Sayang Sama Cucu

Sayang Sama Cucu
Saya sama Cucu-cucu: Ian dan Kaila

INDONESIA PUSAKA TANAH AIR KITA

Indonesia Tanah Air Beta, Pusaka Abadi nan Jaya, Indonesia tempatku mengabdikan ilmuku, tempat berlindung di hari Tua, Sampai akhir menutup mata

This is default featured post 2 title

My Family, keluargaku bersama mengarungi samudra kehidupan

This is default featured post 3 title

Bersama cucu di Bogor, santai dulu refreshing mind

This is default featured post 4 title

Olah raga Yoga baik untuk mind body and soul

This is default featured post 5 title

Tanah Air Kita Bangsa Indonesia yang hidup di khatulistiwa ini adalah karunia Tuhan Yang Maha Esa yang harus senantiasa kita lestarikan

This is default featured post 3 title

Cucu-cucuku, menantu-menantu dan anakku yang ragil

This is default featured post 3 title

Jenis tanaman apa saja bisa membuat mata, hati dan pikiran kita sejuk

Rabu, 27 Mei 2015

HUKUM UNTUK KAUM BUDAK DI KERAJAAN ROMAWI

HUKUM UNTUK KAUM BUDAK DI ROMAWI
Nun dikaki gunugn Visuvius yang subur tinggal pensiunan Praetor yang kaya raya, kebun buah buahan dan anggurnya meskipun gersang karena teletak di punggung bukit, kebun itu  nampak subur dan berbuah lebat berkat pengangkutan air dari anak sungai jauh dibawah pekebunan itu, dipikul dengan ember kayu oleh ratusan budak budak milik pasangan setengah tua pensiunan Praetor itu. Uang tidak menjadi masalah buat memberi makan budak budaknya, karena emas peraknya segudang rampasan waktu masih jadi Praetor sebelumnya. Pekerja memangkas pohon buah buahan kebanyakan budak perempuan campuran budak muda sexy dan perempuan budak setengah baya. Ada seorang budak berasal dari Madura ( jangan keliru, Madura di Spanyol sekarang) yang menarik hati sang Praetor tua itu, maklum orang Romawi yang  hawa hafsunya tak pernah terkendali, dan budak ini toh miliknya. Cara sang Praetor tua menarik hati si budak muda dan seksi ini begitu terang terangan dan berlebih lebihan untuk ukuran budak, sangat menyakitkan hati Nyonya Praetor yang sudah gembrot tidak berbentuk lagi. Entah oleh karena apa begitu dalam luka dihati si budak,kata kata nyonya besar, menyertai pukulannya pada pipi kanan kiri dan jambabakan pada rambutnya yang sampai mencabut segenggam, maka  gunting pemangkas tanaman yang disampingnya tanpa pikir panjang ditusukkan keperut nyonya yang sudah buncit itu menancap dalam dalam kearah atas mengenai jantung sang nyonya  yang lagi marah itu, mati seketika. Perkebuna yang sunyi itu geger. Seorang legioner setengah baya yang bekerja sebagai mandor budak disana langsung mengayunkan pedangnya memancung budak muda itu. Tanpa tanya tanya lagi.
Bagitulah hukum Romawi jaman perbudakan.  diselenggarakan, tanpa ragu ragu dan cepat. Tinggal sang pensiunan Praetor merenung ditemani segelas anggur dan berfikir. Romawi bakal menguasai Dunia karena hukumnya sederhana dan cepat terhadap budak budak. Tidak perlu ditanya lagi kenapa kalap membunuh, pokoknya ada saksi ( saksi terhadap kejahatan yang dibuat oleh hanya seorang budak terlalu gampang dicari), Waktu sang Praetor menanyai si Legioner malah sang Praetor tidak tahu mukanya yang ditutup topeng besi pelindung,waktu diperintah membuka topeng si Legioner menolak sambil berkata, bahwa untung si Budak wanita itu dia sudah menghukum pancung atas nama Dewa Zeus dan dengan memintakan pengampunan bagi dosa si budak kepada dewa Zeus, untuk budak  dari Madura ini. Sedang sang Praetor tidak bisa menuntut si Legioner karena pembunuhan kekasih budaknya ini bukan persoalan besar lagipula dia tetap bertopeng besi sebagai Legioner yang lagi  bertugas dilindungi Dewa Zeus, jadi tidak ada saksi. Begitulah nasib budak dari Zaman Romawi sampai zaman zaman Perbudakan yang lain di Dunia ini. Pantas para vigilante yang bercita cita medirikan Negara yang luas wilayahnya bisa menelan Negara Negara lain, dari Sabang sampai Maroko dengan Hukum zaman Perbudakan diseluruh Dunia selalu berfoto dengan korbannya yang akan disembelih sambil mereka memakai topeng. Ceritera ini sangat tidak bermutu tapi kejadian bener. Lain di zaman Romawi lain di zaman sekarang, yang ini adalah korban untuk menunjukkan kemarahan hasil keboidohannya sendiri. Korbannya malah tanpa salah apapun. Tulisan yang mengenai peristiwa yang sangat tidak bermutu ini tdak perlu dikomentari oleh siapapun, untuk menjaga perasaan.

Jangan khawatir, kita hidup di jaman terang benderang dimasa kini,NKRI dibentengi dengan pembukaan Undang Undang Dasar bahwa KEMERDEKAAN ADALAH HAK SEMUA BANGSA. kita bertekad mendirikan Negara moderen dan hidup didalamnya denga kehidupan yang berharga untuk dihidupi, bagi semua penghuninya. Negara pluralisme dengan kehidupan yang dipayungi Hukum plural. Penduduknya yang 90% Islam telah mebaca dan menerima Al Qur'an dengan dibentengi oleh pembukaan Bismillahirakhmaniraim, untuk semua surahnya kecuali  At Taubah. Maha benar segala firman Allah didalamnya. juga dibuka dngan bismillahirakhmanirakhim, Bertekad nntuk menjadi rakhmatanlilalamin untuk semua ciptaan Allah dalam kehidupan Dunia sebagai Khalifah Allah di Bhumi  (Al Baqarah ayat 30.) sama sekali tidak melanggar hak mutlak Allah untuk mengampuni atau tidak mengampuni dosa makhlukNya, kecuali atas izin Nya,  dan dari asma 99 yang lain di alam ini.   Insya Allah*).
Namun, dalam hati kecilku, sebagai kaum muslimin, aku tetep mendambakan hukum qisas diberlakukan untuk para koruptor, pencoleng kerah putih, bankers dan penegak hukum yang sudah disumpah tapi kok masih nekad korupsi, kolusi, makan komisi dan gratifikasi, dll. .  Bisa dicoba dimasukkan dalam. Qonun di Aceh terlebih dulu,  pasti hukum Mati yang cepat dan tidak ragu ragu bakal membuat para calon pendosa jenis ini segera jera, Maha benar Allah dengan segala firmannya, Maka korupsi dan sebangsanya akan diadili oleh Qadi ( sebab kerusakan yang ditimbulkan oleh kejahatan ini jauh lebih besar dari pembunuhan)  yang tanpa ragu ragu, dengan menghukum qisas terhadap mereka, perkembangan jumlah para koruptor ini segera mandeg. Insya Allah Aceh menjadi Daerah di Indonesia yang tanpa kejahatan korupsi...

