Sayang Sama Cucu

Sayang Sama Cucu
Saya sama Cucu-cucu: Ian dan Kaila

Sabtu, 04 Maret 2017

MENGARUNGI  USIA MUDA YANG AMAN BAGI DIRI SENDIRI,  DAN  MASYARAKAT SELURUH NEGARA.

Masa muda adalah masa yang sangat penting bagi yang bersangkutan  terutama bagi masyarakat dan Negara ini.

Orang muda, zaman sekarang diatas usia 17 tahun sudah mampu mengerjakan secara fisik pekerjaan orang dewasa, yang usianya diatas-dia 15-26 tahun. Tapi beda umur ini juga membedakan kemampuan  berfikir analitis secara rasional dan tenang, jauh dari  emosi yang melonjak lonjak, sering berakibat buruk bagi orang lain. 

Lain dari zaman yang sudah lampau, sebab para junior belajar pada guru  private, segala ilmu dan meditasi, bersama beberapa murid lain yang sering berbeda umur banyak, mereka hidup bersama sang guru, jadi dalam perguruan, semuda apapun dianggap saudara seperguruan, diperlakukan sebagai orang dewasa, kematangan jiwanya lain dari murid sekolahan sekarang.
Tuanku Rao jadi komandan kavaleri umur 16 tahun, kayak Mulan, Joko Tingkir  alias Sutowijoyo, Kayak Thio Bu Ki, kayak Pemuda Brahmana dari Mada yang kebetulan jadi Bhayangkari  Kota baru Wilwatiktapura lama sekali, mungkin dari usia belasan tahun. Dia, tiga generasi menjadi orang lingkaran dalam pendiri  kota, yang baru muncul di bhumi  Jawa, Wilwatiktapura. Sampai sumpahnya yang terkenal itu "Sumpah Palapa"  Sampai Perang Bubat, sampi zaman cucu dari para pendiri kota itu, yang sudah menjadi Ibu kota kerajaan Majapahit.

 Keguncangan yang hebat masyarakat Indonesia terutama di pulau Jawa, setelah Presiden Sukarno digulingkan, sangat mempegaruhi masyarakat secara luas, sering sampai tidak diperkirakan, sebab dilaksanakan dengan terror masal terutama di pulau Jawa di tahun 1965.

 Anggauta masyarakat tersingkirkan  meliputi jutaan    penduduk diseputar pabrik Gula di Jawa Timur dan Jawa Tengah. Dimankan selamanya, ditawan tanpa proses, dibuang ke pulau Buru, dan dirumahkan –  korban paling besar dikalangan petani yang mendapat bagian  dari tanah erfpacht Pabrik Gula, tanah bekas milik Belanda,   Yang dibantai adalah masyarakat pendukung bung Karno yang dicap  Komunis, dari akar rumput baik dari Nasionalis maupun Agama,   sebenarnya Presiden Sukarnolah yang di-incar, sebab  berani melawan neokolonialisme Amerika Serikat, membangunkan Masyarakat Dunia non Blok.

Bagian paling pahit ini harus saya tulis, kerena  mereka yang telah usia kawin pada saat  pengucilan pendukung Bung  Karno  selama 35 tahun orde baru berkuasa, sudah beranak pinak, meskipun dalam kesulitan ekonomi dan hidup tidak normal, sering bepuluh tahun sebagai single parent, sebagai warga disisihkan karena penyakit kusta.

Banyak yang mengalami keguncangan jiwa hebat  dalam kehidupan  bermasyarakatnya, bahkan  akibatya banyak anak anak mereka yang sekarang berusia 23 -48 tahun yang mengalami keguncangan jiwa dan menderita psichosis – psichopat, tanpa disadari.

Beda di masyarakat yang sudah tua dan maju, yang telah lama menapaki industrialisasi.

Dimasyarakat kita, dinamika sosial hampir tidak ada.

Di masyarakat  jajahan yang baru merdeka,  ada stigma, hanya satu jalan saja untuk mencari nafkah cukup buat hidup layak – memanjati jenjang social dengan ijazah.

Padahal Islam mengajarkan empat dari lima jalan mencari nafkah adalan berdagang. Tapi sudah menjadi anggapan umum berdagang adalah kurang formal, penghasilannya tidak menentu (belum mengerti saja berapa penghasilan KARTEL pedagangan cabe)

Sedangkan nasib mereka yang disisihkan dengan keluarganya akan kehilangan jalan mencari nafkah.

Di AS pun pernah terjadi hal yang sama di tahun 50 han : Mc Carty- isme, Mc Carty, seorang senator yang sangat fanatic anti komunis, merajalela memburu para simpatisan komunis di AS, sehingga setiap  orang bisa  dicurigai, masyarakat yang jadi gempar  ( belum oleh FBI).                                                                   Jadi simpatisan gerakan keadilan  terhadap ketimpangan masyarakat AS saja, seperti rasialisme yang  tersegragasi sangat tajam terhadap ras dan warna kulit sudah di cap komunis dan disisihkan. Dinamika sosial dianggap wajar, asal mau bekerja, jual burger dipinggir jalan  masih cukup buat nafkah.

