Sayang Sama Cucu

Sayang Sama Cucu
Saya sama Cucu-cucu: Ian dan Kaila

Minggu, 31 Juli 2016

USAHA MENANAM SAYURAN LOKAL DENGAN CARA LOKAL

USAHA MENANAM SAYUR  LOKAL

Usaha menanam sayur lokal ini mempunya dua sisi srategis, yaitu melestarikan  pemakaian tanaman local untuk menambah gizi  disatu sisi dan menambah penhasilan dari lahan kecil diseputar kota kota disisi lain.

Secara tradisi memang kebiasaan  “ ramban” ini sudah dipunyai oleh penduduk Nusantara ini.  RAMBAN ( bahasaa Jawa) adalah memetik daun muda yang bisa dimasak dari tumbuhan liar maupun tanaman tanpa mencabutnya hanya memilih pucuk pucuknya yang baik, dari lahan lahan tak  tidak  diusahakan ditanami, pinggir pingir jalan setapak dan pinggir tegalan  atau sawah atau sengaja ditanam untuk diramban.Pucuk pucuk ini tentu saja masih lunak untuk di olah atau direbus. Bahkan di Sulawesi Utara bubur Menado yang terkenal itu sebenarnya  harus dilengkapi dengan hasil “ramban”  berbagai pucuk tumbuhan liar maupun tanaman  di bawah kebun kelapa yang masih sangat luas yang hanya diketahui oleh penduduk asli setempat, makanya rasanya sangan khas dan sangat menyegarkan. Juga nasi lembek sayur pecel di kota Madiun Jawa Timur, yang sekarang mengalami krisis sayuran yang gawat.

Semakin meluasmya kota dan sesaknya hunian di kota kota, kebiasaan ramban ini semakin tidak bisa dilaksanakan dan hilang  karena lahan kosong hampir tidak ada. Begitu pula pengetahuan mengenai tumbuhan dan tanaman yang bisa diramban, baik jenis tumbuhannya yang pasti dan memasaknya artinya bisa  dibuat sayur atau direbus bahkan di makan mentah dengan sambal ( sebagai lalapan). Sedangkan “pasar” didesak oleh permintaan akan sayur sayuran yang murah, maka patani  di pedesaan menggantikannya dengan sayur yang  paling mudah diusahakan yaitu yang selalu ditanam di “kebun sayur” dipinggiran saluan saluran pematus kota kota, lahan kosong ini diusahakan oleh petani yang mengembara dikota kota dengan sangat intensive dengan mendapan air dari seluran got got pematus dikota kota, dan pupuk buatan, seperti bayam cabut ( Amaranthus tricolor  ),)  kangkung darat ( Ipomea reptica  L) , dan sawi hijau maupun sawi putih,mulai ditanam di pematang sawah, bahkan seluruh  lapik sawah yang semakin sempit. Diseputar Surabaya lahan sawah dan embung yang mengering ditanami semanggi ( Salvinia crenata)

Di daerab Bogor, dimana hujan bisa sepanjang  tahun, lahan bekas kebun kebun karet telah diubah menjadi lahan milik, dan ditanami singkong  sayur,  lembayung cabut, bahkan papaya cabutan hanya dinamfaatkan daun daun mudanya , ini merupakan  upaya  menanam sayur yang baru,  dipasarkan untuk restoran dan warung padang dan lembayung cabut (  daun kacang tunggak yang dtanam bijinya  dengan rapat baru berdaun empat tangkai  terus dicabut – dalam umur  2-3 minggu)  untuk penjual karedok  diseputar  Jobodetabek( Jakarta- Depok-Tangerang-Bekasi).

Penanaman sawi hijau bahkan meranbah di pematang  pematang sawah sekitar Banyuwangi untuk melayani penjaja Bakso hingga Bali  !

Bagaimana keadaan dikota yang landmark nya penjual  nasi Pecel ? Sangat menyedihkan, bakul pecel ribuan tapi penyediaan sayur pecelan di pasar sangat sedikit, karena itu petani/pedagang sayur di pasar tradisional menjual daun pucuk decampur dengan daun tua banyak, sehingga sangat liat dimulut, menjadikan pembeli pecel merasa tidak dihargai, disepelekan.


Bia tidak ada perbaikan, segera pecel Madiun akan tidak ada peminatnya lagi di Kotanya, punah, karena dikota lain  sayurannya malah lebih baik.  Misalnya Banyuwangi, disana mereka, para bakul pecel lebih kreatip, bisa dicampur  rawon ( sayur khas jawa Timur bumbu khasnya  keluwak atau pangi ( Pangium edule ( Reinw and Blume) bahan utamanya daging iga.  Jangan lupa di Suriname “pical” menjadi makanan yang diminati oleh orang Creole dan India.  Di Madiun malah punah *)

0 comments:

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More