Minggu, 24 Mei 2015

PARA KSATRYA ADALAH PEMIMPIN MASYARAKAT YANG SEBAIK BAIKNYA SEPANJANG SEJARAH MANUSIA

PARA KSATRIA ADALAH PEMPINAN MASYARAKAT YANG SEBAIK BAIKNYA SEPANJANG SEJARAH MANUSIA.
Masyarakat Hindu menggolongkan mereka yang nenggunakan kekuatan fisik dan mental sebgai senjata untuk memenangkan pertarungan adalah golongan atau wangsa Ksatria. Memenangkan pertarungan fisik berarti memperoleh kekuasaan terhadap masyarakatnya. Kelebihan para ksatria, mereka tidak takut dibunuh dan tidak takut membunuh. Sedangkan manusia golongan lain sangat mencintai hidupnya. Apabila watak ini dimiliki oleh mereka yang kurang daya pikirnya, maka mereka disebut para yaksa danawa mereka berani membunuh dan berani mati tapi kurang punya daya pikir – yaksa danawa sama dengan raksasa  sama dengan gergasi, sama dengan kaum liar. Selebihnya kaum terpelajar yang menguasai ilmu dan pengetahuan sangat tergantung keselamatannya kepada kaum ksatria, dan meskipun dengan segala cara mengukuhkan kelebihannya terhadap kaum ksatria kaum Brahmana ini selalu menundukkan diri kepada kaum ksatria. Sebaliknya pengetahuan kaum brahmana telah mengangkat derajad kaum ini lebih tinggi dari kaum ksatria  karena dianggap mengetahui kemuauan adhikodrati.
Ribuan tahun era feodalisme telah mengukuhkan kekuasaan kaum ksatria dengan upaya yang terus menerus menyempurnakan diri dalam  fisik penguasaan senjata dan ilmu dan perilaku terpuji yang didapat dari kaum brahmana. Sehingga dunia feudal diseluruh dunia dari semua bangsa mengenal sifat ksatria adalah sebaik baiknya sifat manusia yang dalam bahasa Perancis dikenal dengan “noblesse obligue” atau watak luhur para ksatria. Dalam bahasa Inggris “ chivalry” yang kurang lebih maksudnya sama, dibedakan watak “gentleman” disamping orang kebanyakan, di Jepang dikenal dengan nama watak kelompok samurai, dalam sejarah Islam ada sosok teladan ke ksatriaan Salahudin al Ayubi yang memenangkan penyerbu dengan dalih Perang Salib dengan watak premannya. Sebaliknya dari fihak Spanyol yang Negaranya diduduki oleh orang Arab ada El Cid yang legendaris, menjadi ksatrya Kristen disana.
Seluruh kepulauan Nusantara kebudayaannya dibawah pengaruh Hinduisme dalan waktu berabad abad, yang didasari kurang lebih dengan watak ke-ksatriaan dari wangsa yang menguasai kekuatan Negara damanapun di Nusantara.
Hanya tiga abad paling lama, seluruh kekuatan masyarakat telah ditaklukkan oleh kekuatan bangsa yang menjajah dengan akal pedagang yang sangat rakus, haus keuntungan, yang tidak mempedulikan cara melainkan hasil saja.
Wajar, bila watak ksatria sudah jadi tolok ukur setiap penguasa satu wilayahdi Nsantara, seterusnya hingga sekarang sangat menghargai para ksatrianya.
Perang kemerdekaan yang kita selalu kenang dengan bangga dan dengan penghargaan kepada ksatrianya, yang sayangnya beberapa puluh tahun kekuasaan Orde Baru telah dimanipulasi oleh sejarawan dan pakar ilmu Social Profesor Nugroho Notosusanto, yang mirip  Gobbles pendukung fanatic Nazi Jerman, menjadikan para ksatria ini cuma kroni Jendral Suharto di-jejal jejal-kan  kroni Jendral Suharto dan para pasukannya ini saja. Untuk pembenaran siasat kekuasaan yang dikenal dengan “dwifungsi ABRI” alias kekuasaan rangkap dari ranah militer dan ranah sipil oleh Angkatan Bersenjata Rapublik Indonesia (ABRI),  penguasanya adalah pemegang senjata.
Cara militerisme yang sudah kuno, otoriter dan sarat dengan KKN ini dijejalkan dengan alasan demi keamanan dan ketertiban, karena demokrasi berpolitik selalu membawa kegaduhan, Memang kegaduhan adalah side effect dari tarik menarik kepentingan masyarakat dan kepentingan individu. yang harus di laksanakan dengan keterbukaan politik maupaun anggaran. Seperti yang dinyatakan para pakar bahwa oxigen dari demokrasi adalah keterbukaan informasi, sedangkan kekuasaan otoriter kerahasiaan dan mistifikasi dari pengeluaraan negara adalah ecosistim yang dimestikan, harus tanpa keterbukaan informasi, malah ditambahi dengan menyesatan yang mistis kalau perlu.
 Ini sekarang dimata rakyat telah menodai keseluruhan penghormatan rakyat kepada pemegang senjata, karena kekuasaan mereka selama 35 tahun Orde Baru sangat didasarkan pada penumpukan kekayaan dan istana mewah yang dibangun ditanah resapan air, tanpa memperhatikan lingkungan yang luas dan menyebabkan run off atau banjir ketempat yang lebih bawah, ini dilaksanakan dengan  secara menyolok dan mudah secara instan lagi, yang diperkuat dengan kekuatan organisasi bersenjata,  diteladani sendiri oleh sang Jendral Suharto dan keluarganya sendiri. Anak pinak sang Jendral masih menjadi wakil rakyat di DPR RI sekarang, entah mewakili rakyat yang mana, kerjanya memamer-mamerkan “keberhasilan” ayahnya.
Mulai saat itu dirasakan msyarakat sudah muak dengan apa yang dinamakan “dwifungsi ABRI” yang pelaku nya kebanyakan tidak disaring dengan watak ke ksatriaan yan sudah ada mulai berabad abad yang lalu. Memang bila dirunut dari pembentukannya mulai dari perang kemerdekaan telah banyak disusupi oleh pencari kesempatan dan preman preman pasar yang nimbrung pakai atribut militer seperti Sabaruddin tahun 1945 -1947 di sekitar Malang, Kartosuwirjo 1948-1952 di Jawa Tengah dan Jawa Barat, sebangsa tokoh fiktif Naga Bonar, yang terikut hingga Orde Baru memberi kesempatan  sungguhan, seperti Jendral Thahir kroni Jendral dr. Ibnu Sutowo yang memainkan harga migas seperti SKK migas sekarang dan harta warisannya di bank Sumitomo telah dijadikan joint accout dengan istri keempatnya Kartika Thahir  ditilep oleh istri mudanya itu, bila tidak gaduh mana kita tahu ?
Pasukan Cakra dari Madura yang berwatak preman dari KNIL yang begabung dengan TNI karena perjanjian KMB.
TNI jendral Suharto dengan hasutan dan dukungan CIA membasmi secindil abangnya para petani penerima tanah land reform menurut UUPU no 5 th 1960 sudah dibagikan kepada mereka, adalah lahan perkebunan tebu Belanda di Jawa Tengah dan Jawa Timur tembakau di Sumatra Utara yang sudah dikuasai para  Tuan Tanah , para petani miskin penerima bagian tanah ini ditetapkan  sebagai antek G 30 S PKI pembunuh jendral jendral th 1965, termasuk guru guru desa yang jumlahnya orang tidak boleh menghitung.
Seandainya praktek zaman Orde Baru dwifungsi ini tidak didominasi dengan kenyataan watak yaksa danawa yang mengeruk harta dan kenikmatan hidup dengan instant, sebenarnya rakyat Nusantara sangat menghomati para ksatria-nya dan tidak ada persoalan mengenai dwifungsi apa trifungsi apa multifungsi dari ABRI nya, mohon ditandai fakta ini, tidak perlu menyewa Prof Nugroho Notosusanto alm., dengan segenap murid muridnya para preman intelektual yang tidak tersebar di terminal terminal dan pasar pasar, melainkan di club club elite di night club dan café café sebangsa LHI, Fath dan SDA, Bupati Fuad dari kabupaten Bangkalan, Lembu Andini, Sultan Bhatuijo dan yang lain tak terhitung, dari fisionomynya saja dari semula sudah terpampang sifatnya yang culas dan hangkara murka *)

