Sayang Sama Cucu

Sayang Sama Cucu
Saya sama Cucu-cucu: Ian dan Kaila

INDONESIA PUSAKA TANAH AIR KITA

Indonesia Tanah Air Beta, Pusaka Abadi nan Jaya, Indonesia tempatku mengabdikan ilmuku, tempat berlindung di hari Tua, Sampai akhir menutup mata

This is default featured post 2 title

My Family, keluargaku bersama mengarungi samudra kehidupan

This is default featured post 3 title

Bersama cucu di Bogor, santai dulu refreshing mind

This is default featured post 4 title

Olah raga Yoga baik untuk mind body and soul

This is default featured post 5 title

Tanah Air Kita Bangsa Indonesia yang hidup di khatulistiwa ini adalah karunia Tuhan Yang Maha Esa yang harus senantiasa kita lestarikan

This is default featured post 3 title

Cucu-cucuku, menantu-menantu dan anakku yang ragil

This is default featured post 3 title

Jenis tanaman apa saja bisa membuat mata, hati dan pikiran kita sejuk

Rabu, 21 Agustus 2013

SURABAYA YANG AKU KENAL TELAH HILANG.

Tahun lima puluhan hingga tahun tujuhpuluh, kebudayaan Surabaya masih ada, sesudah itu hingga sekarang berangsur-angsur lenyap ditelan perubahan kearah yang aku tidak tahu. Sebagaimana diketahui bahwa Surabaya Ibu Kota Jawa Timur, sejak dulu merupakan kota pelabuhan yang sangat ramai, dulu zaman maraknya industri gula, Pelabuhan Surabaya nyaris mengungguli pelabuhan Tanjung Priok. 

Sejak zaman sebelum Penjajahan, kota Surabaya sudah menjadi kota pelabuhan dan kota perdagangan yang ramai. Termasuk kegiatan pelayanan terhadap kebutuhan perahu-perahu dagang, sehingga setiap kampung adalah penyedia kebutuhan itu.

Seperti kampung Plampitan, adalah kampung yang menyediakan lampit, semacam tikar dari kulit luar rumput raksasa semacam gelagah Yang agak bergabus trus dirangkai dengan benang selang dua jengkal, untuk alas tidur atapun duduk. Kampung Kawatan, di mana diproduksi kawat, kampung Cantikan, kampung yang penduduknya membuat peralatan perahu, Kampung Sayangan, kampungnya perajin tembaga dan kuningan, kampung Pandegiling, tempat orang membuat roda pedati dan dokar/delman atau jenis kereta kuda. 

Kenapa saya sampai ke nama kampung-kampung yang banyak bersangkutan dengan pertukangan ? Ya karena watak orang Surabaya selalu terus terang dan apa adanya sampai sekarang, sering dirasa kasar, ini disebabkan oleh kebiasaan para perajin yang tidak bisa bicara lain kecuali membiarkan kualitas produknya bicara. Tidak ada rayuan maupun bunga-bunga percakapan yang sifatnya hiperbolik memuji atau membuat senang hatinya orang. Sampai kurun waktu tahun enampuluh lima orang masih banyak yang minum tuak bila malam minggu tiba ditempat berhelatan perkawinan atau khitanan.
Tahun enampuluh lima terjadi keguncangan masyarakat yang hebat, sehingga orang sangat takut dicap non muslim atau dicap muslim abangan, karena pada geger tahun 1960-an orang yang terlihat minum-minum tuak sering dicap sebagai orang-orang komunis dan tak menghormati agama. Pada tahun-tahun itu pembaca,  saking takutnya orang akan razia oleh kelompok-kelompok massa, maka para peminum tuak, pemadat, penjudi jadi berhenti. Hingga sekarang dikampung-kampung, umumnya kebiasaan minum tuak sudah berkurang. 

Di kampung-kampung -terutama akibat geger 1960-an-, maka selanjutnya marak pengajian-pengajian dan ritual Islam lainnya. Dan, tentu saja merambat ke kebiasaan makan, yang dulunya penduduk Surabaya penggemar rujak cingur komplit dengan didih ayam (darah ayam yang direbus supaya membeku) mulai saat itu tidak ditambahkan kedalam rujak cingur.  Juga kemudian,penjual rujak cingur jadi sembarang orang yang berasal dari mana saja. 

Yang namanya rujak cingur jadi berubah hingga sekarang. Boleh dibilang sembilan puluh sembilan persen penjual rujak cingur melayani rakyat golongan bawah sehingga tidak menuntut apa-apa, asal ada lontong, tahu  yang sudah digoreng lama dari pasar berhari hari dan tempe pasti bukan dari kedele asli. Praktek yang ini merambah ke penjual rujak yang melayani kaum menengah dengan harga per porsi mencapai lima belas ribu rupiah yang mestinya tidak cekak modal buat belanja. 

Akibatnya semua ingredient cingur jadi makanan yang alot dan keras tidak bisa dimakan, semua kangkung rebus yang diikutkan dalam rujak direbus sampai ke bagian bawah gagangnya dari pasar tanpa dipilih dan tanpa dibelah, akibatnya jadi sajian yang alot dan tidak bisa dikunyah, asal pedas. Campuran yang seharusnya ada seperti kedondong, bengkuang, belimbing, krai rebus ( bendoyo) tidak nampak lagi, apalagi yang menjadi ciri khas rujak cingur yaitu jambu mete/jambu monyet ( buka metenya tapi gagang buah yang membesar dan berwarna merah kekuningan) rasanya manis agak merangsang  tenggorokan, ini juga lenyap dari bahan Rujak Cingur.  Pencampuran sambal petis yang  harusnya memakai pisang klutuk muda diserut sering ditiadakan dan cenderung tidak proporsional dengan ingredient yang disajikan. Rujak Cingur jadi bukan ala Suroboyoan lagi. Meski begitu, saya setuju jika darah (didih) itu hilang, karena didih adalah haram.
Meskipun di kampung Plampitan ada rujak cingur yang harganya per porsi bertahan sampai empat puluh ribu rupiah, tidak menjamin mempertahankan ingredient asli rujak cingur yang biasa dimakan.
Makanan lain yang khas Surabaya adalah “Semanggi” yang ini lebih aneh lagi, dulunya semanggi adalah gulma disawah sawah (Marsilea crenata L). Sekarang dseputar Surabaya sudah tidak ada lahan sawah. Jadi penjual semanggi (cara masak semanggi konon di taruh diatas kuali kering yang dipanaskan hingga layu sebagian hangus),  memakai sambal yang dibuat dari campuran ubi kayu rebus yang dihancurkan bersama kacang sedikit dengan bumbu-bumbu. 

Pokoknya makanan orang kecil yang pembuatannya sangat murah, disajikan bersama krupuk nasi yang super tipis tapi super lebar.  Anehnya sekarang diganti dengan sayur bayam  yang mudah didapat dipasar kadang dicampur dengan daun batatas yang direbus atau dipanggang. Padahal di Indramayu gulma ini malah diusahakan dibudidayakan, maka waktu mendatang saya kira kudapan sayur semanggi di Surabaya juga akan punah.(*)

Minggu, 18 Agustus 2013

TUKANG SEBAGAI PROFESI


Sebagian besar dari penduduk biasa, harus kita akui sebenarnya adalah tukang. Tapi kata Tukang selalu melekat pada salah satu profesi saja ialah tukang bangunan. Sebenarnya setiap cabang pelayanan kehidupan anggauta masyarakat ada tukangnya sendiri. Dan setiap cabang “pertukangan” yang secara khusus melayani masyarakat, dan disitu ada pertukaran antara “jasa tukang” dan “beaya pelayanan”. 

Masyarakat yang baik memberikan perhatian kepada “ keadilan” transaksional dan sangat banyak ini nyaris diabadikan semacam ikatan adat. Yang masyarakat tidak bisa selalu mengerti terlebih dahulu sebelum transaksi adalah “ kualita” hasil yang diharapkan dari transaksi yang sangat banyak ragamnya itu. 
Menurut sasarannya ada beberapa pembagian besar yaitu yang pertama menyangkut tubuh pribadi anggauta masyarakat itu, dan yang kedua menyangkut assesories anggauta masyarakat, yang ketiga mengenai   kualitas papan  dan transportasi setiap indvidu dan keluarga.

Tukang yang menjual jasa untuk  well being dari seluruh tubuh anggauta masyarakat seperti tukang cukur rambut pria dan wanita, tukang pijat, beauticient/ahli kecantikan. 
Bukan saja kurang pekerjaan atau terlalu usil, sebenarnya “pelajaran” mengenaI cukur-mencukur ini tidak ada, apalagi yang dilembagakan, yang ada adalah kampong asal usul tukang cukur (pria) pasti dari satu kampong, entah di Jawa Barat entah di Madura, untuk new comers dibina sendiri sendiri oleh para seniornya. 

Mengenai pembinaan hygenis ya jangan harap bisa ada dari cara ini, juga common respect kepada kepala orang. Dulu di jaman penjajahaan ada Coiffeur dari orang Phillipinas yang melayani tuan-tuan orang Europa, yang karena lebih wah saja tapi toh kiatnya si Coiffeur kita tidak tahu.
Kursus Salon kecantian mengajari seluk-beluk keindahah rambut dan memotongnya juga, jadi bisa diharapkan kualitas dari kerjanya.

Tukang Pijat, ini sudah mulai harus waspada menghadapi mereka.
Petunjuk nomer satu sepengalaman saya setua ini (umur 75 tahun), sederhana saja, jangan membiasakan diri untuk memakai jasa pijat apapun, hanya untuk menuruti badan. Badan yang terpelihara menurut azas kesehatan ilmu kedokteran secara konsekuen tidak membutuhkan pijat tapi istirahat.

Kalaupun sudah kadung demen pijat, ya jangan suka mendengarkan recomendasi orang lain, sebab selera orang sangat berbeda beda. Hanya durasi “pengerjaan” setiap langganan antara sengah jam sampai satu jam ini rupanya sudah standard.
Konon untuk kebutuhan olah ragawan ada pelajaran untuk jadi Masseur mereka yang pelajarannya.
Diberi dasar ilmu kedokteran¸ tiap cabang olah raga butuh treatment pijat pada otot tertentu saja.
Jadi di jalur ini pijat sudah mempunyai standart kualitas.
   
Beautician/ Ahli Kecantian, bidang ini variasi  bisa digambarkan sebagai sky is the limit. Apa saja dikerjakan oleh siapa saja. Yang semua ngakunya akhli. Standard kualitas ada ya Doter Ahli Kecantikan, ya Dokter Bedah Kecantikan, konon jasanya harus dibayar selangit, makanya banyak fihak yang nebeng popularitasnya dan memberikan tarif yang miring, toh mereka bukan dokter yang sekolahnya konon baru masuk saja harus bayar 250 juta rupiah. Dasar Kapitalistik.
   Mengenai Kesehatan Badan, Bidang ini malah sudah ada Kementerian yang khusus mengurusi perkara ini. Monopoli dari Ilmu kedokteran yang sudah sangat standard, bahkan sudah ada Ikatan Dokter Indonesia (IDI) yang mengatur keamanan transaksi jasa kedokteran dan kualitasnya. Ada hukum yang menyangkut kualitas perlakuan terhadap keluhan. Alam Kapitalisme yang kita  terjuni sekarang, dengan cepat telah merambah sektor kehidupan yang ini.
Semua sektor penjualan berusaha menjual dagangannya dengan premium price. Apapun ditawarkan untuk menggaet uang anda, tidak ada pertimbangan yang lebih penting dari ini. Bahkan ada istri Dokter yang menawarkan products dari food additives yang harganya termasuk tinggi, dari Perusahaan “level markettnig”kepada pasien sang suami, ikut nebeng resep sang suami barangkali. Sampai segitunya watak kapitalistik  masuk dalam bidang kesehatan.
Sebaiknya sebagai “pembeli jasa” menghadapi alam kapitalistik seperti ini tidak lagi perlu sungkan-sungkan, ketahui yang jelas tentang jasa apa yang anda butuhkan, informasi di internet banyak, dan beayanya berapa. Cari pendapat lain/ second opinion dari Dokter lain dari  rumah sakit  lain, jangan takut mati, karena hal ini bidangnya Allah, yang kepada kita masih maha Pemurah dan maha Pengasih, resakan derita sakit anda dengan gagah berani, jangan cengeng.   
Dan pilih treatment apa  dengan tegas menurut kemampuan anda, semoga Allah menyertai anda. 
Seandainya anda uisa sudah 75 tahun, rekaman jantung anda di ECG ada tidak begitu normal, anda berkonsultasi kepada Dokter ahli jantung dirumah sakit yang baru gres, dokternya sangat muda dan
cantik,anda dianjurkan merekam jantung anda dengan alat lain yang onkosnya 800 ribu rupiah, pertanyaannya rekaman dengan alat lain dengan ongkos segitu itu untuk kepeluan apa ?

Bisa merubah pemakaian obat jantung khusus bagi anda ? Ketidak normalan rekaman jantung anda ini
apa mengancam hidup anda yang tidak ada artinya ? Anda masih hidup berterima kasihlah pada Allah Subhana Hu Wa Ta'Alaa.
Sebab menurut azas kapitalisme alat yang dibeli oleh rumah sakit gres dengan harga yang aduhai
Itu harus digunakan supaya beaya pembeliannya cepat kembali.

