Sayang Sama Cucu

Sayang Sama Cucu
Saya sama Cucu-cucu: Ian dan Kaila

Rabu, 18 Januari 2017

 

JIWA MANUSIA, MEROSOT SERENDAH RENDAHNYA
KARENA  GODAAN MATERIALISTIS.

Bagaimana tidak, kita saksikan dengan gamblang, di TV ribuan manusia disesatkan oleh satu tuntunan yang menyesatkan jiwanya.

Dimulai dengan satu penyesatan idealismenya, yang diwujudkan dengan pertunjukan ketercapaian materi dari pangkal sampai ujungnya.

Materi, melengkapi orang dengan pakaian yang suci, penutup badan dan penutup kepala yang putih bersih, kemudian bangunan yang megah, kekuatan finansial untuk menjamu jama’ah yang ribuan sampai puas, sungguh mengesankan.  
Jiwa jiwa sederhana, yang selama hidupnya terhimpit kemiskinan dari generasi ke generasi, miskin terus, bagaimana tidak terguncang mengalami euphoria, dihimpun oleh Pemuka yang sehebat ini ? Contohnya Dimas Kanjeng. Kamas Syekh Belabelu. Boss sosok sepenting ini tentunya sudah berabad abad royal memainkan materi, memikat makhluq mqkhluq selemah si turun temurun miskin ini.  

Disinilah dimulai masuknya dan merusaknya pemahaman materialisme, dalam arti materi/harta bisa mengubah segalanya. 
Mulailah massa yang telah mengalami keguncangan jiwa ini digiring untuk mendapatkan lebih banyak menuruti kemauan Pemukanya dengan menuntut dan memaksa.
Tentu saja merusak harmoni dan ketenteraman seluruh masyarakat yang terhimpun dalam Bangsa dan Negara.
Sekarang, baru saya sadari, kena apa Wahyu pertama yang diturunkan Allah lewat Malaikat Jibril, kepada Rasulullah Muhammad salallahu allaihi wassalam, adalah al Alaq.  “Iqrok”….. yang intinya sangat menganjurkan orang untuk “membaca” karena Allah mengajari manusia dengan kalam/ tulisan. 
Surah ini multi tafsir, bisa membaca situasi, bisa membaca segala Ilmu, bisa membaca Al Qur’an dan Al Hadist. Karena ini adalah perintah yang pertama, jadi mestinya sangat penting dan strategis, tentu saja syaithan ya bercokol disana untuk menyesatkan manusia. Misalnya dengan royal mengobral jannji mendapatkan rezeiki nomplok, pornografi, pembentukan pasukan pemaksa dengan nekat berjihad, ujung ujungnya menguasai materi, dengan kekuasaannya.

Semua membaca  dianjurkan karena perintah Allah, adalah baik.

Perintah pertama adalah "bacalah", ini  hal materi, hal erat hubungannya dengan kehidupan nyata, sebaliknya bila  perintah pertama “ingatlah Allah” nisalnya, karena Allah yang menciptakan manusia, bunyi perintahnya yang pertama tentu “berzikirlah”, maka orang pada bermeditasi, bertapa dan berzikir. Ya tentu ada perintah bertasbih kepada Allah, tapi pada surah berikutnya, bukan yang pertama diwahyukan.
Al Fatihah, jadi ummul Qur’an, karena inti sari  isinya, ditulis sebagai surah pertama, sejak Rasulullah saw masih hidup.

Kenyataannya barabad abad yang lalu, pendahulu kita seperti Al Bikuni – ahli beragam ilmu seorang Phylosof, Al Batani – alhi Trigonometri/Goniometri , Ibu Sina – ahli Kedokteran, Al Zarkawi – alhli bedah, Ibu Haithim – ahli optika ( prinsip kerja teodolit ?),  Al Razi – ahli kimia, penemu pembuatan sabun, Al Tutsi – ahli astronomi, Al Wafa – ahli matematika. Semua tokoh tokoh ilmu pengetahuan demi mengamalkan ilmunya untuk kesejahteraan manusia seluruhnya.
Jadi mereka kutu buku, membaca dan mengembangkan ilmu, kerena dengan benar menafsirkan perintah Allah yang pertama diwahyukan, dunia Islam berkembang pesat.
Lha kerena perintah Allah yang pertama adalah hal hidup, hal materi adalah hal yang sangat penting.
Maka  ka-zuhud-an orang diukur menurut kemampuan mereka mengolah materi demi kegunaan orang banyak, dijadikan amal jariah, amal sholeh, umat islam berlomba lomba mengembangkan segala ilmu untuk beramal. 
Sebaliknya entitas yang sudah diberi tangguh,   menggunakan materi dengan keahlian seorang pesulap, untuk memincuk pengikut demi cita citanya menguasai materi juga, yang jauh lebih banyak, seolah olah itu rezieki dari Allah, kita jadi lebih tahu dari mana rezieki ini, bersama siapa  nongkrong disana sejak Nabi Adam as?*).

 









0 comments:

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More