Jumat, 22 Mei 2015

OPTIMISME ADALAH KATA KUNCINYA, MARILAH KITA MENCOBA UNTUK MELAKSAKAN TRISAKTI, SUSAH PAYAH SUDAH SEMESTINYA

MARILAH KITA COBA UNTUK OPTIMIS, SELAMA LIMA TAHUN PRESIDEN JOKOWIDODO.
Bangsaku, setelah founding father kita mati teraniaya oleh ulah bangsa sendiri sebagai korban rekayasa kekuatan adhikuasa,  oleh prasangka ketakutan yang direncanakan. Ulah founding father kita, Bung Karno dengan menuntut kembalinya Irian Barat kepangkuan Ibu Pertiwi, membuat mereka panas dingin, takut juga kalau kalau terjadi “domino pinciple”, setelah di Vietnam mereka keok. Disamping memang mengincar emas disana. Baru sekarang limapuluh tahun kemudian semua itu jelas nyata.
Setelah masa Orde Baru yang enak karena dijejali hutang yang bertimbun timbun, dalam segala bidang termasuk pertanian dengan subsidi besar besaran untuk “in put” usaha tani terutama padi dan polowijo a’la BIMAS PADI DAN POLOWOJO, hampir sepanjang dua puluh lima tahun, yang sayangnya manfaat Bimas ini hanya disisi pengadaan dinikmati petani karena kemudahan berusaha ( sedang harga gabah dikendalikan oleh Bulog dengan operasi pasar, artinya menjual beras dibawah harga lokal waktu panen raya, demi keuntungannya sendiri) , sedang disisi ekonomi dinikmati oleh para sudrun dan spekulan besar kroni si sudrun di BULOG ini, termasuk exporter abal abal yang ada di Sungapore yang mensupply document impor beras abal abal (sedangkan berasnya dari sini saja yang dikemas persis kayak dokumen impornya) , dibidang Pertahanan dengan senjata hibah yang bekas dan beaya pemberantasan komunis yang tak terbatas, dibidang kesejahteraan, pasar dibanjiri barang import barang pakai dengan hutang US dollar yang berjibun, pembangunan industry hilir pabrik pabrik di Negara maju, oleh swasta kroni Jendral Suharto yang mewakili penerima mayoritas kredit pemerintah untuk pertumbuhan industry ini, yang sudah  terpercaya berkongsi dengan si Babe Jendral Suharto seperti Liem Sioe Liong dan kawan kawan, dengan kroninya, dan dwifungsinya yang masih dirindukan sekarang ini, oleh yang berkepentingan, assembling mobil oleh Astra  dkk, disertai dengan penghapusan transportasi tram listrik diganti dengan bemo, dan selanjutnya tanspotasi cepat masal menjadi terbengkalai.
Orde Baru bangkrut karena mbalelo enggan memerdekakan Timor Timur, karena harga diri sang dictator, maka credit langsung diketati oleh konsursium Bank Bank kelas Dunia IMF World Bank, ADB dan sebagainya. Langsung  dictator Suharto ditinggalkan hampir semua menterinya, Diktator ini akhirnya mengundurkan diri, untuk selama lamanya karena tidak punya kader sekelas Jendral   Fattah.al Sisi. Tinggal kenangan betapa enaknya berkuasa  dipangku oleh Bank Dunia dengan menggadaikan seluruh potensi ekonomi bangsa ( yang masih ditiup itupkan oleh putrinya yang dari Partai Golkar sebagai anggauta PDR RI  sekarang dari  fraksi partai Golkar), betapa pahitnya hukuman tidak diberi kradit karena mau mempertahankan harga diri, bahkan dictator ini memerintahkan membuka lahan gambut satu juta hectare pada akhir kekuasaannya. Apa daya sudah ditinggal oleh kroninya dan putra putrinya, adik kakaknya hanya kapitalis karbitan saja, perut gendut penuh nafsu kepala kosong. Ganteng cantik tidak punya nurani dan harga diri. 
Penggantinya silih berganti dengan Partai yang tidak berideologi, sebangsa SDA dan LHI tapi koalisinya berhenti memerintah dengan menggendong kasus korupsi yang amat besar yang dikerjakan oleh kader kadernya yang berasal dari para sudrun. Partai Partai Agama yang diketuainya luluh lantak oleh godaan sepele “harta tahta dan wanita” menjilma jadi partai gurem. Belum pernah dalam sejarah bangsa ini Partai Partai Agama jadi gurem memalukan ini, tidak ada kader sekelas   Fattah al Sisi, si Jendral ini dapat kredit dollar murah dan banyak untuk memberi makan rakyanya, lha kita tidak, kita jadi pesimis terhadap hari depan bangsa ini.
Sekarang kita menghadapi kenyataan, bangsa ini akan dibawa mengarungi lautan cobaan hidup miskin tapi berharga diri, demi menyelesaikan trisakti. Apakah ini hanya mimpi ? Gini saja, Presiden Jokowidodo mendadak sudah ditawari kredit nikmat banyak dan murah dengan borgolnya untuk dipakai sendiri.
Ya apapun mimpi atau sungguhan tapi  niat sudah dimulai, Presiden Jokowidodo dan kabinetnya yang masih dipengaruhi kepentingan Partai dan koalisinya akan di reshuffle, yang keterlaluan akan diganti, Presiden sendiri sudah keliling untuk mencari trobosan, kebocoran oleh tikus raksasa migas yang pelakunya hanya beberapa gelintir orang dan sangat tersembunyi, sangat menggiurkan untuk dilindungi,  malah sudah dibabat oleh penyidik polisi. Kalok masih sulit mencari dollar akan mengadakan intergovernmental trading untuk dapat beras Ini semua pertanda bahwa Presiden Jokowododo mengerti.
Ya, kita tau arahya lah, makanya segera Institusi bank Dunia langsung menawari ktredit murah dan banyak, supaya Indonesia setia pada rantainya.
Optimisme ini dasarnya memang kita mampu mengadakan komoditas untuk di barter yaitu ikan, tepung tapioca, dan ketela batatas, karet,  dan kopi, kelapa sawit, mungkin masih tembakau. Karena mamacu melipat gandakan komoditas tersebut relatip mudah bagi agro economi kita, asal segala rintangan dari pusat sampai daerah yang masih mempunyai banyak lahan tidur sadar. Perlu tekad bulat mempertajam kemauan politis untuk ini, mengatasi rintangan politis sukuisme yang masih  berbudaya feudal yang sudah dipraktekkan oleh Amran Batalipu ex Bupati Buol Sulawesi Tengah dan bangsa Kroninya Hartati Murdaya Poo, Artalita Suryani,  para sudrun dan sebangsanya, sebagai antek institusi keuangan dunia, nyata pada apa yang terjadi pada Nyona Sri Mulyani yang tentu saja akan merentangkan rintangan  dengan segala cara dan beaya, bahkan akan mengerahkan ISIS import ke Indonesia bila perlu. Mengerahkan aksi mahasisiwa a’la pembentukan Orde Baru dengan “KAMI” dan “KAPPI”  nya, yang gejalanya sudah nampak pada demo mereka tg 21 Mei 2015 sebagian demonstran dengan indentitas dari Muhammadiah, membakar dan merusak ( berita TV Satu tg 22/5/2015 jam 5 sore). Sebab ide trobosan ini memang berdasar dan mungkin,, bila dikerjakan dengan tekad politik yang bulat untuk membebaskan diri demi amanat TRISAKTI.
Bagaimana tidak, tepung tapioca adalah bagian dari kuliner disana dengan penduduk yang sangat banyak yang tak terpisahkan dengan semua resep masakannya sehingga dinamakan “a wonder flour” seperti bawang putih di kuliner kita, sedangkan ketela batatas dimakan oleh penduduk mereka sebagai dilicatess dan sesulit mereka mendapatkan panen yang baik, seperti bila  kita nekad menanam bawang putih. Sedang Manihot utilisima/ ketela pohon tidak tumbuh di sebagian besar daerah iklim mereka, meskipun mendapat persaingan dari Vientam dan Negara tetangganya di Asia tenggara, Ikan dilaut kita perlu teknologi mutakhir untuk menjamin hasil tangkapan setiap kali melaut dengan beaya bahan bakar yang besar, kelebihannya setara dengan kekurangan beras dan kedelai, yang teknologinya sudah ada, sedang kopi dan karet kelapa sawit sudah ada ditangan kita.
Yang diperlukan adalah tekad dan optimsme kita, bahwa kita sudah sampai di tantangan melaksanakan amanat trisakti, berani melaksanakan apa tdak ?*)
Lilhat juga artikel di google dengan kata kunci INDONESIA L] BOND Bulog.....