Sekarang kita hidup menyelami alam alam kapitalisme, rumah anda sudah banyak bocor, pintu kamar
mandi engselnya jebol, waktunya memakai jasa tukang bangunan. Dulu sewaktu muda no problem,
badan masih kuat, uang ada, rumah BTN masih agak baru tidak banyak keluhan semua bisa diatasi.
Tarif minimum untuk tukang batu Rp 75 ribu hingga Rp 85 ribu per hari dan harus ada pembantu tukang
aduk semen Rp 35 ribu hingga Rp 45 ribu per hari. Persoalannya kualitas kerja apa yang anda dapat ?
Belum penguluran waktu kerja yang kadang sangat menyolok apalagi bila mereka mengerjakan atap
rumah atau plavon rumah. Siapakah yang berhak menyandang kualifikasi “tukang” batu, tukang kayu,
tukang atap dan plavon ? Dan mendapat tariff kerja RPp 75 ribu hingga Rp 85 ribu per hari ?   Kita mempunyai Departemen Pekerjaan Umum, mempunyai Direktorat Pajak, mempunyai Kementrian Perburuhan, lantas yang menyeimbangkan transaksi jasa tukang bangunan mengenai kualitas “jasa” nya dengan kualitas hasik kerjanya yang tak karuan asal pengetahuannya itu siapa  ?
Saya cenderung sangat menghormati pembangunan masjid-masjid yang danananya menjaring di sepanjang jalan umum, karena bangunan masjid merupakan sarana praktek para calon tukang bangunan paling tidak mencoba-coba kekuatan cor beton betulang, sebab bila gagal dan runtuh toh dana masih tetap bisa dijaring tidak ada yang menderita kerugian. Saya menyumbang dengan ikhlas, dengan pengertian disamping amal jariyah, hitung-hitung menyediakan sarana praktek tukang batu dan cor beton, untuk praktek menambah pengetahuannya, meski bayarannya Lillahi Ta’Alaa, hasilnya akan nampak masjid-masjid makin indah saja dan cor-corannya makin rapi dan tipis nyaris menggantung di udara. Selain itu Tidak ada satu lembagapun yang ngurusi perkara jasa tukang bangunan itu, boro-boro kekuatannya misalnya menghadapi gempa.
Saya perhatikan pembangunan di Kota Kecamagtan Serririt sebelah timur Singaraja, Bali, yang t  puluhan tahun yang lalu menderita akibat gempa hebat, satu kota kecamatan itu nyaris rata dengan tanah, karena tempat itu tepat diatas sesar derakan lapisan dalam tanah, kok sekarang dibangun bangunan bertingkat oleh  tukang- tukang ini. Saya perhatikan di pasaran bahan bangunan, sekarang ini hampir semua toko bangunan menyediakan besi beton yang kurang dari standard baik dari bahannya maupun ukurannya.
Lantas mulai ada pertanyaan, kita ini hidup dimana ?  Lembaga Pendidikan Teknik sipil banyak, mengadakan progam D2 , D3, D4, S1, S2, S3, Profesornya banyak ada professor local, ada professor tanpa akreditasi, ada professor pengangkatan Presiden, ada Professor Rudi Arbihandini, lho kok mendidik tukang, artinya memberi tahu common sense dari bangunan hunian untuk beberapa minggu saja kok nggak mampu, jangankan mengkursus tukang bangunan, berfikir kesana saja tidak.(*)

 

Rabu, 14 Agustus 2013

Khasiat HANDELEUM (Graptophylum pictum)


Sungguh,  saya tulis sekali lagi tentang tanaman obat ini karena rasa terima kasih saya yang mendalam padanya, dan keinginan saya untuk berbagi  dengan pembaca blog ini, itu saja.   Saya  sudah delapan bulan yang lalu menderita “stroke” yang membuat tangan dan kaki kanan saya untuk satu minggu lumpuh, istilah kedokterannya “infark  di otak bagian kiri”  yang artinya saluran darah belahan kiri otak saya ada yang buntu. 

Sebagai akibatnya sebagian sel-sel otak sebelah kiri mengalaumi kekurangan pasukan makanan dan oksigen, sehingga perintah ke kaki dan tangan kanan macet untuk seminggu. Obat-obatan segera  diresepkan oleh  Dokter Spesialis Syaraf untuk menanggulanginya. Analisis  kimiawi mengenai darah saya ternyata bahwa kandungan Cholesterol total saya cukup tinggi, entah sudah berapa lama, High Density Lipids yanga cukup tinggi (HDL) dan low density lipids (LDL) lebih rendah dari angka normal  entah sudah berapa lama, kerena tujuh sampai delapan bulan yang lalu saya check up dan data  faal darah saya ada di border line disisi normal. 
Disamping itu yang tidak pernah saya duga, glokose  darah saya puasa dan dua jam setelah makan sehabis puasa semua lebih tinggi dari  angka normal. Sedangkan parameter yang lain masih di kolom normal. Seminggu di RS sudah physisotreraphy belajar jalan.  Akhirnya seminggu sudah boleh pulang, diwanti-wanti supaya hati-hati makan dan berkeliaran., begitu kata Dokter. 
Beliau hanya memberikan resep untuk menurunkan kadar glucosa dan HDL hanya dalan jangka satu bulan, sesudah itu kelebihan HDL dsan glucose dalam darah  ditanggulangi dengan ber-diet. Karbohydrate dan gula dikurangi begitu pula goreng -gorengan dan bangsanya coklat  mentega dan  keju, asinnya garam.  Hal inilah selama bulan-bulan ini merubah pola makan dan akibatnya, BAB saya yang dulunya ajeg saban hari - jadi dua , tiga hari sekali. Sampai sekarang saya atasi dengan jenis dan jumlah makanan yang saya konsumsi, Alhamdulillah BAB lancar lancar saja meskipun bukan saben hari. 

Lha ngerinya, Kemarin dulu tgl 13/8/013  saya sudah tiga hari tidak bisa BAB, sebab tangal 10/8/013 kami berkendaraan mobil  ke  Madiun pp, sialnya waktu pulang macet di antara Caruban sampai Nganjuk hampir empat jam jalan dipadati oleh arus balik mobil L dan N,  delapan jam perjalanan yang mestinya hanya  3,5 jam.  

Kerbetulan saya makan sambal di Warung Padang untuk teman makan sayur ternyata sambal ini cukup pedas, dan di samping BAB tidak lancar anus saja bengkak, inilah persoalannya.
Anak saya membelikan  Supositoria (Peluru dimasukkan ke dubur – untuk melancarkan BAB ). Yang terjadi malah mulas  sekali dan kepingin BAB yang periodis  selama 20 menit.  Apa boleh buat saya suruh antarkan anak saya ke UGD.  
Setelah menunggu beberapa lama saya ditangani dengan injeksi intra venous yang gunanya untuk menetralisir pengaruh suppositoria biar tidak mulas. Dokter jaga di UGD menerangkan bahwa anus saya kena haemorrhoid (wasir) dan bengkak, melawan rangsangan kuat untuk BAB yang disebabkan oleh suppositoria. 
So far so good, tidak mulas lagi.  Saya diberi pengantar unutk consult ke Dokter Bedah Umum.  Lha buntut- buntutnya kan harus operasi wazir luar saya ? Sasya menjadi penasaran dan minta dokter jaga untuk memompa perut saya kayak  zaman dulu baru nanti konsultasi ke Dokter Bedah Umum. Sang Dokter jaga menjelaskan dengan sabar bahwa ini kasus haemerrhoid bukan kasus konstipasi biasa, sambil memberi saran pengantar untuk  periksa darah. 

Wah ini serius, wazir luar kambuh karena BAB tidak lancar, dan anus yang bengkak menghalangi BAB saya. Pikiran sudah kearah uangnya dari mana untuk operasi dan bagaimanapun kan wazirnya harus kempis  terlebih dahulu baru usus dibersihkan untuk perlakuan operasi. 

Dari janji ke Dokter Bedah, masih ada waktu dari jam 6 pagi sampai jam 16 sore untuk berupaya BAB yang malah tertunda empat hari.  Untungnya saya ingat mengenai daun Handeleum ( Graptophylum pictum L) yang pernah saya tulis.
Saya ambil satu batang yang segar diambil daunnya 7 -8 lembar saya cuci dan saya rebus dengan air 2 gelas,  sampai tersisia 1 gelas setelah dingin saya minun pagi itu juga. Sedang daun muda cabang itu dua saja ambil saya gulung gampang karena sudah saya lunakkan dengan air rebusan. Saya masukkan kedalam anus saya lenjer dengan garis anus, ternyata saya raba sfinctor (otot kolong) saya masih bengkak, sekarang rudah saya kompres dengan gulungan daun handeleun. Sehabis makan siang yang hanya sedikit karena saya diet  saya ulangi pemakaian daun handeleum ini.
Alhamdulillah saya syukuri meskipun tidak ada “panggilan” saya paksakan untuk duduk BAB dan setelah berusaha beberapa lama dengan tekanan jari jempol saya pada titik 2 jari ke kanan pusar, faeces yang mengeras, tapi terpisah-pisah menjadi butiran sebesar kemiri keluar dengan berurutan jadi tidak besar.
Jadinya sore ini saya tidak jadi ke konsultasi ke Dokter Bedah Umum, dan bersiap siap untuk minum rebusan Handeleum yang ketiga untuk hari ini. Semoga puji dan terima kasih saya  saya kepada Allah, Tuhan Yang Maha Esa bisa anda dukung, dan ingat daun Handeleum bila kena musibah seperti saya, tetaplah mohon pertolongan kepada Allah Robbal Alamin.(*)

