Sayang Sama Cucu

Sayang Sama Cucu
Saya sama Cucu-cucu: Ian dan Kaila

INDONESIA PUSAKA TANAH AIR KITA

Indonesia Tanah Air Beta, Pusaka Abadi nan Jaya, Indonesia tempatku mengabdikan ilmuku, tempat berlindung di hari Tua, Sampai akhir menutup mata

This is default featured post 2 title

My Family, keluargaku bersama mengarungi samudra kehidupan

This is default featured post 3 title

Bersama cucu di Bogor, santai dulu refreshing mind

This is default featured post 4 title

Olah raga Yoga baik untuk mind body and soul

This is default featured post 5 title

Tanah Air Kita Bangsa Indonesia yang hidup di khatulistiwa ini adalah karunia Tuhan Yang Maha Esa yang harus senantiasa kita lestarikan

This is default featured post 3 title

Cucu-cucuku, menantu-menantu dan anakku yang ragil

This is default featured post 3 title

Jenis tanaman apa saja bisa membuat mata, hati dan pikiran kita sejuk

Rabu, 08 Februari 2017

MONEY POLITIK DI PEMILIHAN UMUM INDONESIA

UANG DALAM PEMILU INDONESIA. MONEY POLITIK

Yang sangat mungkin menyelenggarakan politik uang pada setiap pemilu di Indonesia dimana saja, adalah mereka yang punya akses menggunakan uang haram hasil Korupsi, bukan hasil keringat sendiri secara halal, meskipun dia itu kerturunan Hadratush Syekh kayak Bupati Bangkalan Fuad.
Mereka yang jadi balon adalah sosok yang gampang tergelincir, adalah sosok yang sangat piawai dalam acting, seperti para artis/actress , yang memiliki satu sisi yang bebas untuk bohong diberikan oleh masyarakat.
Di masyarakt kita yang artis pun belum terbentuk kayak di masyarakat yang sudah tua, artis, apalagi actressnya, secara alami belum terseleksi sebagai seniman, yang umumnya berkarakter. 
Yang dikita ini bisa hanya bermodal alami  secara lahiriah, cantik dan ganteng. Apalagi incumben, pasti belagu dengan banyak uang. Makasudnya pasti mendirikan dinasti politik, mumpung bisa. KALOK TERPILUIH YA KORUPSI
Penjabat teras yang masih muda cantik dan ganteng, memegang otoritas pengeluaran Negara trilyunan, sangat mudah berubah menjadi actress idola untuk kampanye apalagi dengan uang gampang.
Secara Kedinasan beaya Negara yang besar di level Menteri dan Direktur adalah dalam bidang  "soft ware", karena akan hilang bekas dan berkasnya dengan waktu amat singkat. Semacam kegiatan kemasyarakatan, kayak yang digeluti oleh Ibu dari Yayasan Pertamina Foundation yang dengan enaknya membeayai milyaran rupiah untuk  pengeluaran penanaman pohon pemghijauan abal abal, dengan organisasi masyarakat abal abal. Oleh bapak pemilik media cetak yang menilep uang sumbangan masyarakat di korannya demi  menolong korban tsunami di NTT  puluhan tahun yang lalu, miliaran rupuah, yang dia sendiri sudah lupa.
Hanya menunjuk hutan jambu mete alami sebagai sasaran menghabiskan dan menghapuskan uang sumbangan milyaran dari pembacanya. Belut ini masih selamat dan tuman/ketagihan, Terakhir salah peran jadi belut listrik, mungkin sesama listrik jadi dia selamat, mobil listrik bodong, wong listrikya dibawa sendiri.
 Soft ware yang ternyata makan uang Negara banyak sekali dan empuk untuk ditilep adalah jenis “penyuluhan” kepada kelompok rakyat secara Nasional..
 Kegiatan Pejabat Pusat dan Daerah yang pasti finish productnya hanya laporan, banyak foto dan tanda tangan pejabat dan sasaran ( rakyat  atau object) yang gampang sekali ditukangi. Tanpa merecuki BPK, umpama keadaan jembatan di seluruh  Indonesia, atau keadaan trianggulasi geodesi seluruh Indeonesia. Yang membutuhkan up date laporan. 
Biasanya Pejabat Direktorat sangat kreatip mengadakan anggaran untuk kegiatan ini, yang gampang disulap. Termasuk pejabat dari Bapennas, karena bisa nitip mark up beaya.Pasti dikasih, sebab tahun depan juga berhubungan dengan beliau beliau yang masih muda muda, umurnya panjang, syukur ndak kena stroke karena banyak makan enak.
Kegiatan macam organisasi masa yang resmi resmi  kayak Pramuka, organisasi mencegah diabetes melitus, ( tapi bukan mencegah rokok lho), Yang sampai di kegiatannya di lapangan bisa dihapus tapi beaya dan bukti pengeluaran tetap ada, siapa yang protes ?
Di hulunya pasti besar sekali beayanya, dibawah disulap gampang, uang bisa bagi bagi sedikit, dan disetor buanyak keatas, untuk money politik, siiiiip. 
Wong akuntan public sudah acc kok, kemayunya. ( Lha si Akuntan Publik bayaran ini  masak ngecek sampai pelaksanaan di lapangan, seandainya ada, bila itu Pramuka, kegiatannya ya  ortu diporoti dong, sekolahannya saja sudah lepas tangan)
Pokoknya Orde Reformasi ini harus menghapus warisan kreativitas Pegawainya, mulai menteri Koordinator sampai PNS golongan satu atau: Ikutkan masyarakat dengan campaign , mesti saja dengan ongkos yang bisa di  tukangi, dasar  !!!!)
Paling gampang waspadalah dengan apapun program tingkat Menteri sampai Direktur. Yan sifatnya soft ware, meskipun wujudnya hanya surveys, ini mungkin diciptakan buat hasil tambahan, uang perjalanan, untuk ma lima didaerah.
Ingat terakhirnya pak Harto, mau mencetak sawah di Kalimantan satu juta hectare, semua golongan eselon pusat, menganggarkan respon surveys untuk menyenangkan sang Raja pikun ini, sebab uang untuk membuat demoplot sehektar-pun sudah tidak ada, hasinya kertas bertumpuk tumpuk  diwarisi oleh orde reformasi. 
Yang paling menyedihkan masih nongkrongnya disana sistim tipu tipu ini, seperti peternak domba wool bisa mencukur woolnya setiap tahun, tanpa tersentuh pengawasan, gimana ngawasinya wong kegiatan Pramuka dilapangan dan mereka bersekutu dengan ormas yang galak bisa diandalkan dukungannya dengan beaya yang tidak sedikit tentunya, gimana kalok jadi Gupernur sungguhan, Pegawai yang nggak pernah setor bisa di non jobkan to ? Kayak Sang Ratu Khosiah dengan para Jawaranya, dasar.Syukurlah atas kehendak zaman, jeruk dimakan jeruk, tanpa bisa bangkit lagi *)






