Sayang Sama Cucu

Sayang Sama Cucu
Saya sama Cucu-cucu: Ian dan Kaila

Kamis, 08 Desember 2016

PENDIDIKAN TINGGI DI BEKAS NEGARA PARA BEDEBAH

VPENDIDIKAN TINGGI DI BEKAS NEGARA PARA BEDEBAH

Pada akhir kakuasaan Orde Baru,  tahun ‘ 1990 yang lalu,  ada ratusan Perguruan tinggi Negeri dan Swasta bermunculan seperti jamur dimusim hujan.
Azas ekonomi merespon kesempatan mengisi kebutuhan lanjutan dari pendidikan menengah atas, sebagai reaksi terhadap  sistim pembangunan pendidikan yang tidak sinchron dengan penyediaan kebutuhan tenaga pemutar roda ekonomi. Baik jenis keahlian maupun jumlahnya..
Lha ekonominya sendiri pada era Orde Baru dibangun acak acakan oleh para teknokratnya. Asal mencari keuntungan  secepat cepatnya saja.

Karena itu tidak cukup lapangan kerja buat lulusan Sekolah Menengah Atas, sedangkan sekolah kejuruan mahal dan langka ( sekarang mulai disadari) atau  sudah punah sampai sekarang di-era Reformasi, seperti Sekolah Pertanian Menengah Atas (SPMA) 
Sistim pembangunan Negara ini adalah memerataan  pertumbuhan ekonomi diantara rimba raya business diluar sistim yang sudah menciptakan kekuasaan bayangan dengan organisasi semacam kartel diluar hukum disemua bidang, kekuasannya dibidang ekonomi terapan sangatlah  besar.

Sedangkan cara diluar sistim ternyata hanya  merunut hilir industri Negara Maju

stry Negara Maju, hilir idustrinya adalah serat sintetis/filament  dan plastic yang sangat banyak macamnya, Pemodal lantas mendirikan ratusan pemintalan Pertenunan dan pencetakan barang plastic, ( dengan exstruder dan casting) dan berbagai alas kaki, sepatu.  terdukung oleh instink “me too” dari Pemodal.

Begitu harga bahan baku dari serat sintetis dan plastic, minyak bumi meroket sampai 130 US  dollar/barrel lebih. Dalam jangka beberapa lama semua industri hilirnya sangat kesulitan menjual produk jadi.. Ekonomi tanpa perencanaan sangat tidak cocok dengan ekonomi pemerataan dalam sistim.

Satu upaya pemerataan pembangunan Orde Baru yang tanpa pola, tanpa keberpihak-an kepada kepentingan umum, tanpa rencana penyerapan dan penempatan tenaga kerja yang tumbuh dengan cepat,  karena hanya menuruti trend pemodal, yang juga sangat nengandalkan guangxi, hubungan kolusi dengan bank Pemerintah, Penjabat politik dan duit dbawah bantal.  

Itulah sebabnya products pendidikan dan pengajaran generasi muda jadi berantakan. Mereka tidak mendapatkan lapangan kerja yang semestinya, yang dapat menjamin kehidupan mandiri.

Maka untuk menampung lulusan SMU yang mbludak, dibukalah kesempatan swasta mendirikan Perguruan Tinggi dengan segenap Fakultasnya dari D2, D3, S1, S2, sampai S3. Jangan sampai pelajar lulusan SMU mbludak jadi pengangguran yang explosive.
Penyimpangan upaya Orde Baru ini menjadi nyata, melihat para Bangkir dengan dorongan bank Central dengan royal memberikan kredit buat mendirikan Perguruan Tinggi, lanjutan dari SMU. 
Gedung megah mahasiwa berjubel, meskipun ROI( returm on investment) gedung dan peralatan kuliah harus dibayar standard 20 %.( atau lima tahun uang kembali ke bank dengan bunganya). Berhenti sampai gedung saja bangku dan papan tulis, malah OHP, alat alat audio- video ya tidak optimum dipergunakan.
 Laboratorium laboratorium hanya ditingkat pengenalan ilmu dasar yang sering di foto promosi, buat mahasiswa baru.
Digunakan juga untuk pembenaran “mark up” beaya pembangunan seluruh Universitas dari bank, uangnya untuk tujuan lain, dengan keuntungan yang instant dibidang perdagangan, kan otoritas Yayasan ?
Saya juga pernah jadi pengajar di fakultas Pertanian satu Universitas Swasta, ternyata membangun Laboratorium penunjang ilmu ilmu lanjutan, misalnya ilmu Geology, juga memerlukan asisten dan Pimpinan Lab yang kreatip dan profesional, mengoleksi mineral dan bebatuan, perlu beaya dan waktu.. Lab, Mekanisasi Pertanian, perlu contoh mesin penggerak listrik, mesin internal combustion dengan BBM bensin dan diesel, yang khusus buat mempertontonkan mekanismenya. Belum implement untuk pengolahan tanah, pegendalian gulma, managemen kebasahan tanah dan panen. Kenyataannya ya tidak ada, begitu pula alat peragaan motor listrik, macam macam pompa air dan penggunaannya, seharusnya dikoleksi oleh kafedra Mekanisasi, meskipun barang rusak dari pembuangan.