Sabtu, 09 Mei 2015

PEMBIARAN EROSI KEPENTINGAN UMUM


PEMBIARAN EROSI KEPENTINGAN UMUM:
BAYAR UANG PARTISIPASI PENANGKAL VONIS PENGADILAN, AMAN
GRATIFIKASI  BUKAN, MARK UP  BUKAN, KOMISI  BUKAN, PENYALAH GUNAAN WEWENANG  BUKAN
REKENING GENDUT, KOK BISA NGUMPUL SAMPAI 50 MILLIARD RUPIAH  UNTUK SETIAP PEMILIKNYA PADAHAL SEPESERPUN TIDAK TERBUKTI  ME-MARK UP BELANJA  NEGARA? BAHKAN ANGGAUTA DPR RI YANG “TERHORMAT” MELOLOSKANNYA DARI TUDINGAN NEGATIP, KARENA MEREKA SENDIRI LEBIH KEDODORAN.
Cerita ini sebenarnya alam sudah melaksanakan, dan mengajar kepada kita, bagaimana parasit yang nebeng ditubuh manusia bisa bertahan memparasiti hidup manusia selama mungkin, dan berkembang biak selama mungkin, menular di orang lain sebanyak mungkin. Keberhasilan yang paling tinggi derajatnya bagi parasite adalah hubungan semacam ini, yang sudah dibuktikan oleh Mikobacilus tuberculosis denga manusia korbannya. Seperti Pelindung masyarakat terhadap masyarakatnya, yang berakibat melemahnya kehidupan masyarakat sendiri.
Ternyata diantara yang berhasil adalah bacteri TBC .  Sehingga manusia bisa diparasiti bacteri TBC  artinya sakit TBC lama sekali, tidak merasa apa apa selain cepat lelah, kan biasa ? Tidak demam, tidak mual, tidak pusing tidak batuk ( hanya kadangkala, biasa), tapi pemeriksaan reaksi tubuh yang sangat sensitive sekarang bisa mendeteksi adanya parasit ini ( pemeriksaan reaksi Mantoux). Bacteri TBC bisa bermukim disemua jaringan tubuh manusia, paru paru, tulang, kulit, kelenjar getah  bening, otak dsb. Bacteri TBC bisa menjangkiti/memparisiti binatang seperti sapi, dan primata. Sampai sekarang Bacteri TBC menjuarai jadi pembunuh nomer satu dinegara Negara bekembang, pemicunya adalah kehidupan miskin. Malah sudah berkolaborasi dengan virus HIV segala. Kehidupan miskin kronis dalam jangka puluham generasi, menjadikan kebiasaan kebiasaan hidup tidak sehat, terutama nutrisi, makan yang asal kenyang. Kehidupan yang selalu terancam bencana dan kelaparan, dengan sendirinya menimbulkan tekanan bathin,  artinya menderita lahir dan bathin. Yang paling mudah dari golongan masyarakat yang rentan terhadap TBC,  adalah: pencari kehidupan secara nonformal, dengan menyerempet nyremet melanggar hukum masyarakat yang kadang kadang diancam dengan segala hukuman dari ringan sampai berat, meskipun hanya rehabilitasi ( katanya), tapi bagi mereka bahkan rehabilitasi inipun dirasa hukuman karena meninggalkan kuwajiban keluarga.Golongan ini selalu mengggunakan kepentingan masyarakat biasa untuk mencari makan, bisa ditindak bisa dibiarkan dalam waktu yang sangat lama, misalya pemakaian trotoir untuk perluasan toko, untuk parkir kendaraan sehigga mengganggu pejalan kaki.
Bila dipikir dengan baik, semua rekening gendut ini saya mengerti dari berita Koran. Emang sudah lama dimiliki oleh bintang bintang penerus monsieur Fouche’ ( hidup di zaman revolusi Perancis sampai akhir kekuasaan Kaisar Napoleon Boneparte, masih dipakai juga oleh Le Comte de Tallyerand meskipun mereka berdua tidak saling menyukai, ( google kata  kunci biography dari  Joseph Fouche’ 1719 – 1771 ).
Hanya kini, gejala ini ada dizaman lain dan Negara lain, kebetulan di negara kita Indonesia, entitas yang beroperasi kayak bacteri TBC ini, dalam masyarakat kita dapat bertahan sejak zaman keemasan Orde Baru sampai Orde Reformasi jadi selama 32 tahun ditambah 12 tahun orde Reformasi , saya ramalkan masih bisa lebih lama lagi, hebat juga ya ?
Saya kira prestasi penerus beliau di Indonesia ini  pantas diacungi jempol. Monseur Fouche’ cerdas, kejam, dan piawai berkomplot dengan para pengendali kekuasaan Negara Perancis pada zaman yang sangat explosive dari zaman hukum rimba itu.
Sedang yang disini entitas dari golongan ini diajari lembut pada mayarakat penyedia dana, malah cenderung sopan dan tidak galak dengan masyarakat pelanggar undang undang pelanggaran ringan, sesopan petani tambak menggiring gurami dan ikan masnya masuk jaring, hanya dengan melambaikan tangan dan membunyikan pukulan ember saja. Adapun  iuran receh (lembar limapuluh ribuan) yang saban hari terkumpul hanya berdasarkan kesadaran masyarakat buat berbagi saja, sambil ngeri ngeri  sedaaap, istilah Sutan Batu Gana wakil rakyat di DPR RI yang sudah terkenal itu,  jangan jangan surat suratnya ditahan, usahanya disegel, untuk diusut ke pengadilan, kan makan waktu beaya dan tenaga buat sidang, dan berabe ?  Karena terpaksa, bejuta orang melompat pagar, ya ya  namanya cari makan. 
Sumber ini sangat dipelihara sehingga dana receh lancar mengalir berputar keatas seperti mesin  jam. Pemasok dana walau sebutir pasir akan tetapi dari lapisan rakyat yang harus kreatip mencari makan mulai dari sector nonformal, sampai tindak anggauta masyarakat menganggu kepentingan umum, dari kampung pekerja rumahan pemalsu merek kosmetik ( kemasan daur ulang, segel  dibuat mirip,bahkan lebih bagus), sampai pabrikan product kecantikan palsu dan illegal, disket dan kaset bajakan sangat marak dikaki lima, yang berarti pembajakan hak milik intelektual, pembajak program computer mereka setia setor,  dari penjual makanan berformalin sampai pabrik saos tomat palsu dan menambahkan bahan berbahaya, semua tetap mengalir dana partisipasi sukarela karena sering salah parkir kendaraannya, supaya masyarakat adhem ayem mati pelan pelan.  