Senin, 06 Februari 2017

BUAT SEKEDAR BACAAN, UNTUK MENCEGAH LUPA

Sejak diketemukan Benua Baru ini oleh Columbus, ratusan tahun kemudian berbondong-bondong para
imigran dari Europa berlayar menyeberangi Samudra Atlantik dengan perahu layar. Tujuan mereka
sebagian besar adalah bertani di tanah perawan yang  konon sangat  sangat luas.
Tentu saja sebagian kecil adalah para Pemodal dengan tujuan menguasai tanah seluas-luasnya seperti di    Negeri asalnya. Tentu saja usaha pertanian perorangan ini terbatas luasnya pada kekuatan otot dan alat yang digunakan untuk mengolah tanah, terutama untuk menghasilkan komditas bernilai tinggi seperti tembakau di Virginia.
Saya akan sepakat bila kaum ini adalan asal muasal dari semangat Kaum Menengah di sana.
Tentu saja usaha tani, seperti terjadi sepanjang zaman dimana-mana, sangat tergantung dari cuaca setiap musim. Dari cuaca yang bervariasi setiap tahun, para Petani kaum menengah ini nasibnya tergantung. Sebagian kecil dari mayarakat tani dengan semangat kaum menengah ini dapat bertahan dengan bekerja sama satu sama lain membentuk masyarakat tani gotong royong yang peninggalan relic bertahan sampai sekarang seperti masyarakat Amish, masyarakat Mormon dan lainnya, dengan jumlah rang relatip kecil sekali nyaris tidak berarti.
Ketergantungan pada alam dari usaha tani dapat disimak dari dongeng yang  populer pada jamannya tentang Pengacara Daniel Webster, yang membela petani  kaum menengah, saking putus asanya telah menggadaikan nyawanya kepada si Devil, pembelaannya berhasil, karena para jurinya adalah rokh kaum menengah Amerika juga, yang pada waktu hidupnya pernah gagal, malah telah tergelincir jadi musuh masyarakat.  Peralihan kepada industry adalah keniscayaan, karena semua sarana ada, seperti yang digambarkan pada tulisan Tom Paine “ The Land of Plenty”.
Sedangkan sebagian besar beralih profesi menuruti gelombang raksasa industrialisasi ini. Karena sebagai pekerja di Pabrik dan pekerjaan yang berhubungan dengan industri tidak tergantung dari perubahan cuaca dan hama penyakit tanaman yang menggagalkan panen meraka setiap saat ada kesempatan, tanah yang makin kurus, lingkungan petanian yang makin rusak.
Tentu saja industrialisasi yang melangkah sangat cepat ini tanpa gangguan apa-apa, karena jauh dari pusaran dinamika masyarakat di Europa. Industrialisasi terdukung baik dari sisi sumber bahan baku, sumber energy maupun dari sisi tenaga kerja, karena dalam tahap awal khusus di Amerika Serikat kaum Kapitalisnya masih berwatak egalitarian, meskipun segera saja diganti dengan watak greedy/hangkara, dan makin “impersonal” yang ternyata hingga sekarang.
Sedangkan watak kaum menengah yang oportunis dan phragmatis (artinya tidak berprinsip) yang mewakili sebagian besar warga  Amerika, telah membentuk watak kaum menengah yang diwakili oleh kaum pekerja kerah putih/white collar workers dan kerah biru/ blue collar workers, membuat kaum Kapitalis yang greedy leluasa membentuk kartel dan mengarahkan APBN- Amerika Serikat setiap tahun untuk membangunkan infra structures demi mereka berkiprah.
Kaum Kapitalis berkerumun di wilayah bahan baku dan energy tersedia murah buat mereka, jalan dan jembatan dengan sendirinya telah terentang kesana semua dari APBN nya yang diarahkan oleh lobby terkuat kaum ini di Senat, Konggres dan badan badan Otoritas untuk mnegerahkan Anggaran Belanja Negara.
Sampai akhirnya sesak secara fisik dan perlu istirahat, seperti ular yang perlu waktu untuk ganti kulit, yang artinya pertumbuhan ekonomi dihentikan, para buruh dirumahkan karena overproduksi.
Sampai para pe lobby di Kongress maupun Senat mendapatkan sebagian besar APBN-Amerika Serikat untuk membangun infra structure baru bagi mereka, yang asumsinya adalah menciptakan lapangan kerja baru.
Pada upaya pembangunan infra structure oleh dorongan penuh dari APBN semula adalah “infra structure tahap pertama”, yaitu pengembangan sumber daya energy, sumber daya bahan baku, dan seluruh keperluan hunian untuk tenaga kerja (tentu saja khusus yang ini mendapatkan porsi paling kecil, karena tidak ada hubungannya dengan proses produksi yang menciptakan keuntungan). Ini rupanya yang dulu memicu perang saudara, pajak federal untuk export diciptakan oleh kondisi saat itu, bagian Selatan dengan produksi kapas mendominasi Dunia  menggunakan tenaga budak, akibatnya harga kapas Amerika tidak tersaingi, tapi infra structure dibangun di Utara untuk keperluan industrialisasi terutama sistim jalan kereta api, yang marak pada era itu. Disana muatan selalu penuh dan lintasannya relatip lebih pendek dari daerah pertanian di Selatan.
Sekarang ini mulailah saya memperhatikan tentang APBN – AS ini.
Pertama telah menjadi pegertian umum, bahwa recesi selalu tertolong oleh pembangunan infra structure industri perang.
Emangnya iya, sekarang Amerika Serikat lagi menyulut perang dimana mana dengan mengaktifkan persenjataan super modern, berdasarkan IT dengan rangkaian electronics yang mahal dan soft wares super canggih, harga infra strukutre yang super canggih ini, harus dibayar oleh APBN – AS berkat para lobbyist yang mendominasi Sisitim Pemerintahan Amerika Serikat.
Bukan saja industry ini harus dibangun dengan ongkos yang tidak bisa di hemat, tapi kini industry perang dan semua sector industry harus dibangun  pula dengan infra strukutre tahap kedua yaitu otomatisasi dengan dasar IT alias menuju ke penggunaan robot, jadi ongkos pertamanya sangat tinggi, justru akan menyaingi pemakaian tenaga manusia.
Masih ada lagi, demi monopoly ladang ladang minyak dunia, perang Penaklukan diembuskan di Timur Tengah.  Dengan asumsi tentu saja agar orang Amerika Serikat bisa bertahan hidup, kayak kebutuhan akan “Das Lebensraum”nya Hitler. Padahal technology robot yang berfikir masih dalam kontroversi akan “dimiliki” siapa public atau previlegi  si Kapitalis?
Boro-boro, wong kaum menengahnya malah ditipu kok, dibebani pajak yang mestinya jadi beban Kapitalis super kaya, agar krasan dan mau membuka lapangan kerja, sambil golongan menengah ini dianak-tirikan dari penggunaan APBN-AS, sampai difisit, artinya merendahkan upah dan tabungan hari tua buruh, tahun demi tahun jadi makin merosot,  yang ini sekarang mulai mereka rasakan.
    Makanya semenjak Presiden Nixon, Reagan, dan Obama, pajak orang kaya selalu mendapat potongan agar mereka krasan/tetep tinggal da AS dan perangsang kredit, bahkan untuk ‘bail out’   bank bank wall street yang bangkrut dan subsidi diberikan dengan royal oleh Pemerintahan Presiden Presiden tarsebut agar mereka membangkitkan industry Amerika Serikat dan menyerap tenaga kerja, begitulah yang dipercaya.
     Keserakahan Wall Street dalam menguras APBN -AS ini sangat membuat figure kaum menengah seperti Micheal Moore resah, membuat Profesor Ekonomi seperti Dr. Ravi Batra mengumumkan betapa Presiden Presiden Amerika Serikat Mulai dari Richard Nixon, Ronald Reagan dan Obama sekalipun memanjakan si Kapitalis yang super kaya tambah kaya, malah menciptakan lapangan kerjanya hanya sedikit, dibandingkan dengan 3 billion dollar yang mereka terima ( Simak tulisan Dr. Ravi Batra, simak kegiatan Michael Moore dengan OWS (The Occupy of Wall Street), di  Google dengan kata kunci Dr. Ravi Batra mengenai The Occupy of Wall Street, yang merupakan tanda tanda bangkitnya kepentingan kaum menengah yang seharusnya hidup berkecukupan ini.
  Dengan meniru persis prilaku para Presiden Amerika Serikat sejak Richard Nixon sampai Obama, kita punya Penggede berharap dapat dukungan dari Amerika Serikat, umpama mem “bail out” bank Century jang 6,5 trilliun rupiah yang malah dimainkan oleh penipu, bungkam terhadap adanya outsorching  tenaga kerja, memberi kredit dan hak ex territorial kepada Perkebunan HGU raksasa a’la Industri Gula di Lampung, menghadiahi Hartati Murdaya Poo dengan 75 ribu hektare lahan di Sulawasi untuk dikuasainya sebagai HGU termasuk menambang apa saja yang ada disana, membiarkan Lapindo keluarga Bakri mengobral janji thok mengganti rugi mereka yang tergilas lumpur. Apa kita bisa menyalahkan itu Penggede dan Party yang dipimpinnya ?(*)


Simak Tulisan asli Dr. Ravi Batra yang menjadi inspirasi bagi  saya :

The Occupy Wall Street Movement and the Coming Demise of Crony Capitalism
Tuesday, 11 October 2011 04:57By Ravi Batra, Truthout | News Analysis