Kenyataannya, beaya dikeluarkan untuk mendirikan satu Fakultas, sebagian besar ya yayasan yang memutar dilain usaha keuangan..
Apa yang terjadi, beaya kuliah berlomba tinggi, pembayaran para lecturers, dosen dan asisten sangat minim, karena cicilan GEDUNG  dan KEMAKMURAN YAYASAN  MENJADI TUJUAN NOMER SATU, karena sebenarnya ya itulah tujuannya.

Tidak ada idealisme sama sekali. Unversitas dimana saya mengajar ( saya M Sc yang diakui sebagai Insinyur Petanian oleh Departemen PTIP tahun 1965), Universitas dimana saya mengajar didirikan oleh seorang Kolonel purnawirawan, Ketua  Golkar Propinsi, saban bulan ke Jakarta untuk jaga kontak dengan para boss, plane ticket dan hotel berbintang mengambil dana Unversitas, sedang honor saya hanya 80 ribu rupiah karena ngajar sekali seminggu, semester ganjil, hitung hitung pengabdian. Saya dapat gaji dari Perusahaan swasta, produsen pestisida, sebagai petugas promoter dan after sales service, produk insektisidanya di Bimas/Inmas tanaman pangan dan perkebunan.

Sekarang, jamannya reformasi ya masih tetap begitu.
Masak satu lecturer lulusan S2 menjabat jadi Pembantu Dekan 3,  rumahnya di Bogor, memberikan kuliah di  Universitas dengan gedung megah dan mahasiswanya  banyak bermobil, kok honornya hanya 1.juta 500 ribu rupiah saja per bulan (waktu mengajar thok)? Lebih rendah dari gaji Pembantu rumah tangga. Alasannya dia toh tidak memberi kuliah setiap hari di Universitas yang sama ? 
Ini kan sangat konyol, karena sekarang satu Dosen. Lecturer harus punya laptop/ computer dengan server yang handal, yang harga langganannya  Rp 400 000 rupiah per bulan, supaya mudah mendapat akses di internet. 
Apa saya di sini harus menerangkan gunanya internet bagi seorang Dosen ? 
 Honorarium yang besar hanya dikonsentrasikan untuk Profesor yang diangkat oleh Presiden Orde   Baru, Jendral Suharto, dan selanjutnya untuk meningkatkan gengsi Universitas. Juga lambang kepercayaan Orde Baru, pada  Universitas ini. Apa sekarang masih diperlukan ?

Konyolnya, sampaii sekarang orang kepercayaan Orde Baru yang berguna untuk mengendalikan mahasiswa masih becokol sebagai lecturers (jamak), bukan menjabarkan idealisme dan kejujuran ilmiah., sebagai falsafah bertatatap muka dengan mahasiswanya, bila yang ditangani ilmu social, tugas dari Orde Baru bekas Bossnya masih bisa disamarkan, tapi bila dia mengajar ilmu ilmu exacta, mereka kehilangan arah, kayak pedagang kaki lima, lantas membuka semua jurusan yang aneh aneh.

