Sayang Sama Cucu

Sayang Sama Cucu
Saya sama Cucu-cucu: Ian dan Kaila

Jumat, 16 Februari 2018

MENAFSIR MA'IYAH-NYA CAK NUN DARI YOU TUBE KE II

MENAFSIRKAN MA’IYAH, DARI PENYADARAN CAK NUN DI YOU TUBE – TAFSIR SAMBUNGAN KE II – DENGAN BEKAL JEMBATAN PEMIKIRAN ULAMA JAWA.

Allah sudah berfirman bahwa dunia diciptakan-Nya berpasang pasangan. Hidup pasangannya mati.  Benda (materi – matter) pasangannya rokh dua duanya ada dalam hidup Manusia, tidak terpisahkan.  Sebaliknya, dalam hidup tumbuhan dan binatang ada materi, sebagai wadag/badan, dan jiwa yang temasuk code dari materi yang tidak kasat mata, code satu program. Jiwa mengatur seluruh cyclus hidup tumbuhan dan hewan, yang semakin tinggi derajad hidup semakin complex jiwanya, sehingga pada manusia bisa sebagian fungsinya keluar rel, yang kita namakan sakit jiwa. Gejala ini tidak ada pada tumbuhan dan hewan yang code programnya sederhana. Kecuali disebabkan oleh kerusakan benda otak msalnya oleh invasi virus Rabies, maka anjing disebut anjing gila, bisa menular ke manusia, tidak desebut gila tapi sakit rabies.
Singkat kata, manusia mempunyai dua sisi hidupnya yaitu sisi duniawi badan wadag dan sisi rokhaniyah/ ukhrowi.
Di sisi duniawi ini, syaithan  mengharu biru sejarah khidupan masyarakat manusia sejak Nabi Adam dan Hawa diturunkan ke bhumi.
Sampai pada utusan Allah yang terakhir, Rasulullah Muhammad salallahu allaihi wassalam, sebagai imbangan di sisi duniawi ini karena sudah di injak injak oleh syaithan untuk menjesatkan manusia, memang diizinkan Allah begitu. Justru Rasulullah membimbing manusia, dengan izin Allah menyiarkan islam kedunia dengan tujuan satu satunya menjadikan manusia sadar akan tugasnya, malah dibekali Allah dengan energy yang luar biasa, untuk jadi rakhmatan lil alamin, dari  sisi bhatiniahnya, memembus ke materi sebagai alat hidup yang diridhloi Allah, direbut kembali dari kesetnya syaithan.
Tentu saja shaithan mengharu biru sisi duniawi, sebab sisi ini sudah dihibahkan Allah kepada khalifahnya di bhumi – ya manusia – sisi duniawi ini disebut Cak Nun sebagai sikap dan sifat matarialis dan pemikirannya disebut materialisme – yang keduanya memang unsur dari hidup manusia. Kedua kenyataan benda, ini memang sudah jadi kesetnya shaithan, tapi ini masih milik Allah dan di hibahkan kepada manusia. Jadi bicara emosipun tidak bisa memusuhi materi atau materialisme, karena  keduanya adalah belahan manusia hidup, yang sudah jadi kesetnya syaithan, yaitu satu niyat pitung/memilih bondho donyo sebagai penolong utama hidupnya, satunya lagi mengutamakan kekuasaan bondho bondho donyo diatas segalanya. Derajatya akan sama dengan menggeluti ajaran mengendalikan nafsu dari Utusan yang terkhir, hanya unutk mengharapkan materi yang melimpah - mestinya hanya untuk memenuhi tugasnya sebagai rakhmatan lil alamin, makanya do'a yang harus dibaca 17 kali sehari ya permohonan untuk dituntun ke jalan yang benar, seperti apa wong sudah pinter hafal ayat ayat suci di Al Qur'anul karim hafal Al Hadist yang shoheh kok masih tanya, ya kan do'a itu untuk dilantunkan manusia sedunia yang sibuk sampai sekarang. Allah cinta pada ciptaaNya yang ini, sedang kebenaran adalah milik Allah - yang dicantumkan di ayat ayat suci dan perilaku Rasulullah salalahualaihiwassalam kan satu bukti yang nyata - pedoman menghadapi kenyataan di situasi jahilliah yang exstreem, buahnya nyata. Lha Allah sangat dekat dengan manusia - sudah diberi tahu terang terangan, mintalah kepadaNya. sebagai timbal balik kesayangan Allah. Rakyo gitu  maksudnya Cak Nun.
Materi seperti apa adanya,  sebagai perkakas atau sebagai pemikiran, bukan dibela atau dimusuhi, karena merupakan dasar dari ilmu pengetahuan, dari tekhnologi, ekonomi dan sejarah manusia, yang merupakan separo dari kehidupan manusia hidup di alam dunia ini.  Didapat dari olah pikir, buahnya kayak yang dicapai oleh Dr. Bhaiquni alm,
Drs Mohammad Hatta, Ir Sukarno. Ir. Sutami, Mr. Yap Thiam Hien. Gandi, Ho Chi Minh, dan Meneer Dr Snuck Horgronje. Mulane pada masa lalu para santri berpandangan cupet, dikira ilmu pengetahuan itu ke`se`t nya syaithan, harus dijauhi,  tapi malah lekat pada kebendaan, tidak kenal ikhlas drengki srei jail  sisanya ada sampai sekarang.
