pergi, "Ngomong apa toh mbah sampeyan itu, ndak mudheng saya pak..." ujar salah satu bakul ayam potong yang saya ajak ngobrol soal daging sapi impor. Dia hanya ngedumel harga ayam dan sapi yang naik lagi, naik lagi.

Saya bisa maklum, karena sepanjang pengetahuan saya rakyat itu belajarnya luaaamaaa sekali. Atau mungkin tidak belajar ? (*)

Kamis, 17 Januari 2013

KORPS PEGAWAI NEGERI REPUBLIK INDONESIA, AKU TAGIH SUMPAH JANJI MU



Duhai para PNS (Pegawai Negeri Sipil) yang saya harapkan, ingatkah anda sewaktu anda diangkat jadi Pegawai Negeri Sipil, anda disumpah menurut jabatan anda.
Pasti inti sari dari sumpah jabatan itu, bahwa anda akan mencintai Negara Kesatuan, Tanah Air Indonesia kita ini dengan segenap hati.
Agar anda tahu, sedikit hari lagi yang akan datang, janjimu ini akan teruji.
Harga pangan di seluruh Dunia akan naik drastis, terutama jenis Karbohydrate dan minyak nabati.
Manusia akan bersaing dengan mesin-mesin internal combustion dalam mendapatkan bahan bakar, bio ethanol dan bio diesel. Bersaing ini maksudnya ya rebutan karbohidrat dengan mesin, atau perumpamaan telanjangnya adalah : perut kita VS kebutuhan BBM mesin SUV, kira-kira begitu.

Kembali pada harapku, Korps Pegawai Negeri di seluruh Indonesia kira-kira dua juta personil lebih.
Kementerian/Departemen, tempat anda mengabdi di Negara ini meliputi semua bidang, yang menyangkut kehidupan rakyat banyak.
Sebagai imbangan yang tak terpisahkan, anda sebenarnya mencari nafkah.
Mencari imbalan yang layak untuk membiayai pangan, sandang dan papan sekeluarga anda, bahwa prakteknya anda hanya mengabdi pada Kepala Kantor Dinas anda, kepada Kepala Bagian anda, itu dianggap wajar mulai dari Orde Baru yang Despotic, hingga sekarang dalam Orde Reformasi, akan sulit sekali dihapus, digantikan dngan pengabdian kepada Bangsa dan Negara, sekarang malah mengabdi pada Politisi yang menduduki jabatan Politis yang tidak bagi mereka dari Pemilihan Umum yang curang, karena ssetahu saya tidak suatupun yang sakral bagi mereka para politisi curang.
OK saya maklum.
Tapi sebentar lagi, selagi anda belum pensiun, pangan, terutama bahan makanan pokok yaitu biji padi-padian, rhizome dan tuber yang kaya akan karbohidrate bakal ada pesaing yang sangat kuat. 

Karbohydrate dan minyak sawit dijadikan bio ethanol untuk penambah bensin dan minyak nabati bakal bio diesel, mesin-mesin ini darah daging Kapitalis Raksasa Dunia, sedang anda bukan apa-apanya, artinya bukan “sanak dan bukan kadang” dari para Raksasa Industri Kapitalis Dunia ini (jumlahnya tidak banyak).
Tidak heran para Raksasa Industri Kapitalis Dunia sudah mendirikan Pompa penjualan bensin dan solar di samping Pertamina, telanjang sekali.

Sayangnya saya tahu bahwa Negara tidak bakal kuat kasih subsidi terus-menerus terhadap BBM. Tidak bakal kuat saudara, percayalah. 
Negara anda tempat anda mengabdi, juga tidak akan bisa menggaji anda cukup untuk kebutuhan anda, apa yang bisa dihasilkan dan kedua bahan pokok pangan ini tidak cukup untuk konsumsi pangan seluruh rakyat Indonesia, terutama carbohydrat, terutama beras.

Jangan bicara mengenai minyak goreng dari kelapa sawit, karena jutaan hektare kelapa sawit kita bukan untuk konsumsi anda, melainkan masuk pasar International untuk dijadikan bio diesel, dan cobalah beli di sana di lantai bursa komoditas Internasional.

