Sayang Sama Cucu

Sayang Sama Cucu
Saya sama Cucu-cucu: Ian dan Kaila

Selasa, 17 November 2015

INTERPRETASI SEJARAH OLEH SARJANA PEERTANIAN "PECINTA TANAH AIR"

1 INTERMEZO, INTERPRETASI SEJARAH  BUKAN OLEH SEJARAWAN TAPI  OLEH SARJANA PERTANIAN  PECINTA TANAH  AIR’.
8.17 PM  SUBAGYO KOESNO  2 COMMENTS

Diberitakan dalam sejarah tanah Jawa yang secara resmi  lolos dari incaran  mesin Penjajahan, bahwa Sinuwun PAKUBUWONO  ke V  (memerintah 1820 -1823 ) dari Surakarta sangat terpelajar dalam sastra Jawa yang memerintahkan menghimpun buku “Serat Centini ”dan mestinya mempunyai waktu yang banyak meneliti sejarah dari peninggalan sejarah autentik kerajaan kerajaan Jawa sebelumnya  ( beliau lahir th1765 dan wafat th 1823),  dalam jangkauannya berbagai  pusaka yang bisa leluasa dia pelajari. Beliau terbukti telah mumpuni menjadi empu keris,  anehnya mengambil bahan dari serpihan meriam kecil yang telah rusak pecah, entah dari mana namanya Kiai Guntur Geni ( Konon meriam kecil ini dipakai untuk berperang melawan pemberontakan China di Kartasura tahun 1740 dan pecah, sisanya masih disimpan di khazanah pusaka keraton.).
  Konon, karya sang Sinuwun yang sangat dikagumi dikalangan empu Istana, diberi nama keris Kiai Kaget, mengherankan karena eloknya.  Menurut saya, sang Susuhuhan yang terpelajar ini mencari asal usul sejarah "meriam" kecil yang pecah ini, maka beliau menempa pecahan besi "meriam" ini menjadi keris, hasil daur ulang dari pusaka yang asal usulnya sangat misterius dan mestinya juga mempunyai daya tarik bagi beliau.
 Apabila keris yang didapat dari daur ulang besi   "meriam" kecil mesterius ini, maka bila dibandingkan dengan keris pusaka peninggalan Majapait asli yang ada di Keraton Surakarta,sama,
Maka dapat dipastikan pembuatan pusaka istimewa “meriam lantakan” ( mungkin nama asli dari meriam adalah kalantaka - karena suluk janturan para dhalang wayang kulit selalu menyebut suara gemuruh dari "kalantaka" - pada zaman berikutnya  kok berubah jadi "meriam kalntaka"  rupanya ki dhalang khawatir orang tidak mengerti arti "kalantaka" trnapa diawali dengan kata "meriam" yang nyata punya orang Portugis atau Kompeni belanda) adalah peninggalan  kerajaan yang telah lama lampau ini dan dicetak/ dituang pada jaman itu. Mungkin tinggal satu-satunya, dan beliau curiga yang inipun akan didaur ulang Belanda sebagai senjata dari sana, untuk menghapus sejarah kebanggaan bangsa ini, yang pernah membuat kalantaka/senjata api sendiri. Kemudian pada kurun waktu hidupnya Sinuwun Paku Buwono ke V ini namanya sudah jadi  meriam.
 Adapun nama Guntur Geni sebagai meriam kecil dari besi tuang (wrought iron) telah  muncul paling sedikit sekali dalam legenda  atau dongeng yaitu dalam Babad Nitik Pangeran Kajoran, atau Babad Kajoran. Bahwa Pangeran Kajoran Putra Panembahan Romo, berakar dari keturunan Ki Ageng Giring, sosok yang bermunajad kepada Allah agar keturunanannya dapat menjadi Raja di Tanah Jawa, dua generasi di atas  Panembahan Senopati. Mungkin juga "Babad Tanah Jawi" menjebut nama senjata ini, meskipun sudah ditukangi Belanda, dengan nama meriam Kiai Gunutr Geni .
Sekali lagi legenda pusaka meriam kecil ini  menjadi benang merah legalitas suksesi raja di kala itu, mengenai legalitas suksesi dari kerejaan Majapahit, karena kekuatan fisik “tokoh” kdeturunan feodal menurut kharismanya sudah tidak bisa mutlak diandalkan ( sering didukung diam diam oleh Belanda di Batavia).
 Ki Ageng Giring menetap di tanah  yang dijadikan nafkah keluraga besarnya mestinya dari bhumi perdikan pemberian pemerintahan Majapahit,  sekarang masih bernama Kajoran, diragukan oleh Sultan.
Konon salah satu keturunan dari sini  berani menerima tantangaan Sultan  dari  Mataram untuk menerima  bhumi sesigar semangka asal berhasil  menadahi dengan dadanya tembakan meriam tersebut.  ( Apa ini bukan kiasan bahwa Kajoran mendapatkan legalitas hak turun temurun tanah tersebut dari Majapahit ? ).
Jadi meriamnya di Zamana Mataram Peniggalan Sultan Agung  sudah menjadi pusaka kraton dan masih berfungsi, itu tanda legalitas dari kerajaan Majapahit.
Apakah ini dongeng  menyembunyikan cerita yang sebenarnya ? bahwa Meriam itu sebenarnya memang pusaka dari peninggalan  zaman Majapahit, yang diwariskan kepada kerajaan Tanah Jawa untuk legalitas kekuasaan berturut-turut Demak, Pajang, Mataram dengan ibu kota Plered, di mana dan kapan peristiwa sayembara ini terjadi.
Ada seutas benang merah yang panjang direntang guna mempertegas  legalitas suksesi kekuasaan mulai dari Majapahit, ke Demak Bintoronya Raden Fatah yang konon adalah Putra Brawijaya yang Islam.
Persoalannya adalah, pemindahan kekuasaan Sultan Tranggono sultan ke III Demak Bintoro, ke Sultan Hadiwijoyo, yang hanya menantunya. Bahkan kemudian memindah Kota Raja ke Pajang. Akar Sultan Hadiwijoyo alias Jaka Tingkir,  memperkuat benang merah suksesi kekuasaan ini dengan hubungan ketururunan dari Majapahit juga, lewat  Ki Kebo Kenongo yang memeluk Islam esoteric,  sudah ada sejak zaman Majapahit.
Termasuk anaknya yang telah membunuh Ario Penangsang, dalam perang tanding di tepi bengawan Sore, Sutowijoyo atau Panembahan Senopati.  Sosok Penembahan Senopati ini mendapatkan bumi Hutan Mentaok ( wilayah Jogjakarta) dari Sultan Hadiwijoyo ya karena kemenangan ini, sedang wilayah tersebut juga telah jadi wilayah kekuasaan nenek moyang Ki Ageng Mangir sejak zaman Majapahit, dan terjadi sengketa antara Panembahan Senopati dengan Ki Ageng Mangir, berakhir dengan kematian Ki Ageng Mangir, (konon kepalanya dibenturkan pada batu tempat duduk Panembahan Senopati, sewaktu menerima sembah sang Ki Ageng Mangir, karena sudah jadi menantunya).
Mulai dari sinilah setiap sosok yang menganggap dirinya mempunyai hubungan benang merah dengan Brawijaya dari Majapahit mengukuhi haknya atas suksesi raja tanah Jawa walaupun hanya hak secuil wilayah tanah Jawa.
Kekalahan Demak, Mataram dan Kartasura  dari penjajah Portugis, Inggris maupun Belanda adalah dari keunggulan dukungan meriam yang dimiliki kaum penjajah ini, yang diangkut oleh kapal besar besar, berkat adanya layar yang besar dan ringan ( kanvas yang ditenun dari serat flax atau linen).  Sedangkan Majapahit telah berdiri megah di Nusantara untuk mewujudkan Sumpah Palapa dari Mpu Mahapatih Gajah Mada, mengandalkan lantaka meriam besi tuang yang lebih ringan bisa dimuat di haluan parahu model Madura yang jauh lebih kecil walau sangat lincah. Kearena kesulitan membuat layar yang ringan dan besar – kita tidak punya kapas yang seratnya bagus) Perbedaan kaliber meriam ini selanjutnya menghasikah kemenangan bagi bangsa Porugis pada setiap perang laut, kecualai kaliber meriam juga ukuran kapal layar mereka lebih besar, karena di Europa ada tanaman bahan pembuat kain layar yang lebih kuat dan ringan untuk satuan luas layar yang sama , sehingga mampu menghimpun tenaga dorong angin yang lebih besar, tapi tidak terlalu membebani tiang agung yang membuat kapal layar tidak stabil, sedangkan Majapahit awal masih kesulitan mendapatkan bahan untuk kain layar yang ringan dan kuat meskipun lebih lebar seperti kain layar dari flax/linnen ( Linus L) atau sutra yang digunakan sebagai kain layar  oleh jung dari China. Lain halnya dengan suku Bugis/Makassar yang sudah menenun kain sutra, nyata perahu pinisi mereka lebih besar dari prahu Madura.
 Apakah sosok intelek seperti Adipati Anom R. Sugandi yang sebelum jadi Pakubuwono V , menghimpun almanac pertama Jawa “Serat Centini” tidak penasaran ?
Pakubuwono V meneliti pecahan meriam misterius ini dengan memanasi dan membakarnya layaknya membuat keris, bila ternyata hasil keris teresebut sama dengan keris dari Majapahit yang ada di gudang senjata kraton, maka dapat dipastikan si pembuat keris Majapahit pada jamannya juga mencetak “lantak” atau “kalantaka” sebagai senjata, yang di sejarah Melayu oleh penulis Malaysia disebut “rentaka”( sumber google). Konon keris Majapahit dibuat dengan mencetak bentuk keris secara masal dari peleburan pig iron, kemudian baru dikikir dan disempurnakan diberi ornament, banyak yang bilah keris jaman Majapahit  jadi satu dengan gagangnya. Dalam kakawin Nagarakertagama naskah kronik perjalanan keliling kerajaan Wilwtikta di Pulau Jawa, sasterawan dengan nama samaran Prapanca, menulis di pupuh delapan naskahnya, bahwa kota Wilwatikta , komplex Kedaton dikelilingi tambok tebal dan kokoh, sedangkan gerbang komplex ini disebelah utara telah dipasang  pintu gerbang dari BESI yang merupakan ukiran ram .indah ( wrought iron seperti rangka kursi taman zaman sekarang) wrought iron adalah hasil proses lanjutan dari pig iron hasil peleburan bijih besi. Selanjutnya menurut legenda lisan, pemasangan pintu ram besi ini adalah empu Keleng dari Madura..(Tentu saja tidak ada hubungan dengan kata klinknagen bahasa Belanda yang di indoneisakan dan di Jawakan jadi keling plat besi)
Pakubuwono V pasti meneliti peninggalan pusaka lama yang kemungkinan dari kerajaan Majapahit yang masih dihormati Keraton dari zaman itu umpamanya pecahan “meriam” Majapahit Kiai Guntur Geni, yang mestinya ada nama  sendiri yang umum untuk senjata itu pada jamannya ?
Sebab sampai sekarang kata “ meriam” itu dipinjam dari mana, dari kata apa ?,  nama senjata ini semakin gelap saja. Nama Jawa untuk meriam model dulu, yang diisi dari moncongnya adalah “meriam lantakan” juga “bedil lantakan” , untuk membedakan dengan bedil karabin. Emas yang dijual langsung dari peleburan adalah “emas lantakan” yang
bentuknya silindris. Jadi emas lantakan ada hubungan langsung dengan bentuk silindris dari peleburan logam. Jadi kata lantakan hidup, dan artinya dalam perdagangan logam yang dicetak dari peleburan yang bentuknyua silindris. Jadi tanpa kata “meriam”,  lantakan ini bisa dimengerti sebagai barang yang dilebur dari logam yang dicetak silinidris, diisi mesiu dari moncongnya. Kata melantak juga berarti memadatkan di gaerah Madiun.( maksudnya memadatkan bahan peledak dengan galah) Kemungkinan besar di-identifikasi dari nama “Kalantaka” atau “lela” saja.  Belum diperkuat dengan akar kata “be-rantaka-n” dan kata “luluh lantak” yang mengandung maksud yang sama, mengandung sylabel “rantaka” dan ka-“lantak”-an. yang tidak bisa dihubungkan dengan kata meriam,  nama yang dipakai pada zaman berikutnya . Begitu juga istilah “merajalela” yang ada hubungannya dengan “lela” yang menguasai medan perang.
Semoga tulisan ini dapat jadi perangsang bagi Sejarawan kita untuk menggali kembali, sejak kapan kita punya kalantaka, atau rentaka untuk perang ini, bukan “meriam” dari orang Europa.
Penulis dari Malaysia, sangat mencurigai benda senjata ini juga sudah dipunyai oleh lasykar kerajaan Melayu untuk menghadapi Gubernur Inggris, sampai sang Gubernur terheran-heran.
Di sejarah kerajaan Melayu nama meriam adalah “Rentaka” jenis yang mudah di bawa kemana-mana, apalagi dengan perahu dagang. Era dominasi Penjajah dari Eropa, senjata jenis rentaka , “meriam” lantakan yang buatan pribumi makin jarang, karena sengaja dihapuskan keberadaannya untuk menipiskan kepercayaan diri dari bangsa yang dikalahkan.
Bila kalah dalam pertempuran dirampas oleh penjajah dan dilebur menurut bentuk senjata mereka,
 beberapa dijadikan satu, otomatis caliber nya lebih besar. Semakin lama semakin habis bahkan cara membuatnya juga tidak pernah diwariskan, karena tidak ada order. Mudah kan ?  Menghapuskan sejarah setelah empat ratus tahun ? O iya, dapur pelebuan lugam kita adalah bejana keramik seperti guci yang besar yang mempunyai lubang untuk udara masuk baik dari angin maupun dari ububan ( semacam pompa angin), jadi kapasitasnya tidak bisa  besar terbatas pada tebalnya guci, sedangkan orang barat membuat peburan logan dari batu bata tahan api dari bangsanya keramik juga bisa dibentuk silindris seperti cerobong dengan lubang angin masuk dari bawah makanya kapasitasnya lebih bebas, jadi meriam atau lantaka yang dicetak juga besar, untuk mempersejatai kapal besar,  perang darat makin besar makin sulit bergerak, sedang diatas kapal besar makin baik dengan jarak tembak lebih jauh. *))


