Sayang Sama Cucu

Sayang Sama Cucu
Saya sama Cucu-cucu: Ian dan Kaila

Rabu, 13 Juni 2018

MEMPELAJARI ILMU FILSAFAT

SEHARUSNYA MEMPELAJARI FALSAFAH ITU DENGAN CARA YANG SAMA, SEPERTI CARA MEMPELAJARI AGAMA.

MH Ainun Najib menggambarkan dengan gamblang pada ceramahnya yang publikasikan di You tube, bahwa pelajaran Agama dari Nabi utusan Allah yang paling tua hingga pelajaran dari Allah lewat Nabi penutup, Rasulullah Muhammad salallahu allaihi wassalam, adalah sebagai kedaan tahap tahap pertumbuhan buah kelapa. Selama itu satu yang tak pernah berubah bahwa ALLAH , tunggal, menguasai segala alam tidak ada yang menyamai, tidak terbayangkan oleh manusia, tidak beranak dan di-peranakkan, tunggal dan baqa.
Sesudah bunga kelapa disarikan maka buah akan tumbuh menjadi pentil kelapa dalam bahasa Jawa namanya “ bluluk” masih sangat kecil sebesar kepalan bayi, artinya pelajaran bagi manusia purba masih sangat sederhana mengenai pengaturan hidup manusia – Kemudian tumbuh entah berapa waktunya  menjadi “cengkir” ( bhs Jawa)  sudah agak besar, sebesar rongga dua telapak tangan orang dewasa yang ditelangkupkan, dengan ujung jari jemari tangan kanan kiri dipertemukan,  pelajaran agama dari Nabi kuno ini juga masih sederhana, tapi sudah mencakup banyak hal mengenai kehidupan bermasyarakat dengan sesama ciptaan Allah. Yang berikutnya setelah entah berapa abad, pelajaran Nabi zaman tengah ini juga masih sederhana,  hanya mu’jizatnya sangat demonstrative karena itulah yang dimengeti oleh umat manusia zaman itu – Baru pada zaman yang relatip muda pertumbuhan pelajaran Agama itu seperti keadaannya “degan” atau kelapa muda, yang sudah besar, sudah lengkap dengan kulit ari yang mengkilat, sabut yang masih lunak dan mengandung air, tempurung yang masih lunak, disitu lapisan dalamnya ada daging buah yang masih lunak, dan air kelapa muda yang rasanya sangat nikmat, dan steril lagi, tapi embryo kelapa belum sempurna. Nah yang di bekalkan pada Nabi terakhir, Nabi Penutup – Rasulullah Muhammad salallahu allaihi wassalam, diumpamakan sebagai buah kelapa yang sudah tua, lengkap dengan kulit ari diluar sendiri yang merupakan pelindung dari sinar matahari dan kekeringan, karena relatip tidak tembus air, mengkilat, dibawahnya sabut kelapa lapisan serat dan gabus dirangkai dengan rongga rongga udara diantara gabus yang merupakan lapisan sabut kelapa untuk mengapung diair laut berbulan bulan, Bagian didalamnya ada tempurung sekeras batu mengelilingi daging buah kelapa yang berisi bekal makanan buat embryo tumbuhan  kelapa, sudah siap tumbuh dipantai dengan iklim yang cocok. Masih ada air kelapa yang diperlukan oleh mebryio untuk mendorong akar benih kelapa keluar dari tempurung lewat bakal lubang yang sudah tersedia, menembus tepurung dan  lapisan sabut, yang sudah lapuk kulit arinya, karena tidak berguna lagi, sudah mengisap air hujan dari sabut yang jadi basah, (orang teknik mesin tahu persis kekuatan hidrolis akar yang bisa menghacurkan tempurung )  guna menyerap hara tanah bersama mencari air lebih banyak untuk kehidupan embryo dan pertumbuhannya.
Bila dirunut, pekerjaan embryo kelapa ini sudah sangat banyak menggunakan cadangan makanan demi kerja  berat  setahap demi setahap menggunakan persediaan dalam buah kelapa tua, untuk keluar dari tempurung yang keras, nyaris tidak melapuk dalam perjalanan yang panjang berbulan bulan, Sang embryo sudah tidak peduli lagi  dengan masa  bluluk dan masa cengkir ditimang pohon induk dengan anging sepoi, indahnya cengkir yang lagi sibuk membesarkan badannya dan nikmatnya air kelapa muda, wong sang embryo sudah diberi makan sendiri oleh sang induk. Begitu buah jatuh ke pasir dipinggir pantai, karena bulat menggelinding ke pantai yang miring ke laut, dasapu ombak dan dihanyutkan entah ke pantai mana, berbulan bulan dengan perlindungan kulit ari, sabut dan tempurung sebagai  bekal pelindung sunnatullah bekal dari pohon induk kelapa. Embryo berusaha sendiri dari resources yang ada, ada kulit ari tapi segera lapuk dan tembus air hujan, Ada sabut kelapa yang basah mengandung air hujan, ada tempurung,   air kalapa, dan daging buah kelapa layaknya empat malaikat yang diperintahkan Allah untuk menyertai bayi manusia sampai dipanggil kembali ke hadiratNya,
Mestinya mempelajari falsafah ya mengerti pertumbuhan ilmu falsafah ya seperti petumbuhan dari bluluk ke kelapa tua yang siap tumbuh dimana mana pantai yang cocok.
Ilmuwan falsafah zaman pra Junani – zaman masyarakat Tiongkok dan India, zaman Junani kuno, istilahnya masih bluluk. Falsafah Junani dan Romawi adalah cengkir, dan zaman  Renaissance adalah degan,  yang dipelajari oleh Barat, terutama pada zaman moderen ini, adalah falsafah dari bluluk ke cengkir dan ke degan, dizaman moderen ini dibuat panjang lebar dan memabokkan, dengan bluluk, cengkir dan degan.  Tapi telah ditukangi ilmuwan kapitalis dan kolonialis mereka, sehingga ndak ada gunanya bagi embryo untuk menembus keluar dari tempurung.
Sedankan sesudah Islam, Falsafah sudah ke tahap buah kelapa tua yang embryonya sudah siap tumbuh. 