Problem kita bukan kita ndak punya lahan yang bisa menghasilkan pangan untuk segenap rakyat kita. Sebaliknya, kita punya lahan lebih dari cukup, kita punya man power juga lebih dari cukup, kecakapan ada, diklat, adumla, diklat Pim IV hingga Pim I ada, Sespa ada, yang setara Sesko-nya para jendral Militer juga ada. SDM sudah lengkap.

Cuma, akibat dari Kekuasaan Despotic selama 35 tahun kekuasaan orde Baru, anda para abdi negara -sayangnya- terdegradasi jadi penjilat atasan nomer satu.
Hukum pergaulan di bawah sadar anda adalah “the might is right” yang teradaptasi oleh nenek moyang anda semenjak “Tanam paksa-nya VOC” yang selalu siap muncul ke permukaan di zaman Orde Baru, maupun Orde Reformasi.

Sebenarnya tujuan nomer satu anda adalah kelimpahan materi, anda dan sekeluarga anda dalan hidup ini, ya sudahlah saya maklum.

Namun saya hanya mengusulkan apakah tidak seyogyanya diantara dua Daerah Otonomi Kabupaten, dapat kerja sama diantara mereka, misalnya, untuk menukar pegawai yang mau dan mampu, di usia muda, bertukar tempat. Katakan usia 35 - 40 tahun, pensiun usia 55 tahunan. Andaikata PNS yang dari Daerah Kabupaten Jawa setelah pensiun ingin jadi wiraswasta menanam singkong, maka dia dapat mendaftar -katakanlah- di Kabupaten Kutai Kartanegara. Memang Kabupaten ini tempatnya Singkong gajah yang sangat potensial panen diatas 100 ton/ha. Setelah pensiun masih cukup muda dan memungkinkan, untuk berwiraswasta sambil masih mengabdi pada masyarakat.
 Sambil masih mengadi pada Kabupaten tujuan selama lima tahun !
Sehingga masih jadi ”orang dalam” ?

Mengingat gawatnya situasi pengadaan staple food, bahkan tahun demi tahun swasembada beras selalu gagal, sebab rencana yang acak-acakan (mosok ada Menteri yang road map nya tidak cocok dengan kenyataan?) dan kebobohan pengambil keputusan dan pelaksananya, dan harus mencari tambahan mengandalkan  pasar dunia, yang pasti harga staple food dan harga biji-bijian makin “digoreng” oleh lantai bursa komoditas Internasional, sehingga harganya jadi tinggi. Ini adalah kejadian yang imminent ! Artinya segera terjadi. Para ahli pangan dunia sudah mencemaskan adanya rakyat miskin di Dunia Ketiga yang tidak kebagian pangan, karena  bahan karbohidrat disedot untuk diolah jadi bioethanol/biodiesel/biomethanol dan aneka  jenis bahan bakar terbarukan lainnya.
Jadi bikin bioethanol bukan lagi dari minyak pohon Jarak (jathropha), kesuwen, terlalu lama saudara, dari bahan karbohidrat, gandum, jagung, kedelai, atau beras saja lebih melimpah stok internasionalnya, dari karbohidrat saja sudah gampang bikin biodiesel/diolah menjadi bioethanol.

Mengingat gawatnya situasi, diharapkan Pemerintah Orde Reformasi ini mencoba seluruh terobosan, yang dulu oleh Administrasi Negara tidak mungkin. Apalagi mengandalkan pengetian Departemen-departementnya dan Politisi Pemerintah Daerahnya.
Persoalan yang tercermin dalam Hak Guna Usaha  Tebu dan Kelapa Sawit di Lampung kepada Kroni Orde Baru, persoalan mengenai Permohonan HGU di Sulawesi Tengah oleh Njonja Besar Hartati Mudaya Poo, yang rela menyebar uang 4 milliard rupiah sebagai suap kepada Pemerintah Daerah sudah bisa menunjukkuan indikasi  yang kuat mengenai kebenaran perhitungan ini. (*)

Rabu, 16 Januari 2013

BAGAIMANA INSTRUMENT PERDAGANGAN DERIVATIVE BISA MENGANGKAT HARGA KOMODITAS PANGAN, TERUTAMA STAPLE FOOD KARBOHIDATE DAN MINYAK KELAPA SAWIT ?

n
Perdagangan Derivative menurut definisinya adalah perdagangan ngomong, perdagangan janji, juga bisa dipakai sebagai wahana spekulasi, yang diizinkan oleh banyak Pemerintahan Negara-negara di Dunia, izin ini diberikan kepada Bank-bank yang bertanggung jawab terhadap investasi uang rakyat, umpama dana cicilan rumah, asuransi kesehatan, dana pensiun, tabungan dll.