2.MATAHARI TERBIT DI WILWATIKTAPURA (Seri-1) Oleh : Ir.Subagyo
3.33 PM  SUBAGYO KOESNO  NO COMMENTS
Dongeng untuk cucuku, menurut interpretasiku dari sejarah Majapahit, yang terjadi pada jaman 1200 M- 1400M.

PRAKATA DARI PENGARANG  CERITA  INI  “MATAHARI TERBIT DI WILWATIKTAPURA”

Cerita ini sepenuhnya dalah fantasi saya sendiri, sebagian nama dari pelaku adalah tokoh sejarah yang benar benar ada, yaitu tokoh tokok Kerajaan Singhasari dan zaman yang mengikutinya yaitu zaman Majapahit. Tempat tempat yang disebut adalah tempat tempat dengan nama yang dipakai pada zaman itu  th 1100 – 1300 M, untuk menyesuaikan suasana cerita, tidak ada penelitian apapun, kejadian yang diceritakam ditempat itu hanya  dari imajinasi pengarang melulu.  Hanya tempat tempat itu penah dikunjungi oleh pengarang secara  kebetulan  dan bukan untuk tujuan menulis. Pengarang mepercayai adanya  nama dan tokoh tokoh yang disebut dalam prasasti  yang ditinggalkan oleh kurun zaman itu,  yang jadi sumber autentik dari para sejarawan kita zaman ini,  bahwa prasasti itu kebanyakan semacam ketetapan  hak atas tanah, ataupun untuk menerangkan pendirian candi candi yang dibuat  beberapa generasi setelah yang dicandikan meniggal, melulu untuk kepentingan yang masih hidup. Mungkin juga manuskipt dalam lontar lontar yang sekarang masih bisa dibaca oleh para sejarawan yang serius, juga dibuat atas pesanan keturunan yang masih hidup,  meskipun dikerjakan oleh  Mpu yang terkenal, barangkali karena dekat dengan kekuasaan saat itu, kayak Profesor Nugroho Notosusanto, yang berusaha keras mengganti Bung Karno yang didukung  oleh mayoritas rakyat Indobesia, diganti dengan peran   Jendral  Suharto yang didukung oleh sebagian ABRI saja.  Yang kemudian jadi sumber kebenaran ahli ahli  Archeologi . Saya bayangkan seratus tahun setelah kita kita ini, bagaimana benerasi generasi penerus itu mengerti sejarah kita, yang  tanpa malu malu, malah disengaja oleh  ahli sejarah semacam Profesor Nugroho Notosusanto memalsukan sejarah untuk menghapuskan peranan rakyat dan Bung Karno, atas pesanan  Orde Baru, dari sejarah perjuangan untuk menegakkan kemerdekaan .
Dimulai dengan ditiadaknnya tanggal 10 Novermber 1945  sebgai hari yang diberi tanda warna merah artinya hari libur Nasional.
Jadi apa salahnya bila fantasi saya dan imaginasi saya, mambuat \cerita sendiri yang masuk akal dari  segi materi dan moral saat itu, dan cocok dengan logika pada umumnya yang abadi sepanjang zaman .
Begitu pula legenda dan babat yang menceritakan zaman jang lalu, apalagi isi kitab kitab yang dikarang pada zaman itu, yang ditulis para pujangga yang kenamaan umpama empu  Empu Prapanca , itu jelas untuk menyenangkan penguasa ?
Dari buku dikarang oleh Dr. Slamet Muljono berjudul “Menudju Puncak kemegahan” Sejarah Keradjaan Madjapahit. Peercetaan Idayu Agung Surabaya – PN Balai Pustaka.
Pustaka yang ada jadi pusaka kita sampai sekarang yang digeluti oleh para sejarawan dan ahli ahli archeology zaman sekarang ya itu. Selebihnya akhli sejarah kita dari SMA nya sudah di bagain sastra, jadi tidak diajari ilmu Kimia, Ilmu Fisika, ilmu Matematika dan Kinematika, jadi daya analisanya terhadap kejadian alam lemah. Seperti pembuatan mesiu, peleburan logam, panas pembakarean bermacam macam arang, sulitnya pembuatan jalan dan jembatan, daya dorong layar dan besarnya perahu jadi apa salahya bila saya memasukkan unsur unrur alat dan barang yang ada sebagai alat pendorong atau pembatas kemampuan orang didalam kejadian sejarah zaman itu ?

Dalam tulisan ini saya kepingin mengangkat tokoh tokoh sejarah yang jadi tonggak  keberhasilan bangsa ini,  tonggak tonggak penting bangsa untuk diceritakan secara lain,  sekuat fantasi dan imaginasi saya,  kena apa.?  Karena terlalu naïf  bila kita tanpa curiga apapun percaya bahwa Raden Wijaya, ksatria konon keturunan Lembun  Tal dan selanjutnya keatas sampai ke  Ken Arok dan Ken Dedes, Yang mestinya dididik cara ksatria yang mengutamakan Dharma, lebih dari kasta lain, kok bisa mengarang kebohongan  , mengarahkan bala tentara Laksamana Mongol,  menyerbu Kadiri, sebagai hukuman yang harus dierima oleh sang Prabu Kartanegara, yang sudah pernah menghina Dutanya.  Habis itu, kok masih nenohok kawan seiring, mengkhianati pasukan  Mongol yang lagi berpesta kemenangan  terhadap Kadiri. Hlo bila dipikir apa mungkin seorang Laksamana kerajaan Kublai Khan, datang ke Asia Tenggara dengan misi penaklukan atau pemberian hukuman pada raja yang melawan, kok ndak tanya atau mendengarkan laporan, atau mengirim mata mata terlebih dulu, wong disini sudah banyak pedagang China yang sudah lama bemukin disini ?
Selanjutnya dari mana Raden Wijaya yang baru saja diampuni setelah menjadi pelarian begitu lama, sampai ke Madura,bagaimana mendapat pasukan yang cukup untuk menyerbu pasukan laut Mongol meskipun sedang berpesta  mabok mabokan.  Saya kira perilaku  ini tidak mungkin dikerjakan oleh  Robin Hood yang manapun, karen mereka tahu bahwa pasukan yang  menjelajahi negara asing pasti sangat waspada, boleh berpesta pora,tapi pasti dibawah penjagaan yang ketat dan ditempat yang pengamananya boleh diandalkan, jadi Raden Wijaya harus mwngerahkan bala tentara yang besar, dari mana ?
              Ini kok seperti upaya pembunuhan karakter pada pendiri Kerajaan yang menaklukan Nusantara dalam kurun  waktu yang singkat. Dalam dongeng, tambo maupun cerita banyak pelecehan karakter atau pelecehan tokoh musuh, beredar lama sesudah jadi legenda, seperti bertemunya tokoh Hang Tuah dengan Gajah Mada di bumi Malayu, atau Gajah Mada adu kerbau di ranah Minang, yang sebenarnya tidak pernah terjadi.
 