Pedagang kaki  lima, yang jelas mencederai kepentingan umum, penjaja sex dijalan jalan, tukang becak yang nangkal di pojokan kampung dan trrototoir jalan khusus unutk pejalah kaki, warung warung kopi dan minuman beralkohol murahan tempat nangkal penjaja sex, toko toko yang menggunakan trotoir untuk menjajakan dagangan, penjudi kecil kecilan, tukang copet dan pengamen di bis bis selalu menyempatkan setor sukarela tanpa harus bilang usahanya apa sebagai  berkah pada si “klanting” istilah untuk pangkat yang paling rendah, kemudian keatas keatas transenden berantai sampai ke bintang dilangit teratas, yang hanya a/c puluhan orang saja, terus mengalir setoran sukarela, dari hiburan malam kelas teri sampai kelas kakap patuh setor disamping setiap pamen penguasai wilayah memangku tugas terhadapi masyarakat yang mesti digali sumbernya, juga untuk keperluan sendiri dan iuran persembahan merupakan bagian kecil  saja, toh ada mekanisme perhitungan deret ukur sehingga sampai ke bintang diatas persis tepat menurut perhitungan. Bagaikan akar pohon bisataru yang membelit mesra ibu Pertiwi dengan akar rambut ratusan ribu, dibagian yang terkecil sampai ke sumber kejahatan terorganisasi a’la Herkules, pambalakan liar dengan export bermilliar rupiah, a’la briptu Labora, dan lain lain. Nah sistim inilah menyangkut pelaku usaha jutaan orang berusaha mnecari nafkan “miring” yang dengan segala upaya harus diamankan.
Lah si letkol NB ini,  si sialan ini,  sudah dikasih hati, dikasih kesempatan jadi penyidik yang digaji tinggi di instansi penting yang lagi ngetren dan naik daun  kok lupa tradisi, manjaga kepentingan korps ini apaan?   Di instansi lain tidak kayak di- instansi ini, si pemasok tidak sukarela, tapi kepada instansi M. Fouche’ ini, sistimnya  sukarela sangat anggun, dan harus di jaga tetap begitu dengan segenap kehormatan para anggauta korpsnya. Istansi baru ini merupakan Komisi yang bisa menyidik pejabat Negara tingkat apapun, eselon apapun, kan sangat penting untuk memperluas penyandang dana dikalangan ini (yang sudah setengah kabal hukum) umpama ditingakat SKK Migas, yang bermain ditingkatan tinggi menilep hasil penjualan migas trilliunan rupiah, siapa yang bisa tahu, dari penyidikan kesalahan apa, selain Komisi yang baru ini ? lha kok malah merahasiakan permainan tingkat tinggi ini dari bekas koleganya satu corps, kan ini merupakan sumber yang sangat menggiurkan besarnya dan bisa lebih dibuat aman lagi dengan bantuan  a’la ajaran  M Fouche’ ? 
Ada satu lagi sumber besar yang mungkin harus dibebaskan dari kecurigaan adalah sumber dari musuh bebuyutan  si teraniaya yang ngamuk, dengan mengumpankan tersangka korupsi sebesar Hambalang suap dari sini untuk isi rekening, demi kelancaran peberantasan gerakan yang menciutkan nyali dunia.
 Tidak heran bila Trikata : Gineng prathidina, Satya Haprabu, dan Tansutresna sudah dihapus diganti kalimat baru pada zaman keemasan Orde Baru, memang sudah lain ( sampai mbah google saja sudah tidak tahu). Anggauta letkol NB, mana dharma bhaktimu wahai adik kelasku ? Apa dikau ndak tahu bahwa menurut Guruji Joseph Fouche’ semua yang kau perbuat sudah tercatat rapi di dossier kami. Walau kau tersangkut paut polah tingkah anak buahmu yang sudah menurut pola kami, puluhan tahun yang lalu, kau kami usut Letkol NB sebab dia lupa, sebagai peringatan bagi yang mau mbalelo yang lain, sekaligus untuk pratanda siapa yang paling tahu dan paling harus mendapat kesetiaan di Negeri ini, ya kami. Kami tahu semua, jadi jangan coba coba mbalelo, kau dan sejenismu sudah kami cap dijidadmu*)
Saran saya kepada masyarakat: Ya kita  harus berbuat seperti pengendalian kasus “kejadian luar biasa” penyakit TBC:
Pastikan entitas pathogen masyarakat ini tidak bermutasi jadi organisme patogenik lain, misalnya jadi Polititisi money-isme, sebab entitas dari corps ini sangat piawai dalam masyarakat, kaum Politisi jangan sampai terpincuk oleh mereka, karean mereka tidak bakal ada tandingannya seperti Edgar Hoover direktur FBI, konon jadi Direktur FBI sampai empat periode president Amerika Serikat, bayangkan betapa rimbun bisataru disana.
Patogen masyarakat yang sudah mirip Mykobacilus tuberculosis terhadap manusia, tidak bakal bisa diperangi apabila penderita masih lemah jasmani larena kemiskinan yang sistemik/ bila ini masyarakat, strukture kesetaraan kesempatan ekonomi masih sangat lemah dalam  masyakarat sekarang antara pemilik modal dan pemilik hanya lahan pertanian, dan tenaga.
Negara dan mayarakat yang belum bisa menyeimbangkan antara pemilik modal dan pekerja, sangat tidak perlu adanya bisataru tumbuh dalam pemerintahannya, sama sekali tidak ada gunanya, baik untuk ketentraman masyarakat maupun semangat rakyat mengikuti programe Pemerintah., boro-boro djadi vote getter.
Para kroni  dari pohon bisataru, politisi tanpa prinsip, pokrul bamboo tanpa idealism, selalu meniup niup besarnya dukungan tersembunyi secara politis  dari kepiawaiam pohon bisataru ini. Kenyatannya meraka tidak kuat jadi vote getter secara teritorial, wong mereka hidup secara feudal, mencolok dimata rakyat.
Yang paling bisa dikerjakan adalah memberi kegiatan non formal pada sebagian besar penduduk untuk mencari nafkah yang halal. Pindahkan penduduk ke daerah yang berlahan tidur banyak dengan kemauan politik yang tegas, dan member sekedar infra structure minimal dibutuhkan untuk mendukung ekonomi wilayah baru ini. Waktunya si sudrun perintang upaya ini dipasokkan menjadi mangsa bisataru ( jangan jangan bisataru seluruhnya sudah nenjalin kemesraan dengan sudrun sudrun ini ?).