Dulunya pasti ada peraturan yang sangat ketat untuk menginvestasikan dana yang menyangkut hidup orang banyak ini. Bank-bank yang menjalankan dana macam ini harus tidak berspekulasi, harus dijamin oleh Pemerintah hak nasabah supaya tidak dipakai sembarangan, kayak jaman dulu dipakai judi valas oleh Dicky Iskandardinata yang Kroninya Pak Harto dahulu, meskipun Bank ya mencari uang dengan spread positip.
Artinya orang pinjam uang di Bank ini, kecuali dipastikan membayar juga bunga plus ongkos administrasi lebih besar dari bunga plus ongkos yang diberikan pada nasabah.

Lha ini kok aneh, bank bank yang bersangkutan dengan dana rakyat banyak ini, dana tabungan anak sekolah, dana pensiun, dana arsuransi kesehatan, kok boleh dipakai untuk “hedging” perdagangan penyerahan ke depan.

Dari blogger muhamadnahdi.blogspot.com/2008/01/artikel-perdagangan-derivative html Garden of thoughts. Diberikan uraian yang bahasanya gampang mengenai perdagangan derivative ini.  
Pokoknya sebagai pengusaha, kopi bubuk, dia bisa menggunakan right untuk membeli kopi dari Brasil dengan harga kurs USD/rupiah umpama Rp. 9.500 rupiah, dibayar sekarang untuk penyerahan barang 6 bulan yang akan datang dari satu lembaga keuangan, dengan onkos tentunya.
Bila kurs rupiah terhadap Dollar Amerika naik misalnya Rp. 8.500 maka dia rugi.
Sedangkan bila setelah 6 bulan kurs USD/rupiah turun umpama Rp. 10.500 rupiah dia sudah membayar Rp. 9.500 rupiah per USD. Tidak perlu repot cari uang tambahan.
Instrument financial ini mananya “hedging”, artinya dia sudah mematok harga Rp.9.500 rupiah untuk satu dollar US, yang dia sediakan dari menjual kopi bubuk.
Bila dalam jangka 6 bulan itu mendadak dia butuh uang segera, right ini bisa dengan mudah dijual di lembaga keuangan, enak kan ? Uang kulakan kopinya masih liquid, selama enam bulan, harga sudah dipatok lagi.
Bagi Lembaga Keuangan dengan ukuran raksasa dalam jumlah uang dan akses  Informasi, dia bisa beraksi seperti pedagagang kopi Brasilia, dia bisa tawarkan kopi saat sekitar penen raya, dan harga akan turun, karena penjualan kopi tersendat, waktunya dia beli dari pekebun yang sudah gatal untuk terima uang.
Juga begitulah jaman Orde Baru Dolog/Bulog menurunkan harga gabah di level petani Kecamatan yang lagi penen raya, dengan dalih operasi pasar, menjual beras murah beberapa truk. Bila harga gabah anjlog di kecamatan itu, counterpartnya yang pedagang gabah diberi kredit diam diam disuruh ngeborong gabah.
Hayaa... taulah untung dibagi bagi laa.

Soalnya kemudahan apa yang diberikan kepada Lembaga Keuangan yang bergerak dibidang Derivatif Trading ini, apalagi mengenai stock komoditas pangan, untuk menguasai stock comoditas pangan dimana saja kapan saja, bukan usaha yang sederhana dari seluruh Kebudayaan umat manusia.

Kenapa ndak dulu dulu kira-kira tiga sampai limapuluh tahun yang lalu, derivative trading tidak menyangkut komoditas pangan seluruhnya?
 Semua jenis pangan, adalah komoditas yang sangat rentan terhadap kerusakan oleh handling dan penyimpanan, dan produk produk ini voluminous.