Setidak tidaknya dalam fantasi saya suatu kejadian itu harus cocok hubungan causalitasnya dengan peristiwa yang mendahuluinya, sehingga  menciptatan ceritera yang tidak mengganjal  pemikiran.
Sebenarnya, supaya  mudah dibaca urutan cerita nya jadi:
1. Tempat lahir dan pendidikan Gajah Mada.  Pada tulisan berjudul Dongeng untuk cucuku, termasuk disini tulisan “Dapur Istana ada ditengah hutan” dilanjutkan dengan segala cerita mengenai wilayah antara  Sidayu sampai Probolinggo  pelayaran dengan pertemuan dengan bajak kaut dari Sampang misalnya, Keadaan di perjalanan antara Probolinggo sampai pantai Pasirian tempat pengecoran keris Majapahit yang memang hasil cor besi tuang canpuaran bubuk  bijih  mangan, yang jadi pamor berwarna hitam. Digambarkan dengan jelas dalam kakawin kronik perjalanan raja Hayam Wuruk keliling Wilayah Jawa Tengah dan Jawa Timur olih Mpu Prapanca didalam kropak “Negrakrtagama”  pupuh delapan bahwa gerbang komplex keraton Majapahit disebelah utara dibuat dari BESI. ram berukir indah ( wrought iron seperti rangka kursi taman zaman sekarang) sedangkan wrought iron ini adalah proses lanjut dari besi cor- pig iron yang menjadi keris Majapahit.
 2. Tempat Raden Wijaya di didik dan hasil pendidikan raden Wijaya, disini saya masukkan pelajaran budaya Jawa asli yang ada juga di Bali, tertulis di buku dari Bali “Kandapat Sari” yang menguraikan kepecayaan Jawa “ Dulur Papat Kalimo Pancer” yang lahir bareng si jabang bayi,  jadi kepercayaan sebelum Hindu, yang anehnya di Bali kepercayaan ini  meng claim dapat mengalahkan efek  ilmu gaib yang putih maupun yang hitam, maupun Dewa Dewa Hindu asal ada pada posisi yang benar, dan kajanaprya, artinya unggul. Sedang masyarakat Hindu di Bali kala itu masih mengandalkan ketakutan jauk waysia da sudra pkepada takhayul yang dilandasi magic apapun dan akan mohon perlindungan ke Pura Pura. Sedangkan ajaran asli mengutamakan kepercayaan diri pribadi asal pribadinya sudah tetap pada  rel  Dharma, Kajanaprya, artinya manusia unggul dari magic apapun.
3. Raja Singhsari  Baginda Kartanegara, yang terbunuh oleh serangan kilat sang Jayakatwang seorang Raja dari Kadiri. Dalam tulisan “ Sisi gelap Kedhaton Singhasari. “ dan  “ Sinoman wangsa Girindra di Singhasari”
4. Jayakatwang menurut versi saya dalam tulisan “Jayakatwang”  “Persiapan Penyerbuan Singhasari”   “Pahitnya empedu dalam kemenagan”  dan  “Kutukan Ni Ratri”. Memang banyak prasasti yang menyebut Nama Jayakatwang sebagai kerabat Girindra yang saling bertalian perkawinan yang menghasilkan tokoh Jayaktwang, tapi, bagaimana bisa mengalahkan Singhasari dan membunuh Rajanya sang Kertanegara bila tidak dengan serangan kilat ? Ini bisa terjadi karena Jayakatwang menggunakan kavaleri dengan serangan kilat.
5. “Pelarian Raden Wijaya”  sebagai  hasil dari penyerbuan sang Jayakatwang.  “Aria Wiraraja” , “Tumenggung bebeteng Praja” dan “Kutukan Ni Ratri”   dan “Jatuhnya Jayakatwang, kekosongan kekuasaan di bhumi Mpu Sindok” dan “Wilwatiktapura kota merdeka” Pengarang mengurutkan kejadiannya yang paling mungkin terjadi., bukan yang diriwayatkan ratusan kali ya itu itu saja.
Untuk selanjutnya,  konstruksi perahu model Madura itu memang  demikian, dan kemungkinan besar, kemudahan untuk bermanuver itu memang jadi ciri perahu perang Majapahit  untuk menaklukkan pantai pantai dan tepian sungai besar, dengan  dua laras meriam kecil di anjungan, sehingga dengan mudah masuk ke padalaman sungai sungai di Sumatra maupaun di Kalimantan atau di kepaluan Riau, dan menaklukkan kubu kubu perttahanan para penguasa kuala atau pantai dan selat. Sehingga dalam waktu singkat Sumpah Palapa di realisasikan.
Diceriterakan mengenai peleburan bijih besi dari pasir besi, Batu kapur (CaO) dan  batu mangan (MnO) maupun belerang  (S) yang disini mudah didapat,  selanjutnya di lelehkan dan menghasikan “pig iron”, yang sudah ada di kebudayaan Campa/Vietman pada zamam sebelum Masehi di kebudayaan Dong song,  yang bisa diwariskan pada zaman zaman berikutnya, yang karena kemudahan membeli besi yang sudah jadi, kepandaiana melebur besi ini jadi musnah, di pulau Jawa.
Hanya, perkembangan peleburan bijih besi dari pasir besi memang perlu arang dari tambang di Sukadana (Kaliantan0 dalam jumlah besar unutk melelehkannya. dikemudian hari peleburan besi dari bijih besi jenis lain (limonit,atau laterit) dari Luwu Sulawesi menggantikan bijih besi dari pasir besi, karena bisa mengurangi kebutuhan arang/batu bara dan kualitas lelehannya tidak terlalu gampang patah.
Mestinya kota kota penting di Nusantara sebanarnya bukan kota “benteng”, sebabnya sulit diterangkan, mungkin karena pemeliharaan kavaleri/pasukan berkuda  memang sulit dan mahal diwilayah tropic ini karena penyakit, lain halnya dengan di tepian gurun seperti di China  atau di India, merupakan pinggiran gurun besar,  padang rumput, memang habitat bangsa  Kuda  ( genus  Equus )  Sampai sekarang disini masih ada wabah penyekit kuda “ bolor”  (Malleus) yang mematikan secara masal sulit dikendalikan. jadi betapa sulit mengumpulkan pasukan berkuda. Jadi gerakan barisan tentara  infanteri secara besar besaran selalu dapat dipantau oleh calon musuh kota kota tujuan penyerbuan dan dapat diupayakan perlawanannya. Bila pengumpulan pasukan kavaleri ini cuma pada waktu singkat, umpama lima tahun masih masuk akal, sesudah itu jadi sangat sulit.
Relanjutnya, mengenai pelaksanaan “sumpah Palapa” yang mengherankan, masak nama nama hunian dijalur pelayaran dari Atas Angin ke tempat dagangan rempah rempah dihasilkan, semua dipinggir pantai Kapulauan Nusantara, tempat tempat itu ditaklukkan dalam satu watu tidak lebih dari 40 tahun saja. Tanpa menyebutkan andalan apa alat perang  yang dipunyai Majapahit waktu itu, mestinya satu armada, dengan meriam kecil sesuai dengan kain layar yang mampu mendorong armada itu,  bukam infanteri bukan kavaleri.
Apakah salah bila saya bayangkan, bahwa konstruksi perahu Madura memang mudah dikendalikan, baik layar maupun arah haluannya, karena konstruksi lunasnya merupakan  sabut kelapa yang tentu saja sangat mudah berputar diatas air, ditambah dengan factor X, yaitu dipakainya Kalantaka, atau rentaka atau lela di anjungannya. Meskipun tidak ada bukti apapun secara material tentang adanya senjata jenis tersebut yang  kemudian sesudah perang penjajahan orang Eropa memakai canon dan  demi kanon, culverin yang dinamakan meriam dalam bahasa Melayu kemudan Bahasa Indonesia. Tapi anehnya meskipun nama asli senjata andalan tersebut sudah diganti, masih ada "kata" yang  hidup sampai sekarang  dalan pengertian “meraja lela",  "berantakan", " luluh lantak", "meriam lantak", "emas lantak"  yang menggambarkan peleburan  pencairan dan pencetakan logam, atau besi atau perunggu atau  emas, atau gambaran akibat dari dipakainya  senjata ini,. Sebab semua tahu apa yang dimaksud bila orang mengatakan lela,  rantaka, kalantaka tanpa menambahkan kata meriam didepannya.  pemakai bahasa Melayu sudah mengerti apa maksudnya. Kenapa nama senjata ini lambat laun diganti dengan meriam ?  Kata ini ada setelah orang Eropa berdagang sambil menaklukkan wilayah orang Melayu dan Nusantara dengan senjata ini, seolah olah hanya monopoli mereka, sehingga orang Melayu di Nusantara hanya mengerti arti kata lela, rentaka, kalantaka, lantak  bila dimukanya diberi tambahan kata meriam yang entah dari kata apa.
Bukankah ada upaya untuk menhapus ingatan bahwa Bangsa ini pernah menggunakan senjata yang ampuh dengan mesiunya sekalian yang kita mengerti sebagai campuran antara bubuk sendawa, bubuk arang, dan bubuk belerang dengan perbandingan tertentu yang didapat dari resep China ?
Tidak heran bahwa pada tahun l810 – 1823 seorang Pangeran dari Madura Raden Sugandi  ahli sastra Jawa dan empu membuat keris pada masa mudanya, kamudain diangkat jadi Susuhunan Surakarta Pakubuwono ke V, menghimpun  “serat Centini”  satu almanac Jawa yang komplit pada waktu itu.
Susuhunan intelek ini pasti penasaran bila membaca catatan perjalanan zaman Raja Hayam Wuruk, raja keempat dari Majapahit, kakawin Negarakertagama yang jelas dimiliki Kratonnya. Menjelaskan bahwa komplex karaton Majapahit dikelilingi tembok kokoh dan gerbang utara Kedaton itu dipasang pintu besi ram berukir indah. Beliau pasti penasaran dari mana didapat besinya sebanyak itu?
 Meneliti peninggalan kraton yang sudah rusak, sepenggal meriam kuno yang pecah ketika dipakai perang tahun 1740, berdalih membuat keris dari pecahan senjata itu ( waktu itu sudah dinamakan meriam), siapa tahu  dasar senjata rusak itu yang kemungkinan pehinggalan Majapahit, karena bahannya sama dengan keris peninggalan zaman itu yang konon dibuat sengan melelehkan bijih pasir besi dengan bubuk batu mangan , yang tentu saja bisa melengkapi perahu perahu perang Majapahit, untuk memenangkan Sumpah Palapa Mahamantri Gajhah Mada.  Siapa tahu bahwa sang Pangeran intelektual ini berusaha tahu bagaimana meriam itu dibuat dari besi macam apa untuk memuaskan jiwanya dalam menghormati tanah air dan  nenek moyangnya, yang MUNGKIN BARANG PENINGGALAN INI TINGGAL SATU SATUNYA,  sebab yang lain telah dirampas oleh Belanda dan dilebur menjadi meriam mereka.  Dia pasti tahu bahwa senjata ini kalantaka berasal dari bahan dan proses  yang sama dengan keris peninggalan Majapahit yang besar besar seperti pedang pendek orang Romawi, sekarang masih banyak dipakai di Bali, berciri  keras dan  bisa patah, sering gagangnya di cetak bersama dengan bilahnya.  Sedang keris bikinan zaman berikutnya dibuat dari besi dengan kandungan mangan rendah ditambah  kandungan carbon dan diberi pamor batu meteor besi nikel,  menyebabkan bilahnya bisa melengkung sifat dari besi baja. Kecintaan pada kakek noyangnya dan tanah airnya yang telah mampu mencetak lantaka atau rentaka  dan lela sebagai senjata andalan telah menyadarkan  pengikut generasi berikmya Pakuibuwono ke VII  mendukung Pemberontakan Pangeran Diponegoro yang berakhir dengan dibuang dan dibunuhnya beliau di Ambon, sekarang diangkat secara  anumerta sebagai Pahlawan Nasional. *)

Maka mulailah fantasi saya bekerja mendongeng unutk cucu cucu saya::

          MENGENAI MAHAPATIH GAJAH MADA :
Gajah Mada adalah lurah  bhayangkari atau kalau sekarang dia adalah komandan lapangan Pasukan Pengawal Raja, mungkin setingkat Kapten Pasukan Pengawal Raja, Kerajaan Majapahit yang masih sangat muda, malah yang ada duluan adalah sebagian dari rencana kota pelabuhan sungai Wilwatiktapura, sebelum Raden Wijaya jadi Raja dia yang membangun Kota ini.