Rabu, 07 Agustus 2013

24. MATAHARI TERBIT DI WILWATIKTAPURA (SERI 23)

KEMUNDURAN MAJAPAHIT SESUDAH SERATUS TAHUN MENANJAK

Benar sekali pemikiran Raden Wijaya dikala dia mendirikan Wilwatiktapura dari semak dan hutan dikawasan kaki Gunung Anjasmoro, agak masuk hutan dari aliran sungai Brantas. 
Wilwatiktapura memberi kesempatan yang sebaik baiknya untuk para pelayar dari Atas Angin, dari China, dari Campa untuk mendapat dagangan dari wilayah timur kepulauan ini yang hanya bisa dikunjungi oleh kapal layar setahun sekali dikala angin passat tropis dan disambung dengan angin musson barat (bulan Oktober – April ) kurang lebih selama empat bulan, sebab dua bulan adalah musim pancaroba. 
Sedangkan dagangan dari Timur kepulauan Nusantara juga hanya bisa dikapalkan  dalam waktu yang sebaliknya (bulan April – Oktober) dikurangi masa pancaroba. 
Yang  diperlukan pada era zaman itu  adalah rempah rempah kering dari Timur. Perahu layar hanya selama empat bulan bisa mengikuti angin musson timur dari Australia ke Asia Tengah (bulan April –Oktober),  dipenggalan tahun Masehi yang yang kedua. 
Sedangkan Wilwatiktapura kurang lebih ditengah tengah kedua jurusan kapal layar ini, disamping pelayaran ketimur selalu berisiko besar, oleh perompak sepanjang pelayaran di selat Malaka dan selat  Karimata, menuju ke laut Jawa, sampai ke laut Banda dan laut Arafura, yang kala itu agak liar. 
Berkat gudang gudang kelas satu dan penjemuran ulang yang dimungkinkan di Wilwatiktapura kala itu, para pelayar dari timur sangat menyukai pelabuhan dalam Wilwatiktapura. 
Ini semua berkat ketekunan patroli perahu parahu perang Majapahit yang sangat aktip baik di Sokadana sampai hulu sungai yang besar besar, Laut Jawa, Selat Makasar  sampai ke Sangir Talaut dan Laut Banda, Arafura, bahkan sampai ke Madagaskar pulau pulau kecil dan selat selat di Nusa Tenggara, Bali dan Lombok, tidak satupun Penguasa setempat yang tidak memperhitungkan kekuatan perahu perang Majapahit dalam menjaga keadilan. 
Berkat kalantaka yang dipasang dihaluan perahu model Madura yang sangat mudah berputar haluan, 
Dikatakan bahwa andaikata Bhatara Kala perlu mencongkel selilit diantara giginya, maka dia hanya berenang mendekati perahu perang Majapahit sambil menganga, maka selilit itu pasti bisa dicongkel oleh kalantaka yang dipasang dianjungan perahu model Madura ini. 
Selama seratus tahun keamanan ini terjaga baik dan seratus tahun berikutnya, tapi keadaan perdagangan sudah berubah. Kebutuhan akan rempah rempah dan hasil hutan yang langka dari Sokadana ( Kalimantan) berubah jadi kebutuhan akan beras, yang sangat dimaui pasar karena di anak benua China, di anak benua India,  sering ada peperangan antar Negara disana hingga kehidupan pertanian jadi kacau dan sering terjadi kelaparan merajalela. 
Disamping itu pada seratus tahun kedua berikutnya matahari Majapahit, rakyat di pedesaan makin menggemari kain tenunan benang kapas hasil usaha pertenunan di China dari tempat tempat antara Canton dan Sianghai, perahu perahu jung China pun semakin besar muat hingga  dua puluh ribu, lima puluh ribu kati. 
Sedangkan tembikar porselin dan seladon, kebutuhan kalangan atas makin diproduksi secara masal di China dan makin banyak diperdagangkan sebagai barang kebutuhan sehari hari. 
Akibatnya permintaan beras di wilayah Majapahit sangat melonjak, karena transportasi semakin ketinggalan oleh tidak adanya jalan dan Jembatan yang memadai, maka beras tidak bisa diadakan dengan cepat, dan semakin ketinggalan dalam peyediaan  dari kebutuhan komoditas beras ini.
Selanjutnya di abad kedua keberadaan Wilwatiktapura, ada sentra sentra produksi beras baru yang dapat menghasilkan komodity beras setara dengan daya angkut  jung raksasa ini tanpa menunggu waktu pengumpulan yang lama, dari sawah sawah yang dicetak dirawa rawa dimuara Bengawan Solo, tepatnya di Pmotan Utara, Bungah, Sidayu, dan di Manyar. 
Upaya semacam ini  tidak pernah  dikerjakan sebelumnya, yaitu mencetak sawah dirawa rawa pasang surut. 
Ini merupakan hasil pengetrapan teknologi dari Mesopotamia, yang telah lama menggunakan rawa rawa dilembah sungai Euphrat dan Tigris, semenjak zaman Babylonia. 
Rawa ini dikurangi ketinggian airnya sedikit demi sedikit untuk memenuhi kebutuhan tanaman, sistim pembuatan saluran saluran ini dicangkok dari sana oleh ulama ulama Islam yang datang dari Parsi zaman itu. 
Penyebaran Islam dari Parsi lebih mungkin terjadi lewat Asia Tengah terus menghilir Sungai Yangtsekiang lewat wilayah Yunan,  dari sanalah Ulama Islam yang pertama menyebarkan Agama Islam di Nusantara, 
Bagusnya saluran saluran itu juga dapat digunakan mengirim hasil panen dengan perahu perahu berlunas datar dan berlambung lebar sehingga bagian yang  tenggelam sedikit saja, sangat mengurangi kesulitan transportasi darat tanpa jalan yang diperkeras dan jembatan jembatan yang menjadi kendala pulau pulau tropis yang subur di zaman itu. 
Meskipun harus lewat saluran yang dangkal dan berpintu air gandapun mudah saja. Perahu perahu ini dibuat dengan sederhana dari anyaman bambu (sekarang masih ada di wilayah Lamongan dan Demak.  Dibuat kedap air dengan lilin lebah dan batu aspal dari pulau Buton. Dapat muat beras atau gabah sampai tiga  koyan (kira kira 2 ton), Sampai ke penyosohan gabah, dan kemudian diangkut ke jung jung yang tidak harus menunggu lama di pelabuhan jung jung yang semakin besar, sejumlah ratusan koyan beras dalam keadaan kering, siap kirim, tanpa kuwatir akan penurunan kualitas selama dalam palka jug jung raksasa itu. Disebabkan padi yang ditanam tidak rontog, sudah di angin anginkan selama dalam penyimpanan sesudah panen. padi jenis wulu dan jenis cempo.
Muatan barang dari China bisa dipilih jenis jenis yang untuk pasar kelas menengah bawah di jung besar besar jaitu seladone, gerabah perselin kasar, kain tenunan kapas kasar, sampai sekarang disebut cita sinbun, kain makao ( sekarang dari Amerika, untuk bungkus tepung gandum), paling halus cita kembang, dan besi yang dirupakan batangan dan diperlakukan sebagai uang.
 Besi ini dapat ditempa sebagai perkakas karena tidak mengandung banyak carbon dan lain kotoran dan sudah dibakar dengan bijih Mangan sehingga tidak getas/ pecah.
 Maka dari itu bila disimak, ajaran Islam yang ada waktu itu bernuansa aliran Di Mesopotamia yaitu aliran Syi’ah.
 Aliaran khilafah ini di Nusantara kurang tajam dalam pertentangannya dengan kaum Suni. Hanya kaum ini sangat menyesalkan  kena apa keturunsn Nabi dihabisi demi  kekuasaan, sedang Daulah Islamiah dipimpin oleh aliran Suni, dari bani Mu.awiyah yang agrasive sebagaimana bangsa Padang Pasir, menaklukkan Negera Negara  kebarat sampai Granada dan ketimur sampai Bagdad, bahkan menyeberangi Sungai Indus. 
Dalam expedisi penaklukkannya, aliran Suni ini pada kurun zaman itu belum  sampai di Nusantara.Selanjtnua pada zaman berikutnya ganti wangsa  Abbasiah yang dari Parsi mendominasi daulah islamiah  berbarengan dengan kedatangan para ulama dari Parsi dan Yunan dan bermukim di Garowisi? sekarang Gresik.
Mereka sangan peawai mengembangkan ilmu tasawuf Islam karena sisa kebudayaan yang sudah tinggi dari wilayah asalnya. Penyiar islam yang ini jauh lebih mudah berinteraksi dengan kaum brahmana Hindu. Sehingga tidak ada perselisihan dikalangan bawah karena dikalangan atas bisa saling mengerti. 
Hanya, islam lebih egaliter dalam pendekatannya terbukti pada semangat mengajar ilmu pada kaum bawah yang berdagang jaitu ilmu berhitung pembukuan dalam huruf arab. Sedangkan Hindu tidak pernah mengizinkan wangsa bawah kaum Waysia belajar membaca apalagi berhitung. Karena agama Hindu melarang kaum bawah membaca Wedda.
Sedangkan dagangan yang harganya mahal lebih disukai di pasar pasar ujung barat jalan Sutera, nun disana di wilayah orang Arab dan Punisia (sekarang mungkin Lebanon), tempat orang kaya baru berbelanja  sutra sutra halus dan perselin halus, karena tidak ada saingannya. Kain muslin dari kapas India, kain dari kapas  Mesir, telah ditenun di Balkan ( sampai sekarang namanya tenun Damask) dan Perancis selatan.  Maka di abad kedua Majapahit, Wilwatiktapura menjadi semakin tersaing dengan singgahnya jung jung raksasa  untuk mendapat barang kebutuhannya (beras )  lebih murah dan lebih banyak  dari Trung dan Ampel Denta, bekas wilayah Jenggala. Lagipula harga beras yang ditawarkan dengan tukaran barang barang keperluan rakyat menengah ini lebih miring, dan barang dagangan beras dalam jumlah besar bisa didapat sepanjang tahun, berkat pengairan rawa. Bagaimana tidak lebih murah dari yang berasal dari Wilwatiktapura, wong ngangkutnya dari sawah dengan perahu yang lunasnya datar, jadi lewat saluran pengairan sawah-rawa secara estafet pun jadi. Sedangkan di Wilwatiktapura diangkut dari Majalegi (Sekarang Pare), dan Jombang, wilayah pengairan bendung Harinjing dengan kuda lebih dari lima puluh yojana sampai ke jung jung ini berlabuh, tanpa jalan dan jembatan yang memadai.
Memang beras bukan dagangan utama Wilwatiktapura sejak semula. Lagi pula untuk bekal perahu model Madura dan Pinisi patroli Majapahitpun, beras bkal arfmadanya beli di Ampel Denta dan Garowisi.
Permulaan abad ketiga Majapahit telah dijangkiti Pejabat tukang peras, penarik pajak  anggauta sekte nyleneh Bhairawa,  suka menang sendiri. Bayangkan kota perdagangan yang diperebutkan banyak kaum Ksatria berdarah biru untuk menjadi Penguasanya, dengan segala cara, maka pemerintahannya sangat lemah. Para Nayaka Praja kepentingannya terbelah belah, mendukung Pangeran Pangeran yang mereka jagokan. Kekuatan jahat para Bhairawa yang mengumbar hawa nafsu, yang telah mengendap didasar pergaulan masyarakat Wiwatikapura selama ini, mulai muncul dan mendominasi situasi dikalangan para Narapraja, tidak aneh karena kenikmatan Ma lima ada didepan mata. 
Penyangga ekonomi Kerajaan Hindu sejak semula sudah tidak mampu melayani kebutuhan pasar, surut oleh zaman yang berubah, pengelola Praja yang korup dan penggemar Ma lima, anggauta kehormatan kaum Bhairawa, di abad abad kedua dan ketiga Majapahit adalah tanda suramnya matahari senja di Wilwatiktapura.*)    




   