Alam mengerahkan segenap kemampuannya untuk memberi perlindungan kepada biji-bijian, toh tidak bakal tahan terhadap basah dan kelembaban udara, segala biji-bijian akan tumbuh atau rusak  bila kena basah atau kena hawa yang lembab.

Sekarang gudang gudang dolog pada nganggur, lima puluh tahun yang lalu tidak ada gudang gudang ini.
Dolog sudah mencoba dengan teknologi penyimpanan dan pengendalian hama gudang dengan CO2. di suasana  kering, tanpa kelembaban. Rupanya berhasil baik.

Alam tidak pernah memberikan perlindungan kepada komoditas produk hewani, sebab produk itu juga makanan jazad renik, yang bisa aktip bahkan pada  temperatur dibawah nol derajad Celcius.

Kini teknologi sudah berkembang begitu pesatnya, sehingga penyimpanan komoditas pangan dari produk sayur sayuran, buah buahan, semua jenis produk hewani, apalagi biji bijian,bisa disimpan tanpa ada perubahan kualitas, dan gangguan apa apa praktis selamanya, di wilayah iklim apa saja, merata di seputar
bola planet ini.
Tentu saja dengan ongkos yang sesuai.

Ongkos ini semakin murah dengan adanya teknologi yang mecinptakan isolator Panas/dingin, teknologi super konduktivitas, teknology pendinginan, technology ultrawave untuk pemanasan instant produk culinair yang sudah dimasak, pemurnian udara dari jazad renik dan debu, bahkan dari kristal kristal virus, pemurnian air
dengan saringan membrane,bisa disediakan secara masal, lebih murah jauh, katakan dari nilai limapupuh
tahun yang lalu.
Teknologi komunikasi, begitu cepat murah dan handalnya, belum saja diciptakan tele transportasi.

Lantas apa sulitnya menciptakan stok pangan yang akan dilepas waktu panen raya di kiri kanan sabuk tropis di sudut planet ini ?

Lantas apa sulitnya memborong semua komoditas pangan terutama staple food, senyampang ada outlet yang sangat potensial yaitu mesin-mesin internal combustion, sementara dihambat penciptaan mesin-mesin jenis lain yang tidak memakai bahan bakar fosil ?

Ya sederhana saja, semua panen daerah yang surplus beras, sudah diborong dulu sebelum panen raya, secara future trading, pasti harga conjunture beras akan naik, drastis seperti di Phillipinas dan dan Indonesia ? (*)      
                                          

Jumat, 11 Januari 2013

………..BANGUNLAH JIWANYA……..BANGUNLAH BADANNYA………… UNTUK INDONESIA RAYA………


Jiwa satu Bangsa bisa hidup, bangun jiwanya  dengan pendidikan, pendidikan mencintai kebudayaan bangsa itu, sebelum ketagihan akan kebudayaan bangsa lain.
Kebetulan bukan subjek yang akan saya kemukakan disini………….

Saya akan memberikan perhatian kepada harapan harfiah “bangunlah badannya” untuk Indonesia Raya.

Jauhnya segala penyakit dari bangsa ini adalah kunci pokok kesehatan badan dari bangsa ini.
……………..bangunlah badannya, untuk Indonesia Raya.
Pangan, sandang dan papan yang harus jadi perhatian pokok untuk menunaikan harapan ini yang dengan khidmat kita nyanyikan di setiap kesempatan peristiwa yang pantas, untuk mengulangi kembali janji kita kepada Ibu Pertiwi, lagu Kebangsaan Indonesia Raya. Baru benar benar bangun badannya bila mengkonsumsi empat sehat, lima sempurna.
Satu-satunya orang yang tersering mengulang ulang janji ini adalah Presiden Rebunlik  Indonesia, karena saya yakin beliaulah orang yang tersering menyanyikan Lagu Kebangsaan Indonesia Raya selama menjabat jadi Presiden Republik ini.

Saya hanya akan membahas satu saja dari komponen pangan yang teramat penting yaitu staple food, artinya pangan yang memberi sebagian besar kalori yang dibutuhkan “carbohydrate” untuk bangun,  yang   sangat terancam kemudahan keberadaannya.
Staple food adalah makanan pokok, “carbohydrate” yang akan terancam keberadaannya untuk makanan pokok manusia Indonesia, karena tersaing dengan kebutuhan bio ethanol dan bio diesel Dunia yang akan semakin nyata, bila tidak produknya langsung, pasti juga areal tanamnya.