Pendiri Kerajaan Majapahit, Pangeran Wijaya, melewati waktu waktu yang sangat genting dengan melarikan diri dari serbuan mendadak yang sangat berhasil dari kerajaan Kadiri, sehingga  sang mertua Raja Kertanegara terbunuh  dan kerajaan Singhasari jatuh.

Besar kemungkinan seorang pemuda anak seorang Brahmana  gryasta (Brahmana yang membina keluarga)  dari desa Mada ini. Kini jadi kota Kecamatan yang sampai sekarang masih dengan nama yang sama,  terletak dilereng pegunungan kapur Kendeng kearah selatan kira kira sepuluh kilometer dari kota Babat kabupten  Lamongan, kota babat ini ada di pinggiran Bengawan Solo.

Mada desa ditengah hutan yang sejak dulukala sudah ditanami tegakan kayu jati ( Tectona grsndis  L - teak wood) bercampur baur dengan tegalan dan kebun,  kelebihannya dari lokasi lain,  Desa Mada terletak dilereng landai menghadap ke Bengawan Solo, terpotong potong oleh anak sungai ke bengawan Solo yang lurus dan licin mengalir ke utara sepajang lereng pendek ini, licin karena tanahnya liat.

Hutan selebar lebih kurag sepuluh kilometer dan sepanjang lereng utara pegunungan Kendeng dari Pamotan (sekarang Lamongan) sampai dengan perbatasan Rajegwesi (sekarang Bojonegoro) sebelah timur adalah hutan dengan tegakan jati yang menjanjikan karena ditaman  cukup luas, mengandung tegakan jati yang ditanam semenjak zaman Pemerintahan   Paduka Erlangga dengan lereng landai memanjang menghadap ke bengawan Solo, unutk memudahkan pengangkutan lewat sungai.

Seorang Brahmana gryasta tinggal didesa ditengah hutan, adalah satu yang tidak biasa.
Sebab lebih mungkin  sang Pedeta gryasta ini ada di desa desa sekitar asram di wilayah tanah pertanian berpengairan, sebagai pengendali pembagian air, pengelola candi, asram dan bangunan suci, sebagai pemimpin pemeliharaan  sistim saluran air pengairan. Lain halnya sengan
 Brahmana  gryasta ini, dia adalah Adminisrtator dari tanah Perdikan bertanggung jawab untuk memelihara ratusan sapi zebu, besar dan berponok didatangkan langsung dari Benggala, harus dibiakkan secara murni, demi kekuatannya menyeret gelondong jati, bukan mengepalai asyram atau mengelola dan membagi air pengiran  beberapa Kelian Subak ( di Bali Ketua pengairan tingkat desa), atau menjabat sebagai Kelian Subak sendiri, dibawah Mpu Sedahan.
Brahmana Kerajaan  urusan Pengairan dan pajak  (di Bali masih ada jabatan Sedahan Agung hingga kini   membawahi semua subak pengairan disatu wilayah, lembah beberapa sungai).

Seorang Brahmana  turun temurun  mempunyai hak untuk  membaca Kitab Weda, dan tentu saja kitab kitab yang lain, yang pasti bisa membaca dan menulis bahasa Jawa  kuno maupun kekawin dan sloka bahasa Sansekerta mereka mahir.

Gelondong  jati yang tanpa cacat dan lurus,  makin panjang makin baik mungkin panjangnya lehih dari  lima  meter hingga  belasan meter dengan umur lebih dari 80 tahun,  jati  diameternya hingga kurang lebih 70 cm, sangat dicari  oleh pembuat perahu perahu besar untuk pelayaran samudra, karena kayu jati sangat tahan terhadap cacing laut yang merusak perahu perahu besar pelayaran samudra membuatnya tidak aman dalam pelayaran yang makan waktu berbulan bulan.

Gelondong jati ini sangat dibutukan di galangan perahu  besar disepanjang bengawan Solo, ada model  dhow Persia,  perahu  besar bercadik model teluk Benggala, perahu ini meskipun besar tapi harus dipasang cadik kiri kanan karen untuk menjaga kesetabial perahu  yang mestinya berat diatas karena bobot dari layar yang besar, seperti yang tergambar di dinding candi  Boobudur  ditingkat  Rupadatu.
Kala itu sudah mulai jarang dibuat karena model mempunyai banyak kelamahan, antara lain  boros kayu dan kurang laju, layarnya lemah karena tidak mungkin dibuat lebih besar, apa di lagi, mengingat bahan kainnya dari serat kenaf yang berat.,
Sebagian besar  model jung dari  Cina, dengan ukuran super besar karena nanti dapat dipasang layar dari sutra yang ringan dan kuat dan model  konting dari  pantai  Utara Jawa,  beberapa pandega dari Bugis  memimpin pembagunan perahu model pinisi dan model lombo dari Sulawesi yang lebih besar karena layarnya dari sutera yang di Sulawesi sudah dikembangkan, ada banyak galangan perahu sepanjang tepian Bengawan Solo sampai daerah Sidayu.

Perdagangan gelondong jati untuk perahu pelayaran samudra,  merupakan penghasilan Kerajaan yang diandalkan, karena hasil hutan yang ini  adalah milik Kerajaan dan dikuasakan kepada para Bahupatti.

 Pekerjaan sulit   adalah membawa gelondong gelondong kayu jati ini  sampai  ke sungai  urat nadi pelayaran, mulai dari mencari tegakan yang baik kualitasnya,  mengeringkan dengan mengupas kulit pokok jati, kemudian menebang dan menyeretnya ke sungai besar hingga sepuluh kilometer atau lebih, menuruni  lereng  berhutan dan semak,  sungai sungai kecil,  menyeret  dengan tenaga sapi sapi  Zebu, sapi besar berponok  didatangakan khusus dari Benggala.

Sapi sapi ini dibiakkan secara murni dan  teliti ginealogynya  oleh Brahmana yang berwajib,  tali temali dari kenaf (konon nama ini dlam bahasa Parsi) nama latinnya Hibiscus cannabinus,  tanaman serat  yang dibudidayakan dirawa rawa berasal dari teluk Benggala ( sekarang Bengladesh ) dan rotan  yang  dipilin sebesar lengan orang dewasa, maupun rantai rantai besi, semua disediakan di  Perdikan Mada.

Setiap hari puluhan sampai ratusan orang membawa tongkat tongkat kayu kekar dan panjang dari kayu walikukun yang  padat dan liat, sangat berguna untuk pengungkit,  segala alat penggali tanah dan pemotong kayu, juga setiap orang membawa kelewang dan mata tombak  seperti akan perang, berangkat dan pulang ke pakuwon Mada.

Mereka bekerja di hutan  berhari  hari, sampai beberapa bulan, berbekal  beras merah,  garam   kacang kacangan dan tuak,  juga  dupa  dan soma  (candu), soma ini sangat penting  untuk membujuk para makhluk halus  yang menguasai  pohon pohon besar, batu dan  lubuk  disungai sungai  agar tidak mengganggu perkerjaan menyarat  gelondong  kayu jati yang sangat berat dan berbahaya ini.
Paling sedikit bau  soma terbakar yang khas  bisa menenteramkan para  pekerja  dan sapi  sapi zebu !
Selain itu mengandalkan  hasil hutan, dedaunan, umbi umbian dan binatang buruan kijang dan babi hutan, landak dan pelanduk,  ular sanca, madu, ulat kayu, kepompong  ulat  jati,  larva lebah hutan, belalang,  ayam hutan  cendawan bila lagi musim semua enak dimakan, lebih lebih setelah seharian kerja berat, hanya air kadang kadang harus dicari dari tempat yang jauh bila penyaratan gelondong jati dilakukan di musim kemarau.
Pada musim kemarau tanah menjadi keras penyaratan gelondong gelondong besar mengandalkan roda bantalan kayu bulat yang diatur melintang sepanjang gelondong dan kayu bulat ini juga didukung oleh  bantalan kayu rimba semacan rel  sepanjang “jalan” yang    direncanakan.

Disinilah diperlukan kecerdasan dan ketegasan mengambil keputusan untuk menggunakan  wilayah lereng pegunungan Kendeng, disini “jalan” lurus belum  tentu menjadi pilihan, sebaliknya jalan melambung dengan  pendakian ringan kadang kadang merupakan pilihan yang tepat,  disamping pertimbangan pemilihan lintasan yang tidak terlalu banyak  mengorbankan tegakan jati yang belum siap di panen,  juga  menghindari  arah  yang akan bertemu  dengan rintangan yang sulit, yang harus diupayakan adalah mencari arah lintasan dengan lereng yang panjang dengan sedikit rintangan dan kelokan tajam, menjadikan penyaratan lebih “ringan”.

Daerah Mada dengan lereng landai sepanjang kurang lebih sepupuh yojana ( sehabis kekuatan mata memandang orang berediri dikaki langit) memberikan “jalur” relatip mudah untuk upaya penyeretan gelondong gelondong yang besar  dan panjang dengan berat puluhan ribu kati,  karena banyak anak sungai kecil kecil yang kelokannya tidak telalu tajam atau kelandaian lereng yang baik hingga tepian sungai di Babat, dibantu dengan tanah hitam yang liat dan licin pada musim hujan,  disitulah letak pakuwon Mada, sedangkan tegakan jati disekitar situ masih puluhan ribu batang.