Sabtu, 25 April 2015

KETULUSAN HATI DAN PADAMU NEGRI, KAMI BERJANJI

KETULUSAN HATI DAN PADAMU NEGRI, KAMI BERJANJI

IBU PERTIWI,
PUTRA PUTRIMU INI,
YANG MENYEBUT DIRINYA POLITISI,
MERACUNI DIRI, MABOK  DENGAN PRAGMATISI.
MENGERUK KOMISI MAKAN GRATIFIKASI
DIKIRANYA RAKYAT NGGAK NGERTI,
MEREKA TANPA IDEOLOGI.
SIRNA KETULUSAN HATI,
PADAMU NEGRI KAMI MENGABDI.
KAMU SEBUT SEKALI,
INI MISI KAMI
TRISAKTI.
BUKAN CUMA KOMPLOTAN MEMPERKAYA DIRI,
BAGITUKAH PUTRI ?
AKU TETAP  PERCAYA INI,
CUMA BUAT DIRIMU SENDIRI,
LAH ISTRI CARI MAKAN SENDIRI,
ISTRI TIDAK MENANGGUNG DOSA SUAMI.
JADILAH KAMU TETAP PUTRI PERTIWI
BAPAKMU BAPAK KAMI,
DISIKSA SAMPAI MATI,
OLEH SI KRONI.
RAJA SEPARO JAGAT.
 SURADIRA JAYANINGRAT, BAKAL LEBUR DENING PANGASTUTI !


Aku lihat di siaran TV, mereka berempat dengan penyiar pada berdiri. Semua gagah, mereka pria berdasi, dengan blaser sangat serasi. Badan berisi penuh gizi, dengan mata cemerlang dan rambut disisir rapi. Penyiar manis menggoda dan merangkap jadi panelist, dengan tungkai sangat sexy.  Yang dibahas ekonomi Indonesia kini.
Setiap mereka bicara penuh percaya diri dengan kadang senyum, dengan wajah sehat penuh semangat. Semua mereka bicara seperti di pasar ternak kambing dan sapi, meneliti dan menandai kelemahan dan kekurangan Negeri ini, Pemeritah harus begini, seyogyanya sudah mengerti jauh jauh hari, pokoknya harkat dan cacat mesti diralat. Aku heran mereka asyik bicara saling balas dengan pendapat sendiri dengan berani. Mengerti kami menonton mengagumi kepiawaian mereka dibidang ini. Satu yang tak nampak di wajah yang gagah ini, mereka bicara mengenai Negara ini, mereka sendiri tanpa emosi, tanpa prihatin dan merasa akibat dari himpitan keterbatasan dan kemelaratan adalah penderitaan semua rakyat. Rakyat tidak bodoh, melainkan patuh mengatur diri sebagai masyarakat, namun sebagian terpaksa melompat pagar.*) 

Rabu, 22 April 2015

BIDANG KESEHATAN, SEMOGA TULISAN SAYA INI SALAH

Sudah dimuat di harian electronik Pewarta warga tg 23/4/2015
“KEJAHATAN” PERANGKAT KESEHATAN NEGARA/SWASTA KEPADA RAKYATNYA, BILA DILIHAT SEPERTI APA ADANYA –YAITU MENGULUR WAKTU.