Sebab pokoknya adalah: “Bila mesin berputar, keuntungan dijamin, makin menumpuk.”
Tapi bila orang beraktivias, kerja,  yang orang membutuhkan kalori, keuntungan belum tentu masuk. Hendaknya setiap manusia Indonesia, camkanlah dalil ini dalam benak.

Sekarang zamannya kanibalisme, demi keuntungan.

Mesin mesin harus tetap berputar, kendaraan semua jenis masih harus merajut setiap jengkal jarak, dengan beban yang semakin berat, demi keuntungan, ambang nilai karbohidrate semakin tinggi bagi segolongan manusia yang kurang beruntung.
Dan akan kelaparan.
Disini saya tidak menggugat orang cari keuntungan sebanyak banyaknya, tapi apa gunanya Nyonya Besar Hartati Murdaya Poo membuang uang 3 milliard rupiah untuk mendapatkan tanah yang akan ditanami kelapa sawit, singkong dan  sorghum 75. 000 hektare di propinsi Sulawasi Tengah,  sama dengan dua Kabupatan di Jawa Timur?
Hebatnya bila lahan itu diminta untuk diberikan kepada petani, tanah untuk digarap menghidupi keluarganya, Pemerintah Daerah alot, lelet, Putra Daerah lebih suka jadi PNS, atau Pegawai Perkebunan Sawit punya Nyonya Besar Poo ini
Mereka tidak sadar kebutuhan staple food akan dijual di Pesar Dunia, kepada siapapun yang mampu beli.

Mulai sejak dini di wilayah HGU (Hak Guna Usaha) raksasa di Lampung yang diberikan sejak zaman Orde Baru kepada Kroni Presiden Suharto, sudah diterapkan tradisi aturan Tuan Pemilik HGU ratusan ribu hectare. Ketegasan  itu sudah diterapkan dengan tradisi “kekerasan” peraturan dengan enforcement Pasukan Bersenjata yang untuk selamanya berkemah di sana (mesti saja secara bergilir).
Meskipun sementara ini aturan itu hanya melarang memetik mangga di lahan HGU (ya disemua tempat disana),  nanti akhirnya larangan untuk makan singkong, makan tebu milik HGU dengan hukuman setempat yang di- inforce oleh pasukan senjata, dibiasakan mulai sekarang, meskipun lapar kayak apa atau haus kayak apa.
Lahan 75 000 hektare lahan HGU steril dari rakyat umum, yang nanti bisa kelaparan, kecuali yang di pekerjakan oleh Perusahaan.

Apakah mereka tidak sadar bahwa bhumi subur ini (apalagi dengan kemauan Politik Pemerintah Pusat cq Departemen Transmigrasi  ( sudah diganti nama jadi Kemenakertrans) dan Terutama Pemerintah Daerah membantu tiap Warga Negara untuk bertani di lahan milik sendiri, saya kira sampai saat ini cukup untuk semua orang yang mau, harus difasilitasi sementara bisa, tidak hanya difasilitasi tapi diarahkan untuk bisa mencukupi pangan dari bhumi kita ini,  paling kurang untuk keluarganya sendiri.

Bahwa Si Penanggung jawab untuk mengupayakan pemerataan penduduk kesemua pulau-pulau, bahkan yang mendesak bukan hanya tekanan penduduk yang tidak seimbang, tapi sangat diperlukan agar siapapun yang butuh makan dan tidak mampu bersaing dengan kebutuhan mesin mesin milik Modal Besar seluruh dunia, dibantu melibatkan diri, menanam sendiri dan mencukupi diri sendiri dengan staple food dan menyediakan bagi orang lain, tanpai mengandalkan beli dari Pasar Dunia, yang sudah ditukangi oleh lembaga Finansial Dunia, (apa lacur, mereka adalah Kanibal, membuat sebagian penduduk Dunia tidak punya uang untuk membeli ).
Orang tidak perlu terlalu cerdas untuk mengeti betapa krusial-nya langkah ini.