Jadi mestinya tidak mengherankan bila desa Mada merupakan sentra pemeliharaan sapi sapi besar perponok dari India  sapi Zebu yang jumlahnya ratusan,  maka diperlukan seorang Administrator yang handal untuk upaya exploitasi hutan jati ini, sekaligus memelihara kesehatan sapi sapi  khusus  milik kerajaan, termasuk mengembang biakkan hewan yang sangat berharga ini.  Tentu saja tepat sekali apabila seorang Brahmana gryasta menjadi Pandega, ayahanda pemuda Gajah Gombak, Mpu Curadharmayogi

Pemuda gempal ini menyelempangkan tali kebrahmanan menyilang dadanya, sudah mampu merencanakan jalur penyeretan gelondong jati besar besar, memimpin mengendalikan ratusan tenaga yang merupakan satu team dengan puluhan sapi sapi zebu.

Perkenalan putra Mpu Curadharmayogi, sang Pandega,  dengan sosok misterius yang bekerja di galangan perahu besar jung cina di tepian Bengawan Solo adalah wajar, ternyata kakek  Bangkong  (begitulah para penghuni tepian Bengawan  menjuluki  kakek baik hati ini) adalah pendekar kungfu aliran Butong ! . Sampai sekarang ada desa dekat Babat tepian bengawan Solo yang namanya Widang, mengingatkan kita pada nama Wu Dang atau Bu Tong yaitu aliran silat di Negri Cina merupakan cabang dari  aliran silat Siau Lim.
Memang dari usia belasan tahun pemuda putra Brahmana dari Mada ini menjadi murid kakek Bangkong.  Anak laki laki  tanggung ini berlatih ilmu silat dan kungfu dengan dasar  keteguhan otot , ketajaman naluri dan  latihan pernafasan dari Butong,  yang intinya  secara bertahap dan hati hati  mempersiapkan seluruh  fibrasi  hidup  untuk beresonansi dengan   energi fibrasi dari  alam dimensi yang lebih tinggi,

Melatih pernafasan, renang di Bengawan Solo bisa sangat membantu upaya ini dengan bimbingan kakek Bamgkong.  Meneguhkan kuda kuda denga rakit yang digoyang oleh sang Guru, bersamadi memang hasil  gemblengan  sebagai anak Brahmana. Dari hasil latihan ini Gajah Gombak mampu  mengirimkan suara hingga didengar sampai satu yojana.

 Ciri khas kungfu alirang Butong pada tingkatan  atas adalah penajaman naluri dan harmoni seluruh otot otot badan sehingga  aliran tenaga murni dapat secara efisien mendorong gerak refleks secepat kilat berkesimanbungan dan diluar kemampuan gerak otot orang biasa, bahkan diatas rata rata pesilat dan akhli kungfu yang terikat pada pengolahan otot untuk melakukan jurus jurus silat.

Inti sari umum  semua aliran persilatan adalah mempersiapkan arah tenaga pukulan maupun tangkisan dan kecepatan berkelit yang dibebankan pada otot tertentu  seperti  umumnya  pegangan pokok aliran aliran persilatan.
Aliran Butong pada dasarnya tidak terikat pada jurus jurus, hanya latihan dasar saja yang menggunakan jurus jurus umum, menjaga titik penting tubuh sambil membalas serangan dari semua jurusan, seluruh  badan panca indra dan indra keenam dilatih secara luwes melakukan dengan tenaga yang terkendali oleh gerakan refleks, pada kemampuan jang sudah tinggi mampu menghantar seseorang pesilat untuk mendayagunakan resonansi dengan fibrasi alam dimensi tinggi  sehingga tenaga yang dipusatkan pada dorongan, pukulan dapat sampai ke sasaran jauh lebih cepat dari kontak yang sebenarnya.
Juga mampu membelokkan arah tenaga lawan yang tersalur lewat mata pedang tajam  dan mata tombak sambil secara refleks menggeser  bagian tubuh yang menjadi sasaran beberapa millimeter hingga eneginya lewat  atau membuyarkan tenaga  hantaman benda tumpul sebelum sampai ke sasaran dengan keluwesan.
Begitulah, apakah kemudian Lurah Bhayangkari Majapahit sang Gajah Mada yang ternyata  berhasil menyelamatkan Rajanya dan menggulung komplotan makar Waraha Nambi, Lembu Sora, Kalabang Kuti yang ditakuti ini,  mampu melatih dirinya hingga jadi pendekar tingkat tinggi, sangat diliputi kabut rahasia, yang jelas sebagai seorang Brahmana, seperti juga  para Pendekar Siaulim dan Butong yang pemeluk agam Budha,  taat pada pantangan  membunuh dan berkelahi.

Yang kemudian terbukti, Laksamana Armada Majapahit, selalu menyertakan perahu perahu cepat berlambung ramping sepasang dihubungkan dengan geladak layaknya “katamaran” digunakan khusus untuk menyelamatkan  prajurit laut yang  parahu perangnya karam, baik lawan maupun kawan, ini perintah khusus dari  Rakryan  Manggalayudha Gajah Mada.

Pegaulan pemuda Gajah Gombak, anak Brahmana gryasta, Pandega  penyaradan gelondong jati dari pakuwon Mada. dengan masyarakat campuran di tepian Bengawan Solo sangat berguna kemudian, perkenalan secara kebetulan dengan pasangan suami istri bangsa Han dari negeri Cina.

Kemahirannya berenang pemuda Gajah Gombak telah neyelamatkan seorang bocah yang nyaris ditelan olakan pusaran Bengawan Solo sewaktu tembonya (perahu kecil dari sebatang kayu yang lubangi sepanjang lebih kurang tiga depa) terbalik karena menerjang pusaran air yang cukup besar disekitar kedhung  ( lubuk ) bengawan Solo.

Pemuda dari Mada ini berenang sekuat tenaga menggunakan gaya ikan lumba lumba sewaktu tubuhnya melesat diatas ombak olakan layaknya ikan lumba lumba,  sambil  memantau dengan cepat kemana bocah ini dihanyutkan oleh olakan yang ada sekitar seratus hasta di depannya.

Kemudian merubah jurus renangnya dengan gaya ikan hiu meluncur  tanpa suara kecipak air, bahkan tidak ada percikan air dari gerakan jurus renang ini, hanya gerakan lengan kiri kanan secepat baling baling jantera menandai luncuran  perenang sebagai anak panah sehasta dibawah air.
Tepat pada waktunya  leher bayu bocah nahas ini di raih sebelum tubuhnya dihisap pusaran air. Sang penyelamat segera berganti jurus berenang terlentang sambil menumpangkan kepala si bocah cina ini di dadanya sementara itu tenaga tendangan kedua kakinya yang dilandasi kemahiran kungfu sangat kuat disertai keluwesan ikan sembilang  dengan tangan kanan mengayuh sekuat tenaga  sambil mempertahankan keluwesan balalai gajah mina, maka kedua insan in mampu keluar dari  olakan air yang sangat berbahaya dan berenang ke pinggir disambut dengan isakan kelegaan  seorang ibu.
Pasangan keluarga cina  yang juga bermukim sementara ditepian Bengawan Solo.
Singkatnya cerita, ternyata pasangan suami istri cina suku Han ini ahli melebur logam dari bijihnya, tembaga, timah putih  dan besi, juga logam capuran seperti kuningan, mereka  sedang mencari urat tambang batu kawi atau bijih mangan, masuk pedalaman pulau Jawa lewat bengawan Solo.

Gajah gombak juga memperkenalkan suami istri marga Yap ini kepada kakek Bangkong, mereka segera menjadi sahabat yang saling cocok.
Entah apa yang dilihat oleh orang marga Yap ini sehingga mau membeberkan keahliannya melebur logam kuningan yang hampir semua undagi sudah mahir,  kepada pemuda Gajah Oling ini, terutama keahlian yang saat itu masih langka yaitu melebur besi dan mencetataknya.
Sedangkan batu kawi (sekarang bijih Manganese yang mengandung unsur Mn kurang lebih 50 %) digunakan untuk menghilangkan keropos atau gelembung udara dari besi tuang  dalam proses pembuatan meriam besi tuang yang lebih kuat dan dengan kaliber yang sama  lebih ringan dari meriam kuningan atau perunggu, karena jauh lebih tipis.  Sedangkan harga perunggu lebih mahal dari besi tuang.

Kedua suami istri ini berusaha menjadi pengumpul batu kawi untuk dikirim ke negeri Cina di pelabuhan  Teluk Tonkin, tempat marganya mengusahakan peleburan logam, yang saat itu berusaha mencoba membuat usaha peleburan besi tuang
Bagaimana pemuda Mada ini tertarik pada peleburan besi tuang, bisa dimengerti bahwa penyaratan gelondong jati yang beratnya mencapai ratusaan ribu  kati ini memerlukan rantai rantai besi yang ditempa dari besi yang tidak keropos liat seperti baja masa kini
Atas restu ajahanda Mpu Curadharmayogi, gajah Gombak diizinkan ikut expedisi pencarian urat tambang batu kawi  atau batu mangan dan sekaligus belajar menuang  besi cair menjadi perkakas.
Petualangan bersama keluarga Yap berjalan hampir lima bulan, hingga musim hujan tiba, dengan tambahan bekal dana dan tenaga penyerta duapuh pemuda kuat dan bersemangat  dari Pakuwon Mada  ditugaskan mengiringi expedisi ini oleh  ayahanda Mpu Pandega Mada dengan restu dari Mpu Guradharmayogi..

Atas petunjuk Mpu Pandega, perjalanan berbalik ke selatan Gunung Mahameru, dimana para Mpu pembuat keris melelehkan pasir besi dan mencetaknya menjadi keris, jenis keris ini  kemudian dikenal dengan keris Majapahit, dari besi tuang  (pig iron ) yang keras tapi getas artinya mudah patah, dengan ciri panjang dan tebal  layaknya  senjata perang brubuh,  saat itu sudah dituang dicampur butiran  batu kawi yang mrupakan “pamor” berwarna hitam dan keris nampak basah, yang mampu mengurangi sifat getas  atau mudah patah ini (mungkin lebih kuat karena berkurangnya gelembung udara).
Baru ratusan tahun kemudian dikenal pembuataan keris dengan pamor batu meteor nickel yang berwarna perak,  diperkenalkan oleh para wali agama Islam seperti sunan Giri  Prapen.
Rupanya kepandaian ini diwarisi dari pembnuat senjata baja dari Damascus ( Damascent steel) yang diajarkan pada zaman islam.
Pantai selatan Lamajang memang sangat ideal untuk pengerjaan melebur pasir besi, disamping  letaknya  yang langsung diatas hamparan pasir besi, angin timur yang kencang dan bertiup tanpa berhenti dibulan bulan Ketiga hingga Kesanga, angin ini sengaja dipergunakan untuk membantu meniupkan udara ke rongga tungku pembakaran.
 Tungku peleburan yang dibuat dari gerabah tanah liat putih beranpur pasir bintang yang lembut (sekarang kaolin dan pasir kwarsa) mampu melebur 30 hingga 50 kati pasir besi, memang kecil.