Negara harus adil, benar sekali. Artinya perlakuan kepada semua warganya sama. Sayangnya penyakit yang menjangkiti warga yang berjuta juta ini sangat bervariasi. Negara seperti Amerika Serikat yang relatip kaya raya di dunia saja juga kerepotan mengadakan pelayanan dibidang  kesehatan terhadap warganya. Umum diseluruh dunia, semua Negara menuju ke pelayanan publik dengan asuransi kesehatan. Jadi pelayanan kesehatan warganya dinyatakan dengan angka. Sangat impersonal. Paling bisa dikerjakan secara teknis adalah memilah milah golongan penyakit, DENGAN BEAYA PENANGANNYA.
Pada dasarya semua penyakit itu berkembang  berbanding terbalik dengan kekuatan fisik dan mental para penderita untuk mempertahankan dirinya. Syukur alhamdulillah
Tanpa bantuan medis yang tentu saja dengan beaya, penyakit cancer dan gagal ginjal adalah yang paling pasti mengantarkan penderita ke kematiannya. Dan sayangnya apapun perlakuan medis yang diupayakan pada penyakit cancer mulai dari diagnosa hingga therapy mebutuhkan beaya sangat mahal terutama di Indonesia diluar jangkauan daya beli rata rata  99% penduduknya. Sampai masa depan yang masih  jauh ( saya harap tidak sangat jauh). Angka ini saya dapat dari menghitung sanak family dan kenalan, sahabat, yang terserang penyakit cancer, dan yang bisa bertahan lebih dari sepuluh tahun sesudah operasi, chemotherapy, radiotheraphy. 1% yang survive karena segera ditangani di Singapore Mount Elisabeth Hospital atau hospitals yang lain, dengan methode therapy mereka yang didukung oleh alat perekam gambar jaringan cancer yang paling canggih dan dibaca oleh akhlinys dengan beaya ysng  "the sky is the limit"                                                                                                                                                                                     Apa akal ?                                                                                                                                                                       Kenapa mesti diakali, ya karena dengan premi iuran BPJS  tertinggipun, pengeluaran beaya untuk penanganan supect cancer sudah jauh melampaui batas jatah pengembalian  maximum coverages  beaya. Makanya sesudah semua analisa laboratorim seluruh fungsi faal tubuh yang ternyata normal, akan tetapi menunjukkan kecurigaan ( bagi yang mau tahu) tentang adanya cel cancer ganas, misalnya haemoglobin yang cenderung rendah, berat badan yang menurun drastic dan pembesaran di perut bagian bawah. Pemeriksaan factual tentang kecurigaan ini ditunda, menunggu keadaan tubuhnya lebih membaik, yang tentu saja tidak bakalan.( Atau RS nya ndak punya facilities untuk itu, tapi RS yang bisa terima BPJS)
Dilain sisi laboratorium laboratorium swasta  menawarkan berbagai test chusus adanya cel camcer misalnya test ‘cea’ yang mampu menditeksi dissimilate cel cel cancer yang spesifik dalam nano Mgram, yang berarti jumlah cel ganas ini masih sedikit jadi bisa mendeteksi dini. Sambil menunggu kesadaran sanak family dan mengumpulkan uang, atau menjual rumah yang tak kunjung ada pembeli,menuggu dan menunggu sambil tergeletak di RS dengan jatah beaya asuransi BPJS golongan PNS IVB, dengan beaya lumayan daripada kosong.  Karena tentu saja test ini harus dilanjutkan dengan test test yang lain untuk mempertajam deteksi letak cel cel ini, yang sama mahalnya dan diakhiri dengan penawaran yang tidak mempunyai alternative yaitu dioperasi bila masih memungkinkan, meskipun diketahui bahwa pekembangan setiap jam jaringan cancer ganas makin bercabang cabang, ini bisa menyisakan sedikiiiit sekali cel cel cancer ini menyelip disana sini, meski sudah dioperasi ( jangan su’udhon dokter akhli bedah disini bagiannya “honorarium” kecil saja dibandingkan seluruh  beaya total)  juga dengan beaya yang sangat tinggi dan tidak di cover oleh asuransi. Karena sayang peralatannya yang dibeli sangat mahal nganggur. Alternative lain bagi penderita, ya menunggu panggilan Allah. Inalillahi wa inalillai rojiun*)
                                                                                

Senin, 20 April 2015

BIDANG PENDIDIKAN - IIKHLAS ADALAH BUAH DARI POHON KETULUSAN

IKHLAS ADALAH BUAH DARI POHON KETULUSAN.
Mustahil, apabila orang mengatakan bahwa dirinya ikhlas berjuang menjadi “petugas” apapun, tanpa kelihatan pohonnya yaitu ketulusan ?. 
Ketulusan sebenarnya adalah pohon yang berbuah sesuatu yang sangat penting untuk tumbuh kembangnya watak manusia yang sangat penting yaitu keikhlasan
Sebagai teks nyanyaian “Pahlawan tanpa tada jasa” keikhlasan adalah “hanya memberi didak harap kembali” , bukan hanya harap kembali tapi berfikir pemberiannya akan diapa-in pun tidak terfikir, apalagi apa akan jadi kebaikan bagi si pemberi atau si penerima-pun tidak terfikir, pokoknya lillahi ta’ala. Jadi ibaratnya walau pemberian itu akhirnya dijual juga tidak membuat dia masygul.

Hukum Islam mengatakan bahwa pengangkatan seorang anak, harus dijelaskan nanti pada anak bahwa dia adalah anak angkat, harus diberitahu orang tua biologis dari sang anak, sedini mungkin. Tidak boleh dengan cara lain apapun, kecuali memang si pengangkat anak memang tidak tahu, tapi riwayat pengangkatan itupun harus terbuka. Sebab azasnya adopsi anak adalah demi hari depan anak itu bukan untuk egoisme sang ibu yang mandul.
Sebagai illustrasi kita andaikan seorang balita, sejak kecil dipiara oleh orang tua angkat oleh suatu hal. Apabila pengangkatan anak itu dirahasiakan dari si anak, pasti bocor kepada orang dewasa yang lain. Akhirnya karena dengan satu atau lain jalan, akhirnya si anakpun tahu orang tuanya sebenarnya. Motivasi sangat kuat untuk mencari siapa sebenarnya orang tuanya adalah gossip pembantu rumah tangga yang mengira dia anak pembantu sederajad dengan mereka, sedang si anak sudah tahu dia bukan golongan itu. Pengetahuan itu menjadikan suasana pergaulan diantara mereka menjadi artificial, sangat menyangkut egoisme – sangat mempengaruhi ketulusan perilaku. Pohon ketulusan sudah ternoda dari perilaku egoisme orang tua angkat, bila pohonnya sudah cacat bagaimana bisa membuahkan keikhlasan perilaku pada anak angkatnya ?.
Hukum Islam melarang adopsi anak tanpa memberi tahu anak ini, orang tua biologisnya siapa.
Anak ini dewasanya adalah korban, dia tidak mengerti keikhlasan itu apa, dapat dimengerti, karena tanaman ketulusannya (berpura pura seolah olah tidak mengerti bahwa dia anak angkat) bagaimana kecilnya karena orang tua angkatnya memang berbuat sebaik baiknya dengan tulus, meskipun keegoisannya masih ada, telah menodai pohon ketulusan si anak angkat. Bagaimana pohon ini tumbuh kembang sempurna nanti ?
Dalam membentuk masyarakat, jelas individualisme yang dimiliki sebagai bekal lahir, harus segera disusul dengan kasih sayang ibu bapanya, kemudian lingkungannya sebaik baiknya terutama ketulusan pihak kedua secara terus menerus. Disertai dengan ketegasan yang tidak bisa ditawar,  umpama membuang sampah sembarangan si anak harus segera mengambil dan dibuang ke tempatnya yang sudah disediakan. Penghormatan pada kepentingan umum adalah pendidikan yang harus tuntas dan tertanam erat menjadi ketulusan, berlanjut pada kepentingangan masyarakat luas dan jangka panjang. dalam hal ini saya merasa hormat pada Konfusius yang mneyadari hal ini ribuat tahun yang lalu. Kesetiakawanan sosial diwujudkan dalam iklhas pada negara, ikhlas pada orang tua, ikhlas pada sesama.
Ternyata akar dari watak mendua yang tak terpisahkan rwa binedha  yaitu watak individualis dan watak collegial berbeda, yang pertama dari lahir sedang yang kedua dari pendidikan sesudah lahir. Makanya jauh lebih gampang orang tergelincir jadi egoist koruptor kayak Prof. Aqil Mukhtar, kayak Suryadhama Ali. Daripada merunuti hidup mementingkan masyarakat kayak Ki Hajar Dewantoro, Fadila Faradisa penggerak bank sampah di Tangerang, Drs. Mohammad Hatta alm. Founding father kita, adalah hasil pengaruh lingkungannya yang mendukung kecenderungan hidup mementingkan masyarakatnya. Secara luas ini adalah hasil pendidikan lingkungan yang diterima oleh anak pada saat yang tepat.
Disini dengan sangat terpaksa saya harus mengakui bahwa sifat sosial atau sifat mementingkan masyarakat harus  di- didik-kan  kepada generasi muda dengan sungguh sungguh dan cermat, apabila hendak mengurangi sampai minimum anggauta masyarakat yang egois, giat berkorupsi kolusi dan lain kejahatan terhadap masyarakat. Lain halnya dengan pengajaran mencapai prestasi orang per orang, misalnya kepandaian dan ketrampilan seseorang, yang relatip lebih mudah dicekokkan karena sudah ada “bakat”sejak sebelum dilahirkan.

