Sayang Sama Cucu

Sayang Sama Cucu
Saya sama Cucu-cucu: Ian dan Kaila

Sabtu, 30 Juli 2011

Budidaya Karet, Menciptakan Budaya Khas Para Petani Pelakunya Setelah Seratus Limapuluh Tahun



Getah pohon karet (Hevea brasiliensis L) sejak revolusi industri mulai  abad ke -19 menjadi komponen yang semakin penting dari segala macam mesin-mesin, nyaris tak tergantikan.
Gemuruhnya mesin mesin di Negara - Negara industri diimbangi dengan gemeretaknya api unggun, ribuan api unggun para penjelajah tengkulak getah karet dan para kuli pengangkut  di hutan-hutan dan rawa,  sungai besar  kecil di wilayah sabuk tropis di seantero dunia. Di tengah rimba raya dan rawa  di pantai timur Brazilia dalam waktu yang sangat singkat tumbuh kota baru dikepung hutan rimba dan rawa -rawa, yang bergelimang dengan segala atribut kemewahan saat itu, bahkan ada gedung opera sebesar yang ada di kota Paris: Manaos,  karena tempat ini perupakan pusat perdagangan getah karet yang pertama  di Dunia. Uang dalam jumlah yang sangat besar ditawarkan untuk getah karet. Di Kew Garden – pinggiran kota London disemaikan biji - biji pohon karet, dari  upaya susah payah dan berani  telah berhasil diselundupan biji karet dari Brazilia kemudian semaian itu diangkut ke Semenanjung Malaka dan Sumatra – untuk dikebunkan.
Dari semula, pribumi Semenanjung Malaka dan pantai timur pulau Sumatra dan Kalimantan kebanyakan adalah petani ladang yang berpindah-pindah juga pengumpul hasil hutan. Pada waktu demam tinggi kebutuhan getah karet, mereka juga menjual getah serupa yang mereka namakan getah perca dari pohon sebangsa beringin (Ficus elastica L )  yang kemudian kurang diminati pasar.
Banyak Kesultanan di wilayah tersebut sebenarnya lebih merupakan Kota Benteng yang mengawal muara sungai, menarik pajak dari setiap perahu yang mengangkut hasil hutan dari  pedalaman.
Bukan Organisasi kewilayahan yang didukung oleh lahan Pertanian dan usaha pertukangan dan perdagangan.
Kemudian oleh penjajah dijadikan Pos kekuasaan terluar mereka.
Pada waktu itu Manaos di Brazilia mengalami zaman keemasan yang singkat, para Petani dan Pengumpul hasil hutan di Semenanjung, di Sumatra dan Kalimantan juga ikut menikmati guyuran rezeki nomplok demam karet, dengan getah perca-nya.
Brazilia tidak berhasil mempertahankan monopoli karet, dan tidak berhasil membangun Perkebunan karet untuk menguasai pasar dengan Hevea Brasiliensis L  karena tidak memiliki sumber daya manusia yang jumlahnya memadai,  sedangkan di Asia Tenggara , buruh tani dari Jawa dan Cina Selatan berlimpah, maka beberapa dekade akhir abad 19 sudah terbangun puluhan ribu hektar kebun karet dengan buruh tukang sadap atau tukang takik pokok karet yang terampil.
Proses metamorphosis juga terjadi pada Peladang yang berpindah-pindah yang merambah hutan rimba sepanjang sungai besar besar, seperti Musi, Batanghari, Indragiri, Siak , Kampar,  Rokan, Asahan, Barito,  Mahakam, Kapuas sebagai jalur angkutan pengumpulan hasil hutan sejak ribuan tahun. Petani ladang ini mulai menanami ladang yang  ditinggalkan oleh mereka dengan semaian karet  ( Hevea brasiliensis L), yang kemudian selang enam tujuh tahun mulai mereka “takik” . Mereka mulai menapaki profesi baru sebagai Petani Penakik Karet, yang tinggal berpencar pencar mendekati lahan karetnya yang “menghutan” karena memang tidak dipelihara dan ada gubug di tepian sungai, untuk menumpuk hasil.