In 1978, to the laughter of many and the derision of a few, I wrote a book called, "The Downfall of Capitalism and Communism," which predicted that Soviet communism would vanish around the end of the century, whereas crony or monopoly capitalism would create the worst-ever concentration of wealth in its history, so much so that a social revolution would start its demise around 2010. My forecasts derived from the law of social cycles, which was pioneered by my late teacher and mentor, P. R. Sarkar. Lo and behold, Soviet communism disappeared right before your eyes during the 1990s, and now, just a year after 2010, middle-class America, spearheaded by a movement increasingly known as "Occupy Wall Street (OWS)," is beginning to revolt against Wall Street greed and crony capitalism. Will the revolt succeed? It surely will, because the pre-conditions for its success are all there.
The first question is this: Why does rising wealth disparity create poverty? My answer is that it causes overproduction and hence unemployment and destitution. It is all a matter of supply and demand. Inequality goes up when official economic policy does not allow wages to catch up with the ever-growing labor productivity, so that profits soar and rising productivity increasingly raises the incomes and bonuses of business executives. I have detailed this process in an earlier article. Then money sits idly in the vaults of bankers and big-business CEOs and restrains consumer demand, leading to overproduction and hence layoffs. The toxic combination of mounting layoffs and absent job creation raises poverty, which, according to official figures, is now the highest in 50 years.
The next question is: how has the government either restrained wages relative to productivity or made the rich richer and the poor poorer? It is easy to see that almost all official economic measures adopted since 1981 and contained in the following list have devastated the middle class. The list includes:
1. The Reagan income tax cut of 1981 that benefited the rich, but made it necessary to sharply raise all other federal taxes, paid mostly by the poor and the middle class, to finance that tax cut.
2. Unenforced antitrust laws, leading to mergers among large and profitable firms, but killing high-paying jobs in numerous industries.
3. Permitting the oil industry mergers in the 1990s that are now preventing oil prices from falling in the middle of the worst slump since the 1930s.
4. Permitting relentless mergers among pharmaceuticals and health insurance companies, so that America, far more than any other nation, now spends almost 15 percent of its gross domestic product (GDP) on health care that is mediocre by European and Japanese standards.
5. Unchecked use of outsourcing that kills high-paying jobs in manufacturing and services.
6. Ignoring the growth of the trade deficit that has destroyed our manufacturing base.
7. The 1999 repeal of the Glass-Steagall Act under President Clinton that led to reckless lending by banks and an unprecedented housing bubble, which collapsed in 2007 to trigger the ongoing slump.
8. The Bush tax cuts and bailouts that further benefited the rich while nearly doubling the government debt.
9. And finally, the decimation of the real minimum wage by President Reagan and other Republicans. (In 1981 the hourly minimum wage bought $8 worth of goods compared to $6 by the end of Reagan' presidency in 1988,  and to mere $5.15 in 2006 under Bush.)
Looking at this nine-point list, is there any government program that a big business CEO would hate? Stated another way, is there any measure that has helped the middle class? I can't think of any. Thus, over the past three decades whatever the government did, ostensibly to help the people, actually ended up hurting them. Mergers, outsourcing and free trade raise productivity, but also lower wages, whereas the other provisions of the above list directly enrich the wealthy. The nine-point list is really a list of exploitation.
Let us now look at President Obama's record since January 2009 when he took office. The president's first act was to engineer another bailout, à la George W. Bush. The idea was that the $800 billion package of assisting banks and faltering industries would save or create some four million jobs. Did the measure succeed in its avowed purpose?
According to the latest estimate from the Congressional Budget office, the bailout created nearly 1.5 million jobs. Even if we accept the administration's claim of four million, the bailout was extremely wasteful and enormously enriched the rich. Dividing 800 billion by four million yields 200,000. In other words, the government spent $200,000 to create one job. When the average wage is less than $50,000 per year, where did the other $150,000 go? This suggests that companies that hired those four million people received $150,000 for each job they created. Thus, three-fourths of the bailout, or $600 billion, went to businesses, and a mere one-fourth benefited the unemployed. This is the best case for the Obama measure. It is clear that the bailouts, Bush's and Obama's, were extremely wasteful and hugely enriched the opulent.
The fact is that government deficits are not working and have always benefited the wealthy. Not surprisingly, the fastest and the sharpest rise in income and wealth inequality has occurred since 1981, when the culture of mega-deficits first began. Lasting prosperity occurs only when wages rise in proportion to productivity, as was the case through much of American history, especially from 1940 to 1980. Whenever wages trail productivity, debt and profits soar, only to be followed by overproduction and soaring poverty and misery for the middle class. Such was the case in the 1920s and the 1930s and such again has been the case since 1981.
If President Obama really wants to create millions of jobs, then all the economic measures adopted since Reagan's presidency must be abandoned. Of course, the Republicans would oppose him tooth and nail in this resolve; they would scream about the president hurting job creators, who in fact are job destroyers. Big business has decimated American jobs through mega-mergers, outsourcing, oil speculation and by shifting factories to Mexico and China. The nation can only prosper if the destructive ability of job destroyers is restrained through increased taxes or the creation of free markets.
When the government bails out mega banks and Wall Street firms, it amounts to shooting the economy in the foot. Our president seeks to bring about change, which was his campaign slogan. But once elected, he got sidetracked by thinking that change is possible through compromise. This has never happened before. Never in history have the exploited prospered by cooperating with the exploiter.
Compromise is what produced the government's nine-point list of measures described above. The Republicans were able to impose these measures whenever some Democrats compromised with them. When Reagan raised the gasoline tax and excise taxes in 1982, it was through the cooperation of the Democrats, who cooperated again in 1983 when Social Security and self-employment taxes went up sharply to pay for the massive income tax cut of 1981. The repeal of the Glass-Stiegel Act, the Bush tax cuts and bailout were all the handiwork of Republican lawmakers and right-wing Democrats.
America does not need another dose of increased government spending, but a rational economic policy that generates free-market capitalism to take the place of the current monopoly capitalism. In 1776, the nation declared independence; coincidentally, the same year Adam Smith, the father of modern economics, demonstrated how small businesses generate lasting prosperity for all, not just a privileged few. That is what we need again. It is well known that small firms have created the bulk of American jobs in recent years. This is then the best argument for breaking up business conglomerates not only to create jobs, but also to lower the oil price and the cost of health care.
The government should also adopt strong, not toothless, measures to eliminate the trade deficit, which is now running at $500 billion per year. This alone will create five million manufacturing jobs. Eliminating the trade deficit will raise US GDP by the same amount, and to produce that much output, new workers will be needed. Suppose it costs a business $100,000 to hire a worker, including salary, benefits and profit. Dividing 500 billion by 100,000 yields five million. In other words, eliminating the trade shortfall will generate five million new jobs, paying the average wage and benefits.
The trade deficit can be eliminated by setting up a low export-exchange rate, the way China and other Asian nations have done. But first, the government must see the value of balancing our trade and then proper economic policy can be devised to reach the goal.
Outsourcing is now the biggest job destroyer. The government should impose a hefty tax on this practice. This way, if a company has to outsource some work, it will compensate the nation for creating joblessness in the economy. Finally, we need to eliminate the federal budget deficit. This can be done by repealing the Bush tax cuts for the wealthy and by enacting a small tax on financial transactions, while preserving crucial programs for the retirees. There is no reason to cut Social Security and Medicare, because President Reagan raised taxes sharply to guarantee the benefits to retiring baby boomers. In short, President Obama should do away with the nine-point list of exploitation mentioned above. He will then be able to bring about the change that he promised during the election campaign in 2008.
Einstein once defined insanity as doing the same thing over and over again and expecting different results. By now, we should know that excessive government spending is one such insanity. It creates very few jobs and primarily benefits the rich. In fact, I have shown mathematically to some audiences that, under reasonable assumptions, increased government debt goes completely into the pockets of the opulent. As the latest piece of evidence, from September 2010 to September 2011, the deficit rose $600 billion, but only 400,000 jobs were added.
I call upon the OWS movement to demand that the above nine-point list of exploitation be repealed, so that a free-market capitalism of small firms is reborn. This will strengthen the president's hand and enable him to face Republican lies and tactics that are only meant to further weaken the economy and force the president out of power. We need to make sure that Mr. Obama is re-elected, provided he accepts the repeal agenda, because the Republicans always do the same thing over and over, namely make the rich richer and the poor poorer. Additionally, we should also work to defeat Republican incumbents and rightist Democrats who will compromise to maintain the status quo and possibly cut Medicare.
Our efforts are bound to succeed. I am an economist and historian and made many forecasts in the past about the economy and social change. While 5 percent of my economic forecasts have been wrong, to my knowledge I have never made an error about forecasting a revolution. My latest estimate is that monopoly capitalism will go the way of Soviet communism by 2016.
O' brave protesters of the OWS movement, your effort will not only shape the 2012 elections, they will also end, once and for all, the brutality of the rich and powerful, who are responsible for the sorry state you are in. The change that you are about to bring will be glorified as what Abraham Lincoln did for black Americans. I hope that, with your support, Mr. Obama will be the harbinger of that change.
UNQOUTE

KISAH  POHON MANGGA HUTAN.


Di hutan hutan terutama dihutan besar, sebelum dengan cepat kian menyempit.
Tumbuhlah satu pohon mangga hutan yang lazim disebut pauh.
Pauh ini timbuh dan bebuah, setiap pohon berbeda beda lebat buahnya.
Pauh yang berhasil berbuah lebat dari tahun ke tahun ternyata mempunyai kebiasaan yang khas alami.
Setiap kali pohon istimewa ini berbunga dan menjadi pentil yang lebat, pohon harus menyediakan makanan yang cukup dari perakarannya  dan dedaunan diatas, termasuk persediaan makanan pada kulit kayu pokok dan cabang untuk dimanfaatkan demi pertumbuhan pentil pentil yang sangat banyak.
Pentil pentil yang pertama menjadi besar, masak duluan, mengeluarkan aroma yang khas harum menyengat, menarik banyak kelelawar. 
Saban malam kelelawar banyak sekali datang dan berputa putar sekitar  pohon pauh ini.
Para kelelawar ini membuang kotorannya ke bawah pohon dan ke dedaunan sampai tebal. Kotoran kelelawar penting sekali bagi pepohonan hutan untuk memulihkan kesuburan tanah hutan situ, terutama sekitar pohon pauh kita ini, untuk memberi makan pentil pentilnya yang banyak dan memulihkan kesehatan pohon dengan dedaunan baru dan persediaan makanan di kulit pohon dan cabang   cabangnya.
Di hutan hutan raya, sangat celaka bagi pohon pauh yang aroma buahnya lemah dan tidak menarik kelelawar, untuk datang. Sebab pohon pauh yang sial ini makin kurus dan akan akhirnya tumbang kerena kemah.
Satu tamsil untuk Negara, yang mempunyai warga Negara yang banyak, memperoleh kekayaan dan kehidupan yang baik dari tanah airnya, tapi ttdak mampu membuat Negaranya tumbuh kokoh dan sehat, enggan membayar pajak, meskipun sudah mendapat amnesty/pengampunan pajak kekayaan yang sangat longgar. Dengan kesemaptan penanaman usaha yang aman dan sehat, karena kesempatan sangat menjanjikan. Mereka menyimpan kekayaannya di Negara lain ini hanya karena stigma yang dibawanya sendiri dari tanah asalnya yang selalu ada huru hara.
Menyimpan kekayaanya di Negara Pulau lain yang memanfaatkan kekayaan warga warga parasit ini untuk pertumbuhannya sendiri, seperti tumbuhan liana pencekik yang berbatang kecil tapi merambat dan menutupi kanopi hutan.hanya untuk sarang ular.
Pentil dan buah pauh  yang dari pohon rusak, akan dirontokkan oleh pohon pauh yang sudah harus mempertahankan hidupnya.  Dihutan  itu pohon pauh juga punah.*)