Toh si Pencuri Kesempaan ini lebih memilih mempermalukan keluarga besarnya dan mengkhianati pamannya-bibinya,  untuk mendapat kursi yang empuk saja, tidak berjuang dari posisinya yang sangat strategis untuk Bangsanya di percaturan ini.

Sebagian besar dari Warga Negara Republik ini tidak bisa mengharapkan memperoleh kebutuhan pokok pangan staple food dari Pasar Dunia, karena azas Neoliberalisme, mengharuskan mereka bersaing dengan mesin-mesin dengan design berbahan bakar  minyak bumi yang semakin cepat langka, tapi design  mesin- mesin inilah yang sampai sekarang  kita punya.
Pasar  Pangan Dunia telah dikuasai oleh Modal Raksasa, Satu tempat di Dunia panen raya hanya untuk dijatuhkan harganya dengan dumping stock Dunia cukup dari conjungture harga komoditas itu, mendadak saja hasil panen raya itu ndak ada yang beli, wong sudah di-supply oleh gudang gudang diseluruh dunia yang dimiliki oleh Modal Raksasa ini, yang isinya secara berjangka sudah dimilikinya, kok kebetulan kepingin juga menjual komoditas yang sama, untuk satu tempat kekurangan pangan,  (gobloknya kok ndak bisa menghasikan sendiri),  akan dilayani pasar Dunia yang dimiliki oleh Modal Rahwana ini dengan harga yang setingkat dengan harga unutk mesin mesin yang memberi keuntungan, sederhana saja.

Multinasional Finance Corporation ini luput mendengarkan perintah Allah yang diberikan kepada Nabi-Nya yang terakhir:
“Menimbun pangan dan mendapatkan keuntungan dari maipulasi stock pangan adalah larangan Agama Islam”,  karena mudahnya dapat keuntungan besar atas penderitaan orang banyak, tapi itulah yang dilakukan pedagang besar atau kecil.     
Sekarang dijalani oleh Modal Raksasa Dunia, tentu saja tanpa diketahui oleh FPI (Front Pembela Islam), mesti saja

Jadi gimana ?
Ya nanam sendiri, dimakan sendiri,  syukur syukur bisa melayanai kebutuhan setempat, ndak usah nyari di Pasar Dunia.

Wahai orang yang menyanyikan lagu Kebangsaan Indonesia Raya setiap kesempatan yang cocok dengan khidmat, tahukah anda bahwa anda akan semakin sulit menyanyikan ….. bangunlah jiwanya bangunlah badannya…… untuk Indonesia Raya.
Karena sebagian besar bangsamu nanti  sudah akan lemas kelaparan.
Karena Bangsa anda menggantungkan keberadaan staple food nya dari Pasar Dunia, sudah jadi instrument menggoreng konjuncture harganya oleh Lembaga financial Dunia.
Meskipun tanah subur masih berlimpah.
Sepuluh tahun sampai akhir 2014,  Orde Reformasi masih tidur pulas tentang  perkara ini.
Tapi si Oknum berjamaah di Pemerintahan Pusat dan Daerah bejibun gratifikasi yang kebal hukum wong dibolehkan, menghadiahi HGU untuk bio ethanol dan bio diesel kepada Modal Raksasa Penguasa Dunia,sambil cuek terhadap transmigrasi*)

 
                                                                                             

Senin, 07 Januari 2013

MEMANJATI JENJANG KETOKOHAN DENGAN ONGKOS PALING MURAH, BERMUARA MENJADI PIMPINAN POLITIK


Sebenarnya, adakah manusia yang tidak punya ambisi ?
Semua manusia punya ambisi, cuma cara meraih ambisinyalah yang akan menandai kualitas sebenarnya dari manusia ini. Umpama ambisi memperoleh hadiah Nobel.
Tentu saja manusia yang berhasil meraih hadiah Nobel, adalah putra-putri terbaik dari bangsa itu.
Yang saya akan ketengahkan disini adalah ambisi “Memimpin” masyarakatnya, satu diantara ambisi manusia yang amat banyak ragamnya.