23. MATAHARI TERBIT DI WILWATIKTAPURA (SERI 22)

RA SAPUANGIN MEMEGANG JANJI DI PELAYARAN PAMALAYU KE 9

Ingatkah pembaca ketika Gajah Gombak mengampuni bajak dari Sampang ?
Ternyata sosok Sapuangin tetap jadi pengikut alias pelayan pribadi Gajah Gombak, secara sukarela. Mulai rombongan mencari pembuat keris di Pantai Selatan arah Lumajang, Sapuangin yang tidak lebih muda dari pemuda Gajah Gombak melayani kebutuhan pribadi sang Gajah Gombak. Tekad Sapuangin ini dimulai waktu dia memimpin teman temannya mendayung perahu pengelana, mulai mengadakan pembicaraan dengan anak perahu
dan pemuda dari Penyaradan Mada, dia mulai mengerti rombongan apa yang dibajak itu.  Sebenarnya dia menjadi pemimpin bajak bajak ini  karena dari Pamekasan dia berniat mencari ayahnya yang konon pemimpin bajak laut di Sampang, sedang ibunya adalah putri seorang Brahmana tingkat rendah yang baru saja meninggal dunia, sang kakek memilih jalan hidup sebagai brahmana gryasta pembuat keris dan alat alat besi karena kegemarannya membuat senjata keris dan besi inilah maka dia pergi ke Pasirian dengan anak buahnya, setelah ditinggal mati oleh satu satunya anak permpuannya, yaitu ibu si Sapuangin. Sapuangin mendapatkan bapaknya baru mengadakan pelayaran ke barat dengan dua perahu, sedang pulangnya tidak pasti. Para pemuda Sampang yang ditemui, alias kerabatnya tahu bahwa berkepandaian lumayan diantara pamuda pemuda kerabat ayahnya, maka dia dipilih untuk mulai memimpin  gerombolan pembajak, dan mulailah karirnya sebagai kepala pembajak perahu yang lewat dekat dekat perairan Sampang. Ini adalah pelayarannya untuk membajakan yang ketiga kalinya. Mengetahui teman temannya ngacir dengan mendayung perahu secepat cepatnya meninggalkan dia dan teman  awak perahunya, maka tawarlah hatinya untuk melanjutkan karirnya sebagai bembajak. Si Sapuangin memilih jadi pelayan gajah Gombak untuk mempelajari ilmu memainkan cambuk yang hebat begitulah diungkapkan oleh dia kepada sang Brahmana Muda Gajah Gombak.
Begitu kagumnya dan begitu   menghormatnya si Sapuangin kepada pemuda gempal ini. Sehingga Sapuangin bicara terus terang bahwa dia mohon untuk menjadi murid Sang Gajah Gombak dalam menggunakan cambuk panjang, dan sanggup mengabdikan dirinya seumur hidup bila sang pemuda menerimanya. 
Aneh, pemuda Gajah Gombak merasa kasihan akan nasib Sapuangin pemuda malang yang mencari ayahnya ini. Meskipun tidak menyanggupi apa apa tapi mengizinkan si Sapuangin mengikuti rombongan. Apalagi setelah Sapuangin menceritakan bahwa kakeknya Mpu Keleng adalah pandai besi dan mencairkan pasir besi di pantai selatan Pasirian untuk mencetak keris, dan membuat bahan baku besi tempa untuk senjata. Rombongan mereka sudah berangkat satu bulan yang lalu. Disinilah anehnya Hyang Widiwasa mengatur masib hidup manusia, cucu Brahmana ditemukan dengan anak Brahmana guna diluruskan jalannya. Dirupakan tekad yang aneh untuk mengabdikan diri kepada Gajah Gombak. 
Sapu angin seterusnya selalu mengikuti Gajah Gombak sambil meneruskan melayani kebutuhan sehari hari yang tidak banyak macamnya. Mendengarkan Cajah Gombak berceramah dihadapan Pemuda pemuda pilihan yang ikut dalan perjalanan ke Pantai Pasirian tentang penyaluran tenaga dalam.
Tidak heran dia juga ikut ke Wilwatiktapura yang baru dibangun di aliran sungai Brantas tepatnya dekat Wirasabha ( sekarang Mojokerto), dikaki gunung Anjasmoro, mendekati dataran rendah yang dialiri sungai Brantas menghilir. Sapuangin termasuk rombongan pertama dari calon calon perwira yang dikirim ke pulau kecil selatan Madura Gili Raja untuk dilatih mengendalikan perahu model Madura dalam perang laut, berbagai formasi Tentu saja Sapuangin termasuk dalam kelompok Pandega Pandega yang membawa perahu model Madura ini untuk pertempur ke Timur dan ke Barat sampai terhimpunnya jumlah kekuatan perahu perahu tempur model ini menjadi armada laut yang besar, terdiri dari ratusan perahu tempur model Madura dan perahu perahu cepat model pinisi Bugis, lengkap dengan sedikitnya empat kalantaka setiap perahu tempur dengan amunisinya. Sapuangin juga tahu keterbatasan ukuran perahu Madura dari mandala laut Majapahit, karena ketiadaan kain layar yang kuat dan ringan, jadi para pandega perahu perang model Madura dari mandala Laut Majapahit sangat kergantung kecapakan menggunakan perahu yang tidak besar ini untuk bermanuver, mengunakan kelebihan yang sangat handal yaitu kalantaka di anjungannya, kecepatan mengisi mesiu dan ketepatan tembakannya pada sasaran, cepat berolah gerak secara serentak dalam formasi perang, nyaris tanpa perintah.
Pada pelayaran Pamalayu yang ke Sembilan, perahu tempur Sapuangin sudah menjadi  tulang punggung armada laut Majapahit yang mengibarkan bendera matahari terbit. Dipersenjatai dengan Kalantaka yang dapat menenbakkan paluru sejauh limaratus depa dengan sudut tembak yang kecil, artinya dapat ditujukan ke lambung kapal lawan.
Laksamana Wraha Nala mendengar bahwa Kerajaan  Malaka telah memiliki beberapa jung tempur lengkap dengan meriam perunggu dua laras, yang tentu saja jung tempur ini berukuran besar, paling sedikit bertiang agung dua, dengan layar bersusun tiga, lebar dan kuat terbuat dari bahan sutera . Kerajaan Malaka minta Majapahit membayar separuh harga jung ini dan ongkos pelayarannya  meronda dikawasannya, juga menuntut bagaian dari keuntungan perdagangan dari Atas Angin, Siam, Campa dan China setiap tahun, setara dengan tiga ribu tael emas.  Satu permintaan yang wajar, tapi Wilwatiktapura tidak memerlukan armada pengamanan yang lain, apalagi dengan menyebutkan beayanya yang sangat besar, yang disebut di surat itu, Mulai terbitnya surat ini, selat    Malaka, selat Karimata lewat kepulauan Natuna menjadi terlarang bagi armada perahu perang Wilwatiktapura, tanpa izin dari Kerajaan Malaka.
Ini  adalah tantangan terang terangan yang kurang ajar bagi armada Wilwatiktapura, yang perahu perangnya ukurannya jauh lebih kecil dari jung perang China milik mereka. Mahapatih Gajah Mada membalas permintaan itu dengan surat lewat Duta Kerajaan Malaka, bahwa Armada Majapahit belum mempunyai bukti kemampuan jung jung tempur Malaka untuk mengamankan jalur pelayaran yang sangat luas yang disebut dalam surat kepada Wilwatiktapura, beberapa jung tempur dengan mahalela  (dalam bahasa Melayu kalantaka jadi rentaka) perunggu yang besar besar tapi kekurangan jumlah jung untuk meronda perairan itu. Dinyatakan dalam surat  Mahapatih Gajah Mada ini, bahwa armada perahu tempur Majapahit  sewaktu waktu akan sampai di Kuala pelabuhan Malaka untuk memeriksa kemampuan beberapa jung perang Kerajaan Malaka.
Pada saat itu masih saat angin timur, Dua puluh hari setelah surat dilayangkan ke Duta Melaka di Wilwatiktapura, armada barat Wilwtiktapura yang ada di Palembang telah mendapat isyarat dari Mpu Mada, bahwa jung tempur Malaka akan memperlakukan armada Barat Wilwatiktapura sebagai musuh, tidak perlu ragu ragu untuk mengeroyok  bila perlu menenggelamkan jung tempur tersebut. Segera Laksamana Wraha Nala di Palembang mengirim merpati pos ke Tanjungpura dan Jambi untuk siaga tempur bagi setiap satuan tugas perahu perahu tempur di pelabuhan sekitar selat Malaka.
Kebetulan satuan perahu tempur sejumlah sepuluh perahu yang dipimpin oleh Prangwadhana Pandega satuan tempur di Jambi, yang dipimpin oleh Prangwadana ring Jalanidhi Sapuangin. Dia putuskan untuk menyatukan segera kekuatan satuan tempurnya dipangkalan lebih keatas angin  artinya lebih keselatan, untuk memperoleh posisi diatas angin yang baik, dengan mengumpulkan perahunya yang masih tersebar diseluruh kuala sungai sungai penting di Sumatra, menjadi satuan tempur yang terdiri dari tigapuluh perahu tempur di Tanjungpura. Prangwedhana Sapuangin sendiri segera angkat jangkar menuju keselatan, dengan tujuh perahu tempur.
Menjelang siang, waktu angin nelayan menuju ke darat, angin diselat Malaka berubah arah ke barat laut mengutara, sekira matahari dua jengkal diatas ufuk timur, mampak layar dua perahu jung dengan bentuk layar seperti tirai bambo,  dihaluan masing masing yang terbuka nampak mahalela masing masing dua buah dianjungan, jung jung perang itu tepat ada di atas angin. Kalantaka perunggu besar atau mahalela ini dapat menembakkan pelurunya hampir lurus sejauh tujuh ratus depa, satu kemampuan yang besar dikala itu. Sajangnya jung perang ini harus mendapat angin buritan agar mudah berolah gerak mengarahkan mahalelanya. Jelas ada dua pilihan bagi armada perahu Madura yang kecil ini, yaitu harus segera diputuskan. Lari menghilir angin berpencar untuk bersembunyi di pulau pulau kecil di pantai timur Sumatra, atau mengatur formasi tempur yang biasa untuk menghadapi situasi ini.
Prangwedhana Spuangin sudah mendapat petunjuk bahwa jung perang China tidak seperti perahu perang Madura harus mengarahkan haluannya ke sasaran, apabila sasaran agak kesamping kanan atau kiri dari haluan makan kemudi harus mengantisipasinya, otomatis posisi layar harus tetap mendapat angin, karena kemudi saja tidak akan kuat memutar haluan jung, sedang perahu perang Madura menuver kecil mengubah hanuan sampai memutar prahu tidaklah perlu menunggu angin buritan. bila layar pada satu posisi tertentu mau atau tidak akan hampir sejajar dengan arah lambung, Akibnya jung jadi miring terdorong oleh layar sedang gerakan memutar jadi sangat  sulit hampit tidak mungkin. situasi ini yang dipergunakan oleh pandega Sapuangin. Sebaliknya perahu perangnya mendapat angin dari depan masih bisa berlayar menyongsong angin secara mengiris angin dengan layar sejajar lanbung meyerong angin, kemudi masih dengan mudah digunakan karena bentuk layar trapesium runcing didepan, pertaruhan manuver ini membutuhkan keberanian dan saraf baja, karena menghadapi moncong mahalela perunggu berukuran besar dan nampak nyata, begitu moncong laras mahalela musuh nampak sekajap saja maka tamatlah riwayatnya. Makanya dia berdiri di anjungan sampil tangannya memberi aba aba kepada jurumudi perahu perangnya. Seluruh awak perahu mengerti  taruhan situasi posisi berhadap hadapan ini, semua awak menghadapinya denga menengadah dada, siap secepat kilat melaksanakan perintah, tetapi sebagai Pengwedana kawakan, dia yakin masih ada peluang unutk mengiris angin sambil  melambung dan mendekati jung perang ini sahingga mencapai jarak tembaknya bahkan dengan cikar kanan posisi layar akan berubah mendorong perahu perang ini menggeleser mendekati jung itu untuk menembak dan mulai penyerbuan dengan baja dingin. Artinya menyerbu meloncat ke geladak lawan.
Tanpa ragu ragu Prangwedhana Sapuangin memerintah meniupkan kulit kerang aba aba untuk melaksanakan manuver Jajar Pandawa yang biasa, tanpa menurunkan layar. Segera kedua armada yang bermusuhan ini mencapai jarak tembak mahalela di dua jung ini, dan segera memenbakkan pelurunya. Tembakan dari jung pertama mengenai air sepuluh depa didepan haluan  bagian tengah berahu yang berjajar dengan layar menuju arah angin terkembang berkibar kibar tanpa daya dorong, sedangkan tembakan jung kedua mengenai haluan dua perahu tempur yang ditengah disertai sorak sorai awak jung dari Malaka. Tanpa ayal kemudi perahu perahu perang Wilwatiktapura bermanuver mengarahkan perahu Madura itu dengan cepat terpisah kedua arah agak menyerong angin sehingga layar segera terisi dan jajar pandawa terpecah jadi dua, kearah kiri dan kanan lintasan kedua jung ini. manuver ini nyaris tanpa perintah, mengandalkan intuisi para pandeganya, jadi bisa dilakukan seketika. Begitu juga haluan kedua jung yang mendapat angin buritan. Tembakan kedua luput semua, pecahan armada perahu Madura tinggal lima perahu tiga melambung kekanan dan dua dimana Sapuangin berada melambung kekiri, rupanya manuver jung jung perang ini kurang cepat sehingga tembakan meleset. Perahu Sapuangin cikar kanan, sehingga layar terisi angin dari kiri dan mengiris arah angin mendekati jung yang dengan susah payah ngengikutinya dengan haluan  diarahkan ke perahu Sapuangin yang tertiup angin samping menggeser arah lambung mendekat salah satu jung perang yang sampai miring kebarat karena layar terlalu tajam dipasang menyamping, begitu pula perahu perang Sapuangin. Maksud manuver kedua perahu yang mati matian bermusuhan ini jelas, jung berusaha mengarahkan haluannya ke perahu perang Madura, sedang perahu perang Majapahit dengan dorongan angin dari samping lambung kanan  mengiris angin mendekat secara pasti kearah jung,menyesuaikan dengan jarak tembak yang efektip,  dengan moncong kalantaka lurus ke papan lambung jung,  Sapuangin memerintahkan memasang dua bilah galah bambu  yang akan digunakan melentingkan dirinya kearah tiang agung jung,   jarak keduanya  mengecil jadi limapuluh depa, Sapuangin memerintahkan kalantaka ditembakkan kearah papan lambung yang mestinya dibawah air  terangakat angin, tidak sia sia tembakan dua perahu perang ini lurus mengenai lambung batas air yang terangkat karena kemiringan jung dengan suara sangat keras, sambil cikar kanan untuk menghindari tabrakan perahu Madura melentingkan Sapuangin meloncat tinggi kearah tiang agung jung dan berjumpalitan lalu bertengger disana sambil mengayunkan cemetinya dan memotong talitemali layar jung, yang segera menegakkan kemiringan jung dari pisisi miringnya, akibatnya air laut masuk   dari lubang di lambungnya menyebabkan panik awak jung.  Pelempar seligi beberapa orang mendadak lemas tangannya karena terkena cemeti yang meledak  ledak keras. Sendirian Sapuangin mengamuk di geladak jung dengan cemetinya yang ampuh, menyebabkan kegaduhan besar besaran. Dengan mudah perahu Madura membalikkan arah haluannya sejajar dengan jung makin mendekat, dan dari jarak dua tombak sudah belasan prajurit laut Majapahit yang mampu meloncat keatas geladag jung dengan golok dan celurit, memulai pertempuran dengan senjata parang. dan clurit Teriakan anak perahu yang berbangsa China bahwa perahu bocor dan segera tenggelam membuat panik anak buah jung orang Melayu, disamping terdengar lagi tembakan kalantaka kearah geladak yang sudah penuh belatentara laut Melaka dari perahu perang Mejapait dari sisi lain, menyapu prajurit laut yang lagi mendapat latihaan. Puluhan anak perahu yang rupanya sedang dalam latihan memilih menyerah. Segera Sapuangin memasang layar jung menyamping terisi angin dan mendorong jung kesamping sehingga miring, dan lambung yang bocor terangkat diatas permukaan, langsung diperbaiki oleh anak perahu Majapahit dari ketiga perahu yang lain, dengan cepat lubang ditmabal dngan papan papan diperkuat dengan gading darurat, kebocoran antar papan ditambal dengan pelangkin ( semacam aspal ) dan segera bisa diatasi. Dengan sorak sorai membahana bendera matahari terbit dan bendera gula kelapa mengudara di tiang agung jung taklukan. Anak parahu orang China dipisahkan dengan anak perahu orang Melayu, dengan tangannya semua terikat, dipindah ke perahu perahu perang Madura yang ada.
Jung yang satu lagi sudah lama lolos tidak Nampak ikut bertempur, kerena ada perlawanan dari anak buah orang China kepada perwira perwira  Malayu. 