Yang pantas diingat upaya pendidikan watak sosial sangat erat hubungannya dengan suasana hati yang dibimbing oleh ketulusan, sedangkan pendidikan scholastic hanya dengan disiplin.
Jangan dikira, kelulusan yang dicangkokkan di usia dewasa ini terlambat ada, malah sudah digunakan dalam bidang militer yang penuh dengan disiplin dengan watak yang ditempa dengan "esprit du corps"/ kesetikawanan korps, yang juga membuahkan keikhlasan berkorban demi kelompoknya, malah harus ditakar dengan hati hati, sebab keikhlasan ini menyangkut nyawa, kekuatan fisik dan hukum.
Coba to diingat, makin maraknya Petugas Negara yang pentalitan korupsi kan sejak mereka yang mendapatkan pendidikan Orde Baru selama 32 tahun, ditandai dengan umur merekan kebanyakan kurang dari 40 sampai 60 tahun. !! Dimana pendikannya disusupi dengan watak cari uang yang sama sekali tidak ada ketulusan mendidik. Setelah jadi PNS pejabat pemerintah apa saja, ya langsung cari uang sampingan, dengan alasan gajinya kecil, tanpa peduli yang dirugikan siapa.
Apalagi sesudah guru guru didesa desa dibantai ramai ramai karena termasuk anngauta PGRI non vaksenral di tahun 1965  secara borongan tanpa pilah pilah, yang betul betul anti Tuhan dan anti Panca Sila siapa. Sesudah itu waktu seluruh tingkat pendidikan dibebaskan oleh rezim Orde Baru mencari beaya untuk mereka sendiri. Waktu yang panjang untuk mengabaikan “ketulusan” mendidik, dan berkerumun disekitar pemegang dana di Kabupaten Kabupaten. Periode 32 tahun sangat cukup untuk memporak perandakan pendidikan yang tulus – nah hasilnya ya manusia sekarang yang aneh sekali sangat lekat pada prilaku egois korupsi, saling sikut seperti sekarang, mereka sangat banyak tidak bisa diingat satu persatu lagi. Prilaku buruk menjangkiti bahkan pendidikan Agama, dengan pelecehan sex oleh Uztadz pada ABG,  diberitakan secara royal dimana mana, kekerasan kepada anak usia dini dan sebangsanya.
Generasi korup akan diproduksi terus menerus hingga kita sadar, perilaku ketidak tulusan  sudah menjangkiti mendalam sekali di dunia pendidikan, bukan saja dibidang pengajaran saja.
Lantas dengan dasar apa kita mengharapkan pengabdian pada bangsa dan Negara oleh tentaranya dan PNS nya, anggauta partai pada partainya, pribadi pribadi pada masyarakatnya  dengan iklhas ?
Sedangkan pohon ketulusan sudah kita babat habis tanpa menanam kembali ? *)


Rabu, 15 April 2015

PUNDAK ITU TERLALU KECIL, MEMIKUL BEBAN YANG TERLALU BERAT

PUNDAK YANG TERLALU KECIL, MEMIKUL BEBAN YANG TERLALU BERAT
Alangkan trenyuh hati saya, merasakan betapa putra putri Bung Karno yang saya kenal dari semua tulisannya, dari semua perjuangannya. Dari sejak tahun 1965, semua karya yang berbau Ir Sukarno, founding father kita di usahakan untuk dilenyapkan oleh Orde Baru, penguasa dan kroninya yang dibentuk sejak lama oleh musuh musuh rakyat yang baru saja masuk dalam alam merdeka bebas dari penjajahan. Dari yang berbentuk nyata seperti gambar, photo photo, kemudian naskah naskah pidato, kemudian buku buku karangan beliau. Semua pengikutnya diamankan dan disukabumikan dengan gaya militerisme Hitler, yang dibentuk dengan metode Alamut. Hanya tersisa pundak pundak kecil dengan keluarga morat marit dan pendidikan pengajaran atas mereka yang diasingkan dari masyarakat seperti penyandang kusta oleh para sudrun,  putra putrinya bung Karno ini. Pundak pundak kecil ini yang de facto memikul beban lambang pembebas dengan sejarah perjuangan yang sangat panjang  secara moral. Dan terutama juga himpitan material. Memang negeri ini bukan negeri menarchy feudal, jauh dari itu. Tapi bagi si pencari muka, penjilat pantat yang sangat banyak, korban paling empuk sebagai simbol  penghancuran ajaran Sukarno adalah putra putrinya yang masih belum dewasa penuh. Mereka dihadapkan pada kebohongan kebohongan murah, diejek dan dinista yang dialamatkan kepada ayah yang dicintainya, yang mereka tidak berdaya menangkisnya. Sebagai putra putri musuh. Sudah beruntung mereka masih bisa hidup di suasana menjijikkan facist secara kurang lebih normal. Trauma dendam kapada penistanya, trauma menjadi “anak baik” yang bisa diterima dengan sinis penyiksa Bapaknya selama tigapuluh lima tahun tidak bisa kita bayangkan. Ini siksaan mental yang sangat berat yang anda bisa ikut merasakan. Wahai 24% pemilih Presiden JKW/JK yang bukan orang PDI Perjuangan maupun orang P Golkar. Maka maafkanlah segala kesalahannya dengan ikhlas, itu hanya letupan kecil, yang sebenarnya adalah teriakan dari sanubari kepada siapa saja, mari kita laksanakan TRISAKTI nya Bung Karno kita,  Jangan kuwatir beban perjuangan Sukarno yang mengejawantahkan perjuangan bangsa ini selama ratusan tahun akan kita bantu, kita dukung dengan bersemangat pantang mundur mengangkat sampai ke tujuan. Sudah kita buktikan bahwa PDIP yang masih penuh dengan penumpang gelap tetasan sampah Orde Baru, masih bisa kita menangkan dengan memilih JKW/JK dengan memberikaan suara hak pilih kita kepada Pak Joko Widodo dan bapak Jusuf Kala tanpa dinyana nyana jadi Presiden dan Wakil Presiden Republik ini. Meskipun dilain peristiwa pemilu, kita adalah GOLPUT SADAR, saya sampaikan salam hormat kepada Ratna Sarumpaet, semoga beliau anggap bahwa letupan kecil ini bukan raungan Thyranosaurus , melainkan gaung lolong arwah Marsinah*)

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More