Mulut tungku yang melebar dihadapkan ke timur menentang angin, dan dari samping selatan dan utara ada lubang untuk pipa “ububan” yaitu pompa untuk meniupkan udara kedalam rongga pembakaran. Bagian bawah tungku yang lima kali lebih gendut dari bagian atas tungku tempat pasir besi melebur, diisi dengan arang kayu walikukun,, arang kayu kosambi kayu santigi dan arang kayu kamboja , batu bara dari Sokadana ( batu bara Kalimantan)  dan meberapa jenis kayu yang keras dari hutan pantai pegunungan kapur, dibagian atas berisi lapisan pasir besi ditaburi bubuk batu kapur bergantian dengan lapisan  butiran batu arang dari  Sokadana ( sekarang Kalimantan), diatur berlapis lapis sampai beberapa hasta,  Pasir besi akan meleleh menjadi besi tuang beberapa puluh kati.
Pada puncak  musim angin  timur, semua tungku peleburan dinyalakan dan akan menjala selama beberapa hari diiringi dengan pujamantra dan ububan dari dua jurusan yang meniupkan udara terus menerus siang malam sampai  ratusan kati arang yang diatur dengan bijih pasir besi dan batu kawi  habis terbakar, menghasilkan cairan besi  yang nyaris tak berbusa ( rongga udara micro)
Beberapa saluran dari grabah yang berisi besi cair dipecah  diujungnya dengan hati hati disertai suara berat puja mantra, cairan logam yang memijar mengalir kebawah di isikan dalam cetakan pasir halus memanjang diatur diatas papan panjang,  cetakan keris dengan berbagai bentuk dan ukuran.
Tungku peleburan pasir besi yang lebih besar tidak mungkin dgunakan karena dinding tungku gerabah semacam tempayan  yang tinggi dibawahnya ada lubang besar untuk angin masuk didua sisi yang lain ada lubang dengan leher sejengkal untuk sambungan dengan pipa ububan ( pompa) dari dua jurusan, gerabah dari lempung putih ini sulit dbuat dan diangkut apabila ukurannya besar.
Begitu pula makin besar harus makin tebal, sangat sulit dibakar menjadi bejana atau tempayan untuk peleburan pasir besi.

Expedisi pertama dari rombongan kecil keluarga Yap dan orang dari Mada sudah brhasil dengan baik. Hanya selanjutnya kelurga Yap pindah ke hulu Sungai Brantas, mendekati urat batu kawi yang dicari cari, selanjutnya puluhan marga  Yap dan Go ikut usaha mengumpulkan batu kawi, mengirim dengan jung jung besar dari Terung dan Ampel Denta muara sungai Brantas ke pelabuhan di Cina selatan.

Pada satu saat nanti, saat Gajah Mada sudah menjadi Manggalayuda Bhayangkari Raja, dua belas tahun sesudah saling berpisah dengan keluraga Yap yang kemudian tinggal di Kadiri, Suadagar logam dan undagi Yap menemui Gajah Mada di Wilwatiktapura, singkatnya dengan bersemangat Undagi Yap mengabarkan bahwa dia pernah ke Sokadana disana ada undagi tembikar tempayan dari lempung putih yang mampu membuat tempayan tempayan besar yang kokoh menggunakan tungku pembakaran naga.

Ide kedua sahabat ini sama, bagaimana bila tungku peleburan pasir besi ini di pisah jadi tiga bagian dan di buat di Sokadana untuk kemudian dipasang lagi di dataran yang berangin besar di Probolinggo, dan di Kling tepi sungai Brantas, pasir besi  diambil   dari Lamajang, kayu walikukun dan kayu keras sebangsa  kosambi mudah didapat, sedangkan batu kawi sudah tersedia dengan mutu yang bagus dari pegunungan kapur selatan Kadiri

Sang Manggalayudha Gajah Mada tidak sulit mendapatkan dukungan dari Paduka Prabhu Nata Jayanegara, terutama ibu Suri Gayartri tiga bulan sesudah pertemuan kembali dengan Undagi Yap, tungku peleburan sudah terpasang di dua tempat.
Sebulan sesudah tungku besar yang bisa meleburkan duaratus kati pasir besi sudah bisa dicoba, saat itu masim kering angin keras dari timur, berhari hari, dengan upacara dan pemercikan air suci oleh  Rsi kasyaiwan tungku peleburan dinyalakan ububan dari  gulungan lempeng tembaga sebesar pokok kelapa delapan biji terus menerus meniup tungku menimbulkan kobaran api arang bergemuruh selama empat hari, setelah pipa tembikar dengan hati hati di lubangi sebesan kepalan, mengalirlah cairan besi membara kuning kemerahan kemilau ke cetakan pasir halus laras meriam dengan lubang peluru sebesar kepalan tangan orang dewasa lubang laras ini dibuat dari tembikar dipasang ditengah cetakan sekali tuang dua cetakan.

Undagi peleburan logam warga Yap tua telah mencoba berkali kali melelehkan pasir besi dengan mencampurnya dengan bubuk batu kapur dan bubuk batu kawi  dengan skala kecil an dia mendapat kesimpulan bahwa ada campuran dengan perbandingan tetentu dan ukuran butir butir bubuk batu kawi dan bubuk batu kapur sangat menentukan mutu besi tuang, yaitu hilangnya keropos, tidak boleh ada keropos  walau dedikit, cacat pencetakan  ini sama sekali harus dihilangngkan.

Dari empat tungku peleburan yang sudah di siapkan buat dibakar, semua sudah dengan campuran pasir besi dengan bubuk batu kawi dan bubuk batu kapur dengan kehalusan seukuran  hasil percobaan yang terbaik, hanya tinggal berapa banyak bubuk batu kawi yang menghasilkan besi tuang paling baik, satu diantara empat tungku harus memberi petunjuk untuk pekerjaan mencetak meriam besi untuk dicoba menembakkan peluru yang sebenarnya.

Beberapa hari setetelah mendingin cetakan dipecah dan dua laras meriam kalantaka  menampakkan diri sempurna berwarna  hitam kecoklatan, tinggal menghaluskan permukaan laras didalam.
Dari  pemeriksaan pertama dengan pukulan palu besi, tidak ada tanda tanda laras retak atau tercetak cacat keropos, begitu pula dengan pemeriksaan timbangan apung, setiap laras seberat seratus limapuluh kati, panjangnya dua hasta lebih lima jari. Kelompok kecil para undagi sangat bergembira saling merangkul dengan sang Manggalayudha Gajah Mada, malah undagi  Yap menitikkan air mata.

Manggalayudha Gajah Mada menyadari bahwa matahari telah menyingsing di muka bhumi Majapahit.

Dia membayangkan alangkah bahagia sahabat dan tuannya Raja Majapahit yang pertama sang Krtarajasa Jayawardhana, sebab pengetahuan beliau ketika masih menjadi sosok Pangeran pelarian di Madura, mengabdi di Kedhaton Sumenep kepada sang  Prabhu Patti Arya Wiraraja, belajar membuat perahu dari undagi Pandega galangan perahu di pantai Camplong.

Bukan hanya memembuat, tapi juga mendalami pati sari rancang bangun perahu khas madura, yang dijelaskan kelebihannya dan kekurangannya kepada pengawalnya Lurah Bhayangkari Gajah Mada.
Gajah Mada memang sangat tergila gila dengan mahalela yang dia pernah lihat di geladak jung dari  pasukan Kublai Khan.

Sayangnya meriam perunggu itu sangat besar dengan berat hampir tiga ribu  kati, berapa juta kepeng tembaga diperlukan  untuk membuatnya ? Sedangkan satu kepeng tembaga bisa ditukar dengan beras setengah beruk atau dua kepeng tembaga satu tempurung kelapa  beras !

Sekarang ditangannya laras meriam besi tuang kalantaka dengan peluru batu dibalut timah  sebesar telur angsa, bisa menembus lambung perahu di seantero kepulauan Nusantara, asal bukan jung dari Cina atau perahu besar bercadik dari Benggala, yang papan lambungnya tebal tebal.
Atau peluru sebesar telur angsa ini diganti dengan petasan dibalut timah dengan sumbu   yang meledakkan petasan setelah ditembakkan  tigaratus depa ?

Dia ingat semasa menjadi Tumenggung bebeteng Praja di Tarik, Raden Wijaya brtutur bahwa beliau memperlakukan dengan baik seorang Perwira tawanan bangsa Uighur yang bergabung di Armada Tartar  beragama Islam, karena perilakunya sopan dan Perwira ini bekerja pada bagian obat pasang,  bubuk mesiu, atau pembakar petasan. Mengerti cara membuat garam sendawa dari kotoran kelawar dan kotoran ayam,

Perbandingan dengan campurannya bubuk arang dan bubuk belerang. Setelah Prabhu Krtarajasa Jayanegara wafat,  Perwira Uighur ini masih mengepalai balai pembuatan petasan dan kembang api di Wilwatriktapura, Balatentara majapahit masih sangat sedikit dan mengandalkan persenjataan yang lazim, tombak, pedang,  keris dan perisai, baju zirah (yang ini sulit sebeb harus dikerjakan dengan besi berkadar karbon dan mangan rendah untuk bisa ditempa)  tidak ada kelebihan yang lain, mengandalkan kecepatan dan keberanian, terutama jumlah, keris Majapahit pejal keras dan panjang  layaknya pedang pendek, seperti prajurit Romawi.

Perang  laut mengandalkan pedang keris dan seligi (tombak yang dilempar), juga periuk api berisi nafta  yang dilemparkan untuk membakar tali temali dan layar.
Selebihnya perang laut sangat mengandalkan jumlah dan keberuntungan oleh cuaca.

Prabhustri Tribhuanatunggadewi tahu betul bahwa Manggala Bhayangkari Kerajaan Gajah Mada, dalam banyak hal mengetahui betul betul pemikiran Pendiri Majapahit Ra Dyah Wijaya, yang  membayangkan  bagaimana seandainya  Kerajaan muda ini mengandalkan  kelincahan mengubah haluan perahu perahu Madura, digabungkan dengan meriam meriam yang dipunyai oleh jung jung Cina yang sayangnya berat sekali terbuat dari perunggu.  Sayangnya bukannys perahu besar itu tidak bisa dibuat, kayu banyak, tapi kain layar yang sebesar itu kuat dan ringan, wilayah ini belum bisa menghasilkan, jadi seandainya dipaksakan, perahu besar dengan layar ini akan terlalu membebani tiang agungnya, perahu besar ini berat diatas sehingga tidak stabil.
Dulu sang Prabhustri sering menyaksikan dan ikut mendengarkan pembicaraan dua orang muda yang bercita cita tinggi ini bewawan sabda sampai lupa diri,  mengenai perang laut yang mereka bayangkan berdua, solah olah mereka hanya dua sahabat dari mandala laut saja.

