Sayang Sama Cucu

Sayang Sama Cucu
Saya sama Cucu-cucu: Ian dan Kaila

Senin, 13 Maret 2017

.R.M.P. SOSROKARTONO.


IDEALNYA  SEORANG  PEMIMPIN  DALAM KEBUDAYAAN JAWA
FALSAFAH HIDUP ORANG JAWA.- SEBAGAI  DITELADANI OLEH
R.M.P. SOSROKARTONO.

Saya bukan jawa sentris, saya orang Indonesia,  terserah mau omong apa, tapi kenyataan hidup menunjukkan bahwa  iklim dan lingkungan sangat mempengaruhi watak penghuninya yang telah ribuan tahun turun temurun  ratusan ribu generasi tinggal disatu wilayah.
Semua suku pendahulu di Negeri ini berasal dari satu wilayah penanaman padi, tropikal basah, sejak zaman batu halus.   Sampai zaman perunggu disusul dengan zaman besi  tertandai dari artefak yang ada, mulai berdatangan manusia dari wilayah iklim lain.  Yang termudah mengikuti angin musson barat laut dari  gurun Gobi. Diselingi oleh pendatang dari anak benua India dari teluk Benggala dengan jumlah yang besar. Kenyataannya dalan sejarah, perpindahan  kelompok  besar sampai 20 000 orang untuk membangun Negara baru  datang dari teluk Benggala sudah zaman awal zaman pertengahan dengan misi menguasai jalan laut di Samudra Hindia, dan pegembangan agama Budha.  Pendatang  dari China, sesuai dengan irama perang dan damai antar negara asal,  dan gagal musim di China selatan berturut turut , tidak pernah dengan orgaisasi besar besaran seperti pendirian wangsa Syailindra/ Budha.
Organisasi masyarakat di India sudah dianut  sangat lama, masyarakat berkasta, dengan pengaruh suku Aria yang mendominasi sebagian besar anak kenua India ke selatan tempat suku Dravida.  Kelihatannya sudah sangat stabil.
Sedangkan di Anak benua China, mereka puas  dengan anggapan mereka, bahwa China adalah pusat Dunia, jadi kena apa harus jauh jauh pindah.   Jadi perang penaklukan sangat tebatas  diantara  kerajaan kerajaan di daratan kadang sampai ke Vietnam danThailand.  Beda sikap antara pendatang dari India dan pendatang dari China.  Bagi pendatang China, penguasaan perdagangan  sudah cukup untuk mendapatkan apa yang mereka butuhkan. Meskipun belakangan diantara mereka sampai posisi Bupati, baik diangkat oleh Sultan maupun oleh Gupernur Jendral Belanda..Hasil perkawinan antara Pangeran Penguasa setempat dengan para putri dari China atau Champa sering menjadi Raja yang sangat terpuji.
Sedang pendatang dari India waktu itu tujuannya  adalah melaksanakn misi penguasaan wilayah jalan laut, dengan pengembangan budaya mereka Hinduisme dan Budhisme.  Makanya mereka memilih Palembang sebagi stronghold untuk menguasi jalan laut selat Sunda sekaligus Selat Malaka. Brahmana Hindu di Jawa sering mendukung Orang Kuat setempat yang setia berbakti kepada mereka, menjadi Raja, bukan dari wangsa Ksatrya India.
Mungkin  pendatang dari padang pasir, juga punya missi sama dengan pendatang dari India, hanya jarak wilayah dari negeri asalnya sangat jauh dan jumlah mereka tidak akan  bisa banyak, itu saja. Tapi semangatnya sangat dominan. 
Sebenarnya Islam dibawa ke Pulau Jawa oleh orang dari  Yunan, sebelah utara  Parsi, masuk wilayah China. Mereka bukan dari Padang Pasir, dan bukan dari anak benua India dan anak benua China. Coba pikirkan apabila mereka dari Padang Pasir, pasti kejadian seperi di Sumatra,  terjadi juga di pulau Jawa ( Kedatangan utusan dari Ulama Islam suni utusan wangsa Mamluq dari Mesir), memicu perselisan antara para pengikut Hamsah Fansuri dan Nuruddin ar Raniri. Munculnya tiga serangkai penyebar aliran Wahabi dari Arab, pada penghujung abad ke 18, Warga Sumatra barat yang kembali dari belajar disana, H Miskin, H Piobang dan H Sumanik, memicu perang Padri, antara kaum Pemurnian islam dan kaum islam Adat, meskipun sudah Islam.
Mulanya Islam masuk di tanah Jawa bersama dengan kebudayaan toleransi, ( kartel bermoral ) dari pedagang China, dan filosofi  hidup dan teknologi ( pencetakan sawah dari rawa sepeti di Mesopotamia) dari Parsi, Jadi pemimpin sangha dari Budha – mudah menerima ( lain dari Budha di Myanmar dengan islam di Bangladesh menyangkut Rohingya), juga oleh kaum brahmana Hindu Jawa karena semua sama dalam memilih hidup zuhud, daripada kehidupan  duniawi yang mewah,(.diwilayah ini sangat  nyaman).   Khilafah ( politik) dunia Arab, India dan China,  jauh dari kehidupan rakyat setempat  sehari hari.
 Hanya, ketakutan yang mendalam sampai sampai ketingkat psichosis massal “takut akan kelaparan” berbeda beda antara bangsa bangsa pendatang itu.