Sidang perang secara kilat diadakan di perahu dipimpin Prangwadhana Sapuangin, membahas situasi hasil perang laut yang mendadak ini, makan korban dua perahu perang Madura sangat memukul kebanggaan Prangwadhana Sapuangin. Yang satu karam dengan empat kalantaka dan dua anak perahunya meninggal, satu rusak anjungannya dan tidak layak layar. Akan tetapi telah bisa dirampas satu jung perang dengan memenangkan pertarungan di geladag jung musuh menggunakan baja dingin begitulah istilah perang digeladak kapal dengan senjata parang pedang pedang  clurit dan tombak  para awak perahu Majapahit ganas mengamuk, Pasukan Laut Diraja Melaka, memang sedang berlatih sangat kurang pengalaman tempur, apalagi melawan pasukan laut Wiwtiktapura yang kenyang makan garam, baru tereakan perangnya saja sudah menyeramkan, banyak bala tenatara muda Melaka yang memilih mencebukan diri kelaut daripada beradu senjata dengan golok dan clurit dari harimau Sampang ini. Kemenagan yang cepat ini sangat membanggakan anak perahu Majapahit. Dengan pengorbanan empat prajurit gugur karena kehabisan darah, sepuluh luka luka yang perlu perawatan. Baik kawan maupun lawan yang luka semua dirawat sama rata, diberikan candu untuk meringankan kesakitan, luka dan patah tulang semua dapat perhatian yang sama dari tabib kedua belah fihak. Mereka ditinggal dengan perbekalan cukup disatu pulau kecil yang bertebaran di selat Malaka. 
Sidang perang kilat memutuskan bahwa jarang sekali ada kesempatan untuk serangan mendadak dengan mudah ke Kuala Malaka. Sedangkan kesempatan yang tidak akan kembali sudah ada ditangan didepan mata. 
Dengan tertawannya jung perang Malaka yang dengan sedikit perbaikan lambungnya bisa layak berlayar sampai kuala Malaka dengan angin buritan. Pasti jung yang telah ngacir sendiri tela melapor bahwa mereka telah berhasil menenggelamkan paling sedikit dua perahu perang Majapahit, dan yang satu lagi masih sedang membereskan perahu perang Majapahit  dari armada yang tertinggal.
Jung yang ngacir disambut dengan meriah di Kuala Melaka, sambil menunggu jung kawan searmadanya, sama sekali tidak terpikir oleh para Panglima Johan Pahlawan Diraja Melaka bahwa dengan baja dingin artinya parang dan pedang, jung yang tertinggal telah berganti tangan. 
Bendera Majapahit diturunkan dan diganti dengan bendera dan umbul umbul kemenangan dari Malaka , yang kini berkibar ditiang agung dengan megahnya. Jung rampasan berlayar disiang hari bolong ke Kuala Malaka, hingga menjelang senja. Jung perang yang pulang lambat dengan kemenangan yang gemilang disambut oleh Tuanku Syahbandar dari bandar Kuala Melaka dengan aba aba supaya menunggu perahu pendayung agar bisa ditarik kedalam kuala. Tak terkira terkejutnya tuanku Syahbandar Kuala Malaka melihat Panglima Armada Malaka tertawan menemui tuanku Shaybandar dibawah ancaman senjata, dan sekalian sang Tuanku Syahbandar dipaksa dengan keris dileher tanpa kentara dari darat seolah olah berangkulan, harus memberi aba aba menarikan jung segera dilakukan. Jung perang ditarik ke tambatan Kuala Malaka dikemudikan oleh jurumudi dari Majapahit, yang berdandan a’la perwia laut Melaka,  diarahkan bukan sejajar dibelakang jung perang yang terdahulu, tapi kok malah  terlalu ketengah, perahu pendayung mengerti pasti jung sombong ini mau tambat didepan jung kawannya supaya nampak dialah penakluk sebenarnya. Sebenarnya tidaklah demikian, bahwa tujuan utama adalah mengarahkan haluan ke jung jung yang tambat terdahulu, berjajar, ada tiga jung yang tambat sejajar, jung kawannya yang datang duluan di nomer tiga, sedang dua jung yang lain tanpa awak akan menunggu gilirannya dilatih dengan awaknya sehari kemudian.
Apa lacur, jung sombong yang ditarik disamping lambung jung nomer dua dan dan nomer satu  tiba tiba memuntahkan peluru mahalelanya kearah lambung dua jung nganggur tanpa awak begitu dekatnya jarak tembakan itu sehingga menimbulkan kerusakan nyaris meremukkan lambung jung jung itu, dan jung rampasan sendiri berakhir dengan melintang kuala, jung rampasan ini mengarahkan muncongnya ke jung kawannya di urutan yang ketiga, tembakan yang hanya bejarak beberapa depa mengancurkan lambung dengan potongan papan yang kecil kecil menyebar barsama ledakan yang tidak dinyana. Selanjutnya balik kanan putar haluan keluar muara. Jung yang ditunggu tunggu untuk penyambutan kehormatan, kok malah mengamuk dan memutar haluan dibantu dengan arus keluar kuala yang agak deras, Yang Nampak mendekat malah lima layar segitiga perahu perang Majapakit yang jauh lebih kecil, dengan bendera Majapahit masuk Kuala Malaka sambil menembakkan kalantaka membabi buta, sekaligus memutar haluan keluar dari kuala tanpa pamit dengan kurang ajar.  Walhasil dalam waktu yang sangat singkat tiga jung perang dengan mahalelanya duduk tanpa bisa bergerak geladak dan lambungnya hancur luluh lantaka di tambatan Kuala Melaka, tidak terhitung yang mati terinjak injak dari rombongan upacara penyambutan. Isak tangis dan kerusakan hebat dari bangkai tiga jung ditinggalkan di tambatan perahu Kuala Malaka.
Melihat hasil yang begitu  merusakkan semua anak buah Armada Majapahit terdiam sambil keluar dari Kuala Melaka. Mereka mengenang kawan kawannya yang gugur dan yang luka luka masih tertinggal di pulau kecil, menyayangkan mereka tidak ikut dalam serangan mendadak yang berhasil gemilang ini.
Tinggal Prangwadhana Sapuangin, teronggok memegang bumbung la’ang tua, memikirkan bagaimana melapor kepada Laksamana mandala Barat Sang Wreha Nala.   
Dalam sangkar sangkar burung merpati untuk ke Tanjungpura tinggal lima ekor, belum tentu bisa sampai ke Tanjungpura karena disamping melawan angin juga banyak burung pemangsa sebangsa elang di pantai perairan Sumatra. Hanya terkirim berita singkat, bahwa armada jung perang Malaka sudah dibersihkan di sarangnya Kuala Malaka, satu dengan luka lambung ditawan dikalahkan dengan baja dingin (artinya dikalahkan dengan pertempuran  geladak),  anak perahunya luka luka dan tertawan dibawa ke Palembang, jung masih layak laut.
Berita dibawa oleh hanya satu merpati yang sampai disarangnya di Tanjungpura lima hari kemdian dan segera diteruskan persis seperti yang ditulis dengan merpati dari Palembang yang dengan jumlah merpati hampir tujuh puluh ekor.
Dari tujuh puluh ekor merpati dari sangkar Palembang yang dilepas di Tanjungpura, hanya kurang dari empat puluh ekor yang sampai dalam seminggu. Berita diterima oleh Laksamana Wreha Nala dengan keheranan dan sedikit kebingungan dari Laksamana yang berpengalaman ini. Berita penting ini ditahan oleh Laksamana hingga armada kecil lima perahu perang Madura dan satu jung perang tawanan sampai di Palembang dengan menggunakan angin nelayan yang tidak pasti, dan pada umumnya melawan angin ke Palembang. dengan terpaksa menggunakan tawanan Melaka untuk mendayung sepanjang pelayaran ke palembang, hitung hitung juga latihan.
Lima  hari armada kecil ini selamat tanpa halangan sampai di pelabuhan sungai Musi di Palembang. Tanpa upacara apa apa. Prangwadhana Sapuangin pagi itu juga menghadap Laksamana Wreha Nala. Sambil menghirup suguhan sederhana minuman jahe dengan gula nira, juadah dan manisan, ikut dihidangkan mpek empek Palembang yang terkenal itu. Sapuangin menceriterakan bahwa dia keluar dari muara Jambi kepergok oleh dua jung perang Malaka dengan posisi armada kecilnya dibawah angin, Jajar pandawa yang dia  lakukan kurang cepat dari berkurangnya jarak antar dua armada jadi lebih cepat, akibatnya dua perahu perang Madura kena tembak jung dari jarak tujuh ratus depa. Darahnya mendidih, tiga perahu perang Madura langsung berlayar mengiris angin ke kiri dan ke kanan, dia ada di satu perahu yang ke kiri. Rupanya anjungan jung diarahkan mengikuti arah perahunya, menunggu kesempatan  melepaskan tembakan. Masih untung anjungan jung sudah tidak bisa mengikuti perahunya yang melingkar lambung dengan cikar kiri, akhirnya dia mengubah arah haluan ke cikar kanan dan perahunya terikut angin ke lambung kanan mendekati jung. Dengan jarak sepuluh tombak dia melompat ke tiang agung jung perahunya menghujani tembakan dengan jarak kurang lebih sepuluh tombak mengenai lanbung dibawah air yang niak karean miring menghadap ke haluan perahunya, disambung dengan cikar kanan dan  sehingga jarak mereka mendekat disertai dengan lompatan semua prajurit dari anak buahnya yang mersenjata cambuk dan celurit, anak perahu jung yang china tidak ikut bertempur dan berteriak perahu bocor, anak perahu orang Melayu menilih menyerah.
Sidang perang armada kecil ini memutuskan untuk menggunakan kesempatan menyerang mendadak Kauala Malaka dengan bendera Armada Laut Malaka, kesmpatan yang sulit didapat. masuk kuala Malaka dan menghujani tiga jung yang tertambat di tambatan perahu Kuala Malaka. Mereka yang terluka dan mati tujuh orang tentara laut Majapahit gugur dalam pertempuran ini dua perahu perang tenggelam, sebaliknya keempat jung perang yang dibeli dari Kaisar China semua musnah dengan satu jung tertawan. Selanjutnya Sapuangin menyatakan dirinya bersalah sebab untuk melakukan upaya yang menyangkut keselamatan armada Majapahit hanya Laksamana yang seharusnya memutuskan.
Laksamana lama merenung, setelah menyatakan terima kasihnya yang mendalam mengenai dihancurkannya armada Malaka,  penantang terang terangan armada Majapahit. Tetapi masuk kedalam kuala Malaka dengan bendera jung Malaka dan umbul umbul kemenangannya untuk mengejar jung yang lain,  benar perkataan Sapuangin, sebagai Prangwadhana armada kecil yang kurang informasi mengenai Kuala Malaka seharusnya tidak dilakukan oleh prangwadhana yang lain, sebab kekurangan informasi adalah satu perjudian.
Apa boleh buat, Wreha Nala akan melaporkan kehancuran tiga jung perang China milik Kerajaan Malaka akan sangat mendapat penghargaan istimewa dari Mpu Mada pribadi, sebab ramalan dalam suratnya lewat Duta dari Malaka sangat cepat terlaksana, walau dengan armada yang kecil saja.  Laksamana Wreha Nala sendiri akan menyambut anak buahnya dengan sasanti jaya jaya Mandala Barat dengan semestimya  besuk, Laksamana Wreha Nala menyilahkan para jagoannya ini beristirahat. 
Adapun setelah d8uapuluh hari.  tibalah utusan Mahapatih Mpu Mada Ke Palembang untuk menjemput Prangwadhana Sapuangin ke Wilwatiktapura beserta Laksamana Wreha Nala adalah pantas.
Mpu Mahapatih Gajah Mada, ratu Tribhuanatunggadewi menyambut kedua pahlawan laut ini di depan wantilan agung, barisan kehormatan satu mandala darat dibariskan dikiri kanan alun – alun penuh dengan  tentara berpakaian kehormatan yang mencorong keemasan, guna mendengarkan pidato kemenangan Mpu Mada,  arsitek dari Sumpah Palapa.
Tepat tiga jengkal matahari muncul dari ufuk timur, Sang Laksamana mandala laut Wreha Nala disejajarkan dengan Prangwadhana Sapuangin yang berpakian khas Madura Baju dan celana komprang sutra hitam dengan kampuh dari batik Tanjung bumi melibatnya pinggangnya dengan rapi, Kedua penunggang kuda ini tetap duduk dipelananya berhenti dihadapan wantilan agung. Mahapatih Mpu Mada berkendaraan kuda mendanpingi Sri Ratu Tribhuwanatunggadewi, diiringi oleh tamu umdangan para pedekar laki laki perempu berkepandaian tinggi  menunggang kuda berbaris mendekat dari kiri kanan wantilan Agung. Ratu Tibhuwanatunggadewi, berdandan serba biru dibuat dari sutra china terbaik, makkota dari emas tipis berhiaskan batu mulia biru dan biru laut, dandanan  ringkas, untuk penunggang kuda. Sang Ratu mampu tanpa kehilangan keagungan sang Rajaputri  duduk dipelana kuda secara lelaki. Setelah bunyi genderang dan bedug bertalu talu memainkan lagu gubahan  karya Sanggar dari Lembu  Anindita dan Lembu Andini yang diundang jauh jauh dari Banuwangi  ke Wilwatiktapura, Menyatakan bahwa dia, Prabhustri Tribhuwanatunggadewi, atas laporan Sang Mahapatih Gajah Mada, marasa wajib menyambut sendiri kedatangan wakil Mandala Laut yang sangat berjasa, sehingga Sanng Prabustri secara pribadhi merasa harus meyambut mereka bagi Wiwatiktapura, dengan melenyapkan kelilip dari mata Wilwatiktapura, nun di Kuala Melaka. Prang wesana Sapuangin telah mentgnacurkan ketiga jung oerang dan mwenawan salah sutnya/ Keempat jung  perang itu  telah dipersenjatai  dengan  mahalela dari Kerajaan Melaka, pembelian dari China/
Tangannya melambaikan pataka kemenangan sebelum  disampaikan kepada Panglima mandala Laut, disambut dengan sasanti jaya jaya dan dirgahayu Wiwatiktapura oleh sebegenap wadya yang berbaris dan penduduk warga Wiwatiktapura. Sudah tertundukkan musuh yang sombong, dan sepertinya Dewa Dewa mengizinkan dalam waktu yang sangat singkat armada dan mahalelanya sekalian telah dihancurkan, dan satu jung perang ditawan, kini jadi bagian dari mandala laut Wilwatiktapura. Prabhustri berkuda Laksamana Mandala Laut berkuda, Laksamana Mandala Laut maju menuju ke tanah yang ditinggikan agar semua wadya dan penduduk bisa melihat, kepala kuda menghadap ketimur. Kemudian Prabhustri mulai menggerakkan kudanya ke timur tanah yang sudah ditinggikan, sambil membawa pataka dengan kedua tangan, Prabhustri sebagai penunggang kuda yang piawai memerintah kudanya dengan sanggurdi, tepat kuda kuda itu menurut berdiri berdampingan, satu di utara satu diselatan sedang kepala kuda Lasamana menghadap ketimur dan kepala kuda Prabhustri menghadap kebarat, sisi tangan kiri Prabbhustri memasukkan tiang pataka ke kulit tempat pataka didukung, terikat pada  pelana kuda  laksamana dan tangan kanan menyodorkan dengan tegas dan anggun pataka Mandala kepada Laksamana. Laksamana menyembah dengan kedua tangan menerima pataka yang sudah dalam penyangga dikudanya sambil duduk dan mengangkat muka sangat tegas. Penyerahan terjadi tidak lebih dari satu tontonan yang sangat menarik semua hadirin. Disambut dengan surak sorai sasanti  jaya Majapahit, jaya Wilwatiktapura oleh ribuan tenggorokan baik dari baris prajurit maupun dari hadirin penduduk. Sesaat Laksamana menghadapkan kudanya ke alon alon, mencabut pataka dan melambai lambaikan kearah mereka semua yang hadir di alun alun. Prabhustri juga menghadapkan kudanya ke alun alun sambil melambaikan tangannya pada hadirin, yang membuat mereka histeris. Laksamana tinggal di tanah yang ditinggikan dengan muka tegak dan memegang pataka sedang Prabhustri menjalankan kudanya dengan anggun kearah tempatnya semula. Kini puncak dari upacara adalah memberian tombak kehormatan untuk Tumenggung yang baru dan peresmian pengangkatannya sebagai “Tumenggung Manggala Yudha ring Jalanidhi” Sapuangin, oleh Mahapatih Gajah Mada. Dengan cara yang sama keduanya bertemu berdampingan kudanya di tanah yang ditinngika diiringi dengan “gending olek olang paraona ajelen”, mendadak hadirin ribuan tenggorokan ikut melagukan gending rakyat yang sama sama mereka kenal, disambung irama yang cepat dengan guntur ketug tetabuhan jenis bedug  terbang dan genderang, Sang Tumengggung Pandega menyembah kemudian menyambut tombak kehormatan yang ternyata telah dibuat dalam waktu singkat kurang dari sebulan oleh kakek Empu Keleng sendiri atas pesanan kilat Mahapatih Gajah Mada. Tombak lantas di angkat tinggi oleh Sapuangin dan disambut dengan sorak sorai hadirin yang tambah histeris dengan gending baris ageng yang heroic. Kuda sang mahapatih ikut menghadap ke alun alun dan mereka merapatkan kuda kudanya, dan melambai lambaikan tangannya.
Tapi pelajaran berikutnya yang sangat berharga diumukan, bahwa  satuan satuan kecil dibawah Prangwadhana tidak diperkenankan memutuskan memulai operasinya sendiri tanpa informasi dan koordinasi dengan atasannya setingkat Tumenggung Manggala Yudha Jaladri, tidak boleh ada lagi meski kesempatan ada, mengingat tipuan yang sama akan diciptakan lawan untuk satuan mandiri yang kecil, sehingga kekeliruan diderita oleh satuan kecil yang terjebak tersebut sulit untuk diberi pertolongan oleh armada dikawasan yang sangat luas. Bendera armada Wilwatiktapura sudah bisa bertahan dilaut dan pantai pulau pulau Nusantara dengan anggun dan tanpa menembakkan peluru kalantaka sekalipun.(*)





