Pertemuan dan pembicaraan yang sangat kental dengan kengetahuan dan pengalaman  ini terjadi tanpa rencana disetiap ada kesempatan ditempat yang sepi di bangku batu taman-taman istana, isyasat selalu disampaikan kepada Wira Bhayangkari ini untu bertemu sang Baginda.
Dengan bekal  dan pengetahuan seperti ini tidak heran Manggalayudha Gajah Mada ketika dinobatkan sebagai Mahapatih pada Pemerintahan Prabhustri Tribhuanatunggadewi, berani mengucapkan Sumpahnya yang terkenal : “ Sumpah Palapa” yang ternyata terwujud sempurna dalam kurun waktu kurang lebih tigapupuh tahun.
“Lamun huwus kalah Nusantara isun hamukti palapa, amun kalah ring  Gurun, Seran, Tanjungpura, Haru, Pahang, Dompu, Bali, Sunda, Palembang, Tumasik, samana isun amukti palapa".
Lanjutan dari dongeng ini adalah kegiatan para santri di Garowisi
Dilanjutkan dengan gambaran pertempuran laut, angkatan laut Majapahit,
Perang laut antara armada perahu perang “Lancang” dari Melayu melawan armada Perahu Madura dengan dua laras “kalantaka” di haluannya, kemudian kalantaka ini berubah ucapan menjadi “lela” saja, diwilayah timur.
Nama baru ini bisa segera dimengerti, seperti yang digambarkan  dengan kata ungkapan “meraja lela”. Untuk mandala laut Majapahit.
Ungkapan ini mengingatkan bagaimana aksi armada perahu Majapahit yang hanya tiga puluh perahu melawan armada yang menyemut dari perahu perang kora kora  nun dllaut Arafura.
Kelincahan merubah haluan dan kecepatan mengisi peluru kalantaka, telah memporak perandakan kora kora yang didorong oleh layar dan dayung ratusan prajurit, Yang tujuan utamanya menabrak dan m  enduduki perahu lawan, dengan kelebihan jumlah prajurit.*)

