Sayang Sama Cucu

Sayang Sama Cucu
Saya sama Cucu-cucu: Ian dan Kaila

Jumat, 16 Desember 2016

CIRI CIRI ORANG DEWASA YANG POTENSIAL JADI KORUPTOR

CIRI CIRI ORANG DEWASA YANG POTENSIAL BAKAL JADI KORUPTOR.

In bukan memaparkan stereotype, apalagi mengajarkan sara, hanya untuk menandai calon koruptor sehingga tidak bisa mencederai demokrasi, sebab dia akan  terpilih jadi pemimpin. Sebab dia mempunyai kharisma lain, yang umum disukai masyarakat. Entah dia ganteng / cantik entah di bisa acting yang lucu atau melawak, entah pinter mengutip pasal pasal  , pokoknya bukan kecakapan yang dibutuhkan untuk melayani masyarakat. Kan akan mengecewakan ? Sementara golongan selain yang ini dikesampingkan sejenak, sebab koruptor dengan motif menggunakan kesempatan kayak pegawai pajak. bangsaya Gayus pegawai pajak, pegawai bea cukai juga bisa memproses dokumen import abal abal  tanpa ada barang apapun yang di-import,  gunannya banyak, salah satunya mencuci uang. pegawai BPN, Polisi di Polsek, Pengamanan Kelautan, mereka ini kayak keong, begitu dikasih kesempatan ya makan habis, tapi masih penakut, takut dipecat dari pelayanan  publik. 

Tapi type yang nyalon Bupati ? Nyalon anggauta DPR, yang ini disapu paling sulit sebab yang ditentengnya sekaligus  power dari Partai dari rakyat. Perkaranya pasti suap, menerima dan memberi, bernilai milyaran bahkan trilunan. Sebab mereka yang membuat aturan, nantinya. Ada yang sangat peka untuk mencium adanya perlindung orang kuat diatas hukum, kayak Andi Merpati, yang selamat selamat saja karena dilindungi kartu As. 

Pada tulisan di blog ini sebelumnya, saya kemukakan pada anda bahwa perilaku korupt, bukan perilaku yng didasari watak ragawi, akan tetapi lebih diawali dengan watak Jiwa.  Watak korupt didasari oleh tepupukya watak egois, yang dilegalisir dalam waktu yang sangat lama pada epoche feodalisme, watak dari seorang feodal. Dia tidak merasa salah  apapun menggunakan kepentingan  umum menjadi kepentingan pribadi, bahkan merasa bahwa pribadinya wajar jadi lebih penting dari sekedar umum rakyat biasa oleh asal usulnya, meskipun hanya bermuka tembem dan berperut besar, meskipun mudanya mungkin cantik dan ganteng, sebagai ciri derajadnya kayak Datuk Datuk kita, kayak cendekiawan kitab kitab kita, yang malah kharismatik tersembunyikan dibalik bajunya, yang luas leluasa a'la Dimas Kanjeng.

1. Biasanya berwajah dan pemampilan ganteng atau cantik, mempuyai ginealogi yang dibanggakan,  orang orang yang terpandang dari berbagai bidang, juga bidang keagamaan seperti ex Bupati Garut Aceng yang anaknya Ajengan Kaya,  mngawini gadis hanya uutuk semalam, tanpa merasa risih, Ratu Atut Khosiah putri Ajengan Ternama dikelilingi para jawara Banten, yang bisa menelan Pabrik Baja Cilegon, Putra Putri General Suharto, beliau membantah masih keturunan Sultan Jogja, tapi tidak pernah menunjukkan dengan jelas orang tuanya sendiri, hanya menunjukkan bahwa dia bisa mengangkat dirinya jadi Sultan Indonesia dengan kekuatan sendiri, seperti Ken Arok. Bupati Bengkalan Fuad Amin Imron, darah biru a'la NU cicit Hadratush Syekh Kiai Cholil bangkalan.

2. Suka sekali atribut atribut dan pakaian yang aneh, menandakan dirinya lain dari rakyat biasa,  bahkan sepatu kets, yang dikenakan di acara acara resmi menjadikan si feodal bangga. Bahkan banyak penipu juga mengunakan atribut atribut ini seperti Dimas Kanjeng, Syeh Puji dsb

4 Membawakan diri selalu tinggi, siapapun yang bersalaman dengan dia selau membongkokkna diri, sperti Pak Harto, yang tidak pernah mengijinkan orang bersalaman dengan jarak dekat, telapaknya dipasang dibawah pusar. Sehingga seorang Kanwil bisa dengan bangganya berfoto dengan dia membungkuk bungkuk, dipamerkan keseluruh puaknya, dulu, bukan sekarang, anaknya malu.

5. Suka sekali gelar gelar apa saja dan menuntut orang dekatnya menyapa dia selalu memakai gelarya, apa itu Gusti, atau Bandoro, atau Cok ( dari Cokorde), Jero, atau Umbu, Daeng Puang dsb.

6. Royal menggunakan uang untuk keperluan yang tidak penting. Hanya untuk pamer. Apalagi barang pusaka.

7. Gemar nmenerima persembahan.

Semakin di pelosok atau udik tempat anda bertemu dengan para feodal puak dan kampong, semakin tengik mereka. Saya banyak menemukan exemplar macam ini di Bali pelosok, waktu penyuluhan pertanian.


Generasi mudanya,  mereka mengobral uang, mebuat geng, masuk jadi angauta partai, dan sering memenangkan pemilihan Bupati dan kemudian mereka pesta sabu, kan anda ketipu ?  Jangan lihat anaknya, lihat bapaknya, pasti ada ciri ciri diatas.*)

0 comments:

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More