  

22. MATAHARI TERBIT DI WILWATIKTAPURA (SERI 21)

 PAMALAYU KE II DARI MAJAPAHIT 

Lima puluh perahu perang jenis perahu Madura milik Wilwatiktapura telah siaga, lengkap dengan persenjataannya yang telah dicoba di Timur, melawan perahu kora kora yang menyemut, penuh dengan pasukan perang dari seluruh kepulauan Tidore. Tujuan semua perahu yang didayung oleh ratusan jagoan berkelahi dengan kelewang dan tameng kayu yang sempit namun kuat, armada perang dengan kora kora dan ratusan jagoan ini andalannya adalah menabrak armada lawan. Menabrak perahu lawan dan membanjiri dengan serbuan para jaogan berkelahi. Fomasi Jajar Pandawa yang harus mengubah dengan serentak haluan parahu Madura ini dari  mempertahankan formasi berjajar, menjadi formasi berhadab hadapapan dengan kora kora yang menjemut dengan pendayung yang tambah bersemangat, secara serempak menembakkan kalantaka, pada jarak tiga ratus depa, sementara lemparan tombak tombak belum sampai. Hasilnya luar biasa, banyak kora kora yang langsung terbalik, banyak haluan kora kora yang kena tembak dan berubah haluan saling bertabrakan 
Kali ini siasat perang laut melawan parahu perang model lancang yang bercadik, bisa berlayar melawan angin dengan sudut menyerong, dan berlayar sangat cepat. Mereka selalu menyerbu barsama sama, mencari posisi diatas angin. Persenyataan yang diandalkan adalah seligi atau tombak yang dilempar, dan periuk api, yang dilempar sambil melintas cepat dalam fomasi berjajar. Masalah besar untuk membangun perahu model madura dengan bobot mati yang besar diatas 20  ribu kati, bukan dari bahan kayu dan papan perahu, bukan dari konstruksinya tapi dari pengadaan kain layar yang harus ringan kuat dan luas, kala itu (malah sampai sekarang) kapas kita tidak bisa dipintal dai ditenun menjadi kain layar yang kuat untuk perahu layar yang seberat itu. Perahu model Pinisi dari bugis, sudah mempunyai layar dengan serat ulat sutra yang diperoleh bibit ulatnya dari China ( Bombuch madarina L) sejak dulu, dan dapan dijadikan layar yang ringan luas dan kuat, ulat sutera dipiara diberi makan daun tanaman murbei (Morus alba) di dataran tinggi diatas Sengkang di Rantepao, sedang penenun sutra ada di  diseputar danau Tempe, jadi petani pemelihara ulat sutra tidak menguasai teknologi sutra, sedang penenun sutra tidak memelihara ulat sutra ini. Akibatnya tidak ada batasan ukuran pembuatan pinisi yang besar besar. Tapi toh perahu model madura yang relatip kecil dengan bobot mati 10- 15 ribu kati sudah memadai untuk masuk kedalan sungai sungai yang relatip dangkal dengan kain layar yang sudah ada, dari benang kapas yang dicampur serar kenaf.

 Latihan berkali kali dilaksanakan dilaut dimuka pelabuhan Tuban dengan menggunakan parahu nelayan “jaten” yang disewa sebagai  lawan, sangat mirip lancang dari Malayu, memang perahu nelayan pancing model “jaten “  yang lincah dengan cadik  hanya disatu sisi lambung, mirip lancang dari Melayu. Malam menggunakan angin darat, angin dari daratan karena daratan udaranya lebih padat dimalam hari,  sedang siang  hari  udara diatas laut lebih padat jadi mengalir kedarat.  Sedangkan perahu perang Madura harus mencari formasi dimana serangan dari atas angin bisa dipatahkan dengan menghadapkan haluan perahu ke penyerang dari atas angin. Formasi ini harus menghasikan pemusatan tembakan kalantaka ke parahu lawan yang mendekat dengan angin buritan. Kemungkinan cara ini ada, dan dapat dicoba dengan Manuver jajar pandawa karen kecepatan lancang kira kira sama dengan kecepatatan kora kora yang didayung oleh ratusan jagoan perang yang lagi bersemangat. Repotnya, angin di pantai Sumatra meskipun sangat dipengaruhi oleh angin para nelayan yang rutin, tapi diakhir musim timur kadang kadang ada angin kebarat yang dominan dan kuat, Sehingga kecepatan mengisi peluru kalantaka dan ketepatan memperhitungkan jarak sasaran yang bergerak lebih cepat dari kora kora mendekati perahu yang bermanuver sangat menentukan hasil peperangan laut menang atau kalah. Maka latihan maneuver mengubah haluan menentang  angin dan menembak dengan jarak tiga ratus depa harus tepat. Dalam situasi apa saja.
Strategi yng dipilih adalah berlayar  agak menjerong atas angin perahu disejajarkan haluannya, dan mendadak diputar
Kearah angin, sambil nenjatuhkan layar, agar tembakan panah api tidak mengenai layar, sikaligus menembak sasaran yang mendekat dengan cepat.  
Armada Majapahit agak minggir ke pantai antara empat atau enam yojana, memanfaatkan angin nelayan, karena pinggir pantai dangkal maka ombak akan sangat  mempengaruhi perahu perahu kecil seperti lancang perang ini, mungkin ketepatan melempar  seligi sangat terpengaruh oleh ini. Bagusnya perahu perang model perahu Madura ini kecepatan maneuver merubah haluannya sama mudahnya dengan perahu yang lebih kecil, meskipun kalantaka yang di bawa berkaliber lebih besar.
Armada Majapahit dibawah komando Laksaman Wreha Nala, dengan lima puluh perahu model Madura, dua diantarnya berbobot lebih dari delapann ribu kati, membawa kalantaka yang lebih jauh jarak tembaknya memcapai tuju ratus depa ikut dalam armada, juga dua katamaran dengan layar  tunggal yang besar, dengan angin buritan bisa dua kali lebih cepat dari perahu Madura, 
tetapi sulit bermanuver, digunakan menolong pelaut  tercebur laut bila memungkinkan. Dan satu  perahu model Madura yang lebih kecil, bobot muatan hanya seribu kati berlayar ganda untuk kurir. Telik andi memberi peringatan bahwa lancang Melayu ada yang dilengkapi dengan panah api yang diterbangkan dengan obat mesiu dapat mencapai jarak enam ratus depa, tapi ketepatanya diragukan, jarak tembak dengan sasaran yang dikenainya dengan jarak dua ratus depa, berbahya bila dirubah jadi panah api, berguna untuk merobek layar dan membakarnya. Dengan perhitungan bahwa panah model ini tidak banyak, maka armada Majapahit  tidak ada perlengkapan khusus untuk menangkal senjata model ini. Semua perlengkapan perang di bawa oleh lima perahu pinisi, ke laut Jawa, utara Tuban, karena pada musim begini biasanya di utara Tuban, lautnya tenang. Bulan Kapitu, armada berangkat kebarat, mulai pelayaran perahu perang Pamalayu ke II, ke Jambi dan Tanjungpura.
Ternyata dugaan arah angin sesampai di muara sungai yang menuju ke Jambi berubah arah keutara, dari muara sungai keluarlah ratusan lancang perang dengan ratusan pejuang berseligi, berlayar menyerong ke tenggara untuk mendapat bantuan angin buritan pada saat mendekati armada perahu perang Madura,  Tiga  yojana, armada ratusan lancang perang ini sudah ada diatas angin armada perahau Majapahit. Armada lancang yang ratusan jumlahnya ini merasa bahwa armada Majapahit lamban malah menjerong angin menuju ke barat daya, apa tidak tahu bahwa keistimewaan lancang lancang ini bisa berlayar jauh lebih baik dalam sudut berlayar menentang angin, hanya terdorong sedikit kearah samping. Mereka pikir musuh akan bersembunyi dibalik lajar lancang lancang itu agar lemparan seligi dan periuk api terhalang oleh layar lancang, manuver yang biasanya lebih cepat, yang ini kok malah menutup layar dan neghadapkan haluan kearah angin? Armada lancang tambah bersemangat memacu perahunya dengan angin buritan, sampai haluan lancang lancang ini melonjak lonjak kena ombak kecil kecil, mengibaskan air kekanan dan kekiri, Dalan hitungan detik, terdengar bunyi terompet kerang, sebelum lancang mendekat dengan cukup sepelempar seligi, sudah terdengan salvo kalantaka, yang menerbangkan layar layar lancang, mengubah haluannya mendadak sehinga tabrakan antar penyerang tidak terhindarkan, lancang lancang  dibelakang masih bisa menghindar kekanan dan kekiri dengan lincahnya untuk melemparkan periuk api, nayris menabrak lancang yang sudah mengggumpal jadi satu, terus dengan cepat menuju ke armada Majapahit, ternyata perahu yang lebih besar delapan ribu kati dengan kalantaka lebih besar bisa menembak limaratus depa, yang ditempatkan dimuka dan dibelakang fomasi jajar pandawa masih bisa menembak lancang yang bermanuver belok kekanan dan kekiri, mengenai layarnya ada yang terbang dan ada yang terguncang miring dan tenggelam.
Waktunya dua perahu katamaran dengan lajar besar mengiris ombak dan angin, berlayar menyerong tajam menuju ke pempat bejubelnya lancang lancang, untuk memberi pertolongan pelaut yang tercebur, luka dan sudah tidak berdaya. 
Semua lancang dari Indrapura, jang rusak tanpa haluan ada duabelas, yang tanpa layar dan tiga puluh dua yang cadiknya patah dan terbalik ada limapuluh enam semua, semua lancang diperbaiki sementara dan didayung ke Indrapura oleh anak perahunya masing  masing masing,  mereka diperintahkan membuka jalan, sebab pelabuhan Indrapura dijaga dengan dua meriam basar dari perunggu yang dipasang di dekat pelabuhan. Begitu meriam penjaga pelabuhan tahu bahwa semua perahu perang lancang diperintahkan brlayar sebagai perisai  didepan, meriam meriam didarat terpaksa bungkam dan membiarkan lancang itu masuk kuala dengan diikuti oleh armada Majapahit.        
Salvo meriam kosongan menandai datangnya Armada Majapahit, diikuti dengan kegemparan kota Tanjungpura yang biasanya sunyi disiang hari seperti ini. Suara kalantaka waktu peperang laut tidak terdengar dari kota pelabuhan itu. Dengan tergopoh gopoh Syahbandar Tanjungpura menghadap Laksamana Wreha Nala. Syahbandar diperintah agar meriam penjaga pelabuhan diputar arahnya kekota. Sambil menunggu Syahbandar Tanyung pura dperintahkan memberikan surat ke Istana kerajaan Tanjungpura untuk sang Raja Marmadewa. Sore hari Hari Paduka Raja dan Laksamana Wreha Nala bertemu di wantilan pelabuhan. Melihat arah meriam pelabuhan sudah dipindah menuju kota, Raja Marmadewa mengajak sang laksamana untuk berkunjung ke Istana, dengan naik tandu yang disediakan, laksamana menolak dia memilih mengendarai kuda yang dibawa dari Majapahit.
Atas ulah para ksatria Tanjungpura yang gagah berani, armada Majapahit harus membakar sekian banyak mesiu dan peluru berapi, maka dari itu sang Prabhu harus mengendalikan para ksatrianya yang gagah berani untuk mengamankan jalan laut dari bajak bajak darimanapun asalnya.  Prabhu Marmadewa harus menanda tangani suatu pernyataan bahwa keamanan laut sebagai jalan perdagangan, Indrapura harus ikut mengamankan perahu perahu yang membawa dan mengambil dagangan  dari dan ke Wilwatiktapura. Setelah surat perjanjian ditanda tangani oleh sang Raja, laksamana Wreha Nala mohon pamit, dan meninggalkan uang emas seribu keping, untuk para ksatria laut yang menjadi korban keberaniannya. Untuk lain kali perbuatan serupa tidak akan diberi kerugian apa apa. Sekian perintah dari Maha Patih Gajah Mada. Raja dan datuk Bendahara Kerajaan sampai terlongong longong tidak tahu apa yang akan diperbuat, Hanya berjanji dengan sunguh dungguh akan memenuhi pesan rakryan Mahapatih Gajah Mada. Mereka berdua memberikan surat perjanjian yang dibawa Laksamana Wreha Nala, sambil menerima kantung seribu keping emas.
Sore itu juga Amada majapahit Keluar dari kuala dan berlayar menuju Pahang.(*)
  







  