Sebelum orang menjadi tokoh Pemimpin, tentu dia harus diakui oleh masyarakat sebagai “tokoh” untuk bidang yang menyangkut kehidupan masyarakat.

Nah sekarang terbukalah jalan untuk menjadi Pemimpin Mayarakat – harus menokohkan diri.

Tokoh yang selalu terlihat menonjol dalam masyarakat miskin adalah Tokoh Agama apapun, sedangkan ketokohan yang sulit dicapai adalah tokoh Seniman, dan tokoh yang paling tidak ada tolok ukurnya, tidak ada 'isi'nya yang jelas adalah tokoh Politik, selama konstelasi ekonominya cocok dengan kepribadian si calon Politikus itu. Inti bathinnya adalah individualis.

Tokoh Pendidikan, tokoh Ekonomi tokoh Lingkungan, tokoh Wanita, tokoh Sosial Budaya, tokoh Ilmu Pengetahuan,  bahkan tokoh Ideology,  jenjangnya jelas terukur. Artinya terukur dari ide-ide nya dari pelaksanaannya yang dimengerti oleh masyarakat dan nyata menguntungkan masyarakat,  ketokohan diperoleh dengan jerih payah, kadang tidak dimengerti oleh masyarakat, hasilya harus nyata, dia tidak dimusuhi malah memperoleh penghargaan, karena  sejalan dengan  dengan konstelasi kekuasaan.

Orang yang memaksakan diri, tentu saja berhasil menurut kadar kelicikan-kelicikannya  misalnya  menciptakan energi dari sekedar air tawar, (ndak usah repot repot dengan pembakaran luar, merubah energi panas bahan bakar menjadi energi gerak dst).
Orang tidak akan terlalu lama terpukau oleh kelicikannya.
Kita kenal dengan tokoh yeng menciptakan the “blue energy”, setelah dekat dengan Pejabat, lantas issue itu hilang begitu saja.

Inilah kerumitan dari pelaksanaan ambisi seseorang untuk jadi Pemimpin Masyarakat.

Dalam masyarakat miskin, memperoleh ketokohan di bidang Agama apa saja, juga sulit, harus memiliki jenjang pengetahuan Agama dan pengetahuan kemasyarakatan, dipelajari dari yang Akhli secara scholastic dengan susah payah, begitu pula dalam Ideology pembebasan masyarakat dari kemiskinan.

Disini ada peluang untuk menjadi tokoh dengan ongkos yang murah dan mudah, dan berhasil.
Pada waktu ideology komunis berkembang diseluruh dunia ketiga yang miskin, maka jaman dulu orang bisa jadi tokoh 'pembebasan' dengan hanya selalu memakai hem/kemeja merah, dan hidup memusuhi kemapanan, menonjolkan kejembelan lantas menjadi sifat kekiri-kirian. Maka pada jaman itu, orang-orang macam ini dihormati kaum Komunis dan rakyat miskin pada jaman dulu.

Pada zaman orang mengharapkan bimbingan Ilahi untuk mendapatkan jalan terbebas dari kekurangan, orang bisa langsung dihormati oleh kaum beragama hanya melarang kaum wanita duduk di boncengan sepeda motor dengan mengangkang, demi kesopanan beragama, wong perempuan-perempuan yang membonceng itu hidup di Serambi Mekah.

Dengan begitu saja  dia bisa menjadi tokoh zamannya dan menaikkan elektabilitas nanti bila diperlukan.
Banyaklah cara menokohkan diri dibidang Agama, dengan cara murah dan mudah yang buntut-buntutnya menaikkan jenjangnya jadi tokoh Politik yang tidak jelas.

Begitulah sosok ini, naik jenjang ketokohan, jadi  pembawa panji keagamaan dan naik lagi jadi Pemimpim Politik, Pemimpin Kekuasaan satu wilayah, yan artinya pendapatan Daerah dan kekayaan alamnya.
 Sosok lain menekuni hablum minanas, hablum minallah dengan pengetahuan dan perbuatan dengan susah payah, semoga Allah membimbingnya, tapi masih sulit untuk jadi tokoh Agama, apalagi meloncat jadi Pemimpin Politik yang tidak jelas maunya apa, selain “jerohannya” atau isi perutnya yang sangat egois.(*)

.
                                                                    

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More