Sejarah kakek moyangnya tidak ditinjau dari kepedulian beliau beliau mengenai keadilan structure ekonomi masyarakat sebelumnya, karena itu metodanya orang komunis, takut sekalian di cap komunis yang anti Tuhan, tapi hidupnya diliputi kebodohan dan kelicikan. Ma’iyah mengembalikan harkat dunia/materi/donyabrana/teknologi seperti apa adanya, gampang diikhlaskan, bukan sesembahan, apalagi penolong.  Bukan sesembahan dan bukan penolong dalam arti rokhaniah yang energinya luar biasa, tapi penolong ragawi, bisa jadi bom nuklir, bisa mengambil energi Thorium yang bisa  memenuhi kebutuhan energi manusia sedunia sampai ribuan tahun  lha kok direwangi  pethentengan saling menista saing membunuh ? – menurut ikrar manusia sndiri –  ashadualaila hailollah wa ashaduana muhammadarasulullah yang menupakan azas pokok ilmu makrifat islami, penyadaran para wali islam tanah Jawa. Sesederhana ini. Ya memang harus sederhana karena di design oleh Allah untuk seluruh peningkatan derajad rokhaniah manusia sak ndonya, supaya bisa kuat mengemban 2/99 energi yang dihibahkan oleh yang MAHA KUAT, MAHA TEKNOLOGI. Sehingga bondho donya bahkan tekhnologinya sekalian yang dirapatkan diseminarkan di Davos itu hanya mainan dibandingkan dengan yang ini.
Para wali islam tanah jawa telah bekerja bermodal “Atas nama Allan yang Maha Pemurah dan Maha Pengasih”, mencetak sawah di rawa rawa muara Bengawan Solo di Lamongan dan Manyar, ratusan hectare, mungki ribuan hectare, dilanjutkan di rawa Demak Bintoro sampai dua tiga ribuan hectare – ini semua memakai ilmu pengendalian materi, dengan keringat, tidak memakai energy adhikodrati seperti Nabi Sulaiman menaklukkan kerajaan ratu Bilkis, ma’iyah juga memakai benda, yang kekuatannya menjadi pondasi ekonomi Kerajaan islam yang pertama, yaitu materi tempat manusia bermasyarakat. Mana ada sejarawan, atau ulama  yang berfikir kesitu dan mencari bukti bukti kebenaran atau artefaknya ? Paling bakal ketemu sarap dan talempak  semacam sekop atau tombak pendek bermata lebar  untuk menggali lumpur rawa menjadi saluran dan tanggul. sampai kini sarap digunakan membuat laban dan menggali pelataran sawah tambak untuk pangonan ikan air payau –bandeng dan udang, bedanya yang sekarang dari kayu di plipit besi ditepi  tajamnya, lebih enteng. Sedang talempak dari besi sampai gagangnya disepuh jadi baja pada sisi tajamnya, tombak pendek bermata lebar ini bisa dimainkan jadi senjata.
 Bukan keris kiai Sangkelat, Atau Nyai Setan Kober. Itu tandanya bahwa para wali tanah jawa itu menguasai ilmu dunia, ilmu materialisme/kebendaan, dan digunakan sebagai alat untuk mencapai derajad manusia rakhmatan lil alamin, ini juga jadi teladan ma’iyah-nya cak Nun.
Para Wali menggunakan teknologi dari Mesopotamia yang disempurnakan oleh Al Haitham ulama islam Arab, akhli optika prototype dari teropong Geodesi teodolit. Sunan bekerja, dengan energi 2/99 dari asma Allah (karena asma Allah ada 99 dan termasuk 2 ,Ar Rakhman dan Ar Rakhim, paling tidak, bebas masuk angin bebas pneumonia, anti malaria dan kemalasan. Bekerja berbasah basah saban hari dirawa dan sungai, dilindungi dari malaria oleh dua dari asma Allah yang manusia boleh mengandalkan), sampai menyandang julukan Kalijogo – sebab  selalu meneliti, mengukur dan memetakan ratusan km. bakal saluran pematus, tinggi dasar kali dari hulu sampai ke hilir dan rawa yang merupakan akibatya.  Kesadaran mengendalikan materi alam inilah buah dari llmu   hakikat  islam, pegangan para wali tanah Jawa, yang di timba dari ilmu syari’at  islam  dan tarikat  islam,  mambaca alam, bahwa Allah mengajari manusia dengan kalam, rezeki dicari dengan kerja. Begitu juga landasan satu Negara, dengan mencetak sawah dari rawa, tanah yang diterlantarkan tapi hara tanah, air waktu musim kering, hamparan lahan yang terhubung dengan kanal kanal  JUGA BERGUNA BAGI TRNSPORTASI DAN UPAYA PASCA PENEN , ndak perlu jalan dan jembatan, langsung ke pelabuah ada semua disana, para wali tanah jawa membuat sistim pengiran dan transportasi panen.  Ini semua  nampak dari makna bacaan Al Qur’an  dan ibadah sholat, yang masih murni dari pamrih rendah, pasti tidak ada , sudah dikerjakan kasat mata sehari hari, ini juga ma’iyah-nya yang dibuka oleh Cak Nun, sesederhana itu.