Mungkin, dalam rantai DNA, makin dekat asal mereka dengan ligkaran kutub, semakin tanah dan iklimnya tidak bersahabat, makin parah penyakit itu. Terserap  di badan mereka. Tidak heran bahwa dalam daftar nama Panama Papers diantara 2900 lebih para pencoleng pajak kekayaan, 80 %nya adalah keturunan dari etnik China, meskipun sudah ganti naman dengan nama jawa/ Indonesia, yang sangat menyolok menterengnya – sering ada kombinasi  dengan nama Eropa yang tak kurang modist, tapi kita tetap tahu. Mereka lebih dari lima keturunan di Indonesia.  Dari https//indocropcircles wordpress.com/2016/04/06/inilah-nama-indonesia-di-panamapapers-alphabetical-order.

 Bagaimana tidak berkontroversi  dengan filsafah  hidup jawa, yang orangnya tidak pernah takut terhadap kelaparan selama hidupnya karena iklim yang menunjang  falsafah hidup yang diwakili oleh RMP Sosrokartono. Falsafah hidup orang Jawa:

Nrimah mawi pasrah                                           menerima hidup dengan berserah diri kepada Allah apa adanya

Tanpa pamrih tebih ajrih                                    tidak berpamrih untuk pribadi dan kelurganya,  jauh dari  takut

Langgeng tan hana bungah tan hana susah    datar tidak dipengaruhi  senang dan susah

Anteng manteng  sugeng  jeneng.                        Dalam diam berkhalwat kepada Allah, dalam begiat  di ajang penghidupan,  dengan prinsip  tegas dan tegak,  teguh dipengendalian diri, bukan meuntut orang lain.

Ini menjadi sikap Presiden kita sekarang, semoga Allah melindunginya.  Yang tertera diatas, adalah  sikap  untuk pengendalian diri.  Sikap pribadi terhadap hidup bermasyarakat, seperti yang diteladani oleh RMP Sorsrokartono.  Juga:

Sugih tanpa bondho                   berbagi tanpa bisa habis - rakhmat Allah ( kekayaan bentuk yang lebih baik), oleh si tanpa harta.

Digdaya tanpa aji                       sakti  tanpa  pertolongan gaib, KECUALI PEERTOLONGN ALLAH

Nglurug tanpa  bala                   mendatangi kubu lawan, tanpa pasukan

Menang  tanpa ngasorake.      Menang tanpa mengalahkan lawan.         

Sampai seberapa sih anda dibikin miskin oleh pajak kekayaan ?  Apa nunggu sampai rakyat menuntut dengan sungguh sungguh PEMBUKTIAN TERBALIK  dikenakan pada kalian,  asal usul dari harta kekayaan anda yang sengaja anda senbunyikan  ? Pemerintah Indonesia perlu tahu kegunaan uang ini apakah untuk kulakan narkoba, kulakan senjata teroris, membayar assasin/terrorist, atau kejahatan yang lain ?

Kami lebih senang bila politisi kami, berani terbuka, menunjuk hidung koleganya yang terlibat dalam menumpuk kekayaan haram.  Apalagi telah ketahuan digondol disembunyikan keluar negeri.

Telah disebut para “nama besar” oleh terdakwa korupsi dalam proses pembuatan E-KTP misalya. E e ternyata hanya nama dari feodal puak, feodal kampung yang kerdil, gemuk dan plontos penuh hawa bafsu.  Tanpa malu malu malah berbohong didepan hakim. Untung judikatip masih mengadakan peradilan setengah  terbuka, jadi rakyat tahu. Dengan semboyan - “Biar langit runtuh asal keadilan  dapat ditegakkan”- Fiat justisia, ruat coelom

Kok sampai ketahuan tapi malah masih lari, menyimpan harta anda di Negara Pembajak.  Kami  sangat senang apabila anda sadar, bila tidak silahkan jadi warga Negara lain. Kami lebih senang   *)


 

0 comments:

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More