 

Senin, 23 Januari 2017

GOLONGAN DILUAR SISTIM

DISEPANJANG ZAMAN PERANG DAN DAMAINYA PEERJUANGAN KEMERDEKAAN REPUBLIK INDONESIA, 
ADA SATU GOLONGAN PENDUDUK YANG DILUAR SISTIM,
GUNA MENGISI KEMERDEKAAN INI :

GOLONGAN PENDUDUK DILUAR SYSTIM.

Sejak semula, penjajah Belanda sudah menandai ada sebagian pendenduduk wilayah jajahannya yang mengasah diri, hidup dalam sistim. Penjajahan dengan senang hati, menerima mereka. Sebaliknya ada sebagian besar yang dengan sangat terpaksa menghilangkan kebudayaan dan jati dirinya sebaga bangsa.
Kesatu :Tulisan ini dengan sangat terpaksa, untuk mrngingatkan dengan penuh kehati hatian, harus saya tulis untuk seluruh  bangsaku. Bukan karena kebencian, tapi karena tahu dan menyadari secara kenyataan, jauh lebih baik, dari hanya karena perasaan tanpa mengerti sejarah, yang banyak menimbulkan kesalah pahaman dalam setiap individu kedua belah fihak.
 Kedua: Bila sudah disadari semua akan mudah diperbaiki.
Kebetulan saya orang tua yang banyak waktu untuk merenung dan berfikir,
Jauh dari tujuan jahat, menggugah pertentangan sara, melainkan untuk kebaikan bangsaku yang terlalu banyak menderita ini, agar segera berubah mencapai tujuannya.

Sistim penjajahan yang berlaku sangat lama, adalah sistim pengerukan hasil bhumi.
Karena besarnya wilayah, banyaknya dagangan yang bisa dikeruk, diperlukan banyak tenaga
Perantara, yang bisa masuk dalam sistim ini. Berbaur dengan pribhumi yang bukan petani, 
no problem.
Lowongan yang sangat besar dan sangat menjanjikan kekayaan yang luar biasa, yaitu pengumpul Komoditas sampingan diluar komoditas yang sudah diusahakan Perkebunan Besar erfpacht/ Hak Guna Usaha  Hindia Belanda, tidak menangani, yang tidak diusahakan Perkebunan Besar, seperti lada, minyak nilam, Kopra, kapok randu, pala dan fuli, cengkih, kayu manis, asam jawa,  getah perca.(Ficus elastica L) jarak, Tembakau jawa, kasturi dan virginia dll. Yang masih terpencar pencar, dengan jumlah yang sedikit sedikit, memerlukan banyak tenaga dan waktu, untuk diperdagangkan secara internasional.
 Penjajah hanya menyediakan gudang sortasi dan pembelian dalam jumlah besar. Pekerjaan ini diambil oleh pendatang dari  Hokian, dan wilayah sekitarnya. Di Kalimantan dan Sumatra karena  primtivenya kondisi lahan. orang setempat membuat rantai estafet komoditas hutan sampai ke kota, tapi sedikit saja dibutuhkan perdagangan international, kecuali karet ( Hevea brasiliensis L). yang ditakik dan beku alami.
Penjajah menjanjikan perlindungan hukum kepada mereka, asal patuh membatu pengumpulan hasil bhumi ini dengan harga yang ditentukan. 
Masih ada peluang sangat besar untuk memperoleh harga pertama yang sangat miring dengan membeli secara ijon oleh bakul bekerja sama dengan mereka didesa desa ( sebelum barang ada sudah diberi voorschot/ uang pembelian). Pmberian voorschot ini dilakukan Lurah Desa jadi aman, barang pasti ada karena hubungan kebutuhan dari petani yang naik terus. Hubungan ini berjalan selama kurun waktu pejajahan katakan selama 200 tahun. 
Makanya dikota Surabaya ada bagian jalan di kota yang panjang penuh dengan rumah rumah mewah cara Asia di Jl. Jagalan, di Jl. Kapasan, tanpa toko didepan rumah melainkan halaman, taman dan gazebo, rumah para pedagang pengumpul apa saja hasil bhumi, di Malang ada jalan dekat Pasar besar kota tempat hunian tengkulak kapok randu untuk di export ke Europa, ( belum ada serat dacron) mobil yang diparkir di halaman rumah rumah tersebut mereknya Packard  8 cylinder mobil bikinan Amerika terbaik dizamannya. 
Semua bahan bangunan di import dari Europa, termasuk fresco di tutup depan atap dari tembok berukir dari master Italia, dan air mancur didepan rumah. Mereka juga ada di semua kota besar ( kota Karesidenan) 
bergerak didalam sistim penjajahan Hindia Belanda. Juga di Temanggung dan kota kota besar lainnya. 
Perang Dunia ke II, perang kemerdekaan menjadikan mereka ( si Tuan Tengkulak besar) kehilangan lapangan kerja sebagai pengumpul.
Sebaliknya yang di Kecamatan Kecamatan dan desa desa membebaskan diri dari bossnya di kota Karesidenan. 
Lha setelah kemerdekaan, dengan sistim Pemerataan Pembangunan Bangsa yang terjajah , adil dan merata,  mereka ada diluar sistim. Malah pendatang baru dari Hokian dijadikan kroninnya, di Kecamatan Kecamatan dan desa desa. Lha setelah kemerdekaan, dengan sistim Pemerataan Pembangunan Bangsa yang terjajah , adil dan merata,  mereka ada diluar sistim.
Dengan modal dibawah bantal, dan pengalaman dagang dengan orang desa yang panjang, lebih dari 300 tahun.  Malah pendatang baru dari Hokian dijadikan kroninnya, di Kecamatan Kecamatan dan desa desa. 
Sudah punya akar sendiri, sampai 
Pemerintahan Pesiden Sukarno risih dan mengeluarkan PP no 10.tentang dwi kewarganegaraan. Mereka dilarang tinggal di desa desa menjadi tuan tanah dan tengkulak
di desa desa. Kebanyakan pindah ke Kota kota besar sebagai WNI, atau pulang ke asalnya. 
Sebagian sangat kecil menjadi warga Negara Indonesia dengan sadar menyertai bangsa ini yang lagi membangun masyarakatnya  dalan sistim pemerataan dan keadilan sosial dan ekonomi, malah mempelopori menjadi bangsa yang merdeka dan plural, sebagaimana bangsa  bangsa moderen 
Kabanyakan mereka dibesarkan dengan pendidikan barat, menjadi pelopor kaum inteligensia Indonesia kaum Nasionalis Indonesia, kaum Olah ragawan Indonesia dan menjadi phylantrop yang kensekuen. 
Sayang mereka terpaksa kena getahnya dari  WNI keturunan Hokian yang tetap  meraja lela diluar sistim, dengan sebenarnya menelan semua potensi ekonomi bangsa ini, bekerja sama dengan dispot dan tyran besar dan kecil.
Jadi ATM nya Orde Baru, jadi Hartati Murdaya Poo. Jadi Nyonya Hartatigebyarkumala Tuan Bondodilonggo, Nyonya Ratnasari Dewi Thahir, istri muda Jendral Thahir alm, kroni Jendral Ibnu Sutowo alm, yang mewarisi harta nomplok di Sumitomo Bank, tuan Mohtar Teriyadie, Puak Van Danuhingrat yang membuat Partai entah dengan idealism apa, Tuan Liem Swie Liong alm. dsb ribuan, jutaan mereka. Bagaimana caranya memasukkan kesadaran bernegara Indonesia, yang mayoritas penghuninya bercita cita membangun bersama Negeri ini, mereka yang sudah kadung berkuasa mutlak diluar sistim, 76 tahun berurat berakar luas dan dalam, begitu massive shingga bisa mentorpedo usaha Pemerintah siapa saja, yang menyangkut distribusi dan perdagangan komoditas apa saja. Karena semua itu ajang hidup mereka, mereka sudah lebih dulu ada dan berkuasa disana, bekerja sama dengan sahabat sahabatnya Pejabat Negara Setempat. Kelas Kecamatan dan Polsek, kelas Kabupaten dan Polres, kadang sampai kelas Gupernur, sudah jadi sahabatnya. Makanya bank Indonesia sudah tahu, memindah Pejabat tingkat I dan Karesidenan tiap periode pendek saja, mencegah jaring persobatan.