3. MATAHARI TERBIT DI WILWATIKTAPURA (SERI 2)
3.38 PM  SUBAGYO KOESNO  NO COMMENTS
 DAPUR ISTANA DITENGAH HUTAN JATI
Hari ini rombongan penebang dan penyarat glondong jati, yang terdiri dari tigapupuh orang, berangkat dari pakuwon Mada agak siang, karena letak pohon yang dituju hanya dua belas yojana. Dalam rombongan termasuk tiga pasang sapi zebu dan peralatannya, dan lima ekor anjing pemburu, Kliwon Cenik dan  Pon Burik  ada diantara rombongan. dua orang ini tidak diingat namanya bila tidak mempunyai kepandaian istimewa, yaitu mencari bahan makanan ditangah hutan yang gersang, tapi kebetulan saat itu permulaan musim penghujan. Tiga puluh orang ini berangkat dengan membawa segala peralatan menyarat gelondong jati yang beratnya puluhan ribu kati, juga belanga dan piranti masak dari tembaga yang mahal harganya, cukup untuk menyediakan makan buat tiga puluh orang dan lima anjing dibagi dalam tiga kelompok. Nampaknya tidak ada yang ngaggur bahu dan tangan mereka, bila tidak punggungnya mengusung sesuatu alat , pundak mereka memikul sesuatu beban yang tidak kurang dari tigapuluh kati, kecuali anjing anjing pemburu, yang mengikut tanpa tali dan bebas beban apapun.
Rombongan ini jadi istimewa karena dipimpin sendiri oleh Gajah Gombak, putra Mpu Curadarmayogi. Makanya si Pon Burik dan Klion Cenik ikut dalam rombongan, Yang satu ahli menangkap segala sato wana, walang atogo, yang satu lagi ahli mencari tumbuh tumbuhan yang bisa dimakan dan enak. Pon Burik memikul jala dan tali temali, Klion Cenik memikul belanga tembaga besar  kecil, persis seperti orang mau jual dawet.
Segala keperluan yang lain telah disediakan oleh hutan rimba, kecuali garam, tuak dan soma, yang sangat mahal harganya karena didatangkan dari Atas angin, makanya dibawa hanya  tiga butir masing masing sebesar kemiri termasuk bungkusnya dari lilin tawon yang tebal, dibawa oleh pemimpin rombongan dengan hati hati.
Rombongan berjalan masuk hutan sambil mencari untuk masing masing tumbuhan yang sangat pahit untuk mengusir nyamuk dak pacet, sambiloto, digosok gosokkan keseluruh tubuh mereka sambil jalan, sebentar saja mereka sudah lenyap ke barat ditelan hutan yang baru bersemi.  Waktu matahari tinggal tiga jengkal dari ufuk barat yang juga diselimuti mendung  tipis mereka sampai dipohon jati yang dituju. Aneh dimata mereka pohon itu istimewa, karena gelondongnya nyaris tidak bercabang dibawahnya, dan senjakala tertimpa matahari dari barat berwarna keputih
putihan, terpisah dari latar belang hijau yang cenderung gelap,  kebetulan disebelah baratnya agak terbuka dari pohon besar, karena rupanya entah berapa puluh tahun yang lalu pernah dirambah orang  untuk  berhuma. Disitu ada beberapa puluh tegakan jati kira kira umur empat puluh tahun, dan rumpun pisang yang  porak peranda, karena habis deserbu babi hutan. Dipinggir  bekas hunian peladang huma ini ada pohon pucung yang buahnya masak dan bijinya berceceran di tanah, yang tidak luput dari pandangan si Klion, dan tidak aneh ditempat dia berdiri ada pokok jeruk purut selingan, si Klion memegang pokok jeruk purut ini sambil tersenyum.  Di lahan itu juga tidak sulit ditemukan segala empon empon (rimpang obat dan bumbu (familia Singiberaceae) mulai dari kunyit,  laos, jahe puyang, ditempat yang agak terlindung masih tumbuh kencur dsb, termasuk lombok rawit, yang tumbuh disisa bekas dapur yang masih ada sisa abunya.
Karena lokasi itu agak terbuka, segera semua orang meletakkan bebannya dan mulai berkerja, ada yang mendirikan pondok dengan atap dedaunan  palem hutan dan daun pisang hutan, ada jang mulai membuat api,  ada yang mencari sumber air, menurut petunjuk Gajah Gombak  sang pemimpin, agak ketimur laut  sebentar ada sendang yang jernih dan segera dua orang kesana untuk mencari air dengan membawa dua kantong kulit kambing masing masing. Sore itu mereka makan bekal dari rumah masing masing, yang terdiri dari nasi dilapisi daun pisang, ( rupanya sewaktu panas di ratakan di daun pisang setebal dua buku jari, setelah agak dingin lalu digulung erat  erat dikedua ujungnya di jepit dengan  penusuk bambu dikedua ujungnya, cara ini membuat nasi awet tidak bau dan lauk seadanya kebanyakan ikan asin dan sambal, beralaskan dedaunan, nampaknya nikmat sekali.
 Kedua kawan kita sudah pergi entah kemana, yang satu dengan anjing anjing, yang satunya lagi pergi kebawah pohon pucung, dan berjongkok agak lama satu tempat lain,  rupanya sedang mengali empon  empon, peninggalan pemukim huma itu puluhan tahun yang lalu, trus tumbuh meliar, selama hampir empat puluh tahun. Rupanya Klion Cenik lagi beruntung, hampir semua bumbu ada, termasuk  rumput sereh!
 Lain halnya si Pon, selang beberapa waktu, sekira menjelang tengah  malam dia datang dengan memikul dua ekor kijang yang terikat kaki kakinya di pikulan, sedangkan jala-nya dia tinggal tergulung ditengan hutan.  Anjing anjing ikut meramaikan suasana. Selang beberapa menit anjing anjing dapat bagiannya segala usus dan isi perut kedua kijang itu dan mereka lagi berpesta duluan.
Tulang dan daging kijang segera direbus dalam ketiga belanga tembaga,  menjelang pagi api unggun sudah mati dan daging kijang yang direbus sudah masak baru diberi bumbu oleh si Klion, rupanya bumbu rawon, yang ditumis dengan minyak kacang !                                  
Ternyata tidak rugi dia membawa satu buli buli  minyak kacang, untuk dipakai  pada kesempatan yang baik, rupanya kesempatan itu saat ini, kapan lagi dia menyertai Gajah Gombak. Minyak kacang untuk menumis bumbu rawon, siiip.
Pagi pagi sekali seluruh hutan  mencium bau harumnya rawon si Klion. Membuat beberapa orang anggauta rombongan yang penakut  berdiri bulu kuduknya, hanya buyar rasa takut mereka, mengingat bahwa si Burik kemarin malam telah mendapatkan dua kijang,  tapi kok aneh mereka berdua bisa mengolah rawon ditengan hutan ini. Tidak menyangka bawa bumbu apa yang ditingalkan oleh penghuni huma empat puluhan tahun yang lalu, malah tumbuh menyemak, hanya orang  yang seperti Klion Ceniklan yang bisa memanfaatkan harta karun  itu.            
Semua anggauta rombongan sarapan sekenyangnya.
Bila tidak ingat akan siang kapan mereka perlu makan lagi, belum tentu sberuntung ini
Nati siang masih butuh makan lebih banyak, semua rawon maunya disikat pagi itu juga. Rombongan penyarat gelondong jati biasa mulai bekerja pagi pagi benar, tali temali direntang, tegakan jati yang sudah dikeringkan selama setengah tahun dipanjat lalu diikat bagian atasnya dengan tali lebesar lengan anak anak, menjulur kearah mana dia harus direbahkan. Sapi sapi penyarat disiapkan dengan pasangannya, jalur lintasan  yang telah direncanakan Gajah Gombak  semenjak kayu itu di kupas kulitnya untuk dekeringkan, mulai dirintis dengan bantalan kayu rimba mumbujur Jalur lintasan, sebagian orang membuat roda roda dari kayu bulat dipotong sedepa dengan garis tengah yang agak sama, sekira  tengah hari jalur sudah siap dua ribu depa. Beliung kapak dan kelewang dengan sebat bekerja, menjelang tengah hari tegakan jati yang sudah dikering setengah tahun berdebam  tumbang  kearah yang ditentukan, tinggal dipotong segala cabangnya ternjata wutuh gelondong itu lurus bisa mencapai 12 depa, panjang dan  agak melengkung dengan busur yang nyasis kentara. Bagian luar gelondong jati kira kira empat lima jari, adalah kayu luar yang berwarna cerah, tidak ada gunanya
untuk diikutkdaldalam pengolahan gelondong jati untuk jadi balok atau papan, karena kayu “putih”  masih terlalu muda,  bagian dalam berwarna tua sampai kehitaman, inilah yang menjadi dasar bahan kayu olahan.
Dibagian luar gelondong ini dibuat  banyak takik untuk tempat tambang tambang besar diikatkan dan juga lubang lubang untuk  menancapkan kayu,  mendorong dan mengarahkan gelondong disarat  sepanjang alurnya.   Gelondong selalu disarankan mrenyarat gelondong jati  dengan  bagian kayu yang terbawah di depan. Sang Pandega berdiri di bagian ini tengan berpengang pada kayu yang ditancapkan pada pangkal kayu gelondong, bila delondong agak sedikit tidak lurus tapi membentuk lengkungan sedikit, maka bagian luar lengkungan itu di arahkan dibawah bergeseran dengan tanah. Tali temali  derentangkan dengan tiga pasang sapi benggala, dengan rantai rantainya. Penyarat yang tigapuluh orang itu sudah membagi kerja dengan sendirinya, ada yang membuat  “rel” ada yang memasang gelondong kecil “roda”  tinggal mengungkit gelondong besar itu keatas roda. Setelah semua paripurna, gelondong mulai ditarik sapi sapi dan didorong oleh sebagian besar penyarat, hanya Gajah Gombak yang naik diatas gelondong berpegangan pada kayu  kemudi, kali ini dibelakang  gelondong besar. Setelah semua pada tempatnya,  gelondongong mulai ditarik, terdengan bunyi lecutan cambuk pada sapi sapi berponok dan,,,,,,,,,nampak ringan saja glondong itu bergerak maju, disertai sorak sorai ketiga puluh orang tukang sarat  dan gonggongan anjing  anjing melampiaskan kesenangan. Empat  atau enam orang memindahkan roda kayu bulat yang telah dilewati, cukup berat di angkat dua orang, diletakkan didepan gelondong yang lagi disarat, bagitu seterusnya. Rintisan rel dari kayu kayu rimba tiga ribu depa telah dilewati dengan selamat dan ringan, kerena arah  rintisan  yang agak miring kebawah, matahari sudah tiga perempat lengkung langit, mereka siap siap untuk beristirahat, makan siang dan makan malam jadi satu. Memang sejak dulu kaum petani di pedesaan makan duakali sehari, pagi pagi makan sisa kemarin malam, dan tiga perempat  hari siang  mengolah hasil pengumpulan makanan sejak pagi. Kali ini klion dan Burik tidak begitu beruntung, karena mereka hanya memperoleh ubi hutan cukup banyak, satu landak yang kesiangan  dan sebakul sarang tawon gung yang berisi larva tawon dan sedikit madu.
              Sisa bumbu yang oleh Klion kemarin terkumpul masih banyak, hanya dipilih lengkuas, kunyit, sekali lagi sisa minyak kacang dari desa. untungnya sekitar situ dihutan masih banyak popon salam dia ambil dua gengggam, masih ada kedondong hutan yang buahnya kecil kecil dan daunnya berasa asam, dia ambil daun kuncupnya artinya secukup lengannya memeluk. Ubi mereka bakar dengan dibenamkan di abu, sedang  tiga  tempayan tembaga cukup buat  mereka semua,
Lenkuas yang dipukul pipih segenggan setiap tempayan dauh salam  segenggam setiap tempayan,  kunyit  yang sudah nyaris        hancur karena dilindas batu,  dan garam, semua dimasukkan kedalan tempayan berisi  sepertiga bakul larva tawon gung dan daging landak, kemudian daun kedondong hutan yang masih muda,  lombok rawit wutuh llima geggam setiap tempayan dan madu yang masih bercampur baur dengan sisa rumah lebah, seadanya, lalu didihkan sekali lagi, hasilnya sungguh sungguh aroma yang menggugah selera ( munkin aroma daun kedondong  Lombok rawit  daun salam dan serta aroma larva tawon).
                             Langsung masing masing orang mencari wadah, entah dari bambu, entah dari daun talas hutan dan sebangsannya untuk antri  mencedok sayur larva lebah gung dengan kuahnya,  menghantar ubi hutan ba kar, mereka sangat mengagumi kepandaian si Klion, minum kuah dari wadah  masing, dengan lidahnya berkecipak puas, meskipun makan sore hanya ubi bakar dengan seekor landak dan sayur larve lebah tawon gung  untuk tiga puluh orang, dengan kuah banyak, tapi justru rasa enak itu di bumbu dan sayurnya.
 Sampai sekarang sayur asem asem daging menjadi menu unggulan di warung makan atau restoran sepanjang jalan utama di Bojonegoro, yang rasanya segar agak asam dan pedas.
 Kembali ke dua ribu depa penyaratan gelondong jati sudah dkerjakan dengan rapi, matahari sudah tinggal dua jengkal dari ufuk barat, semua penyarat sudah puas makan ubi dan asem asem daging landak ditamah larva tawon, semua puas dan mulai meyiapkan tempat untuk tidur dengan menganyam daun daun palem, membuat gubug dari kayu hutan dan dedaunan agar bisa menjadi tempat berteduh bila mendadak hujan turun, sebab masa sudah memasuki musin hujan. Mereka pada minum tuak dan makan sisa ubi, hingga akhirnya semua pada mengantuk meski matahari barusan tenggelam. Ada yang gemar uro uro, artinya mendendangkan lagu kebetulan iramanya dandang gulo, disambung dengan kidung yang menjadi penjaga diwaktu malam, hanya untuk mempercepat mereka yang sudah mengantuk kepayahan dan pengaruh tuak.
 Tidur datas anyaman daun palem yang digelar sembarangan diatas dedaunan yang berjatuhan di hutan yang ternyata hangat, dedaunan bagsanya sambiloto yang sangat pahit untuk mengusir nyamuk yang digosok rata dikulit, menjadikan para penyarat ini tidur pulas laksana raja raja yang tidak memikirkan apa apa, seputar api unggun.
        Besok paginya, lintasan harus disiapkan  agak menyerong ke utara, meskipun mengurangi penurunan yang landai tapi penghindari rawa rawa  yang memanjang ke timur yang tidak pernah mereka ketahui dasar dan kedalamannya.
 Menjelang siang penyaratan agak terhambat dengan rintisan yang agak menanjak, tapi apa lacur,  gelondong malah  melenceng, dari rintisan yang melambung menjadi rintisan yang lurus, menuju ka rawa rawa, yang memang tidak direncanakan. Gajah Gombak tetap berdiri di buritan kelondong sambil berteriak memberi aba aba, apa boleh buat, gelondong sudah terlanjur meluncur dengan perlahan meluncur  sendirinya lurus kearah rawa rawa. Sebelum meluncur cepat Gajah Gombak neretas tali temali sapi sapi penyarat, dengan goloknya, sampil tetap berdiri diatas delondong yang mulai cepat luncurannya.
 Gajah Gombak sendirian menjaga keseinbangan badannya diatas gelondong yang meluncur makin cepat, diikuti oleh rombongan penyarat. Rombongan tertinggal dari kecepatan luncuran gelondong, hanya Gajah Gombak sang pemimpin rombongan tetap berdiri diatas gelondong dengan mempertahankan keseimbangan tubunya meloncat kedepan kebelakang dengan ringan, rupanya member arah lucuran ke tempat yang agak renggang dari pohon pohon besar, langsung meluntur tercebur ke rawa.  Karena daya luncur yang besar, delondong terdorong sampai ditengah rawa dengan Gajah Gombak tetap diatasnya. Begitu rombongan penyarat sampai ditepian rawa, Gajah Gombak berteriak, sudah turun dari gelondong berdiri ditengah rawa dengan kedalaman air sedada.
 Ternyata dasar rawa ditengah berpasir dan agak keras, Cuma berlumpur senata kaki.
  Rawa yang membujur ke timur itu ditengah dasarnya tidak berlumpur, dan dangkal dengan kedalaman sedada orang dewasa. Keadaan rawa seperti  ini,  tidak pernah dibayangkan oleh para penyarat.
 Semula rombongan para penyarat agak takut masuk ketepian rawa, mereka membuat tongkat dan mencoba kedalaman lupur di pinggiran, ternyata lebih dari sedepa. Apa boleh buat, untuk memperoleh kembali gelondongnya mereka menebang pokok randu dan pokok dadap yang ringan untuk jembatan menuju ke tengah rawa dimana Gajah Gombak duduk digelondong yang muncul dari air sedikit saja, tanda bawa gelondong jati kering ini berat. Akhirnya dengan pertolongan pokok randu alas yang besar rombongan peyarat berhasil sampai ketengah rawa yang dasarnya ternyata keras.
 Dengan sebat mereka membuat jembatan dari rakit dari pohon pisang hutan, pokok randu dan pokok dadap  untuk menyelamatkan gelondongnya kalau kalau tenggelam setelah lama tercelup diair.
 Ternyata tidak, mereka mulai menarik gerondong ketepi tapi sebatas dimana mereka bisa berjalan diair tanpa terganggu  yang makin ketepi makin dalam lumpurnya, Dengan tegar sang Pandega memutuskan untuk mengikatkan gelondong randu sebagai pelampung, dan menyarat diatas air dengan rombongannya, menuju ke timur.
 Rawa itu memanjang ke timur  dengan dasar yang sama ditengah agak berpasir dan keras, Gajah Gombak menuntun rombongan di depan, memilih kedalaman air se pusar dan lumpur yang di injak tidak dalam.
 Akhirnya penyaratan di rawa mencapai sepuluh ribu depa ditempuh dengan sangat ringan,  hanya gangguan lintah lintah, yang dihadapi
 Anehnya, sang Pandega, Gajah Gombak tidak digigit lintah, kulitnya yang basah kecoklatan mengkilat ditimpa sinar matahari, akhirnya ternyata tepian timur rawa itu sudah dekat dengan Bengawan Solo, tinggal setengah hari penyaratan.
 Menyaksikan kejadian ini diam diam rombongan penyarat ini percaya bahwa sang Pandega mempunyai ilmu yang tinggi, dengan meretas tali temali sebesar lengan secepat itu, maka sapi zebu penyarat bisa diselamatkan dan cara Gajah Gombak dengan entengnya berdiri di glondong puluhan ribu kati mengarahkan luncuran supaya tidak menabrak pohon kayu hutan langsung  meluncur ke rawa.
 Untuk seterusnya rintisan lewat tengah rawa ini dipakai oleh ratusan rombongan penyarat, sehingga tegakan jati dibarat desa pakuwon Mada nyaris habis digantikan dengan huma dan tanaman muda.(*)


\

0 comments:

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More