Sedang separo yang lain adalah sisi rokhaniah, dimana oleh ma’iyah dijadikan cantolan, supaya menangkal tidak jadi kesetnya setan, malah direbut kembali, cukup  jadi keset ‘welcome’ saja.
Sisi ukhrowi  ma’iyah berdaya upaya supaya duniawinya manusia diliputi oleh ar rakhman dna ar rakhim  menjadikan manusia  rakhmatan lil alamin, dengan hubungan timbal balik dengan Sang Khaliq, yaitu  meluruskan tujuan dan membimbing jalan  ke keimanan sejati.  R.M. P. Sosrokartono alm. menandai dengan kata bahasa Jawa “Tanpa pamrih tebih ajrih”.Tanpa berkepentingan pribadi/egoisme jauh dari rasa takut.
Ma’iyah menuntun sikap pemikiran dan laku untuk mampu mewujudkan dimana perlu energy adhikodrati yang luar biasa 2/99 dari Yang Tak Terukur. Sebab di Papua, materi benda dunia, hutan dan rawa rawa raksasa, menunggu supaya tidak dijadikan kesetnya syaithan, didayagunakan untuk alat, menuju ke masyarakat rakhmatan lil alamin, oleh manusia Indonesia plus ma’iyah-nya. Sesederhana itu.
Ini adalah tuntutan zaman, membendung kekuatan syaithani yang sudah ora sebaene (tidak wajar)  terlalu besar  dan kuat berkali kali lipat dari zaman yang lalu, dari  jin dan manusia yang khianat.
Semoga tafsir ini tidak salah *)























































0 comments:

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More