Contohnya di program Orde Baru yang berjalan 25 tanun, Bimas/Inmas Pertanian, 
dengan memberikan subsidi pupuk 50% dan pestisida 80% dengan jatah pupuk 2 Kw/Ha Urea dan TSP, dan pestida 80% disubsidi, dengan jatah 2 l /Ha. petani malah beli sarana pertanian yang disubsidi besar besaran tersebut  dari toko toko  -  sudah dinaikkan rata rata 50%- 200% - 500% karena diborong oleh Pedagang diluar sistim dan didistribusikan mereka dengan leluasa, dengan pembagian keuntungan tentunya, untuk rantai pencolengannya. Sebab di sole distributor barang subsidi, dengan jaringannya  yang luas sampai ke desa desa, lewat Koperasi Unit Desa ssarana pertanian subsidi ini - di P.T.Pertani sudah habis.
Golongan diluar sistim ini dari pasar mereka memerintah tanpa kampanye, tanpa adu argumentasi, sampai cabe dimulutnya berasa coklat. Diberi amnesti pajak masih alot, takut karena kekayaannya bercampur dengan usaha haram, lebih senang menyembunyikan hartanya di Pulau Kayman atau ke pulau lain  untuk memarkir hartanya yang sangat banyak, di Singapore karena bank swasta Negeri ini betul betul mengabdi pada uang dengan pajak kekayaan atas deposito yang kecil saja, meskipun bunganya juga kecil, tapi bersaing dengan Swiss. Ini digabung dengan uang haram dari para koruptor didalam sistim, konon sampai 3000  trilyun rupiah, 40 % dari perputaran bank swasta Singapore. ( google) *)      
     Lha iya, ini kita membicarakan golongan yang memang mempunyai track record dagang menjadi Pedagang Perantara Penjajah, Pembeli dari tangan pertama hasil bhumi. Sudah jelas dari fihak golongan mana, tapi kalok dipikir, setiap kesempatan mendapat keuntungan dari mana saja, puak puak elite capture ( istilah bu Indrawati) tidak melewatkan kesempatan ini, justru menggunakan kesempatan sehebat hebatnya, menyertakan puaknya, sukunya. Malah golongan yang kedua ini sangat agressive menyuap atasan memeras bawahan, memeras rakyat bila jabatannya dibutuhkan, bila dia Pejabat Pemerintah dari jalur pilihah rakyat atau dari jalur cariernya, mereka memeras tanpa sungkan sungkan. Mereka ditandai sebagai elite capture/feodal puak dan kampung dari seluruh Daerah Daerah kita. Mereka juga sangat sinis, kepada adanya Negara sebagai pemersatu masyarakat, 
Mereka dipercaya untuk mengangkat derajad bangsanya sukunya, termasuk puaknya. malah jadi biang korupsi penerima dan pemberi suap miliaran kayak Bupati Amran batalipu, Kayak Bupati Buton, kayak Bupati Bangkalan Fuad keturunan Hadratush Syekh Almukharom Kiai Cholil alm. dari masa lalu yang sangat dihormati oleh rakyat NU Bangkalan dan seluruh Jawa Timur. Banyak sekali model sosok semacam ini menjejali penuh tahanan KPK. Bagaimana menyertakan mereka dalam sistim ?
Mereka berkembang jauh diluar sistim, bahkan tidak mengerti sistim Negara ini, malah terpilih jadi Kepala daerah, kalau perlu seluruh anak cucunya, lewat jalur Partai, seperti suami isrtri Bupati Klaten, karena jumlah maharnya yang sangat besar. Ya maklum..di era Orde Baru samua partai diganti dengan partai partai Pragmatis sebagai mesin uang.
Sudah 76 tahun merdeka, rakyat masih tertipu memilih mereka sebagai pemimpinnya, sebagai figure pemimpin dari carriernya, kayak Emirsyah Satar, kayak F J Lino, Suryadharma Ali, Akil Mohtar, Dahlan Iskan, Pujonugroho,Patrialis Akbar, inikah hasil reformasi ?   Masya Allah, rakyat, sadarlah *)

Beda antara keduanya : Yang pertama dianggap bisa merupakan satu himpunan massive yang memang mendasari existensinya untuk jadi exclusive golongan mereka, menjadi das herrenvolk,. Masyarakat sudah  mencibir mereka apapun yang dikatakan, akan melawan dengan terbuka maupun tertutup, merupakan potensi letupan yang dahsyat. kayak di Cambodia. 
Maka itu gunakanlah amnesti pajak terhadap parkiran modal yang ada di pulau Kayman, di Panama, Singapore yang ketahuan luar biasa besarnya, untuk pulang ke Indonesia sebagai gesture,  yang menetralkan anggapan bahwa mereka bukan barisan das herrenvolk yang parasitis, dan massive. 
Jauh berbeda dari zaibatsu di sejarah Nippon sebagai kelanjutan dari Meizi restorasi, yang teranyam dalam Nasionalisme Nippon untuk kebaikan dan kejelekannya. 
Jauh berbeda dengan chaebol dari Korea Selatan yang terbentuk demi percepatan daya ekonomi negaranya, bersama dengan rakyat rakyat mereka kebetulan monolith dari satu rumpun. 
Amerika Serikat masyarakatnya plural, rumpun Yahudi unggul dibidang ekonomi/perdagangan, menguasai Wall Street, `tapi rumpun ini ikut perang bersama rumpun rumpun bangsa Amerika Serikat yang lain, punya andil sejarah.
Mbok disadari, beda dengan misalnya kayak gang Anggoro,Anggodo, Ong Yuliana yang dengan enaknya menyebut RI I zaman SBY, begitu rusaknya dalam rekaman pembicaraan miring antar mereka. _(perkara Bank Centuri, dan Alat radio komunikasi Departemen Kehutanan). Konglomerat mereka yang diluar sistim ini notorious/ terkenal mengandung hasil kejahatan KKN bersama Kekuasaan Tyran dan Despot Orde Baru. 

Dan mbok yang golongan  pertama ini sadar,  masuk kedalam sistim Indonesia Raya, sebagai uang warga yang terhormat, mumpung lagi ada amnesti pajak yang sangat longgar. Apa bukan Partainya Van Danuhingrat yang berideologi come back to Indonesia ? Ndak ada bunyinya.
Sedangkan golongan yang kedua meskipun jumlahnya lebih banyak dan kurang ajar-nya lebih konjol, tapi tidak ada sedikitpun tanda untuk menjadi barisan begal yang massive dan mendasari existensinya sebagai barisan exclusive begal, kecuali dipengaruhi orang luar, masyarakat akan menyerahkan mereka sebagai penjahat perorangan kepada Polisi.**)  



Sabtu, 21 Januari 2017

IBU PERTIWI MENANGIS.