Sejalan dengan tingginya kebutuhan karet hingga hampir  lima generasi,  hingga paruh pertama abad 20 mereka sering kejatuhan rezeki nomplok.
Dari sudut materi terutama uang, mereka lebih “kaya” dari Petani budidaya yang lain, akan tetapi dari sudut perilaku dan adat istiadat, bahkan mereka banyak mendapat cibiran dari induk budaya mereka yaitu  budaya Melayu. Maklum lingkungan yang membentuk watak mereka adalah lingkungan rimba terpencil tetapi mereka bergelimang uang, hingga lima - enam generasi,  dinamika penduduk wilayah ini cukup tinggi dengan perdagangan,  walau berhasil, mereka tetap menggelar business di kota-kota pelabuhan kuala sungai sungai  di mana mereka dibesarkan, tidak ada budidaya, melainkan “pengumpulan” apa saja dan kekuasaan.  Afinitas mereka kepada Kekuasaan dan kekuatan yang mentah sangat besar.
Kini ke-lugasan pengertian mereka terhadap uang  membawa mereka berbondong bondong ke Ibu Kota, bermodal  lagak dan uang membeli suara untuk Wakil atas nama apa saja, malah jadi pejabat!
Bahkan setelah Kemerdekaan Negeri ini  Pendidikan formal terbuka lebar bagi siapapun, tapi sisi – sisi “finesse” dari tata pergaulan bermasyarakat  sangat sulit mereka adaptasi misalnya Dari bidang Pendidikan mereka hanya melihat gelar – gelar kesarjanaan, dari bidang usaha mereka hanya melihat pada  hak atas ladang yang telah menjadi hutan kembali dari nenek moyangnya, di mana pada suatu generasi telah menanam biji karet disana  entah sempat ditakik apa tidak – sekarang itu hak Putra Daerah, termasuk rimba raya yang belum tersentuh mereka babat untuk dijual log nya, dijual hamparannya, dalam  kesadaran mereka Negara ini belum ada.
Lihat saja di Koran-Koran nama – nama mereka yang elok- elok, yang mereka pakai seperti nama Panggung ( bukan dari lahir pemberian orang tuanya), mereka sering memamerkan  perilaku tak pantas di depan umum tanpa malu ber- KKN.
Maklum, dua generasi di atasnya masih penakik karet yang terisolasi dari budaya, uang adalah segalanya.
Yang disana  malah diberi Negara sendiri,  Sultan - Sultan yang kaya raya terdidik berperilaku di Puri -Puri Europa,   Pelaksana dan Pembantu dekatnya cuma pewaris watak yang dibentuk dalam ke –terpencilan kelompok hunian penakik karet (Dusun saja bukan saking kecilnya hanya beberapa keluarga), yang begelimang uang kadang kadang, di tengah hutan,  jadinya mereka suka berlagak dan bersuara keras. Setelah belajar Ilmu – Ilmu Formal  mereka malah suka mematut -matut budaya tetangga sebagai miliknya sendiri saking miskin budayanya, sambil mendaftarkannya sebagai hak miliknya di Pengadilan Internasional  Tuannya,  kemudian kita diharuskan bayar royalty  bila kita kangen  menikmatinya, seperti Sultan - Sultan mereka di zaman yang lampau, yang minta  pajak setiap perahu yang lewat Kuala sungai yang mereka duduki, maunya , ya maklumlah negara tetangga kita begitulah polahnya.(*)
(Oleh : Ir. Subagyo, M.Sc Alumni S1 dan S2 Jurusan Agroteknologi-Agronomi Universitas Patricia Lumumba , Moskwa , Russia, raih gelar M.Sc tahun 1966 di Moskow, Russia).


0 comments:

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More