Menurut Doktor Doktor ilmu pengetehuan ilmu sosial Dr Dawam Raharjo, Dr Kuntowijoyo alm, Dr Adian Husaini dan MH Ainun Najib yang belajar dari ratusan Kiai Pondok yang ternama, dari Islam, otodidak dalam ilmu moderen, siap menggunakan ilmu Ontology dan Epistemology untuk mengislamkan ilmu.  Bukan menimang timang ‘bluluk” kelapa, bukan  mengelus elus “cengkir” yang adhiluhung, nampak segar dan indah, bukan berhenti menikmati air kelapa yang segar manis. Seperti yang sekarang dijajakan oleh kebudayaan Barat, untuk memabokkan beneran pelajar ilmu falsafah, supaya pelajaran ilmu benda nya kacau, atau malah benci pada ilmu benda, jadi tetap blo’on. Dengan belajar illmu falsafah cara ini menjadi tidak mengerti kenapa dia kalah terus, dan Neo libaralis, dan neo kapitalis menang terus.
Tapi embrio jiwa, tumbuh layaknya kelapa tua  komplit, mempelajari embryo kelapa bagaimana dia bisa menembus batok kelapa dengan perakaran-nya sendiri, mampir sebentar di sabutnya sendiri  untuk mengambil air hujan yang sudah deserap disana, karena sabut sudah jadi spon air hujan sebab kulit arinya sudah melapuk, keluar dari lapisan sabut, mengexplorasi dan mengexploitasi alam, membesarkah embryo kelapa jadi bibit yang  tumbuh jadi pohon kelapa. Bukan bikin pusing  scholar dengan ilmu falsafah uraiannya orang Barat. Langsung saja belajar falsafah ilmu benda,  ilmu mnggunakan daging kelapa tua – supaya pelajaran ilmu benda di cabang cabang ilmunya jadi sederhana dan mudah – tidak ada dokter di hukum, karena sulitnya menetapkan prosede resmi pengobatan, tidak ada jembatan runtuh karena scaffoldingnya dilepas, tidak ada ilmu pelayaran dan penerbangan jadi ilmu disiplin buta, untuk serdadu berperang, tidak ada ilmu agama jadi ilmu menghafal atau ilmu ritual, tidak ada ilmu sejarah manusia yang mengambang di awang awang, tapi menginjak bhumi, bertumpu pada cara produksi kebutuhan hidupnya.
Islam, menganjurkan secara terang dan jelas untuk mencari dunia ( harta benda) seperti tidak akan mati, tapi mendanakannya kembali ke masyarakat seperti besuk sudah akan ditinggalkan untuk selamanya. Begitu pentingnya mempelajari ilmu dunia menurut islam – materialisme - ilmu mengenai benda, adalah kelapa tua yang menumbuhkan ilmu kedokteran, ilmu teknik, ilmu matematika, ilmu biologi, pertanian peternakan perikanan farmasi dan kedokteran hewan, ilmu sejarah, ilmu ekonomi, semua ilmu ilmu itu  menyangkut benda benda sebagai dasar. Ontology dan Epistemology,  Ilmu ilmu tersebut diatas adalah sunnatullah. Berarti islam bukan anti benda, anti meterialisme (“mungkur ke-donyo-an” – jawa) mematikan raga  kayak ajaran agama lain – islam tidak mengajarkan untuk ”mungkur kadonyan” tapi menghitung dengan catatan dan membayar pajak dengan menghitung sendiri/ mal, sodakoh, dan zakat. untuk dikembalikan kepada masyarakat. 
Kaum Gereja di Barat menetapkan meterialisme sama dengan ateisme, karena alasan politis yang juga diamini  di kalangan sarjana  ulama Islam di Indonesia sekarang, membuat istilah ini jadi allergen bagi beliau beliau. Gereja di abad renaissance mulai sangat risih terhadap ilmu benda yang menyangkut makhluk hidup teori evolusi makhluk, dalam rangka ilmu biologi, karena bertentangan dengan doktrin Gereja. Jangankan sampai kesitu, wong bumi mengelilingi matahari saja, sangat bikin marah Gereja dan disensor keras pada era itu, karena bertentangan dengan kitab suci Injil.
Sedang islam masih terbuka, mengartikan Adam sebagai manusia pertama yang menurunkan kita semua.   "Adam" satu kata, nama yang belum menentukan Adam itu manusia kayak kita secara semantik bahasa Arab, seperti kata "Ali" yang kita bisa menentukan dia manusia kayak kita, bahkan gendernya lelaki.  Begitulah Kiai Qudratullah dari  Banten, anggauta MPR th 1969,  Adam masih dalam wadag yang halus dari tanah liat Jannah, atau the garden of Eden nurut orang Ingris, kepadaya Allah meniupkan rokh,  Lha turun ke Bumi sudah ada wadag Pithecantropus erectus, 
belum punya rokh hanya jiwa seperti makhluk hidup yang lain. yang lebih kasar, cocok dengan situasi dan kondisi di bumi.  Code DNA/kalam Adam merubah code DNA Pitecanthrupus erectus sehingga berubah jadi Homo sapient. Kan code itu bukan benda bukan energi, di alam benda ada, itu juga bisa dikata kalamullah. jadi bukan bikinan pabrik, bukan dikarang, ditafsir tafsir oleh ilmuwan Biologi.  Jadi Islam betul betul kelapa yang sudah tua,  tidak pantas mempertentangkan doktrinnya dengan ilmu benda, sangat hati hati dalam menetapkan doktrin, tapi sangat melarang riba, melarang perbudakan sesama ummat. melarang berzina. Kafir terhadap Tuhan yang sama dengan manusia.
Kalok materialism ke-bondo-an /  jawa (mengincar incar benda harta/ indonesia), kayak sedagar di Pasar Klewer,  materialistisnya/petungnya /perhitungan bakul di pasar pulau jawa. Inilah istilah yang disalah kaprahkan mengenai arti materialisme – illmu mengenai hal ikhwal benda, yang membuat para santri alergi, termasuk saya, dan para dokter yang menarik fee lewat petugas registrasi diluar ruang periksa, jadi kayak angauta DPR RI penerima suap  lewat sopirnya. Pokoknya dia tidak pernah menerima, karena jijik, tapi mengharapkan. Istilahnya Sultan Batugana waktu masih hidup jadi koruptor kakap, ngeri ngeri sedaaap.
Sedang beliau waktu dikubur di Tonjong Bogor diobrak abrik oleh angin prahara setempat sekitar liang lahatnya dan tenda kursi, kerandanya berantakan, padahal tidak ada heli super berat mendarat disana. bisa dilihat pada tayangan you  tube