21. MATAHARI TERBIT DI WILWATIKTAPURA (SERI 20)

 PERTEMPURAN DI LAUT  TERNATE

Pertempuran laut antara Armada Majaphit dan Armada kora kora dari kerajaan Tidore.
Setelah” Sumpah Palapa” di ucapkan, seperti kata pepatah mengatakan “Ucapan seorang lelaki sejati, seperti panah api yang dilepaskan, pantang untuk ditarik kembali.
Sejenak Mahapatih Gajah dari desa Mada, Ksatria Brahmana , tertegun oleh ucapannya sendiri, lah iya sahabat juga majikannya yang imbang dengan dia,  baik dalam pengalaman  maupun cita cita, sudah tiada, Mahaprabhu Kartarajasa Jayawardana, meskipun terhadap Mpu Mada ini tetep Raden Wijaya.
Dengan siapa dia akan berunding, menghadapi exspedisi laut  dengan armada Majapahit yang baru saja dibentuk baru menyesaikan latihan maneuver laut enam bulan pada akhir musin timur ?
Benar selama sang Patih Gajah Mada menjadi Panglima Mandala Majapahit dibawah Mahaprabhu Kartarajasa Jayawardhana sudah dibangun empat puluh perahu perang yang menurut ukuran parahu  model Madura sudah besar, muat lima –enam ribu kati dengan   aman. Diasebut perahu perang karena lambungnya sedikit lebih langsing dari perahu Madura yang biasa untuk muatan, perahu ini khusus  untuk perang, lagi ada tambahan layar di anjungan, untuk menambah laju berlayar. Selebihnya tetep design perahu Madura, dengan lunas yang melengkung layaknya sabut kelapa, inilah konstruksi andalan perahu model ini, yang akan sangat mudah dibelokan, laksana piring cekung mengapung diatas air. Menggunakan,  dua layar lateen (berbentuk segitiga) satu layar agung dengan betuk nyartis trapasium karena layar agung ini di sisi atas di ikatkan membujur pada sepotong bambu petung yang panjang dan kokoh, dibawah diberi rangka sebatang bambu yang  lebih keil tapi panjangnya sama dengan rangka diatas, untuk mengatur sudut layar terhadap angin. satu lebih kecil dipasang dihaluan (layar jib) tanpa rangka bambu yanya tali temaIi saja bila perlu.  Perahu ini diawaki oleh tujuh belas awak perahu, dan memuat empatpuluh prajurit,  empat (meriam) kalantaka, dua dipasang di haluan dan dua lagi untuk disediakan demi  kecepatan mengisian obat mesiu dan peluru setelah menembakkan peluru. diisi cara bergantian.
Pada gladi perang yang terakhir, dua bulan yang lalu, semua berjalan lancar, setiap perahu perang dapat menembakkan peluru empat puluh tembakan, atau duapuluh pasang, dalam waktu yang cepat, sebab bubuk bubuk mesiu sudah ditempatkan dalam kantong kantong anyaman agel (daun tal), tinggal mengisikan dan mendorong dengan galah trus   sampai kedasar lubang kalantaka, peluru peluru sesudah itu. Jarak tembak terjauh  tiga ratus depa, dengan sudut tigapuluh derajad. Semua peralatan bisa belerja dan ada gunanya. 
Untuk prajurit laut disediakan seligi  ( tombak untuk dilempar) sebanyak lima belas batang setiap awak, teribuat dari bambu khusus,  berujung besi tuang  runcing dengan dengan kait dan pembakar nafta. Gandewa hanya empat untuk dipasang dan ditarik dengan seluruh badan, sambil terlentang dijejak dengan kaki dan dibidikkan sambil terlentang dikenal dengan panah gajah. Kena apa tentara laut tidak dilengkapi dengan panah ? Karena dilaut selalu angin sehingga panah sedikit manfaatnya.
Formasi yang telah dicoba adalah “jajar pandawa”, perahu perang berurutan lima perahu, angin dari samping  keburitan, secara serempak semua haluan formasi  diputar  kearah angin, langsung menembakan   bareng tiga kali,  sejarak dua ratus depa, seratus  lima puluh  depa dan seratus depa. Baru satu formasi inilah yang secara memuaskan dikerjakan, maneuver diakhiri dengan maneuver “pedang ligan”, formasi berlayar maju berlima dengan jajar melebar.  Juga dilaksanan maneuver Rantai wura wari, berlayar berurutan sampil menenbakkan panah gajah yang ujungnya api nafta. Selama musim timur seluruh armada mengadakan perjalanan muhibah ke barat dikenal dengan pelayaran Pamalayu yang pertama, dipimpin oleh Patih Raganatha ke II  dengan mandala laut dipimpin oleh Wraha Nala, seorang bhayangkari raja, mengabdi R. Wijaya bersama Gajah mada, berasal dari Tanjung Bhumi  pulau Madura.

Meskipun pengabdian pertama sebagai Bhayangkari Raja, tapi  Gajah mada, tahu betul bahwa Wraha Nala telah dididik oleh sukunya untuk berlayar sebagai pelaut, tahu asam garam kelautan.
Wraha Nala itulah sosok yang Gajah Mada bisa mengajak berunding saling menimbang pendapat masing masing. Mahapatih Gajah Mada, memanggil Wraha Nala untuk merundingkan pelaksanaan exspedisi pertama ke wilayah bawah angin di timur, Kapulauan Tanimbar, wlayah Kerajaan Tidore yang lagi naik daun.
Wraha Nala tahu betul, meskipun formasi  “jajar pandawa” ini baru di digladikan sekali, dengan hasil baik, dia yakin bahwa selama pelayaran ke timur bisa di gladikan lain lain formasi, seperti rantai wura wari yang dapat menenbakkan anak panah api lebih jauh. Ketepatan penembakan kalantaka untuk sasaran yang bergerak maupun sasaran diam.
Mahapatih Gajah Mada merasa sedikit tentram dengan mempunyai Panglima Madala laut Wraha Nala. Segera Mahapatih pada hari penghadapan Soma manis, menghadap Prabhustri Tribhuanatunggadewi, untuk mengangkat Wraha Nala menjadi Laksamana Mandala Laut,  dalam waktu tiga bulan menyiapkan pelayaran exspedisi penaklukan kerajaan Tidore ke timur.
Dalam tiga bulan disiapkan perlengkapan tiga puluh perahu perang dengan seratus kalantaka dan mesiunya, panah gajah seratus duapuluh, seligi, tameng logam, perlengkapan perahu perang dan mandala laut seratus limapuluh orang, awak perahu lengkap dengan Pandeganya masing masing. 
Pada bulan Kanem, pertengahan kedua musim barat, mandala laut Kerajaan Majapahit mulai mengadakan exspedisi ke timur melaksanakan “Sumpah Palapa”  
Semenjak sumpah sang Mahapatih di ucapkan, ramailah telik sandi dari Negara tetangga, Bali dan Tarnate, Tidore, Bugis mengirimkan berita berita supaya Negerinya memperkuat Pertahanan mandala laut, 
  Tentu saja Kerajaan Tidore sudah mulai siap dengan Banyak suku suku pelayar yang handal dengan menggunakan kora kora yang sama saja dipakai untuk perang maupun untuk angkutan dagangan, hanya jarak jelajahnya tidak bisa jauh, paling jauh sampai ke Timor, Banda dan pulau Kei. Tapi mandala laut yang berani mati amat banyak, dengan peralatan perangnya, busur panah dan seligi tidak terhitung.
Kora kora adalah perahu panjang dengan ratusan pendayung, dan layar yang lemah. Andalan dalam perang laut adalah menabrak dan menyerbu naik ke perahu musuh.
Mendekati laut Ternate, angin mulai berganti ganti arah, laksamana mandala tahu bahwa ini saatnya kora kora mendatangi armadanya dari kepulauan disekitar laut itu. Segera diperintahkan untuk semua perahu siaga mebentuk formasi jajar pandawa, berlayar kearah timur laut dimana angin dari samping kanan buritan, keutara. Formasi perahu perang menuju ke timur laut. Laksamana Nala tahu benar bahwa kora kora akan mucul dari utara, sekarang masih tersembunyi di pulau pulau kecil di utara.
Benar dugaan sang Laksamana, kora kora mengandalkan prajurit pendajung yang ratusan setiap kora kora, semua lengkap bersenjata, panah dan seligi, dari jarak seribu depa Nampak semua pendayung sambil berdiri dengan bersorak sorak seolah olah sudah menabrak formasi mandala Majapahit.
Jarak limaratus depa dengan haluan menuju ke formasi jajar pandawa, kora kora yang menyemut ratusan jumlahnya, menyempitkan jarak satu sama lain, dengan cepat akan menabrak formasi, yang segera meniup terompet kerang, serempak haluan perahu perang Madura dengan angin dari buritan,  menghadap ke utara, dengan cepat jarak memendek jadi duratus depa dan serentak enampuluh kalantaka dari tiga puluh perahu formasi jajar padawa, jadi formasi pedang ligan, memuntahkan peluru tepat ke haluan perahu perahu cepat kora kora yang  saling mendekatkan lambungnya, terkonsentrasi ke tiga puluh perahu perang  Majapahit yang siap dengan formasi pedang ligan, sebelum tembakan kedua dengan jarak seratus lima puluh depa, keadaan kora kora berubah jadi neraka, bukan suaranya saja yang sangat memekakkan telinga, tapi guncangan kora kora yang kena peluru kalantaka  haluannya dan membuat semua pendayung berantakan dan kora kora banyak yang tenggelam pada penembakan kedua dari jarak reatus limapuluh depa, belum lagi tembakan ketiga sudah ada aba aba dari terompet kerang agar melanjutkan formasi jajar pandawa lagi,  menuju timur laut. Dengang cepat layar terisi angin dari buritan samping kanan meliuk meninggalkan kora kora yang sungsang sumbel.  Banyak prajurit pemburu tenggelam ada dua puluh empat kora kora yang tenggelam sisanya saling bertabrakan dan terbalik. Sewaktu aba aba dengan terompet kerang berbunyi lagi, ketiga puluh perahu perang Majapahit menuju kebarat, berada di utara neraka laut akibat kora kora saling bertabrakan. Tembakan panah api dari gandewa panah gajah diarahkan ke gerombolan kora kora yang sedang berkutat menolong satu sama lain, semua kora kora yang sedang sibuk menyelamatkan temannya, panah api ini sekedar meyakinkan bahwa semua kora kora rusak, agar tidak bisa pulang mempertahankan pelabuhan Tidore. Ternyata kalantaka ini bisa mengenai sasaran dengan jarak tigaratus depa, dengan menambah serbuk mesiu setengah kantung mesiu, meninggikan sudut tembak, akibatnya peluru  jatuh dari atas, sehingga melubangi lunas, bukan lambung, ini penemuan baru dari kemampuan kalantaka, dan celakalah prajurit pendayung kora kora yang menyemut ini. 
Pelabuhan Tidore kosong, tidak ada satu kora korapun, dengan tergopoh gopoh Raja dan segenap keluarganya menuju ke pelabuhan, menakluk sambil mamohon ampun.
Laksamana Wraha Nala bijaksana, ampunan atas nama Maharani Tribhuanatunggadewi diberikan, malah Sang Ratu, Prabhustri mengirimkan kain dari India dan Cina, kain destar bathik Majapahit puluhan kodi. Selang tiga hari para prajurit pemburu yang gagah berani pulang ke kota Raja sendiri dan berombongan, menemukan Ibu Kota aman saja, hanya sedikit prajurit laut berkemah di pantai, dengan penjagaan diri yang rapi. Masing masing bertukar buah segar dan sayuran dengan penduduk dengan ramainya. 
Sedangkan para perwira menjadi tamu agung kerajaan.     
Segera enam puluh burung merpati pos yang didatangkan bibit bibitnya dari Cina, ddikirim ke Ibu Kota, Wilwatikta pura akan sampai dalam waktu paling lama satu minggu, burung merpati pos ini dengan gagah berani tebang melawan angin, hujan dan menghindari badai, empat puluh delapan sampai di sarang anaknya di Wilwatikta pura.  Segera berita dari merpati merpati itu disampaikan ke Mahapatih Gajah Mada tanpa rintangan ketangan Paduka Mahapatih. Matahari sedang tenggelam, berita ini pecah ke seluruh Ibu Kota. Mendadak saja semua lampu ditambah obor dan lampion lampion dinyalakan di Istana Wilwariktapura disusul dinyalakannya obor dan dian dimuka halaman setiap penduduk, ibukota bersinar laksana siang. Tetabuhan disetiap pura ditabuh dengan ramainya dengan irama degung dan baleganjur.(*) 




  

20. MATAHARI TERBIT DI WILWATIKTAPURA (SERI 19)

TERNYATA LURAH BHAYANGKARI WILWATIKTAPURA ADALAH PENDEKAR BERILMU TINGGI ALIRAN BUTONG (Wu-Dang)