Keguncangan jiwa yang hebat menjangkiti :

Putra putri pejabat 

Putra putri  seniman

Putra putri akar rumput

Karena orang tuanya disisihkan bahkan ditahan,  diamankan selamanya oleh para Penggarap tanah Pemerintah,  selama zaman Jepang, jaman perang kemerdekaan, 8 tahun. Kok  dibagikan pada para sialan ini, patani tak bertanah, tanpa memperhitungkan mereka yang telah 8 tahun menggarap dengan para santrinya, ya tidak heran kemudian jadi algojo, tanpa merasa bersalah dipermukaan. Mereka penderita psichosis, siap membunuh kaumnya sendiri yang mereka anggap murtad.

Kemudian selama 35 tahun Orde Baru berkuasa, Putra Putri Kiai pun mendapat perlakuan yang miring  dari Penguasa Orde baru.Antara lain Subchan ZE alm.

Banyak yang tepincuk jadi kepala gang anak muda, meskipun panggilan sehari harinya “gus” tidak diacuhkan oleh sistim. Dan frustasi berat. Trus jadi penderita psichosis yang tersamar.

Pajabat jaman orde baru tidak bisa  merunut rel moral yang wajar dari masyarakat dulu, melainkan harus menyenangkan atasan  yang berkuasa  mutlak atas anggaran. Sedang para juniornya sudah terlanjur konsumtive tak terkendali. Bahkan putra putri seorang  mayor jendral  menjadi walikota pensiunan ABRI yang berdwifdungsi, juniornya sudah  pada usia kawin malah tidak survive tanpa dukungan finansial yang tidak sedikit setiap bulannya, harus didukung oleh orang tuanya, tentu saja secara finansial belum sampai ke posisisi Ponco Sutowo, atau Tomy misalnya, ya tapi gaya hidupnya sama, Pribadinya jadi tertekan,  menderita psichosis dan menjadi psichopat tanpa maunya

Putra seorang  Kiai terkenal dari darah biru dengan panggilan “gus” mempunyai pesantren besar, terpincuk  pergaulan dengan    gang  sangat boros,  dijadikan  Kiai Pondok modern dikawinkan tambah menjadi jadi akhirnya menderita gangguan psichosis bipolar disorder  akhirnya cuma jadi tukang omde (omong gede ) merugikan orang sekitarya.

Dari keluarga seniman kenamaan,   meskipun sang  seniman jadi sasaran  kekejaman Orde Baru, dipulau Burukan, tanpa bimbingan  sang kepala ‘gilda’, yang  sudah di pulau Buru, mencari jalan sendiri, generasi keduanya ini ada yang  sangat beraroma   penderita psichosis  – nama besar kerabatnya - kemampuanya sendiri kecil. bukas salah dia, yang ini penderita psychisis, yaga bibopolah disorder.  Prilakunya tidak bisa ditebak. 

Kebetulan tulisan saya di blog ini yang jadi sasaran,  Blog ini tidak akan jadi buku, lebih tersebar dan murah dari buku, bisa diakses lewat i-phone, jadi kuwajiban saya terhadap masyarakat, sudah saya penuhi dengan blog ini saja, terima kasih  kepada google semoga bisa dibaca khalayak ramai sampai lama, seperti apa adanya. Pembaca berhak memuat comment terbuka di blog saya, diberi kesempatan oleh google. Isinya sudah di pagari oleh UU Penyiaran, harap pembaca bijaksana. Hak ciptanya masih dilindungi Undang Undang. Sebagi gantinya buku buku yang berton ton beratnya, maka akrablah dengan Mbah Google, tanyalah berulang ulang dengan telaten mengganti susunan kata dalam pertanyaan anda, jangan lupa pisahkan dengan koma, (,) sering anda mendapatkan situs yang mengejutkan. Anda bebas menghindari hoax dan sampah yang lain, atau memamah biaknya.

 Sampai ke derajad tukang batu. Para juniornya masih bisa kejangkitan psichosis ini. Tapi untungnya mereka tidak sempat jadi  penderita psichosis karena tidak sempat menggunakan otaknya. Dan tidak kurang  penting gilda mereka   masih utuh, tidak tersentuh Orde Baru, sehingga bila anggauta keluarga gilda-nya kuat, mereka mudah mencapai  jenjang tukang batu. Bukan lulus STM saja, wong ST saja sudah lama tidak ada..

Mengaduk semen pasir sampai puluhan tahun, para junior dari akar rumput ini,  melayani para tukang bangunan. Mereka diakui setingkat kepiawaiannya mendapat pengakuan dari seniornya,  sampai mereka  beruntung   mendapat  boss atau mendapatkan bowheer yang mempercayainya memainkan cetok dan kasut.

 Saya baru tahu dan mengerti antidote dari gejala kejiwaan ini,  untuk mereka yang diatas  dari jenjang akar rumput. apa di akar rumput sekalian. Yaitu  menekankan kebiasaan membaca buku buku apa saja, akrab dengan Mbah Google, dengan i-ped anda, dia tidak bisa menipu, anda bisa tahu beda emas dan loyang. 

Jangan lewatkan kesempatan membedahnya dengan para pandega yang sabar dan hidup bebas, tanpa ganjelan psichosis,  akan sangat  dalam terkesan dilubuk jiwa dan jadi antidote keguncangan jiwa. Itu saja, makanya saya sangat menghargai upaya dari adik teman saya alm, yang membuka perpustakaan di kota yang mepet dikelilingi hutan jati dihari tuanya, mau berbagi taksu dengan para junior. Amit amit, saya bukan junior dia,  saya contemporary-nya, sangat mensyukuri panjang umurnya,semoga dirgahahayu membimbing generasi barumu *)

0 comments:

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More