IBU PERTIWI MENANGIS.
Bagaimana tidak ?
Putra putrinya yang terbaik, bukan saja terbaik tapi telah menjadi public figure:
Telah diketahui seluruh Negeri. Masuk dalam jajaran wakil rakyat yang menjabat Jadi Pemimpin jenjang Eksekutip, jenjang Legislatip, jenjang Judikatip jenjang Keamanan Negara dan jenjang polisi, telah ditengarai KPK, tersangkut  perkara sangat memalukan yaitu SUAP DAN KORUPSI.
Perilaku sangat rendah, menghianati kepercayaan Rakyat.
Bukan hanya itu, mereka dengan sinisme nya membantah pernyataan KPK secara public, layaknya tukang copet biasa.
Ya paling sedikit, menunjukkan sisa sisa hasil perkembangan separo dari pribadinya yang sudah terbiasa dihormati rakyat banyak, yaitu “keanggunan” manusia terhormat, ,mengakui perbuatannya dan mengembalikan dengan ikhlas curiannya. Yang saya sesalkan ada media cetak yang sangat begengsi, majalah SWA seharusnya, karena majalah bergengsi ini telah membantu mengangkat nama harum “beliau beliau”,  juga ikut membantu rakyat membeberkan segala proses pembuktian dakwaan hingga vonis peradilannya, mempublikasikan kepada pembacanya, supaya adil.
Ya.setelah vonis, ( jaman yang sangat masih segar di ingatan kita, menunjukkan apapun salahnya, berapapun hasil curiannya, berapa lama dilakukannya, vonisnya toh hanya 4 tahun )
Jadi 4 tahun ini tidak boleh berleha leha di penjara yang bisa di jenguk keluarga sembarang waktu, atau menjenguk keluarganya  dan pelesir sembarang waktu waktu, tapi juga sembarang waktu mengabdi kepada masyarakat dengan bekerja membersihkan fasilitas umum di stasiun, terminal, pasar, sumah sakit, membersihkan jamban tempat ibadah, jadi imbang ( tanpa bisa diwakilkan) ini bukan siksaan mental, tapi menyeimbangan keadilan didepan public,  saya akan lihat fatwa MUI mengenai ini gimana.
Lha nosok, sepertiga Bupati/Walikutil terpilih dari elite capture/ feodal puak dan semua ganteng dan cantik ternyata ulat bulu, makan uang rakyat kayak ulat bulu menghabiskan daun tanaman misalnya: 
Bupati Fuad dai Bangkalan, keturunan langsung dari Hadratush syekh NU, sampai bisa memiliki sumur gas bhumi, mengerahkan jajaran semua Dinas dan Polisi di Kabupaten Bangkalan jadi pendukungnya berKKN ria, bukan diukur dengan milliar rupiah saja, tapi pestanya yang menindas rakyat Bangkalan sampai rakyat Bangkalan sudah menganggap semua perbuatan Bupati tyran ini hanya menggunakan haknya, sangat melukai hati ibu Pertiwi.
Bupati Amran Batalipu, menjual HGU 75 ribu hektare lahan ngarai dan gunung di Kabupatennya Buol toli toli, kepada Hartati murdaya Poo, melenggang dengan santainya ke masjid dekat kantor Pengadilan sambil bergandengan tangan dengan kroninya dia kira Allah melindunginya. 
Untung masih dianulir Mahkamah Agung. Tumben, lha wong Hakimnya Pak Artijo Kautsar. 
Ini berita di strip Metro TV sore 21/101/2017. Di google ada di Kabar Selebes.com 19/01/2017. Amran diganjar 8 tahun penjara oleh Hakim MA  akibat kasasi jaksa Pengadilan Tipikor Palu, mengembalikan suap yang terbukti diterima dari Hatati Murdaya Poo, bila tidak total hukumannya jadi 15,5 tahun. Matur Nuwun Pak Hakim MA, pak Jaksa Tipikor Palu, Ibu Pertiwi sudah mau minun air putih sedikit. Dari kami rakyat yang sabar, meskipun sangat miskin.

Bupati Buton, silahkan check di google, dosanya kepada rakyatnya apa.
Walikota Madiun makan pasar, terikut sampah, trus muntah muntah..dimuntahannya keluar dari waduk yang ndak kenal kenyang 10 kg batangan emas 24 karat, maunya ditelan kembali, keburu disita KPK ?
Bupati Temanggung, makan gunung dan jalan dengan segenap bawahannya berpesta pora. 
Bupatiwati Klaten bersama semua pejabat puncak Kabupaten  Klaten yang bisa membayar ratusan juta kepada dinasti Bupati ini, untuk jabatannya, lebih mengerikan lagi, suaminya ya bekas Bupati Klaten, belum puas, istrinya disuruh nyalon lagi dari PDIP ! , langsung dipecat oleh Gupernur Ganjar Pranowo, ra papa suaminya tidak, masih mau nyalon lagi.
Semua ini akibat dari Orde Baru yang telah membuat rakyat mati rasa, kejang katatonik, karena menggunakan terror dan tyrani untuk menegakkan kekuasaanya.35 tahun, lebih lama dari era tanam paksa Penjajahan Belanda.
Lha mosok, seorang Aqil Mochtar, telah menerima suap berton ton emas (bila di kurs) dari singgasananya di Pengadilan Tinggi MK.
Mencapai kedudukan sampai Pemngadilan Tinggi MK bukan suatu yang mudah.
Lha mosok, seorang Suryadharma Ali Menteri Agama, figure pengendali Partai berazas Agama Islam, kok memperlakukan uang Haji, uang Negara, uang apa saja di Kementeriannya kayak miliknya sendiri.
Apa gampang mencapai kedudukan  Menteri Agama di Negara yang peduduknya lebih dari 250 juta ?
Lha mosok, seorang muda usia ex  Ketua HMI, Anas Orbaningrum, menjadi ketua Umum Partai Demokrat berkat headtrick yang spektakuler di konggres partainya, mendapat suara empat besar di DPR RI, dengan alot diadili dan sudah divonis korupsi entah berapa lama, apa kerjanya sekarang ? ,sudah menggantung diri di Monas ? Sudah kehendak zaman, jeruk besar, jeruk kerbau dimakan jeruk  orba, si jeruk orba dimakan jeruk yang disuruh menggelinding lari..

Lha mosok, seorang Richard Joos Lino, akhli tiada duanya untuk managemen Pelabuhan kontainer di dunia, ketahuan jadi pemalak pelabuhan dengan segala aturan yang dia karang. gotot protes kena apa ruang pribadi kantornya digeledah oleh KPK, dengan terbuka menyatakan bahwa jasanya amat besar untuk meperkaya Negara dan terutama dirinya atasannya, kroninya, kok ruang kerjanya digeledah seperti sarang maling (emangnya bukan ?)
Lha sebelumnya  Menteri Jero Wacik, pada siapa wakil perusahaan asing raja minyak membongkok bongkok dihadapannya  mark up harga beli jutaan barel minyak mentah dengan PETRALnya. Dia nangis dan ngaku,  yang sok flamboyant keturunan ningrat Bali kurang beberapa strip jadi cokorda, rapi dan sopan, ketahuan terima suap dari usaha maling kencingan, dan bikin mark up impor minyak mentah bersama Petral tapi kekeh pada  keberpihakkannya pada atasan, dari pada kepada  rakyat. Ibu Pertiwi sudah memperingatkan, atasannya bukan Ida Bagus, tapi Ida Citra, ndak usah dibela belain.
Lha mosok seorang  dilahirkan gilang gemilang  dari Sumatra Barat, sulit Sulit Air,  sampai puncak carriernya jadi  Dirut Garuda Indonesia, hanya dengan tangan sendiri menerima suap dari Rolls Roys  perusahaan pembuat mesin jet pesawat jumbo  Boing airbus, juataan poundsterling, dinilai dengan rupiah mencapai 20 miliard rupiah, dari orang asing, dengan bank asing, dinegara asing,  syaithan pun ndak tahu, senyum saja, mestinya 1000 % KPK tidak akan tahu. Ibu Pertiwi sudah sedikit terhibur, putranya yang dipuja dipuji oleh Majalah yang penjilat ini kualat.
Lha kok ndelalah Pemerintah UK meneliti uang ini keluar pembukuan Perusahaan Rolls Royce untuk keperluan apa, karena masih ada juga ke Penjabat yang berwenang di Negara lain juga menerima suap ini, jadi jumlah pengaluarannya cukup menyolok, dibayarkan kepada Perusahaannya Sutikno orang Indonesia, untuk beli apa, si Tikno bilang untuk beli meriam pusaka Majapahit dari Leiden, ketahuan dari sana. Karena Ingris adalah Negara perdagangan bebas, menghormati norma persaingan dalam dagang, sampai disetiap super market di UK ada timbangan, untuk checking berat barang yang sudah masuk kemasan dan mencantumkan beratnya di labelnya, jadi menjual dengan iming iming suap atau kick back rahasia, masih merupakan kejahatan dagang. Lha kalok ndak begitu, siapapun tidak akan tahu,  si CEO pujaan SWA ini  Emirsyah Satar. maka SWA akan membingkai potret maling dari Sulit Air ini dengan kertas keemasan di majalahnya, silahkan, saya muak.
Lha sekarang majalah yang sangat mahal ini harus memuat proses penyelidikan dan bukti yang diperoleh KPK supaya imbang dengan pujiannya yang selangit dulunya.
Fatwa potong tangan diganti dengan kerja paksa membersihak khusus WC di fasilitas umum saban hari bertahun tahun mendatang, dengan seragam khusus, supaya orang tahu.
Emirsyah Satar takut, ibu Pertiwi malu, sekarang memakai burkah, dan Emirsyah  menyangkal perbuatannya. Bila di Sulit Air dia masih  bangsawan, pasti dia mengaku dan mengembalikan uang suap ini kepada Negara.
Jadi anda tahu, mengapa Ibu Pertiwi bersimbah air mata. Karena masih banyak yang lain malang melintang, semacam yang disebut diatas bebas merdeka, dengan aman melanjutkan pencuriannya.
Saya jadi heran, apa di tingkat pergaulan social elite atau elite capture di sana, masih ada mak jomblang dan talent scout mungkin nongkrongnya di mass media apa panggung Partai, yang menjodohkan calon calon maling  dengan posisi posisi kunci dimana mereka bisa berkembang ditingkat Nasional mapun Internasional? Tangannya tetap bersih, kan hanya mak comblang  ?*)


Rabu, 18 Januari 2017

TEMANKU DARJOTO,

MELONGOK KERJA AGRARIA  BERTAHUN TAHUN SEBELUM SEKARANG. TERIMA  KASIH PARA NETIZENS, PESAN SUDAH SAMPAI.