Islam menganjurkan balajar ilmu. bahkan untuk belajar sampai ke negeri Cina sekalipun, maksudnya bukan belajar ilmu ukhrowi, tapi ilmu benda. Wajar saja, sebab agama Rasulullah penutup, mengatur benda dunia untuk kemaslahatan ummat, bukan mencari kekuatan adhikodrati, seperti Dimas Kanjeng Taat Pribadi,  menggandakan uang menguasai dunia, Iblis sendiri sudah mengerjakannya dengan sangat berhasil dengan uang kertas yang menguasai dunia US dollar, kerja dsama dengan aka manusia laknat, selalu diinflasikan, tapi pengangguran dccnderung menyusut, umum kuat belanja, hanya di Amerika Serikat.  Dialan tempat uanf mereka laksana emas.
Sudah ditegaskan dalam Islam ilmu adhikodrati atau Ilmu laduni itu karunia Allah tidak bisa diminta tidak bisa dipelajari, bisa dicabut sewaktu waktu. Tapi Islam menunjukkan jalan pulang yang benar seperti yang dikehendai Allah. Bukan jalan orang yang sesat dan jalan orang  yang dimurkai Allah. Akhlak yang benar bukan akhlak orang yang ketakutan hidup miskin, kaya terus sampai mati sampai anak cucunya – lantas KKN dan dagang ihtikar,  kan cuma jadi tanah, meskipun dikubur  kota Singapore sana ? *)

0 comments:

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More