Sisi yang tak pernah dicurigai oleh ahli sejarah sekarang adalah kapasitas Lurah Bhayangkari Wilwatiktapura, Mpu Gajah Mada adalah pendekar silat klas tinggi dari aliran Butong.
Meskipun perawakannya gempal, Mpu Mada bisa bergerak sangat gesit, badannya bisa lunak seperti kapas dan bisa kaku seperti besi lonjoran. Kepandaiannya meloncat dengan enteng sulit mendapat tandingan di jamannya. 
Kepandaian beliau ini dapat ujian dikala menelanjangi komplotan yang  membalas dendam dari sahabat Prabhunata Dewarajasasinghanambi, Raja Mjapahit bang Wetan dengan Kota Raja Sadeng sekitat Lumajang sekarang. 
Mpu Mada ingat Kakek Bangkong Gurunya pernah berkata, bahwa jalan raya terbentang panjang dan lebar di nusa Jawa ini bagi orang berkenpandaian tinggi, yaitu lewat pokok pokok kelapa dari pelepah ke pelepah tanpa patah, ternjata pelepah pelepah nyiur ini cukup kuat, tanpa kuwatir jatuh, bila di negeri China rumpun bamboo di Jawa berupa pokok kelapa, maka pemuda Gajah Gombak mulai berlatih meloncat dari pokok kelapa satu ke pokok ke pokok yang lain zigzag dengan berbagai posisisi, 
Pemuda tanggung Gajah Gombak melihat kelakuan daun daun kelapa saat ada angin besar, jarang yang patah, melainkan meliuk liuk, jadi dengan ilmunya meringankan tubuh meggunakan tenaga dalam, pelepah pelepah kelapa ini layaknya dipemainkan angin prahara  saja. 
Latihan ini dipertegas oleh sang Guru, karena seorang Pendekar harus bisa bergerak cepat tanpa diketahui orang. 
Akkhirnya pemuda Gajah Gombak mengetahui sifat pokok dan dauh kelapa bila kena angin basar tidak pernah patah dan dia meloncat dari pucuk ke pucuk pohon kelapa tidan pernah mematahkan tangkai daunnya.
Pada suatu malam yang sangat gerah, Mpu Lurah Bhayangkari ini tidak bisa tidur, dan ingat latihannya waktu masih muda, dia mencoba melompat bertengger pada pelepah daun kelapa, ya, karena selama dua belas tahun pemerintahan Raden Wijaya ditambah dengan dua tahun tahta Majapahit diduduki pewarisnya Kalagemet , pohon kelapa disana rata rata umurnya kurang dari dua belas tahun, banyak yang sudah berbuah berjenis kelapa puyuh dan yang berjenis kelapa dalan belum berbuah, 
Disekitar huniannya, dekat dengan wantilan Agung,  pohon kelapa puyuh ditanam sepanjang pagar, ternyata benar, pokok kelapa merupakan jalan raya daun daun  kelapa berada sambung menyambung tanpa mengenal batas rumah maupun kampong, bisa dilompati dengan mudah, seolah olah jadi jalan pribadi untuk mereka yang berkepandaian. 
Mpu Lurah Bhayangkari mendapat laporan bahwa ditimur kota, berdampingan dengan kampong yang dihuni  mereka yang datang dari wilayah Sengguruh ( sekarang Malang) sering didatangi tamu misterius yang datang pada pagi dan siang hari, sesudah itu tidak pernah kelihatan keluar lagi. 
Kebetulan di muara jalan kampong yang bersih tetapi tidak lebar ini ada serang berjualan ronde (minuman hangat dengan jahe dan santan) pada sore dan malam hari, bila siang mulai pagi pagi warung kecil ini berjualan bubur Madura, Suami istri yang berjualan ini adalah pembantu telik sandi yang memang ditempatkan disana oleh bawahan Mpu Mada. 
Karena Sengguruh menjadi pusatnya kaum Bhairawa dan Mpu Mada ingin tahu seberapa besar bahaya pengaruh kegiatan mereka ini terhadap keamanan dan ketenteraman Wilwatiktapura. 
Ternyata barisan pohon kelapa bisa menghubungkan tempat dia berdiri tenang diatas pelepah kelapa dengan garis lurus menuju ke kampong orang Sengguruh. 
Sekali enjot pelepah kelapa yang menjadi tumpuan dia berdiri dia melompat ke pokok kelapa lain di arah tenggara kira kira sepuluh depa, terus ke pelepah pokok kelapa berikutnya sambung menyambung, ternyata dia belum lupa bagaimana melompat lompat diantara dedaunan dan pelepah kelapa, kadang perlu menjusup rendah kadang harus dihinggapi dari atas sambil berjumpalian, menambah kegenbiraan sang Mpu Bhayangkari. Ternyata kampung orang Sengguruh tidak besar, sepetak yang dikelilingi jalan raya masih bercampur dengan orang Banyuwangi, sebagian jadi tegalan karena masih kosong. Di halaman kosong ini warung minuman hangat ronde berada. 
Karena sudah lewat tengah malam, warung ronde ini sudah tutup, dan berada dibawah pokok kelapa dimana Luran Bayangkari berada dua kakinya memijak pelepah yang masih muda masih tumbuh menuju ke atas layaknya berdiri diantara mata gunting. 
Sambil memnfaatkan dedaunan untuk menyamarkannya dari  mata orang, karena pokok kelapa disitu tidak tinggi hanya lebih kurang empat lima depa, tetapi berdaun lebat. 
Mendadak ada dua sosok berpakaian ringkas, memakai ikat kepala kain hitam, meloncat dari rumah Kelabang Kuti ke dahan atas pohon kenanga besar, rupanya pohon peninggalan hutan yang sengaja tidak ditebang, trus melesat ke barat lewat atas pepohonan, tiga depa diatas sang Mpu bertengger diatas dededaunan kelapa yang tegak keatas.
Mpu Bhayangkari segera menjejakkan salah satu kakinya ke pelepah kelapa yang diinjaknya, sementara pelepah itu mengayun kembali ke asalnya sang Mpu Bhayangkari sudah lenyap kebarat mengejar dua orang berilmu tinggi yang mencurigakan itu. Dari Ranting pepohonan yang masih bergerak aneh Mpu Bhayangkari tahu persis jejak para pejalan malam yang mencurigakan ini. Ternyata dua pejalan malam itu lenyap di rumpun bambo kuning yang tumbuh di dalam halaman rumah Ra Tanca, tabib kepercayaan sang Kalagemet yang kini adalah Mahaprabhu Jayanegara. 
Kejadian itu tepat tiga hari sesudah Lumajang jatuh dan raja Prabhunata Dewarajasasinghanambi gugur dalam peperangan dalam upaya menembus kepungan pasukan dari Kadiri, yang dipimpin langsung oleh Sang Mahaprabu Jayanegara. Merpati pos belum datang dari pasukan penyerbu ini ke Majapahit, jadi seluruh Wilwatiktapura belum mengerti akan kemenangan Rajanya, termasuk Mpu Mada. 
Mpu Lurah Bhayangkari merenung di kesunyian dedaunan pokok kelapa, ada hubungan apa gerangan antara Kelabang Kuti dan Ra Tanca, sehingga Kelabang Kuti sampai mengutus dua orang berilmu tinggi ini mengunjungi secara rahasia di kegelapan malam ? 
Orang yang terkemuka dikalangan  pergaulan Petinggi Narapraja Majapahit, tabib pribadi Mahaprabhu Jayanrgara, yang bisa keluar masuk peradauan Mahaprabhu yang masih bujangan ini Sang Mpu Bhayangkari memutuskan untuk balik pulang ke Istananya, dekat Wantilan Agung secepat angin puyuh hanya menyisakan dedaunan kelapa yang dilewatinya kembali ke bentuk semula. 
Setelah membersihkan diri dengan air hangat yang berasal dari tempayan besar yang diletakkan diatas api tumang  untuk memanaskannya siang malam, supaya sang Mahapatih pergunakan setiap waktu dengan mengalirkannya ke kulah pemandian yang terbuat dari batu pualam hadiah Kaisar Tiongkok, sebagai balasan dari kiriman hadiah kayu cendana kayu gaharu yang di China sangat dihargai tinggi. Mpu Mada mengeringkan dirinya mengeringkan rambutnyayang sudah mulai beruban, mengenakan jubah kebrahmanan dan langsung masuk Sanggar Pemujaan, 
Sebagaimana kebiasaan kaum Brahmana. Dalam benaknya masih terlekat pikiran ada hubungan apa antara tokoh yang meragukan seperti Kalabang Kuti dengan Ra Tanca, seorang Tabib terhormat di Wilwatiktapura, berkat kedekatannya dengan Sribaginda Jayawardhana, sebagai tabib pribadi Raja.
Dalam Samadhi sayup sayub Nampak peta pulau Madura, segera sang empu menyudahi samadhinya, memuja para Pitri, dan berangkat ke peraduannya sudah hampir pagi.
Kebetulan hari itu hari Anggoro Kliwon, hari penghadapan tebatas, Mahaprabhu Jayawardhana dengan Penasihatnya Ibu Suri  Tribhuaneswari, putri Narendraduhita, Jayendra, Gayatri, dan Lurah Bhayangkari mpu Mada. Senyampang tidak dihadiri oleh Sang Mahabrabhu Jayanegara karena masih memimpin penyerbuan ke Lamajang. Sayangnya tidak dihadiri oleh dua adik lelaki empat bersaudari ini, seolah olah olah mereka lagi bercengkerma perkumpul para pendiri Majapahit, yang  sudah berkurang satu Raden Wijaya. 
Di pertemuan istimewa itu Mpu Mada sebagai   Lurah Bhayangkari Kerajaan menceriterakan sambil merenung, ada hubungangan apa antara tokoh hitam Kelabang Kuti dengan Ra Tanca, orang dekat putra mereka sang Kalagemet. Mendadak Putri Gayatri seperti biasanya menghubungkan naman Ra Tanca dengan Lora Tanca, artinya panggilan Ra adalah singkatan dari Lora, panggilan kehormatan orang Madura pada Pemimpinnya, Apa Ra Tanca orang Madura ?. Selanjutnya sang Putri Gayatri mengingatkan saudari saudarinya bahwa sewaktu lari dari Pakuwon Puwosari, ada dua emban yang ikut, salah satunya diperisteri oleh Prajurit penamping Raja yang sudah meninggal. Dia sering mendengarkan gossip dari para emban dan wanita Kedhaton Sumenep, barangkali ada hubungan dengan Lora Tanca, maka perlu untuk Mpu Mada mampir ke Kaputren menemui emban itu, menanyakan hal ihwal mengenai Ra Tanca, secara smbil lalu diatara canda, agar tidak mencurigakan.
Betapa terkejutnya Lurah Bhayangkari dan putri Gayatri, Si Emban yang setia ini langsung saja menceriterakan bahwa menurut gunjingan rahasia para wanita istana Sumenep, Rahadyan Wraha Nambi adalah putra Ra Tanca, yang diambil oleh Permaisuri Aria Wiraraja semenjak bayi kerena sang putri tidak punya anak laki laki,  sedangkan Lora Tanca adalah sepupu dari ibu lain dari istri  Aria Wiraraja yang pertama. 
Mendengar uraian yang didengar oleh  Putri Gayatri dan Lurah Bhayangkari, menutupi pengetahuan mengejutkan ini dengan canda seadanya kepada si Emban Tua ini, dan mereka berdua segera meniggalkan emperan dapur istana. Lurah Bhayangkari merasa menelan duri di tenggorokannya dan putri Gayatri tidak bisa berucap sampai beberapa saat. Aka  kesulitan besar menjaga keselamatan Prabhunata Jayawardhana untuk memisahkan baliau dari tabib pribadinya. 
Hal ini perlu segera dilakukan sebelum Sang Mahaprabhu pulang dari pernyerbuan ke Lamajang dengan berhasil atau tidak, kok sampai terlanjur memerangi putra Ra Tanca. Mahaprabhu Jayanegara ada dalam bahaya besar, tanpa putri Gayatri mampu memberi tahu kakaknya Ibu Kandung dari Kalagemet. 
Keadaan saling hubungan dianatara Pelindung Kerajaan Lingkaran dalam Kedaton Majapahit , sangat tegang, dalam usahanya menjauhkan Mahaprabhu Jayanegara dari tabib Pribadinya, Ra Tanca. Atas perintah Tetua Kerajaan, Ibu Suri, dan tiga saudarinya, Ra Tanca diutus mengobati Ibu Bupati Wrasaba yang mendadak tidak bisa bicara dan tangan kakinya  lumpuh, beliau sahabat kental mereka. Tidak perlu tergesa gesa pulang ke Wilwatiktapura sebelum si sakit menunjukkan kemajuan. 
Tiga hari setelah Ra Tanca berangkat ke Wirasabha, baru ada kabar dari merpati pos yang dibawa pasukan Kadiri Bang Kulon ada empat puluh ekor dikirim ke Kadiri, dari Kadiri segera lain kelompok burung merpati pos dikirim ke Wilwatiktapura yang bisa mencapaWilwatiktapura hanya lima, satu diantarnya luka parah akibat serangan burung pemangsa, dapat diduga sepanjang jalan dari Lamajang ke Kadiri disambung dengan lain sarang merpati pos ke Wilwatiktapura lewat pegunungan dan hutan rimba yang penuh dengan burung pemangsa, jadi sudah untung bahwa lima burung dengan pesan yang sama  bisa kembali, bahwa Lamajang jatuh dan Rajanya gugur dalam pertempuran. 
Belum sampai ada upaya yang tepat untuk memisahkan Baginda dari Ra Tanca, sang Tabib pulang ke Wilwatiktapura dengan diam diam. Hari itu juga melakukan pembunuhan terhadap Mahaprabhu Jayanegara. Ra Tanca menyerahkan diri kepada Bhayangkari yang menjaga Raja, kabar Raja dibunuh segera dilaporkan kepada Ibu Suri, oleh Lurah Bhayangkari, dalam detik itu seluruh Kerajaan telah tau bahwa Mahaprbhu Jayanegara telah dibunuh oleh Ra Tanca tabib pribadhi belau. Ibu Suri Tribuaniswari, jatuh sakit berat disertai pingsan selam dua hari. Putri Gayatri masuk ke Biara jadi Bhiksuni. Tahta diberikan kepada Putri sulung  Gayatri yang bergelar Prabhustri Teribhuanatunggadewi. 
Dialah yang mengangkat Mpu Gajah Mada menjadi Mahamantri, Cajah  mada mengucapkan sumpahnya yang terkenal “Sumpah Palapa” untuk mengobati luka bathin yang dalam, dan menyalahkan diri sendiri, bahwa seorang yang berjiwa Brahmana seperti dia, sebenarnya  tidak cocok untuk jadi lurah Bhayangkari. Karena berdasarkan keterangan yang belum dicocokan dengan pemeriksaan terhadap si tersangka sendiri, orang tidak bisa dihukum berdasarkan keterangan orang lain, tanpa pengakuan sendiri dari si tersangka dari hasil pemeriksaan. Mpu Mada sangat menyesal kanapa tidak segera mengambil tindakan yang keras misalnya penahanan, atau membunuh diam diam  Lora Tanca, berdasarkan keterangang Emban Tua dari Purwosari itu, bahwa dia adalah Bapak yang sebenarnya dari Wraha Nambi, bukan Sang Aria Wiraraja. 
Ini demi keamanan Sang Raja. Nasi sudah menjadi bubur, Keluarga Wijaya menderita dukacita hebat, tapi Wilwatiktapura sudah menjadi Negara besar, menjamin ketertiban dan nafkah seluruh wilayahnya yang sangat besar dan berpenduduk sangat banyak, Wangsa Kartarajasa harus mempertahankan tahta agar Negara tidak mengalami kekacauan. 
Mpu Mada merasa harusmenjalankan kewajibannya untuk mempertahankan Negara ini, maka “Sumpah Palapa” diucapkan: Isun  hamukti palapa….. amun huwus kalah ring Nusantara………….*)

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More