Saya sungguh lega melihat di strip Metro TV  sore tg 15/01/2017,  ada tulisan di strip itu, Presiden Jokowi akan melakukan reformasi besar besaran dibidang pertanahan Nasional tahun 2017 ini. Alhamdulillah. TERIMA KASIH

Sekaligus saya ingat teman saya Darjoto, anak Pekalongan.

Selama kita kumpul disatu kos kosan,  saya malah patungan masak dengan Darjoto ini, kecuali waktu waktu persiapan ujian, kami lebih suka beli makan diwarung. Aku kutu buku di pendidikan aku sukses, nilaiku selalu sempurna, terus terang aku agak memandang rendah temanku Darjoto ini karena dia agak lelet dalam pelajaran

 Lah apa hubungannya dengan persoalah agraria ?  Sabar, ini prelude cerita kehidupan jadi agak panjang crita prelude nya

Th 1965 bulan Juni kami lulus,  kami  sama sama mencari kerja di Jakarta, ngekost di paman saya adik Bapak saya ( keduanya sudah almarhum).

Mulai saat itu saya baru mnyadari watak teman saya Darjoto ini. Dia anak Pekalongan,  tradisi dagangnya sangat kental disatu sisi saja, ini satu watak tradisional yang satu ini sangat saya  sesalkan, yaitu watak “bakul” Jawa, diantara tradisi pergaulan para bakul yang banyak, satu  saja yang sangat saya sayangkan jaitu -PELIT INFORMASI – kepada  siapapun.  Menurut saya, watak ini menimbulkan  bencana finansial berat kepada Darjoto kemudian.

Critanya dimasa sulit kami mencari pekerjaan th 1965, Darjoto ini sudah paling dulu mendapat pekerjaan di Kekaryaan KKO ( sekarang Marinir), di Tanjung Pinang, ternyata setiap Angkatan waktu itu ada satu seksi kekaryaan, yang kasarnya mencari penghasilan buat Corps. Yang dibutuhkan oleh Corps apa saja,  banyak membutuhkan tenaga sarjana apa saja, yang bisa berbahasa asing.

E, lha kok si pelit ini memperlihatkan watak aslinya tidak memberi nformasi pada temannya. Bahkan kepada saya, Tau tau dia terbang ke Tanjung Pinang, setahun kemudian dia kawin dengan putri paman saya, jadi kami bersaudara, tapi watak pelit informasi -nya tetap malah tambah, karena keberhasilannya.

Baru tahun 1970 aku dapat pekerjaan agak  sesuai, di perusahaan asing Produsen Pestisida, dilengkapi satu kendaraan kebanyakan jeep, dibidang pekerjaan saya apapun kendaraan, setiap terpakai 100 000 km, diganti baru,  aku habis 5 kendaraan baru satu bekas pakai teman kerjaku,  untuk supervisi project Bimas product Perusahaannya.  Kantor pusatnya di  Jakarta, tugas  saya di Bagian Timur Indonesia.

Lha Darjoto, sudah mempunyai usaha membuat segala macam ikat pinggang/ban/riem  tenunan benang  campuraan  cotton, benang nylon, benang Dacron, malah filament fibre glass  menjadi  semacam ikat pinggang/kopel riem  dan penggantungnya di pundak, pelengkap ransel,  berwarna kehijauan, hitam sampai putih bersih, yang sangat kuat untuk keperluan militer – dia supplier dan punya mesin tenun membuat keperluan ini, dia cepat sekali menjadi kaya raya. Pernah kami bertemu sekali dia menceritakan  sekilas, dia membeli banyak tanah dan ada yang dipotong jalan tol ribuan meter persegi, kompensasi harganya sangat bagus, menjadikan dia gila membeli tanah.

Karena didahului dengan kepelitan dia mengenai informasi, saya pun demikian terhadap dia.  Almarhum ayah saya pegawai  kantor notaris, paman saya dari ibu juga notaris di Jakarta, saya  familiar dengan persoalan tanah ( bukan bidang prakteknya tapi kunci pokok persoalannya). Saya ganti menutup diri, tidak memberikan informasi apapun mengenai pertanahan, wong tidak ditanya. Yaitu bahwa setiap jengkal tanah yang dimiliki warga Negara negeri ini harus dilindungi oleh sertifikat tanah dari BPN. atas namanya. Bila tidak, pasti ada persoalan kemudian  dan bisa hilang begitu saja, teryata bidang tanah itu dimiliki orang lain. Makanya segala urusan dengan BPN pasti ada harganya untuk oknum pemangku jabatan  apa saja disana. Sampai puluhan juta rupiah, bahkan ratusan juta rupiah.  Contohnya peristiwa Hambalang, untuk BPN Bogor , tanya saja sama Andi malarangeng, yang mendapat otoritas pengeluaran uang Negara untuk  apapun namanya, juga kepada oknum Negara  BPN !.  Atau tanya kepada Nazaruddin, itu masih antar Instansi  Pemerintah , lha rakyat  kecil harus gimana sama BPN   ?  Orang cerdas ngerti sendiri. 

Ndelalah teman, Darjoto mati muda umur sekitar 60 tahun, kini pewarisnya  kehilangan semua bidang tanah yang dibeli oleh suami/bapaknya  dibawah tangan dengan surat dari Lurah dan Camat,  surat keterangan kepemilikan dari akta jual beli mereka lebih rendah posisi hukumnya ( karena dengan jangka waktu terbatas bisa diproses untuk mendapat sertifikat tanah dari BPN) dibanding sertificate dari BPN sendiri. Jadi setiap oknum dari mereka bisa berkomplot  untuk menukangi sertifikat tanah, yang pemiliknya hanya memegang akta jual beli.   Bukan merupakan tanda hak atas tanah, bahkan  resi pajak tanah dan bangunan (PBB) tidak bisa menjadi indikasi mengganti sertifikat dari BPN. 

Perlu saya tambahkan, konon di Situbondo, seseorang bisa menguasai tanah pertanian sampai puluhan, ratusan,  hektare bertahun tahun, karena pembelian bawah tangan oleh Notaris petok D tanah dikumpulkan disana, PBB dibayar, saban kali ( dua tiga tahun ) akta jual beli tanggalya di update, dilaporkan ke BPN, setifikat masih diurus sampai puluhan tahun, yang perlu kan pemakaian tanah aman terlindungi, karena pemilik pertama tidak lagi memegang petok D,  dan pemilik si tuan tanah dalam gelap tersembunyi di pembuat akta jual beli,  PBB tetap dibayar, minta duplikat  dengan nama pemilik lama, tidak bisa -satu loophole untuk mafia tanah.  Jadi si tuan tanah baru tetap leluasa menggunakan puluhan  ratusan hektare tanah pertanian, bahkan   puluhan hektare, ratusan hektare, tanah ini malah untuk spekulasi, dan usaha tani dengan input subsidi !, Atau tidak dipakai tapi diperdagangkan.   Diluar sistim memang ada mafia, belerjsa sama dengan orang dalam BPN atau siap saja yang mengetahui project apa yng membutuhkan tanah banyak. Sebab aturan penuh loophole hukum.      Persoalan  kepelitan informasi bisa merugikan  siapa saja, padahal bila berbagi informasi,   si donor tidak kehilangan apa apa, tidak menjadikan si donor  miskin, meneguhkan silaturakhmi dan menuntun ke keselamatan,  siapa tahu ?  Dasar bakul*)



 

JIWA MANUSIA, MEROSOT SERENDAH RENDAHNYA
KARENA  GODAAN MATERIALISTIS.

Bagaimana tidak, kita saksikan dengan gamblang, di TV ribuan manusia disesatkan oleh satu tuntunan yang menyesatkan jiwanya.

Dimulai dengan satu penyesatan idealismenya, yang diwujudkan dengan pertunjukan ketercapaian materi dari pangkal sampai ujungnya.

Materi, melengkapi orang dengan pakaian yang suci, penutup badan dan penutup kepala yang putih bersih, kemudian bangunan yang megah, kekuatan finansial untuk menjamu jama’ah yang ribuan sampai puas, sungguh mengesankan.  
Jiwa jiwa sederhana, yang selama hidupnya terhimpit kemiskinan dari generasi ke generasi, miskin terus, bagaimana tidak terguncang mengalami euphoria, dihimpun oleh Pemuka yang sehebat ini ? Contohnya Dimas Kanjeng. Kamas Syekh Belabelu. Boss sosok sepenting ini tentunya sudah berabad abad royal memainkan materi, memikat makhluq mqkhluq selemah si turun temurun miskin ini.  

Disinilah dimulai masuknya dan merusaknya pemahaman materialisme, dalam arti materi/harta bisa mengubah segalanya. 
Mulailah massa yang telah mengalami keguncangan jiwa ini digiring untuk mendapatkan lebih banyak menuruti kemauan Pemukanya dengan menuntut dan memaksa.
Tentu saja merusak harmoni dan ketenteraman seluruh masyarakat yang terhimpun dalam Bangsa dan Negara.
Sekarang, baru saya sadari, kena apa Wahyu pertama yang diturunkan Allah lewat Malaikat Jibril, kepada Rasulullah Muhammad salallahu allaihi wassalam, adalah al Alaq.  “Iqrok”….. yang intinya sangat menganjurkan orang untuk “membaca” karena Allah mengajari manusia dengan kalam/ tulisan. 
Surah ini multi tafsir, bisa membaca situasi, bisa membaca segala Ilmu, bisa membaca Al Qur’an dan Al Hadist. Karena ini adalah perintah yang pertama, jadi mestinya sangat penting dan strategis, tentu saja syaithan ya bercokol disana untuk menyesatkan manusia. Misalnya dengan royal mengobral jannji mendapatkan rezeiki nomplok, pornografi, pembentukan pasukan pemaksa dengan nekat berjihad, ujung ujungnya menguasai materi, dengan kekuasaannya.