Masakan  konon, Institut Pendidikan yang paling tua di Indonesia, didirikan semenjak zaman Penjajahan, alumninya telah membuka Perkebunan perkebuna besar di Indonesia, mendukung pertanian rakyat, jadi PNS shingga mampu panen yang menguntungkan dan jadi sumber pangan seluruh Negara, seleksionisnya telah menciptakan cultivar cultivar unggul semua jenis tanaman budidaya kita. Sosiologistnya telah menciptakan sistim bimas/Inmas, selama lebih dari 20 tahun pemerintaha Jendral Suharto. Sayang untuk jenis budidaya sayuran dan buah buahan yang sangat dinamis, cultivar cultivar ciptaan mereka  selalu kalah dengan benih atau bibit dari Thailand !!.   Profesornya langganan diundang ke Amerika, e. e kok malah membuka jurusan Komunikasi, mungkin mendatang juga Sinematografi, hanya untuk menanggok uang pemasukan dari mahasiswa baru. Kapan berakhirnya kegaluan ini ? ( kegalauan atu kegilaan ?)

Supaya tahu saja, banyak karya ilmiah mahasiswanya yang hanya copy paste dari sumber  sumber di internet yang disembunyikan, disambung sambung begitu saja sampai setebal ratusan halaman, alangkah fatalnya bila mahasiswa ini lulus dengan predikat plagiat ini ketahuan ? Sedang computer Dosen pembimbingnya lagi ngadat tidak sempurna koneksinya dengan internet karena hanya membayar Rp 100. 000 per bulan, rumahnya di desa, tidak dilewatan signal ? dari gaji yang hanya sebesar gaji pembantu rumah tangga. Bila dia rajin lebih baik ngeteng ke Universitas lain sepanjang jalur  KA dan bus Bogor Jakarta, lha kapan checking pekerjaan mahasiswanya ? Pikir. Ternyata satu Universitas yang menyandang brand name Founding Father dari Negeri ini, soal uang hanya diatur oleh geng Yayasan,  bersekongkol dengan Penjabat yang berwenang untuk menggencet Pengajar, naudzubillah minzalik !!! 
Jadi kualitas mahasiswa dan kuliahnya ya sangat tergantung dari nurani Dosennya, seperti Perguruan Taman Siswa jaman Penjajahan Belanda dulu, bisa dimengerti banyak Dosen dan Lecturer yang tidak kuat. 
Kalaupun ada lecturer yang kuat pasti idealismenya sangat tinggi, atau sebaliknya.  Dan ini merata diseluruh dunia pendidikan tinggi, Akibatnya silahkan menduga sendiri. Bahwa idealismelah yang sangat ditakuti oleh rezim Orde Baru, pingsan, maka kloplah dengan keinginan Orde Baru., sampai sekarang Orde Reformasi ya begitu..
Ternyata yang mereformasi diri hanya tingkat Menteri dan Dirjen, banyak memakai hem putih itu saja, bahkan sampai tingkat Direktur saja masih diragukan, apalagi bawahannya sampai ke tingkat Propinsi sampai lurah Desa, apa sistim yang mapan yang mereka pakai dari zaman Orde Baru yang nikmat ini mereka dengan sukarela mau mengganti dengan sistim pelayanan kepada umum ? Dengan semangat idealisme bernegara ?    Mereka toh dididik dalam suasana phragmatisme Orde baru, hanya cari uang ?   Pikir/

Dan apa gunanya gedung megah, jadi tempat singgah alien dengan piring terbangnya ? Masyarakat nanti  kecuali membayar cicilan gedung megah, mengeluaran siluman itu saja. Apa lagi para Profesornya bekas Pejabat tinggi Orde Baru yang dengan royal dihadiahkan titel Profesor oleh Presiden Orde Baru, Jendral Suharto, sedangkan dia hanya membayar untuk karya ilmiahnya tidak seberapa ?

Honor hanya di konsentrasikan kepada para Pofesor yang diangkat oleh Presiden Orde Baru ! Bukan oleh prestasi penilitian ilmiah saja, maka banyak Doktor tanpa idealisme  bermunculan entah dalam bidang apa dan karya ilmu nya apa ?  Kecuali gelar Doctor Honoris Causa kepada Menteri Perikanan  Ibu Susi, sangat sesuai, bravo Universitas Diponegoro*)


0 comments:

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More