Semua membaca  dianjurkan karena perintah Allah, adalah baik.

Perintah pertama adalah "bacalah", ini  hal materi, hal erat hubungannya dengan kehidupan nyata, sebaliknya bila  perintah pertama “ingatlah Allah” nisalnya, karena Allah yang menciptakan manusia, bunyi perintahnya yang pertama tentu “berzikirlah”, maka orang pada bermeditasi, bertapa dan berzikir. Ya tentu ada perintah bertasbih kepada Allah, tapi pada surah berikutnya, bukan yang pertama diwahyukan.
Al Fatihah, jadi ummul Qur’an, karena inti sari  isinya, ditulis sebagai surah pertama, sejak Rasulullah saw masih hidup.

Kenyataannya barabad abad yang lalu, pendahulu kita seperti Al Bikuni – ahli beragam ilmu seorang Phylosof, Al Batani – alhi Trigonometri/Goniometri , Ibu Sina – ahli Kedokteran, Al Zarkawi – alhli bedah, Ibu Haithim – ahli optika ( prinsip kerja teodolit ?),  Al Razi – ahli kimia, penemu pembuatan sabun, Al Tutsi – ahli astronomi, Al Wafa – ahli matematika. Semua tokoh tokoh ilmu pengetahuan demi mengamalkan ilmunya untuk kesejahteraan manusia seluruhnya.
Jadi mereka kutu buku, membaca dan mengembangkan ilmu, kerena dengan benar menafsirkan perintah Allah yang pertama diwahyukan, dunia Islam berkembang pesat.
Lha kerena perintah Allah yang pertama adalah hal hidup, hal materi adalah hal yang sangat penting.
Maka  ka-zuhud-an orang diukur menurut kemampuan mereka mengolah materi demi kegunaan orang banyak, dijadikan amal jariah, amal sholeh, umat islam berlomba lomba mengembangkan segala ilmu untuk beramal. 
Sebaliknya entitas yang sudah diberi tangguh,   menggunakan materi dengan keahlian seorang pesulap, untuk memincuk pengikut demi cita citanya menguasai materi juga, yang jauh lebih banyak, seolah olah itu rezieki dari Allah, kita jadi lebih tahu dari mana rezieki ini, bersama siapa  nongkrong disana sejak Nabi Adam as?*).

 









Minggu, 15 Januari 2017

PEMERINTAH MEMBANTU PENANAMAN CABE

PEMERINTAH MAU MEMBANTU MENANAM CABE, INI CRASH PROGRAMME.

Pak Jokowi orang Kehutanan, tau betul soal tanam menanam.Menterinya orang pertanian, familiair dengan Lembaga Penelitian, paling sedikit di Maros, Sulawesi Selatan, satu Lembaga Penelitian (Padi) yang terkemuka.

Lah ini  “crash programme” menanggulangi harga cabai yang menggila.

Secara politis memang mengesankan dan “harus” diketahui rakyat banyak. Jangan sampai kayak membuat jalan tol Jakarta-Bandung lewat jembatan Cisomas, saking tergesa gesa digunakan, oleh ahlinya untuk membuat pecobaan,  blunder, sekaligu guna bleeding pembeayaan nantinya. ( Blunder yang disengaja atau memang gak tahu ) – pokoknya semua Pimpinan yang terkait sudah tanda tangan termasuk  Pak Dahlan Iskan – menurut blue print itu – pekerjaan jalan ( termasuk Doktor ilmu Teknik Sipil, bilang saya cuma tanda tangan thok kok, tidak membaca detail blue print gambarnya) – akhirnya Cuma bikin malu, dan keturutan bleeding duit Negara.

Pemerintah itu hanya punya uang ( dikit ) dan Administasi. Tidak punya ketrampilan nanam cabe. Uang mesti diberikan turun kebawah kepada Departemen sampai ke PPL/Mantri Tani di desa desa. Di Propinsi ada Kepala Bagian Hortikultura, di Kabupaten mungkin ada, disertai dengan PPS (Petugas Penyuluhan Spesialis. peringkat sajana pertamian SP). Masih ada Lembaga , Lembaga penelitian yang mempunyia program program sendiri dengan wawasan wilayahnya, dan program khusus, menangani persoalan mendesak seperti cabai ini. Tentu membutuhkan anggaran, dan hasilnya berupa laporan, keatas sampai Menteri .

Lha mbok iya, uang anggaran ini diberikan kepada Lembaga Penlitian untuk secara luas melewati jajaran administrasi Kedinasan, memberikan blue print percobaan demonstrasi ke tingkat desa dengan PPS dan PPL sebagai pelaksana ( asal duitnya ndak ditilep dijalan). Lha kan sungguh to ? Dana ini sudah diincar oleh Ketua Komisi B DPRD Jatim, lantas diperas, cabe, petani memang sudah nanam tapi tanpa inovasi dengan inovasi yang sangat bervariasi menurut sikon setempat ( maka itu di beayayai Negara) nggak brani ngawur, karena beayanya sangat tinggi. Beaya pecontohan ini habis untuk bancaan. Dasar, Kepala Dinas Propinsi kok gak lapor ? Memang enaknya ya kongkalikong, kan ada jalan tol ? Lewat jalan ini lena OTTnya KPK - Andaikata Kepala Dinas Pertanian ini Politisi - mestinya ya mendakwa KPK tebang pilih.

Jelas bahwa sejak cabai ditanan monoculture secara luas, kok banyak sekali problimnya. Ya cendawan pathogen, se umum mildew, Phytoptora, apa saja, menyerang daun, buah rontog, dan leher akar. Banyak sekali hama, ya Thrips, ya Tungau, ya Insect kayak Lepidoptera  ya jangkrik  dll. Penanaman monoculture semula memang punya latar belakang ekonomi, bisa sekali petik memenuhi satu pick up , beberapa pick up dijadikan satu truck, untuk lusanya sampai ke Jakarta. Lha balik ke zaman masih ada "pasetren" ( tempat istri istri menanam kebutuhan dapur)  kok  ndak menonjol hama dan penyakit bumbu dapur itu  ya, temasuk cabai, malah kadang kadang buat bertengger ayam waktu tidur ?

 

Kok nggak kayak zaman sawah masih mempunyai  “pasetren”cabai ditanam campur aduk dengan tanaman sayuran lain, seperti lembayung, ketimun, bawang merah, terong dan kacang panjang, sawi menurut musim, kok ndak parnah ada probkim ?

Bila jenis horticultura cabe ini sudah di infiltrasi benih  hasil seleksi dari Thailand. Taiwan, atau negeri lain dengan spesifikasi potensi panen yang tinggi, menurut petani penanamnya cacatnya apa, apa rentan terhadap mildew, apa rentan terhadap Thrips atau Tungau jingga – atau virus kriting, ya pakai benih local saja, yang perlu hemat beaya, untuk pestisida.

Biar pasetren ini kecil kecil, karena rata rata pemilikan sawah sudah kecil, ya biar, yang agak luas ya para petani kaya, panen setiap pasaran atau pekan ( 5 Hari) dibawa ke pasar  local biar di jajakan dilapak bakul kecil kayak zama dulu, yang perlu harga tidak melonjak lonjak, dan barang ada. 

Lain halnya bila di NTT sudah banyak dibangung embung embung, biar air embung ini tentu mahal harganya, kerena water catchment tidak bisa luas, curah hujan yang sedikit, maka harus diimbangi dengan komoditas yang nyatanya sekarang mahal, karena sulit ditanam bila musim meleset ( ya tidak meleset wong bulan  ( Oktober, Nopember, Desember) pasti banyak hujan dan basah. Ndak ada kartel cabai, yang ada bersama saling mempertahankan stock langka selama mungkin, cukup dengan ponsel, dalam sejam seseluruh jangkauan truck ke Jakarta tiga malam, sudah mengerti dan akur.

Baru diciptakan cultivar yang cocok dari segala tanaman horticultura seperti straw berry,  grapes (anggur) yang buahnya sak bola pingpong, pears, cherry dengan pengairan netes /drip irrigation untuk cabai atau bahkan hydrophonic, yang hemat lahan dan hemat air, hanya selang selang PVC dan plastik semua sangat mahal. Tapi pasti terjual, karena di Europa, Jepang dan China  dan Australia sudah diluar musim, jadi harga bisa menutup ongkos.  Lantas difikirkan gimana mbangun Lapter khusus  cargo.*)




 

 


 

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More